8/31/2018

Kembalikan Semangat Pasca Kehilangan dengan Natsbee Honey Lemon

"A happy wife is a happy life"
― Gavin Rossdale


Istri yang hatinya bahagia akan membuat kehidupan bahagia juga. Apalagi jika para istri ini juga berperan sebagai ibu, tentunya anak membutuhkan ibu yang bahagia bukan yang sempurna. Terkadang tanpa disadari sejak peran kita berubah menjadi peran ganda, ada banyak pelajaran hidup yang kita dapat. Bagi saya, berperan menjadi istri dan ibu, memberikan pengalaman hidup yang tak terkira. Setiap waktu selalu ada kejutan yang siap menanti.







Ketika memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, saya dan suami sepakat bekerjasama dalam urusan domestik. Mulai dari belanja ke pasar atau tukang sayur dekat rumah, memasak serta mengurus tumpukan cucian yang sudah memuncak. Perkara pengasuhan anak, kami telah sepakati untuk mengasuh bersama, karena kamilah orang tuanya.

Sepanjang hari beraktivitas di rumah, seorang ibu juga bisa berisiko stress. Apa sebabnya? Ya tentu saja pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran ditambah lagi para ibu di rumah juga berisiko terkena gaya hidup tidak sehat seperti makanan tidak sehat serta kurang berolahraga. Oleh sebab itu, penting bagi para ibu di rumah tetap menjaga gaya hidup sehat setiap harinya. Kalau saya memilih aktivitas fisik (olahraga) di rumah bermodalkan matras dan video instruktur workout selama 30 menit.

Setelah rutin olahraga 5 kali seminggu tubuh terasa lebih segar. Biasanya yang mudah lelah sekarang tubuh lebih fit. Beberapa hari di awal pekan bulan Juli, saya mengecek jadwal tamu bulanan yang sepertinya datang agak terlambat. Ah, saya pikir biasa terlambat 3 hari, mungkin faktor kelelahan saja. Lima hari menunggu, ternyata tidak datang juga. Saya berpikir akan kemungkinan hamil. Segera saja, minta tolong suami membeli testpack di apotik. Pagi hari, 15 Juli hasil testpack menunjukkan dua garis! Alhamdulillah, saya hamil kedua.


Keharuan pagi hari ini tanpa sadar membuat air mata saya meleleh. Dulu saya sempat berencana untuk memberikan jarak empat tahun untuk anak kedua dan sekarang saya diberikan kesempatan itu. Sungguh jadi kejutan besar bagi saya. Terlebih lagi saya tidak merasakan mual ataupun muntah sejak awal. Dengan begitu, saya tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa hanya saja lebih berhati-hati.

Semuanya baik-baik saja, sampai dua hari sebelum upacara hari kemerdekaan saya mendapati ada perdarahan yang keluar. Segera saya menghubungi suami untuk bertemu di rumah sakit. Khawatir terlalu lama pergi, saya meminta tolong kepada tetangga untuk menjaga Kristal selagi saya ke rumah sakit.

Alhamdulillah, setelah diperiksa janin yang masih kecil itu lengkap dengan kantungnya. Dokter menyarankan untuk beristirahat dan meminum obat yang telah diresepkan. Setelah minum obat teratur dan istirahat, darah masih keluar. Puncaknya pada hari Senin, dua hari sebelum IdulAdha saya merasakan darah yang keluar bertambah banyak. Selain itu, perut pun terasa agak sakit, berbeda dengan hari sebelumnya yang tanpa rasa sakit. Segera saja sore itu juga saya meminta suami pulang dari kantor untuk bersiap-siap menuju rumah sakit.

Kami langsung menuju IGD, dokter dan perawat segera memeriksa saya. Setelah diminta cek urin, saya pun dirujuk ke dokter spesialis kandungan yang sedang praktik di poliklinik. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ukuran janin kurang sesuai dengan usia kehamilan. Dokter pun mendiagnosa kehamilan saya sebagai suspect blighted ovum.
Mendengar penjelasan dokter dada saya terasa perih. Harapan memiliki anak kedua, pupus sudah. Dokter pun meminta saya kembali beristirahat dan melanjutkan pengobatan.
"Kita tunggu seminggu lagi untuk melihat perkembangan janin ya, tetapi jika perdarahannya makin banyak atau lebih lama dari menstruasi, ibu segera periksa ke sini" ujar dokter kandungan.

Lima hari setelahnya, saya masih mengalami perdarahan. Berarti sudah lebih dari waktu normal yang menandakan saya perlu segera memeriksakan diri ke dokter kandungan lagi. Sabtu malam akhirnya saya kembali diperiksa melalui USG. Hasilnya, janin dan kantung kehamilan sudah tidak ada. Rahim saya kosong, tanpa kehidupan janin didalamnya.


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Seketika pikiran saya hampa, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sambil menunggu pembayaran, saya duduk dengan mata berkaca-kaca berusaha menahan tumpahan air mata. Bermodalkan senyuman getir, saya menghampiri kasir rumah sakit dan menuju lobi rumah sakit sambil merapal ampunan pada Allah.

Begitulah kehidupan ada bahagia ada duka. Semuanya telah tertulis, selanjutnya bagaimana saya mengelola duka ini agar lekas pulih.

 “Don't cry because it's over, smile because it happened.”
― Dr. Seuss

Tetap #AsikTanpaToxic pasca kehilangan

Awalnya rasa kehilangan ini begitu menyesakkan dada. Seluruh langit harapan itu terguncang dan runtuh, rata dengan bumi. Saya pun menyadari jika stress ini todak dikelola dengan baik dapat menjadi racun bagi fisik dan jiwa. Syukurlah, saya memiliki dukungan dari suami dan keluarga, ini menjadi safety net saat kondisi sedang lemah. Selain itu, saya juga kembali melakukan aktivitas harian untuk mengatasi stress pasca kehilangan.

Kesedihan dan kebahagiaan selalu dipergilirkan dalam hidup. Itu sudah menjadi hukum alam, bahwa memang hidup ini bagai roda yang kadang berada di atas atau di bawah. Kebahagiaan tidak selamanya, sedangkan kesedihan juga bukan akhir segalanya. Saya mulai membenahi pikiran yang kusut dengan kembali menulis. Bagi saya menulis adalah satu cara mengatasi stress.

Saya pun mengatur ulang lagi kurikulum pendidikan sekolahrumah bagi Kristal. Saya sering mendapat pertanyaan mengenai putri saya, apakah sudah sekolah?. Sejak tahun 2018, saya dan suami memang sepakat untuk mendidik anak langsung di rumah alias sekolahrumah atau yang populer dikenal sebagai Homeschooling (HS). Pada dasarnya sekolahrumah adalah model pendidikan yang prosesnya langsung dalam tanggung jawab keluarga sendiri. Jadi, meluruskan anggapan yang kurang tepat mengenai HS yang dianggap sebagai institusi/ lembaga.



Saya kembali mempelajari metode pendidikan anak dari beberapa sumbernya. Saya berdiskusi langsung dengan praktisi HS senior dengan anak yang sudah memasuki jenjang perkuliahan. Pengalaman beliau-beliau ini menjadi harta karun tersendiri bagi saya yang baru memulai praktik HS. Selain itu, saya pun membaca kembali buku-buku parenting di rumah. Saya berharap dapat makin banyak belajar untuk mempersiapkan HS di rumah.

 




Wacana berolahraga pun masuk dalam daftar aktivitas saya kembali. Ditemani dengan NATSBEE Honey Lemon, saya bisa #AsikTanpaToxic menjalani hari-hari bebas stress. Stress yang terlalu lama akan berefek pada kondisi fisik yang tentunya akan mengganggu kesehatan tubuh.¹ Saya bersyukur ada  Natsbee Honey lemon, minuman madu lemon yang rasanya enak dan kaya akan vitamin C yang dapat menjaga kekebalan tubuh.

Pengalaman kehilangan ini sempat membuat stress sehingga kekebalan tubuh menurun. Berdasarkan riset, perasan air jeruk lemon merupakan sumber terbaik dari vitamin C, sedikit vitamin B dan Kalium.² Kandungan vitamin C yang berlimpah pada lemon membantu kerja sistem kekebalan tubuh melawan seumber penyakit.


Photo by rawpixel on Unsplash

Sedangkan madu, telah diteliti dapat mengurangi batuk dan meningkatkan kualitas tidur pada anak-anak.³ Selain itu, madu merupakan salah satu bahan pangan yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Konsumsi antioksidan juga dikaitkan dengan aktivitas penghambatan terhadap kanker, jantung koroner, radang,proses degenerasi saraf, dan penuaan.⁴ Wah, kalau begini sudah pasti kombinasi menjadi satu minuman dapat menjaga kesehatan tubuh.



Photo by Hunter Trahan on Unsplash


Kombinasi madu dan lemon begitu menyegarkan

Nah, sekarang tidak perlu repot lagi memeras lemon dan mencari madu murni untuk meracik minuman madu lemon karena ada Natsbee Honey Lemon. Minuman madu lemon ini mengandung 100% vitamin C sehingga cocok bagi untuk bersihkan hari aktifmu melawan stress dan polusi. Ditambah lagi kandungan antioksidan dari kandungan madu yang terbukti bermanfaat mencegah proses degeneratif tubuh.


Natsbee menemani HS Kristal



Saya pun telah merasakan sendiri kesegaran Natsbee Honey Lemon. Di sela aktivitas HS Kristal dan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, kehadiran minuman madu lemon ini menjadi immune booster ketika hampir kewalahan dengan pekerjaan. Di dalam Natsbee Honey Lemon, saya mendapatkan manfaat madu dan lemon sekaligus. Dengan begitu, tubuh tetap fit dan saya bisa beraktivitas #AsikTanpaToxic.


Rasa manis dari Natsbee Honey Lemon didominasi oleh madu. Inilah yang membuatnya terasa madu banget. Minuman madu lemon memang cocok bagi mereka yang kurang berselera dengan manisnya gula tebu. Kristal yang sudah menjadi penggemar madu sejak lama begitu menyukai rasa Natsbee Honey Lemon, begitu pun saya.

Setiap pengalaman hidup membuat kita selalu belajar. Rasa sedih ketika kehilangan itu normal, alangkah baiknya jika kita dapat mengelola stress pasca kehilangan itu dengan baik. Ada satu pernyataan yang membuat saya lebih lega.

Be sad and joyful. It is okay to feel sad at times but the key is to not let it control you. Others have survived their grief, and in time you will too. Do enjoyable things because laughter and joy are healers. Remember that celebrating bits of joy doesn’t dishonor your loss.

Sebab hidup masih berlanjut dan saya masih memiliki harapan-harapan lain yang perlu diusahakan. Berlarut-larut dalam kesedihan tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi, lebih baik menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat baru agar hidup makin #AsikTanpaToxic.

“If you want to be happy, do not dwell in the past, do not worry about the future, focus on living fully in the present.”
― Roy T. Bennett, The Light in the Heart







Referensi:
1. Stress symptoms: Effects on your body and behavior. 2016. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-symptoms/art-20050987

2. Lemon juice, raw nutrution Facts & Calories. http://nutritiondata.self.com/facts/fruits-and-fruit-juices/1938/2

3. Goldman, R. D. (2014). Honey for treatment of cough in children. Canadian Family Physician, 60(12), 1107–1110. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4264806/

4. Chayati, I dan Isnatin Miladiyah. 2014. Kandungan Komponen Fenolat, Kadar Fenolat Total dan Aktivitas Antioksidan Madu dari beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Media Gizi Mikro Indonesia. http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/mgmi/article/view/3872




Gambar diperoleh dari Unsplash.com dan dokumentasi pribadi.


1 comment:

  1. Innalillahi wainnaillaihirajiun, semoga diganti dengan rejeki lain yang lebih baik ya mba...

    ReplyDelete

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya

Custom Post Signature