Pindahan rumah? Emang enggak repot tuh? Mesti bungkus-bungkus barang, semuanya diangkut. Emang gak pegel? Yah, kalau dijawabin mah mesti capeklah, pegal dan pusing. Namanya hidup kita bisa berencana aja, enggak tahu pasti yang terjadi gimana. Setelah hampir dua tahun lebih tinggal di Bandung, ngontrak di daerah Antapani, saya, suami dan anak kami mesti pindah ke Jakarta lagi ke tempat orang tua.  

 

Barang-barang kami sudah terlanjur banyak, terus bagaimana navigasinya? Saya pun segera membuat daftar barang-barang besar yang bisa dijual lagi karena tidak akan muat jika dibawa ke rumah ibu saya. Selain itu, sudah ada juga barang yang sama seperti kulkas, televisi, kompor gas, meja makan dan kasur. Kami pun mulai memasarkannya di pasar barang bekas online. Saya juga minta bantuan seorang teman agar bisa bantu infokan kali aja ada yang butuh barang juga. Beberapa barang saya berikan ke teman, berikan ke pengumpul barang bekas yang lewat di depan rumah. 

Penjualan barang banyak dan besar gini baru sekali ini saya lakukan. Tentu saja tidak mengira akan ada drama yang agaknya menyebalkan. Saat menjual satu set tempat tidur, sudah ada yang sepakat akan diambil hari ini, jam segini tetapi sekali itu si pembeli bilang truknya tidak bisa datang sesuai waktu sehingga telat, kita diminta menunggu sampai malam. Malam juga tidak bisa, kalau mau barangnya dikirimkan ke tempat truk mangkal. Kesel dong, ini dia yang butuh kenapa kita jadi yang repot. Perjanjian lagi kalau sampai tanggal sekian tidak diambil, pembelian dianggap batal dan dialihkan ke orang lain yang minat. Masalahnya ini kasur ukuran king, gede banget, waktu sudah mepet sama pindahan semua barang. Duh, bener-bener deh bikin pusing kan kalau dibawa mobilnya gak muat, gak dibawa mau diapain lagi lah ini...

Kebetulan ada yang membeli kompor dan televisi dari kenalan teman saya itu. Jadi, saya kepikiran rencananya kasur ini kalau tidak diambil juga saya mau tawarkan ke pembeli kompor. Cuma kalau dia enggak mau kan mesti mikir pakai mobil truk apa yang muat dong. Tibalah waktu saatnya si pembeli kasur pertama itu lagi-lagi ingkari kesepakatan penjemputan kasur, kita pun langsung memutuskan batal akad. Segera saja saya tawarkan ke pembeli kompor. Alhamdulillah, ibu itu mau membelinya tanpa babibu lagi langsung minta dikirim besoknya, uang pembayaran dikasih separuh dulu sisanya setelah barang sampai.

Wah! Saya bersyukur dan jadi bener-bener melihat bagaimana proses sesuatu itu kalau bukan rezekimu walau sudah jauh-jauh hari sebelum itu diincar tetap tidak akan jadi milik kamu. Sedangkan si ibu yang sehari sebelumnya dikabarin ternyata malah dapat barang tersebut, dia gak incar, dia gak nyari-nyari, tenyata pas butuh malah dapat.

Saya jadi senang, barang-barang saya pindah ke orang-orang yang juga butuh. Mereka butuh barang, saya juga udah gak pakai lagi kan. Lumayan bangetlah hasil jualan barang bisa buat ongkosin truk pindahan juga hahaha…

Pengalaman pindahan ini juga membuat saya sadar, bahwa sebagai anak pertama ternyata saya juga orang yang suka buang-buang barang jika udah gak dipakai dan disimpan doang, wkwkw… Selama ini saya gak pernah menyadarinya, baru ketahuan pas beberes pindahan, sikap saya saat melihat barang-barang suami dan anak yang sudah lama tak terpakai ya begitu nanyanya,

“ini udah ga dipakai kan? Buang aja ya? Ini buat apa disimpan gak dipakai, gak diapa-apain juga, buang ya?"


Ya ampun, bener-bener deh pindahan kali ini membuat banyak bersyukur dan minta ampun karena saya baru ketahuan kena sindroma beberes dan buang-buang barang tak terpakai, hhahaa…


Sejak menjadi orang tua saya jadi lebih peduli tentang buku anak-anak. Ini karena saya harus memilihkan buku yang menjadi bahan bacaan puteri saya. Dulu tahun 2015, pas anak saya masih bayi, sempat hits sepaket buku balita yang sangat digaungkan untuk dimiliki semua orang tua yang punya bayi. Tujuannya untuk memperkenalkan anak dengan buku. Tetapi saya tidak punya, tidak beli dan tidak pernah membacakannya untuk anak saya. Saya sempat terpikir untuk membelinya namun, maju mundur cantik akhirnya batal, mungkin karena dulu belum ada dananya dan uang sebesar itu dialihkan ke sumber daya lain kan ya. Lantas, apakah anak saya jadi tidak senang membaca buku? Tidak juga kok, kan saya mengenalkan dengan buku lain, yang berisi cerita dan bergambar warna warni.

Photo by Ben White on Unsplash
 
Saya pun mulai mencari lagi buku cerita lain, ada juga yang dikasih sama teman, beli buku bekas, pesan buku baru sampai datang ke bazar buku yang fenomenal itu di Serpong, wkwk…Buku anak sekarang bermacam-macam variasinya. Bagus-bagus, jauh lebih bagus daripada saat saya kecil dulu. Mulailah pencarian di awal-awal karena belum mengerti tentang penjenjangan buku, saya cuma tahu balita bisa dibacain buku cerita bergambar, isinya berapa kata, berapa kalimat saya tidak tahu itu ada aturannya, haha… Semakin ke sini, pemerintah mengatur jenis-jenis buku anak berdasarkan penjenjangan. Bisa dibaca di sini.

Perjenjangan Buku 
 
Kini anak saya makin gede, terus udah lancar baca sendiri, saya ingat dia bisa baca lancar saat umur 5 tahun dan dia mau baca sendiri bukunya. Wih, ya makin bingung anak sudah bisa baca, dikasih apalagi ya? Sampai akhirnya dia masuk usia sekolah, saya beranikan untuk mencoba buku cerita panjang alias novel anak, terus anaknya betah dan suka, ya masa dilarang? Hayuklah, diteruskan aja, akhirnya makin bikin mikir keras bahwa buku-buku buat seumurannya itu sedikit sekali dan kebanyakan untuk usia SD tinggi. Lah, iya, umur 7-9 tahun itu ga bisa dibacakan buku cerita yang kalimatnya pendek tapi gak ada cerita panjang yang pas juga. Wew…

Jadi, sebenarnya anak saya tidak melalui proses baca buku sesuai aturang penjenjangan itu yahh.. ini karena murni ketidaktahuan saya sendiri, tetapi karena itulah dia mulai terbiasa membaca cerita panjang dan bisa menangkap cerita dengan baik. Khawatir? IYALAH, BACANYA CEPET BANGET! Buku 100 halaman selesai seharian, lah… bingung kan? Sempat juga baca buku online di web penyedia buku gratis yang ceritanya bagus-bagus dan ilustrasinya juga keren. Sampai pada suatu titik dia bosan dan tidak terlalu minat lagi untuk membaca di web itu.

Suatu hari kami menemukan komik edukasi terjemahan Korea Selatan dan memang komik yang kebanyakan gambar tapi ada ilmunya. Menurut saya sih bagus, maka mulailah anak saya senang baca komik edukasi itu dan memang banyak juga tulisan penjelasan berbagai hal terkait isi cerita, gapapa yang penting baca daripada lapar bacaan.

Saya masih terus membolehkan anak baca komik edukasi sampai sekarang, hanya temanya mulai saya beranikan yang lebih serius seperti biografi tokoh-tokoh. Mulai bisa diajak diskusi tentang masa hidup seseorang kenapa bisa sampai bisa berkarya sebesar itu. Saya pun mesti membuatnya tertarik buat ganti tema buku ini. Meskipun awalnya dia tidak terlalu berminat tapi berkat trik khusus akhirnya dia mau juga, gimana caranya? Kita ortunya nih, yang mesti duluan menunjukkan minat dulu mau baca buku itu juga.

Beberapa pekan lalu, saya menemukan buku dongeng yang dikarang oleh keturunan Cina Amerika yang menurut saya sangat bagus. Buku novel ini bertema dongeng lampau dari Cina, tebalnya sekitar 250-an halaman dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya ingin anak saya membaca buku yang keren ini, tetapi dia mulai merasa malas membaca buku tebal yang penuh kata-kata panjang. Wah, padahal itu juga ada ilustrasinya satu halaman dalam satu bab. Apakah saya membiarkannya tidak mau membaca? Tentu saja mulailah bergerilya membuatnya membaca bacaan panjang lagi. Kebetulan kami sedang meminjam komik biografi Isaac Newton dan Jose Mujica dari perpustakaan kota dan pas banget kedua orang ini digambarkan senang membaca buku. Newton yang membaca buku terus dan Mujica yang ketika di penjara pun sedih karena tidak bisa membaca lagi. Saya mulai susupi pikiran anak saya dengan “ini orang-orang besar bisa menjadi seperti ini karena mereka membaca buku lho, apa saja dibaca”.

Membaca buku apapun pasti bagus buat kita, apalagi ada diskusi-diskusi kritis tentang isinya.

Alhamdulillah, besoknya anak saya coba membaca buku dongeng itu dan berhasil, dia hampir tidak mau berhenti membacanya sampai selesai. Lalu, kami pun diskusi sedikit tentang isinya, bagaimana perjalanan tokoh-tokohnya yang ajaib dan seru. Ini menyenangkan banget bagi saya! Saya sadar juga anak itu ingin teman membaca dan kitalah temannya yang pertama untuk membaca. Membaca bukan yang cuma membaca, membaca yang juga memicu daya kritis anak.

Saya menyadari juga ada masa-masa semangat dan turunnya anak-anak dalam membaca buku. Maka tugasnya orang tua yang bisa mengenali masa-masa itu dan membuat siasat agar anak tetap senang dan suka membaca buku yang memang bagus ceritanya. Selamat mencari buku-buku bagus dan memilihkannya untuk anak-anak kita!