Showing posts with label mutiara hikmah. Show all posts
Showing posts with label mutiara hikmah. Show all posts
Originally posted on Friday, 25 March 2011 at 22:30

adalah luka yang terjadi pada jaringan kulit (agar smua dapat membayangkan sendiri luka pada kulitnya)..
Terjadi luka, ada perdarahan dan timbul nyeri, lisan pun mengaduh.


Jika seorang dengan kondisi tubuhnya yang normal maka luka akan sembuh secara fisiologis, ya sembuh sendiri, prosesnya tak perlu obat karena memang tak terjadi infeksi, luka bersih

kulit yang rusak mendapatkan nutrisi dan oksigen untuk meregenerasi sel-selnya
dalam waktu dekat luka akan hilang dan tergantikan dengan jaringan baru. Sembuh dan sehat kembali.


Berbeda halnya jika kulit yang luka, terinfeksi bakteri, luka akan mengalami bau tak sedap, serta timbul pus (nanah) juga rasa nyeri yang tidak nyaman.. Maka semakin lama pula luka akan sembuh.



Berbeda lagi jika kamu memiliki DM (Diabetes melitus).. darah terlalu kental akibat dari tingginya kadar glukosa, namun tak mampu diubah untuk makanan sel, sehingga sel klaparan.

Luka yang harusnya butuh banyak makanan (nutrien) jadi tak punya materi agar dapat meregenerasi sel-sel rusak, sel menjadi mati (nekrosis) hingga pada akhirnya terjadilah kematian sel saraf di lokasi luka lalu terbentuklah Gangren (luka hitam, penuh sel-sel mati).

Semua proses itu saya analogikan dengan luka pada perasaan manusia..


Tanpa sadar bisa saja kita membuat luka yang prosesnya harusnya normal, malah menjadi abnormal bahkan menimbulkan penyakit lainnya.

Atau memang kita sendiri yang sudah punya penyakit sehingga karena itulah luka kita tidak bisa sembuh dengan normal.

Saya yakin dengan tubuh yang sehat, luka hati bisa sembuh dengan baik dan normal..


Jika ada luka yang masih juga belum sembuh maka harus diwaspadai ada yang salah pada proses healing-nya.

Setiap proses pemyembuhan luka akan berlangsung sehat, sesuai fitrah normalnya.

adapun yang belum sembuh maka harus diwaspadai terdapat infeksi atau penyakit lain dalam diri kita.


Hari yang ditunggu sudah tiba. Ya, hari-hari dimana saya lepas dari kuliah profesi ners. Meskipun memang sih, belum resmi juga jadi ners. Akan tetapi, perasaan yang melegakan ini pun muncul ibarat mata air di tengah hutan karena memang pada dasarnya mata air itu sudah ada di lokasi yang benar hanya menunggu saatnya tiba memberi manfaat (Halah, apa coba). 

Niatnya sih, cerita ini ingin menceritakan tentang berbagai rasa, asa dan tantangan selama enam bulan ke belakang. Tepatnya, sejak awal bulan Januari 2012. Awal dari gerbong baru dan sisa gerbong-gerbong setelahnya. Mari kita mulai..

Januari hingga Februari saya berjuang di komunitas RW siaga di daerah Pasir Gunung Selatan, Cimanggis, Depok. Dalam komunitas ada banyak hal baru dan hikmah yang saya temukan. Saya dapatkan betapa besarnya peran ibu-ibu rumah tangga yang luar biasa ini untuk kemajuan kesehatan warganya. Ya, ibu RW siaga, ibu RT dan ibu Kader kesehatan di RW yang saya dan teman-teman kelola. 

Para ibu ini merupakan orang-orang terbaik yang dimiliki masyarakat. Ibu pejuang tidak hanya untuk keluarga apalagi dirinya sendiri tetapi berjuang untuk masyarakat di sekitar. Hal ini menyadarkan saya betapa Rasulullah telah mengingatkan “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat”. Dan ya, para ibu ini telah memberikan manfaat untuk kehidupan sesama manusia. Sungguh mulia semua yang diberikan beliau-beliau. Tak ada balasan atas kebaikan, melainkan kebaikan pula. 

Saya belajar bagaimana melakukan pendekatan dengan masyarakat dan para tokoh atau pejabat di RW. Saya pun belajar menghadapi perilaku komunitas dan responnya terhadap masalah, kehadiran saya (yang sedang berperan sebagai calon petugas kesehatan) dan juga motivasi untuk sehat dari masyarakat sendiri. Tak hanya kemudahan, tentulah saya temui juga beberapa kesulitan. Kesulitan untuk beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang unik dan plural, kesulitan menyatukan pendapat puluhan orang, kesulitan mencari ide kegiatan yang kreatif dan juga kesulitan memotivasi warga untuk turut serta dalam kegiatan yang kita rencanakan.

Inilah uniknya keperawatan komunitas, kamu menghadapi klien berisiko untuk sakit, apapun jenis sakitnya, berapapun usianya. Saya harus bisa menghadapi klien dengan masalah penyakit dalam, ibu hamil, lansia dan juga kematian (intinya semua cabang ilmu keperawatan). Berasa aja udah jago semua ilmu, tetap harus baca ulang lagi lah saya, hee.. harus multi-talented kalo jadi perawat komunitas. Well, yeah I did it! Selain itu juga saya dapatkan hal lainnya mengenai keluarga dan orang tua. Hal ini juga turut mengisnpirasi saya dan menambah nilai-nilai kehidupan yang baik untuk diri saya ini. 

Dalam keluarga saya temukan banyak keindahan, tawa dan kabahagiaan. Tak jarang juga saya jadi tempat curhat-nya ibu-ibu ini tentang perilaku anak-anak mereka yang terkadang menyebalkan, bikin kesal tapi juga sering membawa kebahagiaan dan hal lucu dalam rumah. Bertemu pasangan hidup, menikah dan memiliki keluarga adalah impian setiap gadis seperti saya (I guess). Lalu, disinilah terlihat dalam nyata-senyata-nyatanya bahwa membangun keluarga, merawat suami dan anak-anak bukanlah hal mudah bagi seorang wanita. Surely, its need a lot of energy and with love there’s always extra and enough energy to do all. Hal ini membuat saya terharu sekali dan berpikir ulang mengenai keinginan saya menikah kala itu (usia 22, di tahun 2012). Apakah saya benar-benar telah siap untuk menghadapi pernikahan, proses sebelumnya bahkan pasca menikah nanti? Ya, disinilah lagi saya belajar menjadi lebih dewasa. Ya, dengan cara yang Allah berikan. Again, yaa.. segalanya dihubungkan lagi ke hal satu itu (baca: nikahan). Ohoho.. ya beginilah galau spiritual anak manusia :P tapi emang bener kan semua mau berkeluarga? Ayo ngaku yang gak mau? Pasti enggak ada-lah. 

The next insight I got there, was about old family. If I was told in the first it’s about beginning or nuclear family, now I want to talk about elderly family. Ya, keluarga dalam tahap perkembangan lansia dengan pasangan yang memasuki masa pension atau salah satu pasangan meninggal. Keluarga lansia yang saya kelola memiliki sekitar 5-6 orang anak yang semuanya telah berkeluarga. Sang kakek dan nenek tinggal bersama anak perempuannya. Anak-anak lainnya tinggal di rumah yang juga berdekatan, sekitar kurang dari 10 meter. Sang kakek sudah terkena demensia karena usia tuanya, sedangkan nenek memiliki riwayat post stroke, hipertensi dan gangguan berjalan. 

Setiap hari, Ibu (anak perempuannya) merawat keduanya, selain merawat pula dua orang anak yang usia sekolah. Di rumah sederhana tapi penuh kepeduliannya didalamnya, saya diterima dengan baik sekali. Ibu pun bercerita kondisi kakek yang pikun dan lupa apapun, bahkan istrinya sendiri. Kakek mengatakan nenek adalah temannya. Nenek sudah mengerti kondisi kakek yang pikun dan tetap membantu mengurus kakek bersama anaknya. Dan kamu tahu demensia? Sebuah gangguan yang menyebabkan kamu lupa apapun itu, orang lain, keluarga, makan, buang air dan bahkan dirimu sendiri. Betapa terharunya saya melihat bakti sang ibu pada kakek dan nenek (kedua orang tua kandungnya). Tetap dengan baik mau membantu memenuhi kebutuhan sang kakek dan nenek walau dia pun dalam kondisi yang tidak selalu menyenangkan. Padahal saat saya tanyakan, anak-anak lain bagaimana? Apakah mau mengurus kakek/ nenek secara bergantian? Akan tetapi, sebuah jawaban yang mengejutkan saya dapat dari ibu. “anak lainnya enggak mau ngurusin, mencium bau kakek defekasi/ mikturisi sembarangan aja di sini udah jijik, geli dan mau muntah katanya”. Allah, betapa sungguh kasih sayang anak hanya sepenggalan pada orang tuanya. Ini membuat saya berpikir lagi, jauh merasuk dalam otak dan memori memberikan pelajaran, apapun yang terjadi pada ibu ayah saya nanti, saya akan tetap mengurusnya ya, merawat dan memenuhi kebutuhan hidup tak sudah tak bisa dipenuhi sendiri.

Sungguh, tidak ada maksud menghakimi anak yang tidak mau peduli dengan orang tuanya sendiri, tetapi kemanakah isi hati mereka? Tidakkah teringat jasa ibu dan bapak mereka? Siapa yang mengurus hingga mereka bisa sukses seperti sekarang ini jika bukan karena orang tua? Allah, sungguh aku mohon untuk memasukkan aku menjadi orang yang berbakti pada ibu bapaknya hingga di akhir hayat mereka. Bahkan lebih dari itu, tetap mendoakan keduanya hingga setelah maut menjemput. 

Kejadian ini membuat lagi, pikiran saya terkoneksi dengan satu rencana masa depan: menikah. Why? Marriage things again?? Yes, because we talk about family which is begin with marriage, isn’t it? Kelak nanti jika saya menikah bisakah saya tetap berbakti pada ibu bapak saya? Dan akankah suami saya juga dapat mencintai kedua orang tua saya seperti dia mencintai orang tuanya? Dan apakah bisa jika nanti tua saya mengurus kedua orang tua saya? Tentulah, pertanyaan ini saya harus dapatkan jawabannya selagi ada sumber-sumber hidup (guru ngaji, pengalaman teman, dll). Okelah, masih bisa kok berbakti pada orang tua karena bakti itu tak hanya bermakna sempit pada melakukan perintah orang tua, mendoakan, memberikan sebagian nafkah juga bentuk bakti yang lain.

Baiklah, berarti selanjutnya akan bergantung pada sang calon suami yang seperti apakah pandangannya mengenai bakti pada orang tua. Jadi, nanti pada saat memilih suami hal berbakti pada ortu (ortu dia maupun kita) harus dipertanyakan. Karena jangan sampai berbaktinya kita pada suami hingga membuat kita lupa berbakti pada orang tua kita. Sungguh baik jika dia pun orang yang juga dapat mengerti dan diajak peduli bersama mengenai orang tua kita (aiih.,, beraatnya). Okay, I got the point!

Ya, baiklah itu semua cerita selama di komunitas ya, masih ada cerita lanjutannya di panti werdha Cipayung. Okay, sambung lagi nanti.

originally done at 23rd July 2012
Kecewa itu ketika kamu tak memperoleh seperti harapanmu. Kecewa itu seperti doa yang belum terkabul, Tuhan tidak memberikan karena lebih mengerti akan kebutuhanmu dan ya Tuhan selalu memahami kamu lebih dari yang kamu tahu. Tuhan mencintai kamu lebih dari yang kamu pahami. Ini bukan tentang sesuatu yang menyedihkan. Ini seperti salah satu bentuk pelajaran akan kedewasaan. Berproses dewasa melalui caraNya. Tuhan lebih mengerti kamu lebih dari dirimu sendiri. Maka, mendekatlah dengan cara yang baik karena Ia maha mengetahui segala isi hati. 

010812 - 12.33 p.m.

Allah lebih tahu yang terbaik. Ketika Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan pastilah ada ganti yang lebih baik.
Tetapi memang manusia dikaruniakan rasa dan dengannya manusia menjadi manusia utuh. Kecewa merupakan hal wajar, itu tandanya kamu memang manusia. Tetapi kecewa tidaklah boleh membuat pesimistis. All is well and all will well. Everything is gonna be all right.
 
Mimpimu tidak hanya satu bukan? Masih banyak mimpi-mimpi lain yang menunggu untuk diwujudkan. 

Gagal satu sukses sejuta! Absolutely, I will get them. *smile*


01082012 - 11.53 am
at Radiotheraphy Departement RSCM

This article I’ve made to inform youabout safety and health management when you’re riding motorcycle. But  maybe I’ll write it in Bahasa and also English, hoho..

All we know about motorcycle things. It’s a vehicle motor with a pair of tire that you must hold your feet down when the traffic light red. Motorcycle really give us easily in transportation. You can go to some place with shorter time than if you go with other transportation like bus or car. 



Pengguna sepeda motor sudah tak terhitung banyaknya. Kalau lagi di pemberhentian lampu merah, itu motor udah ngumpul jadi satu bisa sampai mengalahkan ukuran satu mobil!! Huaahh.. ya beginilah Jakarta, sangat padat dan semua orang suka memadatinya.

Ada banyak dari teman-teman saya di kampus yang juga seorang ‘Motorcycle Rider’. Mereka mungkin lumayan jauh rumahnya dari kampus, makanya supaya mudah mereka memilih menggunakan motor daripada kendaraan lain. Okelah, it’s good for you those want to get in campus as faster as possible. A dominant proportion between boys and girls riders seem like the boys still dominate as motocycle riders. 

antrian motor di jalan


Di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Menurut World Bank, dalam kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga 2001 terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir 100%. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misal: kadar timbal/Pb yang tinggi) . World Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Polusi udara yang terjadi sangat berpotensi menggangu kesehatan. Menurut perhitungan kasar dari World Bank tahun 1994 dengan mengambil contoh kasus kota Jakarta, jika konsentrasi partikulat (PM) dapat diturunkan sesuai standar WHO, diperkirakan akan terjadi penurunan tiap tahunnya: 1400 kasus kematian bayi prematur; 2000 kasus rawat di RS, 49.000 kunjungan ke gawat darurat; 600.000 serangan asma; 124.000 kasus bronchitis pada anak; 31 juta gejala penyakit saluran pernapasan serta peningkatan efisiensi 7.6 juta hari kerja yang hilang akibat penyakit saluran pernapasan – suatu jumlah yang sangat signifikan dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Dari sisi ekonomi pembiayaan kesehatan (health cost) akibat polusi udara di Jakarta diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar pada tahun 1999.


Baiklah, begini ceritanya:
Mari kita lihat dari mulai kepala sampai kaki. Kepala tentunya harus dilindungi sama helm. Helm yang banyak modelnya itu, warna-warni pula! Tapi tetep, apapun helmnya SNInya harus ada. Helm berguna buat melindungi kepala kita dari benturan (jika lagi ada kecelakaan) tapi kalau dari perspektif saya sebagai orang kesehatan (duileh gayanya) helm itu utamanya bukan Cuma buat lindungin kepala pas jatuh, tapi justru melindungi wajah dari terpaan angin dan sinar matahari yang suka memanas. Tahulah sendiri kondisi angin pas kita naik motor, sangaaat amat banyak angin menerpa wajah dan itu gak sehat buat beberapa hal:

Helm.. helm.. 
Waw.. slogan iklan nih!!


 Pertama, angin akan bergerak melawan arah kita jadi otomatis mata kita bakal kering kalau terus-terusan menatap angin dengan tatapan kosong tanpa helm. Mata kita bisa kena iritasi, bisa jadi gatal-gatal, merah, bahkan sampe ada juga infeksi mata.  Terus, udah tahu kan seberapa parahnya tingkat polusi udara di jalanan?? Sangat penuh zat-zat beracun yang gak kasat mata. Jadi kalau kamu memakai helm itu akan sedikit mereduksi peluang terhirupnya zat-zat beracun ke dalam paru-paru. Emangnya mau kena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) gara-gara kena asap bus metromini atau kopaja atau yang lebih parah keracunan timbal dari sisa pembakaran bensin. 

Penelitian epidemiologis pada manusia dan model pada hewan menunjukan PM10 (termasuk partikel yang berasal dari pembakaran mesin diesel/DEP) memiliki potensi besar merusak jaringan tubuh. Akibatnya, dapat memicu inflamasi paru dan sistemik serta menimbulkan kerusakan pada endotel pembuluh darah/lapisan dalam pembuluh (vascular endothelial dysfunction) yang memicu proses atheroskelosis (pengumpulan lemak jahat di pembuluh) dan infark miokard/serangan jantung koroner.  Huaaaa mengerikan. Selain itu, boleh juga bagi yang mau pakai masker a.k.a penutup hidung dan mulut agar lebih aman lagi. Memang sih kebanyakan helm sekarang modelnya yang tertutup gitu, jadi udah bisa dipake tanpa masker. Ya, itu pilihanlah. 

Masker yang anti-POLUSI
 
Selain itu, ada juga nih tambahannya zat NOx dan SOx merupakan co-pollutants. Terbentuk salah satunya dari pembakaran yang kurang sempurna bahan bakar fosil. Penelitian epidemologi menunjukan pajanan NO2,SO2 dan CO meningkatkan kematian/mortalitas akibat penyakit kardio-pulmoner (jantung dan paru) serta meningkatkan angka perawatan rumah sakit akibat penyakit-penyakit tersebut.

Oiya, lanjut ke tubuh ya.. kan otomatis badan kita dari batas pinggang ke atas akan menerpa angin kencang tuh. Jadi, seharusnya semua pengendara motor menggunakan jaket untuk melindungi bagian dada dimana terdapat paru-paru, jantung dan organ tubuh penting lainnya. Hal ini dimaksudkan agar bagian penting tersebut menerima tekanan yang tidak terlalu besar dari luar. Yah, namanya juga riders pastilah suka juga ngebut-ngebut kan?? Selain itu, juga bisa melindungi kita dari sinar UV matahari pas siang.  


Menurut penelitian, terlalu lama terpapar sinar UV matahari bisa bikin kita Luka Bakar ringan akibat Sinar Matahari (Sunburn) *ini yang kalau di luar negeri bulu-bule pada pengen cokelat kulitnya. Luka bakar sinar matahari (erythema) ini menunjukkan tanda-tanda klasik dari inflamasi/peradangan seperti kulit kemerah-merahan, hangat, nyeri, dan membengkak. Sebenenya sih ,point utama adalah kita BAKAL JADI TAMBAH ITEM kulitnya.. hehehe… kalau yang mau silahkan. Oiya, punggung tangan pun tak bisa lepas dari sinar matahari jadi akan sangat penting untuk pakai sarung tangan (gloves). Saat berkendara pun kita akan memutar tangan untuk menekan mesin motor supaya jalan (gampangnya di-gas). Nah, di situ bisa jadi akan timbul kesemutan pada tangan kita (sebenernya sih juga efek kalau terlalu lama naik motor). Jadi, mencegah lebih bermanfaat daripada kena sakit duluan. Hehee.. jadi moto baru.


kepala udah, badan udah, tangan jua.. lantas apalagi ya??? Yah,, oiya kaki.. mungkin kalau emang pergi-pergi jauh kebanyakan temen-temen pakai sepatu. Yap, itu udah bagus karena sepatu itu tertutup dan bakal melindungi kita dari luka (*gak juga sih tergantung sepatunya model apa). Baiklah, saya cukupkan cerita-cerita tentang ini : berkendara secara aman dan lindungilah kesehatanmu sendiri!!

by teh way, sounds like in this article I wrote too many Bahasa.. ahahah.. It's hopefully made you easy undestanding all of these things about riding and your health

remember.. preventive is better than curative

at chamber *in sleepy feels*