April 30, 2018


Technology is nothing. What’s impotant is that you have faith in people, that they’re basically good and smart, and if you give them tools, they’ll do wonderful things with them. (Steve Jobs)


Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat hidup manusia lebih mudah. Ini terlihat dari munculnya berbagai gawai (gadget) yang semakin pintar mulai dari telepon pintar hingga jam pintar. Tentunya kepintaran gawai ini akan semakin bermanfaat jika sesuai kebutuhan pemakainya.



Dahulu telepon umum sempat berjaya di era 90-an namun kini sudah tergantikan oleh ponsel pintar. Jadi, jika sekarang kita temukan kotak telepon umum di tepi jalan maka sudah dipastikan itu hanyalah pajangan, haha seriously! Mereka semua sudah tidak bisa dipakai lagi. Saya pernah mencoba sendiri di sebuah mal yang masih terpajang deretan kotak telepon umum dan tak terdengar nada sambung apapun. Kemajuan teknologi perlahan akan menggerus mereka yang tidak dapat mengikuti zaman.

April 21, 2018

 Sepanjang tahun 2018 ini ada beberapa target pencapaian yang begitu menantang bagi saya. Saya berkesempatan mempelajari hal baru. Saya merasakan semangat yang menyegarkan dan begitu berbeda kali ini. Haha… maklum ya, namanya udah lama belum belajar sesuatu yang serius. Jadi, rasanya bener-bener ghirah gitu.

 Julie's Peanut Butter  
Berhubung saya punya aktivitas baru selain nulis blog dan di luar peran keluarga, tentunya perlu alokasi waktu khusus. Kalau begitu, biasanya saya bikin rencana belajar selama sepekan. Apa saja yang mulai akan dikerjakan, sudah dikerjakan dan sudah sejauh mana dari target selesai. Ini khusus buat aktivitas baru saya, belajar tentang sekolah rumah (homeschooling) usia dini secara daring.


Alhamdulillah, kelas daring berlangsung malam hari. Jadi, setelah suami pulang saya serahkan urusan Kristal dan apapun padanya sedangkan saya fokus belajar di kelas virtual. Kelas virtualnya pun ada tugasnya lho, makanya ini bikin saya perlu usaha lebih dalam mengatur waktu sehari-hari.


Aktivitas padat? Sudah pasti. Lelah? Kadang ada, ya namanya juga manusia. Bosan? Enggak sama sekali. Ini pasti karena saya suka banget dengan rutinitas baru, bukan yang itu-itu aja, wkwk.. gaya banget ah! Iyalah, air aja kalau gak gerak jadi sarang nyamuk nan tidak berfaedah apalagi kita, manusia kalau hidup gak dinamis ya gak hidup alias mati, ye kan?


Saya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang bukan sekedar menjalani rutinitas. Saya berharap ada sesuatu dibalik rutinitas yang diharapkan akan bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Bergabungnya saya dengan beberapa komunitas baik komunitas blogger ataupun sekolah rumah membuat saya menjadi lebih hidup. Ada hal yang mampu saya berikan sesuai dengan kemampuan saya.


Dukungan sepenuhnya datang dari suami yang selalu mengingatkan hidup jangan cuma begitu-begitu aja. Biasanya kami mengobrol mulai dari hal-hal kecil yang bikin tertawa bareng sampai juga obrolan serius di pagi hari setelah subuh.


Bercerita tentang kehidupan yang sudah dan akan dilalui keluarga memang paling asik ditemani juga camilan enak seperti Julie’s Peanut Butter Sandwich. Biskuit dengan lapisan selai kacang ini terasa berbeda di lidah. Awalnya,saya berprasangka selai kacangnya pasti terasa manis sebagaimana umumnya selai kacang. Tetapi, ini bener-bener beda ya, duh saya jadi malu atas prasangka saya.



Julie’s Peanut Butter Sandwich memiliki rasa selai yang lebih terasa gurihnya dengan manis yang pas. Rasa gurih selai berpadu dengan biskuit yang cenderung asin menjadikannya Julie’s lebih legit saat digigit.

Aih, saya suka yang begini nih..



Biasanya saya kurang terlalu doyan biskuit kacang karena aromanya yang agak menusuk hidung. Berbeda dari yang biasanya Julie’s Peanut Butter Sandwich memiliki aroma yang menyenangkan untuk dihidu, haha.. Enak banget wangi selai kacangnya sungguh menggoda. Suka deh, pokoknya. Apalagi si Kristal pas nyobain sekali eh minta nambahnya berkali-kali. Separuh bungkus biskuit habis sama dia seorang, wkwkw… doyan bener neng?

Julie’s Peanut Butter Sandwich diproduksi negara tetangga, Malaysia. Khusus pemasaran di Indonesia Julie’s telah lulus sertifikasi halal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Semua produk biskuit dari Julie’s telah mendapat sertifikasi halal yang berlaku sampai tahun 2019.

 

Lomba Foto Julie’s Berhadiah Microwave

Bagi kamu yang seneng ngemil dan tergoda untuk mencicipi Julie’s di tiap gigitannya, cus ke Indomaret terdekat dan temukan Julie’s Peanut Butter Sandwich 90 gr. Struk belinya disimpan dulu. Terus seru-seruan foto bareng Julie’s Peanut Butter Sandwich dengan tema Buah Tangan #PenuhCintaDariJulies.



Kalau sudah foto-foto, unggah hasilnya dan ceritakan dengan siapa kamu berbagi kelezatan Julie’s Peanut Butter disertakan tagar #BuahTanganPenuhCintaDariJulies.
Kalau mau unggah ke Facebook, kamu dapat mengunggahnya di Fanpage Julie’s Peanut Butter: Julie’s Indonesia atau dapat juga ke Instagram Julies @julies.ind. Syarat dan ketentuan lomba bisa dilihat di bit.ly/BuahTanganPenuhCintaDariJulies
Lomba ini berlangsung sampai 30 April 2018. Yuk, ah cepetan ikut. Siapa sih yang gak mau hadiah segini banyak:
  • Juara 1: Mendapat 1 pcs Modena microwave senilai Rp 5.000.000 + Shopping voucher senilai Rp 1.000.000 dan paket produk
  • Juara 2: Mendapat cooking set senilai 2.000.000 + Shopping voucher Rp 1.000.000 dan paket produk
  • Hadiah hiburan untuk 10 pemenang berupa shopping voucher senilai @ Rp 250.000 dan paket produk
Aaakk… aduhai microwave, belum punya nih… saya jadi kepingin juga.. wkwk
Ayo ah, ikutan semua, saya tunggu ya… Semoga dapet rezeki yang pas..



March 12, 2018

Bibir kering bukanlah masalah baru bagi saya. Sayangnya, ini jadi masalah hidup yang enggak kelar-kelar. Kadang menyebalkan rasanya, sudah pakai produk sana-sini belum juga menghilangkan keringnya bibir saya ini.

“Itu mah dehidrasi kali”

Ah, gimana mau dehidrasi kalau seharian sudah minum berbotol-botol yang sebotolnya sekitar 800 ml coba?


Jantung saya terkesiap seketika setelah melihat e-mail yang baru masuk sore itu. Ini dia nih, e-mail yang saya tunggu-tunggu kedatangannya setelah mengisi formulir pendaftaran workshop menulis dengan cinta. Ketika itu memang saya pasrahkan hasilnya apakah terpilih atau tidak. Akan tetapi, di lubuk hati terdalam, tak dipungkiri saya kepingin banget terpilih. Alhamdulillah, Allah menjawab keinginan saya. Jadilah saya berkesempatan belajar menulis dengan cinta bersama Dini Fitria.

March 10, 2018


Seusai berolahraga sore itu, tiba-tiba saya merasakan sakit di area bawah perut. Padahal ini belum masanya sindroma pra-menstuasi. Saya pun mencoba istirahat dengan menyandarkan tubuh ke dinding. Rasa dingin dari dinding menembus pori-pori ditambah lagi baju yang saya kenakan telah dibanjiri keringat. Ah, ternyata beristirahat pun tidak mengurangi rasa sakit ini.


Akhirnya, saya mencoba untuk minum air putih lebih banyak dengan maksud menghilangkan sakit. Tidak lama setelah minum, justru saya merasa kandung kemih begitu penuh dan berkeinginan untuk buang air kecil (BAK). Alangkah sakitnya BAK yang saya rasakan, hampir membuat saya tidak ingin BAK lagi.

March 7, 2018

Judul Buku: It's Ramadan, Curious George

Penulis: Hena Khan

Ilustrasi: Mary O'Keefe Young

Tahun terbit: May 2016

Penerbit: Houghton Mifflin Harcourt (HMH) Publishing Company

Tebal: 14 halaman board book, 9 x 0.5 x 8 inchi

Level Pembaca: Usia Pra-sekolah ke atas



Apa yang terpikir jika kita mendengar Curious George? Pasti beberapa dari kita pernah melihat serial animasinya di televisi. Seekor monyet yang sangat ingin tahu dan kadang malah tidak sengaja membuat kekacauan karena tingkahnya.



Tingkah laku George ini merupakan analogi dari sifat anak-anak yang selalu penuh rasa ingin tahu dan ingin mencoba. Buku ini merupakan seri George merayakan beberapa hari besar lainnya seperti Natal, Hanukah, Halloween, St. Patrick Day dan Parade Day



Dikisahkan George memiliki seorang teman baru bernama Kareem. Kareem adalah anak lelaki dari sebuah keluarga Muslim. Nah, saat bulan Ramadan tiba Kareem belajar untuk melakukan ibadah puasa. Sebagaimana anak-anak seusianya Kareem merasa lapar ketika tiba waktunya makan siang. Padahal ia masih harus menahan rasa lapar dan hausnya hingga matahari terbenam. 


Cerita George yang menemani Kareem ini begitu hangat. Cerita mengenai Ramadan dan tradisi di bulan puasa digambarkan begitu sederhana tapi kena di hati. Saya sebagai pembaca yang membacakan putri saya cerita ini sangat dimudahkan untuk menjelaskan tentang bulan Ramadan. 


Sahur di pagi hari untuk berpuasa Ramadan dan juga melakukan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan menjadi point yang juga utama dalam buku ini. Terdapat bagian Kareem dan George menyiapkan barang-barang untuk dibagikan pada orang yang membutuhkan. Beginilah deskripsi suasana Ramadan sesungguhnya yang memang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita.


Ilustrasi yang disajikan begitu menyenangkan mata. Suasana yang digambarkan begitu sesuai, bagaimana persiapan Ramadan begitu meriah karena semua orang bergembira. Selain itu, warna yang cerah benar-benar membuat suasana Ramadan begitu hidup. Pada bagian samping buku terdapat ilustrasi apa yang dikisahkan pada halaman tersebut. 


Menjelang Idul Fitri Kareem memberikan hadiah bagi temannya, George dan lelaki topi kuning. Ini menggambarkan semangat berbagi kebahagiaan kepada siapapun tak pandang bulu. Dalam hal ini, saya sepakat bahwa bulan suci Ramadan memiliki esensi kembali kepada fitrah bahwa manusia pada fitrahnya cenderung kepada kebaikan dan menyenangi akan berbuat baik maka Ramadan ada untuk mengembalikan fitrah tersebut. 

George dan Kareem mencari hilal



Buku ini sangat cocok bagi orang tua yang ingin mengenalkan Ramadan kepada anak-anak. Garis merahnya bulan Ramadan dimanapun itu, baik di Indonesia atau dunia lainnya tetap sama yakni beribadah puasa dan melakukan lebih banyak kebaikan untuk sekitarnya. Dengan begitu, kembali ke fitrah akan dapat dicapai oleh seorang Muslim.





February 26, 2018


Saat ini Indonesia mengalami triple burden masalah gizi, yaitu stunting, obesitas dan penyakit tidak menular (PTM).
-Global Nutrition Report 2017

Sebagaimana laporan Global Nutrition, ada tiga masalah yang menjadi beban bagi negara kedepannya. Lantas, apakah kita rela masa depan negara ini dipenuhi oleh warganya yang tidak sehat? Inilah yang membuat masalah gizi dalam masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja melainkan juga berbagai stakeholder dan pihak terkait. 




Atas dasar itu pula Danone Indonesia turut memberikan perhatian, khususnya pada kasus stunting. Sarihusada yang merupakan bagian dari Danone Nutricia Early Life Nutrition sangat peduli akan gizi di 1000 hari pertama kehidupan. Oleh sebab itu, dalam rangka Hari Gizi 2018, Sarihusada Nutrisi untuk Bangsa mengadakan Talkshow Kesehatan "Menyediakan Gizi Terbaik dalam Periode 1000 Hari Kehidupan Pertama (1000 HPK)."

February 25, 2018


Assalamu'alaykum warahmatullahi...

Sepanjang usia saya tinggal di Jakarta belum pernah sekali pun tahu ada perpustakaan yang dikelola negara. *Haduhh,, kemana aje mpok? wkwkw... Baru tahu ada Perpustakaan Umum Daerah di deket Gandaria waktu SMA. Itu juga tahu karena apa coba? Karena ada plang di pinggir jalan deket lampu merah yang dilewati rute bus menuju rumah dari SMA di Blok M. Sungguh besar faedah plang sebagai penujuk tempat emang!




Terus setelah tahu ada perpustakaan di situ apakah saya pergi ke sana? Jawabannya adalah ENGGAK PERNAH.. hahaha...

Jaman dulu emang parah dah, kalau maen maunya ke mall tapi perginya ke toko buku. Ini bertujuan untuk bisa baca buku yang udah dibuka segelan plastiknya. Udah gitu dibaca sambil nongkrong wkwkw..

duh, kelabu amat~~

Tapi semua berubah ketika saya mulai kuliah. Keterbatasan uang untuk beli buku ASLI menyebabkan saya mesti rajin ke perpustakaan buat nyari buku referensi. Kalau enggak punya buku yha mana bisa tugas selesai. Bahkan saking rajinnya saya dulu adalah penggemar setia perpustakaan pusat UI yang masih terletak di tengah hutan deket rektorat. Tempatnya bener jauh dan kalau ke sana lewat rektorat pasti lewatin menara air yang sepi banget haha, udah gitu mah kita jalan kaki pula *waktu belum ada sepeda kuning.

Coba kau sebut apa itu kalau bukan cinta... eeaaa~

Yhaa.. jadi kangen perpus yang dulu.. tsaahh~~

Nah, jaman sekarang kesadaran literasi meningkat pesat.. lumayanlah ya daripada jaman eike kecil hahay! Perpustakaan dibenahi oleh pemerintah, dibuat menarik dan fasilitas yang lengkap. Pol-polan deh pokoknyaa.


 Alhamdulillah, perpustakaan sekarang udah ada ruang khusus anak-anak. Sebab itulah, saya ajak Kristal mengunjungi Perpusnas RI yang berada tepat di sebelah Balaikota. Sempat bingung karena saya malah turun di pintu belakang Balaikota, nyariin perpusnya di sebelah mana kok kaga ada.

VIA GIPHY

Akhirnya ketemu jugaaa... Masuk ke gedung pertama kita akan disuguhi beberapa ruangan berisi audiovisual mengenai sejarah perpustakaan dan literasi di Indonesia. Ada pajangan sepeda yang jaman dulu pernah dipakai untuk perpustakaan keliling. Wah, area ini cukup bagus sih buat difoto. Selain itu, sangat cocok untuk anak-anak usia sekolah.



Kalau ditanya mana gedung barunya itu berada tepat di belakang gedung pertama. Awalanya memang perpustakaan hanya terdiri dari 3 lantai. Nah, gedung yang baru dibangun ini dibuat 27 lantai dengan penambahan beberapa koleksi khusus. Termasuk koleksi digital dalam bentuk manuskrip, monograf, audio dan video.

Sumber: Kumparan
Pertama kali masuk kamu mungkin akan terpana dengan jajaran banyak buku yang dipajang bak rak buku raksasa. Reaksi saya adalah aaaakkkk.... apaan nih sampe begini.. bagus beneer. *girang*




Kita naik ke lantai dua dan bertemu petugas keamanan yang begitu ramah. Alhamdulillah ya, gak kalah sama mall deh. Aku suka.




Di lantai 2 ini merupakan tempat pendaftaran anggota baru serta peminjaman loker untuk menyimpan barang-barang kita. Saya bikin kartu anggota perpus langsung mengisi form online di jajaran komputer yang disediakan. Setelah selesai akan tercetak langsung nomor antrian kita. Nah, kita nunggu lagi deh untuk dipanggil ke konter. Di konter kita akan difoto via webcam. Selain itu juga ditanyakan beberapa data yang emang butuh.



Pendaftarannya GRATIS kok! Peminjaman loker juga gratis. Nah, sayangnya kita gak boleh bawa tas gede-gede kalau ke tempat buku. Jadi, perlu bawa tas kecil buat nyimpen handphone sama dompet juga air minum. Waktu saya datang ke layanan anak ada lagi loker buat nyimpen barang bawaan. Jadi gak perlu takut gak boleh bawa air minum, boleh kok tapi disimpen dalam loker yang kuncinya kita pegang sendiri.


Ketika melangkahkan kaki ke dalam layanan si Kristal tampak berbinar-binar! Iyalah, di depan matanya ada banyak mainan yang gak dimiliki di rumah gitu, haha.. *duh ya neng..

Ada mainan rumah-rumahan gitu, ayunan dan perosotan serta mobil odong-odong. Koleksi buku anaknya pun tersimpan rapi dalam rak. Mulai dari buku balita yang belinya pake cicilan ada, buku fiksi anak sekolah ada sampai ensiklopedia macam-macam ada...



Interiornya saya suka banget! Cerah dan ada ilustrasi dari cerita daerah di tiang-tiang penopang besar. Dindingnya juga dihias dengan ilustrasi anak Indonesia. Di satu sisi disediakan sofa dan meja yang cukup nyaman selain itu dapat juga membaca buku sambil duduk di karpet.





Di layanan anak lantai 7 ini buku yang ada tidak bisa dipinjamkan hanya untuk dibaca di tempat. Namun, untuk meminjam buku dapat mencari dulu judulnya secara online (di komputer lantai 2) nanti akan keluar lokasi dimana buku berada. Dengan begitu, kita tidak perlu keliling semua lantai perpustakaan cukup dengan menandai di lantai mana buku yang kita cari bisa dipinjam.


Saya berkunjung tahun 2017, saat itu masih belum bisa meminjam buku (karena masih dalam proses penyimpanan database kata petugasnya). Karena itu pula, masih belum ada aturan jumlah berapa banyak buku yang bisa dipinjam. Kemungkinan bisa berubah dari yang awalanya hanya sekian jadi lebih banyak *ini mah harapan saya wkwk...

Yuk, jalan-jalan ke perpustakaan...!!



February 17, 2018

[Sponsored Post]



Melihat timbangan dan alat ukur tinggi di Posyandu membuatku merasa ketar-ketir. Jantung berdebar, harap-harap cemas apakah berat dan tinggi badan anakku akan berada pada garis normal atau kurang. Ya, kurang berat dan tinggi badan yang memang tidak sehat bahkan berbahaya bagi masa depan anakku. Lantas, ibu manakah di dunia ini yang ingin anaknya terkena stunting? Kurasa tidak ada yang mau jika mereka tahu dan mengerti akibat buruk dari stunting.





Ilustrasi cerita tersebut adalah pengalaman nyata saya sendiri ketika menjadi ibu dari bayi berusia 4 bulan. Pada saat itu, putri saya memiliki kesulitan menyusui sehingga selain menyusui langsung saya harus memompa air susu ibu (ASI) saya lalu memberikannya kembali pada bayi saya. Berat? Wah, jelas gak usah ditanya lagi rasanya..

                                                Baca Juga: Pengalaman Relaktasi


Alhamdulillah, kalau bukan karena kuasa Allah yang maha baik saya mungkin sudah menyerah dalam memberikan ASI eksklusif. Lalu, putri saya mungkin akan berisiko terkena stunting. Tiga tahun lalu saya sendiri belum banyak mendengar informasi mengenai stunting seperti yang sekarang sudah ramai dikampanyekan Kementerian Kesehatan. Oleh sebab itu, saya mau menceritakan mengenai dampak stunting bagi masa depan anak-anak dan negeri kita.


Bertempat di Jakarta, Tempo mengadakan acara Ngobrol Tempo dengan tajuk diskusi “Bibit Unggul untuk Indonesia Hebat: Mencegah Stunting, Meningkatkan Daya Saing Bangsa”. Diskusi kali ini bukan cuma membahas stunting dari sudut pandang kesehatan saja tetapi juga sisi ekonomi nasional. Dengan begitu, diharapkan masyarakat memahami dampak stunting yang ternyata begitu besar bagi negara.




Narasumber diskusi kali ini diantaranya Fasli Jalal yang merupakan Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesian (PDGMI), Sri Enny Hartati Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) serta Iing Mursalin sebagai Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi berbasis Masyarakat untuk mengurangi Stunting (PKGBM) Millenium Challenge Corporation (MCA) Indonesia. Selain itu, hadir pula Yanuar Nugroho selaku Deputi II Kepala Staf Kepresidenan.


Menurut PBB, kasus gagal tumbuh/ perawakan pendek (stunting) terjadi akibat kurang gizi kronik. Diawali dari indikator gizi yang hanya dilihat dari perbandingan berat badan dan usia anak. Ternyata berkembangnya penelitian mengenai pertumbuhan anak menunjukkan bahwa kurang gizi di 1000 hari pertama kehidupan akan berdampak pula bagi perkembangan dan fungsi otak. Kemampuan intelektual anak yang stunting terganggu akibat rendahnya pertumbuhan sel otak di periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000HPK).


Penurunan berat badan anak yang kurang gizi akan dikompensasi dengan penurunan tinggi badan demi mempertahankan status gizi baik. Ketika anak mengalami gizi kurang lalu berat badannya turun maka tubuh akan melakukan adaptasi berupa penurunan tinggi badan. Ini dilakukan tubuh demi memenuhi gizi agar tetap tercukupi tidak. Anak memang tampak baik-baik saja sebab memang dilihat dari berat badan per usia status gizinya cukup.



Gerakan Pemenuhan Gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan diinisiasi oleh Ban Ki Moon (Sekretaris Jendral PBB) sudah berjalan selama 7 tahun. Ada pemaparan yang menarik dari Bapak Fasli Jalal, bahwa selain makanan yang kurang bergizi, ternyata cacingan juga menyumbangkan kekurangan nutrisi anak karena cacing mencuri nutrisi yang dibutuhkan anak. Jadi, walaupun orang tua menyediakan makanan bergizi bagi anak tetapi tidak membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan maka makanan bergizi yang dikonsumsi anak akan dicuri oleh cacing. Lagi-lagi perkara stunting bukan   hanya masalah ekonomi tetapi juga masalah akses kebersihan berupa pendidikan kesehatan dan kebersihan lingkungan.


Sri Enny Hartati Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memaparkan bahwa persoalan pangan merupakan masalah di negeri agraris seperti Indonesia. Faktor sumber daya manusia berkualitas yang salah satunya adalah berkualitas secara fisik. Jika kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka jangan harap negara kita maju.


Masalah kemiskinan dan kesehatan ibarat lingkaran setan dalam masalah ekonomi. Kenapa dia kurang gizi? Karena miskin. Kenapa miskin? Karena kurang pendidikan. Kenapa kurang pendidikan? Karena miskin.. begitu seterusnya.. Jika ini terus dibiarkan maka kehidupan dan daya saing anak cucu kita sulit diharapkan di masa depan.


Narasumber berikutnya adalah Kang Iing Mursalin sebagai Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi berbasis Masyarakat untuk mengurangi Stunting (PKGBM) MCA Indonesia. Ada 3 kegiatan besar yg dilakukan yaitu, kerjasama dengan pemberdayaan masyarakat, kedua peningkatan kapasitas kesehatan dan ketiga kampanye meningkatkan kesadaran gizi.


Tenaga kesehatan di Puskesmas dan kader posyandu diberikan pelatihan untuk memberikan edukasi gizi. Perilaku masyarakat terkait sanitasi yang masih rendah menyumbang juga dalam masalah stunting. Selain itu, anemia yang cenderung tinggi pada ibu hamil juga diintervensi dengan memberikan tambahan zat besi untuk mencegah stunting. Kegiatan melibatkan masyarakat cukup membuat perubahan bermakna dalam mencegah Stunting.


Bagaimana pemerintah memfasilitasi inisiatif gerakan CEGAH STUNTING dinarasikan oleh Yanuar Nugroho selaku Deputi II Kepala Staf Kepresidenan. Jika kita bicara stunting maka sudah dipastikan ini merupakan kondisi struktural. Hal ini mengindikasikan adanya permasalahan sistemik di masyarakat. Dampaknya sudah pasti akan mempengaruhi satu generasi.


Menurut Yanuar Nugroho, Cegah Stunting harus diupayakan secara sistematis dengan kerjasama lintas sektor. Anggaran yang disediakan sepertiga dari daerah dan sepertiga dari pusat dengan desentralisasi dari Pemerintah Daerah. Kita dapat mengupayakan penganan lokal menjadi pemenuh gizi yang utama bukan makanan manis (yang hanya mengandung gula). Indikator yang paling mudah adalah tinggi badan anak untuk dapat diketahui anak tersebut stunting atau tidak.


Selain itu, konseling terhadap pola makan harus dilakukan kepada pengasuh dan orang tua. Sanitasi, akses listrik dan rasio produksi konsumsi merupakan ketiga hal yang menjadi indikator pembangunan untuk mencegah stunting.


Setelah mengikuti diskusi ini saya jadi membayangkan kondisi yang secara fisik seperti jalan rusak, banjir atau tidak adanya akses listrik memang turut menyumbangkan angka stunting pada balita di daerah lain di Indonesia. Sehingga bukan hanya faktor ekonomi seperti ketidakmampuan menyediakan makanan bergizi saja yang menjadi penyebab utama. Selain itu, perlu diperhatikan juga perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan sebelum makan dan memperhatikan kandungan gizi yang dimakan perlu untuk diedukasi kepada orang tua dan pengasuh.

Gizi dan stimulasi perkembangan anak yang tepat akan mampu mengejar ketertinggalan akibat stunting. Ternyata bukan hanya kaya miskin penyebab stunting tapi literasi dan gaya hidup sehat yang minimal di masyarakat. Jadi, jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban stunting!