Showing posts with label kesehatan anak. Show all posts
Showing posts with label kesehatan anak. Show all posts
Memangnya, anak HS dapat imunisasi juga?

Lah, kenapa enggak? Kan tetap masuk haknya di usia sekolah dapat imunisasi kayak anak-anak sekolah biasa



Mungkin sebagian keluarga homeschooler yang lebih dulu praktik sudah lebih paham kondisi anak-anak HS. Bagi yang baru seperti kami memang harus aktif cari informasi sana-sini tentang imunisasi usia sekolah. Saya juga baru ingat pas kelas satu SD itu dapat imunisasi di sekolah dan dapat surat yang warna kuning terus dibawa pulang untuk ditandatangani orang tua. Jadilah, saya bertanya-tanya bagaimana ya supaya anak HS bisa vaksin juga dengan gratis karena masuk program pemerintah.




Jelang akhir tahun, di bulan November 2021 kami sudah menjalani homeschooling tingkat setara sekolah dasar selama enam bulan dan sudah terdaftar di PKBM. Saya pun tanya dengan teman-teman se-PKBM, berdasarkan pengalamannya bisa datang langsung ke puskesmas terdekat, bilang aja mau vaksin anak sekolah. Selain itu, ada juga teman lain yang mengatakan vaksin anak-anaknya sendiri di poli dokter spesialis dengan biaya sendiri tentunya.


Alhamdulillah saya ada teman yang bekerja di puskesmas jadi bisa langsung tanya perihal vaksin anak sekolah yang homeschooling. Ternyata memang masuk dalam cakupan program vaksinasi wajib dari pemerintah.

vaksin anak homeschooling
Jadwal Imunisasi anak SD

Tahun 2021, saya masih tinggal di Depok, jadi saya segera mengkonfirmasi puskesmas terdekat. Alhamdulillah, sejak covid jadi ada kontak WA puskesmas yang bisa ditanya tentang imunisasi. Katanya puskesmas nanti mulai imunisasi anak sekolah di bulan Desember dan bisa datang langsung cukup bawa kartu identitas anak.

Akhirnya, kami datang ke puskesmas, mendaftar untuk imunisasi anak sekolah. Setelah di ruangan vaksin, petugas kesehatan bertanya kelas berapa, sekolahnya dimana? Saya jelaskan anak kelas satu SD dan homeschooling. Petugas langsung oke dan menjelaskan vaksin yang akan disuntikkan itu dua kali, di tangan kanan dan kiri. Setelah selesai, petugas memberikan kartu imunisasi dan menuliskan vaksin yang diberikan sesuai usia anak saya.

Kartu Imunisasi si Kaka


Kartu Imunisasi


Alhamdulillah, semudah itu pengalaman kami imunisasi untuk anak HS. Jadi, mungkin bagi teman-teman HS lain yang anaknya masuk usia imunisasi boleh dicek dulu ke puskesmas di tempat tinggal. Ada kenalan lain, yang juga mau vaksin anaknya malah di ‘pingpong’ katanya harus ke PKBM terdaftar dan seperti dipersulit.

Saya penasaran tentang peraturan imunisasi ini, apakah memang anak HS tidak bisa imunisasi? Akhirnya, saya cari di google tentang peraturan imunisasi anak sekolah dan keluarlah peraturan dari website Kemendikbud. Bisa diunduh sendiri di sini. Ternyata memang imunisasi ini diperuntukkan bagi anak usia sekolah di pendidikan formal maupun bagi anak usia sekolah di pendidikan non-formal atau dari peraturan itu tidak bersekolah. Semuanya berhak dapat imunisasi sesuai usia dan gratis dari pemerintah.
imunisasi anak SD
Imunisasi untuk semua anak

Tahun 2022 saya pindah ke Bandung dan sudah siap-siap untuk cari info imunisasi anak SD kelas dua. Bulan November 2022, saya coba mengontak puskesmas terdekat dulu, menanyakan untuk imunisasi anak sekolah, kelas 2. Petugas pun mempersilakan saya untuk datang di hari khusus vaksin anak, cukup membawa kartu identitas anak.

Kami datang ke puskesmas di Bandung, mendaftarkan diri untuk imunisasi anak dan mengantre untuk dipanggil petugas. Saat di dalam, mungkin karena sudah hampir lewat waktunya, petugas menanyakan ke saya, “Kok baru sekarang? Kemarin kemana gak di sekolah?” 

Saya jawab saja sambil senyum, “Iya, ini homeschooling bu”. Petugasnya bertanya kelas berapa dan menyiapkan vaksin. Saya diminta menulis data anak di lembaran yang sudah hampir penuh dengan nama anak sekelas. Saya juga tidak diberikan catatan vaksinasi di kartu imunisasi yang saya sudah perlihatkan.

Memang perlu modal berani karena sebagai orangtua homeschooler kita sendiri yang menjadi advokat bagi kebutuhan anak ya. Berbeda dengan sekolah yang normalnya apa-apa akan diinfokan dari pihak sekolah atau guru. Oleh sebab itu, jadilah proaktif mencari info-info untuk kebutuhan kesehatan anak-anak kita sendiri. Jika teman-teman ada yang mungkin kesulitan imunisasi, mungkin saat datang ke puskesmas bisa menunjukkan peraturan imunisasi dari kemendikbud di atas. InsyaAllah, semuanya valid dan kita bisa meminta imunisasi untuk anak-anak Homeschooler.











Apakah yang terbayang dalam benak kita bahwa ada anak yang terlahir dengan berat sekitar 500 gram? Ya, beratnya nyaris sama dengan berat sebotol air mineral yang biasa kita beli saat kehausan. Lengannya begitu kecil sehingga merasa agak kesulitan untuk menggerakkan lengannya sendiri karena tak cukup kuat. Dadanya bergerak naik turun bagaikan haus akan oksigen, agak sulit baginya untuk bernafas sendiri.

Begitulah kondisi fisik anak prematur yang baru saja lahir. Anak prematur merupakan anak yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Banyak kemungkinan, anak bisa lahir di usia 8 bulan, 7 bulan bahkan kurang dari itu seperti 26 minggu atau 6 bulan. Kondisi ini menyebabkan fisiknya berbeda karena memang organ tubuhnya belum cukup matang, belum bisa berfungsi normal selayaknya anak yang lahir cukup usia kehamilan. 

                                


Tentu saja tubuh anak mungil ini membutuhkan penanganan khusus dan perawatan di rumah sakit setelah lahirnya. Ini bisa menyebabkan timbulnya rasa cemas bagi kedua orangtua dari anak prematur. Terlebih lagi menurut data World Health Organization (WHO) dari 10 kelahiran anak terdapat 1 anak terlahir prematur. Jadi, setiap tahunnya di dunia diperkirakan sebanyak 15 juta anak lahir dalam kondisi prematur.

Kondisi lahir prematur ini turut menjadi perhatian bagi dunia kesehatan anak. Setiap tanggal 17 November ditetapkan sebagai Hari Prematur Sedunia atau World Prematurity Day (WPD). Adapun tema yang diusung di Hari Prematur Sedunia tahun ini yaitu ‘‘A Parent's Embrace: A Powerful Therapy” atau bermakna Pelukan Orangtua: Terapi Terkuat.

Dalam rangka memperingati hari istimewa bagi anak dan keluarga dengan anak prematur Danone Specialized Nutrition Indonesia menyelenggarakan edukasi melalui webinar bertopik “Peran Orang Tua untuk Dukung Anak Prematur Tumbuh Sehat dan Berprestasi”.

Webinar ini menghadirkan pembicara yang ahli di bidang kesehatan anak prematur yakni Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatologi. Webinar juga dihadiri oleh Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia dan Irma Gustiana Andriani, S.Psi., M.Psi selaku Psikolog Anak dan Keluarga serta seorang ibu dari anak lahir prematur yang akan membagi pengalamannya mengasuh sang anak.

Narasumber Bicara Gizi World Premature Day 2022

Berbagai Cara Mendukung kesehatan dan mengasuh anak lahir prematur

Bapak Arif Mujahidin mengungkapkan pentingnya peran orangtua dalam perawatan sejak dini pada anak lahir prematur. Setiap anak yang lahir baik prematur atau pun cukup bulan memiliki hak yang sama untuk bisa tumbuh sehat dan terpenuhi semua kebutuhannya baik fisik, emosi, dan kasih sayang. Oleh sebab itu, orangtua berperan penting untuk memberi asupan nutrisi anak lahir prematur dan juga perawatan sesuai kebutuhan anak sehingga hal ini akan membuat anak lahir prematur dapat tumbuh optimal.

Pembahasan mengenai pemantauan kesehatan anak prematur disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K). Prof. Rina menjelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak ini harus dipantau karena termasuk dalam kategori risiko tinggi. Khususnya anak prematur yang mempunyai risiko serta tantangan yang berbeda dibandingkan anak-anak yang lahir cukup bulan.

Prof. Rina menjelaskan terdapat empat hal yang perlu diperhatikan dalam tumbuh kembang anak prematur diantaranya:

1.    Physical Health (Kesehatan fisik)
Masalah yang timbul pada anak lahir prematur bisa sangat bermacam-macam, kondisi pernapasan yang sulit dan ketergantungan pada oksigen terjadi akibat paru-paru yang belum mampu berfungsi. Anak prematur juga berisiko mengalami gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran. Sehingga orangtua harus melakukan pemeriksaan sedini mungkin. Selain itu, anak bisa berisiko mengalami gangguan pertumbuhan atau stunting. Inilah alasan mengapa pertumbuhan anak perlu dipantau dengan pengisian grafik pertumbuhan berdasarkan berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala serta pemantauan aspek perkembangan anak.

2.    Learning and Cognition (Fungsi belajar dan kognitif)
Kemampuan kognitif dan bahasa anak lahir prematur harus distimulasi agar anak mampu mencerna informasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini akan memengaruhi keterampilan pra sekolah dan kemampuan belajar anak di masa depan

3. Mental Health (Kesehatan jiwa)
Efek dari kelahiran prematur pada perilaku, kemampuan bersosialisasi, fungsi keseharian dan adanya gangguan perilaku seperti menarik diri dan keterlambatan bicara jelang awal usia 2 tahun bisa menjadi indikasi masalah autisme.

4. Quality of Life (Kualitas hidup)
Kualitas hidup mencakup pemenuhan fungsi aktivitas sehati-hari serta perasaan berharga (self esteem) anak. Kedua hal ini perlu diperhatikan orang tua dan orang-orang di sekitar agar anak memiliki kualitas hidup yang baik dan terpenuhi kebutuhannya. 


Anak prematur lahir dengan berat badan yang berbeda dengan anak cukup bulan. Jadi, targetnya bukan menjadikan anak itu sekedar gemuk atau bertubuh besar saja melainkan bagaimana caranya menjadikan berat anak prematur dari 500 gram saja menjadi semakin ideal seiring dengan pertambahan usianya. Ini menjadi tugas dokter dan tenaga kesehatan. Berat badan anak prematur tidak perlu terlalu cepat naik, yang terpenting beratnya naik memenuhi grafik pertumbuhan.

Oleh sebab itu, pemantauan anak yang lahir dalam kondisi berisiko tinggi harus terus dilanjutkan hingga usia 18 tahun. Ketika memasuki usia remaja, seorang anak tetap termasuk anak yang perlu diperhatikan kebutuhan dan perkembangannya. Jadi, orang tua tidak berhenti sampai perawatan anak selesai atau sampai usia 2 tahun saja, bahkan sampai anak memasuki usia dewasa agar bisa berkembang menjadi manusia yang unggul.

Psikolog Irma Gustiana Andriani, S.Psi., M.Psi. menyampaikan bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi dari faktor genetik (nature) dan lingkungan (nurture). Faktor lingkungan yang berpengaruh diantaranya kondisi gizi, stimulasi serta kualitas pengasuhan dari lingkungan.Psikolog Irma menjelaskan saat orangtua melakukan stimulasi maka akan otak anak akan terpicu untuk membentuk sambungan baru antar sel-sel otak (sinaps). Jika semakin dirangsang dengan maka akan semakin kuat sinaps antar sel-sel otak. Oleh sebab itu, hal ini dapat membuat tumbuh kembang anak prematur secara kognitif pun meningkat. Anak-anak perlu diberi kesempatan mengeksplorasi diri dalam mencoba hal baru. Ini dapat dilakukan orangtua agar dapat banyak sel saraf yang tersambung secara kuat dan kompleks.

Psikolog Irma juga menyebutkan ada 6 cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mendukung potensi anak prematur. Berikut ini hal-hal yang bisa dimulai sedini mungkin oleh orangtua anak prematur:
  1. Kondisi anak prematur yang tidak biasa membutuhkan pemantauan khusus dan berkala oleh dokter. Orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan solusi dan mengatasi masalah kesehatan yang dialami putera-puterinya.
  2. Selain memantau kondisi fisik anak, orang tua juga perlu meningkatkan imunitas anak prematur untuk menurunkan risiko gangguan kesehatan yang bisa terjadi
  3. Orangtua bisa membantu anak menemukan tanda awal potensinya. Perhatian pada kebiasaan dan minat anak dapat membuat orangtua mampu memotivasi anak untuk eksplorasi diri dan mendorong kreativitasnya.
  4. Penting bagi orangtua untuk menumbuhkan percaya diri anak. Hal ini dikarenakan anak begitu rentan terhadap rasa tidak percaya diri. Caranya adalah dengan memberikan kasih sayang, tidak memberikan label tertentu padanya, terus memotivasi anak untuk mau mencoba, serta apresiasi setiap usahanya saat melakukan hal sekecil apapun.
  5. Modifikasi kegiatan dan terapi dapat dilakukan orangtua dalam melatih aktivitas harian anak. Anak yang lahir prematur mungkin mengalami beberapa hambatan, namun mereka tetap bisa bereksplorasi agar potensi anak bisa berkembang optimal.
  6. Bagi orangtua sangat penting untuk dapat menjaga kualitas emosi. Orangtua yang terampil mengelola emosi akan lebih baik dalam mengoptimalkan kemampuan tumbuh kembang anak.

Orangtua yang lebih dulu mampu mengelola emosinya akan membuat anak tetap berada dalam hubungan yang aman dan nyaman. Sehingga kondisi anak yang prematur tidaklah jadi penghalang untuk anak dapat tumbuh sehat dan berprestasi. Menurut WHO, semua anak berhak mendapatkan makanan bergizi, memiliki tubuh sehat dan berkembang optimal serta hak untuk mendapatkan kesamaan. Inilah tugas orangtua dan orang dewasa dalam pengasuhan untuk memenuhi hak anak dan mendukung tumbuh kembang anak lahir prematur maupun anak lahir normal agar bisa tumbuh sehat dan berprestasi.



Salah satu anak lahir prematur yang dapat tumbuh sehat berprestasi ada pada puteri Ibu Desi Fatwa yang bernama Benazir Shahnaz Alqori yang biasa disapa Shahnaz. Ibu Desi menceritakan di usia kandungan 25 minggu Shahnaz lahir dengan berat badan 529 gram. Ia tumbuh dengan perawatan khusus di rumah sakit dan pemantauan ketat dari dokter anak dan saat ini ia sudah bersekolah di kelas 9. Sebuah perjuangan yan besar telah dilalui Shahnaz dan keluarga hingga bisa tumbuh sehat dan baik seperti anak lahir normal lainnya. Shahnaz juga tidak terhalang untuk bisa berprestasi, ia mengikuti olimpiade matematika dan sains nasional. Selain itu, Shahnaz akan mewakili sekolah untuk tampil di Manila Orchestra atas undangan Kedutaan Besar Indonesia di Filipina.

Cerita Ibu Desi dan puterinya adalah bukti bahwa ketekunan orangtua dalam memenuhi nutrisi dan semangat dalam menstimulasi anak lahir prematur menjadikan anak bisa tumbuh sehat dan berpretasi. Selain itu, kasih sayang dari keluarga dan orang terdekat juga menjadi pendukung utama dalam meningkatkan perkembangan emosi anak. 

Stevie Wonder performs during the 48th Annual Academy of Country Music Awards at the MGM Grand Garden Arena on April 7, 2013, in Las Vegas, Nevada


Salah satu tokoh yang juga lahir prematur adalah musisi Stevie Wonder dari Amerika Serikat. Ia lahir pada usia kehamilan 34 minggu pada tahun 1950. Saat itu ia dirawat dalam inkubator dan mengalami komplikasi prematur yang menyebabkan retinanya rusak sehingga ia kehilangan penglihatan setelah perawatan khusus. Hal ini tidak membuatnya jatuh justru ia berkata pada ibunya, “jangan mengkhawatirkanku karena kebutaanku karena aku bahagia”. Sebelum mencapai umur 10 tahun Stevie sudah ahli memainkan alat musik piano, harmonika dan drum hingga akhirnya ia menjadi musisi yang cerdas dan dapat memenangkan penghargaan Academy Oscar tahun 1985.¹

Ternyata anak-anak yang lahir prematur dengan dukungan fisik, psikologis dan kasih sayang yang tepat akan mampu tumbuh sehat dan baik sebagaimana anak lain. Pemenuhan nutrisi yang bergizi baik, dukungan emosi dan eksplorasi potensi anak yang tepat serta cinta kasih dari keluarga terdekat menjadi hal penting untuk anak-anak lahir prematur berprestasi di masa pertumbuhannya. 




Referensi:
1. Chang, Rachel. 2019. How Stevie Wonder Lost His Sight. https://www.biography.com/news/stevie-wonder-blindness-vision-loss (diakses 20 November 2022) 




Siapakah yang pernah mengalami kesulitan mengajak anak untuk makan sayur-sayuran?

Suara ibu-ibu dan bapak-bapak begitu kompak menjawab, “Sayaaa…”




Tak bisa dipungkiri hampir semua pernah mengalami kesulitan membuat anak makan sayur. Memang ya, mengenalkan jenis makanan yang satu ini jauh lebih besar perjuangannya dibandingkan jenis lain seperti protein hewani seperti daging ayam atau sapi.

Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi?

Berdasarkan laporan penelitian dari Pusat Penelitian Kanker Inggris, ditemukan bahwa secara alami (nature) anak-anak bisa menyukai daging dan ikan, tetapi untuk menyukai brokoli, wortel, dan puding bolu sangat dipengaruhi oleh pengasuhan (nurture) dan lingkungan.¹

Rasa penasaran saya dijawab bertepatan dengan webinar Bicara Gizi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dengan tema, “Peran Serat Terhadap Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak”. Bicara Gizi kali ini mengundang beberapa ahli di bidangnya, yaitu dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang merupakan dokter spesialis konsultan alergi dan imunologi anak di RSAB Harapan Kita, Jakarta. Selain itu, narasumber lain yang juga seorang psikolog anak Anastasia Satriyo M.Psi., Psi dan seorang ibu dengan anak kondisi alergi, Oktavia Sari Wijayanti. Acara Bicara Gizi siang itu juga turut dihadiri Corporate Communications Director Danone Indonesia, Bapak Arif Mujahidin.


Pentingnya Serat Bagi Kesehatan Anak

Selasa siang itu, saya merasa sangat beruntung bisa menghadiri kegiatan Bicara Gizi. Tentu saja ini karena saya merasa butuh asupan ilmu baru mengenai kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan zaman dan berubahnya kondisi lingkungan membuat saya harus menjadi orangtua yang pandai beradaptasi.

Bapak Arif Mujahidin membuka webinar dengan harapan acara ini dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami tentang pentingnya peran serat bagi kesehatan saluran cerna dan mengurangi risiko alergi pada anak. Seketika saya pun semakin bertanya-tanya, apakah ada hubungan antara konsumsi serat dengan alergi? Wah, siang itu di waktu seringnya membuat kantuk, saya malah makin bersemangat.

Ternyata, saluran cerna merupakan salah satu bagian penting yang berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, daya tahan tubuh, serta kesehatan anak. Hal ini menjadikan saluran cerna sebagai sistem perlindungan terdepan dan juga sebagai cerminan kondisi tubuh anak. Mengapa begitu? Karena sebesar 70% komponen sistem daya tahan tubuh (imunitas) berada dalam pencernaan.

Nah, konsumsi makanan tinggi serat menjadi salah satu golden nutrition atau disebut nutrisi tepat yang akan menunjang kesehatan saluran pencernaan. Hal ini juga akan sangat mendukung pada tumbuh kembang anak, khususnya di masa awal tumbuh atau dikenal dengan golden period. Oleh sebab itu, sangat penting bagi semua orangtua untuk tidak melewatkan kondisi kesehatan anak dan memberikan golden stimulation atau stimulasi tepat pada masa ini agar anak dapat tumbuh optimal, khususnya bagi anak yang alergi.

Bapak Arif Mujahidin juga mengungkapkan melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang Danone Indonesia lakukan, diharapkan semakin banyak anak Indonesia yang dapat tumbuh menjadi Anak Hebat yakni anak yang cerdas emosi, cerdas sosial, cerdas intelektual, serta sehat fisik.

Narasumber pertama adalah seorang dokter spesialis konsultan alergi dan imunologi anak, dokter Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang menjelaskan bahwa konsumsi makanan berserat pada anak-anak masih harus ditingkatkan karena belum menjadi perhatian banyak orangtua di Indonesia. Angka kecukupan serat anak Indonesia masih jauh di bawah standar rekomendasi asupan serat harian. Dokter Endah juga memaparkan, berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, sebanyak 95,5 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 5 tahun masih kurang konsumsi serat.

Saya yang baru mengetahui hal ini cukup kaget. Padahal sayuran dan buah hasil petani lokal begitu mudah didapatkan, kenapa justru banyak yang kurang konsumsi serat? Menurut saya, mungkin ini disebabkan banyak yang belum paham pentingnya serat untuk konsumsi setiap hari. Baiklah, saya harap tulisan ini dapat membantu pembaca memahami pentingnya serat agar semakin suka makan sayur dan buah.

Hasil penelitian Prof. dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan bahwa 9 dari 10 anak kekurangan asupan serat, rata-rata anak Indonesia usia 1-3 tahun hanya memenuhi ¼ (seperempat) atau rata-rata 4,7 gram per hari dari total kebutuhan hariannya. Ayo semua orangtua, mari kita ajak anak-anak untuk makan sayur dan buah di rumah!


Mencegah Alergi

Alergi terjadi sebagai reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat lain yang dianggap berbahaya meskipun zat tersebut sebenarnya tidak berbahaya. Penyebabnya bisa dari berbagai faktor, salah satu pemicunya adalah makanan, sekitar 10% anak pada satu tahun pertama mengalami reaksi alergi akibat makanan.

Lalu, bagaimana cara mencegah terjadinya alergi? Dokter Endah menuturkan bahwa yang utama dilakukan orangtua adalah dengan menghindari makanan yang menjadi pencetus alergi. Orangtua perlu mengetahui apa saja yang bisa menyebabkan alergi pada anaknya dan mencegah anak bertemu penyebab alergi.

Selain itu, orangtua dapat memberikan anak makanan yang mengandung serat dalam jumlah cukup. Dengan begitu, serat akan membantu mikrobiota usus yang akan membuat nutrisi makanan terserap dengan optimal. Hal ini akan menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi reaksi peradangan akibat alergi. Dalam penelitian ditemukan bahwa anak yang menderita alergi memiliki jumlah dan keberagaman mikrobiota saluran cerna yang lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak mengalami alergi.² 


Ketidakseimbangan antara bakteri baik dan bakteri patogen (penyebab penyakit) di usus berhubungan dengan kejadian alergi, sehingga untuk memberi makan bakteri baik kita memerlukan makanan dari berbagai jenis serat minimal lima porsi dalam sehari dan minum lebih banyak air.

Selanjutnya materi yang sangat menarik dibawakan oleh Anastasia Satriyo M.Psi., Psi mengenai tantangan pengasuhan anak dengan alergi. Mbak Anas memaparkan bahwa kondisi alergi pada anak bukan hanya mempengaruhi kesehatan fisik, melainkan juga mempengaruhi kondisi psikologi baik anak maupun orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa 41% orang tua yang memiliki anak dengan kondisi alergi melaporkan dampak yang signifikan pada tingkat stres mereka.³ Orangtua anak alergi mengalami kecemasan lebih tinggi dan lebih rentan mengalami burnout (kelelahan mental).

Kondisi alergi anak dapat berdampak ke masalah emosi, kognitif, dan perilaku anak sehingga berdampak ke sosialisasi anak dengan lingkungan. Anak alergi memiliki emosi yang lebih sensitif. Akibatnya, membuat anak lebih mudah cemas. 

Kondisi emosi anak lebih dipengaruhi dari bagaimana cara orangtua mengelola emosi dan merespon emosi anak. Co-Regulation menjadi cara untuk membantu masalah emosi dari anak yang mengalami alergi. Caranya dengan orangtua melatih mengelola emosi terlebih dahulu dengan latihan nafas sadar dan rileks, serta berlatih melabeli (menamai) berbagai emosi yang dirasakan. Akhirnya, ini akan dapat membantu anak mengenal emosinya yang muncul. Dengan begitu, anak merasa orangtua menerima dan memvalidasi emosinya. 

Co-Regulation Emosi orangtua dan anak


Otak itu seperti otot, bisa dilatih, sehingga emosi yang pusatnya di otak pun bisa dilatih. Jadi, para orangtua yang dahulunya tidak berkesempatan divalidasi emosinya oleh orangtuanya sendiri bisa berlatih untuk dapat melabeli emosi yang dirasakan dan memvalidasinya. Dengan memahami emosi diri, orangtua dapat membantu anak memvalidasi emosinya. 

Alhamdulillah, saya dan keluarga tidak mengalami alergi makanan tertentu, baik protein hewan atau kacang-kacangan. Tentu saja cukup berat membayangkan menjadi orangtua dari anak yang mengalami alergi makanan tertentu dan begitu penuh dengan kekhawatiran. 

Webinar ini juga menghadirkan narasumber seorang ibu yang putrinya mengalami alergi yaitu, Oktavia Sari Wijayanti. Ibu Okta memiliki putri berusia dua tahun yang awalnya mengalami gejala bentol-bentol di kulit lalu keesokan harinya muncul bengkak. Akhirnya, kondisi putrinya segera diperiksakan ke dokter dan barulah diketahui bahwa itu semua merupakan gejala alergi. 

Ibu Okta mengungkapkan, kondisi anaknya yang alergi makanan membuatnya lebih waspada untuk menghindari faktor pemicunya. Menurutnya, sebagai orangtua tentu timbul kecemasan terhadap kondisi anak tetapi orangtua harus tetap tenang dan tidak denial mengenai kondisi alergi anak. Penerimaan akan membuat emosi orangtua lebih tenang dan jernih dalam mengatasi gejala alergi yang muncul pada anak. Jika orangtua panik maka anak juga bisa ikut panik.

Selain itu, ibu Okta juga menyemangati semua orangtua yang anak-anaknya memiliki alergi untuk tidak perlu cemas dan jangan ragu berkonsultasi pada dokter agar anak diberikan terapi yang tepat.

Jadi, peranan serat sangat penting ya bagi kondisi saluran cerna anak. Lalu, bagaimana agar orangtua dapat mengajak anak makan sayur dan buah dengan senang? Ya, dengan senang, bukan karena terpaksa. Menurut saya, ini penting dilakukan orangtua, agar anak tidak memiliki trauma terhadap makan sayur dan buah. Bisa dibayangkan ya, jika masih kecil makan sayur terpaksa lalu setelah besar anak tidak lagi makan sayur sebab sudah tidak bisa dipaksa, betapa sayangnya jika orangtua gagal memberi pemahaman.


Tips mengajak anak suka makan sayuran:
 
  • Ajak anak makan bersama keluarga dan biarkan ia melihat kedua orangtuanya makan sayuran dan buah dengan gembira. Kalau istilah saya, kita “komporin” anak kalau sayuran itu enak dimakan dan sehat. Ketika melihat orangtua makan, anak juga akan penasaran mencoba. Anak itu peniru, maka orang tua harus senang dulu makan sayur dan buah.
  • Jika anak benar-benar menolak sayur, orangtua bisa memodifikasi perkenalan “awal” melalui jus atau es buah atau sayuran yang mudah dikunyah seperti labu siam, wortel dan bayam. Intinya buat jadi perkenalan yang menyenangkan.
  • Hal yang baru diterima otak anak akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak aman, sehingga anak bersikap defensif. Di sinilah perlu kesabaran orangtua mengenalkan makanan.
 
Sayuran dan buah sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan vitamin anak. Kebutuhan serat anak berbeda sesuai usia, bagi bayi hingga usia dua tahun serat tidak perlu banyak, hanya sepertiga porsi saja dan sisanya perbanyak lemak dan karbohidrat. Sedangkan, anak yang lebih besar kebutuhan serat juga makin besar, setengah porsi serat dan setengah porsi karbohidrat dan protein. 


Makanan modern khasnya tinggi karbohidrat dan lemak namun rendah serat. Orangtua juga diharapkan bisa menerapkan makanan bergizi seimbang di rumah, sebab darimana lagi anak belajar gaya hidup sehat selain dari yang dicontohkan orangtuanya? Kita tentu sangat senang mendengar anak-anak mengucapkan, "Aku suka sayur!" dan melihat mereka begitu lahap menikmati hidangan sayuran di rumah. 


Referensi:
1. Children inherit their taste for meat and fish but not vegetables (diunduh dari https://news.cancerresearchuk.org/2006/06/13/children-inherit-their-taste-for-meat-and-fish-but-not-vegetables/ 25 Agustus 2022)

2. Sestito S, et al. 2020. The Role of Prebiotics and Probiotics in Prevention of Allergic Diseases in Infants. Frontiers in Pediatrics.

3. Bollinger ME, et al. 2006. The Impact of Food Allergy on the Daily Activities of Children, and their Families. Ann Allergy Asthma Immunol; 415-21.



Pandemi Covid-19 mengubah segalanya, aktivitas masyarakat yang dulu bebas menjadi terbatas. Belum pernah terbayang kita akan menghadapi wabah penyakit yang begitu cepat menyebar dan dapat menyerang siapa saja. Akhirnya, keputusan diambil untuk menghindari peningkatan penularan. Pemerintah melakukan pembatasan keramaian. Hal ini diharapkan menjadi salah satu penghambat penyebaran covid 19.


Sekolah, kantor dan fasilitas publik yang biasanya dipenuhi obrolan, gelak tawa dan candaan antar manusia menjadi kosong. Ini juga berpengaruh langsung pada keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat. Ayah, ibu dan anak-anak merasakan dampak pandemi ini. Anak-anak tidak bisa lagi bermain bersama kawan-kawannya di sekolah ataupun tempat publik lainnya. Orang tua juga khawatir akan tertular penyakit, baik dirinya maupun keluarganya. Perubahan aktivitas dalam waktu singkat ini dapat berdampak pada kesehatan sosial emosional anak di dalam keluarga.


Rasa cemas perlahan berkurang sebab penularan covid 19 mulai melandai. Selain itu, pemerintah juga membuka fasilitas umum dan aktivitas keramaian dengan tetap memenuhi protokol kesehatan. Dalam masa transisi, perubahan membuat kita harus beradaptasi, mulai memiliki rutinitas yang berbeda, dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial.


Keluarga menjadi pendukung utama dalam tumbuh kembang anak. Berdasarkan, data UNICEF tahun 2021, bentuk stress yang dialami anak-anak selama pandemi seperti kekhawatiran akan tertinggal pelajaran di sekolah, kecemasan mengenai kembali masuk sekolah serta tantangan lainnya terkait dengan pembelajaran jarak jauh. Selain anak-anak orang tua rupanya juga mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi. Ini disebabkan oleh kekhawatiran tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dan takut akan penularan penyakit. Kondisi demikian akan menghambat orang tua dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan emosional anak.


Danone Indonesia begitu memperhatikan kondisi keluarga di Indonesia. Dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional dengan semangat kebiasaan baru, yang diperingati tanggal 29 Juni 2022, Danone menyelenggarakan seminar daring bertema “Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi”. Para narasumber webinar merupakan ahli di bidang kesehatan keluarga. Danone Indonesia bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menghadirkan dr. Irma Ardiana, MAPS selaku Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak serta dokter spesialis tumbuh kembang anak dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH serta ibu inspiratif founder Joyful Parenting 101, Cici Desri. 


Narasumber webinar

Seminar daring siang itu dapat dihadiri oleh seluruh keluarga Indonesia. Para narasumber pun membagikan ilmu yang begitu bermanfaat bagi peserta. Menurut penulis, mungkin ini termasuk satu dari efek positif adanya pandemi covid 19 yang menjadikan jangkauan akses informasi lebih luas, berbeda dengan sebelum pandemi yang masih terbatas.


Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia membuka webinar dengan menyampaikan bahwa memasuki masa transisi merupakan kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, terutama dalam perkembangan sosial emosionalnya. Selain itu, direktur perusahaan yang telah meraih penghargaan Public Relation Indonesia Awards 2022 juga menceritakan sebagai perusahaan yang ramah keluarga, Danone memberi dukungan kepada para orang tua berupa pemberian cuti melahirkan bagi karyawan yaitu, cuti 6 bulan bagi ibu dan 10 hari bagi ayah yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun. Penulis turut senang bahwa ada perusahaan yang begitu menghargai peran orang tua baru jauh sebelum adanya rancangan undang-undang yang sedang diatur DPR mengenai hak cuti melahirkan. 


Bicara Gizi di Hari Keluarga Nasional 2022 ini diharapkan menjadi sarana edukasi kesehatan yang dapat membantu masyarakat semakin paham pentingnya kolaborasi pengasuhan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak. 


Dimensi Ibangga

Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 2022 mengangkat tema “Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting”. Ibu dr. Irma Ardiana, MAPS merupakan Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, BKKBN memaparkan bahwa keluarga adalah yang pertama berperan dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Pengasuhan sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Adanya pengasuhan bersama antara ayah dan ibu akan memberikan cinta, penerimaan, penghargaan, motivasi, dan bimbingan kepada anak-anak mereka. 


Dokter Irma juga menambahkan, dengan pola pengasuhan kolaboratif, orang tua berperan dalam mendukung kebutuhan nutrisi, kasih sayang dan akses belajar untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan. Dengan demikian, dalam konteks percepatan penurunan stunting, pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial terpenuhi sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Selanjutnya, sepanjang masa tumbuh kembang, kebutuhan fisik, psikis, sosial dan emosional anak juga perlu diperhatikan orang tua. 


Keluarga juga memiliki fungsi untuk memenuhi ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan setiap anggota keluarga. Fungsi ini merupakan dimensi dari indeks pembangunan keluarga (IBangga) yang memiliki 17 variabel. Semua parameter dalam IBangga menjelaskan hal penting yang perlu dilakukan suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Pada tahun 2021 hasil sensus keluarga menunjukkan capaian IBangga nasional dengan skor 54,01. Angka ini bermakna kondisi keluarga rata-rata dalam status berkembang. Skor ini dinilai cukup baik karena mendekati target capaian sebesar 55. Adapun dari 3 dimensi IBangga, indeks kemandirian memiliki nilai paling rendah. 


KKA online

Saat ini sudah tersedia kartu kembang anak online (KKA) yang diluncurkan BKKBN dalam bentuk aplikasi pada telepon pintar. Kehadiran KKA BKKBN diharapkan bisa memudahkan orang tua memantau pertumbuhan dan perkembangan anak di semua aspek. Pembaca bisa mengunduh aplikasi ini dan mengisi data anak sesuai usia lalu mengecek apa saja aspek yang sudah tercapai.  


Narasumber webinar selanjutnya adalah seorang dokter spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, yang biasa dipanggil dokter Bernie menjelaskan tentang perkembangan otak anak sejak awal kehamilan yang terus tumbuh hingga sepanjang usia. Selain itu, dari riset ditemukan bahwa perkembangan emosi dan sosial anak berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa makanan yang dimakan anak, kecerdasan otak dan perkembangan sosial emosionalnya saling mempengaruhi. Jika anak makan makanan bergizi baik maka anak memiliki sistem pencernaan sehat. Anak yang dipenuhi kebutuhan sosial emosionalnya mempengaruhi kecerdasan otak menjadi semakin baik. Hasilnya anak akan mampu menjadi anak hebat sepanjang perkembangannya.


stimulasi anak

Selanjutnya, dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaparkan tentang cara agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik. Salah satunya melalui peran orang tua dalam memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat. Aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak untuk mencapai tahap kehidupan dan agar anak bisa bersaing di fase selanjutnya sejak remaja, dewasa hingga lanjut usia. 


Anak-anak mungkin akan merasa kebingungan menghadapi perubahan di masa transisi pasca pandemi. Ada tempat dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial sehingga kemungkinan dapat menimbulkan masalah sosial-emosional. Hal ini bisa berbeda dampaknya sesuai dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya. Perkembangan emosi dan sosial yang terganggu dapat mempengaruhi peluang adanya masalah kesehatan di masa dewasa, misalnya gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular. Inilah alasan pentingnya bagi orangtua untuk paham dengan baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi.


Hubungan makanan dengan otak

Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara pertumbuhan sel saraf di otak dengan jenis makanan yang dimakan. Makanan yang sehat seperti kacang-kacangan, gandum, yang mengandung prebiotik dan probiotik sangat bagus dalam merangsang pertumbuhan dan perlindungan sel otak. Adapun jenis makanan tinggi lemak dan tinggi gula sebaliknya membuat penurunan dan peradangan pada sel otak. 


Selanjutnya, pola asuh keluarga yang demokratik sangat ideal dalam membantu perkembangan sosial emosional anak. Selain itu, cara mengajarkan sosial emosional pada anak dapat dilakukan orang tua sebagai contoh utama bagi anak, misalnya menjadi contoh makan makanan yang bergizi dan senang berolahraga; mengajak anak terlibat dalam mengambil keputusan keluarga, serta memotivasi anak untuk empati pada sebaya dan mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut. 



Cici Desrie merupakan founder Joyful Parenting 101 memiliki puteri berusia 5 tahun. Cici mengupayakan pengasuhan kolaboratif di rumah antara orang tua, dan anggota keluarga lain yang ada di rumah. Adapun kunci utama pola pengasuhan kolaboratif adalah berbagi peran antara ayah, ibu serta menumbuhkan rasa percaya, aman dan nyaman bagi anak sesuai dengan preferensi masing-masing keluarga. Selain itu, berkomunikasi dengan pihak sekolah anak dan guru juga penting agar bisa memantau perkembangan anak. 


Tips Optimalkan perkembangan sosial emosional anak di masa transisi dapat dilakukan orang tua dengan cara:

  1. Menceritakan apa yang akan ditemui anak misalnya akan bertemu anak lain seusianya. Memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh saat bertemu orang banyak. 
  2. Merupakan hal bawaan dan kebutuhan anak untuk bersosialisasi, orang tua yakin bahwa anak mampu beradaptasi
  3. Ajak anak berbicara, berdiskusi dan berpikir apa yang akan dilakukan jika bertemu teman baru dan boleh juga mempersiapkan anak mengunjungi sekolah terlebih dahulu sebelum mulai.


Perlu peran penting dari semua pihak untuk mengoptimalkan perkembangan sosial emosional anak. Kerjasama antara ayah, ibu, guru dan lingkungan di sekitar anak akan mampu menjadikan anak hebat di masa yang akan datang. Semangat inilah yang akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan memenuhi nutrisi dan sosial emosional demi membangun generasi gemilang.
























“Kok, kita bisa pipis?”

“Karena kita diberi satu bagian tubuh yang bekerja mengeluarkan pipis, namanya ginjal”

“Ginjal itu kayak apa?”

Sang ibu pun mengambil kertas lalu menggambar dua buah benda yang berbentuk seperti kacang.

“Seperti kacang ini, besarnya seukuran kepalan tangan kita. Nanti jika kamu mau belajar lagi kita bisa pergi ke museum tubuh manusia ya”



Ginjal memang hanya sekepalan tangan (sekitar 10 cm) besarnya. Di balik ukurannya yang begitu kecil terdapat jutaan sel yang bekerja menyaring darah menjadi urin. Selain itu, ginjal juga menjaga keseimbangan garam dan mineral dalam darah serta mengatur tekanan darah dan memproduksi sel darah merah.¹


Fungsi Ginjal sumber: p2ptmkemenkes

Lalu, apa yang terjadi jika sang buah pinggang ini mengalami gangguan?

Gangguan pada ginjal akan menyebabkan timbulnya masalah pada proses pengeluaran cairan (urin) serta turut mengganggu kerja organ tubuh lainnya. Gangguan ginjal menjadi masalah kesehatan yang cukup berat sebab dapat menurunkan kualitas hidup seorang manusia.

Gangguan Ginjal pada Anak

Jika dilihat dari permulaan serangannya terdapat dua jenis gangguan ginjal yaitu, gangguan ginjal akut dan kronis. Gangguan ginjal akut biasanya timbul mendadak dan terjadi dalam waktu singkat. Berbeda dengan akut, gangguan ginjal kronik disebabkan adanya gangguan struktur atau fungsi ginjal dalam waktu lebih dari tiga bulan. Itulah pemaparan dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp. A(K) yang merupakan dokter spesialis Anak divisi Nefrologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RSCM.

Penjelasan selanjutnya dari dokter Eka membuat saya tercengang. Ternyata gangguan ginjal yang lebih banyak dialami oleh orang dewasa pun dapat menyerang anak-anak. Ah, sungguh tidak terbayang bagaimana beratnya tubuh-tubuh kecil itu harus menjalani pengobatan berupa cuci darah dengan menggunakan mesin.

Mesin Hemodialisis


Di Amerika Serikat, sebanyak 9.800 anak mengalami gangguan ginjal kronik pada tahun 2017. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan padahal sebelumnya pada tahun 2015 tercatat ada 1.399 anak mengalami gagal ginjal.²

 Lalu, bagaimana kondisi di Indonesia? Sayangnya, belum terdapat data nasional yang menyeluruh mengenai kejadian gangguan ginjal anak. Meskipun begitu, dari 14 Rumah Sakit Pendidikan yang memiliki Konsultan Nefrologi ditemukan sebanyak 212 anak mengalami gangguan ginjal dan menjalani terapi pengganti ginjal.

Begitu berbahayanya gangguan ginjal pada anak sampai-sampai mereka harus menjalani terapi pengganti ginjal baik berupa hemodialisis ataupun transplantasi ginjal. Di Indonesia sendiri, perawatan hemodialisis anak dengan gangguan ginjal baru terdapat di RSCM, Jakarta. Sepanjang tahun 2007 sampai 2009 sebanyak 150 pasien anak mengalami gangguan ginjal kronik yang mengharuskan mereka menjalani hemodialisis.

Penyebab Gangguan Ginjal Anak

Lantas, apa sajakah penyebab gangguan ginjal anak? Secara anatomi, penyebab gangguan ginjal dapat terjadi ketika darah sebelum masuk ke ginjal (fase pra-renal), saat darah diproses dalam ginjal (fase renal) dan saat urin akan dikeluarkan dari ginjal (fase pasca-renal). Ketiganya menyebabkan gangguan proses penyaringan darah menjadi urin yang dikerjakan ginjal.


Anatomi Ginjal
Dehidrasi dan infeksi menjadi penyebab gangguan pra-renal yang sering terjadi. Sedangkan, glomerulonefritis (peradangan pembuluh nefron), kelainan pada pembuluh darah ginjal serta kerusakan pada struktur ginjal termasuk dalam penyebab masalah pada fase renal. Kelainan bawaan lahir pada saluran kemih dan adanya sumbatan pada saluran kemih merupakan penyebab gangguan ginjal fase pasca renal.

Kedua ginjal menyaring sebanyak 120-150 liter darah selama 24 jam dan menghasilkan sekitar 1-1.5 liter urin per hari. Lalu, bagaimana kita tahu tanda adanya masalah penyaringan sebanyak 180 liter darah ini? Tanda awal adanya gangguan ginjal yang masih ringan memang belum begitu terlihat. Biasanya jika dilakukan pemeriksaan laboratorium akan ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih dan protein pada urin serta adanya darah pada urin. Sedangkan secara fisik akan timbul penurunan produksi urin (BAK sedikit), bengkak pada kedua kaki, anemia, demam, sesak nafas, serta adanya kelainan tulang dan pertumbuhan.

Mendengar uraian ini membuat hati saya diliputi awan mendung. Tak terbayang bagaimana tubuh-tubuh kecil itu merasakan sakit sambil bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan berbagai pemeriksaan. Tak cukup sampai di situ, mereka pun harus menghadapi hari bersama mesin hemodialisis dua kali seminggu.

Oleh sebab itu, tak heran gangguan ginjal pada anak akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan si anak. Selain itu, masalah kesehatan lainnya pun dapat muncul seperti anemia, hipertensi serta gangguan hormon dan elektrolit. Ketika seorang anak sakit, maka kedua orangtuanya pun terkena dampak dari penyakit tersebut. Kecemasan terhadap proses pengobatan dan kondisi finansial keluarga seringkali menghinggapi para orang tua yang memiliki anak dengan gangguan ginjal.

Pada kesempatan ini saya juga bertemu dengan keluarga penyintas (survivor) gangguan ginjal, yang memiliki seorang putri bernama Viara Hikmatunnisa. Keluarga Viara berasal dari Situbondo. Ketika didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodialisis, keluarga ini jauh-jauh pergi ke sebuah RS di Surabaya. Beberapa kali proses hemodialisis ternyata mesinnya memang kurang cocok untuk anak-anak. Sang Ayah pun mencari tahu lagi tempat hemodialisis khusus pasien anak hingga akhirnya keluarga ini menyambangi ibukota menuju fasilitas rujukan utama nasional di RSCM.

Viara dan keluarga

Kondisi Viara berangsur membaik selama proses perawatan di RSCM. Ia pun tetap memiliki semangat yang begitu tinggi untuk sehat. Viara bahkan berani memulai bisnis online-nya walau kondisinya memerlukan hemodialisis.

Viara sedang hemodialisis sambil menggambar

Mendengar langsung kondisi Viara dari cerita Ayahnya sudah cukup membuat saya cemas. Masalahnya gangguan ginjal anak bisa menyerang siapapun yang berisiko. Walaupun tidak selalu dapat dicegah, kita masih bisa mengupayakan beberapa hal untuk menurunkan risiko terjadinya gangguan ginjal pada anak-anak kita. Beberapa hal ini dapat kita upayakan untuk mencegahnya:

1. Cegah dehidrasi pada anak, terutama saat diare atau muntah.
2. Hindari risiko penularan infeksi, termasuk saat kehamilan
3. Orang tua dapat melakukan konseling genetik untuk mencegah penyakit ginjal keturunan
4. Deteksi dini hipertensi dan diabetes pada anak

Kurangi Risiko Penyakit ginjal sumber: P2ptmkemenkes

Adapun bagi anak-anak yang sudah didiagnosis mengalami gangguan ginjal, pencegahan dilakukan untuk menghindari komplikasi dari proses penyakit ginjal yang telah dialami. Hal ini patutnya menjadikan para orang tua untuk lebih waspada terhadap kondisi anak. Terlebih anak balita yang agak sulit diajak minum air putih. Kebutuhan cairan anak di atas 1 tahun adalah sekitar 80-90cc/ Kg BB, misalnya berat anak 3 tahun 14 kg maka kebutuhan cairan adalah sekitar 1210-1260 cc per hari.

Kementerian Kesehatan RI juga semakin giat mengadakan rangkaian kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan ini meliputi sosialisasi informasi tentang gangguan ginjal pada anak; serta pencanangan Gerakan Ayo Minum Air (AMIR). Mengingat kita juga tinggal di negara tropis yang selalu bertemu matahari sepanjang tahun dengan melaksanakan Gerakan Ayo Minum Air kita dapat mencegah risiko gangguan ginjal.

AMIR Ayo Minum Air

“Peningkatan gaya hidup sehat juga perlu dilakukan untuk siapapun baik dewasa maupun anak. Bagi mereka yang sehat Kemenkes mengajak untuk berperilaku CERDIK, sedangkan bagi yang sudah terkena penyakit tidak menular untuk berperilaku PATUH.” terang dokter Cut Putri Arianie, MH.Kes, selaku direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PTM) yang juga menutup diskusi siang itu.

CERDIK PATUH

Sebagai orang tua, saya yakin kita selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Ketika mereka sakit kadang kita ingin sakitnya itu diberikan pada orang tuanya saja. Pengalaman Viara dan keluarganya ini memberikan pandangan baru bagi saya, bahwa kondisi sakit tidak boleh membuat kita putus asa. Terima kasih Viara dan keluarga.
Narasumber

Blogger with Viara






Referensi:
1. Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. CDC. Chronic kidney disease surveillance system: almost 10.000 chldren and adolescents in United States are living with end-stage renal disease [internet] 2017 Jul. Available from: https://nccd.cdc.gov/ckd/AreYouAware.aspx?emailDate=July_2017.

Gambar:
1. Anatomi Ginjal dari Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. Mesin Dialisis dari  https://www.freseniusmedicalcare.com/en/media/news/details/detail/News/fresenius-medical-care-launches-6008-caresystem-a-new-hemodialysis-therapy-system-enabling-better-care-for-chronic-patients/


Suara jantung yang terdengar dari stetoskop kecil ini bukanlah “lub” dan “dub” sebagaimana debaran dari rongga dada kita. Ada suara lain yang menyertai jantung kecil ini ketika memompa. Suara berbisik, suara yang berbicara untuk menyampaikan sesuatu. Sayangnya, suara-suara ini bukan menyampaikan berita baik melainkan sebuah tanda kelainan. Kelainan? Kelainan apa yang dimaksud? Kelainan Jantung Bawaan atau dalam istilah medis biasa disebut Penyakit Jantung Bawaan (PJB). 

Imaged by F. Annisa


Kebahagiaan pasangan yang menjadi orang tua tentu membuncah ketika melihat buah cintanya terlahir dalam kondisi sempurna dan sehat. Namun, siapa yang mengira manusia kecil yang baru belajar bernafas dengan paru-parunya ini harus berjuang lagi melawan kelainan pada jantungnya. 



Hari Jantung Sedunia memang masih sepekan lagi, tapi saya beruntung berkesempatan memahami satu masalah kesehatan jantung lebih mendalam. Saya dan teman-teman narablog menghadiri talkshow “Heart to Heart Risiko Genetik dan Manajemen Nutrisi Penyakit Jantung Bawaan pada anak yang diselenggarakan oleh Nutricia Advanced Medical Nutrition, Danone Indonesia . Tidak tanggung-tanggung, narasumber yang hadir pun begitu mumpuni di bidang kesehatan anak yaitu, dr. Dedi Wilson, Sp.A(K) dan dr. Klara Yuliarti Sp.A(K). Salam takzim saya pada beliau-beliau yang sungguh berdedikasi tinggi berjuang untuk kesehatan anak-anak Indonesia.   


Apakah kamu tahu terdapat 50.000 kasus PJB di Indonesia setiap tahunnya? Bahkan 30 persen kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) ini tidak terdeteksi saat lahir. Masalah kesehatan jantung anak memang kurang populer dibanding masalah infeksi. Nah, inilah kesadaran yang perlu kita bangun, bahwa masalah kesehatan jantung anak pun sama pentingnya dengan penyakit lain. Lalu, apakah sebenarnya PJB ini?


dr. Dedi Wilson Sp.A(K)

Semua yang sudah menjadi orang tua mungkin ingat bahwa jantung anak kita sudah mulai berdetak sejak usianya  6 minggu. Bertambahnya usia kehamilan membuat detak jantung janin makin jelas. Biasanya pada usia kehamilan 10-12 minggu suara jantung janin dapat terdengar saat pemeriksaan USG Fetal Doppler. Nah, kelainan bentuk jantung atau fungsi sirkulasi jantung pada fase awal perkembangan janin inilah yang menjadi cikal bakal PJB dan akhirnya bayi yang lahir pun menderita PJB.

Penyebab pasti dari PJB ini tidak diketahui” jelas dr. Dedi. Beliau pun melanjutkan bahwa hanya ada faktor risiko yang diduga dapat menjadi penyebab terjadinya PJB. Ketiga faktor risiko ini dapat berasal dari lingkungan seperti paparan zat kimia dan radiasi. Lalu, dua lainnya berasal dari janin dan ibu. Misalnya pada janin terdapat kelainan kromosom dan pada ibu terdapat infeksi virus, diabetes, lupus sistemik, obat serta alkohol.

Kelainan kromosom pada janin memang menjadi risiko tinggi. Contohnya 50 persen pada bayi yang terlahir dengan sindrom Down (trisomi 21) biasanya disertai juga dengan PJB. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melakukan deteksi dini PJB pada bayi baru lahir. Pemeriksaan suara jantung, kadar oksigen darah (saturasi), denyut nadi serta ekokardiografi dilakukan untuk deteksi dini kondisi bayi.

Imaged by F. Annisa

Lalu, apakah bisa mendeteksinya saat belum lahir? Sebenarnya bisa dilakukan pemeriksaan Fetal Echo, mengecek kondisi jantung janin dari perut ibu. Namun, pemeriksaan dikhawatirkan kurang akurat sebab banyak bagian yang harus ditembus alat tersebut mulai dari rahim ibu, air ketuban, serta dada janin.

Kalau mendengar istilah jantung bocor mungkin kita akan membayangkan jantung seperti rumah yang atapnya bocor saat hujan turun. Benar, PJB ini mirip-mirip dengan rumah yang kebocoran. Kalau pada jantung normal terdapat empat kamar dengan masing-masing pintu. Lain halnya dengan jantung anak yang PJB, ada sekat yang seharusnya tertutup malah justru terbuka. Sekat terbuka ini menyebabkan darah bersih yang kaya oksigen tercampur dengan darah yang miskin oksigen. Nah, kalau begitu urusan kebutuhan oksigen seluruh tubuh pasti terganggu. Masalah ini yang memberi efek domino untuk pertumbuhan dan perkembangan anak kedepannya.

Jantung Normal dengan 4 ruang




PJB ASD terdapat sekat antar atrium kanan dan kiri di bagian atas Sumber: Stanfordhealthcare


Terdapat lebih dari 34 jenis PJB yang sudah diidentifikasi berdasarkan letak dan tingkat keparahannya. Berdasarkan ciri yang terlihat terdapat dua jenis PJB, yakni non-sianotik (tidak terlihat biru) dan sianotik (terlihat biru pada area bibir, kuku dan kulit).



dr. Klara Sp.A(K)

Kedua jenis PJB ini sama-sama menyebabkan malnutrisi (gangguan nutrisi) pada anak. Misalnya pada anak PJB asianotik, bermasalah dalam berat badan yang sulit naik. Sedangkan, PJB sianotik berpengaruh pada berat badan dan tinggi badan (menjadi stunting) sehingga anak tampak lebih kecil dari anak seusianya. Oleh sebab itu, jika anak dengan PJB tidak mendapat penanganan nutrisi yang baik maka akan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan serta perkembangan.


Penjelasan dr. Klara Yuliarti semakin membuka mata saya. Dokter spesialis anak dengan subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik ini menambahkan bahwa kasus malnutrisi pada anak mencapai 70 persen. Angka ini berarti mayoritas anak dengan PJB mengalami malnutrisi sehingga diperlukan asupan nutrisi yang agresif dan makanan tinggi kalori. Selain itu, pemberian nutrisi langsung ke lambung (enteral) dan pembuluh darah (parenteral) yang tepat serta pemantauan rutin pada grafik pertumbuhan dapat menghindarkan anak dengan PJB dari kondisi yang memperburuk kesehatannya yaitu, malnutrisi dan stunting.


Anak-anak dengan PJB mengalami malnutrisi disebabkan oleh asupan kalori yang tidak cukup, adanya peningkatan kebutuhan energi, infeksi nafas berulang serta kekurangan oksigen. Dampak malnutrisi yang terlihat cepat misalnya kekebalan tubuh menurun, penyembuhan luka yang lama serta memperpanjang lama rawat. Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah gangguan perkembangan kognitif yang permanen. Ini disebabkan 80 persen perkembangan otak terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan atau sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Mencegah malnutrisi pada anak PJB dapat dilakukan dengan memantau berat dan tinggi badan serta melakukan intervensi terhadap masalah nutrisi anak. Selain itu, diperlukan juga pencegahan infeksi bagi anak dengan PJB. Hal ini disebabkan infeksi yang terjadi pada anak PJB dapat berakibat fatal seperti radang selaput jantung (endokarditis). Anak PJB tetap dapat menerima vaksinasi dengan beberapa syarat seperti tidak vaksin 3-4 minggu sebelum atau sesudah operasi serta kondisi khusus pemberian vaksin hidup harus melalui pengecekan kekebalan tubuh dahulu.

Manajemen Pencegahan Malnutrisi  dan Infeksi Anak PJB
  1. Berikan camilan yang mengandung protein, karbohidrat, lemak (bukan buah atau karbohidrat saja) misalnya martabak manis, roti daging, puding susu.
  2. Selalu pantau grafik pertumbuhan (berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala)
  3. Seringkali diperlukan makanan tinggi kalori atau formula medis khusus sesuai indikasi medis.
  4. Hindari tempat yang ramai.
  5. Cuci tangan teratur.
  6. Perawatan gigi yang baik (sikat gigi teratur dan kontrol ke dokter gigi).
  7. Memakai antibiotik sesuai indikasi.
  8. Lengkapi imunisasi yang dianjurkan.
  9. Diskusikan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi anak guna mencegah obesitas dan diabetes melitus

Anak dengan PJB memang istimewa. Keistimewaan inilah yang membuatnya memiliki kekuatan dan cinta dari keluarga serta tenaga kesehatan yang mendukung. Meskipun pulang ke rumah berarti akan ada kontrol ke poliklinik selanjutnya, pengecekan kondisi berikutnya, serta tindakan-tindakan medis lainnya anak dengan PJB sudah menjadi pejuang bersama jantung kecil mereka.


Saya sungguh salut dengan keluarga-keluarga dengan anak PJB yang tergabung dalam Little Heart Community (LHC). Mendengar cerita teman-teman dari komunitas ini sungguh membuka pikiran saya bahwa begitu besar perjuangan anak-anak PJB untuk tetap sehat. Pada pertemuan ini pun saya memahami kesadaran untuk mencegah malnutrisi pada anak PJB memang perlu ditingkatkan, tidak lain adalah demi masa depan anak-anak ini.

Terima kasih wahai pemilik jantung-jantung kecil,
Kalian adalah bukti bahwa cinta, kekuatan dan doa dapat mengubah segalanya.
Bahwa jantung-jantung titipan Allah ini adalah bukti kekuasaannya.
Semoga anak-anak dengan PJB nantinya dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.







Referensi Gambar:
https://stanfordhealthcare.org