Wow, judul ceritanya agak lebay. Ya sudah tidak apalah, yang penting menarik orang untuk membaca, hihi.. yap, malam ini 17 Juni 2011 bulan di langit masih dalam fase penuhnya (purnama) setelah dua malm sebelumnya juga purnama. Hari ini tiga nilai dari empat mata kuliah keluar di SIAK-NG. Intinya, Alhamdulillah, bersyukur aja sama yang didapet karena emang udah terjadi dan gak bisa lagi diubah. Kasus nilai selesai, ditutup. Terus, tadi pas ke kampus ketemu sama senior yang lagi profesi, pada ujian KGD mereka, huiih… sempatlah bicara-bicara sedikit. Pokoknya semangat buat semuanya ya ka!! Hehee cieeh calon NERS. Udah gitu bikin agak galau juga, profesi!! Really am I a nurse wannabe?? Terus pas malemnya sms-an sama DF (kawan FIK) main gombal-gombalan kita, eh ujung-ujungnya malah bikin galau pengen nikahan. Gubraak.. heeh :P

Mari kita urut hal-hal yang membuat galau:
  1. Galau nilai yang baru keluar di SIAK
  2. Galau Profesi yang bentar lagi (mesti dapet duit buat bayar >5 juta, belajar lagi semua ilmu, siap2 mental fisik)
  3. Galau pengen nikahan (eleh ini mah biasa sindrom mahasiswa tingkat akhir yg belum ada yg ngelamar,,hahaa)
Selanjutnya, mari simak penjelasan kegalauan di atas.

Galau Nilai
Ceritanya nilai udah semua tuh, ada Riset Keperawatan, Manajemen Keperawatan dan Keperawatan Gawat darurat sisanya satu lagi keperawatan anak beluman ada. Wew, nilaiku nyaris-nyaris aja deh sempurna.. andai gak ada garis deket situ tuh sebelah kanan (buat mene dan riset). Cukup kaget juga tapi ya bersyukurlah dengan apa yang dikasih Allah, Alhamdulillah. Khusus buat KGD (gawat darurat) inilah yang menjadikan galau sebenarnya. Pas UTS itu udah galau ternyata biasa aja hasilnya, eh pas sekarang makin galau hasilnya gak terlalu sebagus harapan. Mengapakah selalu buat mata kuliah special yang perlu kerja ekstra dalam memahaminya nilai saya tak terlalu bagus??? 



Terus galau deh, macam mana ini gue mau jadi perawat emergency nanti kalo udah selesai kuliah malah nilainya segini (terlihat memang gak jago-jago amat yah standar-lah). Huaaah… merasa malang aja, segini udah motivasi internalnya tinggi (karena emang impian, cita-cita) jadi harus jagoan. Tak tahunya, tetep juga belum bisa naikin hasilnya biar bagus. Siapa ini yang salah sebenarnya?? Pasti soal ujiannya deh yang kepinteran atau saya yang kepinteran sampe gak bisa jawab soal dengan bener??

Sedih, ya adalah pastinya, tapi inget gak boleh menyerah pada apapun!! Kerjakan semuanya sampai selesai, meskipun kamu lebih lambat tapi kamu berusaha sebaik-baiknya. Tidaklah semua pembelajaran harus diukur dengan nilai bagus #Sok Nge-Bijak 
Galau Profesi
Kalau yang ini jelaslah galau, ini merupakan fase penting dalam proses menjadi Ners. Sebelumnya ada ujian kompetensi juga, jadi semua yang udah dipelajarin selama 4 tahun di review lagi dan diujikan lagi, baik kemampuan kognitif maupun psikomotor. Wow!! Keren banget deh emang perawat, super pinter!! Selain itu, biayanya juga gak murah kawan, (aaihh.. kenapakah sekolah tenaga kesehatan enggak di-gratis-in aja. Toh kita juga bekerja buat melayani masyarakat nantinya). Satu tahun total uang kuliah aje 9 dengan 6 nol di belakangnya, belum termasuk uang seragam, tugas-tugas dan semualah terkait kebutuhan kuliah. Udah kuliah susah, uang banyak yang ‘ditanam’, capek nunggu lulus lama 4+1 (empat tahun plus satu tahun, lama kan?). Betapa besarlah pengorbanan dibanding pemasukan nantinya (kalo dengan jahatnya gue itung-itungan versi anak ekonomi) tentulah setelah kerja nanti jadi Ners di Indonesia. Tapi enggaklah, saya gak sejahat itu, yang penting niat tulus buat membantu pasien dan orang sakit lainnya udah bikin rasa puas tersendiri saya rasa.

My dream: RN!!

Galau nikah
Jiaah… ini nih, yang menjadi topik hangat dalam perbincangan anak muda (halaah..) maksudnya mahasiswa tingkat akhir (khusus buat cewek atau akhwat). Kalau istilah beberapa orang teman ‘biar nanti pas wisuda ada PW-nya (PW= Pendamping Wisuda). Nah, ya itu dia, suaminya yang mendampingi kalo wisuda. Hahaa.. ini mah ceng-ceng-an anak-anak aja biar hidup lebih rame, bahagia gak stress-stress amat. Siapa sih yang gak mau nikahan?? Sepertinya itu udah masuk rencana hidup tiap orang ya.. samalah kita, saya pun udah masukin ke dalam rencana, tapi gak sekarang atau waktu sedekat sekarang ini. Adalah nanti masanya saat menemukan dia yang sudah tertulis di Lauhul MahfudzNya bahkan sebelum kita lahir ke dunia. Sejauh apapun, seberbeda apapun kalau jodoh pasti ketemu.
Jadi ya, nikmati saja dulu saat-saat single seperti sekarang. Main-main sama kawan-kawan, berbakti sama ibu ayah. Menikmati hidup untuk meraih cita-cita dan menyempunakan cinta pada Allah. Jangan lupa lakukan juga persiapan ilmu. Cari-cari ilmu tentang pernikahan, rumah tangga dan sejenisnyalah di buku atau manapun yang penting bikin kita punya pertimbangan yang matang saat waktunya datang untuk menikah.
marry me... :P

Jujur, agak merasa aneh dengan tulisan ini, terasa ada gaya berbeda dalam berkata-kata, jadi lebih bijak sepertinya, aiih maklumlah usia menanjak tua saja. Semoga semakin banyak mengambil hikmah di tiap detik hidup ini. Ya sudahlah menggalaunya selesai dulu. See yaa..
meruah 
membanjiri muka bumi
cinta yang dieksplisitkan


sayang yang baik tentu,
tanpa risau dan ragu


terkuak, diungkap
diberi cuma-cuma
marahku  karenamu terlalu pada orang lain
sedangkan untukku tidak ada


dunia menonton, aku pun
kamu bermesra dengan yang lain
aku tahu


salah padakukah??yang tak mampu membahasakan bahasa cintamuatau terlalu implisitkah rasa yang kau tunjukkan?hingga ku tak mampu menandingi intelektualmu


atau aku yang buta akan rasa
hingga sayang pun tak lagi teraba
meski ia menerpaku pelan
lembut dan hangat
aku tak bisa melihat
sebab bentukmu seperti angin
tak terlihat dengan lensa biasa
aku butuh lensa hati
untuk mampu merasanya


hingga akhirnya cintamu tak lagi terbentuk
ternyata dalam akhlak
aku membuta dibuatnya
makin jauh dan tak mampu menerjemahkannya


kamu implisit dalam hidupku
aku terlalu eksplisit memaknaimu


jauh
hingga senja di batas aroma semakin menjauh dari cerobong
tak terhidu.. tak teraba
lagi






#Kamar, 210411 10.59 pm
 Pangumbahan Beach and turtle’s kids (aka tukik)
                                                                                                
Lokasi pantai Pangumbahan dari tempat kita atau Ujung Genteng agak ke utara sedikit. Jadi perlu menempuh jarak sekitar 3 km. Kami berangkat hanya diantarkan oleh pak Sopir elf sampai batas akhir kendaraan (kata dia, eh ternyata setelah diketahui bahwa kendaraan bermotor pun boleh masuk sampe tempat penangkaran!!) Aiih paayah jalan kaki tuh kita lewatin semak-semak dan kebun. Sepi pula, aihh,, gimana cara pulang ini.. eeerrrr.

Jalan kaki bersama emang makan waktu lebih lama, hampir jam 5 sore kami pas tiba di lokasi penangkaran penyu, pantai pangumbahan. Setibanya disana kami disambut penjaganya, lalu diberitahu bahwa untuk melepas penyu dikenai retribusi 5.000/orang. Terus kan kita bilang mau nonton mamah penyu bertelur (meskipun malam buta kita jabanin deh pak!! Haha) itu dikenai lagi biaya 5.000/orang jadilah pengeluaran total Rp10.000/orang. Oke ditunggu aja dulu ya, sebentar lagi dilepasin. Sembari nunggu kita foto-foto juga. Terus liat-liat ke tempat pengeraman telur penyu. Jadi semacam lokasi satu lubangnya udah ada telur yang lama ditanam tinggal nunggu waktu menetas deh. Kata bapak informan telur penyu netas setelah 60 hari ditanam dalam pasir. Wuihhh.. lama bener, udah gitu bisa aja dari 100 yang ditanam yang partus selamat sekitar setengahnya aja, oohh terus juga kan ada tanda waktunya gitu jadi kapan ditanam bakal diitung waktunya pas atau enggak. Bisa juga terjadi post-term alias menetas lebih dari waktu dan juga pre-term menetas sebelum waktunya. Hihi.. udah tuh kita sambungin aje layaknya kuliah maternitas, haha.  


Gak lama kemudian kita memasuki pantai wilayah pelepasan penyu. Huaaaahh… kereeen, bersih, ombaknya pun gede (makanya kagak boleh renang disini). Pasirnya bersih deh, haaaa… baguuuus. Sambil nungguin anak-anak penyu yang bakal kita lepasin, kita bermain dulu aja, lari-larian, juga foto-foto. Gak lama kemudian bapaknya dateng bawa tukik (anak penyu) seember gede gitu. Huaaaa… lucuu.. unyu, unyu… gemesin abis dah. Ayo, ayo ambil deh tuh satu orang berapa, hehe, bapaknya pun kasih petunjuk harus dilepas dari garis ini ya. Oh, okelah kalau begitu, ayoo dede penyuu… semangaaat larinya!!! Kamu bisa dek!! Dede penyu hati-hati ya di lautan sana!! Pas para tukik itu jalan di pasir kamera-kamera pun bergentayangan menangap gambar mereka. Shiva pun tak mau kalah, dengan kamera hape memfoto para tukik.



Tukik, dede penyu yang lucu.. selamat jalan yaa.. hati-hati di lautan luas itu.

Setelah selesai melepaskan mereka semua (para tukik) kami pun bermain dan berfoto. Merasakan sejuknya angin di pantai, indahnya lautan luas. Huaaahh kereeen deh, bermain pasir, bikin tulisan nama sendiri terus difoto deh. Gak tahan pengen ngerasain ombak, ayo deh kita berbasah-basah sedikit, hehe. Sampai matahari pun mulai tenggelam di batas horizon. Tak lupa shiva capture deh, dapat gambar matahari lagi memantul di laut, jadi seolah ada dua matahari, aiih subhanallah kereeennyaaa…!!!! Impian menikmati pantai dan matahari terbenam tercapai sudah.,,hohoo… terharu jadinya *halah*



Sampai sore hampir maghrib sebelum bener-bener gelap kita kembali masuk ke lokasi penangkaran. Oh iya, disini juga ada penginapan bentuknya rumah-rumah gitu, lumayan modern deh bentuknya. Semalam 250 ribu. And then, what will we gonna do until the penyu is coming to the beach??? Ternyata tuh ya nungguin lamaaa sampe jam 9 malem. Di situ kita udah ngapa-ngapain dah, magabut, gak jelas..haha kelaperan pula.

Oh iya, satu cerita lagi tentang galaunya kak Rendra diakibatkan memory card kameranya hasil poto-poto dari kemarin telah terkena air laut!!! Aaarrrhhhh tidaaaak…. Haiish,, sedih banget dah tampangnya udah gak enak gitu, yah kita mau gimana lagi dong, bingung deh. Itu tuh ibaratnya harta dan oleh-oleh selama berjuang dua hari ini lalu hilang begitu saja, lenyap.. huuu.. katanya pas dimasukin ke kamera lagi itu gak bisa terbaca, oh no. baiklah, sabar kak, kita Cuma bisa gitu aje deh hiburnya dan berdoa sebanyak-banyaknya semoga fotonya masih tersimpan dan bisa dibuka di computer setidaknya. Aamiin.
Jam 8 malem merasakan kelaparan. Ide kita bawa popmie dan mi gelas ternyata bagus!! Kita minta aja air panas sama bapak penjaga di sana terus bikin pop mie, nah sisa tempatnya buat rebus mie gelas deh, hahay,, so cool isn’t it?? Makan malam sambil menghibur diri kami berenam main tebak gaya dan kedua lelaki tertidur di kursi. Semakin malam ternyata makin banyak juga pengunjung yang datang dengan motor ataupun mobil. Aiihh pas kita ngobrol-ngobrol sama pak Endang penjaga di sana tuh ternyata boleh kok, malam-malam bawa mobil sampai ke sini!! Eeerrrr… ternyata tadi si bapak itu sok tau bilang gak boleh ada mobil atau emang sengaja aja meng-kadali kita-kita yang lugu ini?? Cewek-cewek langsung emosi aja terutama apidt, haha jelaslah kita udah jalan kaki jauuuh begini eh taunya boleh kok naik mobil sampai kesini. Sakiit rasanya, haiish.. awas aja! Haha *gaya marah*


Cerita-cerita juga dari bapaknya katanya penyu yang bertelur itu umurnya udah tua. Dia baru bisa bertelur kalau umurnya minimal 35 tahun. Haa.. tua banget, iya ada kok penyu itu sampai umurnya 160 tahun. Subhanallah… lama bener mereka umurnya. Beda ya sama orang, kalau kata apidt, umur 35 penyu baru masuk masa subur, manusia udah siap-siap menopause umur 40an, ahaha.. iyalah, mereka umurnya panjang gitu. Terus juga ternyata cuaca di sini baru kali ini cerah, gak banyak angin dan gak hujan. Padahal sebelum kita ke sini itu angin kencang juga, Alhamdulillah, pas kita di sini emang cerah terus, panasss banget malah. Inilah emang izin Allah deh yang bikin kita bisa kayak gini. Hehe. Terima kasih Allah 


Hampir kita gak sabaran tau nungguin mamah penyunya yang katanya udah dateng sekarang lagi bikin sarang dulu di pos. okelah, sebentar lagi baru boleh liat kalau udah mulai bertelur. Nunggu lagi, sambil main lagi deh kita, tebak gaya.. udah kagak usah diceritain disini ya, intinya kita udah kaya bocah stress aja, gayanya aneh-aneh pula, sampai susah ditebak apalagi yang ‘minyak tawon tuh’,,, hahaha…

Langit memperlihatkan bintang, pertanda malam ini cerah tak berawan. Karena tertutup pohon hanya sedikit bintang yang terlihat dari posisiku di rumah jaga. Akhirnya nyaris jam 11 malem apa tuh, barulah kami semua dipanggil buat nonton mamah penyu bertelur. Akhirnya, datang juga.. eehh… kan udah gelap tuh ya, kita gak boleh nyalain sumber cahaya apapun itu. Baiklah, sambil berpegangan tangan berpasangan kami jalan memasuki pantai tadi tempat bermain. Seketika menengok ke langit, bagaikan pecahan kaca, bintangnya banyaaaaak bangeeet!!! Subhanallah.. Allah ini kereen bangeeet, beneran deh terpesona abis sama keindahan langit malam itu. Merasa enggak di bumi tapi bagai di luar angkasa tempatnya bintang-bintang. Mereka seolah dekat, karena tak ada satu pun gedung yang menghalangi mata ini untuk menjangkau mereka. Menatap bintang sepuasnya, tanpa ada gangguan. Beneran deh, kayak lagi di luar angkasa langsung bukan dari bumi, bintang pun udah kayak pecahan kaca berkilau-kilau menyombokan keindahannya pada seluruh penduduk bumi.

Konspirasi yang sempurna. Benar-benar tak akan terlupa pada keindahan bintang malam ini. Suara ombak berderu pun menyempurnakan nikmat Allah pada kami.
Sampai ingin rasanya berbaring di atas pasir malam itu, agar kepala ini tidak lelah menatap langit yang begitu tinggi hingga kami puas menatap bintang yang berkilauan bagai berlian.

Dua kata: subhanallah dan romantisnya… udah speechless ini mandangin langitnya, huaa…

Oh iya, pertunjukkan utama malam itu kan bertelurnya mamah penyu, haiih,, ayolah saya ceritakan lagi kisah penyu.

Si mamah penyu pun seketika dikerumuni oleh manusia. Itu ya, tubuhnya besaaar bangeet panjangnya yang terlihat sekilas semeter deh, belum lagi lebarnya, pokoknya gedeeee banget deh badannya, beda sama yang tivi atau foto gambarnya. Subhanallah, mamah penyu lagi berjuang partus-in telur-telurnya. Tak lupa tentu ini merupakan fenomena langka yang harus diabadikan dalam foto. Kak Rendra dan kak Endras tentunya memfoto penyu yang lagi bertelur itu. Kita pun terpesona dengan perjuangan mamah penyu yang berat dan hebat hingga akhirnya partus telur selesai lalu ia menutup lubang dengan pasir. Kalau kata bapaknya penyu ini kira-kira satu kuintal deh beratnya, haiissshh berat bangeeet ya, lebih berat dari shiva ternyata, terus juga mungkin dia udah berusia 100 tahunan..woow!! amazing banget daah malam ini.


Selesai deh pertunjukkannya, lanjut kita bakalan pulang kembali, oh my gosh! What time is it?? Nyaris jam 12. Hoo.. baiklah kita akan kembali berjalan kaki, menyusuri pantai berpasir ini. Semangaaat!! Allah pasti melindungi kok, hehe.. paraah aja, gelap gulita, penerangan terbatas. Jalannya sepi, Cuma terdengar deburan ombak dari pantai. Bisa dikatakan spooky bangetlah (kalau sendirian) kalau kita bersama insya Allah gak apa-apa kok, heehe.


Sepanjang jalan si Bulun pegangan tangan terus dah, karena emang gelap banget, para wanita berpasangan jalan bersama-sama, khawatir terjatuh atau apa jika jalan sendirian, hehe. Kecuali kak Rendra dan kak Endras, mereka enggak sama sekali pegangan tangan kok. Jiahahaha.. macam mana kalo mereka ikutan juga, heeh.. *_*


Ternyata jauuuuh sekaliii perjalanan itu, huahaa.. sepi banget pula, pinggiran jalan cuma semak-semak gitu, rumah penduduknya jarang. Jalan hampir setengah lari saking pengen cepet sampai di rumah. Eh ada yang minta pelanin dikit dong jalannya. Haha rupanya karena kakinya ka Rendra yang kemarinan luka, jadi susah jalan dia. Setiap ketemu lampu dari rumah penduduk bersyukur, Alhamdulillah, hampir dekat berarti ini. Tapi tetep aja masiih belum terlihat tanda-tanda lokasi kita menginap. Sabaaaaaaaar, sedikit lagi ayooo. Di tengah jalan tadi juga ternyata masiih aja ada orang yang main di pantai, gak tau deh ngapain itu, ternyata juga air laut pasang, jadi beda gitu sama kondisi tadi sore yang masih surut. Bagusnya kita enggak jadi menyusuri pantai bisa repot kalo gitu mah, hehe. Makin lama makin dekat ke penginapan, alhamdulilah.. sekitar 45 menitan jalan kaki (sebenernya lupa seberapa lama perjalanannya) yaah segitulah kira-kira. Maaf deh kalo salah, huhu. Setibanya di rumah penginapan, yang diinginkan hanya satu air minum. Hauuus bangeeet cuy! Minum, istirahat sebentar, lalu antri untuk ke kamar mandi.


Sambil nunggu giliran ke kamar mandi, shiva ngobrol sama kak Rendra, terus dia juga sambil ngarep-ngarep memory card dan isinya masih bisa terselamatkan. Udah tuh dicoba ke kamera ka Endras juga tetep gak bisa. Tiba-tiba pas dimasukin lagi ke kamera ka Rendra, ituu.. itu memory card bisa nyala lagi!!! Wuuaaaahhh… Alhamdulillah, yes, yes, yes!!! Fotonya bisa terselamatkan!! Berkat doa juga sepertinya, hahaa,, ini namanya rejeki deh. Terus sambil liat-liat hasil foto di Pangumbahan tadi. Baguuuusss… penyunya lucu semuaaa.. aiihhh.. emang deh kak Rendra jagoo bener motonya. Shiva juga diajarin cara make kameranya dia yang canggih itu, hohoo.. terus boleh deh buat ambil gambar besok, asiiik… ahhahaha…


Setelah berbersih diri, sholat lalu saatnya istirahat, gak tau deh itu udah jam berapa, saking lelahnya. Paginya, bangun pas subuh terus sholat dan bangunin orang-orang di kamar sebelah.

Cerita hari ketiga di postingan selanjutnya yaa.. hohoo.. ini juga udah panjang banget ternyata.

Alhamdulillah, hanya karena izin Allah-lah Shiva pada akhirnya tersampaikan backpacker-an ke Ujung Genteng. Sangat senang, sangat, tak terkira tempat yang sudah diidam-idamkan selama ini (halah,, lebay) akhirnya bisa kusambangi. Baiklah, mari kita mulai bernarasi tentang semua hal yang ditemukan selama perjalanan hingga pulang sampai ke rumah. Pada akhirnya yang fix ikutan jalan ada enam orang wanita (termasuk saya) dan dua orang teman lelaki.


Hari pertama

Tulisan ini ditulis langsung melalui quickoffice yang ada di handphoneku. Oleh sebab itu, agak panjang paragrapnya, hihi…

Jam 8an jalan dari Depok naik kereta ekonomi bersama Fitri dan Emi dengan harga tiket Rp2.000. Kumpul bareng Apit & bulun di St. Bogor terus juga ketemu temennya Apit, dua orang yakni Kak Rendra dan temennye Tyo. Lanjut dari stasiun naik angkot ke arah terminal Baranangsiang (ongkos 2000) sekalian juga ketemu Nana dan kak Endras disana. Jam 9.30an kami tiba di Baranangsiang, jalan sedikit ke dalam buat nyari elf-nya. Akhirnya, berkumpullah kami (enam orang wanita dan dua orang lelaki).

Sampai disana ternyata Bus yang langsung ke Surade sudah berangkat, sehingga kami pun naik elf tujuan Sukabumi. Elfnya gak penuh karena isinya cuma kami berdelapan (dua lelaki duduk bersama sopir_sisanya di belakang. Akan tetapi, di perjalanan menuju Cicurug nambah satu orang penumpang bapak2, tidak lama (pas deket pasar gitu naiklah seorang ibu dengan satu anak perempuannya,duduk disebelah kursi Shiva, jadilah kami berempat,empet-empetan. Gak lama kemudian naik lagi seorang bapak2,dgn barang bawaan. Karena terasa susah,ibu & anaknya geser ke kursi belakang yang baru terisi satu orang,terus bapaknya pun geser jadi di sebelah shiva (aiih.. Sampitnyo kursi awak).

Jam 12 kurang beberapa menit, alhamdulillah sampai dgn slamat di Lembursitu, karena elf yg tadi dari Bogor kita carter jadilah per orang mengeluarkan biaya sebesar 17.500/orang. Sampai sana gilaa laper bangeeet!! udah gitu kita langsung dikerubutin sama abang-abang tukang elf dan bus masa. kayaknya sih ya sampe setengah maksa gitu supaya kita naik elf mereka...huhuuu... sereeem abiis.. gak kebayang dah kalo kita semua (cewek2 doangan) yang digituin, kalo kata apit dia udah nangis kejer kali ye.. dikerubutin gitu, hahaha... langsung setelah berhasil kabur dr para calo, maka cari makanlah kita, ada warung berderet banyak nawarin makanan, dari bakso, mie ayam dan pilihan kita sampai di warteg teteh. Shiva makan nasi, sop daging dan sedikit smbal kentang lumayan mengisi perut deh biaya makan 12.000. setelah itu kita sholat zuhur dan ashar jamak.

Terus bersama-sama kita bertolak langsung menuju surade & UG sekaligus dengan satu elf sopirnya nawarin 28.000 ya lumayan lebih murah seribu dari perkiraan yang 29.000. Ternyata jalannya cuy, assoy dah, penuh lika-liku (aiih… maknyuus…) lewati lembah & bukit naik turun deh. Nana kan duduk sama shiva tuh terus karena jalan yg makin nge-goyanging isi abdomen kita akhirnya gaster nana pun tak mampu menahan kandungannya sehingga jreeng.. Terjadilah refluks isi gaster alias vomitus. Rempong tuh langsung berasa gawat darurat, teriak plastik-plastik!!

Jalanan menuju surade bener dah jauuh bener. Di sepanjang jalan pun penumpang lain naik-turun mulai dari bapak2 penjual jagung rebus, ada juga ibu2 agak tua yang akhirnya jadi temen ngobrol shiva di dalam elf. Ibunya nanya mau kmana? Ujung genteng oh itu masih jauh. Shiva tanya balik mau kmana ibu? Ibunya jawab apa gtu suatu nama tempat, hehe lupa abisnya. Ibunya nanya juga sekolah dimana, oh lg liburan ya? Yah pokoknya bicara2 lah.
Ibunya di sepanjang jalan pun nunjuk2 berbagai lokasi gitu serasa jadi guide aja ibunya, berhubung juga shiva gak bisa tidur jadilah sepanjang jalan ngeliatin jalan aja, haha..

Setelah melewati jalan dari arah Surade, elf kami memasuki kawasan hutan, penuh pohon di kanan kiri jalan. Lama kelamaan pun terlihat pohon berganti dengan nyiur yang sudah melambai seolah menyambut kedatangan kami. Itu kan jalanannya masih tinggi ya, ternyatan dari ketinggian itu sepanjang sebelah kiri jalan sudah terlihat hamparan horizon pantai. Bocah-bocah langsung merespon takjub, kaget, dan teriak-teriak gak jelas, apalagi si fitri & apit, sama sih shiva juga berdecak kagum melihat laut dari kejauhan. Subhanallah, kereen banget!! Aiih, ga sabaran dah pengen turun. Makin lama makin dekat ke bibir pantai, udah terlihat penginapan-penginapan yang berjejer banyak. Lalu, kami pun masih melanjut kan jalan dengan ditemani aroma khas laut. Laut luas menghampar dengan karang-karang dan pasir bersih krem. Sebenernya agak bingung juga warna pasirnya apa ya, antara putih tapi agak krem gitu yaudalah putih gading kali ya a.k.a broken white,hoho. Lanjut, nyari-nyari penginapan sekitar jam 5 lebih sedikit. Ada penginapan 250 rb semalem ada dapurnya juga kompor bebas make. Cari-cari lagi yang lain, ada tapi ga ada dapur, sebelah belakangnya cuma rumah langsung kasur kagak pake kamar, weeh, kan kita ad lelaki 2 orang, mau ditaruh mana mereka?? Hahaa...

Akhirnya setelah berunding secara pelik (halaah) diputuskan kita bermalam di Pak Koboy dengan biaya 250 ribu/malam. Isinya ada kamar dua terus minta kasur lagi buat yang lelaki tidur di depan tivi, terus ada dapur di luar dan juga kamar mandi. Setelah taruh barang-barang bawaan sebelum maghrib deh pas matahari akan kembali ke peraduannya di barat kita semua foto-foto!!! Ini dia yang tak boleh di lewatkan, keindahan pantai yang lagi surut dan juga langit senja yang indahhh banget dah. Huaaaa…. Kereeen pokoknyaa!!! Subhanallah, alhamdulilah… foto terus deh berkali-kali sampe azan maghrib datang, hehe.

when the sunset through the sea
bersama di atas karang


Oh iya satu yang penting nih, sepanjang jalan dari Surade ke arah Ujung Genteng itu shiva perhatikan tidak terlihat adanya pusat layanan kesehatan masyarakat alias puskesmas atau klinik dokter gitu. Shiva Cuma nemu satu rumah ada plang Bidan dan itu rumahnya lagi direnovasi gitu masa, hoho.. terus gimana deh penduduk dapat layanan kesehatan?? *masih perlu riset lebih lanjut*

Malam Satu

Shiva sendiri bener dah, merasa lelah sekali dari perjalanan panjang ini. Pegel duduk, terombang-ambing pula tubuh ini. Selanjutnya adalah bersih-bersih tubuh alias mandi. Kita bagi tugas nih, sebagian mandi sebagiannya masak-masak makan malam. Tadi sore si Apit beli sardine di indomaret sebelum sampe sini. Karena kita emang udah dapet kabar nyari makanan susaaaah banget. So, daripada kelaperan mendingan masak-masak kita, hehe.

Makanan yang dimasak adalah nasi, sardine dan  apa ya.. lupa yah pokonya kita makan Cuma nasi putih dan sardine deh kayaknya. Di dapur ibunya ternyata hanya ada satu kompor gas terus lama deh jadinya makanan matang. Si Apit yang masak nasi ternyata menghasilkan nasi separuh matang di bagian atas. Kak Rendra yang udah keburu nafsu karena kelaparan makan nasi bagian atasnya sehingga nasi yang kurang matang itulah yang jadi dinnernya ka Rendra, hahaha… sukses deh apit menyengsarakan ka Rendra sampe dia jadi orang terakhir yang selesai makan di kala semua orang udah abisin makanannya (plus nasi krispi itu tentunya).

Udah gitu ya, ada kejadian kocak banget masa. Lagi aduk-aduk nasi dalam panik kukusannya tiba-tiba ada benda hitam panjang mirip buntut tikus gitu. Spontan semua yang lagi makan paniiik, apaaan inii???? Gilaa.. bikin ngeri banget kalo ternyata itu beneran buntut tikus, hahaha.. ternyata itu adalah ikatan tali raffia gitu dalam saringan kukus nasi, ekspresi kita sedikit berkurang gitu nafsu makannya, hahay apalagi ka Rendra yang paling jantungan kali ya sampe kaget gitu.

Selesai makan bersih-bersih, terus sholat isya. Setelah itu kita (cewek2) main di kamar, main ramal-ramalan apa gitu pake kartu remi. Yahh.. beginilah kerjaan orang iseng dan kebingungan tanpa daya mencari hiburan. Setelah itu lanjutin main 41, jam 11an malem udah ngantuuk ya baiklah Shiva pun tidur saja langsung ke kamar.


Hari Kedua

Bangun subuh, sholat terus beberapa orang ada yang jalan-jalan di pantai depan. Shiva masak air dulu buat bikin energen. Setelah energen siap, kita minum sambil pake roti cokelat chip. Abis itu, giliranku, Emi dan Dudu untuk jalan-jalan, oiya sama kak Endras juga ya, dia ambil gambar gitulah. Kan pantainya masih surut tuh, jadi masih cetek deh pantainya. Kita disana tentu aja berfoto-foto ria kembali. Shiva juga sekalian ambil kulit kerang, main air dan mencelupkan kaki di air. Aiih… ternyata ya itu daerah muara deket pantai. Jadi ada aliran air sungai yang rasanya tawar berakhir di pantai Cibuaya ini. Langsung deh Shiva inget satu ayat di Qur’an yang di situ Allah bilang ada air tawar dan asin yang berkumpul tapi ada batas sehingga mereka tidak tercampur. Subhanallah… ini nih bener deh bukti dari kekuasaan Allah. Huaaaahhhh kereeen banget Allah emang deh!! Semakin merasa kecil dihadapMu Rabb. Setelah puas kami pun kembali ke pondok untuk siap-siap karena jam 8 pagi ini kami akan dijemput oleh Pak Aconk selaku sopir elf untuk jalan-jalan., hahaay asiiik!!!

Setelah orang-orang pada sarapan pakai mie dan nasi yang Shiva tidak ikut serta didalamnya karena memang sudah merasa cukup kenyang dengan sarapan pakai energen dan roti. Kita jalan meninggalkan pondok. Tujuan pertama ialah Curug Cikaso, jam 8.30 an kita berangkat dengan elf perjalanan tidak terlalu jauh. Sekitar jam 9an lebih kita sampai terus naik perahu dulu masing-masing bayar 10.000 dan 2.000 untuk retribusi total 12.000/orang. Bener deh, dimana pun kita berada selalu aja capture a photo!! Sebelum naik perahu difoto, fotooo melulu..haha tapi seneng lah.

                                          curug Cikaso



Cuma lima menit deh perasaan di perahu tahu-tahu udah sampe aja kita. Pake nyari-nyari mana air terjunnya?? Tak taunya udah di depan mata ituu,, dikit lagi jalan kaki masuk ke dalam sampai kita. Akhirnya, sampailah kami di depan Curug Cikaso, air terjun yang terdiri dari tiga bagian, dua diantaranya berada berdekatan. Subhanallah… baguuuusss bangeeet!!! Cipratan air pun dari jauh sampai kena ke wajah saya. Suara tetesan air dalam jumlah yang raksasa terdengar seperti deru mesin. Aiihh…. Keren, keren, keren bangeet… tidak sabar kami pun langsung bergaya untuk foto-foto. Ternyata curug yang dua itu bawahnya dalam banget sehingga tak bisa orang mandi-mandi dibawahnya. Posisi curug yang satu agak ke samping itu kata bapak guide-nya yang bisa buat bertapa alias mandi dibawahnya.

Orang-orang pada nyebur mandi di curug yang satu dan aku tak mau berbasah-basah kuyup jadi tak ikutan mandi deh, haha. Udah gitu shiva tetep mau nyebur tapi kakinya aja. Jadilah shiva masuk ke dalam air sampai lutut lebih sedikit hingga basah pula ini pakaian. Sepanjang waktu dari awal datang hingga hampir tiga jam kami semua sibuk bermain dan berfoto. Apalagi Kak Rendra dan Kak Endras (yang emang fotografer gituu) motoo meluluu… air terjun Cikaso emang deh baguuus banget, apalagi cipratan airnya itu nyeni banget (halah).

Setelah puas bermain air (bagi anak2 yang nyebur) dan berfoto (bagi kami semuaa) waktunya pergi meninggalkan Curug Cikaso. Saya pun dengan berat hati rasanya pergi karena tempat ini terlalu indah untuk ditinggalkan *cielah gaya*

Dalam kondisi agak basah kami pergi dan saya mengucapkan sampai ketemu lagi pada Cikaso. Naik perahu pulang menuju mobil elf dan beristirahat sejenak sampai tiba waktu shalat zuhur. Pas di perjalanan pun bapak sopir mampir dulu ke pom bensin mau isi bahan bakar, yaudah sekalian toileting dan sholat di musholanya pom bensin deh. Rute selanjutnya adalah Curug Cigangsa!! Macam bocah kesenengan pasti bakalan main air lagi, hehe (bayangin mirip cikaso deh).  Lumayan deket sih perjalanannya sekitar 30 menit dari pom bensin di Surade. Pak sopirnya juga katanya sih beluman pernah ke daerah cigangsa jadi nanya-nanya juga. Akhirnya, kami sampai di lokasi, emang sih bingung juga kok daerahnya tinggi, banyak sawah-sawah gitu. Ternyata, eh ternyata kata bapak guide di sana air terjunnya lagi kering. What?? Kok bisa ya.. kering gimana deh maksudnya?? Jadi, airnya lagi dialihkan alirannya buat irigasi sawah. Oh, begitu sembari jalan kita foto-foto juga, hee. Setibanya disana (curug cigangsa) kaget, hah!! Ini toh yang dibilang kering. Jiaah ini mah kagak ada air terjunnya sama sekali. Udah macam kolam batu yang kering, tempat reptile kalo di ragunan, hahaa.. baiklah kita semua turun menyambangi lantai batuan yang seharusnya penuh dengan air tapi malah kering. Jadi posisi kita di atasnya air terjun. Pas ngelongok ke bawah wooh… ini dia tempat terjunnya air, tinggi banget. Kami pun dapat melihat semuanya dari atas sini, ada bukit-bukit hijau yang membuat kami seolah ada di atas gunung. Langit pada hari itu pun cerah sekali, menambah warna biru untuk background foto kami, hihi.



Perpaduan warna yang indaah banget, komposisi di tiap ciptaan Allah begitu sempurna. Tak ada  yang bisa menandingi semua ini. Allahuakbar!!! Keren banget emang deh Allah!! Yah tidak lama sih kami di Cigangsa karena masih ada tujuan lainnya yakni, Tanah Lot Amanda Ratu dan Pantai Pangumbahan tempat penyu. Baiklah kita berangkat lagi, nyari makan siang dulu ada masakan padang, lumayan ayam-ayaman seharga 10.000an ++. Kita pesen dibungkus semua dan juga sekalian beli air minum di Indomaret. Setelah itu langsung tancap gas menuju Amanda ratu.

Sepertinya lokasi ini merupakan satu kompleks penginapan khusus karena banyak rumah-rumah gitu deh, ada kolam renangnya pula. Setelah ditengok lebih dekat sepertinya kurang terurus rumah-rumahnya. Air kolamny aja ya masa warnanya hijau gitu, aiih.. isinya lumut semau kalo begitu mah. Oh, terlihat sudah tanah lot Amanda ratu, batu karang besar, ada rumput dan sedikit semak-semak dan di tengah-tengah gitu posisinya. Tak bisa dicapai hanya dengan berenang, gak tau deh seberapa dalam air lautnya. Di bagian kiri ada juga tebing-tebing yang besar, ombak pun sering menghantam mereka sehingga timbullah gemuruh keras.




Satu kata lagi: Subhanallah… kereeen bangeet deh.

Oiya, tadi kan kita udah beli makan, terus kita makan dulu deh rame-rame di kursi yang ada payungnya gitu. Tak lupa juga angin pantai menemani kami. matahari tetap keukeuh bersinar tanpa ada awan yang berani menutupinya. Walaupun panas dan silau masih ada hembusan angin yang menyejukkan kami. Selanjutnya, tentu saja sesi foto-foto, haha. Semuanya siap-siap ambil posisi oke untuk diabadikan. Tak lupa shiva pun juga jepret dengan kamera hapeku. Meskipun silaunya cahaya membuat mata tak tahu apa ini yang di-capture. Puas tuh poto-poto di sana, kita kembali ke pondok sebentar. Jam 4an sore kita sampai di pondok, shiva ganti pakaian dulu karena kita bakalan ke Pangumbahan, rumahnya penyu.

Sepertinya ini udah kepanjangan banget, cerita tentang penyunya di postingan berikutnya ya.. keep watching!!

Sumpah ya, UAS semester ini (tujuh-red) bener-bener menguras banyak energy. Mulai dari materinya yang cukup banyak (yang segudang lebih tepatnye), terus ujian-ujian praktikum yang hampir selalu membuat ansietas. Mulai dari ujian intranatal-nya Maternitas, ujian praktikum medical bedah (neurologi, musculoskeletal, dll), dan ujian praktikum anak. Akhirnya, semua berkumpul jadi satu di bulan Desember. 

Bisa dibayangkan sekitar dua pekan sebelum pekan UAS kita dihadapkan pada ujian praktikum dan ujian itu pun enggak sembarangan asal-asalan jadi terus lulus. Perlu usaha dan berlatih agar lancar melakukan kecerdasan Psikomotorik ini. Contohnya, membantu persalinan normal ibu hamil. Semua sudah terkonsep dalam prinsip-prinsip khusus. Tidak sembarangan, tidak pula kita membuat cara sendiri. Semua harus persis dilakukan dalam waktu 30 menit dengan tanpa lupa adegan dan dengan cara yang sesuai belum lagi nambah juga kalo ibu dosennya kasih pertanyaan yang harus dijawab.

Ujian praktikum keperawatan medikal bedah metodenya berbeda lagi. Kita (para mahasiswa) antri sesuai absen lalu mengambil kertas kocokan (halaah udah kayak arisan aja) yang berisi materi apa yang akan diujikan. Akan tetapi, kita tidak tahu kan kita dapet apa, makanya otomatis kita mesti siap dengan semua materi yang akan diujikan. Kemarin ujian dibagi tiga ada neurologi, musculoskeletal dan rehabilitasi. Semua ini pun ada sub-babnya lagi. Pokoknya banyak sekalilah yang harus dipelajarin sampai hampir penuh ini otak rasanya, haha. Selain itu, dosen pengujinya pun ada banyak bukan Cuma satu, tapi kita akan berhadapan dengan satu dosen dan diberikan pertanyaan sesuai materi yang sudah dijodohkan dengan kita (sumpah dudul banget). Waktu kemarin saya kebetulan berjodoh dengan materi rehabilitasi ambulasi, terus berjodoh dengan penggunaan kruk dan dosennya pak Chiyar.

Kali ini akan meceritakan bagaimana proses menuju ujian tersebut.

Datang dari pagi-pagi ke kampus sekitar jam 8an, kumpul dulu buat diisolasi. Denger-denger dari anak kelas sebelah ujiannya gampang kok, bisa dah pasti kalian semua. Iyalah, kita udah berkali-kali ulang-ulang belajarin ini materi bareng-bareng di kelas. Ampe malem-malem pula, beuuh, optimis dah besok bisa lancar ujiannya ya. Lalu, kami semua menunggu giliran ujian sesuai absen tentunya bersama dengan ansietas juga. Ansietas cukup tinggi, gile aja semua materi harus siap dalam otak dan yang penting kalo si ansietas ini gak pergi ninggalin kita pas ujian bisa-bisa dia mengacaukan segalanya!!

Satu per satu anak-anak yang absen awal masuk. Berbeda dengan saya yang namanya berawalan dengan huruf S. S deket-deket akhir, di penghujung. Aduuh.. lamanya menunggu, katanya bu sipen sih kita bakal selesai sebelum zuhur kok. Oke, cukup melegakan karena tak perlulah menunggu lama sekali. Alhamdulillah, bisa selesai lebih cepat sepertinya ujian hari ini (bersyukur dalam hati, berasa udah siap ujian, hoho). 

Lama nungguin, udah mau memasuki waktu zuhur tapi ini pun belum sampai setengah dari daftar hadir. Haaaiisshh.. macam mana ini, giliran ujianku?? Huhu… sepertinya akan makin mundur. Baiklah, sabaar.. sabaaar shiva sabar, T_T (padahal udah galau, gelisah ini). Udah zuhur, yaudah sholatlah dulu, tapi ya sumpah ampe enggak makan siang karena takut pas makan gilirannya maju, huhu. Udah lewat tuh waktu zuhur, masih juga beluman selesai. Ya, baiklah tunggu lagi, sampai tiba waktu ashar barulah mendekati giliran absen akhir-akhir. Heuufhh.. and its made me promise, that I won’t give my children with the last alphabet!! :D

Udah tuh ya, pas nungguin sampe udah bosen belajar, udah mual duluan, enek sama materinya saking diulang-ulang mulu…  tapi kagak juga ujian-ujian. Sampe nyanyi-nyanyi, jungkir balik, lari sana sini (heheh lebaya ini mah) nungguin ujian dengan setia. Baiklah, hanya bisa berdoa pada Allah supaya diberikan tempat ujian terbaiklah, Allah yang tahu kemampuan kita pasti kasih yang kita bisa lakukan (so nge-bijak mode ON, hahay).

Legaa pas udah selesai ujian, akhirnya… heuheu, selesai semua semoga deh hasilnya yg bagus. Jangan ada ujian ulang (remed/her) [berasa jaman SMA aje ye, wkwkwk]. Aamiin. Karena katanya yg ngulang bakalan diumumkan kemudian, huufff. Udah tuh ya, isi gaster dulu sama makanan, gilee beluman makan dari pagi ampe sore gini chuy!! Ditambah ansietas, udah tuh lambung isinya HCl doang kali.

Adegan berikutnya: Ujian praktikum Maternitas

Ujian yang satu ini butuh usaha lebih ribet karena harus pesen laboratorium dulu sama mbak Yuli. Ujian pas hari Selasa, setelah selesai presemtasi komunitas. Jadi ceritanya yang ujian hanya empat orang yakni, shiva, fitri, tanti, dan desti. Parah, ansietas tinggi juga secara satu per satu praktikkan langsung di depan dosen pengujinya. Huhu.. pusing, khawatir banget dari tiap tahap-tahap itu ada yang terlupa. Yang pertama desti, shiva jadi asistennya. Udah tuh, sebelahnya si fitri dengan tanti yang jadi asistennya. Setelah selesai selama 30 menit tibanya giliran shiva buat ujian. Heuu.. bismillah, bisa, bisa.. yayayaya.


Udah gitu ya, ibu dosennya pake komentar Desti yang terbaik nilainya diantara yang lain, Shiva harus bisa sama minimal seperti desti. Haduuuh.. Allah, gimana ini?? Iya deh, bismillah aja. Tenang memulai, sampai lupa tanyain udah BAB dan BAK ibu? Yaudahlah, tanyain aja ditengah-tengah biarlah,,hehe. Sedikit sih diberikan pertanyaan karena emang cukup krusial kalau gak ngerti prinsipnya. Alhamdulillah, partus ibu berjalan lancar. Ibu dan bayi dalam kondisi stabil sekarang. Beres deh, leganya satu ujian sudah selesai. 

Berikutnya yang menunggu di hari Kamis adalah ujian praktikum pediatric nursing. Ini tuh ya ujiannya model pake lonceng yang jaman dulu kita ujian fisiologi manusia. Jadi, tiap satu menit pindah saat lonceng bunyi. Hehehe, gilingan susah juga sih ini ujian, udahlah pasrahkan saja pada Allah. Sama juga model KMB, kita bergiliran nunggu dulu sesuai urutan nama so still my turn is the last. Nungguin diisolasi di lab Jiwa sampe pada kedinginan karena awalnya orangnya banyak lama-lama makin sedikit dan ditambah ansietas juga makin deh kedinginan ini. Ujiannya ada yang pakai praktikum langsung terus ada juga yang jawab pertanyaan secara teoritis. Berusaha sebisanya, sudah semaksimalnya usaha shiva, dan setelah keluar dari ruang ujian adalah saatnya menyerahkan semua pada Allah. Karena yang berikutnya adalah Allah’s territory and my territory (human territory) is enough only in here.

So let’s continue telling the story in final exam week. First day, exam of community nursing with little anxiety. Really, I felt that not so deep in learn about the materials. This is because of I knew that the exam will ask about cases and its needs analyses cognitive level. So, I’m just relaxed and little study about the home care in government policies. The day comes and so, like I though before the questions are about cases and of course just deep though of them you will get the answer. 

Second day I got the gerontological Nursing exam. The materials is so much!! I must study well and not sleeping anytime while study. So, I made strategy by learn not in my room as usual. Now, I learned in the living room with tatami table (Japan traditional style). About ten pm a get a cup of coffee milk, I hope it can make my eyes still open until 3 hours again. Yeah its works!! I can still study until 1.30 am, then I go sleep until 3.30 am. I wake up, sholat and then continuing mastering the gerontological nursing, heheuu.. Sleepy…

So that was my strategy and its works!! For the next two days I kept continuing this strategy, whatever happened, just do the suggest in Negeri 5 Menara said, “Thalabal u’la sahirul layali” those who wants to be noble so longer your time in nights. So, I follow the rule to get Sahirul Lail, I believe its all will not useless. However, my sleep time decrease, I used up almost my energy to study, it’s all right. I do all of these with joyful, with a full of big willingness. 

Medical Surgical Nursing, Pediatric Nursing, and Maternity Nursing are some kind of not easy subject for this term. So I must take and give my biggest effort to get the best score in this final exam. 

Alhamdulillah, Allah always give help when I get in trouble about these things. I have very best friends that we are all together learning this subject. We discuses all materials and also helps each others to understanding the subject. It’s all really helpful, that’s way I love my friends and the togetherness with them. They can not be replaced. I hope that we will graduate together from Faculty of Nursing, Universitas Indonesia in next year, yeah August 2011 as Bachelor of Nursing.


Cannot wait until the day!! Still a lot of struggle to reach Balairung UI 2011. Keep spirit guys!!