August 14, 2018

“Eh, kamu sudah follow selebgram ini?” tanya remaja perempuan berbalut seragam putih biru pada teman disebelahnya.
“Siapa itu? Wah, kayaknya belum deh” jawab temannya yang juga berpakaian senada.
Follow dong, bagus-bagus deh isi IG-nya”
“Oh, coba kulihat, wah iya.. jalan-jalan ke luar negeri ya, enak banget” ujarnya sambil menyentuh layar following selebgram itu.



Percakapan demikian berlatar di sekolah memang sudah tidak asing lagi di kalangan siswa-siswi remaja berseragam putih merah, putih biru atau abu-abu. Gegap gempita revolusi industri digital begitu mewabah ke semua kalangan hampir tanpa batas usia. Mulai dari  mahasiswa, pekerja serta orang tua bahkan balita yang sudah lancar bicara saja begitu fasih mengucapkan Youtube pada ibunya.

Saat ini internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari setiap individu. Kebutuhan akan berkomunikasi dengan cepat sudah difasilitasi oleh media sosial. Menurut Ellison (2007), bahwa sebagian besar situs media sosial dapat membantu orang-orang untuk dapat berkomunikasi, mengenal dan dapat terhubung dengan orang lain berdasarkan ketertarikan yang sama. Beberapa orang juga senang berbagi mengenai aktivitas dirinya dan keluarganya di media sosial. Oleh sebab itu, tidak jarang kita temukan foto atau video wisata keluarga, anak remaja berswafoto (selfie) dengan temannya serta informasi lain yang bersifat personal.

Merebaknya penggunaan media sosial yang hampir tak terbatas usia ini membuat keberadaannya bagai pedang bermata dua, khususnya bagi anak-anak. Media sosial yang biasa digunakan anak diantaranya, Facebook, Youtube, Instagram dan Line. Berdasarkan riset PUSKAKOM FISIP UI tahun 2017, anak dan remaja memilih media sosial tersebut karena teman-teman sekitar pun memakainya, fitur dalam media sosial lengkap seperti berkomentar, berbagi informasi (foto, video) dan berkomunikasi (chatting) serta media sosial mudah digunakan dalam aplikasi smartphone (telepon pintar).

Presentase Media Sosial yang diakses. sumber: hootsuite


Pengguna Internet Indonesia.  sumber: hootsuite


Dalam survei penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tahun 2017 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan responden sebanyak 9.419 Rumah Tangga dan individu dari 34 provinsi ditemukan bahwa lebih dari setengah masyarakat Indonesia sudah memiliki telepon pintar atau smartphone. Adapun kepemilikan telepon pintar ini akan memudahkan akses terhubung dalam internet sehingga lebih mudah pula akses menuju media sosial. Hasil riset we are social bersama hootsuite menunjukkan bahwa dari 132.7 juta pengguna internet di Indonesia, sebanyak 130 juta-nya adalah pengguna sosial media dengan dominan mengakses internet dari telepon pintar.

Akses internet Indonesia. sumber: hootsuite


Pengguna media sosial. sumber: survei Kominfo 2017
Hasil ini tentunya bukan hal yang mengagetkan bagi kita, mengingat setiap harinya dimanapun kita berada semua orang memiliki smartphone pribadi yang selalu digunakan setiap harinya. Kemudahan berkomunikasi ini juga yang menjadi motivasi orang tua memberikan anak-anaknya telepon pintar. Inilah yang akhirnya menjadi pintu masuk bagi anak ke dalam media sosial. Meskipun Facebook, Instagram, Youtube dan media sosial lainnya sudah membuat aturan minimal 13 tahun bagi pengguna, faktanya masih dapat kita temukan pengguna media sosial berusia kurang dari 13 tahun. Peraturan ini seolah diacuhkan. Ini menunjukkan pentingnya literasi digital bagi anak maupun orang tua dan guru di sekolah.

Dalam penelitian Candra (2013) ditemukan hasil interaksi anak-anak dalam usia 3 hingga 12 tahun dengan internet secara umum dimediasi oleh orang-orang disekitarnya. Orang-orang yang memiliki peran memperkenalkan internet untuk pertama kalinya pada anak-anak, antara lain: orangtuanya (45%), anggota keluarga lain selain orangtua seperti kakak, sepupu atau paman, dan bibi (29%), guru (11%), dan teman (2%). Anak-anak yang menyatakan belajar sendiri secara autodidak sebanyak 10%. Penelitian ini semakin menegaskan bahwa pengaruh orang tua terhadap anak dalam menggunakan media sosial begitu besar.

Anak-anak yang menggunakan media sosial secara bebas dikhawatirkan akan terkena dampak negatif dari penggunaan media sosial tersebut. Faktanya, beberapa kasus penculikan anak perempuan usia belasan di Gorontalo dan Batang diawali dengan pertemanan dengan orang asing di media sosial Facebook. Pelaku berpura-pura menjadi teman korban dengan identitas palsu. Lalu, sering berkomunikasi lewat fitur pesan instan dan akhirnya mengaku jatuh hati pada korban. Pelaku pun merayu korban untuk menjadi teman perempuannya lalu mengajak bertemu.



Hal inilah yang menjadikan keamanan dalam menggunakan media sosial bagi anak perlu diperhatikan orang tua. Mengingat dalam anak merupakan tanggung jawab orang tua dan disinilah pentingnya ada diskusi antara anak dan orang tua mengenai hal positif dan negatif dari penggunaan media sosial. Ini sejalan dengan riset dari Leung dan Lee (2011) yang mengungkapkan bahwa anak atau remaja yang mengakses internet mempunyai beberapa potensi risiko karena mereka bertemu dengan orang yang mungkin bisa membahayakan dirinya, terpapar dengan konten penyimpangan sosial, terhubung dengan pedophilia, terpapar dengan konten pornografi/kekerasan/kebencian, tereksploitasi secara komersial, terganggu privasinya, dan terhubung dengan orang yang tidak dikehendaki.

Sebagai orang tua pastinya kita tidak ingin anak mengalami hal-hal buruk selama berkomunikasi lewat sosial media. Bukankah cukup kasus Bowo Tiktok yang dipenuhi dengan perundungan (bullying) dari warganet se-Indonesia menjadi pelajaran bagi kita semua? Seorang remaja menjadi terkenal lalu dirundung oleh seluruh warganet di sosial media sampai-sampai sang ibu harus merelakan keluar dari pekerjaannya karena tak sanggup menahan perundungan terhadap anaknya. Dampak negatif ini tentu tidak diharapkan oleh orang tua namun ketika anak sudah mengenal media sosial maka ia akan berisiko mengalami hal negatif.

Orang tua sebagai pelindung anak, bertanggung jawab untuk mengawasi penggunaan sosial media bagi anak. Oleh sebab itulah, diperlukan pengasuhan yang berkualitas, berwawasan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Sebagaimana pesan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise dalam rangka Hari Anak Nasional bulan Juli lalu bahwa Keluarga mempunyai peran untuk melindungi anak dengan memberikan pola asuh yang sesuai dengan prinsip yang digunakan dalam pembangunan Anak Indonesia, yang mengacu pada KHA (Konvensi Hak Anak). Hak-hak tersebut diantaranya, Non Diskriminasi; Kepentingan Terbaik bagi Anak; Hak Hidup, Kelangsungan Hidup, dan Perkembangan; dan Menghargai Pandangan Anak. Pesan lengkapnya dapat dibaca di sini Peringati Hari Anak Nasional, ini pesan Ibu Menteri PPPA.

Di era yang serba digital ini semua dapat diperoleh cukup dengan satu sentuhan jari. Internet dengan kecanggihannya mampu membuat kita tidak perlu pergi jauh untuk berbelanja, mudah berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat yang jauh sekalipun berbeda benua sampai mendapatkan informasi terbaru. Berbagai kemudahan ini hendaknya tidak menjadikan kita lalai sebagai orang tua yang tetap perlu menemani anak-anak kita belajar tentang kehidupan di era digital. Oleh sebab itu, diperlukan keterlibatan seluruh anggota keluarga baik Ayah, Ibu, Kakek, Nenek serta Om dan Tante dalam mengawal anak-anak menggunakan media sosial.

Kerjasama ini sangat penting, mengingat konsistensi dalam mendidik perlu diterapkan agar anak memiliki pendirian yang kuat. Ketika ada aturan dari orang tua, maka dari anggota keluarga yang lain pun aturan yang sama tetap berlaku. Sehingga anak tahu cara mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua menyiapkan anak pemahaman mendasar mengenai penggunaan media sosial. Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anak untuk cerdas bermedia sosial:
  1. Fokus pada aspek positif media sosial dengan menjelaskan dapat mengikuti teman-teman atau tokoh yang memberikan contoh yang baik.
  2. Membuat jadwal daring saat di rumah sehingga anak dapat mengendalikan dan tahu batasan mengakses media sosial.
  3. Bersama anak mencoba aktivitas lainnya seperti olahraga luar ruang atau hobi berjalan-jalan yang tidak melulu berhubungan dengan media sosial.
  4. Diskusikan dengan anak bagaimana menggunakan media sosial agar bisa berbagi informasi dan ilmu, misalnya dengan membuat tutorial atau diskusi materi belajar.



Menjadi orang tua akan selalu menghadapi tantangan dalam mendidik anak. Di era digital saat ini orang tua ditantang untuk selalu terlibat mendidik di dunia nyata dan maya. Berbagai aspek positif dan negatif dari media sosial pastinya harus didiskusikan dengan anak. Dengan begitu, anak akan memilki dasar pendirian yang baik dan bijak dalam menggunakan media sosial. Ayo jadi #sahabatKeluarga yang bijak ajak anak cerdas bermedia sosial.






What is interesting is the power and the impact of social media... So we must try to use social media in a good way. 
-Malala Yousafzai
 #sahabatKeluarga


Referensi:
Ellison, N. B., Steinfield, C., & Lampe, C. (2007). The benefits of facebook "friends: " Social capital and college students' use of online social network sites. Journal of Computer-Mediated Communication, 12(4), 1143-1168. DOI: 10.1111/j.1083-6101.2007.00367.x

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2017). Survei Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Leung, Loius&  Paul S.N. Lee. (2011).The influences of information literacy, internet addiction and parenting styles on internet risks. New Media & Society Vol 14, Issue 1, pp. 117 - 136 https://doi.org/10.1177/1461444811410406

Puspita Adiyani Candra, 2009 (2013) PENGGUNAAN INTERNET PADA ANAK-ANAK Studi Deskriptif tentang Penggunaan Internet pada Anak - Anak Sekolah Usia 6-12 Tahun di Kota Surabaya. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.



July 24, 2018

Apa itu metode Montessori? 


Pertama kali mendengar Montessori pikiran saya langsung menerawang jauh mengenai pendidikan anak dan tentunya yang sangat erat dengan ini adalah sekolah Montessori. Dulu saya hanya tahu sepintasan, bahwa metode ini sudah ada aturan-aturan tertentu dan alat belajar yang standar. Pikiran saya kala itu, "ah kok kayaknya ribet amat sih?". Sudahlah, akhirnya saya tidak lagi melirik metode tersebut.


Metode Montessori


Setelah beberapa lama, saya berkesempatan menelisik lebih jauh tentang Metode Montessori. Seorang teman yang memang sudah lebih dulu ikut Certified Montessori teacher membagi pengetahuannya untuk berdiskusi. Wah, saya malah terkagum-kagum dengan metode yang lahir di Italia ini. Bagaimana tidak, anak diperlakukan begitu sesuai dengan perkembangannya dan yang membuat saya makin senang adalah metode ini menyiapkan anak untuk menghadapi kehidupan dengan mandiri.

Saya yang masih kurang puas kalau belum baca bukunya. Akhirnya, saya mencari ebook The Montessori Method buah pikiran dari Dr. Maria Montessori sejak tahun 1900an. Jika kamu mau mencari, kamu bisa mendapatkan ebook-nya gratis di Gutenberg project. Kalau saya mengunduh versi kindle-nya supaya langsung dibaca di kindle.

Tahun 1896, Dr. Maria Montessori menjadi dokter perempuan pertama di Italia. Pendidikan dari ibunyalah yang membuat Maria kecil menyukai membaca dan haus akan ilmu. Maria Montessori pun bersemangat untuk sekolah lebih tinggi, padahal ini bukanlah hal yang biasa bagi perempuan Italia masa itu. Pengalamannya menangani anak berkebutuhan khusus di rumah sakit membuat Montessori menerima tantangan baru untuk merawat anak-anak di area miskin tahun 1907. Pengalaman dan observasinya selama di Casa dei Bambini inilah yang menjadi asal filosofi Metode Montessori.

Il Metodo della Pedagogia Scientifica applicato all’educazione infantile nelle Case dei Bambini— dikenal dengan terjemahan versi bahasa Inggrisnya The Montessori Method dipublikasikan tahun 1909. Sejak itulah, metode Montessori menyebar luas ke daratan Eropa dan seluruh dunia.

Filosofi Montessori dalam proses belajar anak diantaranya:

1. Absorbent Mind
Bahwa pondasi awal untuk kehidupan selanjutnya berada pada enam tahun pertama. Usia 0-6 merupakan periode anak mencerna dan mendapat pengetahuan dari lingkungannya yang disebut Absorbent Mind (pikiran menyerap). Montessori membagi menjadi dua periode ini pertama adalah tahap tidak sadar (Unconscious Mind) pada usia 0-3 tahun dan tahap sadar (Conscious Mind) mulai usia 3 hingga 6 tahun.

2. Sensitive Period
Pengamatan Maria Montessori, bahwa ada pada periode tertentu anak-anak sangat tertarik dengan sesuatu dan ingin berulang-ulang melakukan hal yang menarik baginya. Inilah yang disebut dengan periode sensitif. Secara garis besar, periode sensitif dibagi menjadi beberapa bagian sesuai usia:
  • Sensitivitas pada keteraturan (0-3 thn)
  • Sensitivitas belajar melalui panca indra (0-6 thn)
  • Sensitivitas pada benda-benda kecil (1-2 thn)
  • Sensitivitas pada kaki (1-4 thn)
  • Sensitivitas bahasa (0-6 thn)
  • Sensitivitas pada aspek sosial (2-6 thn)

Montessori Sensorial


3. Follow The Child
Maksud dari follow the child ialah mengikuti kemauan dan ketertarikan anak pada saat tertentu. Lalu, dikembangkan lagi ke arah yang berhubungan dengan ketertarikan anak. Misalnya, anak sedang tertarik dengan air, maka orang tua bisa menyiapkan pembelajaran tematik segala hal yang berhubungan dengan air. Follow the Child juga tidak berarti mengikuti semua keinginan anak tanpa batas sebab ada orang tua sebagai pengamat dan penyemangat anak selama proses.




Metode montessori sensorial


4. Prepared Environment
Prepared Environment adalah area sekitar yang disiapkan untuk anak agar dapat bereksplorasi di lingkungannya dengan bebas, aman, dan nyaman. Misalnya, menyediakan rak piring dengan posisi sesuai dengan ketinggian anak agar ia mudah mengambil yang dibutuhkan. Intinya, anak dibuat memahami bahwa lingkungannya mendukung untuk dirinya lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Maria Montessori membagi area pembelajaran Metode Montessori menjadi lima area, yaitu: area Keterampilan hidup, Sensorial, Bahasa, Matematika, dan Budaya. Bagi saya ini pembagian area ini sangatlah menarik sebab prinsip Montessori disesuaikan dengan perkembangan anak di setiap usia.

1. Area Keterampilan Hidup (Practical Life Skills)
Mungkin banyak yang bertanya-tanya untuk apa anak belajar keterampilan hidup? Apakah sudah cukup usia dini diajarkan hal demikian? Justru di awal inilah mengasah keterampilan hidup sejak dini akan mendukung anak untuk siap menghadapi tantangan perkembangan selanjutnya. Pada area ini anak contoh aktivitasnya diantaranya membawa baki, menuang air, memindahkan biji-bijian dengan sendok, mengaitkan berbagai jenis kancing, menjepit dan meronce. Berbagai aktivitas ini bertujuan meningkatkan kemampuan anak berkonsentrasi.

2. Area Sensorial
Area sensorial menstimulus anak untuk menggunakan kelima inderanya. Dengan begitu, anak akan lebih mudah memahami dan belajar banyak hal berbeda. Aktivitas yang bisa dilakukan misalnya meraba tekstur berbeda (halus-kasar), membedakan ukuran tebal-tipis, besar-kecil, panjang-pendek serta tinggi-rendah. Contoh aktivitasnya seperti menyusun pink tower, brown stairs, red rods serta colorbox.
 

Pink Tower
 
3. Area Bahasa
Pembelajaran bahasa dalam Montessori sangat terstruktur dan runut. Diawali dengan mengenal bunyi fonik (awalan huruf) hingga anak bisa menuliskan simbol bunyi (huruf) lalu anak dapat mengeja dan membaca. Jadi, pada Montessori anak belajar mengenal simbol bunyi lalu dapat menuliskannya terlebih dahulu setelah itu barulah membaca dan menyalin. Aktivitas bahasa ini berupa three part card fonik, metal insets (melatih kekuatan jemari untuk menulis), sandpaper letter dan alfabet besar (large movable alphabet).

montessori inset
Inset Montessori
 4. Area Matematika
Matematika terkenal menjadi hal yang kurang menyenangkan untuk dipelajari. Penelitian Montessori mengubah itu menjadi hal yang sebaliknya. Ya, pembelajaran dari konkret ke abstrak membuat matematika menjadi sangat menyenangkan. Anak mengenal angka dari bentuk konkret number rods, belajar menulis angka dengan sandpaper number dan belajar konsep angka hingga ribuan dengan golden beads.

5. Area Budaya
Area budaya mengenalkan anak akan kehidupan alam dan sekitarnya mulai dari tumbuhan, hewan, geografi serta sejarah. Anak diajak berpikir kritis mengenai keadaan sekitarnya dengan begitu ia akan belajar memahami peranannya sebagai manusia. Kepekaan ini pun diasah dengan konsep konkret-abstrak. Anak mengenal alam semesta dari miniatur bumi, peta bumi, kondisi alam seperti selat,pulau, laut, gunung hingga anatomi tumbuhan dan hewan dengan detail setiap bagian organnya dan keunikan penciptaan.

Sepenuhnya saya begitu kagum dengan konsep yang dibawa oleh Montessori. Memang metodenya sesuai dengan teori kognitif perkembangan anak, bahwa usia dini anak butuh benda nyata untuk membedakan sesuatu hal. Barulah memasuki usia sekolah, kemampuan abstraksi anak berkembang semakin baik.




Berbagai aktivitas dan material Montessori memang saling berhubungan sehingga akan sangat mudah bagi anak belajar berbagai hal dengan metode ini. Misalnya saat belajar keterampilan hidup meronce, menyendok serta memasang kancing anak akan mengembangkan kemampuan motorik halus jari-jarinya. Kemampuan ini sebagai awalan melatih anak untuk persiapan menulis pada area bahasa dengan metal inset.

 Montessori quote, metode montessori

Alhamdulillah, postingan yang hampir gak kelar ini akhirnya kelar juga, hahaaa... Sungguh ilmu saya masih sedikit perihal Metode Montessori ini, saya juga belum mengambil diploma Montessori, jadi jika ada yang kurang tepat maka bisa koreksi langsung ya... santai aja saya mah, hehe... Selebihnya, jika ada yang bisa diambil jadi manfaat silakan dibagi-bagi.





April 30, 2018


Technology is nothing. What’s impotant is that you have faith in people, that they’re basically good and smart, and if you give them tools, they’ll do wonderful things with them. (Steve Jobs)


Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat hidup manusia lebih mudah. Ini terlihat dari munculnya berbagai gawai (gadget) yang semakin pintar mulai dari telepon pintar hingga jam pintar. Tentunya kepintaran gawai ini akan semakin bermanfaat jika sesuai kebutuhan pemakainya.



Dahulu telepon umum sempat berjaya di era 90-an namun kini sudah tergantikan oleh ponsel pintar. Jadi, jika sekarang kita temukan kotak telepon umum di tepi jalan maka sudah dipastikan itu hanyalah pajangan, haha seriously! Mereka semua sudah tidak bisa dipakai lagi. Saya pernah mencoba sendiri di sebuah mal yang masih terpajang deretan kotak telepon umum dan tak terdengar nada sambung apapun. Kemajuan teknologi perlahan akan menggerus mereka yang tidak dapat mengikuti zaman.

April 21, 2018

 Sepanjang tahun 2018 ini ada beberapa target pencapaian yang begitu menantang bagi saya. Saya berkesempatan mempelajari hal baru. Saya merasakan semangat yang menyegarkan dan begitu berbeda kali ini. Haha… maklum ya, namanya udah lama belum belajar sesuatu yang serius. Jadi, rasanya bener-bener ghirah gitu.

 Julie's Peanut Butter  
Berhubung saya punya aktivitas baru selain nulis blog dan di luar peran keluarga, tentunya perlu alokasi waktu khusus. Kalau begitu, biasanya saya bikin rencana belajar selama sepekan. Apa saja yang mulai akan dikerjakan, sudah dikerjakan dan sudah sejauh mana dari target selesai. Ini khusus buat aktivitas baru saya, belajar tentang sekolah rumah (homeschooling) usia dini secara daring.


Alhamdulillah, kelas daring berlangsung malam hari. Jadi, setelah suami pulang saya serahkan urusan Kristal dan apapun padanya sedangkan saya fokus belajar di kelas virtual. Kelas virtualnya pun ada tugasnya lho, makanya ini bikin saya perlu usaha lebih dalam mengatur waktu sehari-hari.


Aktivitas padat? Sudah pasti. Lelah? Kadang ada, ya namanya juga manusia. Bosan? Enggak sama sekali. Ini pasti karena saya suka banget dengan rutinitas baru, bukan yang itu-itu aja, wkwk.. gaya banget ah! Iyalah, air aja kalau gak gerak jadi sarang nyamuk nan tidak berfaedah apalagi kita, manusia kalau hidup gak dinamis ya gak hidup alias mati, ye kan?


Saya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang bukan sekedar menjalani rutinitas. Saya berharap ada sesuatu dibalik rutinitas yang diharapkan akan bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Bergabungnya saya dengan beberapa komunitas baik komunitas blogger ataupun sekolah rumah membuat saya menjadi lebih hidup. Ada hal yang mampu saya berikan sesuai dengan kemampuan saya.


Dukungan sepenuhnya datang dari suami yang selalu mengingatkan hidup jangan cuma begitu-begitu aja. Biasanya kami mengobrol mulai dari hal-hal kecil yang bikin tertawa bareng sampai juga obrolan serius di pagi hari setelah subuh.


Bercerita tentang kehidupan yang sudah dan akan dilalui keluarga memang paling asik ditemani juga camilan enak seperti Julie’s Peanut Butter Sandwich. Biskuit dengan lapisan selai kacang ini terasa berbeda di lidah. Awalnya,saya berprasangka selai kacangnya pasti terasa manis sebagaimana umumnya selai kacang. Tetapi, ini bener-bener beda ya, duh saya jadi malu atas prasangka saya.



Julie’s Peanut Butter Sandwich memiliki rasa selai yang lebih terasa gurihnya dengan manis yang pas. Rasa gurih selai berpadu dengan biskuit yang cenderung asin menjadikannya Julie’s lebih legit saat digigit.

Aih, saya suka yang begini nih..



Biasanya saya kurang terlalu doyan biskuit kacang karena aromanya yang agak menusuk hidung. Berbeda dari yang biasanya Julie’s Peanut Butter Sandwich memiliki aroma yang menyenangkan untuk dihidu, haha.. Enak banget wangi selai kacangnya sungguh menggoda. Suka deh, pokoknya. Apalagi si Kristal pas nyobain sekali eh minta nambahnya berkali-kali. Separuh bungkus biskuit habis sama dia seorang, wkwkw… doyan bener neng?

Julie’s Peanut Butter Sandwich diproduksi negara tetangga, Malaysia. Khusus pemasaran di Indonesia Julie’s telah lulus sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Semua produk biskuit dari Julie’s telah mendapat sertifikasi halal yang berlaku sampai tahun 2019.

 

Lomba Foto Julie’s Berhadiah Microwave

Bagi kamu yang seneng ngemil dan tergoda untuk mencicipi Julie’s di tiap gigitannya, cus ke Indomaret terdekat dan temukan Julie’s Peanut Butter Sandwich 90 gr. Struk belinya disimpan dulu. Terus seru-seruan foto bareng Julie’s Peanut Butter Sandwich dengan tema Buah Tangan #PenuhCintaDariJulies.



Kalau sudah foto-foto, unggah hasilnya dan ceritakan dengan siapa kamu berbagi kelezatan Julie’s Peanut Butter disertakan tagar #BuahTanganPenuhCintaDariJulies.
Kalau mau unggah ke Facebook, kamu dapat mengunggahnya di Fanpage Julie’s Peanut Butter: Julie’s Indonesia atau dapat juga ke Instagram Julies @julies.ind. Syarat dan ketentuan lomba bisa dilihat di bit.ly/BuahTanganPenuhCintaDariJulies
Lomba ini berlangsung sampai 30 April 2018. Yuk, ah cepetan ikut. Siapa sih yang gak mau hadiah segini banyak:
  • Juara 1: Mendapat 1 pcs Modena microwave senilai Rp 5.000.000 + Shopping voucher senilai Rp 1.000.000 dan paket produk
  • Juara 2: Mendapat cooking set senilai 2.000.000 + Shopping voucher Rp 1.000.000 dan paket produk
  • Hadiah hiburan untuk 10 pemenang berupa shopping voucher senilai @ Rp 250.000 dan paket produk
Aaakk… aduhai microwave, belum punya nih… saya jadi kepingin juga.. wkwk
Ayo ah, ikutan semua, saya tunggu ya… Semoga dapet rezeki yang pas..



March 12, 2018

Bibir kering bukanlah masalah baru bagi saya. Sayangnya, ini jadi masalah hidup yang enggak kelar-kelar. Kadang menyebalkan rasanya, sudah pakai produk sana-sini belum juga menghilangkan keringnya bibir saya ini.

“Itu mah dehidrasi kali”

Ah, gimana mau dehidrasi kalau seharian sudah minum berbotol-botol yang sebotolnya sekitar 800 ml coba?