Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts


"Haduh, tiap bulan gaji rasanya cuma numpang lewat doang" 

"Gimana nih Yah? Masa setiap bulan keuangan krisis terus?"

"Ya habisnya, kamu suka belanja online sama makan di luar terus sih..."

"Lho, kok aku? Aku juga belanja kan buat kebutuhan kita semua kali.."

"Yha, gitu kalau enggak mau krisis moneter mesti kurangin belanjanya..."


Familiar dengan potongan ilustrasi di atas? Familiar denger cerita orang atau karena pengalaman sendiri? Hehe... 


Sebagai keluarga milenial ternyata ada hal-hal yang kadang enggak disadari bikin kondisi keuangan hampir krisis. Wah, kalau tiap bulan krisis terus bisa bahaya lho.
Bayangin aja, gaji kita naik sekian dan berhubung gaji udah naik wajar dong kebutuhan belanja sana sini juga naik. Boleh? Boleh dong kan gaji gue gitu, bukan gaji lo.. haha.


Ternyata, pemikiran ini yang kurang tepat bagi sebagian orang bergaji. Sebab peningkatan gaji harusnya meningkatkan investasi kita, bukan konsumsi! Nah, kalau terus-terusan begitu lama kelamaan keluarga milenial bisa terkena middle income trap.


Kalau kondisi neraca keuangan bulanan kamu gimana?  Positif, balans atau negatif nih? Ngapain sih kita mesti cek kesehatan keuangan kita? Jawabannya adalah untuk mengetahui kondisi keuangan kita sendiri. Idealnya, kita dapat rutin menabung minimal 10% dari penghasilan. 





Nah, lho....


Sudah punya tabungan berapa sampai saat ini?  


Eng... berapa ya.. Duh, belum dihitung lagi. Nabungnya nanti aja deh. 



Perubahan peran setelah menikah ternyata cukup besar bagi saya. Ternyata sudah tiga tahun lebih saya menjalani peran sebagai istri. Oleh sebab itu, cukup terasa ada perubahan mulai dari perubahan jiwa, pikiran serta kemampuan memasak haha.


Sebelum nikahan mah boro-boro mau nyoba resep makanan baru. Lihat ada foto makanan-makanan lucu di sosmed ya cukup dilihat ada dan komentar "enak nih", dalam hati tanpa ada motivasi mempraktikkannya


Kalau sekarang, saya punya tantangan untuk mencoba minimal tigapuluh resep baru sepanjang tahun 2017. Sudah berapa yang tercapai hingga saat ini? Hahaha... Saya juga lupa, sebab tidak menghitung resep yang baru diujicoba di dapur. Wehhh.. gak terukur dong kalau gitu.. wkwkwk.


Memasak bagi saya semenjak jadi istri merupakan akivitas keseharian yang tidak ada berhentinya. Hahaha.. iyalah tiap hari saya yang masak di rumah, mulai sarapan sampai makan malam. Termasuk juga cemilan buat Kristal seperti puding atau donat. 



Berbicara mengenai konsumtif maka tidak bisa terlepas dari yang namanya berbelanja. Benar apa betul? Ya, melalui belanja inilah kita mendapatkan barang yang kita konsumsi baik dengan belanja online ataupun belanja langsung.













Nah, sekarang pertanyaannya adalah seberapa sering kamu belanja online? HAHAHA.


Saya sih, Kadang. Slow, kalau sering juga gapapa kok, di sini akuh enggak nge-judge. Lol


Iya, serius kadang-kadang kalau ada baju dan diskon yang lucu di-favorite dululah.


Rumah menjadi tempat paling nyaman untuk kita pulang. Kemana saja dan sejauh mana kita pergi dari rumah maka kita hanya akan ingin pulang kembali ke rumah. 
Setiap orang memiliki standar rumah ideal yang berbeda baik dari ukuran, lokasi dan desain. Salah satu unsur yang paling berpengaruh dalam rumah adalah warna. Pemilihan warna baik eksterior maupun interior rumah akan sangat berpengaruh pada penghuni rumah tersebut.



Tahun 2011, Kemal Yildirim dkk meneliti mengenai efek warna interior terhadap mood dan preferensi. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Perceptual and Motor Skills menunjukkan bahwa warna-warna hangat menghasilkan respon partisipan yang lebih kuat, bersemangat dan tertarik. Warna-warna dingin lebih diasosiasikan dengan tidak terlalu membangkitkan semangat tetapi lebih pada keleluasaan dan ketenangan. Secara umum, warna-warna dingin dan akromatik memicu emosi yang lebih tenang dan damai (Yildirim et. Al, 2011).


Alhamdulillah, Marhaban Ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan hanya tinggal hitungan jari. Ibadah puasa Ramadhan menjadi kewajiban bagi setiap orang Islam yan beriman. Ya orang beriman sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 183. Soalnya juga, banyak sih yang Islam tapi kurang iman gitu jadi ya gitulah, heheh. 😁

Baiklah, pasti yang dinanti selama Ramadhan tentunya ibadah-ibadah kita yang dilipatgandakan pahalanya. Ibadah spesial seperti shalat tarawih berjamaah, puasa dengan ritual sahur dan berbuka, tentunya menjadi ciri khas bulan suci ini. Bayangan es buah segar dengan sirup sudah ada di dalam kepala. Tidak lupa juga, beraneka cemilan dalam bentuk gorengan seperti pisang goreng, bakwan, tahu isi, risoles dan lainnya sudah pasti menjadi menu pelengkap berbuka puasa.



Ramadhan ibarat lari maraton. Panjaang dan lama kan ya bayangin aja 42 km haha, kalo enggak bener latihannya bisa kalah duluan tuh. Nah, karena itu selama ramadhan kita perlu strategi, disiplin dan fokus pada tujuan supaya menang. Selama berlatih, ternyata apa yang kita makan dan bagaimana cara kita makan berpengaruh pada perlombaan maraton ramadhan ini. Bisa jadi mudah atau makin susah, kok bisa ya? 


Apa yang terbayang ketika kamu melihat diri kamu menjadi seorang ibu? 

Pada saat itu yang terpikirkan oleh saya adalah gravitasi. Benar, setelah menjadi ibu seorang wanita yang dahulunya bukan apa-apa dan siapa-siapa menjadi pusat gravitasi bagi anak yang dilahirkannya. Sebagaimana matahari sebagai pusat tata surya.





Sebuah amanah yang tidak ringan tapi pastinya akan membuat kehidupan menjadi lebih bermakna. 
Tidak terbayang bahwa saya yang dahulunya seorang yang agak asal-asalan, berantakan dan kurang teliti menjadi berubah setelah punya anak. Benar, pada akhirnya mengemban tanggung jawab menjadi ibu membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik. 


Dulu saya suka asal, sekarang saya sadar ada manusia kecil si peniru dan dia hanya akan meniru hal baik dari saya.


Dulu saya berantakan, sekarang saya lebih rapi dan bersih karena ingin anak saya sehat.


Assalamua'laykum warahmatullahi...

Alhamdulillah, bertemu lagi dengan hari Senin dan seperti biasanya saya akan membuka seri Shiva Bertanya, Islam Menjawab. Kali ini akan dibahas mengenai shalat istrikharah dan menentukan pilihan atas berbagai persoalan hidup. Persoalan yang seperti apakah yang dimaksud? Yuk, langsung bertanya ke narasumbernya, Ibu Ustadzah Indra Asih.






Shiva Bertanya:

Bagaimana cara menentukan pilihan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada? Dalam Islam dikenal shalat Istikharah untuk memantapkan hati dalam memilih, namun ada pendapat yang berkata untuk melakukan shalat istikharah kondisi jiwa haruslah netral, tidak berat sebelah. Apakah itu benar Ustadzah? 

Namun, jika yang melakukan shalat sudah ada kecenderungan pada salah satu pilihan bagaimana menentukan apakah yang dipilih sudah terbaik menurut Allah? 








Islam Menjawab:

Narasumber adalah Ustadzah Drs. Indra Asih



و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته,


 Dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata

 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا 


السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian  dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…”. (HR. Al-Bukhari)


Ada 2 hal mendasar:

Yang pertama, Nabi mengajarkan shalat istikharah dalam setiap perkara/urusan. Jadi, tidak benar ada anggapan bahwa shalat istikharah hanya dilakukan terbatas untuk urusan yang meragukannya, sehingga ia perlu melakukan shalat istikharah. Karena dalam bahasa Arab, kata كل memiliki arti setiap/semua.

Kedua, sebagian orang salah paham dalam melaksanakan shalat istikharah. Sebagian dari mereka melakukan shalat istikharah ketika dihadapkan kepada pilihan yang sulit atau meragukannya.  

Padahal ini kurang tepat, karena yang tepat adalah ketika seseorang telah mantap hatinya dengan keputusan yang ia ambil dalam urusan yang dihadapinya.

Jika BERNIAT, sebagian orang mengartikannya dengan menghadapi, padahal jika diartikan demikian, maka shalat istikharah dilakukan sebelum hati mantap dengan keputusan.  

Padahal shalat istikharah dilakukan saat hati telah mantap dengan keputusan.

Apa hikmahnya ketika shalat istikharah dilakukan saat hati telah mantap?
  1. Jika seseorang telah mantap dengan suatu urusan, maka ia memohon kepada Allah, apabila urusannya tersebut baik dan diridhai oleh Allah, maka Allah akan mempermudah jalannya untuk mendapatkan perkara tersebut.
  2. Jika perkara tersebut tidaklah baik baginya, Allah akan datangkan penghalang dan pencegah baginya, sehingga ia akan dicegah untuk melaksanakan urusan tersebut.


Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ 

وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istikhoroh karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Namun,  orang-orang awam masih banyak yang memiliki pemahaman semacam ini. Yang tepat, istikhoroh tidak mesti menunggu mimpi. 

Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan. Terserah apa yang ia pilih tadi, mantap bagi hatinya atau pun tidak, maka itulah yang ia lakukan karena tidak dipersyaratkan dalam hadits bahwa ia harus mantap dalam hati. 

Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.


Cara Istikhoroh

  • Pertama: Ketika ingin melakukan suatu urusan yang mesti dipilih salah satunya, maka terlebih dahulu ia pilih di antara pilihan-pilihan yang ada.

  • Kedua: Jika sudah bertekad melakukan pilihan tersebut, maka kerjakanlah shalat dua raka’at (terserah shalat sunnah apa saja sebagaimana dijelaskan di awal).

  • Ketiga: Setelah shalat dua raka’at, lalu berdo’a dengan do’a istikhoroh:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ 

أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ 

بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – 

فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى 

وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ 

الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ


Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

[Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya]


  • Keempat: Lakukanlah pilihan yang sudah dipilih di awal tadi, terserah ia merasa mantap atau pun tidak dan tanpa harus menunggu mimpi. 

Jika itu baik baginya, maka pasti Allah mudahkan. Jika itu jelek, maka pasti ia akan palingkan.


Wallahu a'lam.


*Kembali ke Shiva*

Alhamdulillah, pertanyaan sudah dijawab dengan jelas oleh Ustadzah Indra Asih. Wah, ternyata memang ada kesalahan pemahaman selama ini mengenai shalat istikharah ya. Semua berpikir jika ada kebingungan atau keraguan dalam memilih seperti milih jodoh gitu ya #eh hahaa... ya seperti memilih tempat bekerja yang baru, memilih melanjutkan kuliah lagi atau pilihan menjadi ibu bekerja atau ibu di rumah. 

Nah, insya Allah dengan adanya penjelasan dari ustadzah makin menambah pemahaman teman-teman yang belum tahu atau yang sudah tahu tetapi salah paham. Eh, jadi jangan bingung ya. 

Adapun shalat istikharah itu dilakukan tanpa adanya keraguan terhadap suatu urusan yang akan dilakukan. Tetapi sebaliknya, ketika hati sudah mantap untuk melakukan urusan tersebut maka lakukanlah istikharah dengan niat agar Allah memudahkan jalannya jika memang itu yang terbaik atau Allah jauhkan jika urusan tersebut belumlah yang terbaik untuk hambaNya. 

Satu lagi yang sering dan mungkin hampir jadi pandangan umum adalah jawaban istikharah berupa mimpi/ impian. Ini adalah kegagalpahaman kedua bahwa istikharah sebenarnya tidak dijawab dalam bentuk mimpi dan memang tidak ada dalil yang menjelaskannya juga. Alangkah baiknya, setelah membaca ini kita perbaiki pemahaman mengenai shalat Istikharah. 

Jadi, bagi yang ada keraguan dan kegalauan tentang apapun. Silakan pertimbangkan dan pikirkan masak-masak hingga ada kecenderungan atau kemantapan hati untuk memilih yang mana. Setelah ada keputusan terhadap pilihan barulah laksanakan shalat istikharah agar Allah memudahkan jika memang yang terbaik atau menjauhkan jika belum yang terbaik.


Alhamdulillah seri Shiva Bertanya, Islam Menjawab kali ini semoga memberikan pencerahan bagi yang memerlukan. Yang benar sesungguhnya datang dari Allah. Semoga kita selalu diberikan petunjuk oleh Allah SWT. aamiin. 
Materi ini disarikan dari diskusi grup Kajian Iman dan Islam.
 
Dipersembahkan oleh:




Huahahaa... judulnya gini amat. Tumben posting yang agak 'romantis'

Kenapa Romantis? *tsaaahhh pasang lagu anaknya Sule (*penantian berharga) jadi backsound.

Sebab satu nama ini membuat saya terkenang akan hal-hal indah.

Apakah gerangan nama itu?

Sebuah daerah di Kota Bandung

So Popular, more than myself wkwkw..

Yaitu,

Dago






Sebelumnya, flash back ke masa setelah menikah. Disebabkan beberapa hal saya dan suami Long Distance Marriage (LDM-an). Sampai pada akhirnya, saya memutuskan berhenti bekerja dan ikut menemani suami. Murni keputusan saya sendiri, tanpa ada intervensi suami yang mengajak ataupun merayu haha...

Jadilah kami mengontrak di area Dago, tepatnya di Jln. Ir. H. Juanda Gang Cintawangi seberangnya Bangbayang. Jujur ya, baru kali ini saya pergi jauh-jauh dari orang tua setelah sebelumnya saya emang enggak pernah kemana-mana selain JaBoDe (Jakarta, Bogor, Depok).


Lantas, bagaimana rasanya?


Duh, yaaaa Bandung indah tapi terlalu romantis buat saya ahaha... Maklum sejak lahir ditempa di kota Jakarta dengan segala kepadatannya jadi ya, Bandung tuh lebih menenangkan jiwa *asik.


Dago sebelum kedatangan saya memang sudah terkenal gitu. Jadi ya saya mah udah pasti kalah pamor. haahaa...


Tempat tinggal saya dapat dikatakan sangat strategis. Jika mau jalan ke pasar maka cukup ke Pasar Simpang Dago yang diseberangnya ada McDonalds. Kalau mau jalan-jalan kulineran cukup belok ke Dipatiukur sudah penuh dengan berbagai jajanan, duh enak deh pokoknya.


Bagi saya Dago membuat kenangan tersendiri di jiwa. Betapa tidak selama hamil di Bandung itu bahagia dan senang terus bawaannya. Memang suasana sejuk di sini sangat mendukung apapun jadi romantis karena berdua sama suami. Selain itu, jajanan favorit saya ada di Dago. Batagor Simpang Dago nama warungnya. Harga terjangkau dan enak. Selain batagor juga ada nasi bakar (yang gak cukup satu porsi) sebenernya waktu itu karena hamil kali ya wkwk...


Dago mengingatkan saya kenangan manis bersama suami.

Dago membuat saya saat itu merasakan bulan madu terus setiap hari hahaahaa...

Di Jalan Ganesa Dago juga saya suka banget makan donat yang dijual di warung aa-aa sebelum masuk kampus ITB.

Dago membuat saya bersyukur pernah merasakan tinggal di sana.

Dago memperkaya pengalaman saya yang masih jauh belum ada apa-apanya dibandingkan para traveler sedunia.

Tetapi Dago,

Kamu memiliki tempat khusus di memori saya

Tempat yang istimewa dan indah di jiwa

Mungkin kata Pidi Baiq, "Bandung bukan cuma masalah geografis bagiku, tetapi juga melibatkan perasaan." 

Sampai dijadikan pajangan di kolong terowongan Asia Afrika. 

Maka saya bikin quote juga walaupun enggak dipajang dimana-mana sih, wkwkw...

Di Bandung 
Pikiran kalut menjadi sejuk
Dan Dago 
Membuat lukisan memori indah di jiwa penduduknya



Shiva (yang pernah menjadi warga Dago)






Sejak awal kehamilan saya sudah meniatkan sepenuh hati untuk memberika air susu ibu (ASI) ekslusif untuk buah hati saya. Berbagai hal terkait proses pasca melahirkan seperi inisiasi menyusu dini (IMD), ASI kolostrum dan ASI eksklusif sampai anak usia dua tahun sudah saya cari informasinya. Selain itu, saya juga menyiapkan mental bersama suami untuk saling mendukung selama proses memberikan ASI.



Bayangannya mah indah saja gitu ya. menyusui cara begini seperti di tutorial buku kuliah Maternity Nursing yang saya baca, wkwkw.. 





Di balik itu semua ternyata....



Ada usaha dan perjuangan yang besar dari seorang ibu demi menyusui anaknya.

Nah, disinilah saya akan membagi pengalaman saya selama menyusui Kristal dari sejak lahir hingga saat ini. Jadi, selama hamil saya dan suami tinggal di Bandung. Sebenarnya pun niat dan persiapan melahirkan di Bandung pun ada. Akan tetapi, berhubung kekhawatiran suami yang begitu mencintai istrinya *cieeh ini amatlah besar maka diputuskan saya akan melahirkan di Jakarta supaya ada keluarga yang menemani. 

Rabu, 21 Januari 2015 pukul 21.40 WIB Kristal lahir. Sejak lahir sampai sebulan setelahnya itu saya tidak menemui masalah dalam proses menyusui. Sebulan usia Kristal beratnya naik 300 gram saja, seharusnya dari sini saya curiga tapi karena masih dalam batas hijau grafik berat badan per umur, saya tenang. Selama menyusui saya tidak kesakitan (kalau salah posisi itu terasa nyeri) dan juga anak selalu tidur nyenyak karena kenyang. 

Barulah pada bulan kedua, berat badan Kristal hanya naik 200 gram dari sebulan sebelumnya yang 3600 gram. Setelah dilihat pada grafik sudah masuk kategori garis kuning. Duh, ada masalah apa ini? Saya bertanya-tanya sendiri sampai saya kepikiran mompa ASI supaya bisa mengukur jumlah ASI yang diminum Kristal coba. Suami yang saat itu masih kerja di Bandung juga have no idea kenapa naik BB cuma sedikit, soalnya tidak ada bengkak payudara dan lainnya. Akhirnya, saya berinisiatif menghubungi Fitri, teman saya yang juga sedang kuliah magister ilmu keperawatan anak siapa tahu ada diantara teman mahasiswanya terdapat seorang konsultan laktasi.


"Coba hubungi bu Fajar dosen kita aja Shiva, beliau konsultan laktasi internasional" balas Fitri dari pertanyaan saya yang mengenai adakah teman kuliahnya yang seorang konsultan laktasi. Saat itu juga eike masih belum ngerti hal-hal mengenai konsultan laktasi, hehee..


"Wah, boleh deh, kalau gitu aku minta kontaknya ya ibu Fajar" balas saya sambil deg-degan. Deg-degan karena cemas kalau-kalau tidak bisa memberi ASIx. 


Segeralah saya coba hubungi ibu dosen saya waktu kuliah ibu Fajar Tri Waluyati, M. Kep., Sp. An., IBCLC. Perasaan saya antara bersyukur tapi masih berdebar karena khawatir ada hal-hal yang tak terduga. Alhasil, setelah saya menghubungi beliau pun membalas dengan ramah. Duh, alhamdulillah semoga bisa diatasi masalah ASI ini. Akhirnya, ibu Fajar mengajak untuk bertemu di Kampus Fakultas Ilmu Keperawatan UI Depok, di ruangan dosen pada hari Senin. 

Suami saya ambil cuti kerja karena saya meminta untuk ditemani saat konsultasi ke ibu Fajar. Senin sore saya bertemu dengan ibu Fajar di kampus dimulai dengan cerita Kristal yang BBnya enggak naik  optimal dan masuk garis kuning.

"Pas menyusui sakit gak?" tanya bu Fajar

"Enggak bu, gak pernah sakit" jawab saya

"Berapa lama sekali menyusui sampai berhenti sendiri"

"Bisa setengah sampe satu jam bu dan selalu tidur setelah menyusu"

"Coba dicek lidahnya yuk, apakah ada tongue tie, bisa kelihatan lidahnya seperti love gitu karena ada yang menahan di bawah lidahnya"

dan ternyata.....


Tidak ada tongue tie atau nama latinnya ankyloglossia


Terus anak ini sebenarnya kenapaaa????





Akhirnya diagnosis yang diberikan untuk Kristal adalah dia tidak menyedot ASI bagian hindmilk (ASI akhir setelah menyusu lebih dari 5-10 menit) yang lebih banyak lemaknya. Jadi, solusi untuk menaikkan BBnya adalah dengan RELAKTASI. 


Relaktasi secara definisi sebenarnya adalah menyusui kembali setelah beberapa waktu berhenti (tidak menyusui sama sekali). Akan tetapi, dalam definisi kasus saya relaktasi bermakna memberikan lagi ASI yang telah diperah melalui feeding tube saat sedang menyusui. Jadi, pada selang dialirkan ASI perah hindmilk yang disisipkan ke dalam mulut. Selang disambungkan ke spuit sebagai tempat menampung dan mengukur jumlah ASI yang diberikan.


KEBAYANG GAK BU IBU?


Saya juga awalnya juga bingung, gak percaya kenapa begini...




Beginilah kira-kira gambarannya, tapi kalau saya tabung yang gantung di leher itu gak ada karena pakai spuit yang dipegang sendiri dengan tangan yang bebas.


Feeding tube yang berukuran khusus pediatrik (anak)


Spuit 50cc sebagai penampung ASI yang akan disalurkan

Dalam kasus saya, cara memperoleh hindmilk adalah dengan memisahkan hasil perahan pada lima menit pertama (yang hasilnya awal-awal hanya 10cc). Setelah itu melanjutkan memerah ASI lagi sampai sebanyak-banyaknya. Rasanya benar-benar tak terduga, saya yang tidak berencana memerah dan menyimpan ASI tiba-tiba harus mempersiapkan botol kaca, belajar lagi cara memerah dengan tangan karena memang belum punya pompa ASI dan juga menghitung tiap tetesan ASI serta memberikannya lagi. 

Jadilah setiap Kristal tertidur setelah menyusu saya segera bersiap memerah ASI. Tengah malam ketika terbangun saya kembali mengumpulkan ASI. Sebulan sudah saya relaktasi Kristal dan syukur pada Allah berat badannya naik cukup signifikan. Usia tiga bulan bobotnya 4.4 kg walaupun masih dalam garis kuning saya sudah bahagia. Hasil konsultasi berikutnya relaktasi tetap dilanjutkan. Saya pun coba meminjam pompa ASI manual dari kak Mia dan mencari pompa ASI elektrik di penyewaan online.

Rasa senang dan syukur itu ketika melihat ASI relaktasi yang diminum sehari lebih dari 30cc. Oiya, saya juga diresepkan obat galaktogog oleh ibu Fajar untuk merangsang hormon oksitosin dan tidak lupa pijat oksitosin juga. 


Apakah saya berhasil meningkatkan BB hanya dengan ASI saja?


Ternyata panjang juga ya kalau satu postingan mah, wkwkwk.. Baiklah nanti akan saya lanjutkan ceritanya di bagian kedua yaaa... hehehee....

Oiya, jika ada yang butuh konsultan laktasi bisa hubungi Ibu Fajar di kampus FIK UI Depok Gedung Rumpun Kesehatan. Di FIK ada klinik konsultasi khusus anak baik masalah ASI atau pun tumbuh kembang jadi siapa saja yang membutuhkan dapat langsung kontak ke kampus ya.


Bulan Februari kantor suami saya (Kudo) mengundang keluarga pegawai dalam acara Kudo Family Day. Wah, bisa lihat-lihat dan main-main di kantor suami sepertinya seru nih. Acara Kudo Family Day ini memang sengaja diadakan oleh Kudo dalam rangka apresiasi terhadap keluarga pegawai yang telah menjadi pendukung para pegawai selama bekerja.

Hari Selasa, 21 Februari suami berangkat kerja seperti biasa. Saya dan Kristal akan datang menyusul jam dua siang. Alhamdulillah cuaca hari itu tidak hujan jadi kami aman berangkat diantar motor. Biasa ya, bocah kena semeriwing angin jadi tidur. Kristal tertidur selama perjalanan dan setelah sampai belum bangun juga.

Saya datang dijemput suami di lobi Grand Lucky. Kami pun  langsung menuju lantai dua untuk registrasi dan mengambil tiket konsumsi. Sistem pengamanan kantor membuat orang selain pegawai tidak bisa masuk. Pintu dari luar hanya bisa dibuka dengan cap jari pegawai. Wuih,, oke betul ni haha.. (norak ye). Setelah masuk Kristal dengan gaya malu-malunya tidak mau melihat teman-teman kerja ayah. Padahal teman-teman ayah mau melihat Kristal dari dekat. 

Tempat acara family day di lantai tiga kantor suami. Ternyata di sana sudah ramai dengan anak-anak mulai dari bayi-bayi yang digendong sampai toddler yang sedang bermain odong-odong mobil. Kami Kristal lebih tepatnya disambut oleh tante yang memberikan susu, wafer serta biskuit. Dasar bocah ya, seneng banget dikasih makanan. Lalu, Kristal mewarnai karena ditawari tante krayon dan kertas. 

Permainan yang disediakan kantor ayah dari balok-balok warna warni, rumah-rumahan yang bisa dimasukin anak, odong-odong mobil dan motor, serta video lagu anak-anak. Alhasil keriuhan di sana dipelopori bocah-bocah yang sedang bermain. Rame banget kayak TK wkwkwk...




Saya tentu merasa senang banget bisa main dan lihat-lihat kantor suami yang dari ceritanya ada ruang bermain terus mejanya juga gak pake kubikel. Macam kantor google gitulah. Baru lihat saya ada meja billiard, nintendo wii dan gitar serta beberapa jenis board game. Waah, enak juga fasilitasnya, coba rumah sakit ada beginiannya hahahah *ngarep lau. 

Selain itu, di dinding ruangan kerja banyak mural dan kalimat-kalimat motivasi. Waini, yang ditunggu sesi foto-foto di kantor ayah. Ada juga games foto di spot-spot kantor bareng sama keluarga. Nah, saya yang niat betul foto-foto supaya bisa ikutan games di Instagram. Sampai photo booth yang di gedung sebelah juga didatangin sepenuh hati, haha. 




Selepas ashar, kami selesai foto dan langsung menuju lantai dua untuk menukarkan kupon konsumsi. Nah, ayah balik dulu ke mejanya sementara saya dan Kristal makan di ruang makan. Sepertinya energi Kristal habis karena bermain. Terlihat dari caranya menikmati daging gepuk yang empuk itu sampai gak rela dibagi ke Bunda, hahayy makan nak makan supaya besar deh. 

Selesai makan Kristal saya ajak ganti baju di toilet. Niatnya sih cuma ngelapi badan aja eh tapi ada mbak pegawai yang nawarin mandi di kamar mandi sebelah toilet pakai air hangat. Wah, kebetulan nih mandiin aja sekalian deh si timong wkwkw.. Dengan girang hati Kristal diguyur air hangat dari keran sambil ketawa-ketawa. Udah gitu disediain juga sabun sama sampo di dalam kamar mandi. Jadi, ya lengkap sudah kenikmatan Kristal mandi di kantor ayah. Menang banyak nih hahaa...

Selesai beberes barang bawaan, kami pun segera memesan Uber mobil untuk pulang. Sebenernya sih, saya mau ngajakin naik bus feeder aja tapi ya bawaan jadi banyak begini agak rempong sepertinya. Udah gitu ada balon juga wkwkw.. 

Sepanjang perjalanan pulang Kristal sukses menghabiskan satu nyam-nyam rice. Saking lamanya perjalanan kalo gak ada cemilan bisa rewel. Alhamdulillah, Maghrib lewat sedikit kami sampai di rumah. Pengalaman bermain di kantor ayah begitu berkesan. Hehe.. terima kasih ayah! Terima kasih Kudo! 




P.S: 
Oiya, dapat kabar dari suami bahwa foto kami bertiga yang di booth foto kudo sedang nyium Kristal menang lomba family day games. Asiiikk dapet hadiah buat belanja, yeaay!! Gak sia-sia semangat bunda buat foto sepenuh jiwa, wkwkw...





"Memangnya kamu pikir memaafkan itu gampang?"
"Enggak, memaafkan enggak segampang minta maaf."


Dua kalimat yang sering terdengar dari lisan-lisan manusia yang merasa disakiti. 

Angkuh? Sempit pikir? Tapi apa benar orang yang tidak mau memberi maaf begitu angkuhnya mereka?


Maaf, sebuah kata yang penuh makna. Jika diberikan imbuhan me-kan maka memaafkan merupakan sebuah hal yang kadang masih terasa berat. Jika ditambahkan imbuhan di-kan maka dimaafkan adalah sebuah hal besar yang memerlukan dada lapang melakukannya. Sungguh memberi dan meminta maaf merupakan hal berat kecuali untuk orang-orang yang sungguh lapang dadanya.

Siapa yang tidak pernah terluka hatinya? Wah, pertanyaan yang kurang tepat jika ditanyakan kepada manusia sepertinya. Manusia dengan emosi dan karakteristik yang berbeda tentunya sangatlah berisiko terluka hati. Entah sebab ucapan atau perilaku selama berinteraksi.


Memaafkan mengapa terasa begitu berat? Ah, kamu tidak merasakan sakit hati yang saya rasakan. Sudah, tak perlu komentar kamu. Asal kamu tahu, sakitnya tuh disini! *tunjuk dada 

Eits, saya manusia yang juga pernah merasa sakit hati. Dalam batas wajar, ada hal-hal yang membuat saya sebel, kesel dan dongkol sama ucapan atau perilaku orang lain loh. Dan itu wajar. Namun, bagi yang pernah disakiti sebegitu dalamnya secara langsung ataupun tidak dan benar-benar sulit sekali memaafkan. Siapapun orang itu, mestilah sulit membuka pintu maaf.

Kita marah, besar banget. Tak termaafkan, sungguh. 

Saya pikir, memaafkan adalah yang yang harus kita selesaikan untuk bisa melanjutkan hidup. Kalau kita tetap menyimpan luka lama, membawa-bawanya terus maka kita hanya akan melukai diri sendiri. 



Sebenarnya sih, kita tidak akan menyakiti orang lain dengan menolak memaafkan (bahkan sebagian besar sudah tidak peduli lagi mungkin pada kesalahannya), tetapi kita hanya akan menyakiti diri sendiri.

Nah, supaya bisa move on dan melanjutkan hidup memaafkan sebenarnya merupakan hal yang perlu kita terima dan lakukan. Sebab kita akan berisiko terjebak pada masa lalu terus menerus, tidak mampu menjadi diri yang kita mau atau mencapai hal yang kita ingin capai.

Memaafkan tidak bermakna bahwa kita "baik-baik saja" dengan yang telah si pelaku lakukan atau memaklumkannya. Memaafkan tidak ada hubungannya dengan orang yang menyakiti kita karena ini tentang diri kita di masa depan.

Jadi, seperti yang dikatakan Mr. Borysenko benalah bahwa memaafkan itu menyelesaikan bisnis lama agar bisa bebas dari kontaminasi atau cemaran masa lalu. Melelahkan memang jika kita hanya berkutat dengan rasa sakit yang itu-itu lagi. Faedahnya tidak didapat hanya saja makan hati terus menerus. Bebaskan jiwa, pikiran dan raga dengan memberikan maaf sebab dirimulah yang membutuhkannya.







Lagi-lagi kau selalu mengingatkanku pada masa kecilku. Tersadar diriku ini sudah bukanlah anak-anak.  Tahukah kau hujan, engkaulah yang selalu menerbitkan senyumanku di kala kau turun, dengan gerimis atau derasmu. Aku tak peduli meskipun kau membawakan genangan air di lubang-lubang jalan. Percikan akibat roda-roda kendaraan. Sungguh, aku tetap menyukaimu terlepas apapun efek yang kau bawakan ke bumi ini.

Kau tahu hujan, kemarin kita bertemu di ketika aku dalam perjalanan menuju rumah. Jarak dari jalan raya ke rumahku sekitar setengah kilometer. Di bawah naungan payung aku berjalan menikmati bertatap denganmu lamat-lamat. Di sepanjang jalan aku lihat, para ayah dan ibu menjemput anak-anak mereka sepulang sekolah, tentunya di bawah payung mereka merapat. Aku ingat ketika masih bersekolah di SD pun ibu atau kakakku terkadang menjemputku ke sekolah karena hujan dan aku tak membawa payung. Manis sekali bukan? Aku berpegang erat pada mereka,berusaha menghindari basah airmu.

Lagi, aku melihat sekelompok bocah lelaki basah kuyup. Mereka mandi hujan, ya begitu aku menyebutnya. Mereka bermain-main, membiarkanmu membasahi kepala mereka. Mereka tak marah, justru tersenyum dan tertawa bahagia bermain denganmu. Mereka menjejak di genangan air yang kecoklatan, saling memercikkan airmu kepada temannya. Ah, sungguh aku bagai melihat cermin masa laluku sekarang . Dahulu pun kita sudah dekat bukan hujan? Aku ingat betul, aku bermain hujan-hujanan,berlarian, melompat-lompat, berbasah-basahan di tengah tanah lapang dekat rumah. Menenggelamkan kaki di tengah genangan airmu di bumi. Berteriak-teriak tidak jelas seperti “oooo… aaaa…. Hujaaan horeee..” bersorak kegirangan ketika ibu membolehkanku bermain di luar rumah ketika kau turun. Tertawa-tawa penasaran membuka mulut lebar-lebar sebab ingin merasai seperti apa meminum langsung airmu yang turun dari langit. Ah, bahagia betul rasanya kala kecilku.
Namun kini, tak bisa lagi aku bermain di bawah hujan tanpa berlindung dengan payung. Tak bisa lagi aku berlari-larian di tengah tanah lapang sambil berteriak “horeee.. hujaaan…!!lalu membiarkan airmu membasahi seluruh kepala dan pakaianku. Ah, ingin rasanya kini aku tetap bisa bermain hujan, mandi di bawah disiramanmu, wahai air langit. Melompat-lompat kegirangan, teriak sambil tetap berusaha merasai airmu dengan juluran lidahku, hahaaha.. konyol benar keinginanku ini. Padahal sudah sebesar ini tubuhku, tetap saja jika bertemu kau hujan selalu terbit perasaan rindu akan aku yang masih kecil.

Kau perlu tahu hujan, kelak jika aku sudah memiliki pendamping hidup yang halal maka akan kuceritakan semua hal mengenai engkau padanya. Tentang bagaimana aku selalu menyukaimu. Harapan-harapan akan bisa bermandi hujan kembali, bermain di kala kau turun. Biar saja ia nanti tertawa mengetahui tingkahku yang bagai anak kecil ini, tak apa. Sebab akan kuajak dia merasakan kebahagiaanku semasa anak-anak, akan kuajak dia berteriak dan melompat-lompat ketika kau turun tanpa perlindungan payung. Lalu, kami pun kembali dekat dengan engkau hujan.