Saya berubah.

Kehadiran seorang anak membuat saya berubah. Saya begitu mementingkan kebutuhan anak. Saya rela memerah ASI tengah malam hanya untuk memenuhi kebutuhan anak saya.

Ketika anak saya semakin besar dengan segala tingkahnya yang lucu, saya merasa senang. Melihat perkembangnya yang mengagumkan, saya merasa bangga. Hanya saja ketika menghadapi emosinya yang sulit, saya merasa kewalahan dan lelah.

Semua orang berkata, “Memang seperti itu rasanya mengurus anak.”
Semua orang berkata, “Yah, nanti kalau sudah besar bisa kangen anak pas masih kecil.”
Semua orang berkata, “Jadi ibu ya begitu, banyak berkorbannya.”
Apa-apaan ini?

Apakah harus sesulit itu hidup setelah menjadi ibu?

*
Photo by Jon Flobrant on Unsplash

Ilustrasi di atas adalah fakta yang seringkali ditemui dalam kehidupan sehari-hari para ibu. Betapa berbedanya hidup para perempuan ini setelah menjadi ibu. Tidak sedikit yang ketika berkeluh kesah pada orang lain bukannya mendapat dukungan justru menerima ceramah. Monmaap, maksud hati ingin didengar untuk melepas penat malah disemprot.

Berubahnya prioritas setelah menjadi ibu adalah keniscayaan. Perempuan manapun akan merasakannya. Siapapun dengan latar belakang apapun. Alangkah indahnya ketika perubahan yang terjadi ini justru bisa membuat sang ibu menjadi seseorang yang lebih baik. Hasil riset yang tertuang dalam Scientific America membuktikan adanya perubahan pada sel-sel otak perempuan karena proses kehamilan, melahirkan hingga menyusui. Hal inilah yang membuat ibu begitu penuh perhatian dan berusaha sebaik-baiknya dalam merawat anaknya.¹

Sisi positifnya adalah kemampuan perempuan yang telah menjadi ibu semakin lebih baik dalam hal merawat anak. Tak dipungkiri memang, merawat anak bukan sekedar memberi makan dan menyekolahkan. Lebih dari itu, membangun generasi terbaik berawal dari anak-anak yang dididik dengan baik.

Lalu, bisakah ibu mendidik anak-anak dengan baik jika berada dalam kondisi yang kurang baik?

Sebagai ibu, terkadang kita lupa akan kebutuhan kita sendiri. We care too much for our kids but we careless about ourselves. Kitalah yang pertama memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Padahal riset terbaru menunjukkan bahwa memperhatikan perawatan diri (self-care) dan paham saat perlu bantuan merupakan hal penting untuk memastikan kita mewariskan kebahagiaan kita pada anak, bukan tekanan.² Dengan begitu, ibu yang bahagia dengan perannya akan membuat anak-anak lebih bahagia.

Jadi, mulai sekarang para ibu jangan sampai lupa untuk merawat diri. Baik merawat kesehatan fisik, jiwa maupun sosial. Buang semua yang racun-racun haha… Lakukan aktivitas yang membuat ibu merasa hidup, bukan hanya menjadi ibu tapi menjadi dirimu sendiri yang telah menjadi ibu. Ingat ya, Self-care isn’t selfish. Merawat diri bukan berarti ingin enak sendiri tanpa memikirkan yang lain. Sebaliknya, self-care merupakan cara sederhana untuk mengingat bahwa kita merawat diri sendiri sebaik kita merawat orang-orang di sekitar.

Bingung caranya self-care?

Saya akan cerita beberapa tips self-care yang pernah saya lakukan demi menjaga keutuhan diri sebagai ibu *eeaa…

1. Siapkan waktu untuk menenangkan diri
Berkutat dengan aktivitas yang tiada henti sejak membuka mata pastinya membuat kita merasa letih. Rasa letih merupakan alarm bagi tubuh bahwa kita perlu istirahat. Lakukan relaksasi dengan bernafas dalam sambil duduk bersila sejenak selama 5 menit.

2. Mengonsumsi makanan sehat (sayur/buah) dan minum air putih
Tubuh yang segar ditunjang oleh asupan makanan dan minuman sehat. Buah dapat dijadikan sebagai camilan sehat. Kandungan serat dalam sayur dan buah bermanfaat untuk kesehatan saluran pencernaan sedangkan air putih baik untuk ginjal dan menjaga kesegaran kulit.

3. Cukup olahraga
Olahraga dapat menambah suplai hormon endrofin dalam tubuh. Hormon inilah yang memicu perasaan positif hingga tubuhterasa segar setelah berolahraga. Jadi, sediakan waktu untuk joging di sekitar rumah sekitar 30 menit. Cukup dengan berkeringat yang sehat pun membuat bahagia.

4. Melakukan perawatan tubuh
Bagaimana caranya kita bisa merawat orang lain jika kita tidak merawat diri sendiri dahulu? Terkadang hal-hal kecil untuk merawat diri terlewat begitu saja. Padahal melalui cara sederhana kita bisa menghargai tubuh. Caranya cukup dengan mandi, keramas, memakai losion hingga merawat kulit wajah yang dapat dilakukan di rumah.

Berbicara mengenai produk perawatan tubuh pasti sudah tak terhitung yang dijual di pasaran. Ini yang kadang membuat kita jadi sulit memilih. Nah, saya sering mendengar ada yang bahannya dari susu kambing. Lho, susu kambing memangnya bagus ya buat kulit?

Berdasarkan riset di IPB, susu kambing Peranakan Etawah fermentasi dengan penambahan bakteri asam laktat berfungsi sebagai pemutih kulit.³ Wah, ini salah satu bukti bahwa susu kambing dapat digunakan untuk merawat kulit. Saya pun semangat mencari produk yang mengandung susu kambing hingga akhirnya dipertemukan dengan Velvy.

Velvy merupakan produk perawatan tubuh dengan bahan dasar susu kambing. Produk Velvy diantaranya body scrub, lotion susu kambing dan sabun susu kambing. Berdiri sejak 2013, membuat Velvy memberi perhatian khusus dalam inovasi produk berbahan alami.
Keunggulan Velvy sumber: velvybeauty.com

Inilah yang membuat Velvy menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan aman bagi konsumen. Salah satu buktinya adalah Velvy tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti paraben. Nah, ini cocok banget untuk ibu hamil dan menyusui, kan? Selain itu, produk Velvy juga tidak diujicobakan pada hewan sehingga membuat Velvy pantas menyandang cruelty free product.

Sabun susu kambing Velvy mengandung Alpha Hydroxy Acids (AHA) yang membantu membersihkan sel-sel kulit mati. Dengan begitu, sel kulit diperbarui sehingga makin putih dan halus. Susu kambing juga mengandung vitamin A yang sangat tinggi. Sebagaimana diketahui vitamin A sangat berperan dalam memperbaiki jaringan kulit. Kalau sudah begini kita bisa say Bhay! pada garis halus dan kerut-kerut pada kulit.

Sabun dan losion Susu Kambing Velvy memiliki 5 varian bahan terbaik alami diantaranya:
  1. Velvy Goat’s Milk Shower Cream Licorice & Shea Butter
  2. Velvy Goat’s Milk Shower Cream Rosehip Seed Oil & Peach
  3. Velvy Goat’s Milk Shower Cream Silk & Grape Seed Oil
  4. Velvy Goat’s Milk Shower Cream Royal Jelly & Sun Flower
  5. Velvy Goat’s Milk Shower Cream Green Tea & Aloe Vera
Kandungan bahan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan perempuan yang selalu aktif mengejar anak sehari-hari, eh. Jadi, ibu bisa pilih mana yang sesuai dengan kebutuhan kulitnya. Ukuran untuk Velvy Goat’s Milk Shower Cream memiliki 5 ukuran yang dibalut dengan kemasan menarik.

Ukuran serta varian Velvy shower cream sumber: IG Velvy
Sedangkan terdapat tiga ukuran untuk Velvy Goat’s Milk Body Lotion yakni, 95 ml, 300 ml dan 600 ml. Hal yang juga penting bagi saya sabun dan losion susu kambing Velvy sudah mendapat sertifikat halal MUI. Ini menunjukkan keunggulan Velvy yang mengutamakan kebaikan di setiap produknya.

Ukuran Velvy body lotion sumber: IG Velvy

Saya pun mencoba berkesempatan sabun dan losion varian green tea dan aloe vera. Seusai mandi saya cukup kaget dengan wangi dari sabun susu kambing velvy yang begitu menempel di kulit. Bahkan setelah mengeringkan tubuh yang muncul bukannya kulit kering tapi lembap dan halus. Selanjutnya, saya memakai losion varian yang sama. Kulit pun seketika berubah jadi makin lembut, lembap dan wangi dua kali lipat sebelumnya.



Saya makin rajin dong memakai losion setiap hari. Di cuaca yang selalu panas, tentu saya selalu butuh perlindungan sinar UV. Losion susu kambing Velvy memiliki perlindungan UV dan rasanya pun tidak lengket di kulit.

Kalau sudah begini, saya tidak khawatir memilih produk yang aman untuk merawat tubuh. Bagi saya, kehadiran Velvy dengan kandungan susu kambingnya menjadi rahasia agar kulit tetap sehat dan lembut. Seletih apapun beraktivitas, tubuh menjadi segar dan lembut setelah menggunakan sabun dan losion susu kambing Velvy. Kehadiran Velvy membuat self-care saya jadi makin menyenangkan. 



“How could you take care for people when you are not caring for yourself?”

Kita tidak pernah bisa mengisi gelas dari teko yang kosong. Begitu pun menjadi ibu. Ibu tak akan bisa menuangkan cinta untuk anak-anaknya jika ia belum mengisi cinta pada diri sendiri terlebih dahulu. Self-care yang dilakukan seorang ibu adalah caranya mencintai diri sendiri. Dengan begitu, ibu akan mampu menuangkan cinta terbaik bagi anaknya.

Semua orang punya kekurangan. Terkadang, kita juga mengalami hari yang tidak menyenangkan. Ada sisa-sisa stress yang pernah kita lalui. Cukup berbuat baik pada diri sendiri dengan memaafkan kesalahan diri ketika kita tidak bisa mengurus sesuatu hingga selesai.

Setelahnya pun kita tetap bisa mengusahakan yang terbaik. Tidak apa-apa, cucian dan setrikaan masih menumpuk kalau kita sudah terlalu lelah. Hal terpenting yang perlu disadari adalah kita perlu memanusiakan diri kita. Jangan sampai kesibukan mengurus hidup manusia lain membuat kita lupa merawat diri kita.



Referensi:
  1. Kinsley, C., & Lambert, K. (2006). The Maternal Brain. Scientific American, 294(1), 72-79. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/26061302
  2. Parental Adverse Childhood Experiences and Offspring Development at 2 Years of Age. Alonzo T. Folger, Emily A. Eismann, Nicole B. Stephenson, Robert A. Shapiro, Maurizio Macaluso, Maggie E. Brownrigg, Robert J. Gillespie. Pediatrics Apr 2018, 141 (4) e20172826; DOI: 10.1542/peds.2017-2826
  3. Hanum, Zuraida. (2016). Potensi Susu Kambing Fermentasi dengan Penambahan Daun Kari (Murraya koenigii) sebagai Pemutih Kulit. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.