/* related post */

Dago, Satu Nama, Banyak Cerita





Huahahaa... judulnya gini amat. Tumben posting yang agak 'romantis'

Kenapa Romantis? *tsaaahhh pasang lagu anaknya Sule (*penantian berharga) jadi backsound.

Sebab satu nama ini membuat saya terkenang akan hal-hal indah.

Apakah gerangan nama itu?

Sebuah daerah di Kota Bandung

So Popular, more than myself wkwkw..

Yaitu,

Dago






Sebelumnya, flash back ke masa setelah menikah. Disebabkan beberapa hal saya dan suami Long Distance Marriage (LDM-an). Sampai pada akhirnya, saya memutuskan berhenti bekerja dan ikut menemani suami. Murni keputusan saya sendiri, tanpa ada intervensi suami yang mengajak ataupun merayu haha...

Jadilah kami mengontrak di area Dago, tepatnya di Jln. Ir. H. Juanda Gang Cintawangi seberangnya Bangbayang. Jujur ya, baru kali ini saya pergi jauh-jauh dari orang tua setelah sebelumnya saya emang enggak pernah kemana-mana selain JaBoDe (Jakarta, Bogor, Depok).


Lantas, bagaimana rasanya?


Duh, yaaaa Bandung indah tapi terlalu romantis buat saya ahaha... Maklum sejak lahir ditempa di kota Jakarta dengan segala kepadatannya jadi ya, Bandung tuh lebih menenangkan jiwa *asik.


Dago sebelum kedatangan saya memang sudah terkenal gitu. Jadi ya saya mah udah pasti kalah pamor. haahaa...


Tempat tinggal saya dapat dikatakan sangat strategis. Jika mau jalan ke pasar maka cukup ke Pasar Simpang Dago yang diseberangnya ada McDonalds. Kalau mau jalan-jalan kulineran cukup belok ke Dipatiukur sudah penuh dengan berbagai jajanan, duh enak deh pokoknya.


Bagi saya Dago membuat kenangan tersendiri di jiwa. Betapa tidak selama hamil di Bandung itu bahagia dan senang terus bawaannya. Memang suasana sejuk di sini sangat mendukung apapun jadi romantis karena berdua sama suami. Selain itu, jajanan favorit saya ada di Dago. Batagor Simpang Dago nama warungnya. Harga terjangkau dan enak. Selain batagor juga ada nasi bakar (yang gak cukup satu porsi) sebenernya waktu itu karena hamil kali ya wkwk...


Dago mengingatkan saya kenangan manis bersama suami.

Dago membuat saya saat itu merasakan bulan madu terus setiap hari hahaahaa...

Di Jalan Ganesa Dago juga saya suka banget makan donat yang dijual di warung aa-aa sebelum masuk kampus ITB.

Dago membuat saya bersyukur pernah merasakan tinggal di sana.

Dago memperkaya pengalaman saya yang masih jauh belum ada apa-apanya dibandingkan para traveler sedunia.

Tetapi Dago,

Kamu memiliki tempat khusus di memori saya

Tempat yang istimewa dan indah di jiwa

Mungkin kata Pidi Baiq, "Bandung bukan cuma masalah geografis bagiku, tetapi juga melibatkan perasaan." 

Sampai dijadikan pajangan di kolong terowongan Asia Afrika. 

Maka saya bikin quote juga walaupun enggak dipajang dimana-mana sih, wkwkw...

Di Bandung 
Pikiran kalut menjadi sejuk
Dan Dago 
Membuat lukisan memori indah di jiwa penduduknya



Shiva (yang pernah menjadi warga Dago)






6 comments:

  1. Definisi baru tentang Dago yang lebih emosional. Nice sharing, Mbak Shiva. Salam 1M1C.

    www.iamandyna.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaa.. emosional banget yah tulisan ini wkwk.. padahal mah gak bermaksud loh.. yooo... salam 1m1c :D

      Delete
  2. Heu heu heu... Jika kamu tersesat dan tidak mau pulang. Itu pasti di Bandung. Tersesat yang menyenangkan.
    Ceuk orang Bandung

    ReplyDelete
    Replies
    1. wihhh, bener banget itu mah. tersesat dan betah malahan..

      Delete
  3. *masih menunggu cerita lanjutan LDRnya :D*
    Wah sebrang jalan Bangbayang, deket dong mba :D, saya sering ke Bangbayang hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. huehehe... skg mah udah enggak LDR kok... jadi yaa slow. Iya, deket kan tinggal jalan ke seberang ke cintawangi mah. :D

      Delete

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya