Shiva's Cozy Home

Setiap kali ketemu timbangan rasanya ketar ketir. Pikiran was-was memikirkan,
“Berapa kilo nih sekarang?”
“Naik gak ya?”
“Duh, kalau masih kurang gimana ni? Aih, kenapa segini-gini aja, padahal makan banyak.”
Walau emang sih, kadang gak doyan makan juga. Aduh mumetnya kepala rasanya...
Begitulah perasaan para ibu setiap kali mengajak anaknya pergi ke Posyandu untuk mengukur berat dan tinggi badan.



Merasakan hal yang sama? Tosss dulu yha.... Kita sama, senasib dalam memikirkan kenapa berat badan diri eh anak kita segitu aja dan minimalis banget naiknya.

Alhamdulillah, dalam peringatan Hari Gizi Nasional kemarin saya berkesempatan hadir untuk mengupas tuntas masalah berat badan anak. Nah, sekarang saya akan berbagi rahasia mengenai berat badan anak. Semoga setelah membaca ini dapat menghempas segala rasa cemas, penasaran dan berbagai alasan di balik misteri berat anak yang kadang sulit naik.

Salah satu indikator anak sehat adalah meningkatnya berat dan tinggi badan sesuai standar minimal. Sayangnya, merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar  (RISKESDAS) tahun 2018 terdapat 17.7% balita yang mengalami berat badan kurang (underweight) dan berat badan sangat kurang (severe underweight). Ini menunjukkan bahwa berat badan kurang pada anak masih menjadi masalah bersama baik bagi orang tua maupun negara.



Lantas, kenapa jadi masalah negara juga? Anak-anak dengan berat badan yang kurang berpotensi memiliki gangguan tumbuh kembang hingga nanti pada saat dewasa dapat mengalami penurunan performa kerja, kecerdasan serta masalah kesehatan lainnya. Dampak jangka panjang yang begitu berpengaruh untuk kelangsungan sumber daya manusia di Indonesia.

Inilah alasan mengapa kebutuhan nutrisi seorang anak menjadi penting untuk dipenuhi. Anak membutuhkan nutrisi untuk aktivitas (energi), tumbuh kembang (menjadi dewasa), pemulihan serta menjalankan fungsin tubuhnya. Hal ini berbeda dengan orang dewasa yang tidak akan mengalami proses tumbuh kembang lagi. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi anak.

Kebutuhan nutrisi yang seimbang ditandai dengan adanya peningkatan berat dan tinggi badan. Pemantauan berat badan, tinggi badan serta lingkar kepala dapat dilakukan orang tua minimal 8 kali dalam setahun sebagai upaya deteksi dini masalah pertumbuhan. Hasil pemeriksaan dimasukkan ke dalam grafik standar sesuai WHO. Nah, dari hasil inilah kita dapat mengetahui status gizi anak, apakah baik, kurang atau berlebih.
Selama BB anak dalam grafik antara 2 dan -2 tandanya anak bergizi baik


Anak belum bisa memilih sendiri makanan mana yang baik untuk mereka makan. Nah, disinilah tugas  orang tua menjadi penentu untuk memilih asupan yang sehat dan pola makan yang baik bagi anak. Adapun komponen gizi yang harus ada pada makanan diantaranya, karbohidrat, protein hewani dan ikan, kacang-kacangan, buah dan sayuran serta lemak dan susu. Inilah asal dari menu empat bintang pada MPASI. Jadi, sejak dimulainya MPASI hingga anak makan makanan keluarga keempat komponen zat gizi ini harus selalu ada dalam satu piring makan.

Dokter Conny Tanjung Sp.A(K) juga mengungkapkan bahwa orang tua perlu memiliki kesadaran akan masalah berat badan kurang pada anak. Segeralah mencari bantuan dari tenaga kesehatan untuk memperbaiki status gizi anak. 

dr. Conny Sp.A(K)

Saya sendiri juga mengalami betapa pusingnya kepala ketika berat badan anak tidak bertambah. Ditambah pula menghadapi banyaknya trik beralasan tidak bisa menghabiskan makanan atau tidak mau makan. Ini sudah seperti masalah nasional seluruh ibu yaitu membuat anak mau makan hingga berat badan sesuai standar. Facing the same problems? Yes, we are.

Saat diskusi bersama kemarin, Psikolog Ajeng Raviando mengungkapkan bahwa menjadi orang tua baru pastinya akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan ini terjadi pada emosi dan hubungan sosial. Penyesuaian emosi seperti perasaan senang, cemas dan iri timbul saat melihat kondisi orang tua atau anak lain. Ini kadang menimbulkan rasa takut tidak bisa menjadi orangtua yang baik. Perubahan hubungan sosial misalnya frustrasi atas hilangnya kebebasan pribadi dan bertambahnya tanggung jawab baru serta adanya perasaan lebih menghargai orang tua.


Ajeng Raviando

Orang tua milenial membutuhkan banyak energi untuk mengasuh anak. Penting bagi orang tua memberikan makanan bergizi bagi anak-anak. Realitanya? Bhay… Perkara makan makanan bagi anak tidak semudah itu. Ada anak yang pemilih, ada yang tidak mau mencoba makanan baru, dan segudang alasan di balik penolakan terhadap makanan. Belum lagi kebutuhan finansial yang meningkat tentunya turut menambah daftar penyebab sakit kepala.


Pertanyaan-pertanyaan mengenai berat badan cenderung dihindari orang tua agar tidak menjadi beban psikologis. Padahal penting bagi orang tua berperan aktif untuk mencari solusi yang bijak terhadap masalah berat anak. Ada peran besar orang tua dalam memberikan teladan pola makan yang sehat dan baik di rumah.


Masalah berat badan yang kurang ideal biasanya disebabkan dari luar dan dalam tubuh anak. Penyebab dari luar misalnya makanan yang kurang disukai (picky eater), pemberian makanan yang kurang lengkap gizinya serta adanya infeksi. Sedangkan penyebab dari dalam biasanya disebabkan pengaruh genetik warisan orang tua dan kesehatan tubuh anak seperti ada masalah pada gigi, mulut dan saluran cerna.

Nah, orang tua harus jeli melihat kondisi anak. Apa yang menyebabkan anak tidak berminat makan? Makanankah atau kondisi tubuh anak? Orang tua dapat melakukan tips singkat ini untuk membuat anak  bahagia dengan aktivitas makan sehingga dapat meningkatkan berat anak.

  1. Jangan menyerah mengenalkan jenis makanan baru yang mungkin harus ditawarkan 10-15 kali sampai anak mau memakannya.
  2. Makan terjadwal dengan tidak memberikan makanan manis (baik minuman berupa jus, susu atau kue-kue) sebelum waktu makan.
  3. Berikan menu yang tinggi protein, kalori dan zat besi.
  4. Mematikan segala jenis gawai (TV, Ponsel, Komputer) yang bisa mengalihkan perhatian saat jam makan.
  5. Berikan contoh kebiasaan pola makan yang baik di rumah.
  6. Berikan kalimat-kalimat positif tentang makanan agar tertanam afirmasi yang baik pada anak.

Awalnya memang tidak mudah bagi orang tua membiasakan tips di atas. Seiring pembiasaan dan penjelasan yang diberikan pada anak, lama kelamaan anak bisa menyerap dan memahami bahwa makan yang sehat adalah untuk kebaikan dirinya.

 

Peringatan Hari Gizi Nasional menyadarkan kembali kita akan pentingnya memenuhi gizi anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Dalam mendukung kampanye kesadaran gizi dalam keluarga, Danone menyediakan platform website www.cekberatanak.co.id. Dengan begitu, orang tua diharapkan lebih mudah untuk memantau berat badan anak dari mana saja dan kapan saja. Jadi, jangan takut konsultasi ke tenaga kesehatan untuk menyelesaikan masalah berat badan anak yang kurang. Tidak lain dan tidak bukan adalah demi masa depan anak-anak kita.

Apa harapan orang tua saat telah memiliki anak-(anak)? Tentunya kita mengharap apapun yang terbaik untuk anak. Perlahan tapi pasti dengan keberadaan anak membuat kita jadi lebih sering bercermin akan kemampuan kita mendidiknya, cukup baikkah kita? mampukah kita menjaganya? jadi anak seperti apa dia nanti?

Pertanyaan-pertanyaan demikian adalah lumrah. Pengalaman dan pengetahuan yang masih minimal membuat kecemasan berlipat-lipat rasanya. Seluruh orang tua di dunia mengalami fase-fase ini. Jadi, tetap tenang ya, kita samaaa gaes!


Memang tiada yang lebih indah dari melihat anak tumbuh menjadi anak yang sehat dan berakhlak baik. Segala kebaikan anak mulai dari ketawanya yang lucu, kemauannya berusaha dan mencoba sesuatu membuat kita jadi selalu bersyukur. Tanpa sadar, sebenarnya kita kembali kepada fitrah hidup manusia yakni selalu cenderung pada kebaikan, mencintai kebenaran.

Sungguh menjadi orang tua mengingatkan kembali kita atas fitrah pada kebaikan. Kita ingin anak menjadi anak yang baik dan shalih. Hati mendadak basah ketika melihat anak berinisiatif sendiri ikut salat (walau nungging sujud duluan), melihat anak merapal doa untuk orang tua yang telah kita ajarkan, serta sejuknya jiwa ketika melihat mereka senang melakukan hal baik lainnya.
kecenderungan untuk menganggap) baik suatu kebenaran dan (menganggap) buruk segala yang batil.

Read more https://almanhaj.or.id/6970-kembalikan-hatimu-pada-fitrahnya.html
kecenderungan untuk menganggap) baik suatu kebenaran dan (menganggap) buruk segala yang batil.

Read more https://almanhaj.or.id/6970-kembalikan-hatimu-pada-fitrahnya.html
kecenderungan untuk menganggap) baik suatu kebenaran dan (menganggap) buruk segala yang batil.

Read more https://almanhaj.or.id/6970-kembalikan-hatimu-pada-fitrahnya.html
kecenderungan untuk menganggap) baik suatu kebenaran dan (menganggap) buruk segala yang batil.

Read more https://almanhaj.or.id/6970-kembalikan-hatimu-pada-fitrahnya.html

Cara terbaik menuangkan harapan-harapan kita untuk anak adalah dengan mendoakannya. Bahkan berdoa untuk keturunan sudah dicontohkan para Nabi dan orang shalih dahulu. Sebab doa termasuk dalam salah satu usaha yang baik dalam mendidik anak.

Alhamdulillah, pedoman hidup menjadi orang tua sudah tertuang dalam Al-Qur'an. Mulai dari kisah Luqman Al-Hakim, keluarga Imran hingga para Nabi yang mengharapkan kebaikan untuk keturunannya dunia akhirat. Sungguh, kita sudah punya teladan yang baik untuk menjadi orang tua jika kita menyediakan waktu memahami isi Al-Qur'an. 

Inilah beberapa doa yang dikhususkan untuk mendoakan anak-anak serta keturunan kita. Mulai dari anak, cucu, hingga seterusnya. Tentunya kita berharap keturunan kita terus berada dalam penjagaan Allah walau kita telah tiada. Insya Allah, doa-doa ini bisa menjadi bekal kebaikan dunia akhirat.


 Doa hamba-hamba Allah s.w.t.
 QS. Al Furqan: 74

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa!"

Doa Nabi Zakaria A.S
QS. Ali Imran: 38

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Ya Tuhanku, berrikanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."

Doa Nabi Ibrahim dan puteranya
QS. AlBaqarah: 128
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah) dari keturunan (anak cucu) kami umat yang berserah diri pada-Mu!"


QS. Ash-Shaffat: 100
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ 
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang saleh!"

QS. Ibrahim: 35
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

"dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala!"

Ketika mencapai usia 40 tahun, Ibrahim a.s. berdoa,
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ 

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai! Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri
(QS. Al-Ahqaf: 15)


QS. Ibrahim: 40

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku."

 Photo by Annie Spratt on Unsplash

Semoga doa-doa yang kerap kita rapal menjadi penjagaan untuk anak-anak kita. Sebab tiada yang lebih menyejukkan daripada memiliki keturunan yang shalih. 
“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”
― Seno Gumira Ajidarma

Sekolah Dasar merupakan tempat pertama kali saya belajar memadukan aneka kata menjadi frasa hingga menghasilkan sebuah potongan cerita. Ya, menulis memang sudah lama dipelajari sejak pendidikan dasar. Bahkan sampai jenjang pendidikan tinggi pun kita harus menghasilkan karya tulis hasil penelitian yang berbasis ilmiah. Eits, tenang saja, tulisan kali ini saya mau cerita tentang cita-cita saya saat kecil yaitu, jadi penulis.

Photo by César Viteri on Unsplash

Saya selalu suka pelajaran Bahasa Indonesia. Kamus pun jadi satu buku kesukaan saya sebab saya bisa mengenal banyak kosakata dan maknanya. Selain itu, para penulis yang karyanya tertera di buku teks SMP hingga SMA makin membuat saya keranjingan membaca. Puisi Aku yang selalu muncul menjadi potongan pertanyaan pada soal ujian membuat saya makin tenggelam dalam lautan cinta sastra Indonesia. Tsaah~
Begitu senangnya membaca makin membuat saya berkeinginan menjadi penulis. Apalagi setelah mengenal buku-buku genre lainnya, ah kapan buku saya terbit? Kalau dibayangin doang tanpa eksekusi sih yhaa bhay! Gak akan jadi itu buku, wkwk…

Baca juga: Rahasia Menulis! 

Nah, alhamdulillah akhir pekan lalu saya bisa hadir di acara Blogger Gathering bersama Komunitas ISB yang membahas perkara “Abadikan Karya Melalui Buku”.

Setelah menerjang panasnya ibukota hari itu, saya tiba di kawasan gaul muda-mudi Kuningan dan segera berkumpul dengan rekan-rekan blogger lainnya. Saya berkeliling melihat seluruh peserta yang hadir eh ternyata ada Mbak Nunik Utami yang akan jadi narasumber siang itu. Kalau gitu kita wefie dulu yhaa Mbak...


Bersama Mbak Nunik

Nunik Utami sudah menerbitkan puluhan judul buku mulai dari cerita anak-anak, remaja hingga dewasa baik fiksi maupun non-fiksi. Dunia kepenulisan memang sudah lama dijejaki oleh pemilik blog nunikutami.com ini. Kalau melihat karya dan prestasinya yang dipajang di blog tersebut duh, jadi jiper akutu! Hahaa.. Ah, senang banget saya bisa menggali ilmu dan pengalaman mbak Nunik langsung pada kesempatan kali ini.

Tanpa panjang lebar ini dia tips menerbitkan tulisan kita menjadi buku.

1. Ikut Serta Lomba Menulis
Semakin banyak berlatih maka tulisan akan semaking berkembang. Nah, keberadaan lomba menulis ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana melatih kapasitas menulis kita. Alhamdulillah, kalau menang itu tandanya tulisan kita sudah dianggap pantas dan berkualitas oleh para juri. Jika belum menang, santai saja, masukkan pengalaman ikut loba sebagai penambah jam terbang.

2. Ikut Workshop Menulis
Bergabung dalam komunitas blogger tentu membuat kita makin terpapar dengan tulisan yang beraneka macam kualitasnya. Biasanya komunitas pun mengadakan workshop kepenulisan untuk para anggota tentunya supaya tulisan lebih nyaman dibaca. Ikut saja siapapun narasumbernya, yang pasti dari pengalaman orang lain kita akan dapat pelajaran berharga mengenai kepenulisan.

3. Lawan Penyakit Rendah Diri
Kepercayaan diri yang cenderung rendah adalah penyakit mematikan seorang penulis. Kekhawatiran berlebih akan karya yang kurang bagus, aneh atau pikiran buruk sangka “mana ada yang mau nerbitin karya saya” harus dibuang jauh-jauh sampai Timbuktu ya gaes!! Jika masih ragu akan karya kita boleh meminta saran dan kritik dari orang-orang terdekat (apalagi kalau punya teman yang sudah pernah nerbitin bukunya duluan) sebelum dikirim ke penerbit. Pokoknya jangan ragu mencoba mengirim karya kita.

4. Tuliskan Cerita yang berbeda
Cerita cinta banyak, cerita sedih banyak namun apa yang membedakan? Itu dia celahnya, kita harus tahu karakteristik pembaca (calon) buku kita. Ini penting untuk mengetahui bagaimana kira-kira respon pembaca. Pembaca tentu sudah biasa baca tema ini itu, tapi pastikan ada ciri khas yang luar biasa dalam tulisan kita. Inilah yang akan membuat tulisan kita diingat pembaca baik itu bersumber dari pengalaman pribadi atau orang lain. Kalau kata Toni Morrison mah begini gaes,



“If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it.”
Toni Morrison
5. Menulislah sampai selesai
Kebiasaan yang agak merugikan adalah “kebanyakan bikin draft tulisan tapi tidak kunjung diselesaikan” yhahaa… Ini adalah musuh para penulis termasuk saya wkwk… Mbak Nunik berpesan untuk fokus menyelesaikan satu naskah terlebih dahulu lalu dilanjutkan menulis yang lain.

Penulis yang juga trainer penulisan ini mengungkapkan bahwa di era media sosial ini memudahkan penulis dapat langsung dipinang oleh penerbit. Biasanya tulisan kita dilihat oleh penerbit sendiri di platform menulis seperti Wattpad, Facebook atau Instagram. Padahal dulu mah biasanya penulis mengajukan diri ke penerbit sekarang bahkan penulis yang ditawarkan untuk menerbitkan buku. Ah, enak banget-lah zaman now yha~

Saya pun mengetahui beberapa penulis yang menerbitkan buku dari status Facebook dan cerita di Wattpad. Kumpulan kisah-kisah itu tertuang hingga bisa dibukukan membuktikan kekuatan platform media sosial bagi seorang penulis. Jadi, boleh saja kita menggunakan sarana digital yang ada siapa tahu tulisan kita ditawarkan untuk diterbitkan juga lho.

/

Jika kita sudah mengirim naskah ke penerbit mayor maka tunggulah hingga tiga bulan lamanya sampai ada jawaban. Jika belum kita wajib menanyakan pada penerbit, misalnya naskah memang ditolak maka kita bisa menariknya untuk diajukan ke penerbit lain. Satu yang penting juga, jangan pernah mengirim satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus, bisa kacau kalau semuanya menerbitkan.

Kalau kamu ingin menerbitkan buku dengan cara berbeda kamu bisa memilih penerbit indie untuk mencobanya. Saat ini sudah ada beberapa penerbit indie yang bermunculan dengan buku-buku yang tak kalah berkualitas dengan penerbit mayor. Hanya saja memang pemasaran buku penerbit indie kita sendiri yang melakukannya juga karena itulah  disebut self publishing.

Pengalaman menulis blog yang masih belum rajin-rajin banget membuat saya jadi mengevaluasi diri. Apakah strategi efektif agar semakin produktif menulis blog dan juga cerita-cerita yang ingin diterbitkan? Kadang saya merasa sulit berkonsentrasi saat menulis. Outline tulisan sudah ada, hanya saja kok rasanya lamaaaa banget menyelesaikannya.

Kebetulan kumpul blogger kali ini juga menghadirkan narasumber dari CNI. Bapak Gusti sebagai pembaca acara juga Ibu Asti memaparkan risiko anemia disebabkan rendahnya kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah yang dapat mengintai siapa saja. Wah, beruntungnya saya dapat penyegaran mengenai kesehatan juga siang itu. Ternyata seringkali anemia tidak disadari tanda dan gejalanya. Pantas saja, data dari RISKESDAS Kemenkes 2018 menunjukkan ada peningkatan masalah anemia pada ibu hamil pada tahun 2018 menjadi 48.9% padahal sebelumnya pada tahun 2013 kasus ini sebesar 37.1%.

Hemoglobin bekerja membawa oksigen ke seluruh tubuh. Oleh sebab itu, seseorang yang kadar Hb-nya rendah dapat berisiko terkena masalah kesehatan. Bayangkan saja tubuh kita selalu kekurangan oksigen hingga rasanya mengantuk terus dan sulit berkonsentrasi bagaimana bisa produktif kan? Ini kok jadi mirip dengan yang saya alami. Hmm… sepertinya saya perlu juga untuk cek Hb ke dokter.

Ada satu produk dari CNI yang dapat membantu memenuhi nutrisi untuk mencegah anemia yaitu, CNI-Sun Chlorella. Si tablet kecil hijau ini berasal dari ganggang hijau air tawar Chlorella pyrenoidosa. Sebelum menjadi tablet siap minum, dinding sel ganggang hijau dipecahkan dahulu agar kandungannya dapat diserap oleh tubuh.

Kandungan Sun Chlorella
Tidak tanggung-tanggung ternyata meskipun ukurannya kecil Sun Chlorella kaya akan zat gizi  seperti protein, vitamin dan mineral. Selain itu, terdapat juga klorofil yang ternyata dapat meningkatkan produksi sel darah merah sehingga dapat mencegah anemia. Bagi kita yang kadang merasa stress “kok realita rasanya pahit dibandingkan Feed Instagram yang begitu indah” cocok nih mengonsumsi Sun Chlorella sebab kandungan Chlorella Growth Factor (CGF) dapat meningkatkan perbaikan dan peremajaan sel tubuh agar tidak lekas usang karena stress.

Sungguh menjaga kesehatan tubuh itu lebih baik dari mengobati. Kehadiran Sun Chlorella menjadi solusi agar tetap sehat dan semangat menjalani aktivitas serta merealisasikan cita-cita kita.

Jadi, kapan nih buku saya terbit? Mohon doanya yaaa semua supaya saya semangat terus menulis di blog terutama, hahaha… Pastinya saya bakal susun strategi baru untuk mewujudkan cita-cita saya sejak kecil ini sebab dengan menulis kita belajar menangkap momen kehidupan ya kan? 

Full Squad of ISBxCNI







“Kok, kita bisa pipis?”

“Karena kita diberi satu bagian tubuh yang bekerja mengeluarkan pipis, namanya ginjal”

“Ginjal itu kayak apa?”

Sang ibu pun mengambil kertas lalu menggambar dua buah benda yang berbentuk seperti kacang.

“Seperti kacang ini, besarnya seukuran kepalan tangan kita. Nanti jika kamu mau belajar lagi kita bisa pergi ke museum tubuh manusia ya”



Ginjal memang hanya sekepalan tangan (sekitar 10 cm) besarnya. Di balik ukurannya yang begitu kecil terdapat jutaan sel yang bekerja menyaring darah menjadi urin. Selain itu, ginjal juga menjaga keseimbangan garam dan mineral dalam darah serta mengatur tekanan darah dan memproduksi sel darah merah.¹


Fungsi Ginjal sumber: p2ptmkemenkes

Lalu, apa yang terjadi jika sang buah pinggang ini mengalami gangguan?

Gangguan pada ginjal akan menyebabkan timbulnya masalah pada proses pengeluaran cairan (urin) serta turut mengganggu kerja organ tubuh lainnya. Gangguan ginjal menjadi masalah kesehatan yang cukup berat sebab dapat menurunkan kualitas hidup seorang manusia.

Gangguan Ginjal pada Anak

Jika dilihat dari permulaan serangannya terdapat dua jenis gangguan ginjal yaitu, gangguan ginjal akut dan kronis. Gangguan ginjal akut biasanya timbul mendadak dan terjadi dalam waktu singkat. Berbeda dengan akut, gangguan ginjal kronik disebabkan adanya gangguan struktur atau fungsi ginjal dalam waktu lebih dari tiga bulan. Itulah pemaparan dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp. A(K) yang merupakan dokter spesialis Anak divisi Nefrologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RSCM.

Penjelasan selanjutnya dari dokter Eka membuat saya tercengang. Ternyata gangguan ginjal yang lebih banyak dialami oleh orang dewasa pun dapat menyerang anak-anak. Ah, sungguh tidak terbayang bagaimana beratnya tubuh-tubuh kecil itu harus menjalani pengobatan berupa cuci darah dengan menggunakan mesin.

Mesin Hemodialisis


Di Amerika Serikat, sebanyak 9.800 anak mengalami gangguan ginjal kronik pada tahun 2017. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan padahal sebelumnya pada tahun 2015 tercatat ada 1.399 anak mengalami gagal ginjal.²

 Lalu, bagaimana kondisi di Indonesia? Sayangnya, belum terdapat data nasional yang menyeluruh mengenai kejadian gangguan ginjal anak. Meskipun begitu, dari 14 Rumah Sakit Pendidikan yang memiliki Konsultan Nefrologi ditemukan sebanyak 212 anak mengalami gangguan ginjal dan menjalani terapi pengganti ginjal.

Begitu berbahayanya gangguan ginjal pada anak sampai-sampai mereka harus menjalani terapi pengganti ginjal baik berupa hemodialisis ataupun transplantasi ginjal. Di Indonesia sendiri, perawatan hemodialisis anak dengan gangguan ginjal baru terdapat di RSCM, Jakarta. Sepanjang tahun 2007 sampai 2009 sebanyak 150 pasien anak mengalami gangguan ginjal kronik yang mengharuskan mereka menjalani hemodialisis.

Penyebab Gangguan Ginjal Anak

Lantas, apa sajakah penyebab gangguan ginjal anak? Secara anatomi, penyebab gangguan ginjal dapat terjadi ketika darah sebelum masuk ke ginjal (fase pra-renal), saat darah diproses dalam ginjal (fase renal) dan saat urin akan dikeluarkan dari ginjal (fase pasca-renal). Ketiganya menyebabkan gangguan proses penyaringan darah menjadi urin yang dikerjakan ginjal.


Anatomi Ginjal
Dehidrasi dan infeksi menjadi penyebab gangguan pra-renal yang sering terjadi. Sedangkan, glomerulonefritis (peradangan pembuluh nefron), kelainan pada pembuluh darah ginjal serta kerusakan pada struktur ginjal termasuk dalam penyebab masalah pada fase renal. Kelainan bawaan lahir pada saluran kemih dan adanya sumbatan pada saluran kemih merupakan penyebab gangguan ginjal fase pasca renal.

Kedua ginjal menyaring sebanyak 120-150 liter darah selama 24 jam dan menghasilkan sekitar 1-1.5 liter urin per hari. Lalu, bagaimana kita tahu tanda adanya masalah penyaringan sebanyak 180 liter darah ini? Tanda awal adanya gangguan ginjal yang masih ringan memang belum begitu terlihat. Biasanya jika dilakukan pemeriksaan laboratorium akan ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih dan protein pada urin serta adanya darah pada urin. Sedangkan secara fisik akan timbul penurunan produksi urin (BAK sedikit), bengkak pada kedua kaki, anemia, demam, sesak nafas, serta adanya kelainan tulang dan pertumbuhan.

Mendengar uraian ini membuat hati saya diliputi awan mendung. Tak terbayang bagaimana tubuh-tubuh kecil itu merasakan sakit sambil bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan berbagai pemeriksaan. Tak cukup sampai di situ, mereka pun harus menghadapi hari bersama mesin hemodialisis dua kali seminggu.

Oleh sebab itu, tak heran gangguan ginjal pada anak akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan si anak. Selain itu, masalah kesehatan lainnya pun dapat muncul seperti anemia, hipertensi serta gangguan hormon dan elektrolit. Ketika seorang anak sakit, maka kedua orangtuanya pun terkena dampak dari penyakit tersebut. Kecemasan terhadap proses pengobatan dan kondisi finansial keluarga seringkali menghinggapi para orang tua yang memiliki anak dengan gangguan ginjal.

Pada kesempatan ini saya juga bertemu dengan keluarga penyintas (survivor) gangguan ginjal, yang memiliki seorang putri bernama Viara Hikmatunnisa. Keluarga Viara berasal dari Situbondo. Ketika didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodialisis, keluarga ini jauh-jauh pergi ke sebuah RS di Surabaya. Beberapa kali proses hemodialisis ternyata mesinnya memang kurang cocok untuk anak-anak. Sang Ayah pun mencari tahu lagi tempat hemodialisis khusus pasien anak hingga akhirnya keluarga ini menyambangi ibukota menuju fasilitas rujukan utama nasional di RSCM.

Viara dan keluarga

Kondisi Viara berangsur membaik selama proses perawatan di RSCM. Ia pun tetap memiliki semangat yang begitu tinggi untuk sehat. Viara bahkan berani memulai bisnis online-nya walau kondisinya memerlukan hemodialisis.

Viara sedang hemodialisis sambil menggambar

Mendengar langsung kondisi Viara dari cerita Ayahnya sudah cukup membuat saya cemas. Masalahnya gangguan ginjal anak bisa menyerang siapapun yang berisiko. Walaupun tidak selalu dapat dicegah, kita masih bisa mengupayakan beberapa hal untuk menurunkan risiko terjadinya gangguan ginjal pada anak-anak kita. Beberapa hal ini dapat kita upayakan untuk mencegahnya:

1. Cegah dehidrasi pada anak, terutama saat diare atau muntah.
2. Hindari risiko penularan infeksi, termasuk saat kehamilan
3. Orang tua dapat melakukan konseling genetik untuk mencegah penyakit ginjal keturunan
4. Deteksi dini hipertensi dan diabetes pada anak

Kurangi Risiko Penyakit ginjal sumber: P2ptmkemenkes

Adapun bagi anak-anak yang sudah didiagnosis mengalami gangguan ginjal, pencegahan dilakukan untuk menghindari komplikasi dari proses penyakit ginjal yang telah dialami. Hal ini patutnya menjadikan para orang tua untuk lebih waspada terhadap kondisi anak. Terlebih anak balita yang agak sulit diajak minum air putih. Kebutuhan cairan anak di atas 1 tahun adalah sekitar 80-90cc/ Kg BB, misalnya berat anak 3 tahun 14 kg maka kebutuhan cairan adalah sekitar 1210-1260 cc per hari.

Kementerian Kesehatan RI juga semakin giat mengadakan rangkaian kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan ini meliputi sosialisasi informasi tentang gangguan ginjal pada anak; serta pencanangan Gerakan Ayo Minum Air (AMIR). Mengingat kita juga tinggal di negara tropis yang selalu bertemu matahari sepanjang tahun dengan melaksanakan Gerakan Ayo Minum Air kita dapat mencegah risiko gangguan ginjal.

AMIR Ayo Minum Air

“Peningkatan gaya hidup sehat juga perlu dilakukan untuk siapapun baik dewasa maupun anak. Bagi mereka yang sehat Kemenkes mengajak untuk berperilaku CERDIK, sedangkan bagi yang sudah terkena penyakit tidak menular untuk berperilaku PATUH.” terang dokter Cut Putri Arianie, MH.Kes, selaku direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PTM) yang juga menutup diskusi siang itu.

CERDIK PATUH

Sebagai orang tua, saya yakin kita selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Ketika mereka sakit kadang kita ingin sakitnya itu diberikan pada orang tuanya saja. Pengalaman Viara dan keluarganya ini memberikan pandangan baru bagi saya, bahwa kondisi sakit tidak boleh membuat kita putus asa. Terima kasih Viara dan keluarga.
Narasumber

Blogger with Viara






Referensi:
1. Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. CDC. Chronic kidney disease surveillance system: almost 10.000 chldren and adolescents in United States are living with end-stage renal disease [internet] 2017 Jul. Available from: https://nccd.cdc.gov/ckd/AreYouAware.aspx?emailDate=July_2017.

Gambar:
1. Anatomi Ginjal dari Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. Mesin Dialisis dari  https://www.freseniusmedicalcare.com/en/media/news/details/detail/News/fresenius-medical-care-launches-6008-caresystem-a-new-hemodialysis-therapy-system-enabling-better-care-for-chronic-patients/


Sejak ada yang namanya media sosial bernama instagram inilah dimulai pula pengaruh para ibu selebriti memasuki pikiran ibu-ibu biasa ((yang bukan seleb)). Mulai dari stimulus sensori untuk bayi dan anak toddler hingga cara makan pun diikuti oleh ibu biasa. Saya sih tidak merisaukan hal-hal demikian sebab saya enggak follow ibu selebgram tersebut, hahaha.. Jadi, tidak perlu makan hati berulam jantung yhaaa kalau realita dunia peribuan (motherhood) begitu melewati ekspektasi feed IG selebgram. Saya mah woles ae…
Photo by carole smile on Unsplash

Terlalu berat jika kita menginginkan segalanya sempurna, sedang sumber daya baik tenaga, waktu serta  dana yang kita miliki terbatas. Tidak perlu memaksakan diri menjadi yang ideal, menjadi ibu bukan untuk jadi sempurna. Alangkah baiknya kita menjadi ibu yang mencintai diri hingga dapat mengasuh anak dengan bahagia.

Kesempurnaan Ibu itu sejenis camilan apa yha?


Duh! Sepertinya saya bukan termasuk golongan tipe orang perfectionist. Saya lebih cenderung santai dan yaudalah kalau gak bisa seideal gitu, ya udah gapapa. Itulah kebanyakan lintasan di pikiran saya. Tapi semua berubah sejak jadi ibu, haha, andaikan ada camilan bernama kesempurnaan mungkin dulu saya sering makan camilan itu saat Kristal masih bayi.

                                                       Baca juga: Lika-liku Menyusui

Saya memberikan MPASI homemade, bermain sensori dan memberikan segalanya yang terbaik buat anak bayi ini. Setelah setahun, saya lelah mengejar kesempurnaan yang demikian hingga akhirnya saya dan lebih santai terhadap target tumbuh kembang anak. Apalagi dulu jelang usia setahun Kristal belum bisa jalan sendiri, wkwk… awalnya panik eh, akhirnya santai pas tahu patokan normal bisa jalan lancar 18 bulan, ya kan.


 Seiring berkurangnya tekanan dalam pengasuhan, saya makin melihat berbagai ketidaksempurnaan yang saya miliki. Memang benar bahwa manusia makhluk yang diciptakan dengan ketidaksempurnaan. Nah, dengan adanya ketidaksempurnaan inilah yang menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia.

Some kind of my imperfection

Salah satu diantaranya kitdaksempurnaan saya menjadi ibu adalah membacakan buku sambil terkantuk-kantuk sampai berubah jalan ceritanya. Hahaha, beneran deh ini sering terjadi dan lagi-lagi anaknya yang mengoreksi “Kok begitu sih ceritanya” sebab dia sudah tahu dan hafal isi buku yang dibacakan. Selain itu, ditambah dengan ucapan “Bunda mah tidur”. Duh, ini sungguh lawak banget sih emang. Apalagi kalau suami ngeliat adegan ini sambil ketawain saya, sungguh senang hatinya.


“Anak-anak kalau mau cepat besar harus makan sampai habis ya” Ucapan saya ke anak pas waktunya makan. Apakah dengan ini anak selalu menghabiskan makanannya? Yha, tentu tidak... Ada masa makanan yang disediakan habis (kalau dimasakin ayam bakar Taliwang) tapi sering juga makannya enggak habis dan berujung saya yang melanjutkan. Setidaknya anak sudah makan separuh dari porsi yang diberikan deh, sisanya biar saya yang habisin, wkwk… Namun, satu yang bikin saya heran ya, setelah makan yang tidak habis itu dan berkata kenyang. Anak masih bisa minta camilan yak… Itu apa namanya coba kalau bukan ironi gaes? Bilang kenyang tapi masih minta dan muat buat menghabiskan camilan. Sungguh sulit dipahami…


Ada beberapa ibu yang tidak memberikan makanan berupa mie instan dan keluarganya (seperti mie-mie yang dibungkus lalu rebus dan jadi makanan) pada anak balita. Berbeda dengan saya, saya termasuk yang memberikan makanan tersebut. Habisnya kadang kita kan bosan ya sama nasi, jadi bikin aja indom*e goreng atau rebus dengan tambahan sosis atau bakso juga sayuran macam sawi, wortel dan kol. Tapi tenang, saya tidak setiap hari masak mie goreng ini, seminggu sekali biasanya. Jika bosan dengan mie pun kadang saya siapin pasta-pasta-an seperti Fusilli, spageti dan makaroni dengan saus yang diracik sendiri dengan tambahan parutan wortel dan daging cincang didalamnya. Sempurna bagi anak yang kadang menolak sayuran, hahahaa… kena deh.
  
I Love My Imperfections

Bukan manusia namanya kalau sempurna, ye kan? Jadi, dengan penuh kesadaran atas segala ketidaksempurnaan yang saya miliki, saya memilih untuk mencintai ketidaksempurnaan tersebut (((walau banyak))) hee...

#IloveMyImperfections walau banyak ketidaksempurnaanya saya tetap bisa bahagia dengan meluangkan waktu #5MenitAja untuk memakai skin care, hahahaa… Sebuah penyesalan yang mendalam sebab dulu belum terpapar oleh produk perawatan wajah yang dibutuhkan. Akhirnya, diujung usia menuju 30 ini, saya baru sadar akan kekhilafan dan segera memilih skin care yang aman dan cocok di dompet, tsaah.. *KibasDollar




Efek samping jadi ibu adalah kantung mata yang melingkar hitam di bawah mata serta beberapa noda hitam dan juga beberapa kerut halus yang telah tampak di permukaan. Wajah yang segar memang lebih sedap dipandang tapi gimana mau segar kalau tidak dirawat? Tanaman aja layu sebab kekeringan. Nah. makanya saya memilih menyayangi diri dengan #5MenitAja memakai skincare tiap pagi dan malam hari. Menurut saya, merawat kesehatan wajah juga satu bentuk syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan. Bukan berarti gegayaan atau apa ya, tapi saya berharap memberikan tampilan terbaik buat suami akan jadi ladang ibadah juga buat istri di rumah. *bantu aamiin-kan yes..




Me time positif lainnya yang bisa dilakukan #5MenitAja adalah berdoa dengan khusyu setelah salat. Saya banyak banget permintaan yang berharap dikabulkan, salah satunya mendoakan Kristal supaya jadi anak shalihah dan sehat. Saya ingin pada waktu-waktu spesial ini saya semakin kuat untuk menjalankan amanah di dunia setiap harinya dan berharap akhir yang baik di kehidupan nanti.

Kalau dulu pas kecil saya berebutan camilan sama adik-adik saya sedangkan sekarang berebutannya sama anak, hahaha… ampuuun… anak itu kalau udah punya makanan enak, bener-bener enggak mau berbagi ke siapapun yak. Sungguh sedih akutu! Jadi, supaya saya bisa makan camilan dengan tenang cukup dengan #5MenitAja makan diam-diam tanpa diketahui bocah membuat saya senang, haha. Yha, mau gimana lagi, terlebih kalau dia lagi dilarang makan camilan tertentu (semacam ciki, cokelat dan eskrim) daripada anaknya ngiler sampe tantrum mewek-mewek minta, kan mendingan diam-diam yha… Sebab apapun yang lagi dimakan ibu pasti akan dicicip anak dan akhirnya di hak milik oleh mereka. Begitulah kira-kira sepemantauan saya selama ini.

  


Pesan terakhir, *tsaaah… untuk para ibu, take it slow if you have some imperfections. Don’t be hard on yourself. Just love your imperfections the way you love your children with your altruistic love, because you need to be loved too. Menjadi ibu memang terbiasa membuat kita mendahulukan yang lain daripada diri sendiri. Namun, cobalah dengan #5MenitAja ambil porsi kita untuk menyayangi diri sendiri #IloveMyImperfections. Porsi dimana kita memilih melakukan sesuatu untuk diri kita yang lebih bahagia and it's fine!