Pindahan rumah? Emang enggak repot tuh? Mesti bungkus-bungkus barang, semuanya diangkut. Emang gak pegel? Yah, kalau dijawabin mah mesti capeklah, pegal dan pusing. Namanya hidup kita bisa berencana aja, enggak tahu pasti yang terjadi gimana. Setelah hampir dua tahun lebih tinggal di Bandung, ngontrak di daerah Antapani, saya, suami dan anak kami mesti pindah ke Jakarta lagi ke tempat orang tua.  

 

Barang-barang kami sudah terlanjur banyak, terus bagaimana navigasinya? Saya pun segera membuat daftar barang-barang besar yang bisa dijual lagi karena tidak akan muat jika dibawa ke rumah ibu saya. Selain itu, sudah ada juga barang yang sama seperti kulkas, televisi, kompor gas, meja makan dan kasur. Kami pun mulai memasarkannya di pasar barang bekas online. Saya juga minta bantuan seorang teman agar bisa bantu infokan kali aja ada yang butuh barang juga. Beberapa barang saya berikan ke teman, berikan ke pengumpul barang bekas yang lewat di depan rumah. 

Penjualan barang banyak dan besar gini baru sekali ini saya lakukan. Tentu saja tidak mengira akan ada drama yang agaknya menyebalkan. Saat menjual satu set tempat tidur, sudah ada yang sepakat akan diambil hari ini, jam segini tetapi sekali itu si pembeli bilang truknya tidak bisa datang sesuai waktu sehingga telat, kita diminta menunggu sampai malam. Malam juga tidak bisa, kalau mau barangnya dikirimkan ke tempat truk mangkal. Kesel dong, ini dia yang butuh kenapa kita jadi yang repot. Perjanjian lagi kalau sampai tanggal sekian tidak diambil, pembelian dianggap batal dan dialihkan ke orang lain yang minat. Masalahnya ini kasur ukuran king, gede banget, waktu sudah mepet sama pindahan semua barang. Duh, bener-bener deh bikin pusing kan kalau dibawa mobilnya gak muat, gak dibawa mau diapain lagi lah ini...

Kebetulan ada yang membeli kompor dan televisi dari kenalan teman saya itu. Jadi, saya kepikiran rencananya kasur ini kalau tidak diambil juga saya mau tawarkan ke pembeli kompor. Cuma kalau dia enggak mau kan mesti mikir pakai mobil truk apa yang muat dong. Tibalah waktu saatnya si pembeli kasur pertama itu lagi-lagi ingkari kesepakatan penjemputan kasur, kita pun langsung memutuskan batal akad. Segera saja saya tawarkan ke pembeli kompor. Alhamdulillah, ibu itu mau membelinya tanpa babibu lagi langsung minta dikirim besoknya, uang pembayaran dikasih separuh dulu sisanya setelah barang sampai.

Wah! Saya bersyukur dan jadi bener-bener melihat bagaimana proses sesuatu itu kalau bukan rezekimu walau sudah jauh-jauh hari sebelum itu diincar tetap tidak akan jadi milik kamu. Sedangkan si ibu yang sehari sebelumnya dikabarin ternyata malah dapat barang tersebut, dia gak incar, dia gak nyari-nyari, tenyata pas butuh malah dapat.

Saya jadi senang, barang-barang saya pindah ke orang-orang yang juga butuh. Mereka butuh barang, saya juga udah gak pakai lagi kan. Lumayan bangetlah hasil jualan barang bisa buat ongkosin truk pindahan juga hahaha…

Pengalaman pindahan ini juga membuat saya sadar, bahwa sebagai anak pertama ternyata saya juga orang yang suka buang-buang barang jika udah gak dipakai dan disimpan doang, wkwkw… Selama ini saya gak pernah menyadarinya, baru ketahuan pas beberes pindahan, sikap saya saat melihat barang-barang suami dan anak yang sudah lama tak terpakai ya begitu nanyanya,

“ini udah ga dipakai kan? Buang aja ya? Ini buat apa disimpan gak dipakai, gak diapa-apain juga, buang ya?"


Ya ampun, bener-bener deh pindahan kali ini membuat banyak bersyukur dan minta ampun karena saya baru ketahuan kena sindroma beberes dan buang-buang barang tak terpakai, hhahaa…


Sejak menjadi orang tua saya jadi lebih peduli tentang buku anak-anak. Ini karena saya harus memilihkan buku yang menjadi bahan bacaan puteri saya. Dulu tahun 2015, pas anak saya masih bayi, sempat hits sepaket buku balita yang sangat digaungkan untuk dimiliki semua orang tua yang punya bayi. Tujuannya untuk memperkenalkan anak dengan buku. Tetapi saya tidak punya, tidak beli dan tidak pernah membacakannya untuk anak saya. Saya sempat terpikir untuk membelinya namun, maju mundur cantik akhirnya batal, mungkin karena dulu belum ada dananya dan uang sebesar itu dialihkan ke sumber daya lain kan ya. Lantas, apakah anak saya jadi tidak senang membaca buku? Tidak juga kok, kan saya mengenalkan dengan buku lain, yang berisi cerita dan bergambar warna warni.

Photo by Ben White on Unsplash
 
Saya pun mulai mencari lagi buku cerita lain, ada juga yang dikasih sama teman, beli buku bekas, pesan buku baru sampai datang ke bazar buku yang fenomenal itu di Serpong, wkwk…Buku anak sekarang bermacam-macam variasinya. Bagus-bagus, jauh lebih bagus daripada saat saya kecil dulu. Mulailah pencarian di awal-awal karena belum mengerti tentang penjenjangan buku, saya cuma tahu balita bisa dibacain buku cerita bergambar, isinya berapa kata, berapa kalimat saya tidak tahu itu ada aturannya, haha… Semakin ke sini, pemerintah mengatur jenis-jenis buku anak berdasarkan penjenjangan. Bisa dibaca di sini.

Perjenjangan Buku 
 
Kini anak saya makin gede, terus udah lancar baca sendiri, saya ingat dia bisa baca lancar saat umur 5 tahun dan dia mau baca sendiri bukunya. Wih, ya makin bingung anak sudah bisa baca, dikasih apalagi ya? Sampai akhirnya dia masuk usia sekolah, saya beranikan untuk mencoba buku cerita panjang alias novel anak, terus anaknya betah dan suka, ya masa dilarang? Hayuklah, diteruskan aja, akhirnya makin bikin mikir keras bahwa buku-buku buat seumurannya itu sedikit sekali dan kebanyakan untuk usia SD tinggi. Lah, iya, umur 7-9 tahun itu ga bisa dibacakan buku cerita yang kalimatnya pendek tapi gak ada cerita panjang yang pas juga. Wew…

Jadi, sebenarnya anak saya tidak melalui proses baca buku sesuai aturang penjenjangan itu yahh.. ini karena murni ketidaktahuan saya sendiri, tetapi karena itulah dia mulai terbiasa membaca cerita panjang dan bisa menangkap cerita dengan baik. Khawatir? IYALAH, BACANYA CEPET BANGET! Buku 100 halaman selesai seharian, lah… bingung kan? Sempat juga baca buku online di web penyedia buku gratis yang ceritanya bagus-bagus dan ilustrasinya juga keren. Sampai pada suatu titik dia bosan dan tidak terlalu minat lagi untuk membaca di web itu.

Suatu hari kami menemukan komik edukasi terjemahan Korea Selatan dan memang komik yang kebanyakan gambar tapi ada ilmunya. Menurut saya sih bagus, maka mulailah anak saya senang baca komik edukasi itu dan memang banyak juga tulisan penjelasan berbagai hal terkait isi cerita, gapapa yang penting baca daripada lapar bacaan.

Saya masih terus membolehkan anak baca komik edukasi sampai sekarang, hanya temanya mulai saya beranikan yang lebih serius seperti biografi tokoh-tokoh. Mulai bisa diajak diskusi tentang masa hidup seseorang kenapa bisa sampai bisa berkarya sebesar itu. Saya pun mesti membuatnya tertarik buat ganti tema buku ini. Meskipun awalnya dia tidak terlalu berminat tapi berkat trik khusus akhirnya dia mau juga, gimana caranya? Kita ortunya nih, yang mesti duluan menunjukkan minat dulu mau baca buku itu juga.

Beberapa pekan lalu, saya menemukan buku dongeng yang dikarang oleh keturunan Cina Amerika yang menurut saya sangat bagus. Buku novel ini bertema dongeng lampau dari Cina, tebalnya sekitar 250-an halaman dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya ingin anak saya membaca buku yang keren ini, tetapi dia mulai merasa malas membaca buku tebal yang penuh kata-kata panjang. Wah, padahal itu juga ada ilustrasinya satu halaman dalam satu bab. Apakah saya membiarkannya tidak mau membaca? Tentu saja mulailah bergerilya membuatnya membaca bacaan panjang lagi. Kebetulan kami sedang meminjam komik biografi Isaac Newton dan Jose Mujica dari perpustakaan kota dan pas banget kedua orang ini digambarkan senang membaca buku. Newton yang membaca buku terus dan Mujica yang ketika di penjara pun sedih karena tidak bisa membaca lagi. Saya mulai susupi pikiran anak saya dengan “ini orang-orang besar bisa menjadi seperti ini karena mereka membaca buku lho, apa saja dibaca”.

Membaca buku apapun pasti bagus buat kita, apalagi ada diskusi-diskusi kritis tentang isinya.

Alhamdulillah, besoknya anak saya coba membaca buku dongeng itu dan berhasil, dia hampir tidak mau berhenti membacanya sampai selesai. Lalu, kami pun diskusi sedikit tentang isinya, bagaimana perjalanan tokoh-tokohnya yang ajaib dan seru. Ini menyenangkan banget bagi saya! Saya sadar juga anak itu ingin teman membaca dan kitalah temannya yang pertama untuk membaca. Membaca bukan yang cuma membaca, membaca yang juga memicu daya kritis anak.

Saya menyadari juga ada masa-masa semangat dan turunnya anak-anak dalam membaca buku. Maka tugasnya orang tua yang bisa mengenali masa-masa itu dan membuat siasat agar anak tetap senang dan suka membaca buku yang memang bagus ceritanya. Selamat mencari buku-buku bagus dan memilihkannya untuk anak-anak kita!





Sejak saya ingin mengurangi sampah apalagi yang tidak bisa diurai, sudah muncul niat untuk mengganti pembalut sekali pakai dengan menstrual cup (Mens Cup). Hanya saja, saya masih ragu karena dulu awal-awalnya mens cup dijual itu masih dikisaran Rp300.000 dan saya belum menemukan yang harganya di bawah itu dan memang kualitasnya medical grade. Jadilah saya batal beralih ke mens cup.

Walaupun sudah banyak testimoni dari beberapa kenalan tentang mens cup, tahun 2023 ini masih ragu juga, karena memikirkan nanti ribet gak ya? Sakit gak ya? Wkwk… terus sempat juga mikir apa pakai pembalut kain aja ya, tapi yah mikirin lagi mencucinya hahaha.. lebih malas lagi.

Sampai di bulan September ini, saya iseng cari menstrual cup di marketplace. Eh, ternyata harga sudah bervariasi dan sudah banyak produk yang lebih murah dari 300ribu. Akhirnya, saya pilih beberapa produk yang testimoni dan ratingnya oke, saya tandain lalu konsultasi ke penjualnya. Alhamdulillah, para penjual ini begitu ramah menjawab pertanyaan saya tentang ukuran mens cup yang sesuai kondisi saya.



Setelah memikirkan yang mana untuk dibeli, akhirnya saya memilih dulu harga yang lebih murah sekitar 50ribuan untuk nyoba nih, apakah cocok, nanti kalau oke mungkin akan coba merk lain yang harganya lebih atas. Benar-benar prinsip ekonomi yahh.. haha..

Tibalah hari mens cup datang dan besoknya bertepatan dengan jadwal mens saya. Sebelum itu, tentu saja saya menonton berbagai tutorial memakai mens cup dulu. Setelah yakin, dengan nafas dalam dan sesuai petunjuk mulailah saya memakai mens cup. Awalnya saya kira akan sulit, eh tenyata semudah itu lhooo.. Seharusnya saya inget kalau sedang mens itu kan memang saluran vagina lebih membuka untuk mengeluarkan darah. Lah, ini mah gak sesulit yang di-overthingking-kan. Memang mesti beranikan diri dulu, mentalnya disiapin aja ternyata.


Cara Memakai Mens Cup

Pilihan lipatan untuk memasukkan mens cup


Secara anatomi normal, lubang vagina saat mens sudah didesain untuk membuka lebih lebar. Jadi, saat memasukkan mens cup tidak perlu khawatir menyangkut atau sulit, cukul rileks aja, tenang. Slup masuk deh mens cupnya. Nah, karena posisi belum pas atau salah ukuran, sebab saya beli ukuran S, di hari pertama banyak bocor darahnya. Saya konsul ke penjual katanya bisa jadi memang tidak pas ukurannya, atau masih menyesuaikan karena pertama kali. Akhirnya, pas malam saya pakai juga pembalut daripada tahu-tahu bocor gitu sekasur kan bisa repot.

Alhamdulillah, di hari-hari berikutnya tidak ada bocor yang begitu banyak seperti hari pertama. Saya pun sudah semakin terlatih memperkirakan waktu membuang darah mens yang sudah ditampung dalam mens cup. Saya merasa lebih nyaman karena tidak ada ganjalan seperti pembalut mens biasa. Saya pun lebih mudah memprediksi apakah darah mens sudah selesai dan bersih semua. 

Saya juga jadi mempertimbangkan untuk mencoba ukuran L atau M produk lainnya agar merasa lebih nyaman dan tidak ada bocor lagi. Senang rasanya cukup bisa mengurangi sampah residu di bumi. Duh kenapa enggak dari dulu sih? hahaa... Setelah sekian lama baru tergerak pakai mens cup. Saya tidak bermaksud untuk mempromokan mens cup tetapi mungkin bagi teman-teman bisa yang masih ragu dan ingin mempertimbangkan mengurangi sampah, mens cup ini salah satu caranya. Semoga niat baik kita menjadi catatan kebaikan untuk bumi dan lingkungan. 







Photo by Neslihan Gunaydin on Unsplash

Sejak 2022 lalu saya mulai mempelajari teknik pengelolaan sampah organik dengan cara mengompos. Saya menemukan ada banyak cara yang bisa digunakan untuk membuat kompos dari sisa-sisa bahan makanan rumah tangga. Sebelumnya saya sempat khawatir, kalau mengompos bisa menimbulkan bau yang tidak enak. Hanya saja memang perlu niat yang kuat untuk memulai dan konsisten. 


Sejak lama saya memikirkan bagaimana caranya agar sampah ini setidaknya tidak menganggu bumi? Saya tahu sampah organik bisa jadi kompos tapi belum pernah mencoba membuatnya sendiri, haha.. begitulah kira-kira keraguan yang selalu timbul. Akhirnya, di 2022 lalu saya mulai mengompos, sisa makanan dengan sistem komposter terbuka yang menggunakan oksigen untuk proses pembusukannya. 


Saya membuat starter komposter dulu dengan mencampur tanah, pupuk kandang, sisa daun kering dan sisa buah-buahan yang manis lalu dicampurkan dengan air bekas cucian beras yang sebelumnya sudah didiamkan dua malam. Tempatkan starter ini di wadah yang memiliki lubang cukup dan tutup bagian atas selama tiga hari. Setelah tiga hari starter bisa dipakai untuk menerima sampah organik di rumah.


Mengompos aerobik yang benar itu sungguh tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Malahan komposter saya beraroma jeruk, karena kemarin memasukkan sisa kulit jeruk. Selain itu, komposter juga terasa hangat dan ada titik-titik uap air. Saya tidak punya lahan tanah terbuka di rumah, saya hanya pakai karung bekas untuk mengompos dan ember yang sudah dilubangi. 


Ujian mengompos

Memang disarankan untuk punya lebih dari satu komposter, tapi saat itu saya mulai merasa lelah. Daun-daun kering harusnya digunting lebih kecil sebelum masuk komposter tidak saya gunting dan memasukkannya begitu saja. Akhirnya ya, komposternya lama dipanen dan merasa sudahlah tidak lagi lanjut mengompos sisa organik. Oh iya, untuk sisa hewani seperti tulang ikan, ayam, dan lainnya masuk ke biopori yang di dalam tanah. Saya tidak membuat biopori, jadi masih dibuang ke TPS sampah di RT. 


Saya tidak lanjut mengompos sampai akhirnya di tahun 2023 ada kebakaran TPA sampah di Bandung. Sampah-sampah rumah tangga tidak diproses ke TPA karena tidak bisa menerima sampah. Di TPS pun mulai tampak penumpukan sampah dan berbau tidak enak. Hal inilah membuat saya kembali ke jalan yang benar untuk mengompos sampah di rumah. 


Pendidikan Pengelolaan Sampah

Memang tahu saja tidak cukup, sejak usia SD saya tahu bahwa sampah itu harus dipisahkan dan harusnya yang organik bisa dikembalikan lagi ke tanah tempat asalnya tumbuh. Namun, pengetahuan ini tidak otomatis menjadi perilaku. Saya yakin banyak sebenarnya orang yang mau mengompos, mengelola sampahnya dengan baik, hanya saja tidak berani memulai dan merasa sendirian dan tentu saja kebanyakan overthinking, kayak saya haha! Padahal jika kebiasaan ini sudah mulai dan dibentuk dari kecil takkan sulit bagi kita memilah sampah saat dewasa.


Photo by Nareeta Martin on Unsplash

Seorang teman yang pernah tinggal di negara yang lebih baik mengelola sampahnya bercerita, sejak anak-anak pendidikan pengelolaan sampah itu sudah dimulai. Memilah sampah dan mengelolanya pun seperti menjadi sebuah kompetensi hidup hingga setiap warga sudah dibiasakan memilah sampah. Namun, bagi kita yang di Indonesia walaupun ada tiga jenis tempat sampah di taman lansia Bandung, itu isi ketiganya tetap juga tercampur semua. 


Saya berharap nantinya akan ada kebijakan ketat dari pemerintah yang akan membuat pengelolaan sampah lebih baik. Perbanyak bank-bank sampah di level kecil dan besar, perusahaan sebagai produsen juga menerima kembali sampah produknya untuk dikelola lagi serta bisa berubahnya botol kosong bekas minuman jadi uang. Ini dari teman saya yang cerita kalau ada mesin ATM khusus untuk menukarkan botol bekas jadi uang. Siapapun yang punya botol bekas, bisa dapat uang. Seru banget kayaknya, jadi orang akan berpikir botol itu bukan sampah tapi alat tukar jadi uang!


Jadi, apakah saya akan konsisten mengompos? Semoga, saya juga berharap begitu, semoga ini menjadi jalan kebaikan kecil untuk kehidupan di bumi dan untuk masa depan anak-anak kita. Yuk, mulai mengompos sampah! 



Saya tidak ingat bagaimana saya bisa menyukai buku. Orangtua saya tidak menyediakan buku bacaan di rumah, tetapi saya ternyata senang ke toko buku dan melihat — membaca buku-buku di sana. Saya suka membaca buku pelajaran kakak saya yang sudah SMP ketika saya masih SD. Saya berbinar-binar melihat betapa banyaknya buku di toko buku dan begitu gembiranya saya ada beberapa buku yang tidak dibungkus sehingga saya bisa menumpang membaca di sana. Itulah masa kecil saya yang agak berbeda dengan anak lain yang memiliki akses lebih dini pada buku bacaan. 

Photo by Ishaq Robin on Unsplash

Saya pun pernah ke pameran buku, melihat jajaran buku-buku dalam rak-rak tinggi, memandangi berbagai judul buku cerita, membuka dan membaca sebagian isinya. Lalu, membelinya? Tentu tidak, saya menaruhnya kembali karena tidak memiliki uang yang cukup untuk memborong semua buku yang saya suka. Saat di SMP dan SMA saya lumayan mendapat akses buku dari teman-teman saya yang memilikinya karena mereka dibelikan buku oleh orangtuanya. Jadilah, saya meminjam semua seri Harry Potter, berbagai judul teenlit dan beberapa buku nonfiksi, saya ingat betul, pernah pinjam buku 100 tokoh berpengaruh di dunia saat SMP. Alhamdulillah, circle pergaulan saya membawa saya semakin cinta membaca buku. Lalu, di SMA pun dapat kelas yang sepuluh langkah saja letaknya dari perpustakaan! Tentu saja saya lebih rajin ke perpus daripada kantin, wkwk.. aneka majalah sains, ensiklopedia dan novel terjemahan saya ambil di sana. Ternyata inilah yang menjadikan saya membaca buku hingga sekarang.


Memang saya tidak dibesarkan dengan keluarga yang sangat menjunjung tinggi budaya membaca tetapi saya tumbuh dan belajar di lingkungan yang membaca. Benarlah bahwa pembaca itu bukan dilahirkan melainkan dibuat, tak ada orang lahir akan suka membaca tetapi ketika ia tumbuh dan hidup bersama yang menyukai buku dan membaca, ia bisa menjadi pembaca juga.


Di hari buku nasional tanggal 17 Mei 2023 ini saya hanya ingin merefleksikan diri sebagai pembaca dan orangtua yang membaca. Bagaimana kita ingin anak-anak cinta membaca jika kita sendiri tidak mencintai membaca buku? Amat buruk jika kita komando anak-anak agar membaca buku, kita sediakan buku-buku sejak usia bayi, lalu kita sendiri tidak membaca. Perkara membaca literasi bukan hanya sekedar ada buku, dibaca sudah selesai dan berlalu begitu saja.

Yona Primadesi dalam esainya, Bukan Sekedar Baca Tulis, menjelaskan dua acuan praktik literasi di seluruh dunia, yaitu Deklarasi Praha dan UNESCO. Literasi dalam Deklarasi Praha dirumuskan menjadi literasi informasi (information literacy) yang meliputi:
  • Literasi dasar (basic literacy);
  • Kemampuan meneliti dengan menggunakan referensi (library literacy);
  • Kemampuan untuk menggunakan media informasi (media literacy);
  • Literasi teknologi (technology literacy);
  • Kemampuan mengapresiasi grafis dan teks visual (visual literacy).
Sedangkan UNESCO mendefinisikannya lebih universal, literasi adalah proses pembelajaran seumur hidup, lebih dari sekedar membaca, menulis dan berhitung. Literasi bermakna praktik dan hubungan sosial terkait pengetahuan, bahasa dan budaya.

Saya sendiri baru mengerti hal ini setelah membaca esai tersebut beberapa hari kemarin. Bahwa memang gerakan literasi kita seharusnya bukan hanya mengajak orang untuk gemar membaca dan bebas buta aksara dan mengonsumsi buku bacaan yang selalu memenuhi rak toko-toko buku melainkan mendidik diri menjadi manusia pembelajar seumur hidup yang berdaya nalar dan mampu mengenal dan mengelola informasi. Ini menjadi pekerjaan rumah yang mungkin masih cukup jauh dari kata selesai. Saya pun kembali memikirkan proses literasi di rumah kami yang telah berjalan ini sepertinya belum masuk kriteria sesuai definisi UNESCO.


Agaknya terasa berat ya tugas meningkatkan kemampuan literasi ini? Benar, terlebih di kondisi masyarakat yang dominan berpendapat, ngapain sih baca buku? Hahaa.. Melihat orang membaca buku di tempat umum adalah suatu keganjilan bagi penduduk negeri ini. Belum lagi didukung oleh harga buku baru yang cenderung mengikuti inflasi ekonomi sehingga sebagian keluarga yang anggarannya terbatas memilih untuk tidak membeli buku. Hal ini memang menjadikan buku belum masuk daftar prioritas belanja keluarga.


Di hari buku nasional ini, harapan saya adalah semua pihak yang berperan meningkatkan kompetensi literasi mendefinisikan lagi apa itu masyarakat yang literat? Apakah sekedar beli buku; baca buku lalu tinggalkan buku dalam rak? Atau menjadikan mereka membaca; mengkaji isinya; memberikan pemberdayaan dan menghasilkan karya yang kembali lagi dapat meningkatkan nalar kritis atas informasi?


Mungkin para penerbit perlu memangkas ongkos produksi dan penyelenggara negara bisa mengambil celah dengan memberi subsidi. Hasilnya diharapkan harga buku dapat lebih terjangkau lagi dan akan memperluas distribusinya ke semua tempat. Belajar dari Korea Selatan yang ternyata saya tahu kenapa begitu banyak buku-buku Korea diterjemahkan sekarang ini. Itu semua termasuk bagian dari upaya pemerintahnya yang membuat pusat budaya literasi agar karya warganya dapat diterjemahkan dan disebarluaskan di seluruh dunia.

Saya mengutip sebuah artikel di media internasional tahun 2016, bahwa sekarang ini pemerintah Korea bukan hanya mendukung anak muda untuk membaca buku tetapi juga untuk orang di luar Korea untuk membaca karya mereka. Negara yang berambisi memiliki pemenang nobel literasi ini begitu semangat memberikan dana untuk penerjemahan sebab syarat menjadi pemenang nobel literasi adalah karya yang bisa dibaca panitianya. 

Memang agak sulit dan terlalu jauh kalau jadi pemenang nobel literasi ya, tetapi tidak apa-apa masyarakat pasti dukung negerinya kalau punya visi yang sama, buktinya Korea Selatan. Karya pengarang asal Korea sudah mendapat penghargaan Man Booker Prize dan ALMA Awards. Ini menjadi bukti bahwa upaya membuat literasi bukan sekedar baca, tetapi membaca bacaan yang bagus sehingga bisa menghasilkan karya yang diakui dunia.  


Jadi, marilah kita semangat lagi meningkatkan kompetensi literasi masyarakat Indonesia di hari Buku Nasional 2023. Semoga buku mudah diakses siapapun dan bolehlah coba penerbit buku berkumpul bersama dan membuat cetakan versi e-reader agar bisa dijangkau pembaca bahasa Indonesia di seluruh dunia, ahaha (curcol seorang yang tak bisa baca buku terbitan Indonesia di e-reader). Ini hanya sekedar curahan hati pribadi yang kok rasa-rasanya jadi semacam esai! Wkwk... 
Memangnya, anak HS dapat imunisasi juga?

Lah, kenapa enggak? Kan tetap masuk haknya di usia sekolah dapat imunisasi kayak anak-anak sekolah biasa



Mungkin sebagian keluarga homeschooler yang lebih dulu praktik sudah lebih paham kondisi anak-anak HS. Bagi yang baru seperti kami memang harus aktif cari informasi sana-sini tentang imunisasi usia sekolah. Saya juga baru ingat pas kelas satu SD itu dapat imunisasi di sekolah dan dapat surat yang warna kuning terus dibawa pulang untuk ditandatangani orang tua. Jadilah, saya bertanya-tanya bagaimana ya supaya anak HS bisa vaksin juga dengan gratis karena masuk program pemerintah.




Jelang akhir tahun, di bulan November 2021 kami sudah menjalani homeschooling tingkat setara sekolah dasar selama enam bulan dan sudah terdaftar di PKBM. Saya pun tanya dengan teman-teman se-PKBM, berdasarkan pengalamannya bisa datang langsung ke puskesmas terdekat, bilang aja mau vaksin anak sekolah. Selain itu, ada juga teman lain yang mengatakan vaksin anak-anaknya sendiri di poli dokter spesialis dengan biaya sendiri tentunya.


Alhamdulillah saya ada teman yang bekerja di puskesmas jadi bisa langsung tanya perihal vaksin anak sekolah yang homeschooling. Ternyata memang masuk dalam cakupan program vaksinasi wajib dari pemerintah.

vaksin anak homeschooling
Jadwal Imunisasi anak SD

Tahun 2021, saya masih tinggal di Depok, jadi saya segera mengkonfirmasi puskesmas terdekat. Alhamdulillah, sejak covid jadi ada kontak WA puskesmas yang bisa ditanya tentang imunisasi. Katanya puskesmas nanti mulai imunisasi anak sekolah di bulan Desember dan bisa datang langsung cukup bawa kartu identitas anak.

Akhirnya, kami datang ke puskesmas, mendaftar untuk imunisasi anak sekolah. Setelah di ruangan vaksin, petugas kesehatan bertanya kelas berapa, sekolahnya dimana? Saya jelaskan anak kelas satu SD dan homeschooling. Petugas langsung oke dan menjelaskan vaksin yang akan disuntikkan itu dua kali, di tangan kanan dan kiri. Setelah selesai, petugas memberikan kartu imunisasi dan menuliskan vaksin yang diberikan sesuai usia anak saya.

Kartu Imunisasi si Kaka


Kartu Imunisasi


Alhamdulillah, semudah itu pengalaman kami imunisasi untuk anak HS. Jadi, mungkin bagi teman-teman HS lain yang anaknya masuk usia imunisasi boleh dicek dulu ke puskesmas di tempat tinggal. Ada kenalan lain, yang juga mau vaksin anaknya malah di ‘pingpong’ katanya harus ke PKBM terdaftar dan seperti dipersulit.

Saya penasaran tentang peraturan imunisasi ini, apakah memang anak HS tidak bisa imunisasi? Akhirnya, saya cari di google tentang peraturan imunisasi anak sekolah dan keluarlah peraturan dari website Kemendikbud. Bisa diunduh sendiri di sini. Ternyata memang imunisasi ini diperuntukkan bagi anak usia sekolah di pendidikan formal maupun bagi anak usia sekolah di pendidikan non-formal atau dari peraturan itu tidak bersekolah. Semuanya berhak dapat imunisasi sesuai usia dan gratis dari pemerintah.
imunisasi anak SD
Imunisasi untuk semua anak

Tahun 2022 saya pindah ke Bandung dan sudah siap-siap untuk cari info imunisasi anak SD kelas dua. Bulan November 2022, saya coba mengontak puskesmas terdekat dulu, menanyakan untuk imunisasi anak sekolah, kelas 2. Petugas pun mempersilakan saya untuk datang di hari khusus vaksin anak, cukup membawa kartu identitas anak.

Kami datang ke puskesmas di Bandung, mendaftarkan diri untuk imunisasi anak dan mengantre untuk dipanggil petugas. Saat di dalam, mungkin karena sudah hampir lewat waktunya, petugas menanyakan ke saya, “Kok baru sekarang? Kemarin kemana gak di sekolah?” 

Saya jawab saja sambil senyum, “Iya, ini homeschooling bu”. Petugasnya bertanya kelas berapa dan menyiapkan vaksin. Saya diminta menulis data anak di lembaran yang sudah hampir penuh dengan nama anak sekelas. Saya juga tidak diberikan catatan vaksinasi di kartu imunisasi yang saya sudah perlihatkan.

Memang perlu modal berani karena sebagai orangtua homeschooler kita sendiri yang menjadi advokat bagi kebutuhan anak ya. Berbeda dengan sekolah yang normalnya apa-apa akan diinfokan dari pihak sekolah atau guru. Oleh sebab itu, jadilah proaktif mencari info-info untuk kebutuhan kesehatan anak-anak kita sendiri. Jika teman-teman ada yang mungkin kesulitan imunisasi, mungkin saat datang ke puskesmas bisa menunjukkan peraturan imunisasi dari kemendikbud di atas. InsyaAllah, semuanya valid dan kita bisa meminta imunisasi untuk anak-anak Homeschooler.











Apakah yang terbayang dalam benak kita bahwa ada anak yang terlahir dengan berat sekitar 500 gram? Ya, beratnya nyaris sama dengan berat sebotol air mineral yang biasa kita beli saat kehausan. Lengannya begitu kecil sehingga merasa agak kesulitan untuk menggerakkan lengannya sendiri karena tak cukup kuat. Dadanya bergerak naik turun bagaikan haus akan oksigen, agak sulit baginya untuk bernafas sendiri.

Begitulah kondisi fisik anak prematur yang baru saja lahir. Anak prematur merupakan anak yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Banyak kemungkinan, anak bisa lahir di usia 8 bulan, 7 bulan bahkan kurang dari itu seperti 26 minggu atau 6 bulan. Kondisi ini menyebabkan fisiknya berbeda karena memang organ tubuhnya belum cukup matang, belum bisa berfungsi normal selayaknya anak yang lahir cukup usia kehamilan. 

                                


Tentu saja tubuh anak mungil ini membutuhkan penanganan khusus dan perawatan di rumah sakit setelah lahirnya. Ini bisa menyebabkan timbulnya rasa cemas bagi kedua orangtua dari anak prematur. Terlebih lagi menurut data World Health Organization (WHO) dari 10 kelahiran anak terdapat 1 anak terlahir prematur. Jadi, setiap tahunnya di dunia diperkirakan sebanyak 15 juta anak lahir dalam kondisi prematur.

Kondisi lahir prematur ini turut menjadi perhatian bagi dunia kesehatan anak. Setiap tanggal 17 November ditetapkan sebagai Hari Prematur Sedunia atau World Prematurity Day (WPD). Adapun tema yang diusung di Hari Prematur Sedunia tahun ini yaitu ‘‘A Parent's Embrace: A Powerful Therapy” atau bermakna Pelukan Orangtua: Terapi Terkuat.

Dalam rangka memperingati hari istimewa bagi anak dan keluarga dengan anak prematur Danone Specialized Nutrition Indonesia menyelenggarakan edukasi melalui webinar bertopik “Peran Orang Tua untuk Dukung Anak Prematur Tumbuh Sehat dan Berprestasi”.

Webinar ini menghadirkan pembicara yang ahli di bidang kesehatan anak prematur yakni Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatologi. Webinar juga dihadiri oleh Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communication Director Danone Indonesia dan Irma Gustiana Andriani, S.Psi., M.Psi selaku Psikolog Anak dan Keluarga serta seorang ibu dari anak lahir prematur yang akan membagi pengalamannya mengasuh sang anak.

Narasumber Bicara Gizi World Premature Day 2022

Berbagai Cara Mendukung kesehatan dan mengasuh anak lahir prematur

Bapak Arif Mujahidin mengungkapkan pentingnya peran orangtua dalam perawatan sejak dini pada anak lahir prematur. Setiap anak yang lahir baik prematur atau pun cukup bulan memiliki hak yang sama untuk bisa tumbuh sehat dan terpenuhi semua kebutuhannya baik fisik, emosi, dan kasih sayang. Oleh sebab itu, orangtua berperan penting untuk memberi asupan nutrisi anak lahir prematur dan juga perawatan sesuai kebutuhan anak sehingga hal ini akan membuat anak lahir prematur dapat tumbuh optimal.

Pembahasan mengenai pemantauan kesehatan anak prematur disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K). Prof. Rina menjelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak ini harus dipantau karena termasuk dalam kategori risiko tinggi. Khususnya anak prematur yang mempunyai risiko serta tantangan yang berbeda dibandingkan anak-anak yang lahir cukup bulan.

Prof. Rina menjelaskan terdapat empat hal yang perlu diperhatikan dalam tumbuh kembang anak prematur diantaranya:

1.    Physical Health (Kesehatan fisik)
Masalah yang timbul pada anak lahir prematur bisa sangat bermacam-macam, kondisi pernapasan yang sulit dan ketergantungan pada oksigen terjadi akibat paru-paru yang belum mampu berfungsi. Anak prematur juga berisiko mengalami gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran. Sehingga orangtua harus melakukan pemeriksaan sedini mungkin. Selain itu, anak bisa berisiko mengalami gangguan pertumbuhan atau stunting. Inilah alasan mengapa pertumbuhan anak perlu dipantau dengan pengisian grafik pertumbuhan berdasarkan berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala serta pemantauan aspek perkembangan anak.

2.    Learning and Cognition (Fungsi belajar dan kognitif)
Kemampuan kognitif dan bahasa anak lahir prematur harus distimulasi agar anak mampu mencerna informasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini akan memengaruhi keterampilan pra sekolah dan kemampuan belajar anak di masa depan

3. Mental Health (Kesehatan jiwa)
Efek dari kelahiran prematur pada perilaku, kemampuan bersosialisasi, fungsi keseharian dan adanya gangguan perilaku seperti menarik diri dan keterlambatan bicara jelang awal usia 2 tahun bisa menjadi indikasi masalah autisme.

4. Quality of Life (Kualitas hidup)
Kualitas hidup mencakup pemenuhan fungsi aktivitas sehati-hari serta perasaan berharga (self esteem) anak. Kedua hal ini perlu diperhatikan orang tua dan orang-orang di sekitar agar anak memiliki kualitas hidup yang baik dan terpenuhi kebutuhannya. 


Anak prematur lahir dengan berat badan yang berbeda dengan anak cukup bulan. Jadi, targetnya bukan menjadikan anak itu sekedar gemuk atau bertubuh besar saja melainkan bagaimana caranya menjadikan berat anak prematur dari 500 gram saja menjadi semakin ideal seiring dengan pertambahan usianya. Ini menjadi tugas dokter dan tenaga kesehatan. Berat badan anak prematur tidak perlu terlalu cepat naik, yang terpenting beratnya naik memenuhi grafik pertumbuhan.

Oleh sebab itu, pemantauan anak yang lahir dalam kondisi berisiko tinggi harus terus dilanjutkan hingga usia 18 tahun. Ketika memasuki usia remaja, seorang anak tetap termasuk anak yang perlu diperhatikan kebutuhan dan perkembangannya. Jadi, orang tua tidak berhenti sampai perawatan anak selesai atau sampai usia 2 tahun saja, bahkan sampai anak memasuki usia dewasa agar bisa berkembang menjadi manusia yang unggul.

Psikolog Irma Gustiana Andriani, S.Psi., M.Psi. menyampaikan bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi dari faktor genetik (nature) dan lingkungan (nurture). Faktor lingkungan yang berpengaruh diantaranya kondisi gizi, stimulasi serta kualitas pengasuhan dari lingkungan.Psikolog Irma menjelaskan saat orangtua melakukan stimulasi maka akan otak anak akan terpicu untuk membentuk sambungan baru antar sel-sel otak (sinaps). Jika semakin dirangsang dengan maka akan semakin kuat sinaps antar sel-sel otak. Oleh sebab itu, hal ini dapat membuat tumbuh kembang anak prematur secara kognitif pun meningkat. Anak-anak perlu diberi kesempatan mengeksplorasi diri dalam mencoba hal baru. Ini dapat dilakukan orangtua agar dapat banyak sel saraf yang tersambung secara kuat dan kompleks.

Psikolog Irma juga menyebutkan ada 6 cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mendukung potensi anak prematur. Berikut ini hal-hal yang bisa dimulai sedini mungkin oleh orangtua anak prematur:
  1. Kondisi anak prematur yang tidak biasa membutuhkan pemantauan khusus dan berkala oleh dokter. Orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan solusi dan mengatasi masalah kesehatan yang dialami putera-puterinya.
  2. Selain memantau kondisi fisik anak, orang tua juga perlu meningkatkan imunitas anak prematur untuk menurunkan risiko gangguan kesehatan yang bisa terjadi
  3. Orangtua bisa membantu anak menemukan tanda awal potensinya. Perhatian pada kebiasaan dan minat anak dapat membuat orangtua mampu memotivasi anak untuk eksplorasi diri dan mendorong kreativitasnya.
  4. Penting bagi orangtua untuk menumbuhkan percaya diri anak. Hal ini dikarenakan anak begitu rentan terhadap rasa tidak percaya diri. Caranya adalah dengan memberikan kasih sayang, tidak memberikan label tertentu padanya, terus memotivasi anak untuk mau mencoba, serta apresiasi setiap usahanya saat melakukan hal sekecil apapun.
  5. Modifikasi kegiatan dan terapi dapat dilakukan orangtua dalam melatih aktivitas harian anak. Anak yang lahir prematur mungkin mengalami beberapa hambatan, namun mereka tetap bisa bereksplorasi agar potensi anak bisa berkembang optimal.
  6. Bagi orangtua sangat penting untuk dapat menjaga kualitas emosi. Orangtua yang terampil mengelola emosi akan lebih baik dalam mengoptimalkan kemampuan tumbuh kembang anak.

Orangtua yang lebih dulu mampu mengelola emosinya akan membuat anak tetap berada dalam hubungan yang aman dan nyaman. Sehingga kondisi anak yang prematur tidaklah jadi penghalang untuk anak dapat tumbuh sehat dan berprestasi. Menurut WHO, semua anak berhak mendapatkan makanan bergizi, memiliki tubuh sehat dan berkembang optimal serta hak untuk mendapatkan kesamaan. Inilah tugas orangtua dan orang dewasa dalam pengasuhan untuk memenuhi hak anak dan mendukung tumbuh kembang anak lahir prematur maupun anak lahir normal agar bisa tumbuh sehat dan berprestasi.



Salah satu anak lahir prematur yang dapat tumbuh sehat berprestasi ada pada puteri Ibu Desi Fatwa yang bernama Benazir Shahnaz Alqori yang biasa disapa Shahnaz. Ibu Desi menceritakan di usia kandungan 25 minggu Shahnaz lahir dengan berat badan 529 gram. Ia tumbuh dengan perawatan khusus di rumah sakit dan pemantauan ketat dari dokter anak dan saat ini ia sudah bersekolah di kelas 9. Sebuah perjuangan yan besar telah dilalui Shahnaz dan keluarga hingga bisa tumbuh sehat dan baik seperti anak lahir normal lainnya. Shahnaz juga tidak terhalang untuk bisa berprestasi, ia mengikuti olimpiade matematika dan sains nasional. Selain itu, Shahnaz akan mewakili sekolah untuk tampil di Manila Orchestra atas undangan Kedutaan Besar Indonesia di Filipina.

Cerita Ibu Desi dan puterinya adalah bukti bahwa ketekunan orangtua dalam memenuhi nutrisi dan semangat dalam menstimulasi anak lahir prematur menjadikan anak bisa tumbuh sehat dan berpretasi. Selain itu, kasih sayang dari keluarga dan orang terdekat juga menjadi pendukung utama dalam meningkatkan perkembangan emosi anak. 

Stevie Wonder performs during the 48th Annual Academy of Country Music Awards at the MGM Grand Garden Arena on April 7, 2013, in Las Vegas, Nevada


Salah satu tokoh yang juga lahir prematur adalah musisi Stevie Wonder dari Amerika Serikat. Ia lahir pada usia kehamilan 34 minggu pada tahun 1950. Saat itu ia dirawat dalam inkubator dan mengalami komplikasi prematur yang menyebabkan retinanya rusak sehingga ia kehilangan penglihatan setelah perawatan khusus. Hal ini tidak membuatnya jatuh justru ia berkata pada ibunya, “jangan mengkhawatirkanku karena kebutaanku karena aku bahagia”. Sebelum mencapai umur 10 tahun Stevie sudah ahli memainkan alat musik piano, harmonika dan drum hingga akhirnya ia menjadi musisi yang cerdas dan dapat memenangkan penghargaan Academy Oscar tahun 1985.¹

Ternyata anak-anak yang lahir prematur dengan dukungan fisik, psikologis dan kasih sayang yang tepat akan mampu tumbuh sehat dan baik sebagaimana anak lain. Pemenuhan nutrisi yang bergizi baik, dukungan emosi dan eksplorasi potensi anak yang tepat serta cinta kasih dari keluarga terdekat menjadi hal penting untuk anak-anak lahir prematur berprestasi di masa pertumbuhannya. 




Referensi:
1. Chang, Rachel. 2019. How Stevie Wonder Lost His Sight. https://www.biography.com/news/stevie-wonder-blindness-vision-loss (diakses 20 November 2022) 






Sebelumnya saya hanya pernah sayup-sayup mendengar tentang homeschooling. Dulu itu berlaku bagi anak-anak yang jadi artis di usia sekolah karena waktunya terbagi antara pekerjaan dan belajar. Eh, ternyata bukan begitu konsepnya! Suami saya sudah mendengungkan ide ini sejak anak kami berusia satu-dua tahun gitu, saya yang anak sekolah negeri tulen agak heran juga dengan konsep ini, lha ya coba gimana gitu gak sekolah dan ambil ujian persamaan paket pendidikan, yakin nih?

Saya pun mulai cari tahu konsep pendidikan bernama homeschooling (HS). Saya ikuti webinar dari pasangan suami istri yang full homeschooling ketiga anaknya. Banyak yang saya tanyakan, diskusikan dan akhirnya membuat pikiran saya lebih terbuka mengenai konsep ini. Selain itu, saya juga diperlihatkan dan bertemu keluarga lainnya yang juga menerapkan HS. Lalu, saya terpukau wkwkw…

Photo by Taylor Heery on Unsplash


Anak saya sudah memasuki usia 2 tahun lebih, saya bertemu metode belajar anak yang menyenangkan dan berlanjut dengan kesepakatan bahwa konsep ini bisa diterapkan pada anak. Saya pun mempelajarinya dan membuat sendiri beberapa alat belajar (aparatus) di rumah berbekal sumber dari blog dan website di internet. Saya hampir mau lanjut kuliah sertifikasinya lho, dulu sih biayanya puluhan juta setahun, hahaha gak tahu deh kalau sekarang berapa. Lalu, saya diskusi ke teman yang sudah kuliah duluan dan menurutnya jika buat di rumah sih tak perlu-perlu banget ambil kuliah diploma. 



Akhirnya, saat anak memasuki usia 4 tahun lebih saya makin intens mengajarkannya membaca, menulis dan hal penting terkait iman dan ibadah. Alhamdulillah, anak saya dimudahkan belajar membaca melalui fonik dan bisa membaca lancar di umur 4 tahun lebih. Pas tahun 2020, masuk 5 tahun masih nyari sekolah gitu, terus Covid, jadi berpikir ulang tentang rencana sekolah formal dan sepertinya tidak bisa berharap banyak pada sekolah formal. Akhirnya, kami memutuskan tidak menyekolahkannya ke TK dan belajar di rumah saja.


Saat itu saya juga belum mendaftarkan anak ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) karena masih mencari yang cocok. Jadi, masuk SD kelas 1 nanti sudah sekalian daftar PKBM. Eh, jadi niat HS nih? Iya, karena kami saat itu harusnya pindah ke Bandung karena suami saya melanjutkan sekolah juga. Setelah itu, belum tahu pasti akan tinggal dimana, terus kalau pindah sekolah dan nyari-nyari lagi sepertinya melelahkan juga. Selain itu, saya merasa dengan homeschooling bisa lebih fleksibel memilih metode belajar untuk anak yang ternyata ada banyak banget, haha.


PKBM itu banyak ya dan memang ada yang khusus bagi anak-anak tidak bisa sekolah formal terkendala biaya dan kemampuan, ada juga yang sangat mendukung HS karena biasanya yang bikin orang tua yang pengalaman HS untuk anak-anaknya. Saya sempat cari-cari tahu di beberapa tempat termasuk cara belajar, kurikulum yang saklek atau fleksibel dan juga biaya pendidikannya termasuk uang tahunan, SPP dan biaya lain-lain. Alhamdulillah, setelah muter-muter ke sana sini, kami bisa menemukan tempat yang saat ini insya Allah baik sebagai rekan kami untuk HS. Tempat yang nyaman dan sangat mendukung atmosfer untuk cinta ilmu dan belajar.

Keputusan HS tidak bisa dadakan, perlu pertimbangan yang matang dan hendaknya bukan jadi bentuk kekecewaan kita pada pendidikan formal yang pernah kita jalani dulu, misalnya karena dulu di sekolah umum begini, begitu, dan pernah banyak dapat “luka” akhirnya memutuskan HS. 

Justru berangkatlah HS bukan karena kekecewaan atau luka dan perasaan negatif dari pengalaman melainkan kita inginkan cara baru dan metode yang bisa menyesuaikan dan disesuaikan dengan kondisi anak & orang tua untuk mendukung pendidikan. Belajar bisa di mana saja, tidak mesti berangkat sekolah, baik formal dan non-formal semuanya sama-sama punya kebaikan dan tentu kekurangan. 

Photo by sofatutor on Unsplash


Mari ambil yang baik dan sesuaikan dengan kondisi tiap keluarga. Saya tidak sugar coating HS itu paling enak, justru emang paling ribet wkwk… haha begitulah rasanya. Mesti mau belajar dan tumbuh bersama anak, open mind dan growth mindset jadi modal besar orang tua yang memutuskan HS.
Awan abu-abu mulai menutupi langit kota Bandung sore itu. Udara sejuk semakin menenangkan pikiran, tepat menemani saya saat ikut serta kegiatan Danone Community Engagement Day 2022. Acara hari itu merupakan kumpul komunitas Danone Blogger dan Vlogger bersama Danone Indonesia. Selama pandemi ini memang semua kegiatan diadakan secara daring, tetapi itu tidak menyurutkan saya bersama teman-teman untuk bersemangat hadir. Terlebih lagi, Community Engagement Day sore ini bertajuk KIAT2022 kepanjangan dari Kelas Intensif Membuat Konten, benar-benar pas dengan saya yang mulai semangat lagi bikin konten. 

Photo by Francesco Gallarotti on Unsplash

Jadi, sebagai pembuat konten baik blog ataupun vlog saya merasa acara ini penting banget. Di era derasnya informasi tersebar, membuat saya harus hati-hati dalam membuat konten agar terhindar dari berita palsu dan informasi yang salah. Kemampuan berpikir kritis memang perlu dimiliki seorang kreator. Sebab kreator akan membawa informasi untuk dinikmati khalayak. Oleh karena itu, Kelas Intensif Membuat Konten bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam pembuatan konten terkait isu keberlanjutan lingkungan & masyarakat.

Berdasarkan BBC Indonesia, bencana kekeringan terjadi bersamaan di Amerika Utara, Eropa dan Mediterania, dan China. ¹ Selain itu, baru saja akhir Agustus ini terjadi bencana banjir di Pakistan. Hal ini merupakan satu dari efek perubahan iklim. Bumi sedang tidak baik-baik saja, karena itu semua yang mencintai bumi harus bergerak untuk menjaga kelestariannya. Hal inilah yang menjadi tema pertemuan Danone Community Engagement Day 2022 yaitu, “Mengenal Penerapan Bisnis Berkelanjutan untuk Indonesia Lestari”.

Acara ini menghadirkan Content Creator; Gerald Vincent, Agriculture Manager Danone Indonesia Bapak Budi Rahardjo; serta Downstream Packaging Manager Danone Indonesia, Ibu Annie Wahyuni. Bapak Arif Mujahidin, selaku Corporate Communications Director Danone Indonesia memaparkan bahwa Danone Indonesia memiliki komitmen ganda dalam menjalankan bisnis yang juga sejalan dengan kemajuan lingkungan dan sosial, memiliki fokus yang sejalan dengan implementasi target Sustainable Development Goals (SDGs) dan target pemerintah dalam aspek keberlanjutan.

Narasumber KIAT Membuat Konten 2022 *dok: Danone

Menurut saya, upaya yang dilakukan Danone sebagai bisnis yang peduli lingkungan menjadi nilai yang begitu membanggakan. Saya pun jadi terinspirasi jika suatu hari nanti memiliki bisnis sendiri, saya ingin bisnis yang sustainable dan tetap dapat melindungi bumi. Narasumber pertama adalah Bapak Budi Rahardjo yang merupakan Agriculture Manager Danone Indonesia. Saya sempat bingung juga nih, Danone kan bukan perusahaan tani, kenapa bisa punya agriculture manager? Akhirnya, penjelasan Pak Budi menjawab rasa penasaran saya.

Fokus Bisnis Berkelanjutan

Danone Indonesia memiliki misi One Planet, One Health yang bertujuan untuk membangun masa depan lebih sehat dengan menciptakan gaya hidup sehat serta ekosistem dan alam yang sehat. Oleh sebab itu, dari inisiatif One Planet lahirlah empat pilar yang berfokus pada Climate, Water, Circular Packaging, dan Agriculture.

Bapak Budi Rahardjo menjelaskan bahwa saat ini akan diperlukan lebih banyak upaya dan inovasi agar dapat meningkatkan produksi pertanian berkelanjutan, maka pilar agrikultur Danone Indonesia menginisiasi program Regenerative Agriculture. Melalui penerapan pertanian berkelanjutan, diharapkan dapat melakukan transformasi dan menjaga food system atau rantai makanan dengan baik. Hal ini bertujuan agar dapat memenuhi akses nutrisi bagi seluruh masyarakat dan menurunkan angka kelaparan.

Regenerative Agriculture adalah bentuk pertanian yang meremajakan melalui praktik pertanian regeneratif yang melindungi tanah, meningkatkan kesejahteraan hewan dan turut memberdayakan generasi baru petani,” papar Budi Rahardjo.

Selanjutnya, yang juga tidak kalah menarik adalah penjelasan dari Ibu Annie Wahyuni mengenai penerapan ekonomi sirkular Danone-Aqua. Beliau merupakan Downstream Packaging Manager Danone Indonesia dan memulai pembahasan dengan pertanyaan ternyata jawabannya “wow” banget, yaitu, “pada sektor manakah masyarakat paling tidak peduli?” dan jawabannya berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018 masyarakat Indonesia dominan tidak peduli pada pengelolaan sampah. Masalah ini memang belum jadi kesadaran utama di masyarakat padahal sangat berdampak bagi lingkungan.

Danone Indonesia sangat menyadari bahwa dampak sampah akibat dari bisnis seperti biasa (Business as Usual) akan membuat hampir tiga kali lebih banyak dari awalnya 11 juta menjadi sebesar 29 juta ton sisa plastik yang bocor ke laut pada tahun 2040. Selain itu, akan muncul juga dampak yang mengganggu sektor lingkungan, ekonomi, dan sosial.
 
Pendekatan Ekonomi Sirkular

Oleh sebab itu, Danone berupaya mendukung pergeseran sistemik dari linear ke ekonomi sirkular untuk pengemasan. Ibu Annie juga menjelaskan bahwa “diperlukan aspek kemasan yang ramah lingkungan dan aman bagi konsumen. Hal ini membuat kemasan memiliki peran untuk melindungi manfaat gizi dan kualitas produk dan memungkinkan produk dapat disimpan, diangkut, dan digunakan dengan aman”.

Sejak 2018 Danone sudah mulai mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan ekonomi sirkular melalui gerakan #BijakBerplastik. Salah satu program untuk mendukung #BijakBerplastik adalah dengan menggunakan kemasan yang 100% dapat digunakan kembali, dapat didaur ulang, atau kompos, serta meningkatkan konten bahan daur ulang hingga 50%. Hingga saat ini Danone juga mendirikan AQUA Recycling Business Unit (RBU) yang merupakan pusat daur ulang limbah plastik di enam tempat di Indonesia berpartner dengan VEOLIA.

Menjadi Konten Kreator Luar Biasa

Narasumber berikutnya merupakan seorang pembuat konten yang viral di media sosial, yaitu Gerald Vincent. Ia akan membagikan tipsnya bagi Keluarga Danone Bloggers dan Vloggers mengenai cara membuat konten yang memiliki nilai bagi audiens. Saya semakin penasaran, sebab Vincent menceritakan bahwa, “Jangan bikin sesuatu karena kamu mau kaya raya atau terkenal. Tapi bikin karena kamu punya value untuk dibagi ke orang lain.” Inilah yang menjadi dasar niat seorang pembuat konten, bukan menghasilkan sesuatu yang bernilai uang atau popularitas. Sebab ketika tidak mendapatkan itu semua yang ada hanya kecewa. 
“Jadi, ketika mulai membuat konten, pastikan niatnya baik, misalnya untuk berbagi info penting dan bermanfaat atau boleh juga untuk menghibur audiens, sebab hidup itu perkara seimbang antara kerja dan istirahat.” jelas Vincent saat Danone Community Engagement Day sore itu.
Selanjutnya, yang penting diingat adalah konten kita akan selamanya tersimpan di internet, maka perlu diingat ingin seperti apakah kita diingat saat sudah tidak ada di dunia? Hal ini membuat kita berpikir semua yang kita bagikan akan dipertanggungjawabkan. Lalu, kreator seperti apakah kita? Apakah berbagi hal yang positif atau negatif?

Sekarang jutaan informasi begitu cepat tersebar dan bergulir maka yang diperlukan adalah kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, jangan sampai karena mau ikut-ikutan agar viral, seorang pembuat konten membuat informasi yang negatif.

Selanjutnya, ini rangkuman tips hidup berkelanjutan yang mudah dilakukan sehari-hari:
  • Mengelola sampah rumah tangga dengan memisahkan sampah organik untuk dijadikan kompos serta memisahkan sampah plastik untuk didaur ulang.
  • Membuat sumur resapan air hujan sederhana di rumah, agar air hujan bisa dimanfaatkan lagi untuk kehidupan.
  • Thinking before buying atau bijaklah dalam berbelanja. Ini perlu dilakukan agar tidak banyak barang yang akhirnya menumpuk sia-sia dan tidak terpakai lalu berujung di tempat sampah. Biasanya pakaian, sepatu atau barang lain yang agak sulit didaur ulang akan menumpuk, alternatifnya misal bisa menyewa pakaian daripada membeli baru dan hanya sekali pakai.
  • Makanlah makanan sampai habis agar tidak menjadi sampah. Selain itu, bergeraklah agar dapat membakar kalori. Dengan begitu, tubuh akan lebih sehat dan bugar.
Photo by Sarah Brown on Unsplash

Keselamatan bumi dan alam menjadi tanggung jawab kita bersama. Sebab semua ini adalah amanah yang harus dijaga agar anak-anak kita di masa depan tetap bisa hidup dengan rasa aman dari bencana perubahan iklim.


Saya sangat senang Danone Indonesia mengadakan Danone Community Engagement Day 2022. Acaranya benar-benar bermanfaat serta materi para narasumber sangat relevan dengan para pembuat konten. Apalagi ada kuis yang menambah keseruan sore itu walaupun kumpul virtual saya tetap merasakan gelombang positif dari semua pembicara dan teman-teman Danone Blogger dan Vlogger. Alhamdulillah, semoga para pembuat konten makin semangat menebarkan manfaat!



Referensi:
  1. Perubahan iklim: 2022 disebut tahun panas dan kekeringan. Diunduh dari https://www.bbc.com/indonesia/majalah-62678808 (2 September 2022)








Siapakah yang pernah mengalami kesulitan mengajak anak untuk makan sayur-sayuran?

Suara ibu-ibu dan bapak-bapak begitu kompak menjawab, “Sayaaa…”




Tak bisa dipungkiri hampir semua pernah mengalami kesulitan membuat anak makan sayur. Memang ya, mengenalkan jenis makanan yang satu ini jauh lebih besar perjuangannya dibandingkan jenis lain seperti protein hewani seperti daging ayam atau sapi.

Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi?

Berdasarkan laporan penelitian dari Pusat Penelitian Kanker Inggris, ditemukan bahwa secara alami (nature) anak-anak bisa menyukai daging dan ikan, tetapi untuk menyukai brokoli, wortel, dan puding bolu sangat dipengaruhi oleh pengasuhan (nurture) dan lingkungan.¹

Rasa penasaran saya dijawab bertepatan dengan webinar Bicara Gizi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dengan tema, “Peran Serat Terhadap Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak”. Bicara Gizi kali ini mengundang beberapa ahli di bidangnya, yaitu dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang merupakan dokter spesialis konsultan alergi dan imunologi anak di RSAB Harapan Kita, Jakarta. Selain itu, narasumber lain yang juga seorang psikolog anak Anastasia Satriyo M.Psi., Psi dan seorang ibu dengan anak kondisi alergi, Oktavia Sari Wijayanti. Acara Bicara Gizi siang itu juga turut dihadiri Corporate Communications Director Danone Indonesia, Bapak Arif Mujahidin.


Pentingnya Serat Bagi Kesehatan Anak

Selasa siang itu, saya merasa sangat beruntung bisa menghadiri kegiatan Bicara Gizi. Tentu saja ini karena saya merasa butuh asupan ilmu baru mengenai kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan zaman dan berubahnya kondisi lingkungan membuat saya harus menjadi orangtua yang pandai beradaptasi.

Bapak Arif Mujahidin membuka webinar dengan harapan acara ini dapat membantu masyarakat untuk lebih memahami tentang pentingnya peran serat bagi kesehatan saluran cerna dan mengurangi risiko alergi pada anak. Seketika saya pun semakin bertanya-tanya, apakah ada hubungan antara konsumsi serat dengan alergi? Wah, siang itu di waktu seringnya membuat kantuk, saya malah makin bersemangat.

Ternyata, saluran cerna merupakan salah satu bagian penting yang berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, daya tahan tubuh, serta kesehatan anak. Hal ini menjadikan saluran cerna sebagai sistem perlindungan terdepan dan juga sebagai cerminan kondisi tubuh anak. Mengapa begitu? Karena sebesar 70% komponen sistem daya tahan tubuh (imunitas) berada dalam pencernaan.

Nah, konsumsi makanan tinggi serat menjadi salah satu golden nutrition atau disebut nutrisi tepat yang akan menunjang kesehatan saluran pencernaan. Hal ini juga akan sangat mendukung pada tumbuh kembang anak, khususnya di masa awal tumbuh atau dikenal dengan golden period. Oleh sebab itu, sangat penting bagi semua orangtua untuk tidak melewatkan kondisi kesehatan anak dan memberikan golden stimulation atau stimulasi tepat pada masa ini agar anak dapat tumbuh optimal, khususnya bagi anak yang alergi.

Bapak Arif Mujahidin juga mengungkapkan melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang Danone Indonesia lakukan, diharapkan semakin banyak anak Indonesia yang dapat tumbuh menjadi Anak Hebat yakni anak yang cerdas emosi, cerdas sosial, cerdas intelektual, serta sehat fisik.

Narasumber pertama adalah seorang dokter spesialis konsultan alergi dan imunologi anak, dokter Endah Citraresmi, Sp.A(K) yang menjelaskan bahwa konsumsi makanan berserat pada anak-anak masih harus ditingkatkan karena belum menjadi perhatian banyak orangtua di Indonesia. Angka kecukupan serat anak Indonesia masih jauh di bawah standar rekomendasi asupan serat harian. Dokter Endah juga memaparkan, berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, sebanyak 95,5 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 5 tahun masih kurang konsumsi serat.

Saya yang baru mengetahui hal ini cukup kaget. Padahal sayuran dan buah hasil petani lokal begitu mudah didapatkan, kenapa justru banyak yang kurang konsumsi serat? Menurut saya, mungkin ini disebabkan banyak yang belum paham pentingnya serat untuk konsumsi setiap hari. Baiklah, saya harap tulisan ini dapat membantu pembaca memahami pentingnya serat agar semakin suka makan sayur dan buah.

Hasil penelitian Prof. dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan bahwa 9 dari 10 anak kekurangan asupan serat, rata-rata anak Indonesia usia 1-3 tahun hanya memenuhi ¼ (seperempat) atau rata-rata 4,7 gram per hari dari total kebutuhan hariannya. Ayo semua orangtua, mari kita ajak anak-anak untuk makan sayur dan buah di rumah!


Mencegah Alergi

Alergi terjadi sebagai reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat lain yang dianggap berbahaya meskipun zat tersebut sebenarnya tidak berbahaya. Penyebabnya bisa dari berbagai faktor, salah satu pemicunya adalah makanan, sekitar 10% anak pada satu tahun pertama mengalami reaksi alergi akibat makanan.

Lalu, bagaimana cara mencegah terjadinya alergi? Dokter Endah menuturkan bahwa yang utama dilakukan orangtua adalah dengan menghindari makanan yang menjadi pencetus alergi. Orangtua perlu mengetahui apa saja yang bisa menyebabkan alergi pada anaknya dan mencegah anak bertemu penyebab alergi.

Selain itu, orangtua dapat memberikan anak makanan yang mengandung serat dalam jumlah cukup. Dengan begitu, serat akan membantu mikrobiota usus yang akan membuat nutrisi makanan terserap dengan optimal. Hal ini akan menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi reaksi peradangan akibat alergi. Dalam penelitian ditemukan bahwa anak yang menderita alergi memiliki jumlah dan keberagaman mikrobiota saluran cerna yang lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak mengalami alergi.² 


Ketidakseimbangan antara bakteri baik dan bakteri patogen (penyebab penyakit) di usus berhubungan dengan kejadian alergi, sehingga untuk memberi makan bakteri baik kita memerlukan makanan dari berbagai jenis serat minimal lima porsi dalam sehari dan minum lebih banyak air.

Selanjutnya materi yang sangat menarik dibawakan oleh Anastasia Satriyo M.Psi., Psi mengenai tantangan pengasuhan anak dengan alergi. Mbak Anas memaparkan bahwa kondisi alergi pada anak bukan hanya mempengaruhi kesehatan fisik, melainkan juga mempengaruhi kondisi psikologi baik anak maupun orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa 41% orang tua yang memiliki anak dengan kondisi alergi melaporkan dampak yang signifikan pada tingkat stres mereka.³ Orangtua anak alergi mengalami kecemasan lebih tinggi dan lebih rentan mengalami burnout (kelelahan mental).

Kondisi alergi anak dapat berdampak ke masalah emosi, kognitif, dan perilaku anak sehingga berdampak ke sosialisasi anak dengan lingkungan. Anak alergi memiliki emosi yang lebih sensitif. Akibatnya, membuat anak lebih mudah cemas. 

Kondisi emosi anak lebih dipengaruhi dari bagaimana cara orangtua mengelola emosi dan merespon emosi anak. Co-Regulation menjadi cara untuk membantu masalah emosi dari anak yang mengalami alergi. Caranya dengan orangtua melatih mengelola emosi terlebih dahulu dengan latihan nafas sadar dan rileks, serta berlatih melabeli (menamai) berbagai emosi yang dirasakan. Akhirnya, ini akan dapat membantu anak mengenal emosinya yang muncul. Dengan begitu, anak merasa orangtua menerima dan memvalidasi emosinya. 

Co-Regulation Emosi orangtua dan anak


Otak itu seperti otot, bisa dilatih, sehingga emosi yang pusatnya di otak pun bisa dilatih. Jadi, para orangtua yang dahulunya tidak berkesempatan divalidasi emosinya oleh orangtuanya sendiri bisa berlatih untuk dapat melabeli emosi yang dirasakan dan memvalidasinya. Dengan memahami emosi diri, orangtua dapat membantu anak memvalidasi emosinya. 

Alhamdulillah, saya dan keluarga tidak mengalami alergi makanan tertentu, baik protein hewan atau kacang-kacangan. Tentu saja cukup berat membayangkan menjadi orangtua dari anak yang mengalami alergi makanan tertentu dan begitu penuh dengan kekhawatiran. 

Webinar ini juga menghadirkan narasumber seorang ibu yang putrinya mengalami alergi yaitu, Oktavia Sari Wijayanti. Ibu Okta memiliki putri berusia dua tahun yang awalnya mengalami gejala bentol-bentol di kulit lalu keesokan harinya muncul bengkak. Akhirnya, kondisi putrinya segera diperiksakan ke dokter dan barulah diketahui bahwa itu semua merupakan gejala alergi. 

Ibu Okta mengungkapkan, kondisi anaknya yang alergi makanan membuatnya lebih waspada untuk menghindari faktor pemicunya. Menurutnya, sebagai orangtua tentu timbul kecemasan terhadap kondisi anak tetapi orangtua harus tetap tenang dan tidak denial mengenai kondisi alergi anak. Penerimaan akan membuat emosi orangtua lebih tenang dan jernih dalam mengatasi gejala alergi yang muncul pada anak. Jika orangtua panik maka anak juga bisa ikut panik.

Selain itu, ibu Okta juga menyemangati semua orangtua yang anak-anaknya memiliki alergi untuk tidak perlu cemas dan jangan ragu berkonsultasi pada dokter agar anak diberikan terapi yang tepat.

Jadi, peranan serat sangat penting ya bagi kondisi saluran cerna anak. Lalu, bagaimana agar orangtua dapat mengajak anak makan sayur dan buah dengan senang? Ya, dengan senang, bukan karena terpaksa. Menurut saya, ini penting dilakukan orangtua, agar anak tidak memiliki trauma terhadap makan sayur dan buah. Bisa dibayangkan ya, jika masih kecil makan sayur terpaksa lalu setelah besar anak tidak lagi makan sayur sebab sudah tidak bisa dipaksa, betapa sayangnya jika orangtua gagal memberi pemahaman.


Tips mengajak anak suka makan sayuran:
 
  • Ajak anak makan bersama keluarga dan biarkan ia melihat kedua orangtuanya makan sayuran dan buah dengan gembira. Kalau istilah saya, kita “komporin” anak kalau sayuran itu enak dimakan dan sehat. Ketika melihat orangtua makan, anak juga akan penasaran mencoba. Anak itu peniru, maka orang tua harus senang dulu makan sayur dan buah.
  • Jika anak benar-benar menolak sayur, orangtua bisa memodifikasi perkenalan “awal” melalui jus atau es buah atau sayuran yang mudah dikunyah seperti labu siam, wortel dan bayam. Intinya buat jadi perkenalan yang menyenangkan.
  • Hal yang baru diterima otak anak akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak aman, sehingga anak bersikap defensif. Di sinilah perlu kesabaran orangtua mengenalkan makanan.
 
Sayuran dan buah sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan vitamin anak. Kebutuhan serat anak berbeda sesuai usia, bagi bayi hingga usia dua tahun serat tidak perlu banyak, hanya sepertiga porsi saja dan sisanya perbanyak lemak dan karbohidrat. Sedangkan, anak yang lebih besar kebutuhan serat juga makin besar, setengah porsi serat dan setengah porsi karbohidrat dan protein. 


Makanan modern khasnya tinggi karbohidrat dan lemak namun rendah serat. Orangtua juga diharapkan bisa menerapkan makanan bergizi seimbang di rumah, sebab darimana lagi anak belajar gaya hidup sehat selain dari yang dicontohkan orangtuanya? Kita tentu sangat senang mendengar anak-anak mengucapkan, "Aku suka sayur!" dan melihat mereka begitu lahap menikmati hidangan sayuran di rumah. 


Referensi:
1. Children inherit their taste for meat and fish but not vegetables (diunduh dari https://news.cancerresearchuk.org/2006/06/13/children-inherit-their-taste-for-meat-and-fish-but-not-vegetables/ 25 Agustus 2022)

2. Sestito S, et al. 2020. The Role of Prebiotics and Probiotics in Prevention of Allergic Diseases in Infants. Frontiers in Pediatrics.

3. Bollinger ME, et al. 2006. The Impact of Food Allergy on the Daily Activities of Children, and their Families. Ann Allergy Asthma Immunol; 415-21.