Showing posts with label 1minggu1cerita. Show all posts
Showing posts with label 1minggu1cerita. Show all posts


Berbicara mengenai konsumtif maka tidak bisa terlepas dari yang namanya berbelanja. Benar apa betul? Ya, melalui belanja inilah kita mendapatkan barang yang kita konsumsi baik dengan belanja online ataupun belanja langsung.













Nah, sekarang pertanyaannya adalah seberapa sering kamu belanja online? HAHAHA.


Saya sih, Kadang. Slow, kalau sering juga gapapa kok, di sini akuh enggak nge-judge. Lol


Iya, serius kadang-kadang kalau ada baju dan diskon yang lucu di-favorite dululah.


Rumah menjadi tempat paling nyaman untuk kita pulang. Kemana saja dan sejauh mana kita pergi dari rumah maka kita hanya akan ingin pulang kembali ke rumah. 
Setiap orang memiliki standar rumah ideal yang berbeda baik dari ukuran, lokasi dan desain. Salah satu unsur yang paling berpengaruh dalam rumah adalah warna. Pemilihan warna baik eksterior maupun interior rumah akan sangat berpengaruh pada penghuni rumah tersebut.



Tahun 2011, Kemal Yildirim dkk meneliti mengenai efek warna interior terhadap mood dan preferensi. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Perceptual and Motor Skills menunjukkan bahwa warna-warna hangat menghasilkan respon partisipan yang lebih kuat, bersemangat dan tertarik. Warna-warna dingin lebih diasosiasikan dengan tidak terlalu membangkitkan semangat tetapi lebih pada keleluasaan dan ketenangan. Secara umum, warna-warna dingin dan akromatik memicu emosi yang lebih tenang dan damai (Yildirim et. Al, 2011).
Judul Buku: Princess Polly Potty (Potty Training for Girls)

Penulis: Andrea Pinnington

Ilustrator: Melanie Williamson

Penerbit: Ladybird Books Ltd

Tahun terbit: 2009

Tebal: 16 halaman boardbook dengan tombol suara

Ukuran: 208 x 208 x 12mm berat 320 gram





Keinginan membeli buku Princess Polly Potty ini bermula dari Kristal yang sedang toilet training tidak mau duduk di pispot. Setiap kali didudukkan di pispot anak itu malah menangis dan menolak duduk. Akhirnya, setelah saya membaca sebuah artikel tentang tips toilet training yang menjelaskan penggunaan buku sebagai media dapat dilakukan. Baiklah, saya mulai mencari buku yang cocok untuk Kristal di amazon. Berhubung salah seorang teman sedang kuliah di Eropa, maka saya berencana menitip padanya.

Buku ini saya pilih setelah membaca berbagai review yang baik dari para orang tua di amazon. Bahasa yang mudah dijelaskan ke anak serta ilustrasi yang menarik dan jelas maknanya bagi anak. Secara fisik buku Princess Polly termasuk boardbook yang ringan dan disertai tombol suara bersorak yang membuat anak semakin tertarik dengan buku ini.





Princess Polly Potty tergolong kategori buku untuk belajar memandirikan anak mengenai perawatan diri sendiri. Buku ini dapat dipakai orang tua sebagai media belajar anak yang sedang toilet training. Penyusunan isi buku pun sangat sistematis terlihat di bagian awal, bagaimana mengenalkan anak tentang anggota keluarganya yang tidak menggunakan popok serta tokoh Polly yang masih memakai popok mewakili karakter anak-anak.

Tahapan belajar anak diawali dengan meniru dan dalam buku ini ayah, ibu, kakak serta adik menjadi contoh yang nyata. Hal ini menjadi kelebihan Princess Polly Potty dalam mengenalkan toilet training


Ilustrasi yang dibuat juga mirip dengan benda nyata yang ada. Pispot dan celana dalam digambarkan dengan beraneka warna, motif dan hiasan. Kristal sendiri sangat menyukai aneka model pispot dan celana yang terdapat dalam buku ini. Warna- warni pastel yang dipilih ilustrator sebagai latar buku terasa cocok dengan anak perempuan.

Gaya bahasa yang dipakai sangat interaktif. Anak-anak sebagai target pembaca dibawa ikut serta dalam memilih pispot dan celana yang kira-kira disukai Polly dan juga dapat memilih mana yang jadi kesukaaannya. Hanya saja karena buku ini berbahasa Inggris maka tugas orang tua jadi agak repot membacakannya dengan bahasa Indonesia pada anak. 

Menurut saya, ilustrasi yang dibuat sangat memudahkan anak mencontoh sehingga anak dapat mengerti dan belajar mengikuti cara Polly berlatih buang air. Polly memperlihatkan cara melepas dan memakai celana sendiri, Polly sedang duduk di pispot, Polly selesai buang air dan dibantu ibu membersihkan serta cuci tangan setelah selesai. Ilustrasinya pun dalam ukuran yang pas tidak terlalu besar atau kecil sehingga anak-anak mudah meniru. 



Ternyata buku ini pun memiliki dua seri, ada Princess Polly dan juga Pirate Pete versi untuk anak laki-laki dengan berbagai judul lain juga. Selain itu, pada sampul belakang terdapat keterangan batasan usia pembaca, penulis, ilustrator serta penerbit lengkap dengan ISBN. Oh ya, pada bagian belakang tombol suara dengan mudah ditemukan tempat mengganti baterai jika sudah habis.





Saya suka buku Princess Polly Potty demikian juga dengan Kristal. Jadi, saya akan berikan rate lima dari lima bintang untuk buku ini. Meskipun belum selesai toilet training Kristal tetapi buku ini sudah membantu Kristal belajar mengenai buang air kecil dan besar. 
Sejak awal kehamilan saya sudah meniatkan sepenuh hati untuk memberika air susu ibu (ASI) ekslusif untuk buah hati saya. Berbagai hal terkait proses pasca melahirkan seperi inisiasi menyusu dini (IMD), ASI kolostrum dan ASI eksklusif sampai anak usia dua tahun sudah saya cari informasinya. Selain itu, saya juga menyiapkan mental bersama suami untuk saling mendukung selama proses memberikan ASI.



Bayangannya mah indah saja gitu ya. menyusui cara begini seperti di tutorial buku kuliah Maternity Nursing yang saya baca, wkwkw.. 





Di balik itu semua ternyata....



Ada usaha dan perjuangan yang besar dari seorang ibu demi menyusui anaknya.

Nah, disinilah saya akan membagi pengalaman saya selama menyusui Kristal dari sejak lahir hingga saat ini. Jadi, selama hamil saya dan suami tinggal di Bandung. Sebenarnya pun niat dan persiapan melahirkan di Bandung pun ada. Akan tetapi, berhubung kekhawatiran suami yang begitu mencintai istrinya *cieeh ini amatlah besar maka diputuskan saya akan melahirkan di Jakarta supaya ada keluarga yang menemani. 

Rabu, 21 Januari 2015 pukul 21.40 WIB Kristal lahir. Sejak lahir sampai sebulan setelahnya itu saya tidak menemui masalah dalam proses menyusui. Sebulan usia Kristal beratnya naik 300 gram saja, seharusnya dari sini saya curiga tapi karena masih dalam batas hijau grafik berat badan per umur, saya tenang. Selama menyusui saya tidak kesakitan (kalau salah posisi itu terasa nyeri) dan juga anak selalu tidur nyenyak karena kenyang. 

Barulah pada bulan kedua, berat badan Kristal hanya naik 200 gram dari sebulan sebelumnya yang 3600 gram. Setelah dilihat pada grafik sudah masuk kategori garis kuning. Duh, ada masalah apa ini? Saya bertanya-tanya sendiri sampai saya kepikiran mompa ASI supaya bisa mengukur jumlah ASI yang diminum Kristal coba. Suami yang saat itu masih kerja di Bandung juga have no idea kenapa naik BB cuma sedikit, soalnya tidak ada bengkak payudara dan lainnya. Akhirnya, saya berinisiatif menghubungi Fitri, teman saya yang juga sedang kuliah magister ilmu keperawatan anak siapa tahu ada diantara teman mahasiswanya terdapat seorang konsultan laktasi.


"Coba hubungi bu Fajar dosen kita aja Shiva, beliau konsultan laktasi internasional" balas Fitri dari pertanyaan saya yang mengenai adakah teman kuliahnya yang seorang konsultan laktasi. Saat itu juga eike masih belum ngerti hal-hal mengenai konsultan laktasi, hehee..


"Wah, boleh deh, kalau gitu aku minta kontaknya ya ibu Fajar" balas saya sambil deg-degan. Deg-degan karena cemas kalau-kalau tidak bisa memberi ASIx. 


Segeralah saya coba hubungi ibu dosen saya waktu kuliah ibu Fajar Tri Waluyati, M. Kep., Sp. An., IBCLC. Perasaan saya antara bersyukur tapi masih berdebar karena khawatir ada hal-hal yang tak terduga. Alhasil, setelah saya menghubungi beliau pun membalas dengan ramah. Duh, alhamdulillah semoga bisa diatasi masalah ASI ini. Akhirnya, ibu Fajar mengajak untuk bertemu di Kampus Fakultas Ilmu Keperawatan UI Depok, di ruangan dosen pada hari Senin. 

Suami saya ambil cuti kerja karena saya meminta untuk ditemani saat konsultasi ke ibu Fajar. Senin sore saya bertemu dengan ibu Fajar di kampus dimulai dengan cerita Kristal yang BBnya enggak naik  optimal dan masuk garis kuning.

"Pas menyusui sakit gak?" tanya bu Fajar

"Enggak bu, gak pernah sakit" jawab saya

"Berapa lama sekali menyusui sampai berhenti sendiri"

"Bisa setengah sampe satu jam bu dan selalu tidur setelah menyusu"

"Coba dicek lidahnya yuk, apakah ada tongue tie, bisa kelihatan lidahnya seperti love gitu karena ada yang menahan di bawah lidahnya"

dan ternyata.....


Tidak ada tongue tie atau nama latinnya ankyloglossia


Terus anak ini sebenarnya kenapaaa????





Akhirnya diagnosis yang diberikan untuk Kristal adalah dia tidak menyedot ASI bagian hindmilk (ASI akhir setelah menyusu lebih dari 5-10 menit) yang lebih banyak lemaknya. Jadi, solusi untuk menaikkan BBnya adalah dengan RELAKTASI. 


Relaktasi secara definisi sebenarnya adalah menyusui kembali setelah beberapa waktu berhenti (tidak menyusui sama sekali). Akan tetapi, dalam definisi kasus saya relaktasi bermakna memberikan lagi ASI yang telah diperah melalui feeding tube saat sedang menyusui. Jadi, pada selang dialirkan ASI perah hindmilk yang disisipkan ke dalam mulut. Selang disambungkan ke spuit sebagai tempat menampung dan mengukur jumlah ASI yang diberikan.


KEBAYANG GAK BU IBU?


Saya juga awalnya juga bingung, gak percaya kenapa begini...




Beginilah kira-kira gambarannya, tapi kalau saya tabung yang gantung di leher itu gak ada karena pakai spuit yang dipegang sendiri dengan tangan yang bebas.


Feeding tube yang berukuran khusus pediatrik (anak)


Spuit 50cc sebagai penampung ASI yang akan disalurkan

Dalam kasus saya, cara memperoleh hindmilk adalah dengan memisahkan hasil perahan pada lima menit pertama (yang hasilnya awal-awal hanya 10cc). Setelah itu melanjutkan memerah ASI lagi sampai sebanyak-banyaknya. Rasanya benar-benar tak terduga, saya yang tidak berencana memerah dan menyimpan ASI tiba-tiba harus mempersiapkan botol kaca, belajar lagi cara memerah dengan tangan karena memang belum punya pompa ASI dan juga menghitung tiap tetesan ASI serta memberikannya lagi. 

Jadilah setiap Kristal tertidur setelah menyusu saya segera bersiap memerah ASI. Tengah malam ketika terbangun saya kembali mengumpulkan ASI. Sebulan sudah saya relaktasi Kristal dan syukur pada Allah berat badannya naik cukup signifikan. Usia tiga bulan bobotnya 4.4 kg walaupun masih dalam garis kuning saya sudah bahagia. Hasil konsultasi berikutnya relaktasi tetap dilanjutkan. Saya pun coba meminjam pompa ASI manual dari kak Mia dan mencari pompa ASI elektrik di penyewaan online.

Rasa senang dan syukur itu ketika melihat ASI relaktasi yang diminum sehari lebih dari 30cc. Oiya, saya juga diresepkan obat galaktogog oleh ibu Fajar untuk merangsang hormon oksitosin dan tidak lupa pijat oksitosin juga. 


Apakah saya berhasil meningkatkan BB hanya dengan ASI saja?


Ternyata panjang juga ya kalau satu postingan mah, wkwkwk.. Baiklah nanti akan saya lanjutkan ceritanya di bagian kedua yaaa... hehehee....

Oiya, jika ada yang butuh konsultan laktasi bisa hubungi Ibu Fajar di kampus FIK UI Depok Gedung Rumpun Kesehatan. Di FIK ada klinik konsultasi khusus anak baik masalah ASI atau pun tumbuh kembang jadi siapa saja yang membutuhkan dapat langsung kontak ke kampus ya.


Bulan Februari kantor suami saya (Kudo) mengundang keluarga pegawai dalam acara Kudo Family Day. Wah, bisa lihat-lihat dan main-main di kantor suami sepertinya seru nih. Acara Kudo Family Day ini memang sengaja diadakan oleh Kudo dalam rangka apresiasi terhadap keluarga pegawai yang telah menjadi pendukung para pegawai selama bekerja.

Hari Selasa, 21 Februari suami berangkat kerja seperti biasa. Saya dan Kristal akan datang menyusul jam dua siang. Alhamdulillah cuaca hari itu tidak hujan jadi kami aman berangkat diantar motor. Biasa ya, bocah kena semeriwing angin jadi tidur. Kristal tertidur selama perjalanan dan setelah sampai belum bangun juga.

Saya datang dijemput suami di lobi Grand Lucky. Kami pun  langsung menuju lantai dua untuk registrasi dan mengambil tiket konsumsi. Sistem pengamanan kantor membuat orang selain pegawai tidak bisa masuk. Pintu dari luar hanya bisa dibuka dengan cap jari pegawai. Wuih,, oke betul ni haha.. (norak ye). Setelah masuk Kristal dengan gaya malu-malunya tidak mau melihat teman-teman kerja ayah. Padahal teman-teman ayah mau melihat Kristal dari dekat. 

Tempat acara family day di lantai tiga kantor suami. Ternyata di sana sudah ramai dengan anak-anak mulai dari bayi-bayi yang digendong sampai toddler yang sedang bermain odong-odong mobil. Kami Kristal lebih tepatnya disambut oleh tante yang memberikan susu, wafer serta biskuit. Dasar bocah ya, seneng banget dikasih makanan. Lalu, Kristal mewarnai karena ditawari tante krayon dan kertas. 

Permainan yang disediakan kantor ayah dari balok-balok warna warni, rumah-rumahan yang bisa dimasukin anak, odong-odong mobil dan motor, serta video lagu anak-anak. Alhasil keriuhan di sana dipelopori bocah-bocah yang sedang bermain. Rame banget kayak TK wkwkwk...




Saya tentu merasa senang banget bisa main dan lihat-lihat kantor suami yang dari ceritanya ada ruang bermain terus mejanya juga gak pake kubikel. Macam kantor google gitulah. Baru lihat saya ada meja billiard, nintendo wii dan gitar serta beberapa jenis board game. Waah, enak juga fasilitasnya, coba rumah sakit ada beginiannya hahahah *ngarep lau. 

Selain itu, di dinding ruangan kerja banyak mural dan kalimat-kalimat motivasi. Waini, yang ditunggu sesi foto-foto di kantor ayah. Ada juga games foto di spot-spot kantor bareng sama keluarga. Nah, saya yang niat betul foto-foto supaya bisa ikutan games di Instagram. Sampai photo booth yang di gedung sebelah juga didatangin sepenuh hati, haha. 




Selepas ashar, kami selesai foto dan langsung menuju lantai dua untuk menukarkan kupon konsumsi. Nah, ayah balik dulu ke mejanya sementara saya dan Kristal makan di ruang makan. Sepertinya energi Kristal habis karena bermain. Terlihat dari caranya menikmati daging gepuk yang empuk itu sampai gak rela dibagi ke Bunda, hahayy makan nak makan supaya besar deh. 

Selesai makan Kristal saya ajak ganti baju di toilet. Niatnya sih cuma ngelapi badan aja eh tapi ada mbak pegawai yang nawarin mandi di kamar mandi sebelah toilet pakai air hangat. Wah, kebetulan nih mandiin aja sekalian deh si timong wkwkw.. Dengan girang hati Kristal diguyur air hangat dari keran sambil ketawa-ketawa. Udah gitu disediain juga sabun sama sampo di dalam kamar mandi. Jadi, ya lengkap sudah kenikmatan Kristal mandi di kantor ayah. Menang banyak nih hahaa...

Selesai beberes barang bawaan, kami pun segera memesan Uber mobil untuk pulang. Sebenernya sih, saya mau ngajakin naik bus feeder aja tapi ya bawaan jadi banyak begini agak rempong sepertinya. Udah gitu ada balon juga wkwkw.. 

Sepanjang perjalanan pulang Kristal sukses menghabiskan satu nyam-nyam rice. Saking lamanya perjalanan kalo gak ada cemilan bisa rewel. Alhamdulillah, Maghrib lewat sedikit kami sampai di rumah. Pengalaman bermain di kantor ayah begitu berkesan. Hehe.. terima kasih ayah! Terima kasih Kudo! 




P.S: 
Oiya, dapat kabar dari suami bahwa foto kami bertiga yang di booth foto kudo sedang nyium Kristal menang lomba family day games. Asiiikk dapet hadiah buat belanja, yeaay!! Gak sia-sia semangat bunda buat foto sepenuh jiwa, wkwkw...



"Ayo, dong Kakak sikat gigi dulu sebelum bobo.." 
"Enggak, ah.. gak mau" sambil kabur keluar dari kamar 
"Eits, mana ya.. anak bunda yang baik dan pinter.. yang sudah bisa sikat gigi.."





Percakapan tersebut adalah salah satu contoh dari sekian ribu penolakan anak terhadap ajakan menyikat gigi. Ada saja cara anak untuk menolak sikat gigi mulai dari mendiamkan ajakan, menolak secara verbal hingga menangis-nangis tidak mau diajak menyikat gigi. Well, you are not alone, because all parents in the world also felt the same way. Sama banget, putri saya dulu susaaaaahh diajak sikat gigi. Jangankan diajak, diminta duduk untuk dibersihkan mulutnya pakai kassa saja dia nangis kejer. Astaga, bikin puyeng emak.

Anak-anak dalam masa pertumbuhannya diibaratkan seperti mesin yang terus berproses untuk menghasilkan energi. Nah, gigi dan mulut ini termasuk salah satu komponen mesin tersebut. Ketika ada satu kerusakan pada komponen mesin maka berpengaruh juga ke seluruh bagian. Oleh karena itu, kesehatan gigi anak di awal pertumbuhan dan kehidupan ini sangat penting.





Orang tua tentunya ingin anak memiliki gigi yang sehat dan tidak tanggal sebelum waktunya. Ya, bayangin aja gitu anak-anak belum sekolah TK giginya sudah cokelat kehitaman karena karies kasihan anak jadi bermasalah giginya. Sebagai orang tua kita pasti ingin mencegah hal tersebut. Caranya dengan membiasakan anak rutin membersihkan gigi sejak gigi susu pertamanya tumbuh. Ya, dalam usia sedini mungkin.

Inilah tips berikut yang saya rangkum berdasarkan pengalaman, konsultasi dengan dokter gigi juga diskusi dengan beberapa emak-emak lainnya. Silahkan menyimak!


1. Mulai Sedini Mungkin


Sejak anak mulai mengenal makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sudah wajib hukumnya membersihkan mulut anak ya. Terlebih saat anak sudah memiliki gigi pertama (usia di bawah satu tahun) kita bisa membersihkan gigi dengan kassa steril dan air hangat. Caranya, basahi kassa dengan air hangat lalu ajak anak membuka mulut untuk digosok giginya. Jangan lupa sambil diverbalkan bahwa giginya sedang dibersihkan supaya tetap sehat. Komunikasi penting walaupun anak belum sepenuhnya mengerti alasan tetapi semakin lama anak akan paham. Jadi, jangan takut memulainya.





Saya sendiri memulai pakai sikat gigi sejak Kristal usia delapan bulan pas gigi pertama sudah tumbuh. Sebelum ada gigi saya hanya memakai kassa. Saya hanya menyikat, tanpa memakai pasta gigi dan anaknya pun di awal merasa geli karena bulu halus sikat. Usia setahun susah diajak sikat karena mulai merasa geli dan tidak enak. Akana tetapi, tetap dibiasakan dan dicontohkan oleh saya dan ayahnya.

2. Ibu dan Ayah sebagai Contoh


Anak adalah peniru ulung, apa yang dilihat akan diserap lalu dilakukan. Di rumah, orang tua menjadi contoh pertama anak dalam menyikat gigi juga. Jangan mengharap anak suka sikat gigi rutin jika ibu dan ayahnya saja malas menyikat gigi. Perlihatkan bahwa ayah juga ibu suka menyikat gigi secara teratur sebelum tidur dan setelah sarapan. Memang sih, awalnya susah kalau tidak biasa tapi ya demi anak sehat kita juga mesti semangat membiasakan hal-hal baik. 




3. Gunakan Sikat Berbulu Lembut


Di pasaran sudah banyak dijual sikat gigi khusus bayi dan anak. Kita bisa memilih mana saja yang cocok dengan kriteria gigi anak. Pilih sikat gigi berbulu lembut jika ingin mengenalkan sikat gigi. Saat giginya mulai muncul, gosokkan gusinya perlahan. Kita hanya perlu membasahi sikat gigi dengan air dan belum perlu menggunakan pasta gigi. Penggunaan pasta gigi disarankan bagi anak usia satu tahun ke atas. 



4. Pilih Media Belajar yang Cocok


Teknologi yang sudah berkembang membuat sarana belajar semakin banyak. Salah satu diantaranya adalah keberadaan video dan permainan yang mudah diakses melalui gawai. Saya sendiri menggunakan video saat mengajarkan Kristal sikat gigi. Video ini berupa lagu dengan animasi anak-anak menyikat gigi. Video ini cukup ampuh untuk membuat anak tertarik menyikat gigi. Ajak anak nonton bersama dan beri penekanan sikat gigi itu penting supaya sehat.





Pilih video yang terdapat anak sedang menyikat gigi. Lebih bagus lagi jika ada animasi kuman sebagai gambaran jika tidak sikat gigi kuman akan merusak gigi anak. Jika menggunakan permainan dapat memilih yang berbentuk prosedural seperti membersihkan gigi tokoh permainan tersebut. Intinya, menggunakan media untuk membantu anak memahami cara menyikat gigi dan pentingnya menyikat gigi. 


5. Contohkan dengan Cara yang Menyenangkan


Sebagai ibu saya juga gemas jika anak enggan menyikat gigi. Padahal sudah diberi sikat gigi yang lucu dan menarik. Tapi apa daya kalau anak malah mengemut bulu sikat? Haha.. Pengen maksa aja rasanya supaya cepet. Godaan memaksa ini bisa menjadi bumerang loh, karena anak nanti bukan suka sikat gigi malah jadi takut. Jadi, kita harus sabar membuat pengalaman menyikat gigi menyenangkan bagi anak. Enggak mudah, tapi setelah berhasil akan puas melihat anak yang tiap lihat sikat gigi meminta menyikat gigi, haha... 





Saya kutip dari laman IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bahwa efek gigi yang rusak mengganggu anak dalam memperoleh gizi yang cukup. Selain itu, ternyata 90,05%  penduduk Indonesia mengalami masalah kerusakan gigi yang paling banyak disebabkan karies gigi atau gigi berlubang. Jadi terbayang dong ya, betapa pentingnya melatih anak untuk mau menyikat gigi. Jika anak memiliki gigi sehat maka asupan gizinya pun mudah terpenuhi. Anak yang giginya sehat lebih mudah makan dibanding anak yang giginya gampang sakit karena sudah karies.

Selamat berjuang untuk semua orang tua yang sayang sama anaknya. Dengan membiasakan anak menyikat gigi berarti kita sudah berinvestasi jangka panjang. Insya Allah, mencegah penyakit jauh lebih baik daripada mengobati dan tentu akan meningkatkan kualitas hidup anak jadi lebih baik.