Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Setiap kali ketemu timbangan rasanya ketar ketir. Pikiran was-was memikirkan,
“Berapa kilo nih sekarang?”
“Naik gak ya?”
“Duh, kalau masih kurang gimana ni? Aih, kenapa segini-gini aja, padahal makan banyak.”
Walau emang sih, kadang gak doyan makan juga. Aduh mumetnya kepala rasanya...
Begitulah perasaan para ibu setiap kali mengajak anaknya pergi ke Posyandu untuk mengukur berat dan tinggi badan.



Merasakan hal yang sama? Tosss dulu yha.... Kita sama, senasib dalam memikirkan kenapa berat badan diri eh anak kita segitu aja dan minimalis banget naiknya.

Alhamdulillah, dalam peringatan Hari Gizi Nasional kemarin saya berkesempatan hadir untuk mengupas tuntas masalah berat badan anak. Nah, sekarang saya akan berbagi rahasia mengenai berat badan anak. Semoga setelah membaca ini dapat menghempas segala rasa cemas, penasaran dan berbagai alasan di balik misteri berat anak yang kadang sulit naik.

Salah satu indikator anak sehat adalah meningkatnya berat dan tinggi badan sesuai standar minimal. Sayangnya, merujuk pada hasil Riset Kesehatan Dasar  (RISKESDAS) tahun 2018 terdapat 17.7% balita yang mengalami berat badan kurang (underweight) dan berat badan sangat kurang (severe underweight). Ini menunjukkan bahwa berat badan kurang pada anak masih menjadi masalah bersama baik bagi orang tua maupun negara.



Lantas, kenapa jadi masalah negara juga? Anak-anak dengan berat badan yang kurang berpotensi memiliki gangguan tumbuh kembang hingga nanti pada saat dewasa dapat mengalami penurunan performa kerja, kecerdasan serta masalah kesehatan lainnya. Dampak jangka panjang yang begitu berpengaruh untuk kelangsungan sumber daya manusia di Indonesia.

Inilah alasan mengapa kebutuhan nutrisi seorang anak menjadi penting untuk dipenuhi. Anak membutuhkan nutrisi untuk aktivitas (energi), tumbuh kembang (menjadi dewasa), pemulihan serta menjalankan fungsin tubuhnya. Hal ini berbeda dengan orang dewasa yang tidak akan mengalami proses tumbuh kembang lagi. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi anak.

Kebutuhan nutrisi yang seimbang ditandai dengan adanya peningkatan berat dan tinggi badan. Pemantauan berat badan, tinggi badan serta lingkar kepala dapat dilakukan orang tua minimal 8 kali dalam setahun sebagai upaya deteksi dini masalah pertumbuhan. Hasil pemeriksaan dimasukkan ke dalam grafik standar sesuai WHO. Nah, dari hasil inilah kita dapat mengetahui status gizi anak, apakah baik, kurang atau berlebih.
Selama BB anak dalam grafik antara 2 dan -2 tandanya anak bergizi baik


Anak belum bisa memilih sendiri makanan mana yang baik untuk mereka makan. Nah, disinilah tugas  orang tua menjadi penentu untuk memilih asupan yang sehat dan pola makan yang baik bagi anak. Adapun komponen gizi yang harus ada pada makanan diantaranya, karbohidrat, protein hewani dan ikan, kacang-kacangan, buah dan sayuran serta lemak dan susu. Inilah asal dari menu empat bintang pada MPASI. Jadi, sejak dimulainya MPASI hingga anak makan makanan keluarga keempat komponen zat gizi ini harus selalu ada dalam satu piring makan.

Dokter Conny Tanjung Sp.A(K) juga mengungkapkan bahwa orang tua perlu memiliki kesadaran akan masalah berat badan kurang pada anak. Segeralah mencari bantuan dari tenaga kesehatan untuk memperbaiki status gizi anak. 

dr. Conny Sp.A(K)

Saya sendiri juga mengalami betapa pusingnya kepala ketika berat badan anak tidak bertambah. Ditambah pula menghadapi banyaknya trik beralasan tidak bisa menghabiskan makanan atau tidak mau makan. Ini sudah seperti masalah nasional seluruh ibu yaitu membuat anak mau makan hingga berat badan sesuai standar. Facing the same problems? Yes, we are.

Saat diskusi bersama kemarin, Psikolog Ajeng Raviando mengungkapkan bahwa menjadi orang tua baru pastinya akan mengalami perubahan. Perubahan-perubahan ini terjadi pada emosi dan hubungan sosial. Penyesuaian emosi seperti perasaan senang, cemas dan iri timbul saat melihat kondisi orang tua atau anak lain. Ini kadang menimbulkan rasa takut tidak bisa menjadi orangtua yang baik. Perubahan hubungan sosial misalnya frustrasi atas hilangnya kebebasan pribadi dan bertambahnya tanggung jawab baru serta adanya perasaan lebih menghargai orang tua.


Ajeng Raviando

Orang tua milenial membutuhkan banyak energi untuk mengasuh anak. Penting bagi orang tua memberikan makanan bergizi bagi anak-anak. Realitanya? Bhay… Perkara makan makanan bagi anak tidak semudah itu. Ada anak yang pemilih, ada yang tidak mau mencoba makanan baru, dan segudang alasan di balik penolakan terhadap makanan. Belum lagi kebutuhan finansial yang meningkat tentunya turut menambah daftar penyebab sakit kepala.


Pertanyaan-pertanyaan mengenai berat badan cenderung dihindari orang tua agar tidak menjadi beban psikologis. Padahal penting bagi orang tua berperan aktif untuk mencari solusi yang bijak terhadap masalah berat anak. Ada peran besar orang tua dalam memberikan teladan pola makan yang sehat dan baik di rumah.


Masalah berat badan yang kurang ideal biasanya disebabkan dari luar dan dalam tubuh anak. Penyebab dari luar misalnya makanan yang kurang disukai (picky eater), pemberian makanan yang kurang lengkap gizinya serta adanya infeksi. Sedangkan penyebab dari dalam biasanya disebabkan pengaruh genetik warisan orang tua dan kesehatan tubuh anak seperti ada masalah pada gigi, mulut dan saluran cerna.

Nah, orang tua harus jeli melihat kondisi anak. Apa yang menyebabkan anak tidak berminat makan? Makanankah atau kondisi tubuh anak? Orang tua dapat melakukan tips singkat ini untuk membuat anak  bahagia dengan aktivitas makan sehingga dapat meningkatkan berat anak.

  1. Jangan menyerah mengenalkan jenis makanan baru yang mungkin harus ditawarkan 10-15 kali sampai anak mau memakannya.
  2. Makan terjadwal dengan tidak memberikan makanan manis (baik minuman berupa jus, susu atau kue-kue) sebelum waktu makan.
  3. Berikan menu yang tinggi protein, kalori dan zat besi.
  4. Mematikan segala jenis gawai (TV, Ponsel, Komputer) yang bisa mengalihkan perhatian saat jam makan.
  5. Berikan contoh kebiasaan pola makan yang baik di rumah.
  6. Berikan kalimat-kalimat positif tentang makanan agar tertanam afirmasi yang baik pada anak.

Awalnya memang tidak mudah bagi orang tua membiasakan tips di atas. Seiring pembiasaan dan penjelasan yang diberikan pada anak, lama kelamaan anak bisa menyerap dan memahami bahwa makan yang sehat adalah untuk kebaikan dirinya.

 

Peringatan Hari Gizi Nasional menyadarkan kembali kita akan pentingnya memenuhi gizi anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Dalam mendukung kampanye kesadaran gizi dalam keluarga, Danone menyediakan platform website www.cekberatanak.co.id. Dengan begitu, orang tua diharapkan lebih mudah untuk memantau berat badan anak dari mana saja dan kapan saja. Jadi, jangan takut konsultasi ke tenaga kesehatan untuk menyelesaikan masalah berat badan anak yang kurang. Tidak lain dan tidak bukan adalah demi masa depan anak-anak kita.

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”
― Seno Gumira Ajidarma

Sekolah Dasar merupakan tempat pertama kali saya belajar memadukan aneka kata menjadi frasa hingga menghasilkan sebuah potongan cerita. Ya, menulis memang sudah lama dipelajari sejak pendidikan dasar. Bahkan sampai jenjang pendidikan tinggi pun kita harus menghasilkan karya tulis hasil penelitian yang berbasis ilmiah. Eits, tenang saja, tulisan kali ini saya mau cerita tentang cita-cita saya saat kecil yaitu, jadi penulis.


Saya selalu suka pelajaran Bahasa Indonesia. Kamus pun jadi satu buku kesukaan saya sebab saya bisa mengenal banyak kosakata dan maknanya. Selain itu, para penulis yang karyanya tertera di buku teks SMP hingga SMA makin membuat saya keranjingan membaca. Puisi Aku yang selalu muncul menjadi potongan pertanyaan pada soal ujian membuat saya makin tenggelam dalam lautan cinta sastra Indonesia. Tsaah~
Begitu senangnya membaca makin membuat saya berkeinginan menjadi penulis. Apalagi setelah mengenal buku-buku genre lainnya, ah kapan buku saya terbit? Kalau dibayangin doang tanpa eksekusi sih yhaa bhay! Gak akan jadi itu buku, wkwk…

Baca juga: Rahasia Menulis! 

Nah, alhamdulillah akhir pekan lalu saya bisa hadir di acara Blogger Gathering bersama Komunitas ISB yang membahas perkara “Abadikan Karya Melalui Buku”.

Setelah menerjang panasnya ibukota hari itu, saya tiba di kawasan gaul muda-mudi Kuningan dan segera berkumpul dengan rekan-rekan blogger lainnya. Saya berkeliling melihat seluruh peserta yang hadir eh ternyata ada Mbak Nunik Utami yang akan jadi narasumber siang itu. Kalau gitu kita wefie dulu yhaa Mbak...


Bersama Mbak Nunik

Nunik Utami sudah menerbitkan puluhan judul buku mulai dari cerita anak-anak, remaja hingga dewasa baik fiksi maupun non-fiksi. Dunia kepenulisan memang sudah lama dijejaki oleh pemilik blog nunikutami.com ini. Kalau melihat karya dan prestasinya yang dipajang di blog tersebut duh, jadi jiper akutu! Hahaa.. Ah, senang banget saya bisa menggali ilmu dan pengalaman mbak Nunik langsung pada kesempatan kali ini.

Tanpa panjang lebar ini dia tips menerbitkan tulisan kita menjadi buku.

1. Ikut Serta Lomba Menulis
Semakin banyak berlatih maka tulisan akan semaking berkembang. Nah, keberadaan lomba menulis ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana melatih kapasitas menulis kita. Alhamdulillah, kalau menang itu tandanya tulisan kita sudah dianggap pantas dan berkualitas oleh para juri. Jika belum menang, santai saja, masukkan pengalaman ikut loba sebagai penambah jam terbang.

2. Ikut Workshop Menulis
Bergabung dalam komunitas blogger tentu membuat kita makin terpapar dengan tulisan yang beraneka macam kualitasnya. Biasanya komunitas pun mengadakan workshop kepenulisan untuk para anggota tentunya supaya tulisan lebih nyaman dibaca. Ikut saja siapapun narasumbernya, yang pasti dari pengalaman orang lain kita akan dapat pelajaran berharga mengenai kepenulisan.

3. Lawan Penyakit Rendah Diri
Kepercayaan diri yang cenderung rendah adalah penyakit mematikan seorang penulis. Kekhawatiran berlebih akan karya yang kurang bagus, aneh atau pikiran buruk sangka “mana ada yang mau nerbitin karya saya” harus dibuang jauh-jauh sampai Timbuktu ya gaes!! Jika masih ragu akan karya kita boleh meminta saran dan kritik dari orang-orang terdekat (apalagi kalau punya teman yang sudah pernah nerbitin bukunya duluan) sebelum dikirim ke penerbit. Pokoknya jangan ragu mencoba mengirim karya kita.

4. Tuliskan Cerita yang berbeda
Cerita cinta banyak, cerita sedih banyak namun apa yang membedakan? Itu dia celahnya, kita harus tahu karakteristik pembaca (calon) buku kita. Ini penting untuk mengetahui bagaimana kira-kira respon pembaca. Pembaca tentu sudah biasa baca tema ini itu, tapi pastikan ada ciri khas yang luar biasa dalam tulisan kita. Inilah yang akan membuat tulisan kita diingat pembaca baik itu bersumber dari pengalaman pribadi atau orang lain. Kalau kata Toni Morrison mah begini gaes,



“If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it.”
― Toni Morrison
5. Menulislah sampai selesai
Kebiasaan yang agak merugikan adalah “kebanyakan bikin draft tulisan tapi tidak kunjung diselesaikan” yhahaa… Ini adalah musuh para penulis termasuk saya wkwk… Mbak Nunik berpesan untuk fokus menyelesaikan satu naskah terlebih dahulu lalu dilanjutkan menulis yang lain.

Penulis yang juga trainer penulisan ini mengungkapkan bahwa di era media sosial ini memudahkan penulis dapat langsung dipinang oleh penerbit. Biasanya tulisan kita dilihat oleh penerbit sendiri di platform menulis seperti Wattpad, Facebook atau Instagram. Padahal dulu mah biasanya penulis mengajukan diri ke penerbit sekarang bahkan penulis yang ditawarkan untuk menerbitkan buku. Ah, enak banget-lah zaman now yha~

Saya pun mengetahui beberapa penulis yang menerbitkan buku dari status Facebook dan cerita di Wattpad. Kumpulan kisah-kisah itu tertuang hingga bisa dibukukan membuktikan kekuatan platform media sosial bagi seorang penulis. Jadi, boleh saja kita menggunakan sarana digital yang ada siapa tahu tulisan kita ditawarkan untuk diterbitkan juga lho.

/

Jika kita sudah mengirim naskah ke penerbit mayor maka tunggulah hingga tiga bulan lamanya sampai ada jawaban. Jika belum kita wajib menanyakan pada penerbit, misalnya naskah memang ditolak maka kita bisa menariknya untuk diajukan ke penerbit lain. Satu yang penting juga, jangan pernah mengirim satu naskah ke beberapa penerbit sekaligus, bisa kacau kalau semuanya menerbitkan.

Kalau kamu ingin menerbitkan buku dengan cara berbeda kamu bisa memilih penerbit indie untuk mencobanya. Saat ini sudah ada beberapa penerbit indie yang bermunculan dengan buku-buku yang tak kalah berkualitas dengan penerbit mayor. Hanya saja memang pemasaran buku penerbit indie kita sendiri yang melakukannya juga karena itulah  disebut self publishing.

Pengalaman menulis blog yang masih belum rajin-rajin banget membuat saya jadi mengevaluasi diri. Apakah strategi efektif agar semakin produktif menulis blog dan juga cerita-cerita yang ingin diterbitkan? Kadang saya merasa sulit berkonsentrasi saat menulis. Outline tulisan sudah ada, hanya saja kok rasanya lamaaaa banget menyelesaikannya.

Kebetulan kumpul blogger kali ini juga menghadirkan narasumber dari CNI. Bapak Gusti sebagai pembaca acara juga Ibu Asti memaparkan risiko anemia disebabkan rendahnya kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah yang dapat mengintai siapa saja. Wah, beruntungnya saya dapat penyegaran mengenai kesehatan juga siang itu. Ternyata seringkali anemia tidak disadari tanda dan gejalanya. Pantas saja, data dari RISKESDAS Kemenkes 2018 menunjukkan ada peningkatan masalah anemia pada ibu hamil pada tahun 2018 menjadi 48.9% padahal sebelumnya pada tahun 2013 kasus ini sebesar 37.1%.

Hemoglobin bekerja membawa oksigen ke seluruh tubuh. Oleh sebab itu, seseorang yang kadar Hb-nya rendah dapat berisiko terkena masalah kesehatan. Bayangkan saja tubuh kita selalu kekurangan oksigen hingga rasanya mengantuk terus dan sulit berkonsentrasi bagaimana bisa produktif kan? Ini kok jadi mirip dengan yang saya alami. Hmm… sepertinya saya perlu juga untuk cek Hb ke dokter.

Ada satu produk dari CNI yang dapat membantu memenuhi nutrisi untuk mencegah anemia yaitu, CNI-Sun Chlorella. Si tablet kecil hijau ini berasal dari ganggang hijau air tawar Chlorella pyrenoidosa. Sebelum menjadi tablet siap minum, dinding sel ganggang hijau dipecahkan dahulu agar kandungannya dapat diserap oleh tubuh.

Kandungan Sun Chlorella
Tidak tanggung-tanggung ternyata meskipun ukurannya kecil Sun Chlorella kaya akan zat gizi  seperti protein, vitamin dan mineral. Selain itu, terdapat juga klorofil yang ternyata dapat meningkatkan produksi sel darah merah sehingga dapat mencegah anemia. Bagi kita yang kadang merasa stress “kok realita rasanya pahit dibandingkan Feed Instagram yang begitu indah” cocok nih mengonsumsi Sun Chlorella sebab kandungan Chlorella Growth Factor (CGF) dapat meningkatkan perbaikan dan peremajaan sel tubuh agar tidak lekas usang karena stress.

Sungguh menjaga kesehatan tubuh itu lebih baik dari mengobati. Kehadiran Sun Chlorella menjadi solusi agar tetap sehat dan semangat menjalani aktivitas serta merealisasikan cita-cita kita.

Jadi, kapan nih buku saya terbit? Mohon doanya yaaa semua supaya saya semangat terus menulis di blog terutama, hahaha… Pastinya saya bakal susun strategi baru untuk mewujudkan cita-cita saya sejak kecil ini sebab dengan menulis kita belajar menangkap momen kehidupan ya kan? 

Full Squad of ISBxCNI







“Kok, kita bisa pipis?”

“Karena kita diberi satu bagian tubuh yang bekerja mengeluarkan pipis, namanya ginjal”

“Ginjal itu kayak apa?”

Sang ibu pun mengambil kertas lalu menggambar dua buah benda yang berbentuk seperti kacang.

“Seperti kacang ini, besarnya seukuran kepalan tangan kita. Nanti jika kamu mau belajar lagi kita bisa pergi ke museum tubuh manusia ya”



Ginjal memang hanya sekepalan tangan (sekitar 10 cm) besarnya. Di balik ukurannya yang begitu kecil terdapat jutaan sel yang bekerja menyaring darah menjadi urin. Selain itu, ginjal juga menjaga keseimbangan garam dan mineral dalam darah serta mengatur tekanan darah dan memproduksi sel darah merah.¹


Fungsi Ginjal sumber: p2ptmkemenkes

Lalu, apa yang terjadi jika sang buah pinggang ini mengalami gangguan?

Gangguan pada ginjal akan menyebabkan timbulnya masalah pada proses pengeluaran cairan (urin) serta turut mengganggu kerja organ tubuh lainnya. Gangguan ginjal menjadi masalah kesehatan yang cukup berat sebab dapat menurunkan kualitas hidup seorang manusia.

Gangguan Ginjal pada Anak

Jika dilihat dari permulaan serangannya terdapat dua jenis gangguan ginjal yaitu, gangguan ginjal akut dan kronis. Gangguan ginjal akut biasanya timbul mendadak dan terjadi dalam waktu singkat. Berbeda dengan akut, gangguan ginjal kronik disebabkan adanya gangguan struktur atau fungsi ginjal dalam waktu lebih dari tiga bulan. Itulah pemaparan dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp. A(K) yang merupakan dokter spesialis Anak divisi Nefrologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) RSCM.

Penjelasan selanjutnya dari dokter Eka membuat saya tercengang. Ternyata gangguan ginjal yang lebih banyak dialami oleh orang dewasa pun dapat menyerang anak-anak. Ah, sungguh tidak terbayang bagaimana beratnya tubuh-tubuh kecil itu harus menjalani pengobatan berupa cuci darah dengan menggunakan mesin.

Mesin Hemodialisis


Di Amerika Serikat, sebanyak 9.800 anak mengalami gangguan ginjal kronik pada tahun 2017. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan padahal sebelumnya pada tahun 2015 tercatat ada 1.399 anak mengalami gagal ginjal.²

 Lalu, bagaimana kondisi di Indonesia? Sayangnya, belum terdapat data nasional yang menyeluruh mengenai kejadian gangguan ginjal anak. Meskipun begitu, dari 14 Rumah Sakit Pendidikan yang memiliki Konsultan Nefrologi ditemukan sebanyak 212 anak mengalami gangguan ginjal dan menjalani terapi pengganti ginjal.

Begitu berbahayanya gangguan ginjal pada anak sampai-sampai mereka harus menjalani terapi pengganti ginjal baik berupa hemodialisis ataupun transplantasi ginjal. Di Indonesia sendiri, perawatan hemodialisis anak dengan gangguan ginjal baru terdapat di RSCM, Jakarta. Sepanjang tahun 2007 sampai 2009 sebanyak 150 pasien anak mengalami gangguan ginjal kronik yang mengharuskan mereka menjalani hemodialisis.

Penyebab Gangguan Ginjal Anak

Lantas, apa sajakah penyebab gangguan ginjal anak? Secara anatomi, penyebab gangguan ginjal dapat terjadi ketika darah sebelum masuk ke ginjal (fase pra-renal), saat darah diproses dalam ginjal (fase renal) dan saat urin akan dikeluarkan dari ginjal (fase pasca-renal). Ketiganya menyebabkan gangguan proses penyaringan darah menjadi urin yang dikerjakan ginjal.


Anatomi Ginjal
Dehidrasi dan infeksi menjadi penyebab gangguan pra-renal yang sering terjadi. Sedangkan, glomerulonefritis (peradangan pembuluh nefron), kelainan pada pembuluh darah ginjal serta kerusakan pada struktur ginjal termasuk dalam penyebab masalah pada fase renal. Kelainan bawaan lahir pada saluran kemih dan adanya sumbatan pada saluran kemih merupakan penyebab gangguan ginjal fase pasca renal.

Kedua ginjal menyaring sebanyak 120-150 liter darah selama 24 jam dan menghasilkan sekitar 1-1.5 liter urin per hari. Lalu, bagaimana kita tahu tanda adanya masalah penyaringan sebanyak 180 liter darah ini? Tanda awal adanya gangguan ginjal yang masih ringan memang belum begitu terlihat. Biasanya jika dilakukan pemeriksaan laboratorium akan ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih dan protein pada urin serta adanya darah pada urin. Sedangkan secara fisik akan timbul penurunan produksi urin (BAK sedikit), bengkak pada kedua kaki, anemia, demam, sesak nafas, serta adanya kelainan tulang dan pertumbuhan.

Mendengar uraian ini membuat hati saya diliputi awan mendung. Tak terbayang bagaimana tubuh-tubuh kecil itu merasakan sakit sambil bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan berbagai pemeriksaan. Tak cukup sampai di situ, mereka pun harus menghadapi hari bersama mesin hemodialisis dua kali seminggu.

Oleh sebab itu, tak heran gangguan ginjal pada anak akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan si anak. Selain itu, masalah kesehatan lainnya pun dapat muncul seperti anemia, hipertensi serta gangguan hormon dan elektrolit. Ketika seorang anak sakit, maka kedua orangtuanya pun terkena dampak dari penyakit tersebut. Kecemasan terhadap proses pengobatan dan kondisi finansial keluarga seringkali menghinggapi para orang tua yang memiliki anak dengan gangguan ginjal.

Pada kesempatan ini saya juga bertemu dengan keluarga penyintas (survivor) gangguan ginjal, yang memiliki seorang putri bernama Viara Hikmatunnisa. Keluarga Viara berasal dari Situbondo. Ketika didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodialisis, keluarga ini jauh-jauh pergi ke sebuah RS di Surabaya. Beberapa kali proses hemodialisis ternyata mesinnya memang kurang cocok untuk anak-anak. Sang Ayah pun mencari tahu lagi tempat hemodialisis khusus pasien anak hingga akhirnya keluarga ini menyambangi ibukota menuju fasilitas rujukan utama nasional di RSCM.

Viara dan keluarga

Kondisi Viara berangsur membaik selama proses perawatan di RSCM. Ia pun tetap memiliki semangat yang begitu tinggi untuk sehat. Viara bahkan berani memulai bisnis online-nya walau kondisinya memerlukan hemodialisis.

Viara sedang hemodialisis sambil menggambar

Mendengar langsung kondisi Viara dari cerita Ayahnya sudah cukup membuat saya cemas. Masalahnya gangguan ginjal anak bisa menyerang siapapun yang berisiko. Walaupun tidak selalu dapat dicegah, kita masih bisa mengupayakan beberapa hal untuk menurunkan risiko terjadinya gangguan ginjal pada anak-anak kita. Beberapa hal ini dapat kita upayakan untuk mencegahnya:

1. Cegah dehidrasi pada anak, terutama saat diare atau muntah.
2. Hindari risiko penularan infeksi, termasuk saat kehamilan
3. Orang tua dapat melakukan konseling genetik untuk mencegah penyakit ginjal keturunan
4. Deteksi dini hipertensi dan diabetes pada anak

Kurangi Risiko Penyakit ginjal sumber: P2ptmkemenkes

Adapun bagi anak-anak yang sudah didiagnosis mengalami gangguan ginjal, pencegahan dilakukan untuk menghindari komplikasi dari proses penyakit ginjal yang telah dialami. Hal ini patutnya menjadikan para orang tua untuk lebih waspada terhadap kondisi anak. Terlebih anak balita yang agak sulit diajak minum air putih. Kebutuhan cairan anak di atas 1 tahun adalah sekitar 80-90cc/ Kg BB, misalnya berat anak 3 tahun 14 kg maka kebutuhan cairan adalah sekitar 1210-1260 cc per hari.

Kementerian Kesehatan RI juga semakin giat mengadakan rangkaian kegiatan promotif dan preventif. Kegiatan ini meliputi sosialisasi informasi tentang gangguan ginjal pada anak; serta pencanangan Gerakan Ayo Minum Air (AMIR). Mengingat kita juga tinggal di negara tropis yang selalu bertemu matahari sepanjang tahun dengan melaksanakan Gerakan Ayo Minum Air kita dapat mencegah risiko gangguan ginjal.

AMIR Ayo Minum Air

“Peningkatan gaya hidup sehat juga perlu dilakukan untuk siapapun baik dewasa maupun anak. Bagi mereka yang sehat Kemenkes mengajak untuk berperilaku CERDIK, sedangkan bagi yang sudah terkena penyakit tidak menular untuk berperilaku PATUH.” terang dokter Cut Putri Arianie, MH.Kes, selaku direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PTM) yang juga menutup diskusi siang itu.

CERDIK PATUH

Sebagai orang tua, saya yakin kita selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Ketika mereka sakit kadang kita ingin sakitnya itu diberikan pada orang tuanya saja. Pengalaman Viara dan keluarganya ini memberikan pandangan baru bagi saya, bahwa kondisi sakit tidak boleh membuat kita putus asa. Terima kasih Viara dan keluarga.
Narasumber

Blogger with Viara






Referensi:
1. Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. CDC. Chronic kidney disease surveillance system: almost 10.000 chldren and adolescents in United States are living with end-stage renal disease [internet] 2017 Jul. Available from: https://nccd.cdc.gov/ckd/AreYouAware.aspx?emailDate=July_2017.

Gambar:
1. Anatomi Ginjal dari Hall JE. Bab 26. The urinary system: functional anatomy and urine formation by the kidneys. Dalam: Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Edisi ke-13. PA: Elsevier; 2016.

2. Mesin Dialisis dari  https://www.freseniusmedicalcare.com/en/media/news/details/detail/News/fresenius-medical-care-launches-6008-caresystem-a-new-hemodialysis-therapy-system-enabling-better-care-for-chronic-patients/


Suara jantung yang terdengar dari stetoskop kecil ini bukanlah “lub” dan “dub” sebagaimana debaran dari rongga dada kita. Ada suara lain yang menyertai jantung kecil ini ketika memompa. Suara berbisik, suara yang berbicara untuk menyampaikan sesuatu. Sayangnya, suara-suara ini bukan menyampaikan berita baik melainkan sebuah tanda kelainan. Kelainan? Kelainan apa yang dimaksud? Kelainan Jantung Bawaan atau dalam istilah medis biasa disebut Penyakit Jantung Bawaan (PJB). 

Imaged by F. Annisa


Kebahagiaan pasangan yang menjadi orang tua tentu membuncah ketika melihat buah cintanya terlahir dalam kondisi sempurna dan sehat. Namun, siapa yang mengira manusia kecil yang baru belajar bernafas dengan paru-parunya ini harus berjuang lagi melawan kelainan pada jantungnya. 



Hari Jantung Sedunia memang masih sepekan lagi, tapi saya beruntung berkesempatan memahami satu masalah kesehatan jantung lebih mendalam. Saya dan teman-teman narablog menghadiri talkshow “Heart to Heart Risiko Genetik dan Manajemen Nutrisi Penyakit Jantung Bawaan pada anak yang diselenggarakan oleh Nutricia Advanced Medical Nutrition, Danone Indonesia . Tidak tanggung-tanggung, narasumber yang hadir pun begitu mumpuni di bidang kesehatan anak yaitu, dr. Dedi Wilson, Sp.A(K) dan dr. Klara Yuliarti Sp.A(K). Salam takzim saya pada beliau-beliau yang sungguh berdedikasi tinggi berjuang untuk kesehatan anak-anak Indonesia.   


Apakah kamu tahu terdapat 50.000 kasus PJB di Indonesia setiap tahunnya? Bahkan 30 persen kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) ini tidak terdeteksi saat lahir. Masalah kesehatan jantung anak memang kurang populer dibanding masalah infeksi. Nah, inilah kesadaran yang perlu kita bangun, bahwa masalah kesehatan jantung anak pun sama pentingnya dengan penyakit lain. Lalu, apakah sebenarnya PJB ini?


dr. Dedi Wilson Sp.A(K)

Semua yang sudah menjadi orang tua mungkin ingat bahwa jantung anak kita sudah mulai berdetak sejak usianya  6 minggu. Bertambahnya usia kehamilan membuat detak jantung janin makin jelas. Biasanya pada usia kehamilan 10-12 minggu suara jantung janin dapat terdengar saat pemeriksaan USG Fetal Doppler. Nah, kelainan bentuk jantung atau fungsi sirkulasi jantung pada fase awal perkembangan janin inilah yang menjadi cikal bakal PJB dan akhirnya bayi yang lahir pun menderita PJB.

“Penyebab pasti dari PJB ini tidak diketahui” jelas dr. Dedi. Beliau pun melanjutkan bahwa hanya ada faktor risiko yang diduga dapat menjadi penyebab terjadinya PJB. Ketiga faktor risiko ini dapat berasal dari lingkungan seperti paparan zat kimia dan radiasi. Lalu, dua lainnya berasal dari janin dan ibu. Misalnya pada janin terdapat kelainan kromosom dan pada ibu terdapat infeksi virus, diabetes, lupus sistemik, obat serta alkohol.

Kelainan kromosom pada janin memang menjadi risiko tinggi. Contohnya 50 persen pada bayi yang terlahir dengan sindrom Down (trisomi 21) biasanya disertai juga dengan PJB. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melakukan deteksi dini PJB pada bayi baru lahir. Pemeriksaan suara jantung, kadar oksigen darah (saturasi), denyut nadi serta ekokardiografi dilakukan untuk deteksi dini kondisi bayi.

Imaged by F. Annisa

Lalu, apakah bisa mendeteksinya saat belum lahir? Sebenarnya bisa dilakukan pemeriksaan Fetal Echo, mengecek kondisi jantung janin dari perut ibu. Namun, pemeriksaan dikhawatirkan kurang akurat sebab banyak bagian yang harus ditembus alat tersebut mulai dari rahim ibu, air ketuban, serta dada janin.

Kalau mendengar istilah jantung bocor mungkin kita akan membayangkan jantung seperti rumah yang atapnya bocor saat hujan turun. Benar, PJB ini mirip-mirip dengan rumah yang kebocoran. Kalau pada jantung normal terdapat empat kamar dengan masing-masing pintu. Lain halnya dengan jantung anak yang PJB, ada sekat yang seharusnya tertutup malah justru terbuka. Sekat terbuka ini menyebabkan darah bersih yang kaya oksigen tercampur dengan darah yang miskin oksigen. Nah, kalau begitu urusan kebutuhan oksigen seluruh tubuh pasti terganggu. Masalah ini yang memberi efek domino untuk pertumbuhan dan perkembangan anak kedepannya.

Jantung Normal dengan 4 ruang




PJB ASD terdapat sekat antar atrium kanan dan kiri di bagian atas Sumber: Stanfordhealthcare


Terdapat lebih dari 34 jenis PJB yang sudah diidentifikasi berdasarkan letak dan tingkat keparahannya. Berdasarkan ciri yang terlihat terdapat dua jenis PJB, yakni non-sianotik (tidak terlihat biru) dan sianotik (terlihat biru pada area bibir, kuku dan kulit).



dr. Klara Sp.A(K)

Kedua jenis PJB ini sama-sama menyebabkan malnutrisi (gangguan nutrisi) pada anak. Misalnya pada anak PJB asianotik, bermasalah dalam berat badan yang sulit naik. Sedangkan, PJB sianotik berpengaruh pada berat badan dan tinggi badan (menjadi stunting) sehingga anak tampak lebih kecil dari anak seusianya. Oleh sebab itu, jika anak dengan PJB tidak mendapat penanganan nutrisi yang baik maka akan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan serta perkembangan.


Penjelasan dr. Klara Yuliarti semakin membuka mata saya. Dokter spesialis anak dengan subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik ini menambahkan bahwa kasus malnutrisi pada anak mencapai 70 persen. Angka ini berarti mayoritas anak dengan PJB mengalami malnutrisi sehingga diperlukan asupan nutrisi yang agresif dan makanan tinggi kalori. Selain itu, pemberian nutrisi langsung ke lambung (enteral) dan pembuluh darah (parenteral) yang tepat serta pemantauan rutin pada grafik pertumbuhan dapat menghindarkan anak dengan PJB dari kondisi yang memperburuk kesehatannya yaitu, malnutrisi dan stunting.


Anak-anak dengan PJB mengalami malnutrisi disebabkan oleh asupan kalori yang tidak cukup, adanya peningkatan kebutuhan energi, infeksi nafas berulang serta kekurangan oksigen. Dampak malnutrisi yang terlihat cepat misalnya kekebalan tubuh menurun, penyembuhan luka yang lama serta memperpanjang lama rawat. Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah gangguan perkembangan kognitif yang permanen. Ini disebabkan 80 persen perkembangan otak terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan atau sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Mencegah malnutrisi pada anak PJB dapat dilakukan dengan memantau berat dan tinggi badan serta melakukan intervensi terhadap masalah nutrisi anak. Selain itu, diperlukan juga pencegahan infeksi bagi anak dengan PJB. Hal ini disebabkan infeksi yang terjadi pada anak PJB dapat berakibat fatal seperti radang selaput jantung (endokarditis). Anak PJB tetap dapat menerima vaksinasi dengan beberapa syarat seperti tidak vaksin 3-4 minggu sebelum atau sesudah operasi serta kondisi khusus pemberian vaksin hidup harus melalui pengecekan kekebalan tubuh dahulu.

Manajemen Pencegahan Malnutrisi  dan Infeksi Anak PJB
  1. Berikan camilan yang mengandung protein, karbohidrat, lemak (bukan buah atau karbohidrat saja) misalnya martabak manis, roti daging, puding susu.
  2. Selalu pantau grafik pertumbuhan (berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala)
  3. Seringkali diperlukan makanan tinggi kalori atau formula medis khusus sesuai indikasi medis.
  4. Hindari tempat yang ramai.
  5. Cuci tangan teratur.
  6. Perawatan gigi yang baik (sikat gigi teratur dan kontrol ke dokter gigi).
  7. Memakai antibiotik sesuai indikasi.
  8. Lengkapi imunisasi yang dianjurkan.
  9. Diskusikan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi anak guna mencegah obesitas dan diabetes melitus

Anak dengan PJB memang istimewa. Keistimewaan inilah yang membuatnya memiliki kekuatan dan cinta dari keluarga serta tenaga kesehatan yang mendukung. Meskipun pulang ke rumah berarti akan ada kontrol ke poliklinik selanjutnya, pengecekan kondisi berikutnya, serta tindakan-tindakan medis lainnya anak dengan PJB sudah menjadi pejuang bersama jantung kecil mereka.


Saya sungguh salut dengan keluarga-keluarga dengan anak PJB yang tergabung dalam Little Heart Community (LHC). Mendengar cerita teman-teman dari komunitas ini sungguh membuka pikiran saya bahwa begitu besar perjuangan anak-anak PJB untuk tetap sehat. Pada pertemuan ini pun saya memahami kesadaran untuk mencegah malnutrisi pada anak PJB memang perlu ditingkatkan, tidak lain adalah demi masa depan anak-anak ini.

Terima kasih wahai pemilik jantung-jantung kecil,
Kalian adalah bukti bahwa cinta, kekuatan dan doa dapat mengubah segalanya.
Bahwa jantung-jantung titipan Allah ini adalah bukti kekuasaannya.
Semoga anak-anak dengan PJB nantinya dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat.







Referensi Gambar:
https://stanfordhealthcare.org


[Sponsored Post]



Melihat timbangan dan alat ukur tinggi di Posyandu membuatku merasa ketar-ketir. Jantung berdebar, harap-harap cemas apakah berat dan tinggi badan anakku akan berada pada garis normal atau kurang. Ya, kurang berat dan tinggi badan yang memang tidak sehat bahkan berbahaya bagi masa depan anakku. Lantas, ibu manakah di dunia ini yang ingin anaknya terkena stunting? Kurasa tidak ada yang mau jika mereka tahu dan mengerti akibat buruk dari stunting.





Ilustrasi cerita tersebut adalah pengalaman nyata saya sendiri ketika menjadi ibu dari bayi berusia 4 bulan. Pada saat itu, putri saya memiliki kesulitan menyusui sehingga selain menyusui langsung saya harus memompa air susu ibu (ASI) saya lalu memberikannya kembali pada bayi saya. Berat? Wah, jelas gak usah ditanya lagi rasanya..

                                                Baca Juga: Pengalaman Relaktasi


Alhamdulillah, kalau bukan karena kuasa Allah yang maha baik saya mungkin sudah menyerah dalam memberikan ASI eksklusif. Lalu, putri saya mungkin akan berisiko terkena stunting. Tiga tahun lalu saya sendiri belum banyak mendengar informasi mengenai stunting seperti yang sekarang sudah ramai dikampanyekan Kementerian Kesehatan. Oleh sebab itu, saya mau menceritakan mengenai dampak stunting bagi masa depan anak-anak dan negeri kita.


Bertempat di Jakarta, Tempo mengadakan acara Ngobrol Tempo dengan tajuk diskusi “Bibit Unggul untuk Indonesia Hebat: Mencegah Stunting, Meningkatkan Daya Saing Bangsa”. Diskusi kali ini bukan cuma membahas stunting dari sudut pandang kesehatan saja tetapi juga sisi ekonomi nasional. Dengan begitu, diharapkan masyarakat memahami dampak stunting yang ternyata begitu besar bagi negara.




Narasumber diskusi kali ini diantaranya Fasli Jalal yang merupakan Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesian (PDGMI), Sri Enny Hartati Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) serta Iing Mursalin sebagai Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi berbasis Masyarakat untuk mengurangi Stunting (PKGBM) Millenium Challenge Corporation (MCA) Indonesia. Selain itu, hadir pula Yanuar Nugroho selaku Deputi II Kepala Staf Kepresidenan.


Menurut PBB, kasus gagal tumbuh/ perawakan pendek (stunting) terjadi akibat kurang gizi kronik. Diawali dari indikator gizi yang hanya dilihat dari perbandingan berat badan dan usia anak. Ternyata berkembangnya penelitian mengenai pertumbuhan anak menunjukkan bahwa kurang gizi di 1000 hari pertama kehidupan akan berdampak pula bagi perkembangan dan fungsi otak. Kemampuan intelektual anak yang stunting terganggu akibat rendahnya pertumbuhan sel otak di periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000HPK).


Penurunan berat badan anak yang kurang gizi akan dikompensasi dengan penurunan tinggi badan demi mempertahankan status gizi baik. Ketika anak mengalami gizi kurang lalu berat badannya turun maka tubuh akan melakukan adaptasi berupa penurunan tinggi badan. Ini dilakukan tubuh demi memenuhi gizi agar tetap tercukupi tidak. Anak memang tampak baik-baik saja sebab memang dilihat dari berat badan per usia status gizinya cukup.



Gerakan Pemenuhan Gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan diinisiasi oleh Ban Ki Moon (Sekretaris Jendral PBB) sudah berjalan selama 7 tahun. Ada pemaparan yang menarik dari Bapak Fasli Jalal, bahwa selain makanan yang kurang bergizi, ternyata cacingan juga menyumbangkan kekurangan nutrisi anak karena cacing mencuri nutrisi yang dibutuhkan anak. Jadi, walaupun orang tua menyediakan makanan bergizi bagi anak tetapi tidak membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan maka makanan bergizi yang dikonsumsi anak akan dicuri oleh cacing. Lagi-lagi perkara stunting bukan   hanya masalah ekonomi tetapi juga masalah akses kebersihan berupa pendidikan kesehatan dan kebersihan lingkungan.


Sri Enny Hartati Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memaparkan bahwa persoalan pangan merupakan masalah di negeri agraris seperti Indonesia. Faktor sumber daya manusia berkualitas yang salah satunya adalah berkualitas secara fisik. Jika kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka jangan harap negara kita maju.


Masalah kemiskinan dan kesehatan ibarat lingkaran setan dalam masalah ekonomi. Kenapa dia kurang gizi? Karena miskin. Kenapa miskin? Karena kurang pendidikan. Kenapa kurang pendidikan? Karena miskin.. begitu seterusnya.. Jika ini terus dibiarkan maka kehidupan dan daya saing anak cucu kita sulit diharapkan di masa depan.


Narasumber berikutnya adalah Kang Iing Mursalin sebagai Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi berbasis Masyarakat untuk mengurangi Stunting (PKGBM) MCA Indonesia. Ada 3 kegiatan besar yg dilakukan yaitu, kerjasama dengan pemberdayaan masyarakat, kedua peningkatan kapasitas kesehatan dan ketiga kampanye meningkatkan kesadaran gizi.


Tenaga kesehatan di Puskesmas dan kader posyandu diberikan pelatihan untuk memberikan edukasi gizi. Perilaku masyarakat terkait sanitasi yang masih rendah menyumbang juga dalam masalah stunting. Selain itu, anemia yang cenderung tinggi pada ibu hamil juga diintervensi dengan memberikan tambahan zat besi untuk mencegah stunting. Kegiatan melibatkan masyarakat cukup membuat perubahan bermakna dalam mencegah Stunting.


Bagaimana pemerintah memfasilitasi inisiatif gerakan CEGAH STUNTING dinarasikan oleh Yanuar Nugroho selaku Deputi II Kepala Staf Kepresidenan. Jika kita bicara stunting maka sudah dipastikan ini merupakan kondisi struktural. Hal ini mengindikasikan adanya permasalahan sistemik di masyarakat. Dampaknya sudah pasti akan mempengaruhi satu generasi.


Menurut Yanuar Nugroho, Cegah Stunting harus diupayakan secara sistematis dengan kerjasama lintas sektor. Anggaran yang disediakan sepertiga dari daerah dan sepertiga dari pusat dengan desentralisasi dari Pemerintah Daerah. Kita dapat mengupayakan penganan lokal menjadi pemenuh gizi yang utama bukan makanan manis (yang hanya mengandung gula). Indikator yang paling mudah adalah tinggi badan anak untuk dapat diketahui anak tersebut stunting atau tidak.


Selain itu, konseling terhadap pola makan harus dilakukan kepada pengasuh dan orang tua. Sanitasi, akses listrik dan rasio produksi konsumsi merupakan ketiga hal yang menjadi indikator pembangunan untuk mencegah stunting.


Setelah mengikuti diskusi ini saya jadi membayangkan kondisi yang secara fisik seperti jalan rusak, banjir atau tidak adanya akses listrik memang turut menyumbangkan angka stunting pada balita di daerah lain di Indonesia. Sehingga bukan hanya faktor ekonomi seperti ketidakmampuan menyediakan makanan bergizi saja yang menjadi penyebab utama. Selain itu, perlu diperhatikan juga perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan sebelum makan dan memperhatikan kandungan gizi yang dimakan perlu untuk diedukasi kepada orang tua dan pengasuh.

Gizi dan stimulasi perkembangan anak yang tepat akan mampu mengejar ketertinggalan akibat stunting. Ternyata bukan hanya kaya miskin penyebab stunting tapi literasi dan gaya hidup sehat yang minimal di masyarakat. Jadi, jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban stunting!