Showing posts with label tumbuh kembang anak. Show all posts
Showing posts with label tumbuh kembang anak. Show all posts



Pandemi Covid-19 mengubah segalanya, aktivitas masyarakat yang dulu bebas menjadi terbatas. Belum pernah terbayang kita akan menghadapi wabah penyakit yang begitu cepat menyebar dan dapat menyerang siapa saja. Akhirnya, keputusan diambil untuk menghindari peningkatan penularan. Pemerintah melakukan pembatasan keramaian. Hal ini diharapkan menjadi salah satu penghambat penyebaran covid 19.


Sekolah, kantor dan fasilitas publik yang biasanya dipenuhi obrolan, gelak tawa dan candaan antar manusia menjadi kosong. Ini juga berpengaruh langsung pada keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat. Ayah, ibu dan anak-anak merasakan dampak pandemi ini. Anak-anak tidak bisa lagi bermain bersama kawan-kawannya di sekolah ataupun tempat publik lainnya. Orang tua juga khawatir akan tertular penyakit, baik dirinya maupun keluarganya. Perubahan aktivitas dalam waktu singkat ini dapat berdampak pada kesehatan sosial emosional anak di dalam keluarga.


Rasa cemas perlahan berkurang sebab penularan covid 19 mulai melandai. Selain itu, pemerintah juga membuka fasilitas umum dan aktivitas keramaian dengan tetap memenuhi protokol kesehatan. Dalam masa transisi, perubahan membuat kita harus beradaptasi, mulai memiliki rutinitas yang berbeda, dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sosial.


Keluarga menjadi pendukung utama dalam tumbuh kembang anak. Berdasarkan, data UNICEF tahun 2021, bentuk stress yang dialami anak-anak selama pandemi seperti kekhawatiran akan tertinggal pelajaran di sekolah, kecemasan mengenai kembali masuk sekolah serta tantangan lainnya terkait dengan pembelajaran jarak jauh. Selain anak-anak orang tua rupanya juga mengalami tingkat stress dan depresi yang lebih tinggi. Ini disebabkan oleh kekhawatiran tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dan takut akan penularan penyakit. Kondisi demikian akan menghambat orang tua dalam memenuhi kebutuhan psikologis dan emosional anak.


Danone Indonesia begitu memperhatikan kondisi keluarga di Indonesia. Dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional dengan semangat kebiasaan baru, yang diperingati tanggal 29 Juni 2022, Danone menyelenggarakan seminar daring bertema “Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi”. Para narasumber webinar merupakan ahli di bidang kesehatan keluarga. Danone Indonesia bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menghadirkan dr. Irma Ardiana, MAPS selaku Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak serta dokter spesialis tumbuh kembang anak dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH serta ibu inspiratif founder Joyful Parenting 101, Cici Desri. 


Narasumber webinar

Seminar daring siang itu dapat dihadiri oleh seluruh keluarga Indonesia. Para narasumber pun membagikan ilmu yang begitu bermanfaat bagi peserta. Menurut penulis, mungkin ini termasuk satu dari efek positif adanya pandemi covid 19 yang menjadikan jangkauan akses informasi lebih luas, berbeda dengan sebelum pandemi yang masih terbatas.


Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia membuka webinar dengan menyampaikan bahwa memasuki masa transisi merupakan kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, terutama dalam perkembangan sosial emosionalnya. Selain itu, direktur perusahaan yang telah meraih penghargaan Public Relation Indonesia Awards 2022 juga menceritakan sebagai perusahaan yang ramah keluarga, Danone memberi dukungan kepada para orang tua berupa pemberian cuti melahirkan bagi karyawan yaitu, cuti 6 bulan bagi ibu dan 10 hari bagi ayah yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun. Penulis turut senang bahwa ada perusahaan yang begitu menghargai peran orang tua baru jauh sebelum adanya rancangan undang-undang yang sedang diatur DPR mengenai hak cuti melahirkan. 


Bicara Gizi di Hari Keluarga Nasional 2022 ini diharapkan menjadi sarana edukasi kesehatan yang dapat membantu masyarakat semakin paham pentingnya kolaborasi pengasuhan dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak. 


Dimensi Ibangga

Hari Keluarga Nasional tanggal 29 Juni 2022 mengangkat tema “Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting”. Ibu dr. Irma Ardiana, MAPS merupakan Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, BKKBN memaparkan bahwa keluarga adalah yang pertama berperan dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Pengasuhan sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Adanya pengasuhan bersama antara ayah dan ibu akan memberikan cinta, penerimaan, penghargaan, motivasi, dan bimbingan kepada anak-anak mereka. 


Dokter Irma juga menambahkan, dengan pola pengasuhan kolaboratif, orang tua berperan dalam mendukung kebutuhan nutrisi, kasih sayang dan akses belajar untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan. Dengan demikian, dalam konteks percepatan penurunan stunting, pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial terpenuhi sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Selanjutnya, sepanjang masa tumbuh kembang, kebutuhan fisik, psikis, sosial dan emosional anak juga perlu diperhatikan orang tua. 


Keluarga juga memiliki fungsi untuk memenuhi ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan setiap anggota keluarga. Fungsi ini merupakan dimensi dari indeks pembangunan keluarga (IBangga) yang memiliki 17 variabel. Semua parameter dalam IBangga menjelaskan hal penting yang perlu dilakukan suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Pada tahun 2021 hasil sensus keluarga menunjukkan capaian IBangga nasional dengan skor 54,01. Angka ini bermakna kondisi keluarga rata-rata dalam status berkembang. Skor ini dinilai cukup baik karena mendekati target capaian sebesar 55. Adapun dari 3 dimensi IBangga, indeks kemandirian memiliki nilai paling rendah. 


KKA online

Saat ini sudah tersedia kartu kembang anak online (KKA) yang diluncurkan BKKBN dalam bentuk aplikasi pada telepon pintar. Kehadiran KKA BKKBN diharapkan bisa memudahkan orang tua memantau pertumbuhan dan perkembangan anak di semua aspek. Pembaca bisa mengunduh aplikasi ini dan mengisi data anak sesuai usia lalu mengecek apa saja aspek yang sudah tercapai.  


Narasumber webinar selanjutnya adalah seorang dokter spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, yang biasa dipanggil dokter Bernie menjelaskan tentang perkembangan otak anak sejak awal kehamilan yang terus tumbuh hingga sepanjang usia. Selain itu, dari riset ditemukan bahwa perkembangan emosi dan sosial anak berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa makanan yang dimakan anak, kecerdasan otak dan perkembangan sosial emosionalnya saling mempengaruhi. Jika anak makan makanan bergizi baik maka anak memiliki sistem pencernaan sehat. Anak yang dipenuhi kebutuhan sosial emosionalnya mempengaruhi kecerdasan otak menjadi semakin baik. Hasilnya anak akan mampu menjadi anak hebat sepanjang perkembangannya.


stimulasi anak

Selanjutnya, dokter yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaparkan tentang cara agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik. Salah satunya melalui peran orang tua dalam memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat. Aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak untuk mencapai tahap kehidupan dan agar anak bisa bersaing di fase selanjutnya sejak remaja, dewasa hingga lanjut usia. 


Anak-anak mungkin akan merasa kebingungan menghadapi perubahan di masa transisi pasca pandemi. Ada tempat dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial sehingga kemungkinan dapat menimbulkan masalah sosial-emosional. Hal ini bisa berbeda dampaknya sesuai dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya. Perkembangan emosi dan sosial yang terganggu dapat mempengaruhi peluang adanya masalah kesehatan di masa dewasa, misalnya gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular. Inilah alasan pentingnya bagi orangtua untuk paham dengan baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi.


Hubungan makanan dengan otak

Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara pertumbuhan sel saraf di otak dengan jenis makanan yang dimakan. Makanan yang sehat seperti kacang-kacangan, gandum, yang mengandung prebiotik dan probiotik sangat bagus dalam merangsang pertumbuhan dan perlindungan sel otak. Adapun jenis makanan tinggi lemak dan tinggi gula sebaliknya membuat penurunan dan peradangan pada sel otak. 


Selanjutnya, pola asuh keluarga yang demokratik sangat ideal dalam membantu perkembangan sosial emosional anak. Selain itu, cara mengajarkan sosial emosional pada anak dapat dilakukan orang tua sebagai contoh utama bagi anak, misalnya menjadi contoh makan makanan yang bergizi dan senang berolahraga; mengajak anak terlibat dalam mengambil keputusan keluarga, serta memotivasi anak untuk empati pada sebaya dan mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut. 



Cici Desrie merupakan founder Joyful Parenting 101 memiliki puteri berusia 5 tahun. Cici mengupayakan pengasuhan kolaboratif di rumah antara orang tua, dan anggota keluarga lain yang ada di rumah. Adapun kunci utama pola pengasuhan kolaboratif adalah berbagi peran antara ayah, ibu serta menumbuhkan rasa percaya, aman dan nyaman bagi anak sesuai dengan preferensi masing-masing keluarga. Selain itu, berkomunikasi dengan pihak sekolah anak dan guru juga penting agar bisa memantau perkembangan anak. 


Tips Optimalkan perkembangan sosial emosional anak di masa transisi dapat dilakukan orang tua dengan cara:

  1. Menceritakan apa yang akan ditemui anak misalnya akan bertemu anak lain seusianya. Memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh saat bertemu orang banyak. 
  2. Merupakan hal bawaan dan kebutuhan anak untuk bersosialisasi, orang tua yakin bahwa anak mampu beradaptasi
  3. Ajak anak berbicara, berdiskusi dan berpikir apa yang akan dilakukan jika bertemu teman baru dan boleh juga mempersiapkan anak mengunjungi sekolah terlebih dahulu sebelum mulai.


Perlu peran penting dari semua pihak untuk mengoptimalkan perkembangan sosial emosional anak. Kerjasama antara ayah, ibu, guru dan lingkungan di sekitar anak akan mampu menjadikan anak hebat di masa yang akan datang. Semangat inilah yang akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan memenuhi nutrisi dan sosial emosional demi membangun generasi gemilang.
























Buku selalu menjadi benda yang membahagiakan untuk dimiliki, dibaca dan dikoleksi. Kesenangan membaca adalah anugerah yang akan membuat akal lebih cerdas dan bijak. Tanpa perlu mengalami langsung suatu peristiwa kita dapat merasakannya langsung dari berbagai cerita dalam buku. Buku-buku terbaik, karya terbaik akan memberikan jejak yang selalu diingat. 

Josh Applegate on Unsplash

Di Indonesia, mengutip laporan kompas.com bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Republik Indonesia menemukan capaian indeks budaya membaca tahun 2019 mencapai 53,84 (kategori sedang). Perpusnas memperoleh angka ini dari survei kegemaran membaca di 102 kabupaten dan kota pada 34 provinsi. Berita ini belum cukup menggembirakan dalam angka peningkatan minat membaca. Masih banyak yang perlu diupayakan agar masyarakat cinta membaca dan tentunya dibutuhkan kerjasama serta dukungan semua pihak menjadi penggerak minat baca.

Bertepatan dengan Hari Buku Sedunia pada 23 April 2021, Danone Indonesia meluncurkan program BACA. Program ini berupa ajakan untuk mencintai kegiatan membaca sambil berbuat baik melalui sumbangan buku bacaan yang ditujukan bagi anak. Kali ini, Danone Indonesia bekerjasama dengan Tentang Anak berupaya agar anak-anak Indonesia senang membaca dan berbuat baik. Dengan begitu, literasi anak di Indonesia diharapkan terus meningkat. 



Peluncuran program ini dihadiri oleh Dokter Mesty Ariotedjo, Sp.A sebagai CEO Tentang Anak, Bapak Arif Mujahidin sebagai Corporate Communication Danone Indonesia serta Fathya Artha, M.Sc., M.Psi selaku Psikolog & Co-Founder Tigagenerasi. Acara berlangsung secara daring dan tetap menyenangkan hati untuk diikuti kala pandemi. Ketiga narasumber yang ahli di bidangnya ini membawakan informasi yang bermanfaat untuk dilakukan selama bulan Ramadan dan mudah dilakukan di rumah.


Banyaknya informasi yang memicu kerancuan di media sosial melatarbelakangi dokter Mesty untuk memberikan informasi yang tepat dan berdasarkan fakta. Akses informasi yang terbatas bagi masyarakat umum membuat beliau ingin meluruskan hal-hal yang kurang tepat berdasarkan keilmuannya sebagai dokter spesialis anak. Sejak pandemi inilah Tentang Anak diluncurkan agar dapat memberikan informasi yang benar pada khalayak mengenai tumbuh kembang anak. Niat baik ini terkoneksi dengan Danone Indonesia hingga keduanya berkolaborasi untuk aktif berperan meningkatkan minat baca pada anak.

Dokter Mesty juga memberikan tips untuk melatih anak berpuasa di bulan Ramadan. Anak-anak yang penuh rasa ingin tahu pasti ingin mencoba berpuasa. Nah, orangtua penting untuk mengetahui apa saja hal-hal yang perlu dipersiapkan. Hal terpenting adalah kondisi anak yang sehat secara fisik dan mental. Sebenarnya hukum puasa untuk anak pun tidak wajib jika untuk mengenalkan boleh, tapi tetap memperhatikan kondisi anak. Selain itu, perhatikan juga berat badan dan tinggi badan anak berdasarkan kurva pertumbuhan. Apakah titiknya sudah berada pada garis aman yang ditandai dengan garis hijau? Jika sesuai maka silakan Ayah dan Bunda mengajak anak-anak belajar berpuasa. 


Kebutuhan Nutrisi Anak Berpuasa

1. Makanan dengan gizi seimbang

Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Protein, lemak dan serat berfungsi untuk mempertahankan rasa kenyang. Saat sahur disarankan makan yang berkadar glikemik rendah seperti, nasi, ubi, kacang hijau, roti gandum dan apel. Sedangkan, di saat berbuka sebaliknya perlu makanan berglikemik tinggi seperti kentang, nasi, roti serta manisan buah.

2. Kebutuhan cairan yang cukup

Agar anak tidak dehidrasi maka diperlukan cairan yang cukup. Cairan yang dimaksud bisa berasal dari minuman atau makanan yang kadar airnya tinggi seperti sayur dan buah. Kebutuhan cairan anak berbeda tiap usia. Oleh sebab itu, ini harus diperhatikan oleh orangtua. Jangan biarkan anak dehidrasi jika sudah ada tanda -tanda ini:
  • Anak tampak pucat, lesu, lelah dan mata cekung
  • Buang air kecil sedikit dan warnanya kuning pekat
  • Anak tidak merespon cepat/ aktif
  • Kesadaran anak menurun 
     



Waspadai tanda di atas sebelum parah. Jika anak terlihat lemas maka silakan tawarkan air untuk minum, tidak perlu memaksakan berpuasa terus hingga Maghrib. Ingat, anak-anak hanya belajar belum diwajibkan seperti kita.

Paparan yang menarik mengenai literasi anak dibawakan oleh Psikolog TigaGenerasi Fathya Artha, M.Sc., M.Psi. Ini membuat kita sebagai orang tua lebih membuka mata mengenai pentingnya membaca sejak dini untuk anak. Jangan sampai anak merasa membaca itu menjadi sebuah paksaan sebab membaca dengan cinta itu lebih baik daripada memaksa membaca. 

Fakta mengenai proses belajar membaca dan membaca untuk belajar ada dua hal yang berdampingan. Anak perlu belajar membaca bersamaan dengan itu ia pun akan membaca untuk mendapatkan pengetahuan baru. Jadi, jangan heran kalau setelah anak bisa membaca akan timbul banyak pertanyaan dari hal yang ia baca. Misalnya, makna dari kata dalam buku yang merek belum tahu pasti akan membuat mereka bertanya pada kedua orangtuanya. Pengalaman saya sendiri adalah makin banyak pertanyaan yang membuat saya harus pandai memilih kata agar anak mudah memahami jawabannya. Wah, ternyata anak bisa membaca akan menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua.

Adapun manfaat membaca bersama anak ataupun membaca sendiri bagi anak sangat banyak. Jadi, mulai saat ini tidak ada alasan untuk tidak membaca buku bersama anak. Ingat satu hal yang juga penting bahwa anak melihat dan meniru orangtuanya maka ketika pastikan anak juga melihat orangtuanya membaca buku. Jika tidak suka membaca bagaimana? Cobalah memulai untuk mencintai membaca, insya Allah bisa. Pasti akan sangat seru nanti saat anak-anak makin besar dan bisa membaca buku-buku bagus bersama kita, mendiskusikan cerita-ceritanya, dan menebak-nebak latar belakang penulis mengarang cerita itu. 


Pilih-pilih buku bacaan juga perlu diperhatikan orangtua. Anak usia dini bisa dipilihkan buku cerita bergambar dengan kata-kalimat yang pendek dan sedikit. Anak usia sekolah bisa dipilihkan cerita lebih panjang dengan ilustrasi yang lebih sedikit. 

Dalam rangka turut merayakan Hari Buku Sedunia, Danone Indonesia mempersembahkan program BACA yang berkolaborasi dengan Tentang Anak. Tujuannya adalah untuk mengajak kita semua semakin mencintai membaca dan memberi kebaikan untuk anak-anak melalui sumbangan 1.000 buku bacaan.

Buku-buku yang disumbangkan adalah buku bertema kebaikan. Harapannya agar para pembaca berusia dini terbiasa berbuat baik seperti mengucapkan “Maaf”, “Terima Kasih”, dan “Tolong” sedangkan Danone Indonesia sendiri ikut menyumbangkan buku “Sampahku Tanggung Jawabku” dan “Isi Piringku”. Donasi Danone Indonesia diharapkan bisa menanamkan pola makan gizi seimbang dan kebiasaan hidup bersih bagi anak usia 4-6 tahun. 


Danone Indonesia dan Tentang Anak menggalang donasi 5.000 Buku Serial “Sikap Baik” untuk seluruh anak Indonesia. Target penyaluran donasi adalah panti asuhan area Jabodetabek, pasien anak, serta beberapa PAUD dan posyandu. Dengan memberi manfaat seluas-luasnya program BACA Danone Indonesia dan Tentang Anak turut mendukung peningkatan literasi anak.

Di tengah Ramadhan ini sungguh besar kebaikan dan manfaat yang akan didapat oleh semua orang. Teman-teman cukup dengan berdonasi melalui @wecare.id dan kebaikan kita akan sangat besar manfaatnya bagi anak-anak Indonesia. Mari melipatgandakan kebaikan melalui BACA!



Sumber: