8/28/2018

Perkara Mainan dan Bermain dengan anak

Anak dan kebutuhan bermain

Bermain adalah dunianya anak-anak. Anak-anak selalu senang diajak bermain.  Bahkan sejak lahir pun mereka sudah memiliki kebutuhan bermain. Coba ingat-ingat waktu bayinya anak kita, cukup diajakin main ci luk ba aja udah ketawa kegirangan.

Bermain menjadi sarana anak untuk belajar. Oleh sebab itu, mainan dan kebutuhan bermain anak ibarat smartphone dan kuota (lol) saling membutuhkan. Kuota tanpa hape buat apa, hape tanpa kuota pun tak berdaya. Itu mah ibarat aja ya, walau mirip-mirip dikit sih. Satu hal lagi anak yang usia 3 tahun ke atas itu pasti enggak pernah diam dan melamun, dia seringnya bermain mainan atau sesuatu yang menurutnya bisa dijadikan mainan seperti centong nasi misalnya.



Asal muasal mainan di rumah
Anak diajak ke mal lalu lewat di depan toko mainan pasti dia berhenti terus masuk, keliling eh, tahu-tahu main ambil aja terus dikasih ke emaknya.. lhaa... Emak pusing yang bayarnya.

Sejak jadi orang tua, biasanya kita jadi senang belanja mainan anak. Mulai dari boneka, mobilan, atau bela-belain ikutan arisan aneka mainan edukatif yang lagi rame. Kadang juga, anak dapet mainan dari kakek nenek atau om tantenya. Nah, kalau ini mah sudah pasti tak terelakkan lagi sebab bagi anak menerima mainan sebagai hadiah adalah hal yang paling membahagiakan. Sayangnya, kalau kebanyakan mainan yang menumpuk juga kan jadi bikin interior rumah emak gak instagram-able lagi, wkwk..

Ada satu lagi asal mainan yang dibuat sepenuh hati oleh orang tua di rumah. Hati yang berdesir ketika melihat ide-ide DIY mainan di pinterest bener-bener bikin hati emak serasa jadi emak terbaik. Nyari bahannya di rumah, gunting kertas, ngelem ini itu terus taraaa... Jadi deh mainan bikinan sendiri buat anak, seketika merasa bahagia bagai atlet peraih medali emas Asian Games, eh. 


Ekspektasi vs Realita
Niat hati mengajak anak main gunting aneka pola. Pola sudah dicetak, gunting disiapkan lalu diberi contoh cara menggunting. Anaknya malah membungkus gunting pakai kertas polanya. Duh ya, jadi gemas antara emak kecewa tujuan main jadi batal sama kelakuan anak yang begitu bebas dan kreatif bungkus gunting kek nasi uduk habis itu dibilang "bunda mau beli apa lagi?" Atau tiba-tiba anak berinisiatif sendiri ambil manik berwarna dan mangkuk, lalu bermain sorting color sendiri, tanpa diajak atau diminta, ajaib kan.. wkwkw


Ambil sendiri, main sendiri, insiatif sendiri

Anak-anak mah gitu kok emang, bebas... Apa aja yang bagi kita bukan mainan bagi mereka bisa jadi mainan yang menyenangkan hati. Seperti Kristal dulu senang banget sama plastik kresek. Semua jenis plastik kresek dari yang hitam sampai merk indom**et diisiin mainannya. Apa aja masuk ke dalam plastik mulai dari pensil, kartu, kertas, jepitan, tempelan kulkas sampai boneka. Katanya, "ini belanja Bun" iya nak iya. Di waktu lainnya, dia iseng menyusun benda-benda layaknya pink tower Montessori (waktu itu emak belum bikin Pink Tower). Sungguh kubangga padamu nak, memberdayakan apapun jadi mainan!


Mainan anak
Menara Segala Rupa, coba tebak apa aja yang ada? haha..

Setelah sekian purnama rencana bikin, akhirnya jadi juga.




Bermain memang hakikatnya adalah hak anak. Ini bahkan tertuang dalam peraturan PBB bagian Hak Asasi Manusia.¹ Iya, sepenting itu bermain sampai menjadi hak asasi anak *langsung berasa zalim kalau melarang anak main, duh ya...

Persatuan dokter spesialis anak di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa bermain sangat penting untuk perkembangan kognitif, fisik sosial dan emosional anak dan remaja. Bermain juga dapat menjadi kesempatan bagus bagi orang tua untuk membangun ikatan dengan anak-anaknya.² Nah, ini yang kadang kita lupa sebagai orang tua. Anak butuh juga kehadiran jiwa dan raga orang tuanya saat bermain bersama.

Senang kalau ketemu perosotan di mal, langsung ngacir

Tak bisa dipungkiri kehadiran smartphone di tangan orang tua kadang menjadi sekat antara kita dan anak kita. Walaupun raga kita menemani mereka bermain tetapi jiwa dan pikiran kita seringkali menerawang jauh ke dunia maya yang bertempat di berbagai media sosial, feed Instagram, Facebook, grup chat teman-teman dan lainnya. Justru saat bermain bersama itulah, anak-anak akan membentuk memori tentang kita, orang tuanya. Lantas, memori seperti apakah yang ingin kita bangun bersama anak-anak kita?

Menjadi orang tua kadang membuat kita merasa kehilangan waktu kita sendiri. Terlebih bagi orang tua dengan anak-anak balita hingga usia sekolah yang begitu cepat merasa exhausted. Kita mungkin lelah, ingin rehat sejenak setelah 24 jam setiap harinya berkutat dengan anak. Boleh melakukan itu, jika dengan rehat sejenak kita kembali lagi mengasuh anak-anak dengan lebih semangat.

Bermain dengan anak bukan sekedar menemaninya dengan gawai di tangan kita dan anak bermain sendiri. Lalu, ketika anak berbicara kita hanya menjawab "iya, ya dek" tanpa ada kontak mata, sebab kita terlalu sibuk melihat dunia yang lain. Kalau diperhatikan lagi, anak mah enggak perlu mainan yang macam-macam (mahal/ DIY atau apalah), satu hal yang pasti mereka akan lebih bahagia jika bermain bersama jiwa dan raga orang tuanya.


Ikatan, itulah yang dirasakan anak ketika bermain bersama orang tua. Mainan apapun hanya sebagai sarana. Kitalah, orang tuanya yang membangun ikatan itu, menguatkan ikatan itu tiap harinya dengan kontak mata, pelukan, ucapan sayang pada anak-anak.

Ada satu iklan yang mengambil latar dari sudut pandang anak dan orang tua. Saya sampe baper nontonnya, beneran meskipun Kristal belum segede anak-anak di video ini. Ketika para ibu dan ayah ditanya "kapan waktu favorit Anda?" maka ibu dan ayah menjawab dengan penuh keyakinan bahwa waktu favoritnya adalah melakukan hobi tanpa kehadiran anak. Lalu, saat anak ditanya hal yang sama apa jawabannya? Coba lihat sendiri...



Anak sungguh menganggap orang tuanyalah dunianya. Sumber kebahagiaan mereka. *ngetik sambil baper beneran abis ngelihat reaksi ibu, ayah yang pada baper juga lihat jawaban anak-anaknya, huhu....


Kalau yang ini anak-anak ditanya mau melakukan apa sama orang tuanya. Jawabannya lagi-lagi begitu sederhana, ingin melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Ya, waktu bersama ayah dan ibunya sepenuhnya untuk mereka agar menjadi memori indah, sebab orang tua adalah dunianya anak-anak. Yuk, bermain dengan anak sepenuh jiwa dan raga kita sebagai orang tua! Bermain bersama anak akan membuat anak-anak kita membangun memori indah dan membahagiakan bersama orang tuanya.

Salam mainan dan bermain!







Referensi:
1. Ginsburg, Kenneth R. and the Committee on Communications, and the Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health. Published online January 02, 2007. PEDIATRICS Vol. 119 No. 1 January 01, 2007 doi: 10.1542/peds.2006-2697

2. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. Convention on the Rights of the Child. General Assembly Resolution 44/25 of 20 November 1989. Available at: http://www.unhcr.org/protection/children/50f941fe9/united-nations-convention-rights-child-crc.html




4 comments:

  1. aku lebih suka anak bermain sepuasnya

    ReplyDelete
  2. Kadang sering merasa bersalah kalau ajak main tapi gadget di tangan. Tapi emang emaknya juga gak bisa lepas gadget sih. Huhuhu. Terima kasih ya..artikelnya menyentuh saya.

    ReplyDelete
  3. Bermain kebutuhan anak tapi kdg orang tua yang males ngajak atau di ajak main nya
    Kasian anak

    ReplyDelete
  4. iya nih kalau lihat anak main itu rasanya gimana gitu. apa aja bisa dijadiin mainan sama mereka. hihi

    ReplyDelete

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya

Custom Post Signature