Shiva's Cozy Home

Awan abu-abu mulai menutupi langit kota Bandung sore itu. Udara sejuk semakin menenangkan pikiran, tepat menemani saya saat ikut serta kegiatan Danone Community Engagement Day 2022. Acara hari itu merupakan kumpul komunitas Danone Blogger dan Vlogger bersama Danone Indonesia. Selama pandemi ini memang semua kegiatan diadakan secara daring, tetapi itu tidak menyurutkan saya bersama teman-teman untuk bersemangat hadir. Terlebih lagi, Community Engagement Day sore ini bertajuk KIAT2022 kepanjangan dari Kelas Intensif Membuat Konten, benar-benar pas dengan saya yang mulai semangat lagi bikin konten. 

Photo by Francesco Gallarotti on Unsplash

Jadi, sebagai pembuat konten baik blog ataupun vlog saya merasa acara ini penting banget. Di era derasnya informasi tersebar, membuat saya harus hati-hati dalam membuat konten agar terhindar dari berita palsu dan informasi yang salah. Kemampuan berpikir kritis memang perlu dimiliki seorang kreator. Sebab kreator akan membawa informasi untuk dinikmati khalayak. Oleh karena itu, Kelas Intensif Membuat Konten bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam pembuatan konten terkait isu keberlanjutan lingkungan & masyarakat.

Berdasarkan BBC Indonesia, bencana kekeringan terjadi bersamaan di Amerika Utara, Eropa dan Mediterania, dan China. ¹ Selain itu, baru saja akhir Agustus ini terjadi bencana banjir di Pakistan. Hal ini merupakan satu dari efek perubahan iklim. Bumi sedang tidak baik-baik saja, karena itu semua yang mencintai bumi harus bergerak untuk menjaga kelestariannya. Hal inilah yang menjadi tema pertemuan Danone Community Engagement Day 2022 yaitu, “Mengenal Penerapan Bisnis Berkelanjutan untuk Indonesia Lestari”.

Acara ini menghadirkan Content Creator; Gerald Vincent, Agriculture Manager Danone Indonesia Bapak Budi Rahardjo; serta Downstream Packaging Manager Danone Indonesia, Ibu Annie Wahyuni. Bapak Arif Mujahidin, selaku Corporate Communications Director Danone Indonesia memaparkan bahwa Danone Indonesia memiliki komitmen ganda dalam menjalankan bisnis yang juga sejalan dengan kemajuan lingkungan dan sosial, memiliki fokus yang sejalan dengan implementasi target Sustainable Development Goals (SDGs) dan target pemerintah dalam aspek keberlanjutan.

Narasumber KIAT Membuat Konten 2022 *dok: Danone

Menurut saya, upaya yang dilakukan Danone sebagai bisnis yang peduli lingkungan menjadi nilai yang begitu membanggakan. Saya pun jadi terinspirasi jika suatu hari nanti memiliki bisnis sendiri, saya ingin bisnis yang sustainable dan tetap dapat melindungi bumi. Narasumber pertama adalah Bapak Budi Rahardjo yang merupakan Agriculture Manager Danone Indonesia. Saya sempat bingung juga nih, Danone kan bukan perusahaan tani, kenapa bisa punya agriculture manager? Akhirnya, penjelasan Pak Budi menjawab rasa penasaran saya.

Fokus Bisnis Berkelanjutan

Danone Indonesia memiliki misi One Planet, One Health yang bertujuan untuk membangun masa depan lebih sehat dengan menciptakan gaya hidup sehat serta ekosistem dan alam yang sehat. Oleh sebab itu, dari inisiatif One Planet lahirlah empat pilar yang berfokus pada Climate, Water, Circular Packaging, dan Agriculture.

Bapak Budi Rahardjo menjelaskan bahwa saat ini akan diperlukan lebih banyak upaya dan inovasi agar dapat meningkatkan produksi pertanian berkelanjutan, maka pilar agrikultur Danone Indonesia menginisiasi program Regenerative Agriculture. Melalui penerapan pertanian berkelanjutan, diharapkan dapat melakukan transformasi dan menjaga food system atau rantai makanan dengan baik. Hal ini bertujuan agar dapat memenuhi akses nutrisi bagi seluruh masyarakat dan menurunkan angka kelaparan.

Regenerative Agriculture adalah bentuk pertanian yang meremajakan melalui praktik pertanian regeneratif yang melindungi tanah, meningkatkan kesejahteraan hewan dan turut memberdayakan generasi baru petani,” papar Budi Rahardjo.

Selanjutnya, yang juga tidak kalah menarik adalah penjelasan dari Ibu Annie Wahyuni mengenai penerapan ekonomi sirkular Danone-Aqua. Beliau merupakan Downstream Packaging Manager Danone Indonesia dan memulai pembahasan dengan pertanyaan ternyata jawabannya “wow” banget, yaitu, “pada sektor manakah masyarakat paling tidak peduli?” dan jawabannya berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018 masyarakat Indonesia dominan tidak peduli pada pengelolaan sampah. Masalah ini memang belum jadi kesadaran utama di masyarakat padahal sangat berdampak bagi lingkungan.

Danone Indonesia sangat menyadari bahwa dampak sampah akibat dari bisnis seperti biasa (Business as Usual) akan membuat hampir tiga kali lebih banyak dari awalnya 11 juta menjadi sebesar 29 juta ton sisa plastik yang bocor ke laut pada tahun 2040. Selain itu, akan muncul juga dampak yang mengganggu sektor lingkungan, ekonomi, dan sosial.
 
Pendekatan Ekonomi Sirkular

Oleh sebab itu, Danone berupaya mendukung pergeseran sistemik dari linear ke ekonomi sirkular untuk pengemasan. Ibu Annie juga menjelaskan bahwa “diperlukan aspek kemasan yang ramah lingkungan dan aman bagi konsumen. Hal ini membuat kemasan memiliki peran untuk melindungi manfaat gizi dan kualitas produk dan memungkinkan produk dapat disimpan, diangkut, dan digunakan dengan aman”.

Sejak 2018 Danone sudah mulai mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan ekonomi sirkular melalui gerakan #BijakBerplastik. Salah satu program untuk mendukung #BijakBerplastik adalah dengan menggunakan kemasan yang 100% dapat digunakan kembali, dapat didaur ulang, atau kompos, serta meningkatkan konten bahan daur ulang hingga 50%. Hingga saat ini Danone juga mendirikan AQUA Recycling Business Unit (RBU) yang merupakan pusat daur ulang limbah plastik di enam tempat di Indonesia berpartner dengan VEOLIA.

Menjadi Konten Kreator Luar Biasa

Narasumber berikutnya merupakan seorang pembuat konten yang viral di media sosial, yaitu Gerald Vincent. Ia akan membagikan tipsnya bagi Keluarga Danone Bloggers dan Vloggers mengenai cara membuat konten yang memiliki nilai bagi audiens. Saya semakin penasaran, sebab Vincent menceritakan bahwa, “Jangan bikin sesuatu karena kamu mau kaya raya atau terkenal. Tapi bikin karena kamu punya value untuk dibagi ke orang lain.” Inilah yang menjadi dasar niat seorang pembuat konten, bukan menghasilkan sesuatu yang bernilai uang atau popularitas. Sebab ketika tidak mendapatkan itu semua yang ada hanya kecewa. 
“Jadi, ketika mulai membuat konten, pastikan niatnya baik, misalnya untuk berbagi info penting dan bermanfaat atau boleh juga untuk menghibur audiens, sebab hidup itu perkara seimbang antara kerja dan istirahat.” jelas Vincent saat Danone Community Engagement Day sore itu.
Selanjutnya, yang penting diingat adalah konten kita akan selamanya tersimpan di internet, maka perlu diingat ingin seperti apakah kita diingat saat sudah tidak ada di dunia? Hal ini membuat kita berpikir semua yang kita bagikan akan dipertanggungjawabkan. Lalu, kreator seperti apakah kita? Apakah berbagi hal yang positif atau negatif?

Sekarang jutaan informasi begitu cepat tersebar dan bergulir maka yang diperlukan adalah kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, jangan sampai karena mau ikut-ikutan agar viral, seorang pembuat konten membuat informasi yang negatif.

Selanjutnya, ini rangkuman tips hidup berkelanjutan yang mudah dilakukan sehari-hari:
  • Mengelola sampah rumah tangga dengan memisahkan sampah organik untuk dijadikan kompos serta memisahkan sampah plastik untuk didaur ulang.
  • Membuat sumur resapan air hujan sederhana di rumah, agar air hujan bisa dimanfaatkan lagi untuk kehidupan.
  • Thinking before buying atau bijaklah dalam berbelanja. Ini perlu dilakukan agar tidak banyak barang yang akhirnya menumpuk sia-sia dan tidak terpakai lalu berujung di tempat sampah. Biasanya pakaian, sepatu atau barang lain yang agak sulit didaur ulang akan menumpuk, alternatifnya misal bisa menyewa pakaian daripada membeli baru dan hanya sekali pakai.
  • Makanlah makanan sampai habis agar tidak menjadi sampah. Selain itu, bergeraklah agar dapat membakar kalori. Dengan begitu, tubuh akan lebih sehat dan bugar.
Photo by Sarah Brown on Unsplash

Keselamatan bumi dan alam menjadi tanggung jawab kita bersama. Sebab semua ini adalah amanah yang harus dijaga agar anak-anak kita di masa depan tetap bisa hidup dengan rasa aman dari bencana perubahan iklim.


Saya sangat senang Danone Indonesia mengadakan Danone Community Engagement Day 2022. Acaranya benar-benar bermanfaat serta materi para narasumber sangat relevan dengan para pembuat konten. Apalagi ada kuis yang menambah keseruan sore itu walaupun kumpul virtual saya tetap merasakan gelombang positif dari semua pembicara dan teman-teman Danone Blogger dan Vlogger. Alhamdulillah, semoga para pembuat konten makin semangat menebarkan manfaat!



Referensi:
  1. Perubahan iklim: 2022 disebut tahun panas dan kekeringan. Diunduh dari https://www.bbc.com/indonesia/majalah-62678808 (2 September 2022)








Siapakah yang pernah mengalami kesulitan mengajak anak untuk makan sayur-sayuran?

Suara ibu-ibu dan bapak-bapak begitu kompak menjawab, “Sayaaa…”




Tak bisa dipungkiri hampir semua pernah mengalami kesulitan membuat anak makan sayur. Memang ya, mengenalkan jenis makanan yang satu ini jauh lebih besar perjuangannya dibandingkan jenis lain seperti protein hewani seperti daging ayam atau sapi.

Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi?

Berdasarkan laporan penelitian dari Pusat Penelitian Kanker Inggris, ditemukan bahwa secara alami (nature) anak-anak bisa menyukai daging dan ikan, tetapi untuk menyukai brokoli, wortel, dan puding bolu sangat dipengaruhi oleh pengasuhan (nurture) dan lingkungan.¹

Rasa penasaran saya dijawab bertepatan dengan webinar Bicara Gizi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dengan tema, “Peran Serat Terhadap Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak”. Bicara Gizi kali ini mengundang beberapa ahli di bidangnya, yaitu dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang merupakan dokter spesialis konsultan alergi dan imunologi anak di RSAB Harapan Kita, Jakarta. Selain itu, narasumber lain yang juga seorang psikolog anak Anastasia Satriyo M.Psi., Psi dan seorang ibu dengan anak kondisi alergi, Oktavia Sari Wijayanti. Acara Bicara Gizi siang itu juga turut dihadiri Corporate Communications Director Danone Indonesia, Bapak Arif Mujahidin.


Pentingnya Serat Bagi Kesehatan Anak

Selasa siang itu, saya merasa sangat beruntung bisa menghadiri kegiatan Bicara Gizi. Tentu saja ini karena saya merasa butuh asupan ilmu baru mengenai kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan zaman dan berubahnya kondisi lingkungan membuat saya harus menjadi orangtua yang pandai beradaptasi.

Bapak Arif Mujahidin membuka webinar dengan harapan acara ini dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami tentang pentingnya peran serat bagi kesehatan saluran cerna dan mengurangi risiko alergi pada anak. Seketika saya pun semakin bertanya-tanya, apakah ada hubungan antara konsumsi serat dengan alergi? Wah, siang itu di waktu seringnya membuat kantuk, saya malah makin bersemangat.

Ternyata, saluran cerna merupakan salah satu bagian penting yang berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, daya tahan tubuh, serta kesehatan anak. Hal ini menjadikan saluran cerna sebagai sistem perlindungan terdepan dan juga sebagai cerminan kondisi tubuh anak. Mengapa begitu? Karena sebesar 70% komponen sistem daya tahan tubuh (imunitas) berada dalam pencernaan.

Nah, konsumsi makanan tinggi serat menjadi salah satu golden nutrition atau disebut nutrisi tepat yang akan menunjang kesehatan saluran pencernaan. Hal ini juga akan sangat mendukung pada tumbuh kembang anak, khususnya di masa awal tumbuh atau dikenal dengan golden period. Oleh sebab itu, sangat penting bagi semua orangtua untuk tidak melewatkan kondisi kesehatan anak dan memberikan golden stimulation atau stimulasi tepat pada masa ini agar anak dapat tumbuh optimal, khususnya bagi anak yang alergi.

Bapak Arif Mujahidin juga mengungkapkan melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang Danone Indonesia lakukan, diharapkan semakin banyak anak Indonesia yang dapat tumbuh menjadi Anak Hebat yakni anak yang cerdas emosi, cerdas sosial, cerdas intelektual, serta sehat fisik.

Narasumber pertama adalah seorang dokter spesialis konsultan alergi dan imunologi anak, dokter Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang menjelaskan bahwa konsumsi makanan berserat pada anak-anak masih harus ditingkatkan karena belum menjadi perhatian banyak orangtua di Indonesia. Angka kecukupan serat anak Indonesia masih jauh di bawah standar rekomendasi asupan serat harian. Dokter Endah juga memaparkan, berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, sebanyak 95,5 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 5 tahun masih kurang konsumsi serat.

Saya yang baru mengetahui hal ini cukup kaget. Padahal sayuran dan buah hasil petani lokal begitu mudah didapatkan, kenapa justru banyak yang kurang konsumsi serat? Menurut saya, mungkin ini disebabkan banyak yang belum paham pentingnya serat untuk konsumsi setiap hari. Baiklah, saya harap tulisan ini dapat membantu pembaca memahami pentingnya serat agar semakin suka makan sayur dan buah.

Hasil penelitian Prof. dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan bahwa 9 dari 10 anak kekurangan asupan serat, rata-rata anak Indonesia usia 1-3 tahun hanya memenuhi ¼ (seperempat) atau rata-rata 4,7 gram per hari dari total kebutuhan hariannya. Ayo semua orangtua, mari kita ajak anak-anak untuk makan sayur dan buah di rumah!


Mencegah Alergi

Alergi terjadi sebagai reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat lain yang dianggap berbahaya meskipun zat tersebut sebenarnya tidak berbahaya. Penyebabnya bisa dari berbagai faktor, salah satu pemicunya adalah makanan, sekitar 10% anak pada satu tahun pertama mengalami reaksi alergi akibat makanan.

Lalu, bagaimana cara mencegah terjadinya alergi? Dokter Endah menuturkan bahwa yang utama dilakukan orangtua adalah dengan menghindari makanan yang menjadi pencetus alergi. Orangtua perlu mengetahui apa saja yang bisa menyebabkan alergi pada anaknya dan mencegah anak bertemu penyebab alergi.

Selain itu, orangtua dapat memberikan anak makanan yang mengandung serat dalam jumlah cukup. Dengan begitu, serat akan membantu mikrobiota usus yang akan membuat nutrisi makanan terserap dengan optimal. Hal ini akan menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi reaksi peradangan akibat alergi. Dalam penelitian ditemukan bahwa anak yang menderita alergi memiliki jumlah dan keberagaman mikrobiota saluran cerna yang lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak mengalami alergi.² 


Ketidakseimbangan antara bakteri baik dan bakteri patogen (penyebab penyakit) di usus berhubungan dengan kejadian alergi, sehingga untuk memberi makan bakteri baik kita memerlukan makanan dari berbagai jenis serat minimal lima porsi dalam sehari dan minum lebih banyak air.

Selanjutnya materi yang sangat menarik dibawakan oleh Anastasia Satriyo M.Psi., Psi mengenai tantangan pengasuhan anak dengan alergi. Mbak Anas memaparkan bahwa kondisi alergi pada anak bukan hanya mempengaruhi kesehatan fisik, melainkan juga mempengaruhi kondisi psikologi baik anak maupun orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa 41% orang tua yang memiliki anak dengan kondisi alergi melaporkan dampak yang signifikan pada tingkat stres mereka.³ Orangtua anak alergi mengalami kecemasan lebih tinggi dan lebih rentan mengalami burnout (kelelahan mental).

Kondisi alergi anak dapat berdampak ke masalah emosi, kognitif, dan perilaku anak sehingga berdampak ke sosialisasi anak dengan lingkungan. Anak alergi memiliki emosi yang lebih sensitif. Akibatnya, membuat anak lebih mudah cemas. 

Kondisi emosi anak lebih dipengaruhi dari bagaimana cara orangtua mengelola emosi dan merespon emosi anak. Co-Regulation menjadi cara untuk membantu masalah emosi dari anak yang mengalami alergi. Caranya dengan orangtua melatih mengelola emosi terlebih dahulu dengan latihan nafas sadar dan rileks, serta berlatih melabeli (menamai) berbagai emosi yang dirasakan. Akhirnya, ini akan dapat membantu anak mengenal emosinya yang muncul. Dengan begitu, anak merasa orangtua menerima dan memvalidasi emosinya. 

Co-Regulation Emosi orangtua dan anak


Otak itu seperti otot, bisa dilatih, sehingga emosi yang pusatnya di otak pun bisa dilatih. Jadi, para orangtua yang dahulunya tidak berkesempatan divalidasi emosinya oleh orangtuanya sendiri bisa berlatih untuk dapat melabeli emosi yang dirasakan dan memvalidasinya. Dengan memahami emosi diri, orangtua dapat membantu anak memvalidasi emosinya. 

Alhamdulillah, saya dan keluarga tidak mengalami alergi makanan tertentu, baik protein hewan atau kacang-kacangan. Tentu saja cukup berat membayangkan menjadi orangtua dari anak yang mengalami alergi makanan tertentu dan begitu penuh dengan kekhawatiran. 

Webinar ini juga menghadirkan narasumber seorang ibu yang putrinya mengalami alergi yaitu, Oktavia Sari Wijayanti. Ibu Okta memiliki putri berusia dua tahun yang awalnya mengalami gejala bentol-bentol di kulit lalu keesokan harinya muncul bengkak. Akhirnya, kondisi putrinya segera diperiksakan ke dokter dan barulah diketahui bahwa itu semua merupakan gejala alergi. 

Ibu Okta mengungkapkan, kondisi anaknya yang alergi makanan membuatnya lebih waspada untuk menghindari faktor pemicunya. Menurutnya, sebagai orangtua tentu timbul kecemasan terhadap kondisi anak tetapi orangtua harus tetap tenang dan tidak denial mengenai kondisi alergi anak. Penerimaan akan membuat emosi orangtua lebih tenang dan jernih dalam mengatasi gejala alergi yang muncul pada anak. Jika orangtua panik maka anak juga bisa ikut panik.

Selain itu, ibu Okta juga menyemangati semua orangtua yang anak-anaknya memiliki alergi untuk tidak perlu cemas dan jangan ragu berkonsultasi pada dokter agar anak diberikan terapi yang tepat.

Jadi, peranan serat sangat penting ya bagi kondisi saluran cerna anak. Lalu, bagaimana agar orangtua dapat mengajak anak makan sayur dan buah dengan senang? Ya, dengan senang, bukan karena terpaksa. Menurut saya, ini penting dilakukan orangtua, agar anak tidak memiliki trauma terhadap makan sayur dan buah. Bisa dibayangkan ya, jika masih kecil makan sayur terpaksa lalu setelah besar anak tidak lagi makan sayur sebab sudah tidak bisa dipaksa, betapa sayangnya jika orangtua gagal memberi pemahaman.


Tips mengajak anak suka makan sayuran:
 
  • Ajak anak makan bersama keluarga dan biarkan ia melihat kedua orangtuanya makan sayuran dan buah dengan gembira. Kalau istilah saya, kita “komporin” anak kalau sayuran itu enak dimakan dan sehat. Ketika melihat orangtua makan, anak juga akan penasaran mencoba. Anak itu peniru, maka orang tua harus senang dulu makan sayur dan buah.
  • Jika anak benar-benar menolak sayur, orangtua bisa memodifikasi perkenalan “awal” melalui jus atau es buah atau sayuran yang mudah dikunyah seperti labu siam, wortel dan bayam. Intinya buat jadi perkenalan yang menyenangkan.
  • Hal yang baru diterima otak anak akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak aman, sehingga anak bersikap defensif. Di sinilah perlu kesabaran orangtua mengenalkan makanan.
 
Sayuran dan buah sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan vitamin anak. Kebutuhan serat anak berbeda sesuai usia, bagi bayi hingga usia dua tahun serat tidak perlu banyak, hanya sepertiga porsi saja dan sisanya perbanyak lemak dan karbohidrat. Sedangkan, anak yang lebih besar kebutuhan serat juga makin besar, setengah porsi serat dan setengah porsi karbohidrat dan protein. 


Makanan modern khasnya tinggi karbohidrat dan lemak namun rendah serat. Orangtua juga diharapkan bisa menerapkan makanan bergizi seimbang di rumah, sebab darimana lagi anak belajar gaya hidup sehat selain dari yang dicontohkan orangtuanya? Kita tentu sangat senang mendengar anak-anak mengucapkan, "Aku suka sayur!" dan melihat mereka begitu lahap menikmati hidangan sayuran di rumah. 


Referensi:
1. Children inherit their taste for meat and fish but not vegetables (diunduh dari https://news.cancerresearchuk.org/2006/06/13/children-inherit-their-taste-for-meat-and-fish-but-not-vegetables/ 25 Agustus 2022)

2. Sestito S, et al. 2020. The Role of Prebiotics and Probiotics in Prevention of Allergic Diseases in Infants. Frontiers in Pediatrics.

3. Bollinger ME, et al. 2006. The Impact of Food Allergy on the Daily Activities of Children, and their Families. Ann Allergy Asthma Immunol; 415-21.

Hidup menjadi orang dewasa ternyata begitu dinamis. 

Itu adalah yang tidak pernah terpikirkan oleh saya di awal usia 20-an. Sebelum lulus kuliah, saya begitu idealisnya membuat rencana-rencana hidup (baca: ngotot), begitu bangga saat bisa mencapai target dan mengharapkan hidup akan selamanya begitu; semua urusan harus meningkat seperti anak tangga yang membawa kita naik hingga duduk tenang di pesawat. 


source: dreams pixabay


Manusia boleh berencana, sayangnya ekspektasi tak sepadan dengan realita! 



Dan itu semua dimulai sejak saya memutuskan berhenti dari pekerjaan dan menjadi ibu saja. Akhirnya, pekerjaan baru ini malah membuka pikiran saya dan mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan dan apapun yang ada di dalamnya. 

Dulu ingin sekolah setinggi-tingginya, punya uang banyak secepat-cepatnya; begitu penuh idealisme-lah pokoknya! 

Sekarang saya berubah, saya paham berbagai pengalaman kedewasaan membuat beberapa hal tertunda, teralihkan sementara dan tergantikan dengan hal lain dan itu tidak apa-apa.  

Setelah memasuki umur 30-an, saya sadari telah banyak belajar dan ini membuat saya memiliki perubahan rencana dan mimpi-mimpi baru. Selain itu, pertemuan dengan suami dan beberapa orang membuat saya merefleksikan lagi apa mimpi saya? 


Jika dulu saya melihat kesuksesan orang lain begitu menyilaukan mata hingga membuat adrenalin saya mengajak berkompetisi sambil berkata, “dia bisa, aku pasti bisa lebih dari dia!” Memang ya, energi masa muda tak bisa bohong, bawaannya ingin bersaing melulu, haha! 


Sekarang energi itu tetap ada, tetap besar dan bisa dipakai kapan pun. Namun, energi itu dipergunakan dengan lebih mindful— lebih sadar dan bijak. 


Lalu, setelah jadi ibu apakah masih punya mimpi? Tentu saja masih dan mulai berani meniti jalan baru untuk mewujudkannya. Pekerjaan, aktualisasi diri dan berbagai harapan yang bertujuan membuat kita bahagia selama itu baik, bermanfaat boleh diusahakan; apalagi jika dapat bonus sebagai amal kebaikan, senang banget pastinya! 

Beranikan diri menjadi ibu makin jago meraih mimpinya. Saya sadari kunci kebahagiaan setiap orang yang berbeda membuat fokus yang berbeda pula sehingga kuncinya ada pada paham yang ibu butuhkan.


Baca juga: Selfcare ibu


source: motherhood pixabay


Saya menyadari bahwa menjadi ibu itu sangat mengubah seorang perempuan, beberapa ada yang merasa kehilangan dirinya sendiri; bingung dan ragu terhadap berbagai keputusan yang akan diambil. Ini adalah hal wajar dan semua ibu-ibu di seluruh Indonesia merasakannya pula. 

Saya mencoba berbagi tips untuk ibu agar ibu makin jago meraih mimpi!


                1. Banyak-banyak mengenali diri

Apa saja hal-hal yang kita minati? Apa yang kita mau kejar selama hidup? Apa yang kita mau capai sesungguhnya setelah kita sudah jadi ibu? Sebab mungkin ada perubahan antara dulu dan sekarang. Bisa saja kita beralih karir, ingin mendapat yang berbeda dalam bayangan kita selama ini? Itu tidak apa-apa kesempatan belajar selalu ada. 


Pernah dengar tentang “Squiggly career”? Karir yang meliuk-liuk yang digambarkan oleh Sarah Ellis dan Helen Tupper mirip benang berlekuk. 

source: amazon.com


Tupper menyatakan, “in squiggly careers, everybody is a learner, and everybody is a teacher" dan semua orang bebas mencoba belajar hal baru yang menarik. Sehingga dapat menarik rasa ingin tahu dan bertanya, “What career possibilities am I curious about?" ini menjadi peluang bagi siapapun untuk bisa belajar.

Jadi, tidak perlu khawatir jika setelah ibu mengenal diri lebih dalam dan menemukan banyak bintang terang yang berkilau maka cobalah mengambilnya!


            2. Mulailah dari yang akhir

Seperti apa kita ingin dikenang setelah wafat? 

Pertanyaan ini sangat mendorong jadi ingin berbuat banyak kebaikan. Bukankah, orang-orang baik akan tetap dikenang kebaikannya bahkan setelah wafat? Kematian memang batas akhir kita berbuat baik tetapi juga menjadi muara perbuatan baik kita selama hidup yang bisa membawa kebahagiaan abadi nantinya. 


            3. Buat daftar keinginan

Ingin punya apa di dunia ini? Semua cita-cita baik kok! 

Boleh dong ingin merdeka finansial di usia 45 tahun? 

Boleh dong mau punya rumah tinggal dan kendaraan yang nyaman? 

Ingin punya bisnis besar yang expand sampai internasional? Bolehlah. 

Ingin pergi haji pakai haji plus, ingin anak-anak bisa dapat pendidikan terbaik, ingin sehat di masa pensiun. Semua boleh aja, yang utama kita tahu jalan untuk bisa sampai ke sana

Awali semua dengan menuliskannya di jurnal, lalu kita ukur mau dicapai dalam waktu berapa lama? Temukan cara yang halal untuk mencapainya dan pastikan selalu minta pertolongan pada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memudahkan semuanya.


            4. Refleksi diri

Hal ini penting untuk memahami sejauh mana upaya kita mencapai tujuan. Apakah sudah dekat atau masih terlalu jauh dan tidak realistis? 

Selanjutnya, ukur ulang waktu dan daya apa lagi yang dibutuhkan serta apa yang perlu ditambah untuk mendapatkan target kita.


            5. Peta hidup tiap manusia spesial


Photo by Z on Unsplash


Begitu banyak cara kita untuk menuju sebuah kota, mungkin dengan pesawat, kereta atau kapal laut maka begitu pula keinginan-keinginan kita punya lebih banyak lagi jalan yang bisa membuat kita sampai tujuan. 

Rute boleh berbeda, peta yang dipegang tidaklah sama, tidak apa-apa karena memang tujuannya tidak biasa. Tidak perlu resah jika perjalanan yang kita lewati berbeda yang terpenting sudah yakin tujuan akhirnya. 

        

Waktu yang telah berlalu dan hal yang telah diputuskan di masa lalu tidak bermanfaat jika kita jadikan penyesalan dengan “berandai-andai jika dulu aku begini, begitu”. 


Hiduplah untuk sekarang dan keputusan saat ini akan menentukan masa depan kita. Boleh jadi saat ini kita memilih menjadi ibu dan juga memutuskan memiliki mimpi-mimpi baru. Itu semua menjadi bekal yang akan menguatkan langkah-langkah kita, meski baru satu, dua atau lima langkah kita melaju. Semua langkah kecil itu menjadikan ibu bisa makin jago meraih mimpi.








Pandemi Covid-19 mengubah segalanya, aktivitas masyarakat yang dulu bebas menjadi terbatas. Belum pernah terbayang kita akan menghadapi wabah penyakit yang begitu cepat menyebar dan dapat menyerang siapa saja. Akhirnya, keputusan diambil untuk menghindari peningkatan penularan. Pemerintah melakukan pembatasan keramaian. Hal ini diharapkan menjadi salah satu penghambat penyebaran covid 19.


Sekolah, kantor dan fasilitas publik yang biasanya dipenuhi obrolan, gelak tawa dan candaan antar manusia menjadi kosong. Ini juga berpengaruh langsung pada keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat. Ayah, ibu dan anak-anak merasakan dampak pandemi ini. Anak-anak tidak bisa lagi bermain bersama kawan-kawannya di sekolah ataupun tempat publik lainnya. Orang tua juga khawatir akan tertular penyakit, baik dirinya maupun keluarganya. Perubahan aktivitas dalam waktu singkat ini dapat berdampak pada kesehatan sosial emosional anak di dalam keluarga.


Rasa cemas perlahan berkurang sebab penularan covid 19 mulai melandai. Selain itu, pemerintah juga membuka fasilitas umum dan aktivitas keramaian dengan tetap memenuhi protokol kesehatan. Dalam masa transisi, perubahan membuat kita harus beradaptasi, mulai memiliki rutinitas yang berbeda, dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial.


Keluarga menjadi pendukung utama dalam tumbuh kembang anak. Berdasarkan, data UNICEF tahun 2021, bentuk stress yang dialami anak-anak selama pandemi seperti kekhawatiran akan tertinggal pelajaran di sekolah, kecemasan mengenai kembali masuk sekolah serta tantangan lainnya terkait dengan pembelajaran jarak jauh. Selain anak-anak orang tua rupanya juga mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi. Ini disebabkan oleh kekhawatiran tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dan takut akan penularan penyakit. Kondisi demikian akan menghambat orang tua dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan emosional anak.


Danone Indonesia begitu memperhatikan kondisi keluarga di Indonesia. Dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional dengan semangat kebiasaan baru, yang diperingati tanggal 29 Juni 2022, Danone menyelenggarakan seminar daring bertema “Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi”. Para narasumber webinar merupakan ahli di bidang kesehatan keluarga. Danone Indonesia bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menghadirkan dr. Irma Ardiana, MAPS selaku Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak serta dokter spesialis tumbuh kembang anak dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH serta ibu inspiratif founder Joyful Parenting 101, Cici Desri. 


Narasumber webinar

Seminar daring siang itu dapat dihadiri oleh seluruh keluarga Indonesia. Para narasumber pun membagikan ilmu yang begitu bermanfaat bagi peserta. Menurut penulis, mungkin ini termasuk satu dari efek positif adanya pandemi covid 19 yang menjadikan jangkauan akses informasi lebih luas, berbeda dengan sebelum pandemi yang masih terbatas.


Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia membuka webinar dengan menyampaikan bahwa memasuki masa transisi merupakan kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, terutama dalam perkembangan sosial emosionalnya. Selain itu, direktur perusahaan yang telah meraih penghargaan Public Relation Indonesia Awards 2022 juga menceritakan sebagai perusahaan yang ramah keluarga, Danone memberi dukungan kepada para orang tua berupa pemberian cuti melahirkan bagi karyawan yaitu, cuti 6 bulan bagi ibu dan 10 hari bagi ayah yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun. Penulis turut senang bahwa ada perusahaan yang begitu menghargai peran orang tua baru jauh sebelum adanya rancangan undang-undang yang sedang diatur DPR mengenai hak cuti melahirkan. 


Bicara Gizi di Hari Keluarga Nasional 2022 ini diharapkan menjadi sarana edukasi kesehatan yang dapat membantu masyarakat semakin paham pentingnya kolaborasi pengasuhan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak. 


Dimensi Ibangga

Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 2022 mengangkat tema “Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting”. Ibu dr. Irma Ardiana, MAPS merupakan Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, BKKBN memaparkan bahwa keluarga adalah yang pertama berperan dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Pengasuhan sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Adanya pengasuhan bersama antara ayah dan ibu akan memberikan cinta, penerimaan, penghargaan, motivasi, dan bimbingan kepada anak-anak mereka. 


Dokter Irma juga menambahkan, dengan pola pengasuhan kolaboratif, orang tua berperan dalam mendukung kebutuhan nutrisi, kasih sayang dan akses belajar untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan. Dengan demikian, dalam konteks percepatan penurunan stunting, pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial terpenuhi sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Selanjutnya, sepanjang masa tumbuh kembang, kebutuhan fisik, psikis, sosial dan emosional anak juga perlu diperhatikan orang tua. 


Keluarga juga memiliki fungsi untuk memenuhi ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan setiap anggota keluarga. Fungsi ini merupakan dimensi dari indeks pembangunan keluarga (IBangga) yang memiliki 17 variabel. Semua parameter dalam IBangga menjelaskan hal penting yang perlu dilakukan suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Pada tahun 2021 hasil sensus keluarga menunjukkan capaian IBangga nasional dengan skor 54,01. Angka ini bermakna kondisi keluarga rata-rata dalam status berkembang. Skor ini dinilai cukup baik karena mendekati target capaian sebesar 55. Adapun dari 3 dimensi IBangga, indeks kemandirian memiliki nilai paling rendah. 


KKA online

Saat ini sudah tersedia kartu kembang anak online (KKA) yang diluncurkan BKKBN dalam bentuk aplikasi pada telepon pintar. Kehadiran KKA BKKBN diharapkan bisa memudahkan orang tua memantau pertumbuhan dan perkembangan anak di semua aspek. Pembaca bisa mengunduh aplikasi ini dan mengisi data anak sesuai usia lalu mengecek apa saja aspek yang sudah tercapai.  


Narasumber webinar selanjutnya adalah seorang dokter spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, yang biasa dipanggil dokter Bernie menjelaskan tentang perkembangan otak anak sejak awal kehamilan yang terus tumbuh hingga sepanjang usia. Selain itu, dari riset ditemukan bahwa perkembangan emosi dan sosial anak berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa makanan yang dimakan anak, kecerdasan otak dan perkembangan sosial emosionalnya saling mempengaruhi. Jika anak makan makanan bergizi baik maka anak memiliki sistem pencernaan sehat. Anak yang dipenuhi kebutuhan sosial emosionalnya mempengaruhi kecerdasan otak menjadi semakin baik. Hasilnya anak akan mampu menjadi anak hebat sepanjang perkembangannya.


stimulasi anak

Selanjutnya, dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaparkan tentang cara agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik. Salah satunya melalui peran orang tua dalam memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat. Aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak untuk mencapai tahap kehidupan dan agar anak bisa bersaing di fase selanjutnya sejak remaja, dewasa hingga lanjut usia. 


Anak-anak mungkin akan merasa kebingungan menghadapi perubahan di masa transisi pasca pandemi. Ada tempat dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial sehingga kemungkinan dapat menimbulkan masalah sosial-emosional. Hal ini bisa berbeda dampaknya sesuai dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya. Perkembangan emosi dan sosial yang terganggu dapat mempengaruhi peluang adanya masalah kesehatan di masa dewasa, misalnya gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular. Inilah alasan pentingnya bagi orangtua untuk paham dengan baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi.


Hubungan makanan dengan otak

Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara pertumbuhan sel saraf di otak dengan jenis makanan yang dimakan. Makanan yang sehat seperti kacang-kacangan, gandum, yang mengandung prebiotik dan probiotik sangat bagus dalam merangsang pertumbuhan dan perlindungan sel otak. Adapun jenis makanan tinggi lemak dan tinggi gula sebaliknya membuat penurunan dan peradangan pada sel otak. 


Selanjutnya, pola asuh keluarga yang demokratik sangat ideal dalam membantu perkembangan sosial emosional anak. Selain itu, cara mengajarkan sosial emosional pada anak dapat dilakukan orang tua sebagai contoh utama bagi anak, misalnya menjadi contoh makan makanan yang bergizi dan senang berolahraga; mengajak anak terlibat dalam mengambil keputusan keluarga, serta memotivasi anak untuk empati pada sebaya dan mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut. 



Cici Desrie merupakan founder Joyful Parenting 101 memiliki puteri berusia 5 tahun. Cici mengupayakan pengasuhan kolaboratif di rumah antara orang tua, dan anggota keluarga lain yang ada di rumah. Adapun kunci utama pola pengasuhan kolaboratif adalah berbagi peran antara ayah, ibu serta menumbuhkan rasa percaya, aman dan nyaman bagi anak sesuai dengan preferensi masing-masing keluarga. Selain itu, berkomunikasi dengan pihak sekolah anak dan guru juga penting agar bisa memantau perkembangan anak. 


Tips Optimalkan perkembangan sosial emosional anak di masa transisi dapat dilakukan orang tua dengan cara:

  1. Menceritakan apa yang akan ditemui anak misalnya akan bertemu anak lain seusianya. Memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh saat bertemu orang banyak. 
  2. Merupakan hal bawaan dan kebutuhan anak untuk bersosialisasi, orang tua yakin bahwa anak mampu beradaptasi
  3. Ajak anak berbicara, berdiskusi dan berpikir apa yang akan dilakukan jika bertemu teman baru dan boleh juga mempersiapkan anak mengunjungi sekolah terlebih dahulu sebelum mulai.


Perlu peran penting dari semua pihak untuk mengoptimalkan perkembangan sosial emosional anak. Kerjasama antara ayah, ibu, guru dan lingkungan di sekitar anak akan mampu menjadikan anak hebat di masa yang akan datang. Semangat inilah yang akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan memenuhi nutrisi dan sosial emosional demi membangun generasi gemilang.
























Buku selalu menjadi benda yang membahagiakan untuk dimiliki, dibaca dan dikoleksi. Kesenangan membaca adalah anugerah yang akan membuat akal lebih cerdas dan bijak. Tanpa perlu mengalami langsung suatu peristiwa kita dapat merasakannya langsung dari berbagai cerita dalam buku. Buku-buku terbaik, karya terbaik akan memberikan jejak yang selalu diingat. 

Josh Applegate on Unsplash

Di Indonesia, mengutip laporan kompas.com bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Republik Indonesia menemukan capaian indeks budaya membaca tahun 2019 mencapai 53,84 (kategori sedang). Perpusnas memperoleh angka ini dari survei kegemaran membaca di 102 kabupaten dan kota pada 34 provinsi. Berita ini belum cukup menggembirakan dalam angka peningkatan minat membaca. Masih banyak yang perlu diupayakan agar masyarakat cinta membaca dan tentunya dibutuhkan kerjasama serta dukungan semua pihak menjadi penggerak minat baca.

Bertepatan dengan Hari Buku Sedunia pada 23 April 2021, Danone Indonesia meluncurkan program BACA. Program ini berupa ajakan untuk mencintai kegiatan membaca sambil berbuat baik melalui sumbangan buku bacaan yang ditujukan bagi anak. Kali ini, Danone Indonesia bekerjasama dengan Tentang Anak berupaya agar anak-anak Indonesia senang membaca dan berbuat baik. Dengan begitu, literasi anak di Indonesia diharapkan terus meningkat. 



Peluncuran program ini dihadiri oleh Dokter Mesty Ariotedjo, Sp.A sebagai CEO Tentang Anak, Bapak Arif Mujahidin sebagai Corporate Communication Danone Indonesia serta Fathya Artha, M.Sc., M.Psi selaku Psikolog & Co-Founder Tigagenerasi. Acara berlangsung secara daring dan tetap menyenangkan hati untuk diikuti kala pandemi. Ketiga narasumber yang ahli di bidangnya ini membawakan informasi yang bermanfaat untuk dilakukan selama bulan Ramadan dan mudah dilakukan di rumah.


Banyaknya informasi yang memicu kerancuan di media sosial melatarbelakangi dokter Mesty untuk memberikan informasi yang tepat dan berdasarkan fakta. Akses informasi yang terbatas bagi masyarakat umum membuat beliau ingin meluruskan hal-hal yang kurang tepat berdasarkan keilmuannya sebagai dokter spesialis anak. Sejak pandemi inilah Tentang Anak diluncurkan agar dapat memberikan informasi yang benar pada khalayak mengenai tumbuh kembang anak. Niat baik ini terkoneksi dengan Danone Indonesia hingga keduanya berkolaborasi untuk aktif berperan meningkatkan minat baca pada anak.

Dokter Mesty juga memberikan tips untuk melatih anak berpuasa di bulan Ramadan. Anak-anak yang penuh rasa ingin tahu pasti ingin mencoba berpuasa. Nah, orangtua penting untuk mengetahui apa saja hal-hal yang perlu dipersiapkan. Hal terpenting adalah kondisi anak yang sehat secara fisik dan mental. Sebenarnya hukum puasa untuk anak pun tidak wajib jika untuk mengenalkan boleh, tapi tetap memperhatikan kondisi anak. Selain itu, perhatikan juga berat badan dan tinggi badan anak berdasarkan kurva pertumbuhan. Apakah titiknya sudah berada pada garis aman yang ditandai dengan garis hijau? Jika sesuai maka silakan Ayah dan Bunda mengajak anak-anak belajar berpuasa. 


Kebutuhan Nutrisi Anak Berpuasa

1. Makanan dengan gizi seimbang

Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Protein, lemak dan serat berfungsi untuk mempertahankan rasa kenyang. Saat sahur disarankan makan yang berkadar glikemik rendah seperti, nasi, ubi, kacang hijau, roti gandum dan apel. Sedangkan, di saat berbuka sebaliknya perlu makanan berglikemik tinggi seperti kentang, nasi, roti serta manisan buah.

2. Kebutuhan cairan yang cukup

Agar anak tidak dehidrasi maka diperlukan cairan yang cukup. Cairan yang dimaksud bisa berasal dari minuman atau makanan yang kadar airnya tinggi seperti sayur dan buah. Kebutuhan cairan anak berbeda tiap usia. Oleh sebab itu, ini harus diperhatikan oleh orangtua. Jangan biarkan anak dehidrasi jika sudah ada tanda -tanda ini:
  • Anak tampak pucat, lesu, lelah dan mata cekung
  • Buang air kecil sedikit dan warnanya kuning pekat
  • Anak tidak merespon cepat/ aktif
  • Kesadaran anak menurun 
     



Waspadai tanda di atas sebelum parah. Jika anak terlihat lemas maka silakan tawarkan air untuk minum, tidak perlu memaksakan berpuasa terus hingga Maghrib. Ingat, anak-anak hanya belajar belum diwajibkan seperti kita.

Paparan yang menarik mengenai literasi anak dibawakan oleh Psikolog TigaGenerasi Fathya Artha, M.Sc., M.Psi. Ini membuat kita sebagai orang tua lebih membuka mata mengenai pentingnya membaca sejak dini untuk anak. Jangan sampai anak merasa membaca itu menjadi sebuah paksaan sebab membaca dengan cinta itu lebih baik daripada memaksa membaca. 

Fakta mengenai proses belajar membaca dan membaca untuk belajar ada dua hal yang berdampingan. Anak perlu belajar membaca bersamaan dengan itu ia pun akan membaca untuk mendapatkan pengetahuan baru. Jadi, jangan heran kalau setelah anak bisa membaca akan timbul banyak pertanyaan dari hal yang ia baca. Misalnya, makna dari kata dalam buku yang merek belum tahu pasti akan membuat mereka bertanya pada kedua orangtuanya. Pengalaman saya sendiri adalah makin banyak pertanyaan yang membuat saya harus pandai memilih kata agar anak mudah memahami jawabannya. Wah, ternyata anak bisa membaca akan menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua.

Adapun manfaat membaca bersama anak ataupun membaca sendiri bagi anak sangat banyak. Jadi, mulai saat ini tidak ada alasan untuk tidak membaca buku bersama anak. Ingat satu hal yang juga penting bahwa anak melihat dan meniru orangtuanya maka ketika pastikan anak juga melihat orangtuanya membaca buku. Jika tidak suka membaca bagaimana? Cobalah memulai untuk mencintai membaca, insya Allah bisa. Pasti akan sangat seru nanti saat anak-anak makin besar dan bisa membaca buku-buku bagus bersama kita, mendiskusikan cerita-ceritanya, dan menebak-nebak latar belakang penulis mengarang cerita itu. 


Pilih-pilih buku bacaan juga perlu diperhatikan orangtua. Anak usia dini bisa dipilihkan buku cerita bergambar dengan kata-kalimat yang pendek dan sedikit. Anak usia sekolah bisa dipilihkan cerita lebih panjang dengan ilustrasi yang lebih sedikit. 

Dalam rangka turut merayakan Hari Buku Sedunia, Danone Indonesia mempersembahkan program BACA yang berkolaborasi dengan Tentang Anak. Tujuannya adalah untuk mengajak kita semua semakin mencintai membaca dan memberi kebaikan untuk anak-anak melalui sumbangan 1.000 buku bacaan.

Buku-buku yang disumbangkan adalah buku bertema kebaikan. Harapannya agar para pembaca berusia dini terbiasa berbuat baik seperti mengucapkan “Maaf”, “Terima Kasih”, dan “Tolong” sedangkan Danone Indonesia sendiri ikut menyumbangkan buku “Sampahku Tanggung Jawabku” dan “Isi Piringku”. Donasi Danone Indonesia diharapkan bisa menanamkan pola makan gizi seimbang dan kebiasaan hidup bersih bagi anak usia 4-6 tahun. 


Danone Indonesia dan Tentang Anak menggalang donasi 5.000 Buku Serial “Sikap Baik” untuk seluruh anak Indonesia. Target penyaluran donasi adalah panti asuhan area Jabodetabek, pasien anak, serta beberapa PAUD dan posyandu. Dengan memberi manfaat seluas-luasnya program BACA Danone Indonesia dan Tentang Anak turut mendukung peningkatan literasi anak.

Di tengah Ramadhan ini sungguh besar kebaikan dan manfaat yang akan didapat oleh semua orang. Teman-teman cukup dengan berdonasi melalui @wecare.id dan kebaikan kita akan sangat besar manfaatnya bagi anak-anak Indonesia. Mari melipatgandakan kebaikan melalui BACA!



Sumber: