Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts
Sejak menjadi orang tua saya jadi lebih peduli tentang buku anak-anak. Ini karena saya harus memilihkan buku yang menjadi bahan bacaan puteri saya. Dulu tahun 2015, pas anak saya masih bayi, sempat hits sepaket buku balita yang sangat digaungkan untuk dimiliki semua orang tua yang punya bayi. Tujuannya untuk memperkenalkan anak dengan buku. Tetapi saya tidak punya, tidak beli dan tidak pernah membacakannya untuk anak saya. Saya sempat terpikir untuk membelinya namun, maju mundur cantik akhirnya batal, mungkin karena dulu belum ada dananya dan uang sebesar itu dialihkan ke sumber daya lain kan ya. Lantas, apakah anak saya jadi tidak senang membaca buku? Tidak juga kok, kan saya mengenalkan dengan buku lain, yang berisi cerita dan bergambar warna warni.

Photo by Ben White on Unsplash
 
Saya pun mulai mencari lagi buku cerita lain, ada juga yang dikasih sama teman, beli buku bekas, pesan buku baru sampai datang ke bazar buku yang fenomenal itu di Serpong, wkwk…Buku anak sekarang bermacam-macam variasinya. Bagus-bagus, jauh lebih bagus daripada saat saya kecil dulu. Mulailah pencarian di awal-awal karena belum mengerti tentang penjenjangan buku, saya cuma tahu balita bisa dibacain buku cerita bergambar, isinya berapa kata, berapa kalimat saya tidak tahu itu ada aturannya, haha… Semakin ke sini, pemerintah mengatur jenis-jenis buku anak berdasarkan penjenjangan. Bisa dibaca di sini.

Perjenjangan Buku 
 
Kini anak saya makin gede, terus udah lancar baca sendiri, saya ingat dia bisa baca lancar saat umur 5 tahun dan dia mau baca sendiri bukunya. Wih, ya makin bingung anak sudah bisa baca, dikasih apalagi ya? Sampai akhirnya dia masuk usia sekolah, saya beranikan untuk mencoba buku cerita panjang alias novel anak, terus anaknya betah dan suka, ya masa dilarang? Hayuklah, diteruskan aja, akhirnya makin bikin mikir keras bahwa buku-buku buat seumurannya itu sedikit sekali dan kebanyakan untuk usia SD tinggi. Lah, iya, umur 7-9 tahun itu ga bisa dibacakan buku cerita yang kalimatnya pendek tapi gak ada cerita panjang yang pas juga. Wew…

Jadi, sebenarnya anak saya tidak melalui proses baca buku sesuai aturang penjenjangan itu yahh.. ini karena murni ketidaktahuan saya sendiri, tetapi karena itulah dia mulai terbiasa membaca cerita panjang dan bisa menangkap cerita dengan baik. Khawatir? IYALAH, BACANYA CEPET BANGET! Buku 100 halaman selesai seharian, lah… bingung kan? Sempat juga baca buku online di web penyedia buku gratis yang ceritanya bagus-bagus dan ilustrasinya juga keren. Sampai pada suatu titik dia bosan dan tidak terlalu minat lagi untuk membaca di web itu.

Suatu hari kami menemukan komik edukasi terjemahan Korea Selatan dan memang komik yang kebanyakan gambar tapi ada ilmunya. Menurut saya sih bagus, maka mulailah anak saya senang baca komik edukasi itu dan memang banyak juga tulisan penjelasan berbagai hal terkait isi cerita, gapapa yang penting baca daripada lapar bacaan.

Saya masih terus membolehkan anak baca komik edukasi sampai sekarang, hanya temanya mulai saya beranikan yang lebih serius seperti biografi tokoh-tokoh. Mulai bisa diajak diskusi tentang masa hidup seseorang kenapa bisa sampai bisa berkarya sebesar itu. Saya pun mesti membuatnya tertarik buat ganti tema buku ini. Meskipun awalnya dia tidak terlalu berminat tapi berkat trik khusus akhirnya dia mau juga, gimana caranya? Kita ortunya nih, yang mesti duluan menunjukkan minat dulu mau baca buku itu juga.

Beberapa pekan lalu, saya menemukan buku dongeng yang dikarang oleh keturunan Cina Amerika yang menurut saya sangat bagus. Buku novel ini bertema dongeng lampau dari Cina, tebalnya sekitar 250-an halaman dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya ingin anak saya membaca buku yang keren ini, tetapi dia mulai merasa malas membaca buku tebal yang penuh kata-kata panjang. Wah, padahal itu juga ada ilustrasinya satu halaman dalam satu bab. Apakah saya membiarkannya tidak mau membaca? Tentu saja mulailah bergerilya membuatnya membaca bacaan panjang lagi. Kebetulan kami sedang meminjam komik biografi Isaac Newton dan Jose Mujica dari perpustakaan kota dan pas banget kedua orang ini digambarkan senang membaca buku. Newton yang membaca buku terus dan Mujica yang ketika di penjara pun sedih karena tidak bisa membaca lagi. Saya mulai susupi pikiran anak saya dengan “ini orang-orang besar bisa menjadi seperti ini karena mereka membaca buku lho, apa saja dibaca”.

Membaca buku apapun pasti bagus buat kita, apalagi ada diskusi-diskusi kritis tentang isinya.

Alhamdulillah, besoknya anak saya coba membaca buku dongeng itu dan berhasil, dia hampir tidak mau berhenti membacanya sampai selesai. Lalu, kami pun diskusi sedikit tentang isinya, bagaimana perjalanan tokoh-tokohnya yang ajaib dan seru. Ini menyenangkan banget bagi saya! Saya sadar juga anak itu ingin teman membaca dan kitalah temannya yang pertama untuk membaca. Membaca bukan yang cuma membaca, membaca yang juga memicu daya kritis anak.

Saya menyadari juga ada masa-masa semangat dan turunnya anak-anak dalam membaca buku. Maka tugasnya orang tua yang bisa mengenali masa-masa itu dan membuat siasat agar anak tetap senang dan suka membaca buku yang memang bagus ceritanya. Selamat mencari buku-buku bagus dan memilihkannya untuk anak-anak kita!





Buku selalu menjadi benda yang membahagiakan untuk dimiliki, dibaca dan dikoleksi. Kesenangan membaca adalah anugerah yang akan membuat akal lebih cerdas dan bijak. Tanpa perlu mengalami langsung suatu peristiwa kita dapat merasakannya langsung dari berbagai cerita dalam buku. Buku-buku terbaik, karya terbaik akan memberikan jejak yang selalu diingat. 

Josh Applegate on Unsplash

Di Indonesia, mengutip laporan kompas.com bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Republik Indonesia menemukan capaian indeks budaya membaca tahun 2019 mencapai 53,84 (kategori sedang). Perpusnas memperoleh angka ini dari survei kegemaran membaca di 102 kabupaten dan kota pada 34 provinsi. Berita ini belum cukup menggembirakan dalam angka peningkatan minat membaca. Masih banyak yang perlu diupayakan agar masyarakat cinta membaca dan tentunya dibutuhkan kerjasama serta dukungan semua pihak menjadi penggerak minat baca.

Bertepatan dengan Hari Buku Sedunia pada 23 April 2021, Danone Indonesia meluncurkan program BACA. Program ini berupa ajakan untuk mencintai kegiatan membaca sambil berbuat baik melalui sumbangan buku bacaan yang ditujukan bagi anak. Kali ini, Danone Indonesia bekerjasama dengan Tentang Anak berupaya agar anak-anak Indonesia senang membaca dan berbuat baik. Dengan begitu, literasi anak di Indonesia diharapkan terus meningkat. 



Peluncuran program ini dihadiri oleh Dokter Mesty Ariotedjo, Sp.A sebagai CEO Tentang Anak, Bapak Arif Mujahidin sebagai Corporate Communication Danone Indonesia serta Fathya Artha, M.Sc., M.Psi selaku Psikolog & Co-Founder Tigagenerasi. Acara berlangsung secara daring dan tetap menyenangkan hati untuk diikuti kala pandemi. Ketiga narasumber yang ahli di bidangnya ini membawakan informasi yang bermanfaat untuk dilakukan selama bulan Ramadan dan mudah dilakukan di rumah.


Banyaknya informasi yang memicu kerancuan di media sosial melatarbelakangi dokter Mesty untuk memberikan informasi yang tepat dan berdasarkan fakta. Akses informasi yang terbatas bagi masyarakat umum membuat beliau ingin meluruskan hal-hal yang kurang tepat berdasarkan keilmuannya sebagai dokter spesialis anak. Sejak pandemi inilah Tentang Anak diluncurkan agar dapat memberikan informasi yang benar pada khalayak mengenai tumbuh kembang anak. Niat baik ini terkoneksi dengan Danone Indonesia hingga keduanya berkolaborasi untuk aktif berperan meningkatkan minat baca pada anak.

Dokter Mesty juga memberikan tips untuk melatih anak berpuasa di bulan Ramadan. Anak-anak yang penuh rasa ingin tahu pasti ingin mencoba berpuasa. Nah, orangtua penting untuk mengetahui apa saja hal-hal yang perlu dipersiapkan. Hal terpenting adalah kondisi anak yang sehat secara fisik dan mental. Sebenarnya hukum puasa untuk anak pun tidak wajib jika untuk mengenalkan boleh, tapi tetap memperhatikan kondisi anak. Selain itu, perhatikan juga berat badan dan tinggi badan anak berdasarkan kurva pertumbuhan. Apakah titiknya sudah berada pada garis aman yang ditandai dengan garis hijau? Jika sesuai maka silakan Ayah dan Bunda mengajak anak-anak belajar berpuasa. 


Kebutuhan Nutrisi Anak Berpuasa

1. Makanan dengan gizi seimbang

Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Protein, lemak dan serat berfungsi untuk mempertahankan rasa kenyang. Saat sahur disarankan makan yang berkadar glikemik rendah seperti, nasi, ubi, kacang hijau, roti gandum dan apel. Sedangkan, di saat berbuka sebaliknya perlu makanan berglikemik tinggi seperti kentang, nasi, roti serta manisan buah.

2. Kebutuhan cairan yang cukup

Agar anak tidak dehidrasi maka diperlukan cairan yang cukup. Cairan yang dimaksud bisa berasal dari minuman atau makanan yang kadar airnya tinggi seperti sayur dan buah. Kebutuhan cairan anak berbeda tiap usia. Oleh sebab itu, ini harus diperhatikan oleh orangtua. Jangan biarkan anak dehidrasi jika sudah ada tanda -tanda ini:
  • Anak tampak pucat, lesu, lelah dan mata cekung
  • Buang air kecil sedikit dan warnanya kuning pekat
  • Anak tidak merespon cepat/ aktif
  • Kesadaran anak menurun 
     



Waspadai tanda di atas sebelum parah. Jika anak terlihat lemas maka silakan tawarkan air untuk minum, tidak perlu memaksakan berpuasa terus hingga Maghrib. Ingat, anak-anak hanya belajar belum diwajibkan seperti kita.

Paparan yang menarik mengenai literasi anak dibawakan oleh Psikolog TigaGenerasi Fathya Artha, M.Sc., M.Psi. Ini membuat kita sebagai orang tua lebih membuka mata mengenai pentingnya membaca sejak dini untuk anak. Jangan sampai anak merasa membaca itu menjadi sebuah paksaan sebab membaca dengan cinta itu lebih baik daripada memaksa membaca. 

Fakta mengenai proses belajar membaca dan membaca untuk belajar ada dua hal yang berdampingan. Anak perlu belajar membaca bersamaan dengan itu ia pun akan membaca untuk mendapatkan pengetahuan baru. Jadi, jangan heran kalau setelah anak bisa membaca akan timbul banyak pertanyaan dari hal yang ia baca. Misalnya, makna dari kata dalam buku yang merek belum tahu pasti akan membuat mereka bertanya pada kedua orangtuanya. Pengalaman saya sendiri adalah makin banyak pertanyaan yang membuat saya harus pandai memilih kata agar anak mudah memahami jawabannya. Wah, ternyata anak bisa membaca akan menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua.

Adapun manfaat membaca bersama anak ataupun membaca sendiri bagi anak sangat banyak. Jadi, mulai saat ini tidak ada alasan untuk tidak membaca buku bersama anak. Ingat satu hal yang juga penting bahwa anak melihat dan meniru orangtuanya maka ketika pastikan anak juga melihat orangtuanya membaca buku. Jika tidak suka membaca bagaimana? Cobalah memulai untuk mencintai membaca, insya Allah bisa. Pasti akan sangat seru nanti saat anak-anak makin besar dan bisa membaca buku-buku bagus bersama kita, mendiskusikan cerita-ceritanya, dan menebak-nebak latar belakang penulis mengarang cerita itu. 


Pilih-pilih buku bacaan juga perlu diperhatikan orangtua. Anak usia dini bisa dipilihkan buku cerita bergambar dengan kata-kalimat yang pendek dan sedikit. Anak usia sekolah bisa dipilihkan cerita lebih panjang dengan ilustrasi yang lebih sedikit. 

Dalam rangka turut merayakan Hari Buku Sedunia, Danone Indonesia mempersembahkan program BACA yang berkolaborasi dengan Tentang Anak. Tujuannya adalah untuk mengajak kita semua semakin mencintai membaca dan memberi kebaikan untuk anak-anak melalui sumbangan 1.000 buku bacaan.

Buku-buku yang disumbangkan adalah buku bertema kebaikan. Harapannya agar para pembaca berusia dini terbiasa berbuat baik seperti mengucapkan “Maaf”, “Terima Kasih”, dan “Tolong” sedangkan Danone Indonesia sendiri ikut menyumbangkan buku “Sampahku Tanggung Jawabku” dan “Isi Piringku”. Donasi Danone Indonesia diharapkan bisa menanamkan pola makan gizi seimbang dan kebiasaan hidup bersih bagi anak usia 4-6 tahun. 


Danone Indonesia dan Tentang Anak menggalang donasi 5.000 Buku Serial “Sikap Baik” untuk seluruh anak Indonesia. Target penyaluran donasi adalah panti asuhan area Jabodetabek, pasien anak, serta beberapa PAUD dan posyandu. Dengan memberi manfaat seluas-luasnya program BACA Danone Indonesia dan Tentang Anak turut mendukung peningkatan literasi anak.

Di tengah Ramadhan ini sungguh besar kebaikan dan manfaat yang akan didapat oleh semua orang. Teman-teman cukup dengan berdonasi melalui @wecare.id dan kebaikan kita akan sangat besar manfaatnya bagi anak-anak Indonesia. Mari melipatgandakan kebaikan melalui BACA!



Sumber: 




Sejak ada yang namanya media sosial bernama instagram inilah dimulai pula pengaruh para ibu selebriti memasuki pikiran ibu-ibu biasa ((yang bukan seleb)). Mulai dari stimulus sensori untuk bayi dan anak toddler hingga cara makan pun diikuti oleh ibu biasa. Saya sih tidak merisaukan hal-hal demikian sebab saya enggak follow ibu selebgram tersebut, hahaha.. Jadi, tidak perlu makan hati berulam jantung yhaaa kalau realita dunia peribuan (motherhood) begitu melewati ekspektasi feed IG selebgram. Saya mah woles ae…
Photo by carole smile on Unsplash

Terlalu berat jika kita menginginkan segalanya sempurna, sedang sumber daya baik tenaga, waktu serta  dana yang kita miliki terbatas. Tidak perlu memaksakan diri menjadi yang ideal, menjadi ibu bukan untuk jadi sempurna. Alangkah baiknya kita menjadi ibu yang mencintai diri hingga dapat mengasuh anak dengan bahagia.

Kesempurnaan Ibu itu sejenis camilan apa yha?


Duh! Sepertinya saya bukan termasuk golongan tipe orang perfectionist. Saya lebih cenderung santai dan yaudalah kalau gak bisa seideal gitu, ya udah gapapa. Itulah kebanyakan lintasan di pikiran saya. Tapi semua berubah sejak jadi ibu, haha, andaikan ada camilan bernama kesempurnaan mungkin dulu saya sering makan camilan itu saat Kristal masih bayi.

                                                       Baca juga: Lika-liku Menyusui

Saya memberikan MPASI homemade, bermain sensori dan memberikan segalanya yang terbaik buat anak bayi ini. Setelah setahun, saya lelah mengejar kesempurnaan yang demikian hingga akhirnya saya dan lebih santai terhadap target tumbuh kembang anak. Apalagi dulu jelang usia setahun Kristal belum bisa jalan sendiri, wkwk… awalnya panik eh, akhirnya santai pas tahu patokan normal bisa jalan lancar 18 bulan, ya kan.


 Seiring berkurangnya tekanan dalam pengasuhan, saya makin melihat berbagai ketidaksempurnaan yang saya miliki. Memang benar bahwa manusia makhluk yang diciptakan dengan ketidaksempurnaan. Nah, dengan adanya ketidaksempurnaan inilah yang menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia.

Some kind of my imperfection

Salah satu diantaranya kitdaksempurnaan saya menjadi ibu adalah membacakan buku sambil terkantuk-kantuk sampai berubah jalan ceritanya. Hahaha, beneran deh ini sering terjadi dan lagi-lagi anaknya yang mengoreksi “Kok begitu sih ceritanya” sebab dia sudah tahu dan hafal isi buku yang dibacakan. Selain itu, ditambah dengan ucapan “Bunda mah tidur”. Duh, ini sungguh lawak banget sih emang. Apalagi kalau suami ngeliat adegan ini sambil ketawain saya, sungguh senang hatinya.


“Anak-anak kalau mau cepat besar harus makan sampai habis ya” Ucapan saya ke anak pas waktunya makan. Apakah dengan ini anak selalu menghabiskan makanannya? Yha, tentu tidak... Ada masa makanan yang disediakan habis (kalau dimasakin ayam bakar Taliwang) tapi sering juga makannya enggak habis dan berujung saya yang melanjutkan. Setidaknya anak sudah makan separuh dari porsi yang diberikan deh, sisanya biar saya yang habisin, wkwk… Namun, satu yang bikin saya heran ya, setelah makan yang tidak habis itu dan berkata kenyang. Anak masih bisa minta camilan yak… Itu apa namanya coba kalau bukan ironi gaes? Bilang kenyang tapi masih minta dan muat buat menghabiskan camilan. Sungguh sulit dipahami…


Ada beberapa ibu yang tidak memberikan makanan berupa mie instan dan keluarganya (seperti mie-mie yang dibungkus lalu rebus dan jadi makanan) pada anak balita. Berbeda dengan saya, saya termasuk yang memberikan makanan tersebut. Habisnya kadang kita kan bosan ya sama nasi, jadi bikin aja indom*e goreng atau rebus dengan tambahan sosis atau bakso juga sayuran macam sawi, wortel dan kol. Tapi tenang, saya tidak setiap hari masak mie goreng ini, seminggu sekali biasanya. Jika bosan dengan mie pun kadang saya siapin pasta-pasta-an seperti Fusilli, spageti dan makaroni dengan saus yang diracik sendiri dengan tambahan parutan wortel dan daging cincang didalamnya. Sempurna bagi anak yang kadang menolak sayuran, hahahaa… kena deh.
  
I Love My Imperfections

Bukan manusia namanya kalau sempurna, ye kan? Jadi, dengan penuh kesadaran atas segala ketidaksempurnaan yang saya miliki, saya memilih untuk mencintai ketidaksempurnaan tersebut (((walau banyak))) hee...

#IloveMyImperfections walau banyak ketidaksempurnaanya saya tetap bisa bahagia dengan meluangkan waktu #5MenitAja untuk memakai skin care, hahahaa… Sebuah penyesalan yang mendalam sebab dulu belum terpapar oleh produk perawatan wajah yang dibutuhkan. Akhirnya, diujung usia menuju 30 ini, saya baru sadar akan kekhilafan dan segera memilih skin care yang aman dan cocok di dompet, tsaah.. *KibasDollar




Efek samping jadi ibu adalah kantung mata yang melingkar hitam di bawah mata serta beberapa noda hitam dan juga beberapa kerut halus yang telah tampak di permukaan. Wajah yang segar memang lebih sedap dipandang tapi gimana mau segar kalau tidak dirawat? Tanaman aja layu sebab kekeringan. Nah. makanya saya memilih menyayangi diri dengan #5MenitAja memakai skincare tiap pagi dan malam hari. Menurut saya, merawat kesehatan wajah juga satu bentuk syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan. Bukan berarti gegayaan atau apa ya, tapi saya berharap memberikan tampilan terbaik buat suami akan jadi ladang ibadah juga buat istri di rumah. *bantu aamiin-kan yes..




Me time positif lainnya yang bisa dilakukan #5MenitAja adalah berdoa dengan khusyu setelah salat. Saya banyak banget permintaan yang berharap dikabulkan, salah satunya mendoakan Kristal supaya jadi anak shalihah dan sehat. Saya ingin pada waktu-waktu spesial ini saya semakin kuat untuk menjalankan amanah di dunia setiap harinya dan berharap akhir yang baik di kehidupan nanti.

Kalau dulu pas kecil saya berebutan camilan sama adik-adik saya sedangkan sekarang berebutannya sama anak, hahaha… ampuuun… anak itu kalau udah punya makanan enak, bener-bener enggak mau berbagi ke siapapun yak. Sungguh sedih akutu! Jadi, supaya saya bisa makan camilan dengan tenang cukup dengan #5MenitAja makan diam-diam tanpa diketahui bocah membuat saya senang, haha. Yha, mau gimana lagi, terlebih kalau dia lagi dilarang makan camilan tertentu (semacam ciki, cokelat dan eskrim) daripada anaknya ngiler sampe tantrum mewek-mewek minta, kan mendingan diam-diam yha… Sebab apapun yang lagi dimakan ibu pasti akan dicicip anak dan akhirnya di hak milik oleh mereka. Begitulah kira-kira sepemantauan saya selama ini.

  


Pesan terakhir, *tsaaah… untuk para ibu, take it slow if you have some imperfections. Don’t be hard on yourself. Just love your imperfections the way you love your children with your altruistic love, because you need to be loved too. Menjadi ibu memang terbiasa membuat kita mendahulukan yang lain daripada diri sendiri. Namun, cobalah dengan #5MenitAja ambil porsi kita untuk menyayangi diri sendiri #IloveMyImperfections. Porsi dimana kita memilih melakukan sesuatu untuk diri kita yang lebih bahagia and it's fine!





Anak dan kebutuhan bermain

Bermain adalah dunianya anak-anak. Anak-anak selalu senang diajak bermain.  Bahkan sejak lahir pun mereka sudah memiliki kebutuhan bermain. Coba ingat-ingat waktu bayinya anak kita, cukup diajakin main ci luk ba aja udah ketawa kegirangan.

Bermain menjadi sarana anak untuk belajar. Oleh sebab itu, mainan dan kebutuhan bermain anak ibarat smartphone dan kuota (lol) saling membutuhkan. Kuota tanpa hape buat apa, hape tanpa kuota pun tak berdaya. Itu mah ibarat aja ya, walau mirip-mirip dikit sih. Satu hal lagi anak yang usia 3 tahun ke atas itu pasti enggak pernah diam dan melamun, dia seringnya bermain mainan atau sesuatu yang menurutnya bisa dijadikan mainan seperti centong nasi misalnya.



Asal muasal mainan di rumah
Anak diajak ke mal lalu lewat di depan toko mainan pasti dia berhenti terus masuk, keliling eh, tahu-tahu main ambil aja terus dikasih ke emaknya.. lhaa... Emak pusing yang bayarnya.

Sejak jadi orang tua, biasanya kita jadi senang belanja mainan anak. Mulai dari boneka, mobilan, atau bela-belain ikutan arisan aneka mainan edukatif yang lagi rame. Kadang juga, anak dapet mainan dari kakek nenek atau om tantenya. Nah, kalau ini mah sudah pasti tak terelakkan lagi sebab bagi anak menerima mainan sebagai hadiah adalah hal yang paling membahagiakan. Sayangnya, kalau kebanyakan mainan yang menumpuk juga kan jadi bikin interior rumah emak gak instagram-able lagi, wkwk..

Ada satu lagi asal mainan yang dibuat sepenuh hati oleh orang tua di rumah. Hati yang berdesir ketika melihat ide-ide DIY mainan di pinterest bener-bener bikin hati emak serasa jadi emak terbaik. Nyari bahannya di rumah, gunting kertas, ngelem ini itu terus taraaa... Jadi deh mainan bikinan sendiri buat anak, seketika merasa bahagia bagai atlet peraih medali emas Asian Games, eh. 


Ekspektasi vs Realita
Niat hati mengajak anak main gunting aneka pola. Pola sudah dicetak, gunting disiapkan lalu diberi contoh cara menggunting. Anaknya malah membungkus gunting pakai kertas polanya. Duh ya, jadi gemas antara emak kecewa tujuan main jadi batal sama kelakuan anak yang begitu bebas dan kreatif bungkus gunting kek nasi uduk habis itu dibilang "bunda mau beli apa lagi?" Atau tiba-tiba anak berinisiatif sendiri ambil manik berwarna dan mangkuk, lalu bermain sorting color sendiri, tanpa diajak atau diminta, ajaib kan.. wkwkw


Ambil sendiri, main sendiri, insiatif sendiri

Anak-anak mah gitu kok emang, bebas... Apa aja yang bagi kita bukan mainan bagi mereka bisa jadi mainan yang menyenangkan hati. Seperti Kristal dulu senang banget sama plastik kresek. Semua jenis plastik kresek dari yang hitam sampai merk indom**et diisiin mainannya. Apa aja masuk ke dalam plastik mulai dari pensil, kartu, kertas, jepitan, tempelan kulkas sampai boneka. Katanya, "ini belanja Bun" iya nak iya. Di waktu lainnya, dia iseng menyusun benda-benda layaknya pink tower Montessori (waktu itu emak belum bikin Pink Tower). Sungguh kubangga padamu nak, memberdayakan apapun jadi mainan!


Mainan anak
Menara Segala Rupa, coba tebak apa aja yang ada? haha..

Setelah sekian purnama rencana bikin, akhirnya jadi juga.




Bermain memang hakikatnya adalah hak anak. Ini bahkan tertuang dalam peraturan PBB bagian Hak Asasi Manusia.¹ Iya, sepenting itu bermain sampai menjadi hak asasi anak *langsung berasa zalim kalau melarang anak main, duh ya...

Persatuan dokter spesialis anak di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa bermain sangat penting untuk perkembangan kognitif, fisik sosial dan emosional anak dan remaja. Bermain juga dapat menjadi kesempatan bagus bagi orang tua untuk membangun ikatan dengan anak-anaknya.² Nah, ini yang kadang kita lupa sebagai orang tua. Anak butuh juga kehadiran jiwa dan raga orang tuanya saat bermain bersama.

Senang kalau ketemu perosotan di mal, langsung ngacir

Tak bisa dipungkiri kehadiran smartphone di tangan orang tua kadang menjadi sekat antara kita dan anak kita. Walaupun raga kita menemani mereka bermain tetapi jiwa dan pikiran kita seringkali menerawang jauh ke dunia maya yang bertempat di berbagai media sosial, feed Instagram, Facebook, grup chat teman-teman dan lainnya. Justru saat bermain bersama itulah, anak-anak akan membentuk memori tentang kita, orang tuanya. Lantas, memori seperti apakah yang ingin kita bangun bersama anak-anak kita?

Menjadi orang tua kadang membuat kita merasa kehilangan waktu kita sendiri. Terlebih bagi orang tua dengan anak-anak balita hingga usia sekolah yang begitu cepat merasa exhausted. Kita mungkin lelah, ingin rehat sejenak setelah 24 jam setiap harinya berkutat dengan anak. Boleh melakukan itu, jika dengan rehat sejenak kita kembali lagi mengasuh anak-anak dengan lebih semangat.

Bermain dengan anak bukan sekedar menemaninya dengan gawai di tangan kita dan anak bermain sendiri. Lalu, ketika anak berbicara kita hanya menjawab "iya, ya dek" tanpa ada kontak mata, sebab kita terlalu sibuk melihat dunia yang lain. Kalau diperhatikan lagi, anak mah enggak perlu mainan yang macam-macam (mahal/ DIY atau apalah), satu hal yang pasti mereka akan lebih bahagia jika bermain bersama jiwa dan raga orang tuanya.


Ikatan, itulah yang dirasakan anak ketika bermain bersama orang tua. Mainan apapun hanya sebagai sarana. Kitalah, orang tuanya yang membangun ikatan itu, menguatkan ikatan itu tiap harinya dengan kontak mata, pelukan, ucapan sayang pada anak-anak.

Ada satu iklan yang mengambil latar dari sudut pandang anak dan orang tua. Saya sampe baper nontonnya, beneran meskipun Kristal belum segede anak-anak di video ini. Ketika para ibu dan ayah ditanya "kapan waktu favorit Anda?" maka ibu dan ayah menjawab dengan penuh keyakinan bahwa waktu favoritnya adalah melakukan hobi tanpa kehadiran anak. Lalu, saat anak ditanya hal yang sama apa jawabannya? Coba lihat sendiri...



Anak sungguh menganggap orang tuanyalah dunianya. Sumber kebahagiaan mereka. *ngetik sambil baper beneran abis ngelihat reaksi ibu, ayah yang pada baper juga lihat jawaban anak-anaknya, huhu....


Kalau yang ini anak-anak ditanya mau melakukan apa sama orang tuanya. Jawabannya lagi-lagi begitu sederhana, ingin melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama. Ya, waktu bersama ayah dan ibunya sepenuhnya untuk mereka agar menjadi memori indah, sebab orang tua adalah dunianya anak-anak. Yuk, bermain dengan anak sepenuh jiwa dan raga kita sebagai orang tua! Bermain bersama anak akan membuat anak-anak kita membangun memori indah dan membahagiakan bersama orang tuanya.

Salam mainan dan bermain!







Referensi:
1. Ginsburg, Kenneth R. and the Committee on Communications, and the Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health. Published online January 02, 2007. PEDIATRICS Vol. 119 No. 1 January 01, 2007 doi: 10.1542/peds.2006-2697

2. Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. Convention on the Rights of the Child. General Assembly Resolution 44/25 of 20 November 1989. Available at: http://www.unhcr.org/protection/children/50f941fe9/united-nations-convention-rights-child-crc.html




“Eh, kamu sudah follow selebgram ini?” tanya remaja perempuan berbalut seragam putih biru pada teman disebelahnya.
“Siapa itu? Wah, kayaknya belum deh” jawab temannya yang juga berpakaian senada.
Follow dong, bagus-bagus deh isi IG-nya”
“Oh, coba kulihat, wah iya.. jalan-jalan ke luar negeri ya, enak banget” ujarnya sambil menyentuh layar following selebgram itu.



Percakapan demikian berlatar di sekolah memang sudah tidak asing lagi di kalangan siswa-siswi remaja berseragam putih merah, putih biru atau abu-abu. Gegap gempita revolusi industri digital begitu mewabah ke semua kalangan hampir tanpa batas usia. Mulai dari  mahasiswa, pekerja serta orang tua bahkan balita yang sudah lancar bicara saja begitu fasih mengucapkan Youtube pada ibunya.

Saat ini internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari setiap individu. Kebutuhan akan berkomunikasi dengan cepat sudah difasilitasi oleh media sosial. Menurut Ellison (2007), bahwa sebagian besar situs media sosial dapat membantu orang-orang untuk dapat berkomunikasi, mengenal dan dapat terhubung dengan orang lain berdasarkan ketertarikan yang sama. Beberapa orang juga senang berbagi mengenai aktivitas dirinya dan keluarganya di media sosial. Oleh sebab itu, tidak jarang kita temukan foto atau video wisata keluarga, anak remaja berswafoto (selfie) dengan temannya serta informasi lain yang bersifat personal.

Merebaknya penggunaan media sosial yang hampir tak terbatas usia ini membuat keberadaannya bagai pedang bermata dua, khususnya bagi anak-anak. Media sosial yang biasa digunakan anak diantaranya, Facebook, Youtube, Instagram dan Line. Berdasarkan riset PUSKAKOM FISIP UI tahun 2017, anak dan remaja memilih media sosial tersebut karena teman-teman sekitar pun memakainya, fitur dalam media sosial lengkap seperti berkomentar, berbagi informasi (foto, video) dan berkomunikasi (chatting) serta media sosial mudah digunakan dalam aplikasi smartphone (telepon pintar).

Presentase Media Sosial yang diakses. sumber: hootsuite


Pengguna Internet Indonesia.  sumber: hootsuite


Dalam survei penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tahun 2017 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan responden sebanyak 9.419 Rumah Tangga dan individu dari 34 provinsi ditemukan bahwa lebih dari setengah masyarakat Indonesia sudah memiliki telepon pintar atau smartphone. Adapun kepemilikan telepon pintar ini akan memudahkan akses terhubung dalam internet sehingga lebih mudah pula akses menuju media sosial. Hasil riset we are social bersama hootsuite menunjukkan bahwa dari 132.7 juta pengguna internet di Indonesia, sebanyak 130 juta-nya adalah pengguna sosial media dengan dominan mengakses internet dari telepon pintar.

Akses internet Indonesia. sumber: hootsuite


Pengguna media sosial. sumber: survei Kominfo 2017
Hasil ini tentunya bukan hal yang mengagetkan bagi kita, mengingat setiap harinya dimanapun kita berada semua orang memiliki smartphone pribadi yang selalu digunakan setiap harinya. Kemudahan berkomunikasi ini juga yang menjadi motivasi orang tua memberikan anak-anaknya telepon pintar. Inilah yang akhirnya menjadi pintu masuk bagi anak ke dalam media sosial. Meskipun Facebook, Instagram, Youtube dan media sosial lainnya sudah membuat aturan minimal 13 tahun bagi pengguna, faktanya masih dapat kita temukan pengguna media sosial berusia kurang dari 13 tahun. Peraturan ini seolah diacuhkan. Ini menunjukkan pentingnya literasi digital bagi anak maupun orang tua dan guru di sekolah.

Dalam penelitian Candra (2013) ditemukan hasil interaksi anak-anak dalam usia 3 hingga 12 tahun dengan internet secara umum dimediasi oleh orang-orang disekitarnya. Orang-orang yang memiliki peran memperkenalkan internet untuk pertama kalinya pada anak-anak, antara lain: orangtuanya (45%), anggota keluarga lain selain orangtua seperti kakak, sepupu atau paman, dan bibi (29%), guru (11%), dan teman (2%). Anak-anak yang menyatakan belajar sendiri secara autodidak sebanyak 10%. Penelitian ini semakin menegaskan bahwa pengaruh orang tua terhadap anak dalam menggunakan media sosial begitu besar.

Anak-anak yang menggunakan media sosial secara bebas dikhawatirkan akan terkena dampak negatif dari penggunaan media sosial tersebut. Faktanya, beberapa kasus penculikan anak perempuan usia belasan di Gorontalo dan Batang diawali dengan pertemanan dengan orang asing di media sosial Facebook. Pelaku berpura-pura menjadi teman korban dengan identitas palsu. Lalu, sering berkomunikasi lewat fitur pesan instan dan akhirnya mengaku jatuh hati pada korban. Pelaku pun merayu korban untuk menjadi teman perempuannya lalu mengajak bertemu.



Hal inilah yang menjadikan keamanan dalam menggunakan media sosial bagi anak perlu diperhatikan orang tua. Mengingat dalam anak merupakan tanggung jawab orang tua dan disinilah pentingnya ada diskusi antara anak dan orang tua mengenai hal positif dan negatif dari penggunaan media sosial. Ini sejalan dengan riset dari Leung dan Lee (2011) yang mengungkapkan bahwa anak atau remaja yang mengakses internet mempunyai beberapa potensi risiko karena mereka bertemu dengan orang yang mungkin bisa membahayakan dirinya, terpapar dengan konten penyimpangan sosial, terhubung dengan pedophilia, terpapar dengan konten pornografi/kekerasan/kebencian, tereksploitasi secara komersial, terganggu privasinya, dan terhubung dengan orang yang tidak dikehendaki.

Sebagai orang tua pastinya kita tidak ingin anak mengalami hal-hal buruk selama berkomunikasi lewat sosial media. Bukankah cukup kasus Bowo Tiktok yang dipenuhi dengan perundungan (bullying) dari warganet se-Indonesia menjadi pelajaran bagi kita semua? Seorang remaja menjadi terkenal lalu dirundung oleh seluruh warganet di sosial media sampai-sampai sang ibu harus merelakan keluar dari pekerjaannya karena tak sanggup menahan perundungan terhadap anaknya. Dampak negatif ini tentu tidak diharapkan oleh orang tua namun ketika anak sudah mengenal media sosial maka ia akan berisiko mengalami hal negatif.

Orang tua sebagai pelindung anak, bertanggung jawab untuk mengawasi penggunaan sosial media bagi anak. Oleh sebab itulah, diperlukan pengasuhan yang berkualitas, berwawasan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Sebagaimana pesan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise dalam rangka Hari Anak Nasional bulan Juli lalu bahwa Keluarga mempunyai peran untuk melindungi anak dengan memberikan pola asuh yang sesuai dengan prinsip yang digunakan dalam pembangunan Anak Indonesia, yang mengacu pada KHA (Konvensi Hak Anak). Hak-hak tersebut diantaranya, Non Diskriminasi; Kepentingan Terbaik bagi Anak; Hak Hidup, Kelangsungan Hidup, dan Perkembangan; dan Menghargai Pandangan Anak. Pesan lengkapnya dapat dibaca di sini Peringati Hari Anak Nasional, ini pesan Ibu Menteri PPPA.

Di era yang serba digital ini semua dapat diperoleh cukup dengan satu sentuhan jari. Internet dengan kecanggihannya mampu membuat kita tidak perlu pergi jauh untuk berbelanja, mudah berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat yang jauh sekalipun berbeda benua sampai mendapatkan informasi terbaru. Berbagai kemudahan ini hendaknya tidak menjadikan kita lalai sebagai orang tua yang tetap perlu menemani anak-anak kita belajar tentang kehidupan di era digital. Oleh sebab itu, diperlukan keterlibatan seluruh anggota keluarga baik Ayah, Ibu, Kakek, Nenek serta Om dan Tante dalam mengawal anak-anak menggunakan media sosial.

Kerjasama ini sangat penting, mengingat konsistensi dalam mendidik perlu diterapkan agar anak memiliki pendirian yang kuat. Ketika ada aturan dari orang tua, maka dari anggota keluarga yang lain pun aturan yang sama tetap berlaku. Sehingga anak tahu cara mengendalikan diri dalam menggunakan media sosial. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua menyiapkan anak pemahaman mendasar mengenai penggunaan media sosial. Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anak untuk cerdas bermedia sosial:
  1. Fokus pada aspek positif media sosial dengan menjelaskan dapat mengikuti teman-teman atau tokoh yang memberikan contoh yang baik.
  2. Membuat jadwal daring saat di rumah sehingga anak dapat mengendalikan dan tahu batasan mengakses media sosial.
  3. Bersama anak mencoba aktivitas lainnya seperti olahraga luar ruang atau hobi berjalan-jalan yang tidak melulu berhubungan dengan media sosial.
  4. Diskusikan dengan anak bagaimana menggunakan media sosial agar bisa berbagi informasi dan ilmu, misalnya dengan membuat tutorial atau diskusi materi belajar.



Menjadi orang tua akan selalu menghadapi tantangan dalam mendidik anak. Di era digital saat ini orang tua ditantang untuk selalu terlibat mendidik di dunia nyata dan maya. Berbagai aspek positif dan negatif dari media sosial pastinya harus didiskusikan dengan anak. Dengan begitu, anak akan memilki dasar pendirian yang baik dan bijak dalam menggunakan media sosial. Ayo jadi #sahabatKeluarga yang bijak ajak anak cerdas bermedia sosial.






What is interesting is the power and the impact of social media... So we must try to use social media in a good way. 
-Malala Yousafzai
 #sahabatKeluarga


Referensi:
Ellison, N. B., Steinfield, C., & Lampe, C. (2007). The benefits of facebook "friends: " Social capital and college students' use of online social network sites. Journal of Computer-Mediated Communication, 12(4), 1143-1168. DOI: 10.1111/j.1083-6101.2007.00367.x

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2017). Survei Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Leung, Loius&  Paul S.N. Lee. (2011).The influences of information literacy, internet addiction and parenting styles on internet risks. New Media & Society Vol 14, Issue 1, pp. 117 - 136 https://doi.org/10.1177/1461444811410406

Puspita Adiyani Candra, 2009 (2013) PENGGUNAAN INTERNET PADA ANAK-ANAK Studi Deskriptif tentang Penggunaan Internet pada Anak - Anak Sekolah Usia 6-12 Tahun di Kota Surabaya. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.



Apa itu metode Montessori? 


Pertama kali mendengar Montessori pikiran saya langsung menerawang jauh mengenai pendidikan anak dan tentunya yang sangat erat dengan ini adalah sekolah Montessori. Dulu saya hanya tahu sepintasan, bahwa metode ini sudah ada aturan-aturan tertentu dan alat belajar yang standar. Pikiran saya kala itu, "ah kok kayaknya ribet amat sih?". Sudahlah, akhirnya saya tidak lagi melirik metode tersebut.


Metode Montessori


Setelah beberapa lama, saya berkesempatan menelisik lebih jauh tentang Metode Montessori. Seorang teman yang memang sudah lebih dulu ikut Certified Montessori teacher membagi pengetahuannya untuk berdiskusi. Wah, saya malah terkagum-kagum dengan metode yang lahir di Italia ini. Bagaimana tidak, anak diperlakukan begitu sesuai dengan perkembangannya dan yang membuat saya makin senang adalah metode ini menyiapkan anak untuk menghadapi kehidupan dengan mandiri.

Saya yang masih kurang puas kalau belum baca bukunya. Akhirnya, saya mencari ebook The Montessori Method buah pikiran dari Dr. Maria Montessori sejak tahun 1900an. Jika kamu mau mencari, kamu bisa mendapatkan ebook-nya gratis di Gutenberg project. Kalau saya mengunduh versi kindle-nya supaya langsung dibaca di kindle.

Tahun 1896, Dr. Maria Montessori menjadi dokter perempuan pertama di Italia. Pendidikan dari ibunyalah yang membuat Maria kecil menyukai membaca dan haus akan ilmu. Maria Montessori pun bersemangat untuk sekolah lebih tinggi, padahal ini bukanlah hal yang biasa bagi perempuan Italia masa itu. Pengalamannya menangani anak berkebutuhan khusus di rumah sakit membuat Montessori menerima tantangan baru untuk merawat anak-anak di area miskin tahun 1907. Pengalaman dan observasinya selama di Casa dei Bambini inilah yang menjadi asal filosofi Metode Montessori.

Il Metodo della Pedagogia Scientifica applicato all’educazione infantile nelle Case dei Bambini— dikenal dengan terjemahan versi bahasa Inggrisnya The Montessori Method dipublikasikan tahun 1909. Sejak itulah, metode Montessori menyebar luas ke daratan Eropa dan seluruh dunia.

Filosofi Montessori dalam proses belajar anak diantaranya:

1. Absorbent Mind
Bahwa pondasi awal untuk kehidupan selanjutnya berada pada enam tahun pertama. Usia 0-6 merupakan periode anak mencerna dan mendapat pengetahuan dari lingkungannya yang disebut Absorbent Mind (pikiran menyerap). Montessori membagi menjadi dua periode ini pertama adalah tahap tidak sadar (Unconscious Mind) pada usia 0-3 tahun dan tahap sadar (Conscious Mind) mulai usia 3 hingga 6 tahun.

2. Sensitive Period
Pengamatan Maria Montessori, bahwa ada pada periode tertentu anak-anak sangat tertarik dengan sesuatu dan ingin berulang-ulang melakukan hal yang menarik baginya. Inilah yang disebut dengan periode sensitif. Secara garis besar, periode sensitif dibagi menjadi beberapa bagian sesuai usia:
  • Sensitivitas pada keteraturan (0-3 thn)
  • Sensitivitas belajar melalui panca indra (0-6 thn)
  • Sensitivitas pada benda-benda kecil (1-2 thn)
  • Sensitivitas pada kaki (1-4 thn)
  • Sensitivitas bahasa (0-6 thn)
  • Sensitivitas pada aspek sosial (2-6 thn)

Montessori Sensorial


3. Follow The Child
Maksud dari follow the child ialah mengikuti kemauan dan ketertarikan anak pada saat tertentu. Lalu, dikembangkan lagi ke arah yang berhubungan dengan ketertarikan anak. Misalnya, anak sedang tertarik dengan air, maka orang tua bisa menyiapkan pembelajaran tematik segala hal yang berhubungan dengan air. Follow the Child juga tidak berarti mengikuti semua keinginan anak tanpa batas sebab ada orang tua sebagai pengamat dan penyemangat anak selama proses.




Metode montessori sensorial


4. Prepared Environment
Prepared Environment adalah area sekitar yang disiapkan untuk anak agar dapat bereksplorasi di lingkungannya dengan bebas, aman, dan nyaman. Misalnya, menyediakan rak piring dengan posisi sesuai dengan ketinggian anak agar ia mudah mengambil yang dibutuhkan. Intinya, anak dibuat memahami bahwa lingkungannya mendukung untuk dirinya lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Maria Montessori membagi area pembelajaran Metode Montessori menjadi lima area, yaitu: area Keterampilan hidup, Sensorial, Bahasa, Matematika, dan Budaya. Bagi saya ini pembagian area ini sangatlah menarik sebab prinsip Montessori disesuaikan dengan perkembangan anak di setiap usia.

1. Area Keterampilan Hidup (Practical Life Skills)
Mungkin banyak yang bertanya-tanya untuk apa anak belajar keterampilan hidup? Apakah sudah cukup usia dini diajarkan hal demikian? Justru di awal inilah mengasah keterampilan hidup sejak dini akan mendukung anak untuk siap menghadapi tantangan perkembangan selanjutnya. Pada area ini anak contoh aktivitasnya diantaranya membawa baki, menuang air, memindahkan biji-bijian dengan sendok, mengaitkan berbagai jenis kancing, menjepit dan meronce. Berbagai aktivitas ini bertujuan meningkatkan kemampuan anak berkonsentrasi.

2. Area Sensorial
Area sensorial menstimulus anak untuk menggunakan kelima inderanya. Dengan begitu, anak akan lebih mudah memahami dan belajar banyak hal berbeda. Aktivitas yang bisa dilakukan misalnya meraba tekstur berbeda (halus-kasar), membedakan ukuran tebal-tipis, besar-kecil, panjang-pendek serta tinggi-rendah. Contoh aktivitasnya seperti menyusun pink tower, brown stairs, red rods serta colorbox.
 

Pink Tower
 
3. Area Bahasa
Pembelajaran bahasa dalam Montessori sangat terstruktur dan runut. Diawali dengan mengenal bunyi fonik (awalan huruf) hingga anak bisa menuliskan simbol bunyi (huruf) lalu anak dapat mengeja dan membaca. Jadi, pada Montessori anak belajar mengenal simbol bunyi lalu dapat menuliskannya terlebih dahulu setelah itu barulah membaca dan menyalin. Aktivitas bahasa ini berupa three part card fonik, metal insets (melatih kekuatan jemari untuk menulis), sandpaper letter dan alfabet besar (large movable alphabet).

montessori inset
Inset Montessori
 4. Area Matematika
Matematika terkenal menjadi hal yang kurang menyenangkan untuk dipelajari. Penelitian Montessori mengubah itu menjadi hal yang sebaliknya. Ya, pembelajaran dari konkret ke abstrak membuat matematika menjadi sangat menyenangkan. Anak mengenal angka dari bentuk konkret number rods, belajar menulis angka dengan sandpaper number dan belajar konsep angka hingga ribuan dengan golden beads.

5. Area Budaya
Area budaya mengenalkan anak akan kehidupan alam dan sekitarnya mulai dari tumbuhan, hewan, geografi serta sejarah. Anak diajak berpikir kritis mengenai keadaan sekitarnya dengan begitu ia akan belajar memahami peranannya sebagai manusia. Kepekaan ini pun diasah dengan konsep konkret-abstrak. Anak mengenal alam semesta dari miniatur bumi, peta bumi, kondisi alam seperti selat,pulau, laut, gunung hingga anatomi tumbuhan dan hewan dengan detail setiap bagian organnya dan keunikan penciptaan.

Sepenuhnya saya begitu kagum dengan konsep yang dibawa oleh Montessori. Memang metodenya sesuai dengan teori kognitif perkembangan anak, bahwa usia dini anak butuh benda nyata untuk membedakan sesuatu hal. Barulah memasuki usia sekolah, kemampuan abstraksi anak berkembang semakin baik.




Berbagai aktivitas dan material Montessori memang saling berhubungan sehingga akan sangat mudah bagi anak belajar berbagai hal dengan metode ini. Misalnya saat belajar keterampilan hidup meronce, menyendok serta memasang kancing anak akan mengembangkan kemampuan motorik halus jari-jarinya. Kemampuan ini sebagai awalan melatih anak untuk persiapan menulis pada area bahasa dengan metal inset.

 Montessori quote, metode montessori

Alhamdulillah, postingan yang hampir gak kelar ini akhirnya kelar juga, hahaaa... Sungguh ilmu saya masih sedikit perihal Metode Montessori ini, saya juga belum mengambil diploma Montessori, jadi jika ada yang kurang tepat maka bisa koreksi langsung ya... santai aja saya mah, hehe... Selebihnya, jika ada yang bisa diambil jadi manfaat silakan dibagi-bagi.






Pemandangan benda-benda langit selalu menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan. Milyaran bintang bertaburan bak kilauan intan digulamnya malam. Pada pencipta semesta yang Maha segalanya, aku berpuja tidaklah Kau ciptakan ini dengan sia-sia. 

Langit dan segala isinya selalu membuat saya terkagum-kagum sejak kecil sampai sekarang. Mulai dari bulan berikut fase-fasenya, milyaran bintang dengan aneka bentuk rasinya sampai hujan yang bertemu cahaya hingga melahirkan pelangi. Kecintaan saya pada benda-benda langit sayangnya belum menjodohkan saya kuliah di jurusan astronomi ITB. Tapi bagaimanapun juga saya tetap menyebut diri saya si penatap langit. 




Saya selalu pengen banget punya rumah yang ada roof top-nya lalu di sana pasang teropong bintang, mudah-mudahan tercapai nanti, doakan ya gaes!

Jadi orangtua di zaman milenial sekarang enggak gampang ya, tapi bukannya sulit juga sih *eh alah gak ngaku aje gue ahahhaa... Terlebih dengan banjirnya informasi tentang tumbuh kembang anak dari segala lini, mulai dari buku, website, komunitas ataupun media sosial.


Sebaiknya, informasi yang diperoleh tidak ditelan mentah-mentah dan dipraktikkan dalam pengasuhan anak. Sebab, belum tentu semua informasi tersebut valid adanya. Seperti layaknya anti-vaksin, yang asal comot, eh..gimana..





Pernah melihat video bayi yang bisa berenang sendiri? Saya pernah dan itu EMESSHH banget hahaa... apalagi anak ras Kaukasoid yang bule-bule imut gitu. Memang sih ada trainer dan orang tua yang menemani anak selama di dalam air tapi kan ya tetep mereka di dalem aer dan lucu!


Kali ini, saya ingin membahas tentang berenang pada balita. Saya sendiri sudah pernah dua kali mengajak Kristal berenang di kolam. Pertama di usia satu tahun lebih dan kedua kalinya kemarin usia dua tahun tujuh bulan.


Saya mah mengajak anak berenang cuma asal ajak aja, belum pakai ilmu, haha. Apalagi nyobain aquatic swim for baby itu belum pernah sama sekali. Akhirnya, saya jadi penasaran bagaimana sih urusan renang berenang ini untuk balita?