“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”
― Seno Gumira Ajidarma

Sekolah Dasar merupakan tempat pertama kali saya belajar memadukan aneka kata menjadi frasa hingga menghasilkan sebuah potongan cerita. Ya, menulis memang sudah lama dipelajari sejak pendidikan dasar. Bahkan sampai jenjang pendidikan tinggi pun kita harus menghasilkan karya tulis hasil penelitian yang berbasis ilmiah. Eits, tenang saja, tulisan kali ini saya mau cerita tentang cita-cita saya saat kecil yaitu, jadi penulis.


Saya selalu suka pelajaran Bahasa Indonesia. Kamus pun jadi satu buku kesukaan saya sebab saya bisa mengenal banyak kosakata dan maknanya. Selain itu, para penulis yang karyanya tertera di buku teks SMP hingga SMA makin membuat saya keranjingan membaca. Puisi Aku yang selalu muncul menjadi potongan pertanyaan pada soal ujian membuat saya makin tenggelam dalam lautan cinta sastra Indonesia. Tsaah~
Begitu senangnya membaca makin membuat saya berkeinginan menjadi penulis. Apalagi setelah mengenal buku-buku genre lainnya, ah kapan buku saya terbit? Kalau dibayangin doang tanpa eksekusi sih yhaa bhay! Gak akan jadi itu buku, wkwk…

Baca juga: Rahasia Menulis! 

Nah, alhamdulillah akhir pekan lalu saya bisa hadir di acara Blogger Gathering bersama Komunitas ISB yang membahas perkara “Abadikan Karya Melalui Buku”.

Setelah menerjang panasnya ibukota hari itu, saya tiba di kawasan gaul muda-mudi Kuningan dan segera berkumpul dengan rekan-rekan blogger lainnya. Saya berkeliling melihat seluruh peserta yang hadir eh ternyata ada Mbak Nunik Utami yang akan jadi narasumber siang itu. Kalau gitu kita wefie dulu yhaa Mbak...


Bersama Mbak Nunik

Nunik Utami sudah menerbitkan puluhan judul buku mulai dari cerita anak-anak, remaja hingga dewasa baik fiksi maupun non-fiksi. Dunia kepenulisan memang sudah lama dijejaki oleh pemilik blog nunikutami.com ini. Kalau melihat karya dan prestasinya yang dipajang di blog tersebut duh, jadi jiper akutu! Hahaa.. Ah, senang banget saya bisa menggali ilmu dan pengalaman mbak Nunik langsung pada kesempatan kali ini.

Tanpa panjang lebar ini dia tips menerbitkan tulisan kita menjadi buku.

1. Ikut Serta Lomba Menulis
Semakin banyak berlatih maka tulisan akan semaking berkembang. Nah, keberadaan lomba menulis ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana melatih kapasitas menulis kita. Alhamdulillah, kalau menang itu tandanya tulisan kita sudah dianggap pantas dan berkualitas oleh para juri. Jika belum menang, santai saja, masukkan pengalaman ikut loba sebagai penambah jam terbang.

2. Ikut Workshop Menulis
Bergabung dalam komunitas blogger tentu membuat kita makin terpapar dengan tulisan yang beraneka macam kualitasnya. Biasanya komunitas pun mengadakan workshop kepenulisan untuk para anggota tentunya supaya tulisan lebih nyaman dibaca. Ikut saja siapapun narasumbernya, yang pasti dari pengalaman orang lain kita akan dapat pelajaran berharga mengenai kepenulisan.

3. Lawan Penyakit Rendah Diri
Kepercayaan diri yang cenderung rendah adalah penyakit mematikan seorang penulis. Kekhawatiran berlebih akan karya yang kurang bagus, aneh atau pikiran buruk sangka “mana ada yang mau nerbitin karya saya” harus dibuang jauh-jauh sampai Timbuktu ya gaes!! Jika masih ragu akan karya kita boleh meminta saran dan kritik dari orang-orang terdekat (apalagi kalau punya teman yang sudah pernah nerbitin bukunya duluan) sebelum dikirim ke penerbit. Pokoknya jangan ragu mencoba mengirim karya kita.

4. Tuliskan Cerita yang berbeda
Cerita cinta banyak, cerita sedih banyak namun apa yang membedakan? Itu dia celahnya, kita harus tahu karakteristik pembaca (calon) buku kita. Ini penting untuk mengetahui bagaimana kira-kira respon pembaca. Pembaca tentu sudah biasa baca tema ini itu, tapi pastikan ada ciri khas yang luar biasa dalam tulisan kita. Inilah yang akan membuat tulisan kita diingat pembaca baik itu bersumber dari pengalaman pribadi atau orang lain. Kalau kata Toni Morrison mah begini gaes,



“If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it.”
Toni Morrison
5. Menulislah sampai selesai
Kebiasaan yang agak merugikan adalah “kebanyakan bikin draft tulisan tapi tidak kunjung diselesaikan” yhahaa… Ini adalah musuh para penulis termasuk saya wkwk… Mbak Nunik berpesan untuk fokus menyelesaikan satu naskah terlebih dahulu lalu dilanjutkan menulis yang lain.

Penulis yang juga trainer penulisan ini mengungkapkan bahwa di era media sosial ini memudahkan penulis dapat langsung dipinang oleh penerbit. Biasanya tulisan kita dilihat oleh penerbit sendiri di platform menulis seperti Wattpad, Facebook atau Instagram. Padahal dulu mah biasanya penulis mengajukan diri ke penerbit sekarang bahkan penulis yang ditawarkan untuk menerbitkan buku. Ah, enak banget-lah zaman now yha~

Saya pun mengetahui beberapa penulis yang menerbitkan buku dari status Facebook dan cerita di Wattpad. Kumpulan kisah-kisah itu tertuang hingga bisa dibukukan membuktikan kekuatan platform media sosial bagi seorang penulis. Jadi, boleh saja kita menggunakan sarana digital yang ada siapa tahu tulisan kita ditawarkan untuk diterbitkan juga lho.

/

Jika kita sudah mengirim naskah ke penerbit mayor maka tunggulah hingga tiga bulan lamanya sampai ada jawaban. Jika belum kita wajib menanyakan pada penerbit, misalnya naskah memang ditolak maka kita bisa menariknya untuk diajukan ke penerbit lain. Satu yang penting juga, jangan pernah mengirim satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus, bisa kacau kalau semuanya menerbitkan.

Kalau kamu ingin menerbitkan buku dengan cara berbeda kamu bisa memilih penerbit indie untuk mencobanya. Saat ini sudah ada beberapa penerbit indie yang bermunculan dengan buku-buku yang tak kalah berkualitas dengan penerbit mayor. Hanya saja memang pemasaran buku penerbit indie kita sendiri yang melakukannya juga karena itulah  disebut self publishing.

Pengalaman menulis blog yang masih belum rajin-rajin banget membuat saya jadi mengevaluasi diri. Apakah strategi efektif agar semakin produktif menulis blog dan juga cerita-cerita yang ingin diterbitkan? Kadang saya merasa sulit berkonsentrasi saat menulis. Outline tulisan sudah ada, hanya saja kok rasanya lamaaaa banget menyelesaikannya.

Kebetulan kumpul blogger kali ini juga menghadirkan narasumber dari CNI. Bapak Gusti sebagai pembaca acara juga Ibu Asti memaparkan risiko anemia disebabkan rendahnya kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah yang dapat mengintai siapa saja. Wah, beruntungnya saya dapat penyegaran mengenai kesehatan juga siang itu. Ternyata seringkali anemia tidak disadari tanda dan gejalanya. Pantas saja, data dari RISKESDAS Kemenkes 2018 menunjukkan ada peningkatan masalah anemia pada ibu hamil pada tahun 2018 menjadi 48.9% padahal sebelumnya pada tahun 2013 kasus ini sebesar 37.1%.

Hemoglobin bekerja membawa oksigen ke seluruh tubuh. Oleh sebab itu, seseorang yang kadar Hb-nya rendah dapat berisiko terkena masalah kesehatan. Bayangkan saja tubuh kita selalu kekurangan oksigen hingga rasanya mengantuk terus dan sulit berkonsentrasi bagaimana bisa produktif kan? Ini kok jadi mirip dengan yang saya alami. Hmm… sepertinya saya perlu juga untuk cek Hb ke dokter.

Ada satu produk dari CNI yang dapat membantu memenuhi nutrisi untuk mencegah anemia yaitu, CNI-Sun Chlorella. Si tablet kecil hijau ini berasal dari ganggang hijau air tawar Chlorella pyrenoidosa. Sebelum menjadi tablet siap minum, dinding sel ganggang hijau dipecahkan dahulu agar kandungannya dapat diserap oleh tubuh.

Kandungan Sun Chlorella
Tidak tanggung-tanggung ternyata meskipun ukurannya kecil Sun Chlorella kaya akan zat gizi  seperti protein, vitamin dan mineral. Selain itu, terdapat juga klorofil yang ternyata dapat meningkatkan produksi sel darah merah sehingga dapat mencegah anemia. Bagi kita yang kadang merasa stress “kok realita rasanya pahit dibandingkan Feed Instagram yang begitu indah” cocok nih mengonsumsi Sun Chlorella sebab kandungan Chlorella Growth Factor (CGF) dapat meningkatkan perbaikan dan peremajaan sel tubuh agar tidak lekas usang karena stress.

Sungguh menjaga kesehatan tubuh itu lebih baik dari mengobati. Kehadiran Sun Chlorella menjadi solusi agar tetap sehat dan semangat menjalani aktivitas serta merealisasikan cita-cita kita.

Jadi, kapan nih buku saya terbit? Mohon doanya yaaa semua supaya saya semangat terus menulis di blog terutama, hahaha… Pastinya saya bakal susun strategi baru untuk mewujudkan cita-cita saya sejak kecil ini sebab dengan menulis kita belajar menangkap momen kehidupan ya kan? 

Full Squad of ISBxCNI







“Kok, kita bisa pipis?”

“Karena kita diberi satu bagian tubuh yang bekerja mengeluarkan pipis, namanya ginjal”

“Ginjal itu kayak apa?”

Sang ibu pun mengambil kertas lalu menggambar dua buah benda yang berbentuk seperti kacang.

“Seperti kacang ini, besarnya seukuran kepalan tangan kita. Nanti jika kamu mau belajar lagi kita bisa pergi ke museum tubuh manusia ya”



Ginjal memang hanya sekepalan tangan (sekitar 10 cm) besarnya. Di balik ukurannya yang begitu kecil terdapat jutaan sel yang bekerja menyaring darah menjadi urin. Selain itu, ginjal juga menjaga keseimbangan garam dan mineral dalam darah serta mengatur tekanan darah dan memproduksi sel darah merah.¹


Fungsi Ginjal sumber: p2ptmkemenkes

Lalu, apa yang terjadi jika sang buah pinggang ini mengalami gangguan?

Gangguan pada ginjal akan menyebabkan timbulnya masalah pada proses pengeluaran cairan (urin) serta turut mengganggu kerja organ tubuh lainnya. Gangguan ginjal menjadi masalah kesehatan yang cukup berat sebab dapat menurunkan kualitas hidup seorang manusia.

Gangguan Ginjal pada Anak

Jika dilihat dari permulaan serangannya terdapat dua jenis gangguan ginjal yaitu, gangguan ginjal akut dan kronis. Gangguan ginjal akut biasanya timbul mendadak dan terjadi dalam waktu singkat. Berbeda dengan akut, gangguan ginjal kronik disebabkan adanya gangguan struktur atau fungsi ginjal dalam waktu lebih dari tiga bulan. Itulah pemaparan dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp. A(K) yang merupakan dokter spesialis Anak divisi Nefrologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RSCM.

Penjelasan selanjutnya dari dokter Eka membuat saya tercengang. Ternyata gangguan ginjal yang lebih banyak dialami oleh orang dewasa pun dapat menyerang anak-anak. Ah, sungguh tidak terbayang bagaimana beratnya tubuh-tubuh kecil itu harus menjalani pengobatan berupa cuci darah dengan menggunakan mesin.

Mesin Hemodialisis


Di Amerika Serikat, sebanyak 9.800 anak mengalami gangguan ginjal kronik pada tahun 2017. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan padahal sebelumnya pada tahun 2015 tercatat ada 1.399 anak mengalami gagal ginjal.²

 Lalu, bagaimana kondisi di Indonesia? Sayangnya, belum terdapat data nasional yang menyeluruh mengenai kejadian gangguan ginjal anak. Meskipun begitu, dari 14 Rumah Sakit Pendidikan yang memiliki Konsultan Nefrologi ditemukan sebanyak 212 anak mengalami gangguan ginjal dan menjalani terapi pengganti ginjal.

Begitu berbahayanya gangguan ginjal pada anak sampai-sampai mereka harus menjalani terapi pengganti ginjal baik berupa hemodialisis ataupun transplantasi ginjal. Di Indonesia sendiri, perawatan hemodialisis anak dengan gangguan ginjal baru terdapat di RSCM, Jakarta. Sepanjang tahun 2007 sampai 2009 sebanyak 150 pasien anak mengalami gangguan ginjal kronik yang mengharuskan mereka menjalani hemodialisis.

Penyebab Gangguan Ginjal Anak

Lantas, apa sajakah penyebab gangguan ginjal anak? Secara anatomi, penyebab gangguan ginjal dapat terjadi ketika darah sebelum masuk ke ginjal (fase pra-renal), saat darah diproses dalam ginjal (fase renal) dan saat urin akan dikeluarkan dari ginjal (fase pasca-renal). Ketiganya menyebabkan gangguan proses penyaringan darah menjadi urin yang dikerjakan ginjal.


Anatomi Ginjal
Dehidrasi dan infeksi menjadi penyebab gangguan pra-renal yang sering terjadi. Sedangkan, glomerulonefritis (peradangan pembuluh nefron), kelainan pada pembuluh darah ginjal serta kerusakan pada struktur ginjal termasuk dalam penyebab masalah pada fase renal. Kelainan bawaan lahir pada saluran kemih dan adanya sumbatan pada saluran kemih merupakan penyebab gangguan ginjal fase pasca renal.

Kedua ginjal menyaring sebanyak 120-150 liter darah selama 24 jam dan menghasilkan sekitar 1-1.5 liter urin per hari. Lalu, bagaimana kita tahu tanda adanya masalah penyaringan sebanyak 180 liter darah ini? Tanda awal adanya gangguan ginjal yang masih ringan memang belum begitu terlihat. Biasanya jika dilakukan pemeriksaan laboratorium akan ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih dan protein pada urin serta adanya darah pada urin. Sedangkan secara fisik akan timbul penurunan produksi urin (BAK sedikit), bengkak pada kedua kaki, anemia, demam, sesak nafas, serta adanya kelainan tulang dan pertumbuhan.

Mendengar uraian ini membuat hati saya diliputi awan mendung. Tak terbayang bagaimana tubuh-tubuh kecil itu merasakan sakit sambil bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan berbagai pemeriksaan. Tak cukup sampai di situ, mereka pun harus menghadapi hari bersama mesin hemodialisis dua kali seminggu.

Oleh sebab itu, tak heran gangguan ginjal pada anak akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan si anak. Selain itu, masalah kesehatan lainnya pun dapat muncul seperti anemia, hipertensi serta gangguan hormon dan elektrolit. Ketika seorang anak sakit, maka kedua orangtuanya pun terkena dampak dari penyakit tersebut. Kecemasan terhadap proses pengobatan dan kondisi finansial keluarga seringkali menghinggapi para orang tua yang memiliki anak dengan gangguan ginjal.

Pada kesempatan ini saya juga bertemu dengan keluarga penyintas (survivor) gangguan ginjal, yang memiliki seorang putri bernama Viara Hikmatunnisa. Keluarga Viara berasal dari Situbondo. Ketika didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodialisis, keluarga ini jauh-jauh pergi ke sebuah RS di Surabaya. Beberapa kali proses hemodialisis ternyata mesinnya memang kurang cocok untuk anak-anak. Sang Ayah pun mencari tahu lagi tempat hemodialisis khusus pasien anak hingga akhirnya keluarga ini menyambangi ibukota menuju fasilitas rujukan utama nasional di RSCM.

Viara dan keluarga

Kondisi Viara berangsur membaik selama proses perawatan di RSCM. Ia pun tetap memiliki semangat yang begitu tinggi untuk sehat. Viara bahkan berani memulai bisnis online-nya walau kondisinya memerlukan hemodialisis.

Viara sedang hemodialisis sambil menggambar

Mendengar langsung kondisi Viara dari cerita Ayahnya sudah cukup membuat saya cemas. Masalahnya gangguan ginjal anak bisa menyerang siapapun yang berisiko. Walaupun tidak selalu dapat dicegah, kita masih bisa mengupayakan beberapa hal untuk menurunkan risiko terjadinya gangguan ginjal pada anak-anak kita. Beberapa hal ini dapat kita upayakan untuk mencegahnya:

1. Cegah dehidrasi pada anak, terutama saat diare atau muntah.
2. Hindari risiko penularan infeksi, termasuk saat kehamilan
3. Orang tua dapat melakukan konseling genetik untuk mencegah penyakit ginjal keturunan
4. Deteksi dini hipertensi dan diabetes pada anak

Kurangi Risiko Penyakit ginjal sumber: P2ptmkemenkes

Adapun bagi anak-anak yang sudah didiagnosis mengalami gangguan ginjal, pencegahan dilakukan untuk menghindari komplikasi dari proses penyakit ginjal yang telah dialami. Hal ini patutnya menjadikan para orang tua untuk lebih waspada terhadap kondisi anak. Terlebih anak balita yang agak sulit diajak minum air putih. Kebutuhan cairan anak di atas 1 tahun adalah sekitar 80-90cc/ Kg BB, misalnya berat anak 3 tahun 14 kg maka kebutuhan cairan adalah sekitar 1210-1260 cc per hari.

Kementerian Kesehatan RI juga semakin giat mengadakan rangkaian kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan ini meliputi sosialisasi informasi tentang gangguan ginjal pada anak; serta pencanangan Gerakan Ayo Minum Air (AMIR). Mengingat kita juga tinggal di negara tropis yang selalu bertemu matahari sepanjang tahun dengan melaksanakan Gerakan Ayo Minum Air kita dapat mencegah risiko gangguan ginjal.

AMIR Ayo Minum Air

“Peningkatan gaya hidup sehat juga perlu dilakukan untuk siapapun baik dewasa maupun anak. Bagi mereka yang sehat Kemenkes mengajak untuk berperilaku CERDIK, sedangkan bagi yang sudah terkena penyakit tidak menular untuk berperilaku PATUH.” terang dokter Cut Putri Arianie, MH.Kes, selaku direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PTM) yang juga menutup diskusi siang itu.

CERDIK PATUH

Sebagai orang tua, saya yakin kita selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Ketika mereka sakit kadang kita ingin sakitnya itu diberikan pada orang tuanya saja. Pengalaman Viara dan keluarganya ini memberikan pandangan baru bagi saya, bahwa kondisi sakit tidak boleh membuat kita putus asa. Terima kasih Viara dan keluarga.
Narasumber

Blogger with Viara






Referensi:
1. Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. CDC. Chronic kidney disease surveillance system: almost 10.000 chldren and adolescents in United States are living with end-stage renal disease [internet] 2017 Jul. Available from: https://nccd.cdc.gov/ckd/AreYouAware.aspx?emailDate=July_2017.

Gambar:
1. Anatomi Ginjal dari Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. Mesin Dialisis dari  https://www.freseniusmedicalcare.com/en/media/news/details/detail/News/fresenius-medical-care-launches-6008-caresystem-a-new-hemodialysis-therapy-system-enabling-better-care-for-chronic-patients/


Sejak ada yang namanya media sosial bernama instagram inilah dimulai pula pengaruh para ibu selebriti memasuki pikiran ibu-ibu biasa ((yang bukan seleb)). Mulai dari stimulus sensori untuk bayi dan anak toddler hingga cara makan pun diikuti oleh ibu biasa. Saya sih tidak merisaukan hal-hal demikian sebab saya enggak follow ibu selebgram tersebut, hahaha.. Jadi, tidak perlu makan hati berulam jantung yhaaa kalau realita dunia peribuan (motherhood) begitu melewati ekspektasi feed IG selebgram. Saya mah woles ae…
Photo by carole smile on Unsplash

Terlalu berat jika kita menginginkan segalanya sempurna, sedang sumber daya baik tenaga, waktu serta  dana yang kita miliki terbatas. Tidak perlu memaksakan diri menjadi yang ideal, menjadi ibu bukan untuk jadi sempurna. Alangkah baiknya kita menjadi ibu yang mencintai diri hingga dapat mengasuh anak dengan bahagia.

Kesempurnaan Ibu itu sejenis camilan apa yha?


Duh! Sepertinya saya bukan termasuk golongan tipe orang perfectionist. Saya lebih cenderung santai dan yaudalah kalau gak bisa seideal gitu, ya udah gapapa. Itulah kebanyakan lintasan di pikiran saya. Tapi semua berubah sejak jadi ibu, haha, andaikan ada camilan bernama kesempurnaan mungkin dulu saya sering makan camilan itu saat Kristal masih bayi.

                                                       Baca juga: Lika-liku Menyusui

Saya memberikan MPASI homemade, bermain sensori dan memberikan segalanya yang terbaik buat anak bayi ini. Setelah setahun, saya lelah mengejar kesempurnaan yang demikian hingga akhirnya saya dan lebih santai terhadap target tumbuh kembang anak. Apalagi dulu jelang usia setahun Kristal belum bisa jalan sendiri, wkwk… awalnya panik eh, akhirnya santai pas tahu patokan normal bisa jalan lancar 18 bulan, ya kan.


 Seiring berkurangnya tekanan dalam pengasuhan, saya makin melihat berbagai ketidaksempurnaan yang saya miliki. Memang benar bahwa manusia makhluk yang diciptakan dengan ketidaksempurnaan. Nah, dengan adanya ketidaksempurnaan inilah yang menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia.

Some kind of my imperfection

Salah satu diantaranya kitdaksempurnaan saya menjadi ibu adalah membacakan buku sambil terkantuk-kantuk sampai berubah jalan ceritanya. Hahaha, beneran deh ini sering terjadi dan lagi-lagi anaknya yang mengoreksi “Kok begitu sih ceritanya” sebab dia sudah tahu dan hafal isi buku yang dibacakan. Selain itu, ditambah dengan ucapan “Bunda mah tidur”. Duh, ini sungguh lawak banget sih emang. Apalagi kalau suami ngeliat adegan ini sambil ketawain saya, sungguh senang hatinya.


“Anak-anak kalau mau cepat besar harus makan sampai habis ya” Ucapan saya ke anak pas waktunya makan. Apakah dengan ini anak selalu menghabiskan makanannya? Yha, tentu tidak... Ada masa makanan yang disediakan habis (kalau dimasakin ayam bakar Taliwang) tapi sering juga makannya enggak habis dan berujung saya yang melanjutkan. Setidaknya anak sudah makan separuh dari porsi yang diberikan deh, sisanya biar saya yang habisin, wkwk… Namun, satu yang bikin saya heran ya, setelah makan yang tidak habis itu dan berkata kenyang. Anak masih bisa minta camilan yak… Itu apa namanya coba kalau bukan ironi gaes? Bilang kenyang tapi masih minta dan muat buat menghabiskan camilan. Sungguh sulit dipahami…


Ada beberapa ibu yang tidak memberikan makanan berupa mie instan dan keluarganya (seperti mie-mie yang dibungkus lalu rebus dan jadi makanan) pada anak balita. Berbeda dengan saya, saya termasuk yang memberikan makanan tersebut. Habisnya kadang kita kan bosan ya sama nasi, jadi bikin aja indom*e goreng atau rebus dengan tambahan sosis atau bakso juga sayuran macam sawi, wortel dan kol. Tapi tenang, saya tidak setiap hari masak mie goreng ini, seminggu sekali biasanya. Jika bosan dengan mie pun kadang saya siapin pasta-pasta-an seperti Fusilli, spageti dan makaroni dengan saus yang diracik sendiri dengan tambahan parutan wortel dan daging cincang didalamnya. Sempurna bagi anak yang kadang menolak sayuran, hahahaa… kena deh.
  
I Love My Imperfections

Bukan manusia namanya kalau sempurna, ye kan? Jadi, dengan penuh kesadaran atas segala ketidaksempurnaan yang saya miliki, saya memilih untuk mencintai ketidaksempurnaan tersebut (((walau banyak))) hee...

#IloveMyImperfections walau banyak ketidaksempurnaanya saya tetap bisa bahagia dengan meluangkan waktu #5MenitAja untuk memakai skin care, hahahaa… Sebuah penyesalan yang mendalam sebab dulu belum terpapar oleh produk perawatan wajah yang dibutuhkan. Akhirnya, diujung usia menuju 30 ini, saya baru sadar akan kekhilafan dan segera memilih skin care yang aman dan cocok di dompet, tsaah.. *KibasDollar




Efek samping jadi ibu adalah kantung mata yang melingkar hitam di bawah mata serta beberapa noda hitam dan juga beberapa kerut halus yang telah tampak di permukaan. Wajah yang segar memang lebih sedap dipandang tapi gimana mau segar kalau tidak dirawat? Tanaman aja layu sebab kekeringan. Nah. makanya saya memilih menyayangi diri dengan #5MenitAja memakai skincare tiap pagi dan malam hari. Menurut saya, merawat kesehatan wajah juga satu bentuk syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan. Bukan berarti gegayaan atau apa ya, tapi saya berharap memberikan tampilan terbaik buat suami akan jadi ladang ibadah juga buat istri di rumah. *bantu aamiin-kan yes..




Me time positif lainnya yang bisa dilakukan #5MenitAja adalah berdoa dengan khusyu setelah salat. Saya banyak banget permintaan yang berharap dikabulkan, salah satunya mendoakan Kristal supaya jadi anak shalihah dan sehat. Saya ingin pada waktu-waktu spesial ini saya semakin kuat untuk menjalankan amanah di dunia setiap harinya dan berharap akhir yang baik di kehidupan nanti.

Kalau dulu pas kecil saya berebutan camilan sama adik-adik saya sedangkan sekarang berebutannya sama anak, hahaha… ampuuun… anak itu kalau udah punya makanan enak, bener-bener enggak mau berbagi ke siapapun yak. Sungguh sedih akutu! Jadi, supaya saya bisa makan camilan dengan tenang cukup dengan #5MenitAja makan diam-diam tanpa diketahui bocah membuat saya senang, haha. Yha, mau gimana lagi, terlebih kalau dia lagi dilarang makan camilan tertentu (semacam ciki, cokelat dan eskrim) daripada anaknya ngiler sampe tantrum mewek-mewek minta, kan mendingan diam-diam yha… Sebab apapun yang lagi dimakan ibu pasti akan dicicip anak dan akhirnya di hak milik oleh mereka. Begitulah kira-kira sepemantauan saya selama ini.

  


Pesan terakhir, *tsaaah… untuk para ibu, take it slow if you have some imperfections. Don’t be hard on yourself. Just love your imperfections the way you love your children with your altruistic love, because you need to be loved too. Menjadi ibu memang terbiasa membuat kita mendahulukan yang lain daripada diri sendiri. Namun, cobalah dengan #5MenitAja ambil porsi kita untuk menyayangi diri sendiri #IloveMyImperfections. Porsi dimana kita memilih melakukan sesuatu untuk diri kita yang lebih bahagia and it's fine!





Suara jantung yang terdengar dari stetoskop kecil ini bukanlah “lub” dan “dub” sebagaimana debaran dari rongga dada kita. Ada suara lain yang menyertai jantung kecil ini ketika memompa. Suara berbisik, suara yang berbicara untuk menyampaikan sesuatu. Sayangnya, suara-suara ini bukan menyampaikan berita baik melainkan sebuah tanda kelainan. Kelainan? Kelainan apa yang dimaksud? Kelainan Jantung Bawaan atau dalam istilah medis biasa disebut Penyakit Jantung Bawaan (PJB). 

Imaged by F. Annisa


Kebahagiaan pasangan yang menjadi orang tua tentu membuncah ketika melihat buah cintanya terlahir dalam kondisi sempurna dan sehat. Namun, siapa yang mengira manusia kecil yang baru belajar bernafas dengan paru-parunya ini harus berjuang lagi melawan kelainan pada jantungnya. 



Hari Jantung Sedunia memang masih sepekan lagi, tapi saya beruntung berkesempatan memahami satu masalah kesehatan jantung lebih mendalam. Saya dan teman-teman narablog menghadiri talkshow “Heart to Heart Risiko Genetik dan Manajemen Nutrisi Penyakit Jantung Bawaan pada anak yang diselenggarakan oleh Nutricia Advanced Medical Nutrition, Danone Indonesia . Tidak tanggung-tanggung, narasumber yang hadir pun begitu mumpuni di bidang kesehatan anak yaitu, dr. Dedi Wilson, Sp.A(K) dan dr. Klara Yuliarti Sp.A(K). Salam takzim saya pada beliau-beliau yang sungguh berdedikasi tinggi berjuang untuk kesehatan anak-anak Indonesia.   


Apakah kamu tahu terdapat 50.000 kasus PJB di Indonesia setiap tahunnya? Bahkan 30 persen kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) ini tidak terdeteksi saat lahir. Masalah kesehatan jantung anak memang kurang populer dibanding masalah infeksi. Nah, inilah kesadaran yang perlu kita bangun, bahwa masalah kesehatan jantung anak pun sama pentingnya dengan penyakit lain. Lalu, apakah sebenarnya PJB ini?


dr. Dedi Wilson Sp.A(K)

Semua yang sudah menjadi orang tua mungkin ingat bahwa jantung anak kita sudah mulai berdetak sejak usianya  6 minggu. Bertambahnya usia kehamilan membuat detak jantung janin makin jelas. Biasanya pada usia kehamilan 10-12 minggu suara jantung janin dapat terdengar saat pemeriksaan USG Fetal Doppler. Nah, kelainan bentuk jantung atau fungsi sirkulasi jantung pada fase awal perkembangan janin inilah yang menjadi cikal bakal PJB dan akhirnya bayi yang lahir pun menderita PJB.

Penyebab pasti dari PJB ini tidak diketahui” jelas dr. Dedi. Beliau pun melanjutkan bahwa hanya ada faktor risiko yang diduga dapat menjadi penyebab terjadinya PJB. Ketiga faktor risiko ini dapat berasal dari lingkungan seperti paparan zat kimia dan radiasi. Lalu, dua lainnya berasal dari janin dan ibu. Misalnya pada janin terdapat kelainan kromosom dan pada ibu terdapat infeksi virus, diabetes, lupus sistemik, obat serta alkohol.

Kelainan kromosom pada janin memang menjadi risiko tinggi. Contohnya 50 persen pada bayi yang terlahir dengan sindrom Down (trisomi 21) biasanya disertai juga dengan PJB. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melakukan deteksi dini PJB pada bayi baru lahir. Pemeriksaan suara jantung, kadar oksigen darah (saturasi), denyut nadi serta ekokardiografi dilakukan untuk deteksi dini kondisi bayi.

Imaged by F. Annisa

Lalu, apakah bisa mendeteksinya saat belum lahir? Sebenarnya bisa dilakukan pemeriksaan Fetal Echo, mengecek kondisi jantung janin dari perut ibu. Namun, pemeriksaan dikhawatirkan kurang akurat sebab banyak bagian yang harus ditembus alat tersebut mulai dari rahim ibu, air ketuban, serta dada janin.

Kalau mendengar istilah jantung bocor mungkin kita akan membayangkan jantung seperti rumah yang atapnya bocor saat hujan turun. Benar, PJB ini mirip-mirip dengan rumah yang kebocoran. Kalau pada jantung normal terdapat empat kamar dengan masing-masing pintu. Lain halnya dengan jantung anak yang PJB, ada sekat yang seharusnya tertutup malah justru terbuka. Sekat terbuka ini menyebabkan darah bersih yang kaya oksigen tercampur dengan darah yang miskin oksigen. Nah, kalau begitu urusan kebutuhan oksigen seluruh tubuh pasti terganggu. Masalah ini yang memberi efek domino untuk pertumbuhan dan perkembangan anak kedepannya.

Jantung Normal dengan 4 ruang




PJB ASD terdapat sekat antar atrium kanan dan kiri di bagian atas Sumber: Stanfordhealthcare


Terdapat lebih dari 34 jenis PJB yang sudah diidentifikasi berdasarkan letak dan tingkat keparahannya. Berdasarkan ciri yang terlihat terdapat dua jenis PJB, yakni non-sianotik (tidak terlihat biru) dan sianotik (terlihat biru pada area bibir, kuku dan kulit).



dr. Klara Sp.A(K)

Kedua jenis PJB ini sama-sama menyebabkan malnutrisi (gangguan nutrisi) pada anak. Misalnya pada anak PJB asianotik, bermasalah dalam berat badan yang sulit naik. Sedangkan, PJB sianotik berpengaruh pada berat badan dan tinggi badan (menjadi stunting) sehingga anak tampak lebih kecil dari anak seusianya. Oleh sebab itu, jika anak dengan PJB tidak mendapat penanganan nutrisi yang baik maka akan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan serta perkembangan.


Penjelasan dr. Klara Yuliarti semakin membuka mata saya. Dokter spesialis anak dengan subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik ini menambahkan bahwa kasus malnutrisi pada anak mencapai 70 persen. Angka ini berarti mayoritas anak dengan PJB mengalami malnutrisi sehingga diperlukan asupan nutrisi yang agresif dan makanan tinggi kalori. Selain itu, pemberian nutrisi langsung ke lambung (enteral) dan pembuluh darah (parenteral) yang tepat serta pemantauan rutin pada grafik pertumbuhan dapat menghindarkan anak dengan PJB dari kondisi yang memperburuk kesehatannya yaitu, malnutrisi dan stunting.


Anak-anak dengan PJB mengalami malnutrisi disebabkan oleh asupan kalori yang tidak cukup, adanya peningkatan kebutuhan energi, infeksi nafas berulang serta kekurangan oksigen. Dampak malnutrisi yang terlihat cepat misalnya kekebalan tubuh menurun, penyembuhan luka yang lama serta memperpanjang lama rawat. Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah gangguan perkembangan kognitif yang permanen. Ini disebabkan 80 persen perkembangan otak terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan atau sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Mencegah malnutrisi pada anak PJB dapat dilakukan dengan memantau berat dan tinggi badan serta melakukan intervensi terhadap masalah nutrisi anak. Selain itu, diperlukan juga pencegahan infeksi bagi anak dengan PJB. Hal ini disebabkan infeksi yang terjadi pada anak PJB dapat berakibat fatal seperti radang selaput jantung (endokarditis). Anak PJB tetap dapat menerima vaksinasi dengan beberapa syarat seperti tidak vaksin 3-4 minggu sebelum atau sesudah operasi serta kondisi khusus pemberian vaksin hidup harus melalui pengecekan kekebalan tubuh dahulu.

Manajemen Pencegahan Malnutrisi  dan Infeksi Anak PJB
  1. Berikan camilan yang mengandung protein, karbohidrat, lemak (bukan buah atau karbohidrat saja) misalnya martabak manis, roti daging, puding susu.
  2. Selalu pantau grafik pertumbuhan (berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala)
  3. Seringkali diperlukan makanan tinggi kalori atau formula medis khusus sesuai indikasi medis.
  4. Hindari tempat yang ramai.
  5. Cuci tangan teratur.
  6. Perawatan gigi yang baik (sikat gigi teratur dan kontrol ke dokter gigi).
  7. Memakai antibiotik sesuai indikasi.
  8. Lengkapi imunisasi yang dianjurkan.
  9. Diskusikan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi anak guna mencegah obesitas dan diabetes melitus

Anak dengan PJB memang istimewa. Keistimewaan inilah yang membuatnya memiliki kekuatan dan cinta dari keluarga serta tenaga kesehatan yang mendukung. Meskipun pulang ke rumah berarti akan ada kontrol ke poliklinik selanjutnya, pengecekan kondisi berikutnya, serta tindakan-tindakan medis lainnya anak dengan PJB sudah menjadi pejuang bersama jantung kecil mereka.


Saya sungguh salut dengan keluarga-keluarga dengan anak PJB yang tergabung dalam Little Heart Community (LHC). Mendengar cerita teman-teman dari komunitas ini sungguh membuka pikiran saya bahwa begitu besar perjuangan anak-anak PJB untuk tetap sehat. Pada pertemuan ini pun saya memahami kesadaran untuk mencegah malnutrisi pada anak PJB memang perlu ditingkatkan, tidak lain adalah demi masa depan anak-anak ini.

Terima kasih wahai pemilik jantung-jantung kecil,
Kalian adalah bukti bahwa cinta, kekuatan dan doa dapat mengubah segalanya.
Bahwa jantung-jantung titipan Allah ini adalah bukti kekuasaannya.
Semoga anak-anak dengan PJB nantinya dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.







Referensi Gambar:
https://stanfordhealthcare.org


"A happy wife is a happy life"
― Gavin Rossdale


Istri yang hatinya bahagia akan membuat kehidupan bahagia juga. Apalagi jika para istri ini juga berperan sebagai ibu, tentunya anak membutuhkan ibu yang bahagia bukan yang sempurna. Terkadang tanpa disadari sejak peran kita berubah menjadi peran ganda, ada banyak pelajaran hidup yang kita dapat. Bagi saya, berperan menjadi istri dan ibu, memberikan pengalaman hidup yang tak terkira. Setiap waktu selalu ada kejutan yang siap menanti.







Ketika memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, saya dan suami sepakat bekerjasama dalam urusan domestik. Mulai dari belanja ke pasar atau tukang sayur dekat rumah, memasak serta mengurus tumpukan cucian yang sudah memuncak. Perkara pengasuhan anak, kami telah sepakati untuk mengasuh bersama, karena kamilah orang tuanya.

Sepanjang hari beraktivitas di rumah, seorang ibu juga bisa berisiko stress. Apa sebabnya? Ya tentu saja pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran ditambah lagi para ibu di rumah juga berisiko terkena gaya hidup tidak sehat seperti makanan tidak sehat serta kurang berolahraga. Oleh sebab itu, penting bagi para ibu di rumah tetap menjaga gaya hidup sehat setiap harinya. Kalau saya memilih aktivitas fisik (olahraga) di rumah bermodalkan matras dan video instruktur workout selama 30 menit.

Setelah rutin olahraga 5 kali seminggu tubuh terasa lebih segar. Biasanya yang mudah lelah sekarang tubuh lebih fit. Beberapa hari di awal pekan bulan Juli, saya mengecek jadwal tamu bulanan yang sepertinya datang agak terlambat. Ah, saya pikir biasa terlambat 3 hari, mungkin faktor kelelahan saja. Lima hari menunggu, ternyata tidak datang juga. Saya berpikir akan kemungkinan hamil. Segera saja, minta tolong suami membeli testpack di apotik. Pagi hari, 15 Juli hasil testpack menunjukkan dua garis! Alhamdulillah, saya hamil kedua.


Keharuan pagi hari ini tanpa sadar membuat air mata saya meleleh. Dulu saya sempat berencana untuk memberikan jarak empat tahun untuk anak kedua dan sekarang saya diberikan kesempatan itu. Sungguh jadi kejutan besar bagi saya. Terlebih lagi saya tidak merasakan mual ataupun muntah sejak awal. Dengan begitu, saya tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa hanya saja lebih berhati-hati.

Semuanya baik-baik saja, sampai dua hari sebelum upacara hari kemerdekaan saya mendapati ada perdarahan yang keluar. Segera saya menghubungi suami untuk bertemu di rumah sakit. Khawatir terlalu lama pergi, saya meminta tolong kepada tetangga untuk menjaga Kristal selagi saya ke rumah sakit.

Alhamdulillah, setelah diperiksa janin yang masih kecil itu lengkap dengan kantungnya. Dokter menyarankan untuk beristirahat dan meminum obat yang telah diresepkan. Setelah minum obat teratur dan istirahat, darah masih keluar. Puncaknya pada hari Senin, dua hari sebelum IdulAdha saya merasakan darah yang keluar bertambah banyak. Selain itu, perut pun terasa agak sakit, berbeda dengan hari sebelumnya yang tanpa rasa sakit. Segera saja sore itu juga saya meminta suami pulang dari kantor untuk bersiap-siap menuju rumah sakit.

Kami langsung menuju IGD, dokter dan perawat segera memeriksa saya. Setelah diminta cek urin, saya pun dirujuk ke dokter spesialis kandungan yang sedang praktik di poliklinik. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ukuran janin kurang sesuai dengan usia kehamilan. Dokter pun mendiagnosa kehamilan saya sebagai suspect blighted ovum.
Mendengar penjelasan dokter dada saya terasa perih. Harapan memiliki anak kedua, pupus sudah. Dokter pun meminta saya kembali beristirahat dan melanjutkan pengobatan.
"Kita tunggu seminggu lagi untuk melihat perkembangan janin ya, tetapi jika perdarahannya makin banyak atau lebih lama dari menstruasi, ibu segera periksa ke sini" ujar dokter kandungan.

Lima hari setelahnya, saya masih mengalami perdarahan. Berarti sudah lebih dari waktu normal yang menandakan saya perlu segera memeriksakan diri ke dokter kandungan lagi. Sabtu malam akhirnya saya kembali diperiksa melalui USG. Hasilnya, janin dan kantung kehamilan sudah tidak ada. Rahim saya kosong, tanpa kehidupan janin didalamnya.


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Seketika pikiran saya hampa, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sambil menunggu pembayaran, saya duduk dengan mata berkaca-kaca berusaha menahan tumpahan air mata. Bermodalkan senyuman getir, saya menghampiri kasir rumah sakit dan menuju lobi rumah sakit sambil merapal ampunan pada Allah.

Begitulah kehidupan ada bahagia ada duka. Semuanya telah tertulis, selanjutnya bagaimana saya mengelola duka ini agar lekas pulih.

 “Don't cry because it's over, smile because it happened.”
― Dr. Seuss

Tetap #AsikTanpaToxic pasca kehilangan

Awalnya rasa kehilangan ini begitu menyesakkan dada. Seluruh langit harapan itu terguncang dan runtuh, rata dengan bumi. Saya pun menyadari jika stress ini todak dikelola dengan baik dapat menjadi racun bagi fisik dan jiwa. Syukurlah, saya memiliki dukungan dari suami dan keluarga, ini menjadi safety net saat kondisi sedang lemah. Selain itu, saya juga kembali melakukan aktivitas harian untuk mengatasi stress pasca kehilangan.

Kesedihan dan kebahagiaan selalu dipergilirkan dalam hidup. Itu sudah menjadi hukum alam, bahwa memang hidup ini bagai roda yang kadang berada di atas atau di bawah. Kebahagiaan tidak selamanya, sedangkan kesedihan juga bukan akhir segalanya. Saya mulai membenahi pikiran yang kusut dengan kembali menulis. Bagi saya menulis adalah satu cara mengatasi stress.

Saya pun mengatur ulang lagi kurikulum pendidikan sekolahrumah bagi Kristal. Saya sering mendapat pertanyaan mengenai putri saya, apakah sudah sekolah?. Sejak tahun 2018, saya dan suami memang sepakat untuk mendidik anak langsung di rumah alias sekolahrumah atau yang populer dikenal sebagai Homeschooling (HS). Pada dasarnya sekolahrumah adalah model pendidikan yang prosesnya langsung dalam tanggung jawab keluarga sendiri. Jadi, meluruskan anggapan yang kurang tepat mengenai HS yang dianggap sebagai institusi/ lembaga.



Saya kembali mempelajari metode pendidikan anak dari beberapa sumbernya. Saya berdiskusi langsung dengan praktisi HS senior dengan anak yang sudah memasuki jenjang perkuliahan. Pengalaman beliau-beliau ini menjadi harta karun tersendiri bagi saya yang baru memulai praktik HS. Selain itu, saya pun membaca kembali buku-buku parenting di rumah. Saya berharap dapat makin banyak belajar untuk mempersiapkan HS di rumah.

 




Wacana berolahraga pun masuk dalam daftar aktivitas saya kembali. Ditemani dengan NATSBEE Honey Lemon, saya bisa #AsikTanpaToxic menjalani hari-hari bebas stress. Stress yang terlalu lama akan berefek pada kondisi fisik yang tentunya akan mengganggu kesehatan tubuh.¹ Saya bersyukur ada  Natsbee Honey lemon, minuman madu lemon yang rasanya enak dan kaya akan vitamin C yang dapat menjaga kekebalan tubuh.

Pengalaman kehilangan ini sempat membuat stress sehingga kekebalan tubuh menurun. Berdasarkan riset, perasan air jeruk lemon merupakan sumber terbaik dari vitamin C, sedikit vitamin B dan Kalium.² Kandungan vitamin C yang berlimpah pada lemon membantu kerja sistem kekebalan tubuh melawan seumber penyakit.


Photo by rawpixel on Unsplash

Sedangkan madu, telah diteliti dapat mengurangi batuk dan meningkatkan kualitas tidur pada anak-anak.³ Selain itu, madu merupakan salah satu bahan pangan yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Konsumsi antioksidan juga dikaitkan dengan aktivitas penghambatan terhadap kanker, jantung koroner, radang,proses degenerasi saraf, dan penuaan.⁴ Wah, kalau begini sudah pasti kombinasi menjadi satu minuman dapat menjaga kesehatan tubuh.



Photo by Hunter Trahan on Unsplash


Kombinasi madu dan lemon begitu menyegarkan

Nah, sekarang tidak perlu repot lagi memeras lemon dan mencari madu murni untuk meracik minuman madu lemon karena ada Natsbee Honey Lemon. Minuman madu lemon ini mengandung 100% vitamin C sehingga cocok bagi untuk bersihkan hari aktifmu melawan stress dan polusi. Ditambah lagi kandungan antioksidan dari kandungan madu yang terbukti bermanfaat mencegah proses degeneratif tubuh.


Natsbee menemani HS Kristal



Saya pun telah merasakan sendiri kesegaran Natsbee Honey Lemon. Di sela aktivitas HS Kristal dan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, kehadiran minuman madu lemon ini menjadi immune booster ketika hampir kewalahan dengan pekerjaan. Di dalam Natsbee Honey Lemon, saya mendapatkan manfaat madu dan lemon sekaligus. Dengan begitu, tubuh tetap fit dan saya bisa beraktivitas #AsikTanpaToxic.


Rasa manis dari Natsbee Honey Lemon didominasi oleh madu. Inilah yang membuatnya terasa madu banget. Minuman madu lemon memang cocok bagi mereka yang kurang berselera dengan manisnya gula tebu. Kristal yang sudah menjadi penggemar madu sejak lama begitu menyukai rasa Natsbee Honey Lemon, begitu pun saya.

Setiap pengalaman hidup membuat kita selalu belajar. Rasa sedih ketika kehilangan itu normal, alangkah baiknya jika kita dapat mengelola stress pasca kehilangan itu dengan baik. Ada satu pernyataan yang membuat saya lebih lega.

Be sad and joyful. It is okay to feel sad at times but the key is to not let it control you. Others have survived their grief, and in time you will too. Do enjoyable things because laughter and joy are healers. Remember that celebrating bits of joy doesn’t dishonor your loss.

Sebab hidup masih berlanjut dan saya masih memiliki harapan-harapan lain yang perlu diusahakan. Berlarut-larut dalam kesedihan tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi, lebih baik menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat baru agar hidup makin #AsikTanpaToxic.

“If you want to be happy, do not dwell in the past, do not worry about the future, focus on living fully in the present.”
― Roy T. Bennett, The Light in the Heart







Referensi:
1. Stress symptoms: Effects on your body and behavior. 2016. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-symptoms/art-20050987

2. Lemon juice, raw nutrution Facts & Calories. http://nutritiondata.self.com/facts/fruits-and-fruit-juices/1938/2

3. Goldman, R. D. (2014). Honey for treatment of cough in children. Canadian Family Physician, 60(12), 1107–1110. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4264806/

4. Chayati, I dan Isnatin Miladiyah. 2014. Kandungan Komponen Fenolat, Kadar Fenolat Total dan Aktivitas Antioksidan Madu dari beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Media Gizi Mikro Indonesia. http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/mgmi/article/view/3872




Gambar diperoleh dari Unsplash.com dan dokumentasi pribadi.


Anak dan kebutuhan bermain

Bermain adalah dunianya anak-anak. Anak-anak selalu senang diajak bermain.  Bahkan sejak lahir pun mereka sudah memiliki kebutuhan bermain. Coba ingat-ingat waktu bayinya anak kita, cukup diajakin main ci luk ba aja udah ketawa kegirangan.

Bermain menjadi sarana anak untuk belajar. Oleh sebab itu, mainan dan kebutuhan bermain anak ibarat smartphone dan kuota (lol) saling membutuhkan. Kuota tanpa hape buat apa, hape tanpa kuota pun tak berdaya. Itu mah ibarat aja ya, walau mirip-mirip dikit sih. Satu hal lagi anak yang usia 3 tahun ke atas itu pasti enggak pernah diam dan melamun, dia seringnya bermain mainan atau sesuatu yang menurutnya bisa dijadikan mainan seperti centong nasi misalnya.



Asal muasal mainan di rumah
Anak diajak ke mal lalu lewat di depan toko mainan pasti dia berhenti terus masuk, keliling eh, tahu-tahu main ambil aja terus dikasih ke emaknya.. lhaa... Emak pusing yang bayarnya.

Sejak jadi orang tua, biasanya kita jadi senang belanja mainan anak. Mulai dari boneka, mobilan, atau bela-belain ikutan arisan aneka mainan edukatif yang lagi rame. Kadang juga, anak dapet mainan dari kakek nenek atau om tantenya. Nah, kalau ini mah sudah pasti tak terelakkan lagi sebab bagi anak menerima mainan sebagai hadiah adalah hal yang paling membahagiakan. Sayangnya, kalau kebanyakan mainan yang menumpuk juga kan jadi bikin interior rumah emak gak instagram-able lagi, wkwk..

Ada satu lagi asal mainan yang dibuat sepenuh hati oleh orang tua di rumah. Hati yang berdesir ketika melihat ide-ide DIY mainan di pinterest bener-bener bikin hati emak serasa jadi emak terbaik. Nyari bahannya di rumah, gunting kertas, ngelem ini itu terus taraaa... Jadi deh mainan bikinan sendiri buat anak, seketika merasa bahagia bagai atlet peraih medali emas Asian Games, eh. 


Ekspektasi vs Realita
Niat hati mengajak anak main gunting aneka pola. Pola sudah dicetak, gunting disiapkan lalu diberi contoh cara menggunting. Anaknya malah membungkus gunting pakai kertas polanya. Duh ya, jadi gemas antara emak kecewa tujuan main jadi batal sama kelakuan anak yang begitu bebas dan kreatif bungkus gunting kek nasi uduk habis itu dibilang "bunda mau beli apa lagi?" Atau tiba-tiba anak berinisiatif sendiri ambil manik berwarna dan mangkuk, lalu bermain sorting color sendiri, tanpa diajak atau diminta, ajaib kan.. wkwkw


Ambil sendiri, main sendiri, insiatif sendiri

Anak-anak mah gitu kok emang, bebas... Apa aja yang bagi kita bukan mainan bagi mereka bisa jadi mainan yang menyenangkan hati. Seperti Kristal dulu senang banget sama plastik kresek. Semua jenis plastik kresek dari yang hitam sampai merk indom**et diisiin mainannya. Apa aja masuk ke dalam plastik mulai dari pensil, kartu, kertas, jepitan, tempelan kulkas sampai boneka. Katanya, "ini belanja Bun" iya nak iya. Di waktu lainnya, dia iseng menyusun benda-benda layaknya pink tower Montessori (waktu itu emak belum bikin Pink Tower). Sungguh kubangga padamu nak, memberdayakan apapun jadi mainan!


Mainan anak
Menara Segala Rupa, coba tebak apa aja yang ada? haha..

Setelah sekian purnama rencana bikin, akhirnya jadi juga.




Bermain memang hakikatnya adalah hak anak. Ini bahkan tertuang dalam peraturan PBB bagian Hak Asasi Manusia.¹ Iya, sepenting itu bermain sampai menjadi hak asasi anak *langsung berasa zalim kalau melarang anak main, duh ya...

Persatuan dokter spesialis anak di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa bermain sangat penting untuk perkembangan kognitif, fisik sosial dan emosional anak dan remaja. Bermain juga dapat menjadi kesempatan bagus bagi orang tua untuk membangun ikatan dengan anak-anaknya.² Nah, ini yang kadang kita lupa sebagai orang tua. Anak butuh juga kehadiran jiwa dan raga orang tuanya saat bermain bersama.

Senang kalau ketemu perosotan di mal, langsung ngacir

Tak bisa dipungkiri kehadiran smartphone di tangan orang tua kadang menjadi sekat antara kita dan anak kita. Walaupun raga kita menemani mereka bermain tetapi jiwa dan pikiran kita seringkali menerawang jauh ke dunia maya yang bertempat di berbagai media sosial, feed Instagram, Facebook, grup chat teman-teman dan lainnya. Justru saat bermain bersama itulah, anak-anak akan membentuk memori tentang kita, orang tuanya. Lantas, memori seperti apakah yang ingin kita bangun bersama anak-anak kita?

Menjadi orang tua kadang membuat kita merasa kehilangan waktu kita sendiri. Terlebih bagi orang tua dengan anak-anak balita hingga usia sekolah yang begitu cepat merasa exhausted. Kita mungkin lelah, ingin rehat sejenak setelah 24 jam setiap harinya berkutat dengan anak. Boleh melakukan itu, jika dengan rehat sejenak kita kembali lagi mengasuh anak-anak dengan lebih semangat.

Bermain dengan anak bukan sekedar menemaninya dengan gawai di tangan kita dan anak bermain sendiri. Lalu, ketika anak berbicara kita hanya menjawab "iya, ya dek" tanpa ada kontak mata, sebab kita terlalu sibuk melihat dunia yang lain. Kalau diperhatikan lagi, anak mah enggak perlu mainan yang macam-macam (mahal/ DIY atau apalah), satu hal yang pasti mereka akan lebih bahagia jika bermain bersama jiwa dan raga orang tuanya.


Ikatan, itulah yang dirasakan anak ketika bermain bersama orang tua. Mainan apapun hanya sebagai sarana. Kitalah, orang tuanya yang membangun ikatan itu, menguatkan ikatan itu tiap harinya dengan kontak mata, pelukan, ucapan sayang pada anak-anak.

Ada satu iklan yang mengambil latar dari sudut pandang anak dan orang tua. Saya sampe baper nontonnya, beneran meskipun Kristal belum segede anak-anak di video ini. Ketika para ibu dan ayah ditanya "kapan waktu favorit Anda?" maka ibu dan ayah menjawab dengan penuh keyakinan bahwa waktu favoritnya adalah melakukan hobi tanpa kehadiran anak. Lalu, saat anak ditanya hal yang sama apa jawabannya? Coba lihat sendiri...



Anak sungguh menganggap orang tuanyalah dunianya. Sumber kebahagiaan mereka. *ngetik sambil baper beneran abis ngelihat reaksi ibu, ayah yang pada baper juga lihat jawaban anak-anaknya, huhu....


Kalau yang ini anak-anak ditanya mau melakukan apa sama orang tuanya. Jawabannya lagi-lagi begitu sederhana, ingin melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Ya, waktu bersama ayah dan ibunya sepenuhnya untuk mereka agar menjadi memori indah, sebab orang tua adalah dunianya anak-anak. Yuk, bermain dengan anak sepenuh jiwa dan raga kita sebagai orang tua! Bermain bersama anak akan membuat anak-anak kita membangun memori indah dan membahagiakan bersama orang tuanya.

Salam mainan dan bermain!







Referensi:
1. Ginsburg, Kenneth R. and the Committee on Communications, and the Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health. Published online January 02, 2007. PEDIATRICS Vol. 119 No. 1 January 01, 2007 doi: 10.1542/peds.2006-2697

2. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. Convention on the Rights of the Child. General Assembly Resolution 44/25 of 20 November 1989. Available at: http://www.unhcr.org/protection/children/50f941fe9/united-nations-convention-rights-child-crc.html