Showing posts with label awesome experience. Show all posts
Showing posts with label awesome experience. Show all posts


Lagi-lagi kau selalu mengingatkanku pada masa kecilku. Tersadar diriku ini sudah bukanlah anak-anak.  Tahukah kau hujan, engkaulah yang selalu menerbitkan senyumanku di kala kau turun, dengan gerimis atau derasmu. Aku tak peduli meskipun kau membawakan genangan air di lubang-lubang jalan. Percikan akibat roda-roda kendaraan. Sungguh, aku tetap menyukaimu terlepas apapun efek yang kau bawakan ke bumi ini.

Kau tahu hujan, kemarin kita bertemu di ketika aku dalam perjalanan menuju rumah. Jarak dari jalan raya ke rumahku sekitar setengah kilometer. Di bawah naungan payung aku berjalan menikmati bertatap denganmu lamat-lamat. Di sepanjang jalan aku lihat, para ayah dan ibu menjemput anak-anak mereka sepulang sekolah, tentunya di bawah payung mereka merapat. Aku ingat ketika masih bersekolah di SD pun ibu atau kakakku terkadang menjemputku ke sekolah karena hujan dan aku tak membawa payung. Manis sekali bukan? Aku berpegang erat pada mereka,berusaha menghindari basah airmu.

Lagi, aku melihat sekelompok bocah lelaki basah kuyup. Mereka mandi hujan, ya begitu aku menyebutnya. Mereka bermain-main, membiarkanmu membasahi kepala mereka. Mereka tak marah, justru tersenyum dan tertawa bahagia bermain denganmu. Mereka menjejak di genangan air yang kecoklatan, saling memercikkan airmu kepada temannya. Ah, sungguh aku bagai melihat cermin masa laluku sekarang . Dahulu pun kita sudah dekat bukan hujan? Aku ingat betul, aku bermain hujan-hujanan,berlarian, melompat-lompat, berbasah-basahan di tengah tanah lapang dekat rumah. Menenggelamkan kaki di tengah genangan airmu di bumi. Berteriak-teriak tidak jelas seperti “oooo… aaaa…. Hujaaan horeee..” bersorak kegirangan ketika ibu membolehkanku bermain di luar rumah ketika kau turun. Tertawa-tawa penasaran membuka mulut lebar-lebar sebab ingin merasai seperti apa meminum langsung airmu yang turun dari langit. Ah, bahagia betul rasanya kala kecilku.
Namun kini, tak bisa lagi aku bermain di bawah hujan tanpa berlindung dengan payung. Tak bisa lagi aku berlari-larian di tengah tanah lapang sambil berteriak “horeee.. hujaaan…!!lalu membiarkan airmu membasahi seluruh kepala dan pakaianku. Ah, ingin rasanya kini aku tetap bisa bermain hujan, mandi di bawah disiramanmu, wahai air langit. Melompat-lompat kegirangan, teriak sambil tetap berusaha merasai airmu dengan juluran lidahku, hahaaha.. konyol benar keinginanku ini. Padahal sudah sebesar ini tubuhku, tetap saja jika bertemu kau hujan selalu terbit perasaan rindu akan aku yang masih kecil.

Kau perlu tahu hujan, kelak jika aku sudah memiliki pendamping hidup yang halal maka akan kuceritakan semua hal mengenai engkau padanya. Tentang bagaimana aku selalu menyukaimu. Harapan-harapan akan bisa bermandi hujan kembali, bermain di kala kau turun. Biar saja ia nanti tertawa mengetahui tingkahku yang bagai anak kecil ini, tak apa. Sebab akan kuajak dia merasakan kebahagiaanku semasa anak-anak, akan kuajak dia berteriak dan melompat-lompat ketika kau turun tanpa perlindungan payung. Lalu, kami pun kembali dekat dengan engkau hujan.


Tulisan tidak bermaksud untuk menggurui apalagi sok-sok-an jadi anak baik hati (hahaa..). Tulisan ini hanya akan menjadi sarana saya ber-katarsis (cuhat dalam bahasa psikiatri cuy) dan memberikan pandangan-pandangan saya tentang hal yang saya temukan dan rasakan. Hari ini saya kebetulan baru bepergian ke daerah Patra Kuningan karena mengurus sesuatu hal. Hujan telah selesai menyiram bumi Patra Kuningan kala saya rencana balik ke rumah. Saya pun seperti biasa menjadi penumpang transportasi publik yang setia.

Heh? Pengguna transportasi publik yang setia? Berani banget nyebut diri elo begitu, emang siapa lo? For your information, saya ini sudah menjadi penumpang tetap bus MetroMini BlokM-Rumah (kali deh di bus jurusan ke rumah gue serasa milik pribadi, hahay!). Maksudnya, bus Metro BlokM-Lbk. Bulus sudah setia menemani saya sejak bersekolah di SMA (tahun 2004) selama tiga tahun berikutnya. Lalu, dilanjutkan lagi ketika “harus (coba apa ini? Harusnya itu di bold-italic-underline, kesannyaa gimana gituuh, hoho) berkuliah di Kampus UI Depok. You know what? Saya lagi-lagi kecanduan menumpang bus (ya kali kecanduan, terpaksa ada juga lebih tepatnya, haha).

METROMINI iniiih!












nih 63 nih.. huu
 
 Baiklah, saya menjadi penumpang setia bus jurusan Lbk. Bulus-Depok atau BlokM-Depok. Lagi dan lagi menumpang bus besar yang asap hasil pembakaran bensin atau solar ya? (kayaknya sih solar deh, nebak :P) itu hitam sampe abu-abu dan baunya sangat tidak enak. Lalu ditambah pula bus tercintaku (terus gue mual gitu abis nyebut ini) ini memiliki jadwal keberangkatan yang sangat, sangat teratur (nyindir intinya sih macam di-PHP-in gitu). Bus Deborah berangkat dengan jadwal tetap ini sebenernya jadi kelebihan tapi karena dijadwalin itu frekuensi bus jalan jadi sedikit sehingga penumpang bakal menumpuk dan selalu menumpuk pastinya di jam-jam padat. Bus yang satu Kopaja 63 ini saking teraturnya dia sesuka hati aja gitu datang jam berapa sampe terminal blokM bener-bener menguji kesabaranlah. 

Saya berpendapat bus besar itu (macam metro dan Deborah) lebih enak ditumpangi daripada motor pacar (eh, ngasal) enggak maksudnya daripada angkot yang kecil-kecil itu. Saya enggak terlalu suka angkot kecil (macam di depok yang biru-biru itu warnanya). Alasannya sih, gak penting bagi orang tapi penting banget bagi saya. Saya tidak suka adegan merundukkan kepala dan separuh badan saat keluar-masuk angkot kecil itu. Alasan intinya sih kepala saya sering jadi korban tumbukan dengan pintu angkot (baca Kejedut)  dan yeah angkot kamu berhasil menyakiti kepalakuuu Arrhh! Sebenernya sih gak sering-sering amat juga jadi korban tapi ya, ngeselin aja kali ya, mesti lebih ati-ati setiap naek angkot karena kelebihan tinggi badan, ahaha. 

Bus tercintaku, terfavoritku, ter-ngeselin pulak!



Alasan saya suka naik bus itu indah pokoknya, gak perlu ada adegan nunduk-nundukin kepala lipat kaki rapat-rapat macam di angkot yang mesti empet-empetan (nempel-nempel) duduknya. Duduk, gak perlu nunduk separuh badan, gak perlu adegan kejedut pintu. Terus duduknya pun gak usah lipat karena di bus macam layaknya lagi duduk di kursi makan di rumah (kalo kursinya emang cukup tinggi). Tuh, kan lebih enak duduk di bus daripada angkot (udah gak usah naik angkot, hahaa kompor!)

Baiklah, cukup sudah pembukaannya (haaah, tadi masih pembukaaan?? Ciyuuus?) XD

Intinya tulisan sekarang itu di sini kali, haha. Saya suka prihatin kalau lagi naek bus umum (ya iyalah emang ada bus pribadi gitu). Kalau sudah penuh semua kursi penumpangnya maka terpaksalah mesti berdiri kan. Lalu, lalu gimana nasib orang-orang yang seharusnya lebih berhak duduk dikursi itu sedang ia berdiri? Ya itulah masalah perilaku masyarakat kota yang seringkali saya temukan di dalam bus. Contohnya, pas lagi penuh ada ibu-ibu gitu ya terus di situ tuh ada anak muda/bapak-bapak yang ya idelanya itu (idealnya adalah bapak itu memberikan kursi duduknya buat ibu yang lebih pantas) ya mengalahlah demi kebaikan orang lain. Akan tetapi yang sering ditemukan justru mereka yang tidak mau merelakan kursi duduknya bagi orang yang lebih butuh dan pantas mendapatkannya. 

Saya sok baik banget kan? Kan udah dibilang jangan sebut saya sok baik karena saya emang begini, haha. Sejak remaja entah usia berapa di dalam kepala saya tertanam sebuah prinsip “kalau ada yang lebih membutuhkan dari kamu (kursi duduk di bus itu) kamu harus memberikannya pada yang lain, meskipun kamu juga kadang merasa enggan. Kamu itu malu kok, tega membiarkan ibu/ibu hamil/nenek/kakek yang lebih pantas justru berdiri. Coba kalo itu orang tua kamu sendiri, kakek/nenek kamu. Kamu mau melihat mereka kesusahan?” Jadinya, itulah yang menghantui saya sampe saat ini, hehee.. Akhirnya, sekarang sih saya suka keselek (eh kesel) kalo liat orang yang tidak mau ngalah dan yaudah saya yang ngalah kasih kursi duduk. 

Entah mengapa fenomena ini sangat terasa di kota besar seperti Jakarta, saya tak tahu kalau kota lain ya. Tapi mengapa rasanya miris banget ya, melihat perubahan pola perilaku individu dalam masyarakat yang terasa makin selfish dan tidak peduli lagi dengan orang lain. Emang sih semua orang yang pulang kerja entah darimana pun dia, lalu merasa lelah, ingin tidur dan sebagainya. Namun, untuk sebuah hal yang sederhana tapi terlihat jelas kemuliaannya di mata Allah gitu ya, kenapa sungguh sulit dilakukan? Saya jadi ingat kalimat guru agama saya jaman sekolah, katanya yang muncul otomatis itu dari perilaku kita itulah akhlak kita yang sebenernya (terlepas dari ilmu perilaku manusia ya). Emang kalau liat orang lagi kaget coba deh perhatiin kalimat pertama yang dia ucapkan, kalau dia ucapin yang baik berarti akhlaknya ketahuan baik, justru sebaliknya kalau dia gak sengaja nyebut yang aneh-aneh itu ya jelas sudah isi kepala dan akhlaknya seperti kalimat ucapannya tentu. 

Lalu, saya jadi menganalogikan juga proses otomatis ini dalam hal memberikan tempat duduk di bus. Ketika kita duduk enak, santai lalu tetiba datang penumpang baru ibu tua dan berdiri, mari kita perhatikan apakah jiwa kita ini langsung tergerak memberikan tempat duduk kita buat ibu tua itu? Atau kita pura-pura cuek dulu siapa tau ada yang laen yang ngasih jadi kita tetep santai. Baru deh kalo enggak ada yang ngasih, kita deh yang ngalah buat ibu tuanya. 

Saya tidak akan menghakimi ini perbuatan baik/ buruk atau apalah namanya. Saya tak ada hak itu. Saya hanya melihat sebuah kebaikan yang sederhana namun mulia yang bisa jadi ladang amal walau hanya sebentar saja. Oleh sebab itu, dari pengalaman saya sendiri kadang kan kalo posisinya lagi enak (yang lebih berhak berdiri tak jauh dari tempat saya) cukup dengan bilang “ini bu, duduk aja” terus saya berdiri. Pernah juga soalnya, niat saya mau kasih yang lebih butuh eh malah mau ditelikung sama orang laen, yeee.. gak nyadar ada yang lebih butuh kali itu orang lantas ya saya omelin ajalah, haha. Terkadang lagi, namun jarang juga sih, saya ketemu orang lain yang sama-sama niat memberikan tempat duduk di bus. Tetapi, dia lebih dahulu memberikan kursinya, jadinya saya tetep duduk deh. Kalo yang ini saya mikirnya sih fastabiqul khairat, itu loh berlomba dalam kebaikan, dan yaaaahhhh saya kecewaaahh karena kebalap memberikan duduk buat ibu yang lebih butuh, huhohoho.. terus mikir deh yaaah, masih jadi niat aja ngasih tempat duduknya, gak jadi kebaikan penuh deh, hahaay dasaar saya gak mau rugi :P

Terusin ya, masih ya terusin tentang ini. Jadi, sebenernya juga, saya punya niat mau cari lelaki baik yang berakhlak karimah dengan memberikan kursinya untuk orang yang lebih butuh. Lhoooo??? #tetiba. Jadi, kalau ada cowok nih ya seganteng apapun dia, pasti di mata saya gantengnya luntur kalau dia ketahuan gak ngasih kursi kepada yang lebih berhak. Karena yaaa,, ini sih emang gak krusial banget ya sebagai kriteria calon suami tapi ya bolehlah diuji kalo lagi proses mengenai opininya tentang kendaraan umum dan adegan yang lebih pantas duduk. Makanya, kalau lagi nemuin di bus ada bapak-bapak/ cowok yang ngasih kursinya dengan OTOMATIS tanpa adegan diam/mematung dulu itu beneran deh bikin saya MELELEH, ahahah. Maksudnya ya berarti mereka emang baik kan? Saya pun turut mendoakan buat mereka semoga Allah balas kebaikannya dengan yang berlipat. Keren gak sih, hal sekecil ini bisa bikin kita mulia di mata Allah dan yaa manusia juga sih. 

Memang, ini buka tolak ukur yang pasti untuk menentukan baik-shalih/enggaknya laki-laki ya. Tapi, bagi saya ini worthed banget. Nanti ya, kalau udah punya suami saya berniat mau jalan-jalan naik kendaraan umum (bus metro/kopaja atau transjakarta) terus nge-tes dia deh pas di jalan apakah dia rela mengorbankan kursinya di sebelah kursi saya buat orang lain yang lebih butuh? *waduuuuh harusnya gak usah dikasih tau ya, jadi ketauan deh semua di sini, ahahaha.. ah abaikan sajalah ya, tak usah diambil ke hepar :P 

Tuuuh kaaaan… ujungnya tulisan ini kembali meracau tak penting, hahay! Tak apalah namanya juga katarsis semuanya aja tumpahin (air hujan kali tumpah dari langit). Tiadalah maksud lain dari tulisan ini melainkan sekedar menjadi bahan refleksi diri saya pribadi serta menemukan setitik hikmah yang tercecer dimanapun kita berada. Jika ada yang baik yang bisa diambil, soklaaah ambiil, ambiil mumpung gratisan (eh, tuing-tuing makanan kali) tapi jika ada yang kurang-kurang atau ya gimana-gimana gitu gak perlu dan gak penting mah ABAIKAN SAJAAAAAH!!! Ahahaa… sudahlah, sekian aja ya. Wassalam.


Kamar, 23112012
*sepulang dari senja yang hampir tenggelam*

*gambar diperoleh dari google, bukan milik pribadi ya, ngapain pulak gue kerajinan motret-motret bus-bus ituuh XD
Kisah lain lagi mengenai lansia di institusi (panti sosial). Di sini saya menemukan betapa banyak lansia yang dibantu perawatan hidupnya oleh Negara. Hal ini disebabkan banyak hal, satu diantaranya yang utama dan mendominasi yakni, mereka adalah lansia terlantar dan tak bisa merawat kesehatan mereka sendiri. Saya mengelola ruangan lansia wanita dengan tingkat ketergantungan total bersama teman kelompok. Klien lansia kelolaan saya mengalami gangguan penglihatan (katanya sih sejak muda). Nenek ini punya adik perempuan yang juga sudah memasuki usia lansia awal. Jadi, setiap hari nenek klien saya selalu bersama nenek adiknya yang masih sehat. Saat kita mengobrol (tentu, tanpa rasa berdosa dan polos) saya Tanya nenek udah punya cucu? And you know what, she was not married. (Me: with astonish expression in my brain) What? Oh my Allah, both of them were not married until these old ages. Then, I found out the reason why they are here. Yes, they had no other family member that can take care of them. So, until they are entering elderly time alone, no kids, no grandchildren. Oh, so poor Nenek berdua itu. 

Itulah mengapa berkeluarga merupakan satu dari sunah Rasulullah SAW. Karena dengan memiliki keluarga dan keturunan, kita memiliki support system agar kita bisa koping dengan baik masalah yang dihadapi dan kita tidak sendirian. Keren banget ya, padahal Rasulullah tidak mempelajari ilmu keperawatan keluarga, tapi beliau paham betul makna keluarga dalam hidup manusia. Awesome.. subhanallah

Dalam proses pembelajaran selama di panti werdha (bahasa indahnya panti jompo) saya merasa jadi paling muda (ya iyalah, lah semuanya udah nenek-kakek), hehee.. Hmm.. tapi ya selalu dan selalu terdapat lagi nilai kehidupan yang dapat saya ambil dari sini. Manusia akan mati, dalam usia muda atau dia akan sampai pada usia tua lalu mati. Mengamati apa yang saya temukan di ruang rawat panti, bersama lansia-lansia ini, tubuh yang lemah, kulit keriput, penglihatan dan pendengaran menurun jujur membuat saya merasa bersyukur dengan kondisi saya yang masih sehat dan muda saat ini. Tak bisa disangkal lagi, manusia zaman sekarang ini takut menjadi tua, keriput, jelek dan sakit-sakitan. Maka dipakailah segala cara (jika mereka punya uang banyak) untuk tetap muda (entahlah itu apa caranya). Mengapa kita harus takut menjadi tua dan keriput? Toh itu adalah normalnya kondisi manusia yang hidup hingga lama kan? Jika tak ingin tua ya mati di usia muda saja.

Kalimat sebelumnya emang sarkas banget, tapi kan itu emang realita, jadi hadapi saja. Hadapi proses siklus hidup manusia dengan bijak dan dewasa. Menjadi tua bukanlah kutukan, bukan hal yang menakutkan, tapi merupakan nikmat dari Allah dan berarti ladang amal kita sebagai manusia masih ada walau sudah tanda sedikit lagi usia akan habis masanya. 

Kembali lagi ke kisah nenek kakak-beradik yang jadi lansia kelolaan saya. Ya, nenek saya itu berusia sekitar 70 tahun, saya lupa persisnya dan sebenarnya sang nenek pun kurang yakin dengan usianya. Baiklah, saya akan lanjut cerita tentang wanita-wanita yang tidak menikah hingga usia senja menemaninya. Sebenarnya masih ada nenek lainnya pun bernasib sama, tidak menikah hingga senja. Kalau nenek saya ini bilangnya udah terganggu penglihatan jadi tak ada yang mau menikah dengannya. Lalu, sang adik menjawab (alasan enggak nikah juga) saya ya nemeni kakak saja. Padahal pas saya tanya (dengan polos karena gak tau) nenek ada cucu? | Jawabnya adalah ya, gimana ada cucu, anak juga tak ada. Trus saya masih gak yakin dengan jawaban nenek akhirnya nanya lagi (emang dasar uduul) emang suaminya kemana nek? | Saya kan gak nikah neng. Saya: siyook (baca: shock) dengan mulut ternganga (hanya dalam angan) tapi beneran kaget loh dan saat itu saya jadi enggak enak hati gitu, gara-gara nanya perkara pernikahan (eleeh, parah bet yak). 

Lantas apalagi yang terjadi dalam kepala saya setelah menemukan para nenek single fighter ini? Well, of course about marriage thing again. Bukan saya ngebet atau apalah melainkan karena saya sedih aja melihat mereka sendirian sampai tua tanpa ada keluarga dan kerabat dekat yang mengurusi sehingga harus terdampar di panti Werdha. Dalam pikiran saya, tentulah sendirian selamanya tidak enak. Mungkin memang terbiasa dengan keramaian dalam keluarga besar, banyak saudara dan ya itulah kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun kalau udah kumpul keluarga. Saya pun setelah praktik di panti ini berjanji pada diri sendiri, apapun yang terjadi saat tiba waktunya kedua ibu dan ayah saya memasuki usia senjanya tidak akan mengirim mereka ke institusi kesehatan lansia. Saya akan mengurus mereka di kala usianya telah renta. Janji ya, karena saat itulah bakti kita sebagai anak kandung dipertaruhkan (halaah, lebay) tapi emang benar adanya. Ya, pokoknya aku mau nurut apa kata Allah aja, berbakti pada orang tua dan mengurusnya saat mereka renta. Aamiin :D

Aarrgh.. tadi lagi bahas apa pula, kenapa jadi flight of ideas gini deh (kebiasaan). Oh ya, kita bahas nikahan ya tadi. Iya, itulah yang bikin sedih dan galau akut menimpa saya selama di panti. Wew, aku gak mau sendirian terus sampai tua Allah, aku mau nikah, punya suami, anak-anak dan keluarga yang bahagia (idealnya). Hal ini jujur membuat saya kecemasan (anxiety) di usia rentan ini (baca: dewasa muda yg harus memenuhi tugas perkembangan menemukan pasangan dan berkeluarga). Cemas, takut, ragu-ragu itu melanda bikin stress sendiri juga sih meski dikit pengalaman ini cukup mempengaruhi saya. Akhirnya pun, saya menumpahkan ini dengan curhat pada sahabat saya (dia sudah lebih dulu melalui stase gerbong gerontik) dan dia pun merasakan hal yang tak jauh berbeda. Ya, kecemasan akan mengenai masa depan yakni, menemukan pasangan hidup, menikah dan berkeluarga. Pada akhirnya, curhat saya diakhiri dengan doa buat kami berdua, semoga Allah memberikan suami yang baik dan mempertemukan kita dengan pasangan hidup kita di waktu yang tepat dan yang terbaik untuk keluarga di masa depan (aamiiin). Lega rasanya, walaupun hanya kecemasan tapi bisa begitu besar efeknya ke jiwa (Allah, terima kasih lagi karena saya belajar ilmu ini). *take deep breath, sigh* finally, saya bisa juga lega dan tersenyum menghadapi berbagai hal yang para lansia alami selama di panti. Jika saja orang luar tahu seperti apa kehidupan di panti werdha yang dikelola dinas sosial saya yakin tidak ada yang mau hidup dan tinggal sendiri, jauh dari keluarganya di sana. 

Nilai yang saya ambil selama belajar di sini salah satunya yaitu, menikahlah dan berkeluargalah, bangun keluarga yang baik didiklah anak-anak dengan baik (loh, kok?? Kenapa jadi promosi nikah gini?). bukan promosi ini, ini namanya menyeru kepada yang baik. Sebuah saran dari saksi hidup (para lansia dan saya), kamu-kamu tentu tak mau hidup tua sendirian berakhir di panti bukan? Ya sudah, mudah saja, pilih calon pasangan hidup dengan baik (tentu bukan dengan jalan berpacaran *karena saya penentang pacaran garis keras, haha* menikah dengan cara yang baik, menyayangi keluarga inti (kamu dan pasanganmu), keluarga besar orang tuamu, lalu mendidik anak-anakmu dengan memberikan pemahaman yang baik pada agamanya, mengajarkannya AlQur’an, mencontohkan suri tauladan yang baik. *perfect bener ya?* namanya juga cita-cita kok, pasti maunya yang terbaiklah. Insya Allah, hidup kita sampai tua bahagia (tanpa perlu masuk institusi khusus lansia) dan wafat dengan khusnul khatimah, aamiin.

Sekian, sepenggal kisah dari panti Werdha (khusus perawatan lansia) yang saya alami sendiri dan temukan senyata-nyatanya (eleeh, lebay). Semoga saya dan pembaca sekalian dapat mengambil kebaikan dari kisah ini.

Hari yang ditunggu sudah tiba. Ya, hari-hari dimana saya lepas dari kuliah profesi ners. Meskipun memang sih, belum resmi juga jadi ners. Akan tetapi, perasaan yang melegakan ini pun muncul ibarat mata air di tengah hutan karena memang pada dasarnya mata air itu sudah ada di lokasi yang benar hanya menunggu saatnya tiba memberi manfaat (Halah, apa coba). 

Niatnya sih, cerita ini ingin menceritakan tentang berbagai rasa, asa dan tantangan selama enam bulan ke belakang. Tepatnya, sejak awal bulan Januari 2012. Awal dari gerbong baru dan sisa gerbong-gerbong setelahnya. Mari kita mulai..

Januari hingga Februari saya berjuang di komunitas RW siaga di daerah Pasir Gunung Selatan, Cimanggis, Depok. Dalam komunitas ada banyak hal baru dan hikmah yang saya temukan. Saya dapatkan betapa besarnya peran ibu-ibu rumah tangga yang luar biasa ini untuk kemajuan kesehatan warganya. Ya, ibu RW siaga, ibu RT dan ibu Kader kesehatan di RW yang saya dan teman-teman kelola. 

Para ibu ini merupakan orang-orang terbaik yang dimiliki masyarakat. Ibu pejuang tidak hanya untuk keluarga apalagi dirinya sendiri tetapi berjuang untuk masyarakat di sekitar. Hal ini menyadarkan saya betapa Rasulullah telah mengingatkan “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat”. Dan ya, para ibu ini telah memberikan manfaat untuk kehidupan sesama manusia. Sungguh mulia semua yang diberikan beliau-beliau. Tak ada balasan atas kebaikan, melainkan kebaikan pula. 

Saya belajar bagaimana melakukan pendekatan dengan masyarakat dan para tokoh atau pejabat di RW. Saya pun belajar menghadapi perilaku komunitas dan responnya terhadap masalah, kehadiran saya (yang sedang berperan sebagai calon petugas kesehatan) dan juga motivasi untuk sehat dari masyarakat sendiri. Tak hanya kemudahan, tentulah saya temui juga beberapa kesulitan. Kesulitan untuk beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang unik dan plural, kesulitan menyatukan pendapat puluhan orang, kesulitan mencari ide kegiatan yang kreatif dan juga kesulitan memotivasi warga untuk turut serta dalam kegiatan yang kita rencanakan.

Inilah uniknya keperawatan komunitas, kamu menghadapi klien berisiko untuk sakit, apapun jenis sakitnya, berapapun usianya. Saya harus bisa menghadapi klien dengan masalah penyakit dalam, ibu hamil, lansia dan juga kematian (intinya semua cabang ilmu keperawatan). Berasa aja udah jago semua ilmu, tetap harus baca ulang lagi lah saya, hee.. harus multi-talented kalo jadi perawat komunitas. Well, yeah I did it! Selain itu juga saya dapatkan hal lainnya mengenai keluarga dan orang tua. Hal ini juga turut mengisnpirasi saya dan menambah nilai-nilai kehidupan yang baik untuk diri saya ini. 

Dalam keluarga saya temukan banyak keindahan, tawa dan kabahagiaan. Tak jarang juga saya jadi tempat curhat-nya ibu-ibu ini tentang perilaku anak-anak mereka yang terkadang menyebalkan, bikin kesal tapi juga sering membawa kebahagiaan dan hal lucu dalam rumah. Bertemu pasangan hidup, menikah dan memiliki keluarga adalah impian setiap gadis seperti saya (I guess). Lalu, disinilah terlihat dalam nyata-senyata-nyatanya bahwa membangun keluarga, merawat suami dan anak-anak bukanlah hal mudah bagi seorang wanita. Surely, its need a lot of energy and with love there’s always extra and enough energy to do all. Hal ini membuat saya terharu sekali dan berpikir ulang mengenai keinginan saya menikah kala itu (usia 22, di tahun 2012). Apakah saya benar-benar telah siap untuk menghadapi pernikahan, proses sebelumnya bahkan pasca menikah nanti? Ya, disinilah lagi saya belajar menjadi lebih dewasa. Ya, dengan cara yang Allah berikan. Again, yaa.. segalanya dihubungkan lagi ke hal satu itu (baca: nikahan). Ohoho.. ya beginilah galau spiritual anak manusia :P tapi emang bener kan semua mau berkeluarga? Ayo ngaku yang gak mau? Pasti enggak ada-lah. 

The next insight I got there, was about old family. If I was told in the first it’s about beginning or nuclear family, now I want to talk about elderly family. Ya, keluarga dalam tahap perkembangan lansia dengan pasangan yang memasuki masa pension atau salah satu pasangan meninggal. Keluarga lansia yang saya kelola memiliki sekitar 5-6 orang anak yang semuanya telah berkeluarga. Sang kakek dan nenek tinggal bersama anak perempuannya. Anak-anak lainnya tinggal di rumah yang juga berdekatan, sekitar kurang dari 10 meter. Sang kakek sudah terkena demensia karena usia tuanya, sedangkan nenek memiliki riwayat post stroke, hipertensi dan gangguan berjalan. 

Setiap hari, Ibu (anak perempuannya) merawat keduanya, selain merawat pula dua orang anak yang usia sekolah. Di rumah sederhana tapi penuh kepeduliannya didalamnya, saya diterima dengan baik sekali. Ibu pun bercerita kondisi kakek yang pikun dan lupa apapun, bahkan istrinya sendiri. Kakek mengatakan nenek adalah temannya. Nenek sudah mengerti kondisi kakek yang pikun dan tetap membantu mengurus kakek bersama anaknya. Dan kamu tahu demensia? Sebuah gangguan yang menyebabkan kamu lupa apapun itu, orang lain, keluarga, makan, buang air dan bahkan dirimu sendiri. Betapa terharunya saya melihat bakti sang ibu pada kakek dan nenek (kedua orang tua kandungnya). Tetap dengan baik mau membantu memenuhi kebutuhan sang kakek dan nenek walau dia pun dalam kondisi yang tidak selalu menyenangkan. Padahal saat saya tanyakan, anak-anak lain bagaimana? Apakah mau mengurus kakek/ nenek secara bergantian? Akan tetapi, sebuah jawaban yang mengejutkan saya dapat dari ibu. “anak lainnya enggak mau ngurusin, mencium bau kakek defekasi/ mikturisi sembarangan aja di sini udah jijik, geli dan mau muntah katanya”. Allah, betapa sungguh kasih sayang anak hanya sepenggalan pada orang tuanya. Ini membuat saya berpikir lagi, jauh merasuk dalam otak dan memori memberikan pelajaran, apapun yang terjadi pada ibu ayah saya nanti, saya akan tetap mengurusnya ya, merawat dan memenuhi kebutuhan hidup tak sudah tak bisa dipenuhi sendiri.

Sungguh, tidak ada maksud menghakimi anak yang tidak mau peduli dengan orang tuanya sendiri, tetapi kemanakah isi hati mereka? Tidakkah teringat jasa ibu dan bapak mereka? Siapa yang mengurus hingga mereka bisa sukses seperti sekarang ini jika bukan karena orang tua? Allah, sungguh aku mohon untuk memasukkan aku menjadi orang yang berbakti pada ibu bapaknya hingga di akhir hayat mereka. Bahkan lebih dari itu, tetap mendoakan keduanya hingga setelah maut menjemput. 

Kejadian ini membuat lagi, pikiran saya terkoneksi dengan satu rencana masa depan: menikah. Why? Marriage things again?? Yes, because we talk about family which is begin with marriage, isn’t it? Kelak nanti jika saya menikah bisakah saya tetap berbakti pada ibu bapak saya? Dan akankah suami saya juga dapat mencintai kedua orang tua saya seperti dia mencintai orang tuanya? Dan apakah bisa jika nanti tua saya mengurus kedua orang tua saya? Tentulah, pertanyaan ini saya harus dapatkan jawabannya selagi ada sumber-sumber hidup (guru ngaji, pengalaman teman, dll). Okelah, masih bisa kok berbakti pada orang tua karena bakti itu tak hanya bermakna sempit pada melakukan perintah orang tua, mendoakan, memberikan sebagian nafkah juga bentuk bakti yang lain.

Baiklah, berarti selanjutnya akan bergantung pada sang calon suami yang seperti apakah pandangannya mengenai bakti pada orang tua. Jadi, nanti pada saat memilih suami hal berbakti pada ortu (ortu dia maupun kita) harus dipertanyakan. Karena jangan sampai berbaktinya kita pada suami hingga membuat kita lupa berbakti pada orang tua kita. Sungguh baik jika dia pun orang yang juga dapat mengerti dan diajak peduli bersama mengenai orang tua kita (aiih.,, beraatnya). Okay, I got the point!

Ya, baiklah itu semua cerita selama di komunitas ya, masih ada cerita lanjutannya di panti werdha Cipayung. Okay, sambung lagi nanti.

originally done at 23rd July 2012
Eeiittss.. judulnya terdengar provokatif sekali ini. Tapi tenang aja, makna ‘berjodoh’ tidaklah sesempit yang teman-teman pembaca bayangkan. Baiklah, dalam tulisan kali ini saya mau membahas, bercerita sih lebih tepatnya tentang jodoh-jodoh saya selama kuliah di semester pertama profesi ners.

Pertama banget, saya berjodoh sama mata aja keperawatan medical bedah (KMB) dan keperawatan gawat darurat (KGD). Kedua mata ajar ini memang yang paling penuh perjuangan buat menguasainya (dengan kata lain –susaaah-). Sebenernya, saya suka banget belajar KMB/KGD karena emang ilmunya mencakup semua fungsi tubuh manusia. Tapi, kenapaaa malah jodoh ketemu ini pas awal banget masuk profesi?? Ya Allah, emang sejujur-jujurnya respon pertama adalah denial. Menolak, gak percaya, ya ampun yang bener aja, KMB and KGD? What a miracle!! *ajaib bener, gimana rasanya buat percaya diri, kemarin pas ujian kompetensi dasar aja masih gelagepan ngambil obat dari ampul, tremor pas nyuntik phantom, bingung sama AGD. *astagfirullah.. *berkali-kali istigfar.

Baiklah, it’s time to acceptance phase. Katanya mau jadi hamba Allah yang baik, yang memahami tiap kondisi yang kita rasakan ini memang ketentuanNya. Iya,, makanya sekarang sudah fase menerima dengan hati gembira dan lapang dada :D kan katanya mau jadi emergency nurse kalo udah lulus. Itu, sebelum lulu udah kesampaian kok, walaupun sedikit, jadi medical surgical nurse dulu.. hihii.. beneer banget deh, sungguh, emang pengen dan gak sabar buat di rumah sakit jadi ners beneran. Oke, saya terima KMB sebagai jodoh pertama saya di gerbong profesi tahun 2011. Oalah, udah kaya ijab Kabul aje, hahay..

Cerita-cerita sebelumnya pas di KMB udah dituangkan sebagian dalam tulisan saya beberapa bulan lalu. Pertama kali ketemu orang sakit fraktur, terus masuk kamar bedah (OK) melihat pembedahan tiap bagian tubuh (menurut saya ini keren banget, soalnya bisa melihat langsung dari deket, kan biasanya Cuma liat dari video/film gitu). Terus, berlanjut ke bagian neuro/kardio disini bertemu pasien penurunan kesadaran, GCS yang <10 dan ketergantungan total. Semua kebutuhan dasar mulai dari makan, minum, oksigenasi, sampe eliminasi dan perawatan diri kita yang nurusin bareng perawatnya. Yang waktu di kelas kita hanya denger cerita dari luar (dosen ataupun buku teks) sekarang kita yang kerjain semua itu. Pas awal mestilah ada kaget, terus bilang ‘loh, kok begini’ atau ‘aah… malees bangeett’.

Akan tetapi, semua keluhan itu menghilang seiring berjalannya waktu. Saat ketemu pasien kelolaan, mengkaji, bikin diagnosa dan renpra, serta evaluasi itu semua ilang. Beneran deh, coba aja saya dianggep menjadi orang yang paham sama kondisi pasien, keluarga percaya sama saya, bertanya apapun mengenai kondisi pasien. Tentu aja, ini saat yang tepat buat mengamalkan ilmu-ilmu dari perkuliahan dan buku teks. Sungguh, tiada sia-sia setiap lembar buku yang dipelajari, setiap tugas-tugas makalah kasus yang telah dipelajari dulu. Ya, karena disinilah, di dunia klinik semua teori itu diimplementasikan. Saya pun melihat kondisi pasien dengan ascites, melena, kolostomi, luka gangrene secara langsung. Kalau dulu hanya diceritakan dosen dan buku, ya itu dulu, sekarang mereka di hadapan saya langsung dan saya gak boleh ragu, malu atau takut untuk merawat pasien-pasien itu karena saya sudah punya modal ilmu selama 4 tahun kemarin. 

Senang banget pas pasien/keluarganya bilang terima kasih sama saya. Saya yang merasa ya, cuma bisa bantu sedikit aja bu, gak bisa sebanyak perawat aselinya, hehe. Beneran deh, pasien itu butuh perawat yang caring, skillful dan pintar. Pasien itu butuh ekstra bantuan pas dirawat dan kitalah yang membantunya. Waktu itu pernah, pasien saya pindah ke lantai penyakit dalam sebelumnya saya bantu rawat di bagian high care dan pas ketemu lagi di radiologi keluarga pasiennya menyapa saya, dan syukur kondisi bapak pasien saya itu sudah lebih baik. Beneran ya beda rasanya kalau udah bisa membantu dan membawa perubahan walau kecil. Minimal dengan memberikan senyuman dan motivasi buat pasien dan keluarga itu udah bikin mereka bahagia.

Saya beneran senang dijodohin sama KMB di awal ini, selain sangat amat meningkatkan rasa percaya diri juga membuat sense of belonging to become a nurse itu makin tinggi. Terasa deh, rumah sakit itu bener-bener butuh perawat, perawat dibutuhin pasien dan keluarga dan rasa akan kebutuhan ini juga yang bikin jiwa sosial kita makin tinggi. Apalagi saya  juga bersyukur sama temen-temen se-gerbong KMB, teman tempat berbagi, susah bersama (dorong pasien ke OK,radiologi, poli, udah kaya spesialis anter jemput dah), temen makan bareng di kantin fatmawati, temen ngantuk bareng pas dines malem, temen cemas bareng pas belajar buat ujian. Makasih banyak semuanya temen-temen, atas ilmu, semangat dan segala rasa yang jadi satu (seneng, susah, sedih, bingung, kecewa, kesal, bete). Sungguh beruntung berjodoh dengan teman-teman. Semakin baik mengenal kalian, semakin baik pula memahami ilmu karena kalian juga. 

Berjodoh sama ileus obstruksi di ujian responsi, berjodoh ganti verban juga pas ujian praktiknya sungguh itu bukanlah kebetulan. Berjodoh sama penguji yang baik, menjadi perantara pertolongan Allah buat kita. 

Berikutnya KGD, di awal saya hampir berjodoh sama RS persahabatan, saya udah seneng banget karena akan ada fase di ICCU (intensive cardiology care unit). Itu tempat perawatan khusus jantung.. aarrrhh kardiovaskuler, sungguh aku cinta kamu :D. tetapi, sayangnya saya gak jodoh, malah dapet jodoh sama rumah sakit Islam Jakarta Pondok Kopi. Sebuah tempat yang tak pernah terjamah oleh saya sebelumnya, tempat yang pasti jauh dari rumah dan asing. Di RS ini tentulah semuanya Islam, perawatnya pakai hijab semua, tapi tetep sih seragamnya celana panjang juga (gak tau ya kalo yg di cempaka putih). 

Pekan awal di ICU/HCU, ada pasien pakai ventilator (alat bantu nafas mekanik). Awalnya melihat, ya rasa sedih karena nafas pasien dibantu alat, lalu teringatlah lagi nikmat mana yang kau dustakan? Kalimat yang diulang-ulang di surat Arrahman. Nikmat bernafas dengan spontan, gak perlu bantuan terapi oksigen dari manapun itulah nikmat yang sering terlupa saat sehat. Bahkan disini juga banyak pasien dengan penurunan kesadaran, perlu dibantu total semuanya dan bisa dikatakan fungsi tubuh lain telah menurun karena sakitnya. Dan sungguh kematian itu amat dekat, tapi seringkali kita tidak mempersiapkan sebaik-baiknya bekal. Beberapa kali saya melihat pasien sedang sakaratul maut, akralnya udah dingin, nadinya cepat, nafasnya melambat hampir gasping. Ini bikin juga saya belajar, kalau kematian sungguh dekat, pada orang sakit ataupun sehat. Alangkah baiknya terus melakukan persiapan bekal untuk menghadapinya, tak perlu takut akan kematian karena itu menjadi awal gerbang pertemuan dengan Allah.  

Selanjutnya, di unit gawat darurat, yeaahhh ini yang paling saya tunggu-tunggu seumur hidup selama sekolah di FIK. Tak diragukan lagi, emang ini juga motivasi saya memilih FIK untuk melanjutkan sekolah. Ya, Perawat gawat darurat, itu cita-cita saya. Saya suka banget suasananya, adrenaline rush-nya saat kondisi kegawatan. Ohh, akhirnya datang juga. Berjodohnya saya dengan RSI juga patut disyukuri, karena ini bukanlah milik pemerintah maka saya belajar banyak tentang perbedaannya. Setidaknya ini nambah pengetahuan juga buat manajemen RS. Di IGD ketemu sama pasien yang dari sakitnya ringan sampai berat. Kalau diistilah kegawatan triase hijau, kuning dan merah. Pasien pasti ditanya apa yg dirasakan? Sakit sejak kapan? Makan, minum, gimana? Ukur tanda vital. Panggil dokter, kasih infusan asering dan obat sesuai indikasi. Respon orang sakit itu bener macem-macem ya, ada yang masih bisa nahan sakit, ada yang kecemasannya tinggi, ada yang nyeri banget sampe teriak-teriak. Ada juga yang bikin sedih, karena hampir tak terselamatkan, ada yang bikin ketawa kadang karena keluguan pasien. 

Beneran ya, jadi perawat gawat darurat itu harus cekatan seperti yang dibilang pak Made, terus juga pintar karena harus bisa mengenali kondisi pasien dalam waktu singkat selain itu skillful karena pasien yang masuik IGD mulai dari bayi, bocah, dewasa sampe geriatri pun ada. Kereen deh emang perawat IGD.. hahaaha.. lebaay :D 

Terus yang bikin suka banget itu, adrenalin rush pas kita dalam triase merah, apalagi kalo ada yg apneu atau henti jantung. Errhhh… sungguh puas kalau bisa menyelamatkan pasien, meskipun itu emang atas izin Allah juga pasien bisa selamet. Itulah gunanya ilmu untuk dimanfaatkan buat membantu kehidupan manusia lain. Senang, bisa punya ilmu ini, yang bisa bikin orang lebih sehat. Karena inilah, maka saya makin bertekad dan semangat agar bisa jadi ners gawat darurat setelah lulus profesi ini. Semoga Allah berkenan mengabulkan keinginan ini. Sebuah cita sejak hampir 5 tahun lalu terbesit dalam hati. 

Apalagi pas ujian, jodoh banget sama post kraniotomi, beneran deh ini saya gak belajar apa-apa, mana pake ventilator pula pasiennya, *oiya, kita ujian pake phantom, gak pake orang beneran, jadi ujian di lab* sungguh ya, dari 2 ujian ini, dua-duanya saya dapet yang belum mantap dipelajari, jackpot banget deh ini ujian, mana yang praktikum pun gak belajar (dipikir dapet agd kali, atau CVP, RJP yg udah mantap dipahami) eeh ini malah jodoh sama suction ventilator, jawab ragu-ragu akhirnya dikasih PR sama penguji. Beneran saya mah, pasrah aja. Pas responsi jawabannya ngaco-ngaco, ngasal-ngasal, beneran ini mah, gak lulus juga rela, karena emang gak belajar. Dari kemarin belajanye, KAD, ARDS, Syok, ACS.. eehh malah dapet post kraniotomi coba (eeeerrhhh.. sebal tapi ya mau gimana, itu rezekinya). Sedih dan kecewa sama diri sendiri itu pasti ada, merasa bodoh dan gak berhak dapet nilai bagus itu sesuai. Tapi gak boleh surut semangat buat profesi, waah masih panjang perjalanan upik! Tapi Allah beneran baiiiik bangeet, Alhamdulillah, saya diberikan kelulusan ujian dan juga pemahaman yg baik dan bener tentang suction. Allah, saya harus gimana lagi bersyukur padaMu, saya merasa nikmat ini berlebihan sungguh. Beneran, I love You more, Rabb.

Pokoknya syukur tak berhenti atas semua jodoh yang dipertemukan dengan saya selama KMB/KGD ini. Benarlah, bahwa kamu boleh jadi benci sesuatu padahal itu baik buatmu, Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak (Q.S 2:216). Allah, makasih banget, bangeet bangeet #lebaay..