Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts
Apakah yang terbayang ketika kamu mendengar kata perpustakaan?

Sebuah tempat yang penuh dengan bukukah?

Sebuah tempat yang membosankan?

Atau sebaliknya perpustakaan merupakan tempat yang menyenangkan selain di depan layar handphone atau laptop.


Kalau bagi saya sih, sama seperti kata Mr. Borges, perpustakaan merupakan surga, sepakat bangetlah, wkwk...



Nah, pertanyaan yang cukup menggelitik juga nih, "kapan terakhir kali kamu ke perpustakaan?" 


Udah, jawab dalam hati aja kok, gapapa..


Tak bisa dipungkiri keberadaan perpustakaan dulu begitu dibutuhkan bagi pembaca buku atau sumber bacaan lainnya untuk mencari informasi. Namun, sekarang segalanya berubah sejak ada mesin pencari Google di internet. Tak perlu susah payah mencari jawaban sebab sekarang semuanya tinggal ketik dan taraaammm keluar deh jawabannya.  


Well, internet is kinda magic which truly happens. I admit it. 



Judul Buku: Super Balita Mandiri

Penulis: Ali Muakhir, dkk

Penerbit: Dar! Mizan

Batasan usia: Balita Pra sekolah

Tahun terbit: 2013

Tebal: 165 halaman paperback full color







Buku ini termasuk dalam kategori pembelajaran untuk anak. Buku Super Balita Mandiri berisi lima belas cerita yang bertujuan untuk menanamkan kebiasaan baik dan kemandirian tentang keterampilan hidup. Versi buku yang saya miliki adalah versi paperback, jadi jangan harap buku ini cocok untuk anak usia kurang dari satu tahun. Pasti akan langsung disobek-sobek, hehe.

Tokoh utama dalam cerita ini ada dua orang anak bernama Ali dan Nisa. Dalam satu cerita kadang Ali menjadi tokoh utama tunggal, kadang juga Nisa yang menjadi tokoh utamanya. Namun, kedua tokoh ini pun muncul bersamaan juga dalam satu cerita. Contohnya dalam cerita merapikan tempat tidur, Ali menjadi tokoh utama sedangkan dalam cerita aku bisa potong kuku sendiri, Nisa yang menjadi tokohnya serta di cerita bikin susu sendiri mereka bersama menjadi tokoh cerita. Oh ya, satu lagi tokoh hewan yang menemani kedua anak ini adalah Hupi seekor burung (saya kurang paham burung ini spesies apa).



Daftar Cerita
 
Tampilan fisik bagian dalam buku ini dikemas dengan menarik. Satu bab cerita memiliki bagian ilustrasi dan teks yang terpisah dalam dua halaman. Menurut saya, ini memudahkan anak memahami dengan jelas ilustrasi dari sebuah cerita. Selain itu, warna cerah pun mendominasi tampilan ilustrasi cerita. Hal ini membuat buku semakin menarik bagi anak.
 
 


Ilustrasi cerita dibuat dengan jelas, seperti bagian menyikat gigi, mandi dan juga memakai sepatu. Ilustrasi ini akan memudahkan anak menangkap apa yang dimaksud dalam cerita. Serperti Kristal yang saat ini suka dengan cerita aku berani tidur sendiri sehingga saat ditanya berani bobo sendiri? Kristal menjawab berani. 

 





Isi buku ini merupakan seri cerita yang dibuat sebagai alat bantu anak-anak belajar keterampilan hidup. Oleh sebab itu, menurut saya buku ini sangat cocok untuk anak usia pra sekolah, tapi boleh dikenalkan juga untuk toddler seperti usia Kristal saat ini 26 bulan.

Keterampilan hidup dasar untuk memandirikan anak memang sangat perlu ditanamkan oleh orang tua sejak pra sekolah. Sejak usia pra sekolah anak yang sudah belajar mandiri akan lebih mudah belajar tanggung jawab setelah memasuki usia sekolah.  

Oleh sebab itu, hadirnya buku ini turut membantu orang tua untuk menanamkan kebiasaan baik serta melatih kemandirian dalam hal keterampilan hidup. Cerita sehari-hari dikemas dalam bahasa yang ringan serta mudah dipahami anak-anak. Selain itu, tidak lupa adanya encourage dari tokoh orang tua (Ayah dan Ibu) dalam cerita untuk setiap usaha anaknya dalam belajar.
 

Kekurangan buku ini karena tidak ada keterangan usia pembaca yang jelas. Padahal untuk kategori buku anak, penjelasan usia pembaca itu sangat penting. Akan lebih baik jika dalam sampul terdapat keterangan pembaca usia 3-6 tahun (usia toddler sampai pra sekolah). Jika kategori usia sudah sesuai, maka material buku yang terbuat dari kertas akan sesuai juga dengan pembacanya. 


Sebagaimana yang tertuang dalam sampul belakang buku bahwa mengajarkan kemandirian anak sejak dini adalah hal penting yang menjadi PR orangtua di rumah. Sehingga menambah koleksi buku ini dalam rak buku Anda termasuk dalam hal baik yang akan menjadi investasi belajar anak.

 


Saya berikan rating 3.5 dari lima bintang untuk buku Super Balita Mandiri yang telah menemani Kristal setiap harinya.  
Judul Buku: Princess Polly Potty (Potty Training for Girls)

Penulis: Andrea Pinnington

Ilustrator: Melanie Williamson

Penerbit: Ladybird Books Ltd

Tahun terbit: 2009

Tebal: 16 halaman boardbook dengan tombol suara

Ukuran: 208 x 208 x 12mm berat 320 gram





Keinginan membeli buku Princess Polly Potty ini bermula dari Kristal yang sedang toilet training tidak mau duduk di pispot. Setiap kali didudukkan di pispot anak itu malah menangis dan menolak duduk. Akhirnya, setelah saya membaca sebuah artikel tentang tips toilet training yang menjelaskan penggunaan buku sebagai media dapat dilakukan. Baiklah, saya mulai mencari buku yang cocok untuk Kristal di amazon. Berhubung salah seorang teman sedang kuliah di Eropa, maka saya berencana menitip padanya.

Buku ini saya pilih setelah membaca berbagai review yang baik dari para orang tua di amazon. Bahasa yang mudah dijelaskan ke anak serta ilustrasi yang menarik dan jelas maknanya bagi anak. Secara fisik buku Princess Polly termasuk boardbook yang ringan dan disertai tombol suara bersorak yang membuat anak semakin tertarik dengan buku ini.





Princess Polly Potty tergolong kategori buku untuk belajar memandirikan anak mengenai perawatan diri sendiri. Buku ini dapat dipakai orang tua sebagai media belajar anak yang sedang toilet training. Penyusunan isi buku pun sangat sistematis terlihat di bagian awal, bagaimana mengenalkan anak tentang anggota keluarganya yang tidak menggunakan popok serta tokoh Polly yang masih memakai popok mewakili karakter anak-anak.

Tahapan belajar anak diawali dengan meniru dan dalam buku ini ayah, ibu, kakak serta adik menjadi contoh yang nyata. Hal ini menjadi kelebihan Princess Polly Potty dalam mengenalkan toilet training


Ilustrasi yang dibuat juga mirip dengan benda nyata yang ada. Pispot dan celana dalam digambarkan dengan beraneka warna, motif dan hiasan. Kristal sendiri sangat menyukai aneka model pispot dan celana yang terdapat dalam buku ini. Warna- warni pastel yang dipilih ilustrator sebagai latar buku terasa cocok dengan anak perempuan.

Gaya bahasa yang dipakai sangat interaktif. Anak-anak sebagai target pembaca dibawa ikut serta dalam memilih pispot dan celana yang kira-kira disukai Polly dan juga dapat memilih mana yang jadi kesukaaannya. Hanya saja karena buku ini berbahasa Inggris maka tugas orang tua jadi agak repot membacakannya dengan bahasa Indonesia pada anak. 

Menurut saya, ilustrasi yang dibuat sangat memudahkan anak mencontoh sehingga anak dapat mengerti dan belajar mengikuti cara Polly berlatih buang air. Polly memperlihatkan cara melepas dan memakai celana sendiri, Polly sedang duduk di pispot, Polly selesai buang air dan dibantu ibu membersihkan serta cuci tangan setelah selesai. Ilustrasinya pun dalam ukuran yang pas tidak terlalu besar atau kecil sehingga anak-anak mudah meniru. 



Ternyata buku ini pun memiliki dua seri, ada Princess Polly dan juga Pirate Pete versi untuk anak laki-laki dengan berbagai judul lain juga. Selain itu, pada sampul belakang terdapat keterangan batasan usia pembaca, penulis, ilustrator serta penerbit lengkap dengan ISBN. Oh ya, pada bagian belakang tombol suara dengan mudah ditemukan tempat mengganti baterai jika sudah habis.





Saya suka buku Princess Polly Potty demikian juga dengan Kristal. Jadi, saya akan berikan rate lima dari lima bintang untuk buku ini. Meskipun belum selesai toilet training Kristal tetapi buku ini sudah membantu Kristal belajar mengenai buang air kecil dan besar. 

Melihat keramaian dihadapannya, anak perempuan itu hanya menunduk sambil menggenggam botol minumnya. Anak lain diantarkan oleh ibunya sedangkan dia, diantar sosok lelaki yang bersuara berat. Berat baginya meninggalkan lelaki itu sebab tidak ada lagi orang lain yang mencintainya seperti lelaki itu.

“Bagaimana jika nanti aku dijahili, diganggu?” ujarnya dengan nada merengek.

“Tidak ada yang menjahili kamu, kamu kan anak baiknya Ayah” ucap Ayahnya menenangkan.

“Ah, aku tidak mau sekolah, aku tidak mau pisah dengan Ayah” ujarnya setengah teriak membuat seorang wanita melangkah mendekat.

“Eh, tidak boleh begitu, Ayah kan juga harus kerja sayang. Sambil menunggu ayah pulang kamu bermain di sekolah”

“Ada apa pak? Kenapa Kyara?” sapa wanita itu sambil mendatangi lobi sekolah.

“Ini bu guru, Kyara merajuk tidak mau sekolah lagi”

“Iyah, aku tidak suka kalau sekolah tidak ada Ayah”

Ibu guru berjongkok memposisikan dirinya sejajar dengan Kyara. Ia tersenyum dan menatap kedua bola mata dihadapannya sambil meraih tangan kecil pemiliknya. Kehangatan tangan Ibu Guru seperti hangatnya sinar matahari pagi itu, segera saja Kyara merasakan ketenangan mengalir.

“Kyara, apakah kamu suka bermain alat musik?” tanya Ibu Guru

Kyara hanya menunduk, melihat itu Ayah membantu menjawab.

“Suka bu, biasanya Kyara dan Ayah bermain piano bersama di rumah ya” jawab Ayah sambil ikut berjongkok dan mengenggam bahu Kyara.

“Iya bu guru, Kyara bisa bermain piano tetapi di sini tidak ada piano” jawabnya sambil melihat sekeliling.

“Sekolah memang tidak punya piano, Kyara. Tetapi, Kyara bisa belajar alat musik lain seperti yang ibu Guru punya ini” ucap Ibu Guru sambil mengeluarkan alat musik sebesar genggaman tangan.

Berbentuk persegi panjang, berwarna perak menkilap bertuliskan Sirius. Perhatian Kyara teralihkan pada benda kecil itu tangannya refleks bergerak mendekat.

“Ini apa bu Guru?” mata Kyara tidak melepas pandangannya pada benda kecil itu.
“Ini namanya harmonika, mau tahu cara memainkannya?”

“Bagaimana bu Guru? Ayah juga belum tahu kan yah?” Kyara memastikan Ayahnya masih berada disebelahnya.

“Wah, Ayah belum tahu juga tuh! Bagaimana Bu Guru caranya?” Lelaki itu bertanya sambil turut memperhatikan harmonika kecil di telapak tangan Ibu Guru.

“Ibu Guru coba mainkan ya, Kyara perhatikan”

Nada-nada merdu menguap dari harmonika kecil itu. Sebuah lagu yang tidak asing di telinga Kyara. Seketika saja Kyara memeluk Ayahnya yang kaget dengan pelukan tiba-tiba itu. Lelaki itu juga mengenali nada yang mengalun dari harmonika Ibu Guru. Lagu itu memiliki kenangan tersendiri yang tersemat dalam bandul foto di kalung Kyara.

“Kyara sekarang sekolah dulu ya, nanti Ibu Guru bisa mengajarkan Kyara memainkan harmonika” bisik Ayah

“Iya, yah, Kyara mau belajar di sekolah. Ibu Guru ajari Kyara cara bermain harmonika” ucap Kyara tenang sambil melepas pelukannya.

“Nah, sekarang Ayah Kyara bisa bekerja sementara Kyara di sekolah ya”

“Iya Ibu Guru, Kyara mau bermain dan belajar musik di sekolah. Ayah pergi bekerja dulu, sepulang sekolah bisa bertemu Ayah lagi” Kyara mengungkapkan perasannya dengan senyuman termanis. Dalam pikirannya, di sekolah terlihat not-not balok beterbangan didekatny mengajaknya menari dan berlari. 


Not-not Harmonika

Judul Buku: Suara apa itu?
Penulis dan ilustrator: Devi Raissa dan Guntur G.
Penerbit: Rabbit Hole
Batasan usia: 1-3 tahun
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 18 halaman (versi paperback dan boardbook)


Tampilan versi Boardbook



Saya penasaran dengan buku anak yang diproduksi oleh anak bangsa sendiri. Jadi, bertemulah saya dengan penerbit buku anak Rabbit Hole yang dipelopori oleh seorang psikolog yaitu, Devi Raissa. Setelah melihat-lihat katalog buku Rabbit Hole saya menemukan buku Suara Apa Itu? sepertinya cocok untuk Kristal. Akhirnya, saya memesan buku ini dan satu lagi buku emosi (yang akan direview lagi). 

Saya membeli versi paperback, yang lebih tipis (ya iyalah, wkwk..) dan juga lebih ringan. Kertas sampul yang dipakai jenis doff. Jadi, tampilan luarnya memang tidak terlalu mengkilap seperti buku anak pada umumnya. Pada halaman dalam sampul ada ruang untuk menuliskan nama pemilik buku, well ini ide yang bagus menurut saya. Anak akan lebih merasakan kepemilikannya terhadap buku. 

Semua halaman ini penuh ilustrasi, dalam artian terdapat dominasi gambar terhadap kata atau kalimat. Jadi, satu halaman bergambar di halaman selanjutnya terdapat satu kalimat penjelas gambar. Desain halaman yang unik menjadi kelebihan buku ini. Satu halaman bersifat semu, sehingga dapat menjadi dua cerita berbeda karena ada potongan halaman yang masih tergabung dalam satu cerita. 






Saat membacakan buku ini untuk Kristal saya dengan semangat sekali karena anak itu pun terlihat tertarik dengan gambar pada buku. Halaman pertama saya masih terkesima, "waah... bagus juga nih ya.." Namun, sayang sekali halaman lima dan enam membuat saya kagok bercerita. Bayangkan saja,  di dalam jalan aspal, tiba-tiba muncul dua buah kapal selam yang dalam kenyataan harusnya berada di dalam laut.

Whaaatt??!! Hellauw, ini anak akuh masa aku kasih penjelasan yang jelas-jelas salah? Tidak sesuai dengan fakta dong kalau begini? *Enggak santai*



Dengan jujur, saya menyampaikan ini sebagai kritik bagi penulis.

Bahwa keberadaan KAPAL SELAM YANG BUKAN EMPEK-EMPEK itu sudah menganggu cerita.

Anak saya kebetulan masih belum mengerti banyak, tapi coba jika sudah usia tiga tahun lebih dan sudah mendapat pemahaman bahwa kapal selam di dalam air.

Lalu, dia nanya Bun, kenapa Kapal selam di situ? Bukannya di dalem air yah????!
 MAU JAWAB APA GUEH???!! *alamaaaakkk....

Kembali ke buku, jujur saya merasa kecewa dengan buku ini karena sebelum membeli saya begitu terpesona sama testimonial konsumen. Mereka bilang ini bagus, menarik gambarnya anak-anak suka de es b de es be. Ekspektasi yang begitu tinggi ini sekarang hanya menyisakan patah hati. Sungguh overrated buku Suara Apa itu? Oleh sebab itu, di sini saya akan bikin review yang jujur dan lebih objektif *suara konsumen yang kecewa berat*

Bentuk fisik buku (saya enggak tahu kalau boardbook setebal dan seberat apa) yang paperback cukup tipis. Bagi anak-anak sangat mudah dibawa sendiri karena ringan dan ukurannya yang kecil begitu pas. Ini salah satu kelebihannya, ukuran yang pas untuk anak.

Saya tidak tahu apakah ada kontrol kualitas untuk versi paperback yang ternyata sangat mudah sobek di bagian jilidan buku. Kristal belum seminggu megang itu buku udah mau lepas aja halamannya. Jadi, saya kuatkan lagi dengan solatip bening. Menurut saya, sayang sekali buku yang bagus ini memiliki jilidan yang mudah lepas. Selain itu, sampul buku bahan kertas doff sangat mudah dicoret-coret dengan pulpen. Ini juga menjadi kekurangan fisik buku mengingat anak-anak suka mencoret dimana saja ada tempat maka buku ini akan jadi sasaran empuk coret-coretan. Kristal sudah sukses menggambar benang kusut di sampul buku Suara Apa Itu?


Pada sampul belakang terdapat ringkasan isi buku, identitas penerbit dan barcode ISBN. Baiknya, ditambahkan juga keterangan batasan usia. Hal ini akan sangat membantu dan memudahkan orang dewasa yang belum tahu mengenai batasan usia pembaca buku Suara Apa Itu? Secara keseluruhan buku Suara Apa Itu? mendapatkan dua setengah bintang dari saya. Jujur, ada kekecewaan karena kapal selam itu mungkin jika kapal selam dihilangkan bisa membuat lebih baik. Satu kata untuk buku ini, overrated.












Judul Buku: Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)
Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: terbitan pertama tahun 1922
Tebal: 292 halaman        

ISBN: 9789794071670 (cetakan ke-45)

Siapakah tak kenal kisah kasih Sitti Nurbaya dengan Samsulbahri? Padahal kisah ini lebih tua dari umur orang tua saya, bahkan berusia hampir seratus tahun. Ya, inilah kehebatan dan keajaiban sastra tertulis. Ia tak lekang oleh waktu, tak tergerus putaran zaman. Boleh dikatakan ketika memilih buku ini untuk SRC bulan sastra saya sempat galau, antara Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk dengan kisah kasih ini. Tetapi pilihan jatuh kepada karya Pak Marah Rusli, kisah abadi sepanjang masa. Kisah yang hanya saya dengar dari mulut-ke mulut, kisah yang di-repackage dalam sinetron di televisi. Tetapi belum pernah saya ketahui keasliannya. Inilah yang membuat kekepoan saya meningkat lantas tertantang membaca dan menemukan buku ini.

Zaman sekarang orang hanya tahu kalau Nurbaya dijodohkan dengan Datuk Meringgih. Padahal ia hanya cinta pada kekasihnya Samsulbahri. Tetapi apakah benar bahwa Nurbaya dijodohkan dengan sang Datuk? Saya rasa karena sudah berumurnya cerita ini banyak yang mispersepsi dengan maksud dari dijodohkan. Saya sendiri sebelum membaca kisah ini pun berpikir bahwa Nurbaya dipaksa menikah (dijodohkan) dengan Datuk Maringgih oleh orangtuanya. Tetapi berbeda cerita dalam novel ternyata, Nurbaya tidaklah dipaksa oleh ayahnya. Lantas apa yang terjadi sebenarnya?

Samsulbahri biasa dipanggil Samsu/Sam sudah berteman dengan Sitti Nurbaya (Nurbaya/Nur) sejak kecil. Keduanya pun tumbuh menjadi remaja bersama sebagai teman bermain dan belajar. Tanpa disadari di hati keduanya telah tumbuh tunas cinta. Sam berasal dari keluarga terpandang ayahnya Sutan Mahmud seorang Pejabat Daerah/ kepala suku (dalam novel disebut Penghulu). Penampilan fisik Samsulbahri secara fisik dideskripsikan seorang lelaki yang tampan, tubuhnya ideal dan terlihat bahwa ia adalah anak orang terpandang dan berperilaku baik. Begitu juga dengan Sitti Nurbaya merupakan anak saudagar sukses dan kaya, Baginda Sulaiman. Ia memiliki paras yang cantik, penampilan menarik dan tutur kata yang santun. Nurbaya ini dapat dikatakan sebagai kembangnya Kampung Padang kala itu.

“Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan merasa tertarik oleh suatu tali rahasia yang mengikat hati; dan jika mendengar suaranya terlalailah dari pada suatu pekerjaan. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika telah sampai umurnya, niscaya akan menjadi sekuntum bunga, kembang kota Padang yang semerbak baunya sampai kemana-mana,...” (hal. 4)

Satu lagi tokoh utama yang terkenal dengan perilaku buruknya, Datuk Meringgih. Sang Datuk ini memiliki kekayaan yang sangat banyak hingga ia pun terkenal di kalangan masyarakat sebagai “orang tajir”. Akan tetapi, kekayaan yang berlimpah itu berbanding terbalik dengan kemurahan hatinya. Dialah seorang yang pelit, tak suka memberi dan tamak. Setiap orang yang dipinjaminya uang mesti mengganti lebih dari pinjamannya maka Datuk Meringgih ini merupakan seorang rentenir kelas kakap. Tak hanya itu, umurnya pun sudah lebih dari setengah abad, penampilan fisik pun tak terlalu baik tetapi wibawa dan pengaruhnya mampu membuat orang-orang takut dan tak ada yang berani melawan keserakahannya.

Kembali ke kisah kasih Sam dan Nur, sebagaimana akhirnya seorang laki-laki jantan, Sam pun berani mengakui perasaannya pada Nurbaya di malam sebelum keberangkatannya ke Jawa untuk melanjutkan sekolah.

“Oleh sebab untung manusia tak dapat ditentukan , itulah sebabnya sangat ingin hatiku hendak mengetahui, bagiaimanakah hatimu kepadaku? Atau hanya aku sendirilah yang rindu seorang?”
“Sudikah engkau kelak menjadi istriku, apabila aku telah berpangkat dokter?”
“Masakan tak sudi,” sahut Nurbaya perlahan-lahan, sebagai takut mengeluarkan perkataan ini. (adegan di hal. 74)

Itu saksiku, Nur,” kata Samsu seraya menunjuk bulan dan bintang yang di atas langit, “tiadalah aku akan mencintai perempuan lain, melainkan engkau seorang. (hal. 77)

Singkatnya, Nur dan Sam mengikat janji cinta mereka malam itu. Bahwa Sam bermaksud menikah dengan Nur setelah sekolahnya selesai di Jawa dan selama itu pula jarak Padang-Jakarta menjadi pemisah keduanya. Hanya surat dari Sam kepada Nur dan juga sebaliknya menjadi pengobat rindu mereka.
Setelah dibaca oleh Nurbaya surat itu, lalu diciumnya dan diletakkan ke atas dadanya, ke tempat jantungnya yang berdebar.. (hal. 112)

Setelah menerima surat dari Sam yang memberikan kebahagiaan bagi Nurbaya tak lama kemudian datanglah berita bahwa toko ayahnya telah terbakar, habis semua tak tersisa. Akhirnya, ayah Nurbaya meminjam uang kepada Datuk Meringgih untuk menutupi hutang akibat kebakaran toko. Sayangnya, bisnis Baginda Sulaiman di lokasi lain pun tak membawa untung justru makin banyak merugi hingga pada waktu hutangnya jatuh tempo Datuk Meringgih datang untuk menagih.
 “…apabila dalam sepekan itu tiada juga dibayar hutang itu, tentulah akan disitanya rumah dan barang-barang ayahku dan ayahku akan dimasukannya ke dalam penjara. Hanya bila aku diberikan kepadanya, raksasa buas ini..” (Nurbaya kepada Sam dalam suratnya hal.121) “… jika engkau sudi menjadi isteri Datuk Meringgih, selamatlah aku, tak masuk ke dalam penjara dan tentulah tiada terjual rumah dan tanah kita ini..” (Baginda Sulaiman kepada Nurbaya hal. 122) “… tidakkah cukup untuk pembayar hutang itu, kalau sekalian barang hamba dijual dengan rumah ini dan tanah ayah? Karena hamba lebih suka miskin daripada jadi isteri Datuk Meringgih” ( hal. 123) “Tak dapat kubayar hutang itu dan anakku tak dapat pula kuberikan kepadamu” (Baginda Sulaiman kepada Datuk Meringgih hal 124) "Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui keluarlah aku, lalu berteriak: “Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi isteri Datuk Meringgih!” (Surat Nurbaya kepada Sam hal 124)

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, Nurbaya terpaksa menjadi isteri Datuk Meringgih demi melunasi hutang ayahnya. Sam pun sangat membenci Datuk Meringgih sampai berniat untuk membalas kejahatan yang dilakukan Sang Datuk pada Nurbaya dan ayahnya. Kejatuhan bisnis Baginda Sulaiman dan perkara hutang-piutang ternyata merupakan konspirasi Datuk Meringgih dengan anak buanhnya. Secara sengaja direncanakan semua kejadian ini agar Nurbaya “Sang Kembang” dapat menjadi istrinya. Semakin banggalah Datuk Meringgih mampu melebarkan sayap kekuasaannya. Tersisalah dua orang yang sama-sama patah hati karena cinta yang tak tersampaikan, Sam dan Nurbaya.



***

Cerita ini lebih tua dari usia saya, ya benar adanya. Kisah ini diterbitkan pertama kali tahun 1922 oleh penerbit Balai Pustaka yang kala itu masih milik dari pemerintahan Hindia-Belanda. Bayangkan, Indonesia masih di bawah jajahan Belanda dan sudah ada anak negeri ini yang berkarya melalui sastra! Bagi saya karya sastra yang telah masuk kategori klasik ini merupakan satu hal yang membanggakan.

Marah Rusli keturunan asli Minang membuat tanah kelahirannya sebagai seting tempat cerita cinta ini. Masyarakat Sumatera Barat menerapkan matrilineal sebagai adat budaya mereka. Sistem matrilineal merupakan sistem dimana pihak wanitalah yang menjadi pewaris harta dan garis kekerabatan keluarga. Hal inilah yang membuat kaum Hawa istimewa karena berperan sebagai penentu keberhasilan keputusan yang dibuat kaum lelaki sebab posisi mereka sebagai mamak. Oleh sebab itu, cerita ini pun kental dengan kultur matrilineal sehingga cukup memperkaya wawasan pembaca yang penasaran dengan budaya Minang.

Pada halaman pertama, saya sempat sedikit “bengong” sebab alur penceritaan yang berbeda dari novel umumnya. Kisah ini diceritakan bukan dari sudut pandang orang ketiga melainkan penulis sebagai narrator. Belum pernah saya membaca seperti ini sebelumnya namun ini menjadi hal baru yang cukup menarik untuk dibahas. Penulis sebagai narrator menceritakan tentang tokoh-tokohnya sekaligus turut menjelaskan alur yang terkait dengan para tokoh.

“Demikianlah, Datuk Meringgih, saudagar yang termashyur kaya di Padang itu. Ia kaya dan beringin hendak bertambah kaya itulah, artinya karena hendak mempunyai harta.”Hai Datuk Meringgih! Apakah faedahnya kekayaan yang sedemikian bagimu dan bagi sesamamu? (hal. 88)

Terasa agak janggal saat membaca cerita dengan tambahan tokoh sang narrator tetapi alur cerita tetap konsisten membawa perjalanan tiap tokoh secara mendetail inilah kelebihannya menurut saya. Hal yang menjadi kekurangan menurut saya adanya campur tangan sang narrator ini membuat para tokoh seakan bebas dan sesuka hati dikomentari olehnya. Dengan kata lain, penulis sebagai narrator memiliki kekuatan untuk menyampaikan isi pikirannya kepada pembaca sehingga pesan dari tokoh langsung menjadi agak blur.

Alur maju yang dipilih penulis mampu membawa saya terhanyut selama membaca novel ini. Alur maju membuat cerita semakin menarik dengan beberapa “kejutan-kejutan” yang tak terpikirkan oleh pembaca. Menurut saya, pemilihan alur maju dan penempatan “kejutan” dalam cerita ini cukup menutupi kekurangan lain dalam novel ini. Satu hal yang paling penting, disebabkan terbit di masa Belanda maka Anda akan menemukan bahasa Indonesia yang belum sesuai ejaan yang disempurnakan baik dari tata bahasa maupun kosakata. Akan tetapi, inilah menurut saya keindahan dari harmoni sastra klasik, ia menjadi saksi dari sejarah perkembangan sastra itu sendiri dan ia menjadi abadi meskipun puluhan tahun terlewati. Jadi, bersiaplah bertualang dengan mesin waktu ketika membaca novel ini.

Lantas, apakah hanya cinta yang menjadi konflik utama dalam novel ini? Sayangnya tidak hanya itu, anda pun dapat menemukan konflik interpersonal di setiap tokoh. Namun, memang cinta tak tersampaikan menjadi konflik utama yang juga memicu konflik lainnya. Dapatkah anda bayangkan, kala itu anak-anak perempuan diharuskan menikah di usia awal remaja sekitar 13-15 tahun? Ini juga membuat Nurbaya “galau” sendiri ketika membayangkan harus menunggu Sam tujuh tahun lamanya hingga mereka menikah. Terlebih lagi dengan adanya hubungan jarak jauh yang mereka jalani sejak Sam sekolah di Jawa. Tentulah hubungan jarak jauh zaman dulu berbeda dengan saat sekarang yang sudah canggih. Tanpa telepon, internet dan medial sosial Nurbaya dan Sam menjalin hubungan mereka melalui surat yang dikirim lewat pos. Surat ditulis sangat panjang hingga beberapa halaman dalam novel terasa agak aneh bagi saya membaca curahan hati sedemikian panjang tetapi ini relevan untuk seting waktu di tahun 1896 (tahun yang tertulis di surat Sam kepada Nurbaya).

Budaya poligami bagi lelaki di Minang saat itu masih dijunjung tinggi oleh masyarakat juga turut menjadi konflik. Ayah Sam yang menganut monogami berbeda pendapat dengan adik perempuannya yang justru menginginkan abangnya memperturutkan poligami yang telah membudaya di Minang. Pandangan mengenai poligami juga detail diceritakan penulis melalui tokoh Ahmad Maulana, paman dari Nurbaya. Paman Nurbaya hanya beristri seorang saja namun istrinya masih merasa monogami merupakan hal yang tidak beradat (sekali lagi, poligami-lah yang dikatakan beradat kala itu). Sebagai lelaki yang memiliki nilai sendiri, Ahmad Maulana pun membuka diskusi dengan istrinya mengenai kekurangan dari adat poligami.
 “…makin banyak istri makin banyak belanja; sebab tiap-tiap istri itu harus dibelanjai dengan secukupnya. Bila kurang belanja, tentu saja kurang senang hati istri-istri itu. Dengan demikian, mudah timbul perselisihan; dan bila selalu berbantah saja, dengan tiap-tiap istri yang banyak itu, tentulah kehidupan kurang senang.” (hal. 208)

Dan masih panjang lagi alasan rasional yang menguatkan akan “lebih baik beristri satu” yang dipaparkan penulis melalui tokoh paman Nurbaya ini. Termasuk juga salah satu ungkapannya bahwa wanita boleh sama pintarnya dengan lelaki agar tak hanya menjadi budak.

“Itulah sebabnya tak baik anak perempuan disekolahkan” kata Fatimah“Supaya tinggal bodoh dan selama-lamanya menjadi budak laki-laki, bukan? Boleh diperbuat sekehendak hati; sebagai kerbau diberi bertali hidungnya…. Jika engkau sendiri sebagai seorang perempuan, suka bangsamu diperbuat sedemikian, suka hatimulah! Tetapi kalau aku menjadi perempuan, sekali-kali aku tak mau menerima peraturan ini.” (dialog dalam hal. 213)


Diskusi yang didengar oleh Nurbaya dan sepupunya Alimah pun menambah keyakinan mereka akan hak-hak wanita yang seharusnya sama dengan laki-laki. Mereka pun berdiskusi sendiri membahas “peran gender” dalam adat dan budaya yang dirasakan selama ini kurang adil bagi wanita. Menurut saya, dalam bagian ini penulis berusaha memberikan pandangan mengenai adat dan mengkritisi peran gender dari kaca mata budaya Minang. Sangat jelas Marah Rusli terkesan kurang menyukai sistem adat (matrilineal, ninik-mamak, poligami) dan peran gender yang berbeda jauh antara budaya tradisional Minang dengan budaya Barat. Hal ini mungkin dipengaruh dari pengalaman penulis ketika bersekolah di Eropa. Penulis menemui budaya yang berbeda dengan tempat asalnya ini membuat penulis beranggapan budaya tradisional tak terlalu menguntungkan dan memajukan pada akhirnya diperlukan cara menyampaikan pemikirannya tersebut. Jadi, melalui novel ini pesan tersebut disampaikan kepada masyarakat kala itu. Sebuah taktik yang cerdas menurut saya, mengingat ketika masa penerbitan buku ini Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda dan ya sebagai penulis yang ingin “berontak” dari kungkungan adat Marah Rusli berhasil menyampaikannya dalam novel.

“Sebab itu,haruslah perempuan itu terpelajar, supaya jauh ia terjauh dari pada bahaya, dan terpelihara anak suaminya dengan sepertinya. Tentu saja kepandaiannya itu dapat juga dipergunakannya untuk kejahatan. Itulah sebabnya perlu hati yang baik dan pikiran sempurna. Bila perempuan itu memang tidak baik tabiatnya atau sebab salah ajarannya, walaupun ia tak berkepandaian sekolah sekalipun dapat juga ia berbuat pekerjaan jahat. Tak ada perempuan jahat, pada bangsa yang masih bodoh?” (hal. 219)


“… memang demikianlah nasib kita perempuan. Adakah akan berubah peraturan kita ini? Adakah kita akan dihargai oleh laki-laki, kelak? Biar tak banyak, sekedar untuk yang perlu bagi kehidupan kita saja pun, cukuplah. Aku tiada hendak meminta, supaya disamakan benar-benar dengan laki-laki dalam segala hal;… tetapi permintaanku, hendaknya laki-laki itu memandang perempuan, sebagai adiknya, jika tak mau ia memuliakan dan menghormati perempuannya sebagai pada bangsa Eropa. Janganlah dipandangnya kita sebagai hamba atau suatu makhluk yang hina. Biarlah perempuan menuntut ilmu yang berguna baginya, biarlah ia diizinkan melihat dan mendengar segala yang boleh menambah pengetahuannya; biarlah ia boleh mengeluarkan perasaan hatinya dan buah pikirannya, supaya dapat bertukar-tukar pikiran, untuk menajamkan otaknya.. “ (Ungkapan pikiran Nurbaya, hal. 222)

Novel ini memang bertema roman namun bila ditelisik lebih dalam Anda tidak hanya menemukan sensasi cinta dua anak manusia tetapi Anda akan bertemu dengan pertentangan antara budaya, peran gender dan hebatnya harta menguasai manusia. Marah Rusli juga mengkritisi budaya “pernikahan paksa” yang seringkali dialami wanita pada zamannya. Dalam novel ini pun tertuang banyak petuah tentang pernikahan, rumah tangga dan gambaran hidup berkeluarga dalam masyarakat Minang.

Setiap tokoh dalam novel ini sangat kuat mendeskripsikan kepribadian dan perilaku manusia di zaman yang dirasakan penulis. Tokoh Nurbaya yang cerdas namun terpaksa melakukan hal yang tak diinginkan sebab kelemahannya. Samsulbahri yang berpikiran dewasa namun tetap lemah jika dihadapkan pada perkara cinta. Datuk Meringgih yang sangat cinta harta, serakah dan curang demi menambah hartanya. Ketiga tokoh itu memang terkenal sebagai tokoh sentral dalam novel ini tetapi memang perlu membaca keseluruhan novel ini jika Anda ingin mengenal tokoh lainnya yang juga turut menjadi media penuang gagasan penulis. Ayah Sam, Paman Nurbaya dan tokoh lainnya bukan hanya menjadi “karakter pelengkap” tetapi juga menjadi karakter yang turut mengisi alur dalam kisah kasih ini.

Lalu, masihkah relevan jika kita menyebut “memangnya ini zaman Sitti Nurbaya” ketika kita menemukan kasus anak-anak gadis yang dijodohkan dengan orangtuanya? Sebab sesungguhnya Nurbaya memang tidak dijodohkan oleh ayahnya. Berarti telah ada kesalahan persepsi terhadap label “zaman sitti nurbaya” bagi mereka yang hidup di zaman sekarang lalu menikah sebab dijodohkan. Jadi, baiknya kita tak lagi melabeli mereka yang dijodohkan oleh orangtuanya sebagai “Sitti Nurbaya masa kini” karena itu memang kurang relevan.

Secara keseluruhan sebagai karya sastra Indonesia, novel Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli ini memang layak disebut sebagai masterpiece-nya sastra Indonesia. Sebuah kisah yang abadi, tetap dikenal hingga kini meskipun terbit jauh sebelum masa kemerdekaan. Romansa cinta Sitti Nurbaya dan Samsulbahri pun tetap dikenang, meskipun akhirnya ada mispersepsi tentang nasib cinta mereka. Lagi-lagi inilah yang memotivasi pencinta sastra untuk meluruskan dan mengenalkan kembali karya-karya sastra yang langka di masa kini.

Novel ini merupakan karya yang baik untuk menambah wawasan Anda tentang satu kultur yang menjadi bagian dari Indonesia dan memahami dilema akan hubungan antara laki-laki dan wanita di zaman sebelum kemerdekaan. Saya melihat keinginan Nurbaya tentang peran wanita telah menjadi kenyataan. Kini wanita boleh bersekolah setinggi laki-laki, berpendapat dan berkarya sesuai kompetensinya. Beruntunglah bagi wanita yang lahir bukan di zaman Nurbaya sebab tak perlu merasakan yang dirasakannya. Jika boleh saya ingin bertitip pesan pada Nurbaya maka saya ingin mengucapkan “Hai, Sitti Nurbaya keinginanmu terwujud sudah, kini wanita boleh bersekolah tinggi dan bekerja selayaknya laki-laki tanpa mengorbankan perannya yang paling penting menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya”. Mungkin ia akan tersenyum bahagia membaca pesan ini.

Rating 3 dari 5 bintang untuk kisah roman yang tak sampai. Rating 4 dari 5 bintang untuk pemikiran-pemikiran Marah Rusli yang berani “memberontak” dari budaya zaman.


Hei,

Lama tak berjumpa denganmu pelangi

Tahu tidak pertemuan kita sore ini, membuat rinduku padamu lunas sudah, ehehe

Aku paham betul sulit sungguh menemuimu, kau tak selalu berada di langit, tapi kau sungguhnya pun selalu di sana tak kemana-mana

Kau hanya memerlukan hujan dan sinar mentari

Dan kali ini, sore ini di hari ini

Tepat setelah hujan selesai bertugas turun ke bumi

Lalu mentari pun bersiap beranjak undur diri di kaki barat

Seberkas sinar mentari mengenai titik-titik uapmu

Hingga terlihatlah kau pelangi

Kau di langit timur sore hari

Melengkung indah, berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu

Ah, indaah sungguh..

Kamu membuatku meleleh

Tuhan, ciptaanMu yang satu ini penuh warna, indah sempurna

Pelangi

Kapan kau bertamu kembali di langit biru?

Kau pun tak punya jawabnya

Tapi di sudut imajiku, di pojok harapan hatiku ini

Kelak kita bisa bertemu kembali setelah aku bertemu dengan belahan jiwaku

Lalu, kami akan bersama mengagumi kau sang pelangi, ciptaan Tuhan

Goresan kuas berwarna milik Sang Pencipta





Pelangi tertangkap dari balkon kamar :)





Yihaaa, kembali lagi ngisi blog, parah ini parah, seharusnya bisa nyetor lebih awal tetapi apa daya, kemalasan hampir menang atas diriku :p

Baiklah, baiklah.. sekarang mau bahas tentang pak Ajip Rosidi dan satu puisi karya beliau yang saya temukan. Pak Ajip ini pemuda Sunda asli, haduh saya lupa angkatan mananya. Yang pasti beliau merupakan satu dari sastrawan Sunda yang turut mengembangkan Sastra Sunda. Pak Ajip ini ya, saya baru lihat foto wajahnya di sampul belakang buku Surat Tjinta Endaj Rasidin. Ya ampuuun, itu foto jaman mudanya, ya Allah ganteeeeng sungguh, hahaa (menurut saya sih emang ganteng). Andai nih ya ada lelaki ganteng semacam gantengnya pak Ajip jaman muda mesti deh enak banget kalo dijadiin pasangan #eh. Okelah, nih saya beri fotonya.. hhaha kan ganteng kan?



Sebenernya di buku kumpulan sajak Surat Tjinta Endaj Rasidin itu ada banyak puisi, ya temanya sesuai judulnya yang surat cinta, berarti tidak jauh dari teman tjinta (baca: cinta). Oh iya, karena masih pakai ejaan lama judul bukunya kalau dieja pakai EYD sekarang dibaca Surat Cinta Enday Rasidin. Nah, ini salah satu puisi yang saya suka dalam buku sajak tersebut. Judulnya Begini aku sekarang, ditulis tahun 1959 (bahkaaan umur puisi ini lebih tua dari umur mamah saya, hahaay :P)

Begini aku sekarang
Oleh: Ajip Rosidi

Begini aku sekarang: pendiam dan murung
Merenung gunung berselubung mendung
Makin mengerti tentang adjaib tali djiwa
Antara kita
Begini aku sekarang: pendiam dan murung
Kian djauh sadja dari keriahan kota
Dan makin mengerti akan arti tjinta
Jang tak diterjemahkan dalam kata
Karena kata hanja basa
Tak mendukung sepenuh rasa
Karena kata hanja antara
Dua djiwa belum satu
Karena kata hanja kata
Jang lain-lain kandungan arti
1959
Nah, itu kalo pakai ejaan lama ya, ini saya edit ulang kalo pakai bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Biar lebih enak membacanya dan membahasnya, hehe.

Begini aku sekarang: pendiam dan murung
Merenung gunung berselubung mendung
Makin mengerti tentang ajaib tali jiwa
Antara kita
Begini aku sekarang: pendiam dan murung
Kian jauh saja dari keriahan kota
Dan makin mengerti akan arti cinta
Yang tak diterjemahkan dalam kata
Karena kata hanya basa
Tak mendukung sepenuh rasa
Karena kata hanya antara
Dua jiwa belum satu
Karena kata hanya kata
Yang lain-lain kandungan arti
1959

Kan, kan, kan, kandaaaaa *halaah apa ini? #salahfokus. Bukan, bukan manggil kanda kok, haha.. kan bener puisinya mengandung tema cinta. Saya bukan lulusan sekolah sastra Indonesia. Tidak terlalu paham akan makna tiap frasa puisi. Tetapi saya suka tiap untaian kata yang dipilih pak Ajip untuk menggambarkan makna kesendirian, jauh dari yang dicinta. Yang dicinta disini sih sepertinya lebih fokus ke kekasih hati pujaan jiwa ya, hahay. Ah, saya suka inilah, titik. Di bagian “karena kata hanya antara, dua jiwa belum satu” sepertinya menyiratkan masih belum bertemu dengan yang diharapkan. Tetapi, si penulis merasakan memang kesendirian itu membuat lebih banyak diam, terlebih jauh dari yang dicinta karena emang beluman ketemu, hoho *itu mah saya #curcol.


Saya suka puisi, suka sejak masih bersekolah di junior high school (baca: SMP). Saya pikir-pikir lagi sepertinya di usia SMPlah saya mengenal dan jatuh hati pada sastra entah itu puisi atau pun prosa. Kala itu, saya di sekolah mempelajari buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia yang didalamnya berisi banyak potongan puisi dan prosa karya pujangga Indonesia. Ada beberapa nama yang saya kenal sejak dulu Bapak Pujangga ini sangatlah unik dalam menuliskan puisinya yang berpola bentuk tertentu. Ini salah satu karya Bapak Sutardji Calzoum Bachri yang baru saja tiga hari lalu saya baca lagi buku asli terbitan jaman dulu antologi puisi O Amuk Kapak di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, rak buku nomor 899. Niatnya itu kemarin saya kesana mau nyari buku Pak Sapardi Djoko Damono. Di katalog online sih ada tapinya di rak buku saya tak bisa menemukannya. Eh, tapi malah jodohan sama pujangga lainnya, hehee..

Ini harta karun yang berjodoh sama saya kemarin :D



Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

~Sutardji Calzoum Bachri
~Bandung, 30 maret 1973


Paragraf di atas saya kutip dari prakata di buku O Amuk Kapak. Saya suka sama ungkapan mengenai kata bagi pak Calzoum.
Berikut ini, puisi yang saya ingatnya pernah baca di salah satu buku teks pas jaman sekolah dulu. Bermakna dalam dan berbeda dengan puisi jaman sekarang, hehe.

Batu


Batu mawar

Batu langit

Batu duka

Batu rindu

Batu jarum

Batu bisu

Kaukah itu

teka

teki



Yang tak menepati janji?

dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku  mengeluh? Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai. Kau tahu? 


Batu risau

Batu pukau

Batu Kau-ku

Batu sepi

Batu ngilu

Batu bisu

Kaukah itu

Teka

Teki

Yang tak menepati janji?