Judul Buku: Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)
Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: terbitan pertama tahun 1922
Tebal: 292 halaman
ISBN: 9789794071670 (cetakan ke-45)
Siapakah tak kenal kisah kasih Sitti Nurbaya dengan
Samsulbahri? Padahal kisah ini lebih tua dari umur orang tua saya, bahkan
berusia hampir seratus tahun. Ya, inilah kehebatan dan keajaiban sastra
tertulis. Ia tak lekang oleh waktu, tak tergerus putaran zaman. Boleh dikatakan
ketika memilih buku ini untuk SRC bulan sastra saya sempat galau, antara
Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk dengan kisah kasih ini. Tetapi pilihan jatuh
kepada karya Pak Marah Rusli, kisah abadi sepanjang masa. Kisah yang hanya saya
dengar dari mulut-ke mulut, kisah yang di-repackage dalam sinetron di televisi.
Tetapi belum pernah saya ketahui keasliannya. Inilah yang membuat
kekepoan saya meningkat lantas tertantang membaca dan menemukan buku
ini.
Zaman sekarang orang hanya tahu kalau Nurbaya dijodohkan
dengan Datuk Meringgih. Padahal ia hanya cinta pada kekasihnya Samsulbahri.
Tetapi apakah benar bahwa Nurbaya dijodohkan dengan sang Datuk? Saya rasa
karena sudah berumurnya cerita ini banyak yang mispersepsi dengan maksud dari
dijodohkan. Saya sendiri sebelum membaca kisah ini pun berpikir bahwa Nurbaya
dipaksa menikah (dijodohkan) dengan Datuk Maringgih oleh orangtuanya. Tetapi
berbeda cerita dalam novel ternyata, Nurbaya tidaklah dipaksa oleh ayahnya.
Lantas apa yang terjadi sebenarnya?
Samsulbahri biasa dipanggil Samsu/Sam sudah berteman dengan
Sitti Nurbaya (Nurbaya/Nur) sejak kecil. Keduanya pun tumbuh menjadi remaja
bersama sebagai teman bermain dan belajar. Tanpa disadari di hati keduanya
telah tumbuh tunas cinta. Sam berasal dari keluarga terpandang ayahnya Sutan
Mahmud seorang Pejabat Daerah/ kepala suku (dalam novel disebut Penghulu).
Penampilan fisik Samsulbahri secara fisik dideskripsikan seorang lelaki yang
tampan, tubuhnya ideal dan terlihat bahwa ia adalah anak orang terpandang dan
berperilaku baik. Begitu juga dengan Sitti Nurbaya merupakan anak saudagar
sukses dan kaya, Baginda Sulaiman. Ia memiliki paras yang cantik, penampilan
menarik dan tutur kata yang santun. Nurbaya ini dapat dikatakan sebagai
kembangnya Kampung Padang kala itu.
“Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan merasa
tertarik oleh suatu tali rahasia yang mengikat hati; dan jika mendengar
suaranya terlalailah dari pada suatu pekerjaan. Sekalian orang bersangka, anak
ini kelak, jika telah sampai umurnya, niscaya akan menjadi sekuntum bunga,
kembang kota Padang yang semerbak baunya sampai kemana-mana,...” (hal. 4)
Satu lagi tokoh utama yang terkenal dengan perilaku
buruknya, Datuk Meringgih. Sang Datuk ini memiliki kekayaan yang sangat banyak
hingga ia pun terkenal di kalangan masyarakat sebagai “orang tajir”. Akan
tetapi, kekayaan yang berlimpah itu berbanding terbalik dengan kemurahan
hatinya. Dialah seorang yang pelit, tak suka memberi dan tamak. Setiap orang
yang dipinjaminya uang mesti mengganti lebih dari pinjamannya maka Datuk
Meringgih ini merupakan seorang rentenir kelas kakap. Tak hanya itu, umurnya
pun sudah lebih dari setengah abad, penampilan fisik pun tak terlalu baik
tetapi wibawa dan pengaruhnya mampu membuat orang-orang takut dan tak ada yang
berani melawan keserakahannya.
Kembali ke kisah kasih Sam dan Nur, sebagaimana akhirnya
seorang laki-laki jantan, Sam pun berani mengakui perasaannya pada Nurbaya di
malam sebelum keberangkatannya ke Jawa untuk melanjutkan sekolah.
“Oleh sebab untung manusia tak dapat ditentukan , itulah
sebabnya sangat ingin hatiku hendak mengetahui, bagiaimanakah hatimu kepadaku?
Atau hanya aku sendirilah yang rindu seorang?”
“Sudikah engkau kelak menjadi istriku, apabila aku telah
berpangkat dokter?”
“Masakan tak sudi,” sahut Nurbaya perlahan-lahan, sebagai
takut mengeluarkan perkataan ini. (adegan di hal. 74)
Itu saksiku, Nur,” kata Samsu seraya menunjuk bulan dan
bintang yang di atas langit, “tiadalah aku akan mencintai perempuan lain,
melainkan engkau seorang. (hal. 77)
Singkatnya, Nur dan Sam mengikat janji cinta mereka malam
itu. Bahwa Sam bermaksud menikah dengan Nur setelah sekolahnya selesai di Jawa
dan selama itu pula jarak Padang-Jakarta menjadi pemisah keduanya. Hanya surat
dari Sam kepada Nur dan juga sebaliknya menjadi pengobat rindu mereka.
Setelah dibaca oleh Nurbaya surat itu, lalu diciumnya dan
diletakkan ke atas dadanya, ke tempat jantungnya yang berdebar.. (hal. 112)
Setelah menerima surat dari Sam yang memberikan kebahagiaan
bagi Nurbaya tak lama kemudian datanglah berita bahwa toko ayahnya telah
terbakar, habis semua tak tersisa. Akhirnya, ayah Nurbaya meminjam uang kepada
Datuk Meringgih untuk menutupi hutang akibat kebakaran toko. Sayangnya, bisnis
Baginda Sulaiman di lokasi lain pun tak membawa untung justru makin banyak
merugi hingga pada waktu hutangnya jatuh tempo Datuk Meringgih datang untuk
menagih.
“…apabila dalam sepekan itu tiada juga dibayar hutang
itu, tentulah akan disitanya rumah dan barang-barang ayahku dan ayahku akan
dimasukannya ke dalam penjara. Hanya bila aku diberikan kepadanya, raksasa buas
ini..” (Nurbaya kepada Sam dalam suratnya hal.121) “… jika engkau sudi menjadi isteri Datuk Meringgih,
selamatlah aku, tak masuk ke dalam penjara dan tentulah tiada terjual rumah dan
tanah kita ini..” (Baginda Sulaiman kepada Nurbaya hal. 122) “… tidakkah cukup untuk pembayar hutang itu, kalau sekalian
barang hamba dijual dengan rumah ini dan tanah ayah? Karena hamba lebih suka
miskin daripada jadi isteri Datuk Meringgih” ( hal. 123) “Tak dapat kubayar hutang itu dan anakku tak dapat pula
kuberikan kepadamu” (Baginda Sulaiman kepada Datuk Meringgih hal 124) "Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara,
sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah
pikiranku dan dengan tiada kuketahui keluarlah aku, lalu berteriak: “Jangan
dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi isteri Datuk Meringgih!” (Surat Nurbaya
kepada Sam hal 124)
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, Nurbaya
terpaksa menjadi isteri Datuk Meringgih demi melunasi hutang ayahnya. Sam pun
sangat membenci Datuk Meringgih sampai berniat untuk membalas kejahatan yang
dilakukan Sang Datuk pada Nurbaya dan ayahnya. Kejatuhan bisnis Baginda
Sulaiman dan perkara hutang-piutang ternyata merupakan konspirasi Datuk
Meringgih dengan anak buanhnya. Secara sengaja direncanakan semua kejadian ini
agar Nurbaya “Sang Kembang” dapat menjadi istrinya. Semakin banggalah Datuk
Meringgih mampu melebarkan sayap kekuasaannya. Tersisalah dua orang yang
sama-sama patah hati karena cinta yang tak tersampaikan, Sam dan Nurbaya.
***
Cerita ini lebih tua dari usia saya, ya benar adanya. Kisah
ini diterbitkan pertama kali tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka yang kala
itu masih milik dari pemerintahan Hindia-Belanda. Bayangkan, Indonesia masih di
bawah jajahan Belanda dan sudah ada anak negeri ini yang berkarya melalui
sastra! Bagi saya karya sastra yang telah masuk kategori klasik ini merupakan
satu hal yang membanggakan.
Marah Rusli keturunan asli Minang membuat tanah kelahirannya
sebagai seting tempat cerita cinta ini. Masyarakat Sumatera Barat menerapkan
matrilineal sebagai adat budaya mereka. Sistem matrilineal merupakan sistem
dimana pihak wanitalah yang menjadi pewaris harta dan garis kekerabatan
keluarga. Hal inilah yang membuat kaum Hawa istimewa karena berperan sebagai
penentu keberhasilan keputusan yang dibuat kaum lelaki sebab posisi mereka
sebagai mamak. Oleh sebab itu, cerita ini pun kental dengan kultur matrilineal
sehingga cukup memperkaya wawasan pembaca yang penasaran dengan budaya Minang.
Pada halaman pertama, saya sempat sedikit “bengong” sebab
alur penceritaan yang berbeda dari novel umumnya. Kisah ini diceritakan bukan
dari sudut pandang orang ketiga melainkan penulis sebagai narrator. Belum
pernah saya membaca seperti ini sebelumnya namun ini menjadi hal baru yang
cukup menarik untuk dibahas. Penulis sebagai narrator menceritakan tentang
tokoh-tokohnya sekaligus turut menjelaskan alur yang terkait dengan para tokoh.
“Demikianlah, Datuk Meringgih, saudagar yang termashyur
kaya di Padang itu. Ia kaya dan beringin hendak bertambah kaya itulah, artinya
karena hendak mempunyai harta.”Hai Datuk Meringgih! Apakah faedahnya kekayaan yang
sedemikian bagimu dan bagi sesamamu? (hal. 88)
Terasa agak janggal saat membaca cerita dengan tambahan
tokoh sang narrator tetapi alur cerita tetap konsisten membawa perjalanan tiap
tokoh secara mendetail inilah kelebihannya menurut saya. Hal yang menjadi
kekurangan menurut saya adanya campur tangan sang narrator ini membuat para
tokoh seakan bebas dan sesuka hati dikomentari olehnya. Dengan kata lain,
penulis sebagai narrator memiliki kekuatan untuk menyampaikan isi pikirannya
kepada pembaca sehingga pesan dari tokoh langsung menjadi agak blur.
Alur maju yang dipilih penulis mampu membawa saya terhanyut
selama membaca novel ini. Alur maju membuat cerita semakin menarik dengan
beberapa “kejutan-kejutan” yang tak terpikirkan oleh pembaca. Menurut saya,
pemilihan alur maju dan penempatan “kejutan” dalam cerita ini cukup menutupi
kekurangan lain dalam novel ini. Satu hal yang paling penting, disebabkan
terbit di masa Belanda maka Anda akan menemukan bahasa Indonesia yang belum
sesuai ejaan yang disempurnakan baik dari tata bahasa maupun kosakata. Akan
tetapi, inilah menurut saya keindahan dari harmoni sastra klasik, ia menjadi
saksi dari sejarah perkembangan sastra itu sendiri dan ia menjadi abadi
meskipun puluhan tahun terlewati. Jadi, bersiaplah bertualang dengan mesin
waktu ketika membaca novel ini.
Lantas, apakah hanya cinta yang menjadi konflik utama dalam
novel ini? Sayangnya tidak hanya itu, anda pun dapat menemukan konflik
interpersonal di setiap tokoh. Namun, memang cinta tak tersampaikan menjadi
konflik utama yang juga memicu konflik lainnya. Dapatkah anda bayangkan, kala
itu anak-anak perempuan diharuskan menikah di usia awal remaja sekitar 13-15
tahun? Ini juga membuat Nurbaya “galau” sendiri ketika membayangkan harus
menunggu Sam tujuh tahun lamanya hingga mereka menikah. Terlebih lagi dengan
adanya hubungan jarak jauh yang mereka jalani sejak Sam sekolah di Jawa.
Tentulah hubungan jarak jauh zaman dulu berbeda dengan saat sekarang yang sudah
canggih. Tanpa telepon, internet dan medial sosial Nurbaya dan Sam menjalin
hubungan mereka melalui surat yang dikirim lewat pos. Surat ditulis sangat
panjang hingga beberapa halaman dalam novel terasa agak aneh bagi saya membaca
curahan hati sedemikian panjang tetapi ini relevan untuk seting waktu di tahun
1896 (tahun yang tertulis di surat Sam kepada Nurbaya).
Budaya poligami bagi lelaki di Minang saat itu masih
dijunjung tinggi oleh masyarakat juga turut menjadi konflik. Ayah Sam yang
menganut monogami berbeda pendapat dengan adik perempuannya yang justru
menginginkan abangnya memperturutkan poligami yang telah membudaya di Minang.
Pandangan mengenai poligami juga detail diceritakan penulis melalui tokoh Ahmad
Maulana, paman dari Nurbaya. Paman Nurbaya hanya beristri seorang saja namun
istrinya masih merasa monogami merupakan hal yang tidak beradat (sekali lagi,
poligami-lah yang dikatakan beradat kala itu). Sebagai lelaki yang memiliki
nilai sendiri, Ahmad Maulana pun membuka diskusi dengan istrinya mengenai
kekurangan dari adat poligami.
“…makin banyak istri makin banyak belanja; sebab
tiap-tiap istri itu harus dibelanjai dengan secukupnya. Bila kurang belanja,
tentu saja kurang senang hati istri-istri itu. Dengan demikian, mudah timbul
perselisihan; dan bila selalu berbantah saja, dengan tiap-tiap istri yang
banyak itu, tentulah kehidupan kurang senang.” (hal. 208)
Dan masih panjang lagi alasan rasional yang menguatkan akan
“lebih baik beristri satu” yang dipaparkan penulis melalui tokoh paman Nurbaya
ini. Termasuk juga salah satu ungkapannya bahwa wanita boleh sama pintarnya
dengan lelaki agar tak hanya menjadi budak.
“Itulah sebabnya tak baik anak perempuan disekolahkan”
kata Fatimah“Supaya tinggal bodoh dan selama-lamanya menjadi budak
laki-laki, bukan? Boleh diperbuat sekehendak hati; sebagai kerbau diberi
bertali hidungnya…. Jika engkau sendiri sebagai seorang perempuan, suka
bangsamu diperbuat sedemikian, suka hatimulah! Tetapi kalau aku menjadi
perempuan, sekali-kali aku tak mau menerima peraturan ini.” (dialog dalam hal.
213)
Diskusi yang didengar oleh Nurbaya dan sepupunya Alimah pun
menambah keyakinan mereka akan hak-hak wanita yang seharusnya sama dengan
laki-laki. Mereka pun berdiskusi sendiri membahas “peran gender” dalam adat dan
budaya yang dirasakan selama ini kurang adil bagi wanita. Menurut saya, dalam
bagian ini penulis berusaha memberikan pandangan mengenai adat dan mengkritisi
peran gender dari kaca mata budaya Minang. Sangat jelas Marah Rusli terkesan
kurang menyukai sistem adat (matrilineal, ninik-mamak, poligami) dan peran
gender yang berbeda jauh antara budaya tradisional Minang dengan budaya Barat.
Hal ini mungkin dipengaruh dari pengalaman penulis ketika bersekolah di Eropa.
Penulis menemui budaya yang berbeda dengan tempat asalnya ini membuat penulis
beranggapan budaya tradisional tak terlalu menguntungkan dan memajukan pada
akhirnya diperlukan cara menyampaikan pemikirannya tersebut. Jadi, melalui
novel ini pesan tersebut disampaikan kepada masyarakat kala itu. Sebuah taktik
yang cerdas menurut saya, mengingat ketika masa penerbitan buku ini Indonesia
masih dalam kekuasaan Belanda dan ya sebagai penulis yang ingin “berontak” dari
kungkungan adat Marah Rusli berhasil menyampaikannya dalam novel.
“Sebab itu,haruslah perempuan itu terpelajar,
supaya jauh ia terjauh dari pada bahaya, dan terpelihara anak suaminya dengan
sepertinya. Tentu saja kepandaiannya itu dapat juga dipergunakannya untuk
kejahatan. Itulah sebabnya perlu hati yang baik dan pikiran sempurna. Bila
perempuan itu memang tidak baik tabiatnya atau sebab salah ajarannya, walaupun
ia tak berkepandaian sekolah sekalipun dapat juga ia berbuat pekerjaan jahat.
Tak ada perempuan jahat, pada bangsa yang masih bodoh?” (hal. 219)
“… memang demikianlah nasib kita perempuan. Adakah akan
berubah peraturan kita ini? Adakah kita akan dihargai oleh laki-laki, kelak?
Biar tak banyak, sekedar untuk yang perlu bagi kehidupan kita saja pun,
cukuplah. Aku tiada hendak meminta, supaya disamakan benar-benar dengan
laki-laki dalam segala hal;… tetapi permintaanku, hendaknya laki-laki itu
memandang perempuan, sebagai adiknya, jika tak mau ia memuliakan dan
menghormati perempuannya sebagai pada bangsa Eropa. Janganlah dipandangnya kita
sebagai hamba atau suatu makhluk yang hina. Biarlah perempuan menuntut ilmu
yang berguna baginya, biarlah ia diizinkan melihat dan mendengar segala yang
boleh menambah pengetahuannya; biarlah ia boleh mengeluarkan perasaan hatinya
dan buah pikirannya, supaya dapat bertukar-tukar pikiran, untuk menajamkan
otaknya.. “ (Ungkapan pikiran Nurbaya, hal. 222)
Novel ini memang bertema roman namun bila ditelisik lebih
dalam Anda tidak hanya menemukan sensasi cinta dua anak manusia tetapi Anda
akan bertemu dengan pertentangan antara budaya, peran gender dan hebatnya harta
menguasai manusia. Marah Rusli juga mengkritisi budaya “pernikahan paksa” yang
seringkali dialami wanita pada zamannya. Dalam novel ini pun tertuang banyak
petuah tentang pernikahan, rumah tangga dan gambaran hidup berkeluarga dalam
masyarakat Minang.
Setiap tokoh dalam novel ini sangat kuat mendeskripsikan
kepribadian dan perilaku manusia di zaman yang dirasakan penulis. Tokoh Nurbaya
yang cerdas namun terpaksa melakukan hal yang tak diinginkan sebab
kelemahannya. Samsulbahri yang berpikiran dewasa namun tetap lemah jika
dihadapkan pada perkara cinta. Datuk Meringgih yang sangat cinta harta, serakah
dan curang demi menambah hartanya. Ketiga tokoh itu memang terkenal sebagai
tokoh sentral dalam novel ini tetapi memang perlu membaca keseluruhan novel ini
jika Anda ingin mengenal tokoh lainnya yang juga turut menjadi media penuang
gagasan penulis. Ayah Sam, Paman Nurbaya dan tokoh lainnya bukan hanya menjadi
“karakter pelengkap” tetapi juga menjadi karakter yang turut mengisi alur dalam
kisah kasih ini.
Lalu, masihkah relevan jika kita menyebut “memangnya ini
zaman Sitti Nurbaya” ketika kita menemukan kasus anak-anak gadis yang
dijodohkan dengan orangtuanya? Sebab sesungguhnya Nurbaya memang tidak
dijodohkan oleh ayahnya. Berarti telah ada kesalahan persepsi terhadap label
“zaman sitti nurbaya” bagi mereka yang hidup di zaman sekarang lalu menikah
sebab dijodohkan. Jadi, baiknya kita tak lagi melabeli mereka yang dijodohkan
oleh orangtuanya sebagai “Sitti Nurbaya masa kini” karena itu memang kurang
relevan.
Secara keseluruhan sebagai karya sastra Indonesia, novel
Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli ini memang layak disebut sebagai masterpiece-nya sastra Indonesia. Sebuah kisah yang abadi, tetap dikenal
hingga kini meskipun terbit jauh sebelum masa kemerdekaan. Romansa cinta Sitti
Nurbaya dan Samsulbahri pun tetap dikenang, meskipun akhirnya ada mispersepsi
tentang nasib cinta mereka. Lagi-lagi inilah yang memotivasi pencinta sastra
untuk meluruskan dan mengenalkan kembali karya-karya sastra yang langka di masa
kini.
Novel ini merupakan karya yang baik untuk menambah wawasan
Anda tentang satu kultur yang menjadi bagian dari Indonesia dan memahami dilema
akan hubungan antara laki-laki dan wanita di zaman sebelum kemerdekaan. Saya
melihat keinginan Nurbaya tentang peran wanita telah menjadi kenyataan. Kini
wanita boleh bersekolah setinggi laki-laki, berpendapat dan berkarya sesuai
kompetensinya. Beruntunglah bagi wanita yang lahir bukan di zaman Nurbaya sebab
tak perlu merasakan yang dirasakannya. Jika boleh saya ingin bertitip pesan
pada Nurbaya maka saya ingin mengucapkan “Hai, Sitti Nurbaya keinginanmu
terwujud sudah, kini wanita boleh bersekolah tinggi dan bekerja selayaknya
laki-laki tanpa mengorbankan perannya yang paling penting menjadi istri dan ibu
bagi anak-anaknya”. Mungkin ia akan tersenyum bahagia membaca pesan ini.
Rating 3 dari 5 bintang untuk kisah roman yang tak sampai.
Rating 4 dari 5 bintang untuk pemikiran-pemikiran Marah Rusli yang berani
“memberontak” dari budaya zaman.