Showing posts with label homeschooling. Show all posts
Showing posts with label homeschooling. Show all posts
Memangnya, anak HS dapat imunisasi juga?

Lah, kenapa enggak? Kan tetap masuk haknya di usia sekolah dapat imunisasi kayak anak-anak sekolah biasa



Mungkin sebagian keluarga homeschooler yang lebih dulu praktik sudah lebih paham kondisi anak-anak HS. Bagi yang baru seperti kami memang harus aktif cari informasi sana-sini tentang imunisasi usia sekolah. Saya juga baru ingat pas kelas satu SD itu dapat imunisasi di sekolah dan dapat surat yang warna kuning terus dibawa pulang untuk ditandatangani orang tua. Jadilah, saya bertanya-tanya bagaimana ya supaya anak HS bisa vaksin juga dengan gratis karena masuk program pemerintah.




Jelang akhir tahun, di bulan November 2021 kami sudah menjalani homeschooling tingkat setara sekolah dasar selama enam bulan dan sudah terdaftar di PKBM. Saya pun tanya dengan teman-teman se-PKBM, berdasarkan pengalamannya bisa datang langsung ke puskesmas terdekat, bilang aja mau vaksin anak sekolah. Selain itu, ada juga teman lain yang mengatakan vaksin anak-anaknya sendiri di poli dokter spesialis dengan biaya sendiri tentunya.


Alhamdulillah saya ada teman yang bekerja di puskesmas jadi bisa langsung tanya perihal vaksin anak sekolah yang homeschooling. Ternyata memang masuk dalam cakupan program vaksinasi wajib dari pemerintah.

vaksin anak homeschooling
Jadwal Imunisasi anak SD

Tahun 2021, saya masih tinggal di Depok, jadi saya segera mengkonfirmasi puskesmas terdekat. Alhamdulillah, sejak covid jadi ada kontak WA puskesmas yang bisa ditanya tentang imunisasi. Katanya puskesmas nanti mulai imunisasi anak sekolah di bulan Desember dan bisa datang langsung cukup bawa kartu identitas anak.

Akhirnya, kami datang ke puskesmas, mendaftar untuk imunisasi anak sekolah. Setelah di ruangan vaksin, petugas kesehatan bertanya kelas berapa, sekolahnya dimana? Saya jelaskan anak kelas satu SD dan homeschooling. Petugas langsung oke dan menjelaskan vaksin yang akan disuntikkan itu dua kali, di tangan kanan dan kiri. Setelah selesai, petugas memberikan kartu imunisasi dan menuliskan vaksin yang diberikan sesuai usia anak saya.

Kartu Imunisasi si Kaka


Kartu Imunisasi


Alhamdulillah, semudah itu pengalaman kami imunisasi untuk anak HS. Jadi, mungkin bagi teman-teman HS lain yang anaknya masuk usia imunisasi boleh dicek dulu ke puskesmas di tempat tinggal. Ada kenalan lain, yang juga mau vaksin anaknya malah di ‘pingpong’ katanya harus ke PKBM terdaftar dan seperti dipersulit.

Saya penasaran tentang peraturan imunisasi ini, apakah memang anak HS tidak bisa imunisasi? Akhirnya, saya cari di google tentang peraturan imunisasi anak sekolah dan keluarlah peraturan dari website Kemendikbud. Bisa diunduh sendiri di sini. Ternyata memang imunisasi ini diperuntukkan bagi anak usia sekolah di pendidikan formal maupun bagi anak usia sekolah di pendidikan non-formal atau dari peraturan itu tidak bersekolah. Semuanya berhak dapat imunisasi sesuai usia dan gratis dari pemerintah.
imunisasi anak SD
Imunisasi untuk semua anak

Tahun 2022 saya pindah ke Bandung dan sudah siap-siap untuk cari info imunisasi anak SD kelas dua. Bulan November 2022, saya coba mengontak puskesmas terdekat dulu, menanyakan untuk imunisasi anak sekolah, kelas 2. Petugas pun mempersilakan saya untuk datang di hari khusus vaksin anak, cukup membawa kartu identitas anak.

Kami datang ke puskesmas di Bandung, mendaftarkan diri untuk imunisasi anak dan mengantre untuk dipanggil petugas. Saat di dalam, mungkin karena sudah hampir lewat waktunya, petugas menanyakan ke saya, “Kok baru sekarang? Kemarin kemana gak di sekolah?” 

Saya jawab saja sambil senyum, “Iya, ini homeschooling bu”. Petugasnya bertanya kelas berapa dan menyiapkan vaksin. Saya diminta menulis data anak di lembaran yang sudah hampir penuh dengan nama anak sekelas. Saya juga tidak diberikan catatan vaksinasi di kartu imunisasi yang saya sudah perlihatkan.

Memang perlu modal berani karena sebagai orangtua homeschooler kita sendiri yang menjadi advokat bagi kebutuhan anak ya. Berbeda dengan sekolah yang normalnya apa-apa akan diinfokan dari pihak sekolah atau guru. Oleh sebab itu, jadilah proaktif mencari info-info untuk kebutuhan kesehatan anak-anak kita sendiri. Jika teman-teman ada yang mungkin kesulitan imunisasi, mungkin saat datang ke puskesmas bisa menunjukkan peraturan imunisasi dari kemendikbud di atas. InsyaAllah, semuanya valid dan kita bisa meminta imunisasi untuk anak-anak Homeschooler.









Sebelumnya saya hanya pernah sayup-sayup mendengar tentang homeschooling. Dulu itu berlaku bagi anak-anak yang jadi artis di usia sekolah karena waktunya terbagi antara pekerjaan dan belajar. Eh, ternyata bukan begitu konsepnya! Suami saya sudah mendengungkan ide ini sejak anak kami berusia satu-dua tahun gitu, saya yang anak sekolah negeri tulen agak heran juga dengan konsep ini, lha ya coba gimana gitu gak sekolah dan ambil ujian persamaan paket pendidikan, yakin nih?

Saya pun mulai cari tahu konsep pendidikan bernama homeschooling (HS). Saya ikuti webinar dari pasangan suami istri yang full homeschooling ketiga anaknya. Banyak yang saya tanyakan, diskusikan dan akhirnya membuat pikiran saya lebih terbuka mengenai konsep ini. Selain itu, saya juga diperlihatkan dan bertemu keluarga lainnya yang juga menerapkan HS. Lalu, saya terpukau wkwkw…

Photo by Taylor Heery on Unsplash


Anak saya sudah memasuki usia 2 tahun lebih, saya bertemu metode belajar anak yang menyenangkan dan berlanjut dengan kesepakatan bahwa konsep ini bisa diterapkan pada anak. Saya pun mempelajarinya dan membuat sendiri beberapa alat belajar (aparatus) di rumah berbekal sumber dari blog dan website di internet. Saya hampir mau lanjut kuliah sertifikasinya lho, dulu sih biayanya puluhan juta setahun, hahaha gak tahu deh kalau sekarang berapa. Lalu, saya diskusi ke teman yang sudah kuliah duluan dan menurutnya jika buat di rumah sih tak perlu-perlu banget ambil kuliah diploma. 



Akhirnya, saat anak memasuki usia 4 tahun lebih saya makin intens mengajarkannya membaca, menulis dan hal penting terkait iman dan ibadah. Alhamdulillah, anak saya dimudahkan belajar membaca melalui fonik dan bisa membaca lancar di umur 4 tahun lebih. Pas tahun 2020, masuk 5 tahun masih nyari sekolah gitu, terus Covid, jadi berpikir ulang tentang rencana sekolah formal dan sepertinya tidak bisa berharap banyak pada sekolah formal. Akhirnya, kami memutuskan tidak menyekolahkannya ke TK dan belajar di rumah saja.


Saat itu saya juga belum mendaftarkan anak ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) karena masih mencari yang cocok. Jadi, masuk SD kelas 1 nanti sudah sekalian daftar PKBM. Eh, jadi niat HS nih? Iya, karena kami saat itu harusnya pindah ke Bandung karena suami saya melanjutkan sekolah juga. Setelah itu, belum tahu pasti akan tinggal dimana, terus kalau pindah sekolah dan nyari-nyari lagi sepertinya melelahkan juga. Selain itu, saya merasa dengan homeschooling bisa lebih fleksibel memilih metode belajar untuk anak yang ternyata ada banyak banget, haha.


PKBM itu banyak ya dan memang ada yang khusus bagi anak-anak tidak bisa sekolah formal terkendala biaya dan kemampuan, ada juga yang sangat mendukung HS karena biasanya yang bikin orang tua yang pengalaman HS untuk anak-anaknya. Saya sempat cari-cari tahu di beberapa tempat termasuk cara belajar, kurikulum yang saklek atau fleksibel dan juga biaya pendidikannya termasuk uang tahunan, SPP dan biaya lain-lain. Alhamdulillah, setelah muter-muter ke sana sini, kami bisa menemukan tempat yang saat ini insya Allah baik sebagai rekan kami untuk HS. Tempat yang nyaman dan sangat mendukung atmosfer untuk cinta ilmu dan belajar.

Keputusan HS tidak bisa dadakan, perlu pertimbangan yang matang dan hendaknya bukan jadi bentuk kekecewaan kita pada pendidikan formal yang pernah kita jalani dulu, misalnya karena dulu di sekolah umum begini, begitu, dan pernah banyak dapat “luka” akhirnya memutuskan HS. 

Justru berangkatlah HS bukan karena kekecewaan atau luka dan perasaan negatif dari pengalaman melainkan kita inginkan cara baru dan metode yang bisa menyesuaikan dan disesuaikan dengan kondisi anak & orang tua untuk mendukung pendidikan. Belajar bisa di mana saja, tidak mesti berangkat sekolah, baik formal dan non-formal semuanya sama-sama punya kebaikan dan tentu kekurangan. 

Photo by sofatutor on Unsplash


Mari ambil yang baik dan sesuaikan dengan kondisi tiap keluarga. Saya tidak sugar coating HS itu paling enak, justru emang paling ribet wkwk… haha begitulah rasanya. Mesti mau belajar dan tumbuh bersama anak, open mind dan growth mindset jadi modal besar orang tua yang memutuskan HS.