Showing posts with label buku anak. Show all posts
Showing posts with label buku anak. Show all posts

Judul Buku: Super Balita Mandiri

Penulis: Ali Muakhir, dkk

Penerbit: Dar! Mizan

Batasan usia: Balita Pra sekolah

Tahun terbit: 2013

Tebal: 165 halaman paperback full color







Buku ini termasuk dalam kategori pembelajaran untuk anak. Buku Super Balita Mandiri berisi lima belas cerita yang bertujuan untuk menanamkan kebiasaan baik dan kemandirian tentang keterampilan hidup. Versi buku yang saya miliki adalah versi paperback, jadi jangan harap buku ini cocok untuk anak usia kurang dari satu tahun. Pasti akan langsung disobek-sobek, hehe.

Tokoh utama dalam cerita ini ada dua orang anak bernama Ali dan Nisa. Dalam satu cerita kadang Ali menjadi tokoh utama tunggal, kadang juga Nisa yang menjadi tokoh utamanya. Namun, kedua tokoh ini pun muncul bersamaan juga dalam satu cerita. Contohnya dalam cerita merapikan tempat tidur, Ali menjadi tokoh utama sedangkan dalam cerita aku bisa potong kuku sendiri, Nisa yang menjadi tokohnya serta di cerita bikin susu sendiri mereka bersama menjadi tokoh cerita. Oh ya, satu lagi tokoh hewan yang menemani kedua anak ini adalah Hupi seekor burung (saya kurang paham burung ini spesies apa).



Daftar Cerita
 
Tampilan fisik bagian dalam buku ini dikemas dengan menarik. Satu bab cerita memiliki bagian ilustrasi dan teks yang terpisah dalam dua halaman. Menurut saya, ini memudahkan anak memahami dengan jelas ilustrasi dari sebuah cerita. Selain itu, warna cerah pun mendominasi tampilan ilustrasi cerita. Hal ini membuat buku semakin menarik bagi anak.
 
 


Ilustrasi cerita dibuat dengan jelas, seperti bagian menyikat gigi, mandi dan juga memakai sepatu. Ilustrasi ini akan memudahkan anak menangkap apa yang dimaksud dalam cerita. Serperti Kristal yang saat ini suka dengan cerita aku berani tidur sendiri sehingga saat ditanya berani bobo sendiri? Kristal menjawab berani. 

 





Isi buku ini merupakan seri cerita yang dibuat sebagai alat bantu anak-anak belajar keterampilan hidup. Oleh sebab itu, menurut saya buku ini sangat cocok untuk anak usia pra sekolah, tapi boleh dikenalkan juga untuk toddler seperti usia Kristal saat ini 26 bulan.

Keterampilan hidup dasar untuk memandirikan anak memang sangat perlu ditanamkan oleh orang tua sejak pra sekolah. Sejak usia pra sekolah anak yang sudah belajar mandiri akan lebih mudah belajar tanggung jawab setelah memasuki usia sekolah.  

Oleh sebab itu, hadirnya buku ini turut membantu orang tua untuk menanamkan kebiasaan baik serta melatih kemandirian dalam hal keterampilan hidup. Cerita sehari-hari dikemas dalam bahasa yang ringan serta mudah dipahami anak-anak. Selain itu, tidak lupa adanya encourage dari tokoh orang tua (Ayah dan Ibu) dalam cerita untuk setiap usaha anaknya dalam belajar.
 

Kekurangan buku ini karena tidak ada keterangan usia pembaca yang jelas. Padahal untuk kategori buku anak, penjelasan usia pembaca itu sangat penting. Akan lebih baik jika dalam sampul terdapat keterangan pembaca usia 3-6 tahun (usia toddler sampai pra sekolah). Jika kategori usia sudah sesuai, maka material buku yang terbuat dari kertas akan sesuai juga dengan pembacanya. 


Sebagaimana yang tertuang dalam sampul belakang buku bahwa mengajarkan kemandirian anak sejak dini adalah hal penting yang menjadi PR orangtua di rumah. Sehingga menambah koleksi buku ini dalam rak buku Anda termasuk dalam hal baik yang akan menjadi investasi belajar anak.

 


Saya berikan rating 3.5 dari lima bintang untuk buku Super Balita Mandiri yang telah menemani Kristal setiap harinya.  
Judul Buku: Rumah Istimewa dan 7 Dongeng Seru Lainnya!

Penulis: Endang Firdaus, dkk.

Ilustrasi: Massagung, dkk.

Tahun terbit: 2014

Penerbit: Dar! Mizan

Tebal: 100 halaman paperback




Apa yang terpikir jika kita mendengar kata dongeng? Tentu jawabannya adalah cerita khusus anak-anak. Padahal makna dongeng menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cerita yang memang tidak benar-benar terjadi. 

Buku Rumah Istimewa ini merupakan kumpulan delapan dongeng khusus untuk anak. Judulnya saja buku anak ya, jadi saat membuka buku ini pasti akan menemukan berbagai macam ilustrasi yang sesuai dengan adegan tokoh dalam cerita tersebut. Seluruh halaman dalam buku juga dibuat dengan ilustrasi full color. Buku anak memang  sangat erat dengan ilustrasi yang penuh warna.



Keterangan batas usia pembaca kurang begitu jelas. Namun, terdapat keterangan dongeng balita pada sampul depan buku. Oleh sebab itu, saya berkesimpulan batasan usia pembaca adalah anak balita (usia bawah lima tahun). Menurut saya, hal yang kurang jelas ini dapat membuat konsumen bingung memilih. Dalam dunia buku anak berbeda usia satu atau dua tahun itu membuat isi buku pun berbeda.

Cerita tentang dua ekor tupai mencari rumah sebagai pembuka saya rasa mampu membuat buku ini cukup menarik. Ilustrasi yang dibawakan pun cukup jelas sehingga membuat anak penasaran memperhatikan gambarnya. Pengaturan letak tulisan juga tidak menganggu ilustrasi yang ada. Tidak heran cerita ini pantas menjadi judul utama buku dongeng balita Mizan. 




Cerita berikutnya adalah kisah sebuah batu yang disebut sebagai Batu Malas. Awalnya Kristal agak takut dengan model ilustrasi yang gelap dan kurang jelas. Akan tetapi, anak itu sekarang sangat menyukai kisah batu malas. Setiap mau tidur minta dibacakannya batu malas yang diucapkan dengan fasih. Entah apa yang membuat kisah batu malas begitu menarik bagi Kristal. Sejauh ini, saya acungi jempol kepada penulis dan ilustrator yang mampu menghidupkan cerita anak sampai anak pembacanya minta diulang terus-menerus. 






Dongeng ayam yang suka bertelur, Cica cecak yang nakal dan cerita lainnya dibawakan dengan apik dan menarik. Konflik yang sederhana bagi anak-anak membuat hikmah dari dongeng-dongeng ini dengan mudah disampaikan orang tua. Hal-hal baik dan hal yang buruk dijelaskan dengan bahasa yang ringan. Terlebih jika orang tua yang membacakan turut bergaya lepas seperti mengubah suara dan menampilkan mimik muka yang lucu sehingga anak merasa terhibur. 




Saya suka dengan ilustrasi dari cerita di buku ini. Ilustrasinya jelas, warna dan bentuknya pun cerah sehingga anak-anak mudah tertarik. Namun, pada cerita ulat, katak dan batu malas ilustrasi agak gelap sehingga kurang jelas dan kurang berwarna. Saran saya untuk cerita dongeng anak ilustrasi baiknya dibuat penuh warna dan jelas agar dapat menarik perhatian anak-anak. Selebihanya, buku ini sudah memberikan hiburan, wawasan dan hikmah untuk anak dengan baik. Saya berikan rate tiga dari lima bintang. 



Judul Buku: Princess Polly Potty (Potty Training for Girls)

Penulis: Andrea Pinnington

Ilustrator: Melanie Williamson

Penerbit: Ladybird Books Ltd

Tahun terbit: 2009

Tebal: 16 halaman boardbook dengan tombol suara

Ukuran: 208 x 208 x 12mm berat 320 gram





Keinginan membeli buku Princess Polly Potty ini bermula dari Kristal yang sedang toilet training tidak mau duduk di pispot. Setiap kali didudukkan di pispot anak itu malah menangis dan menolak duduk. Akhirnya, setelah saya membaca sebuah artikel tentang tips toilet training yang menjelaskan penggunaan buku sebagai media dapat dilakukan. Baiklah, saya mulai mencari buku yang cocok untuk Kristal di amazon. Berhubung salah seorang teman sedang kuliah di Eropa, maka saya berencana menitip padanya.

Buku ini saya pilih setelah membaca berbagai review yang baik dari para orang tua di amazon. Bahasa yang mudah dijelaskan ke anak serta ilustrasi yang menarik dan jelas maknanya bagi anak. Secara fisik buku Princess Polly termasuk boardbook yang ringan dan disertai tombol suara bersorak yang membuat anak semakin tertarik dengan buku ini.





Princess Polly Potty tergolong kategori buku untuk belajar memandirikan anak mengenai perawatan diri sendiri. Buku ini dapat dipakai orang tua sebagai media belajar anak yang sedang toilet training. Penyusunan isi buku pun sangat sistematis terlihat di bagian awal, bagaimana mengenalkan anak tentang anggota keluarganya yang tidak menggunakan popok serta tokoh Polly yang masih memakai popok mewakili karakter anak-anak.

Tahapan belajar anak diawali dengan meniru dan dalam buku ini ayah, ibu, kakak serta adik menjadi contoh yang nyata. Hal ini menjadi kelebihan Princess Polly Potty dalam mengenalkan toilet training. 


Ilustrasi yang dibuat juga mirip dengan benda nyata yang ada. Pispot dan celana dalam digambarkan dengan beraneka warna, motif dan hiasan. Kristal sendiri sangat menyukai aneka model pispot dan celana yang terdapat dalam buku ini. Warna- warni pastel yang dipilih ilustrator sebagai latar buku terasa cocok dengan anak perempuan.

Gaya bahasa yang dipakai sangat interaktif. Anak-anak sebagai target pembaca dibawa ikut serta dalam memilih pispot dan celana yang kira-kira disukai Polly dan juga dapat memilih mana yang jadi kesukaaannya. Hanya saja karena buku ini berbahasa Inggris maka tugas orang tua jadi agak repot membacakannya dengan bahasa Indonesia pada anak. 

Menurut saya, ilustrasi yang dibuat sangat memudahkan anak mencontoh sehingga anak dapat mengerti dan belajar mengikuti cara Polly berlatih buang air. Polly memperlihatkan cara melepas dan memakai celana sendiri, Polly sedang duduk di pispot, Polly selesai buang air dan dibantu ibu membersihkan serta cuci tangan setelah selesai. Ilustrasinya pun dalam ukuran yang pas tidak terlalu besar atau kecil sehingga anak-anak mudah meniru. 



Ternyata buku ini pun memiliki dua seri, ada Princess Polly dan juga Pirate Pete versi untuk anak laki-laki dengan berbagai judul lain juga. Selain itu, pada sampul belakang terdapat keterangan batasan usia pembaca, penulis, ilustrator serta penerbit lengkap dengan ISBN. Oh ya, pada bagian belakang tombol suara dengan mudah ditemukan tempat mengganti baterai jika sudah habis.





Saya suka buku Princess Polly Potty demikian juga dengan Kristal. Jadi, saya akan berikan rate lima dari lima bintang untuk buku ini. Meskipun belum selesai toilet training Kristal tetapi buku ini sudah membantu Kristal belajar mengenai buang air kecil dan besar. 
Judul Buku: Suara apa itu?
Penulis dan ilustrator: Devi Raissa dan Guntur G.
Penerbit: Rabbit Hole
Batasan usia: 1-3 tahun
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 18 halaman (versi paperback dan boardbook)


Tampilan versi Boardbook



Saya penasaran dengan buku anak yang diproduksi oleh anak bangsa sendiri. Jadi, bertemulah saya dengan penerbit buku anak Rabbit Hole yang dipelopori oleh seorang psikolog yaitu, Devi Raissa. Setelah melihat-lihat katalog buku Rabbit Hole saya menemukan buku Suara Apa Itu? sepertinya cocok untuk Kristal. Akhirnya, saya memesan buku ini dan satu lagi buku emosi (yang akan direview lagi). 

Saya membeli versi paperback, yang lebih tipis (ya iyalah, wkwk..) dan juga lebih ringan. Kertas sampul yang dipakai jenis doff. Jadi, tampilan luarnya memang tidak terlalu mengkilap seperti buku anak pada umumnya. Pada halaman dalam sampul ada ruang untuk menuliskan nama pemilik buku, well ini ide yang bagus menurut saya. Anak akan lebih merasakan kepemilikannya terhadap buku. 

Semua halaman ini penuh ilustrasi, dalam artian terdapat dominasi gambar terhadap kata atau kalimat. Jadi, satu halaman bergambar di halaman selanjutnya terdapat satu kalimat penjelas gambar. Desain halaman yang unik menjadi kelebihan buku ini. Satu halaman bersifat semu, sehingga dapat menjadi dua cerita berbeda karena ada potongan halaman yang masih tergabung dalam satu cerita. 






Saat membacakan buku ini untuk Kristal saya dengan semangat sekali karena anak itu pun terlihat tertarik dengan gambar pada buku. Halaman pertama saya masih terkesima, "waah... bagus juga nih ya.." Namun, sayang sekali halaman lima dan enam membuat saya kagok bercerita. Bayangkan saja,  di dalam jalan aspal, tiba-tiba muncul dua buah kapal selam yang dalam kenyataan harusnya berada di dalam laut.

Whaaatt??!! Hellauw, ini anak akuh masa aku kasih penjelasan yang jelas-jelas salah? Tidak sesuai dengan fakta dong kalau begini? *Enggak santai*



Dengan jujur, saya menyampaikan ini sebagai kritik bagi penulis.

Bahwa keberadaan KAPAL SELAM YANG BUKAN EMPEK-EMPEK itu sudah menganggu cerita.

Anak saya kebetulan masih belum mengerti banyak, tapi coba jika sudah usia tiga tahun lebih dan sudah mendapat pemahaman bahwa kapal selam di dalam air.

Lalu, dia nanya Bun, kenapa Kapal selam di situ? Bukannya di dalem air yah????!
 MAU JAWAB APA GUEH???!! *alamaaaakkk....

Kembali ke buku, jujur saya merasa kecewa dengan buku ini karena sebelum membeli saya begitu terpesona sama testimonial konsumen. Mereka bilang ini bagus, menarik gambarnya anak-anak suka de es b de es be. Ekspektasi yang begitu tinggi ini sekarang hanya menyisakan patah hati. Sungguh overrated buku Suara Apa itu? Oleh sebab itu, di sini saya akan bikin review yang jujur dan lebih objektif *suara konsumen yang kecewa berat*

Bentuk fisik buku (saya enggak tahu kalau boardbook setebal dan seberat apa) yang paperback cukup tipis. Bagi anak-anak sangat mudah dibawa sendiri karena ringan dan ukurannya yang kecil begitu pas. Ini salah satu kelebihannya, ukuran yang pas untuk anak.

Saya tidak tahu apakah ada kontrol kualitas untuk versi paperback yang ternyata sangat mudah sobek di bagian jilidan buku. Kristal belum seminggu megang itu buku udah mau lepas aja halamannya. Jadi, saya kuatkan lagi dengan solatip bening. Menurut saya, sayang sekali buku yang bagus ini memiliki jilidan yang mudah lepas. Selain itu, sampul buku bahan kertas doff sangat mudah dicoret-coret dengan pulpen. Ini juga menjadi kekurangan fisik buku mengingat anak-anak suka mencoret dimana saja ada tempat maka buku ini akan jadi sasaran empuk coret-coretan. Kristal sudah sukses menggambar benang kusut di sampul buku Suara Apa Itu?


Pada sampul belakang terdapat ringkasan isi buku, identitas penerbit dan barcode ISBN. Baiknya, ditambahkan juga keterangan batasan usia. Hal ini akan sangat membantu dan memudahkan orang dewasa yang belum tahu mengenai batasan usia pembaca buku Suara Apa Itu? Secara keseluruhan buku Suara Apa Itu? mendapatkan dua setengah bintang dari saya. Jujur, ada kekecewaan karena kapal selam itu mungkin jika kapal selam dihilangkan bisa membuat lebih baik. Satu kata untuk buku ini, overrated.