December 15, 2017

Kanker Serviks: Cegah Sebelum Terlambat


Dia datang dengan keluhan nyeri saat buang air kecil. Usianya tampak belum terlalu tua mungkin sekitar umur 40-an. Perut bagian bawahnya terlihat lebih besar dari ukuran tubuhnya yang pendek dan kurus. Selama ini memang ia tak pernah mengeluhkan sakit yang dirasakannya ke siapapun. Apalagi memeriksakan diri ke dokter atau layanan kesehatan tidak pernah dilakukannya selama sakit dirasakan masih tertahankan. 


Ternyata, diagnosa dokter kala itu adalah kanker serviks stadium tiga. Sebuah penyakit yang tak terbayangkan olehnya. KANKER SERVIKS? Mendengar penyakit itu disebut kontan membuat tubuhnya mengigil ketakutan. Takut mati?
Bukan, bukan malaikat maut yang ditakutkannya tetapi anak-anak yang akan ditinggalkannya. Siapa yang akan mengurus mereka kelak jika kanker ini menjadi penjemput mautnya?


Kanker serviks yang baru ketahuan ini membuat saluran kencingnya tersumbat sehingga dipasanglah selang kencing untuk membantunya buang air kecil. Setelah diperiksa ternyata kondisi ginjalnya pun terganggu. Akibatnya, dokter terpaksa melakukan tindakan pemasangan selang kencing langsung ke dalam dua ginjalnya. Sungguh tidak terbayangkan olehnya bahwa sakit pinggang yang biasa ini malah membuat tubuhnya begitu payah seperti sekarang. 
Kemoterapi


Kisah tersebut merupakan pengalaman nyata seorang penderita kanker serviks. Begitu hebatnya kanker serviks hingga membuat seorang wanita yang sehat dan kuat menjadi lemah dan terbaring bersama dengan selang bantuan. 


Sifat kanker serviks yang diam-diam mematikan ini menjadi penyebab utama meningkatnya kematian akibat kanker serviks. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan kematian akibat kanker serviks mencapai 9.498 kasus per tahunnya.¹


Saya membayangkan betapa beratnya bagi penderita kanker serviks dan juga keluarganya harus mengikuti serangkaian prosedur pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medis lainnya. Bukan hanya itu, sel kanker yang bersemayam dalam serviks penderitanya membuat tubuh semakin lemah. Hari demi hari sel kanker tumbuh semakin kuat dan membesar, menganggu fungsi normal tubuh. Terlebih lagi, tindakan pengobatan seperti kemoterapi, radiasi dan pembedahan yang juga memiliki efek samping bagi penderita. 


Ah, sungguh tak sanggup kita jika melihat ada keluarga atau orang lain yang menjadi korban kanker serviks. Bagaimana jika kita posisikan diri kita sebagai penderita kanker serviks? Tumbuhkah empati kita?


Berangkat dari empati inilah kita memiliki pilihan terhadap kesehatan tubuh kita sendiri. Apakah kelak mau mengalami kejadian sedemikian rupa? Atau mencegahnya sebelum terlambat?


Kanker serviks adalah penyebab kematian wanita nomor satu akibat kanker di Indonesia. Pada tahun 2013 diketahui 8 wanita dari 10.000 penduduk menderita kanker serviks.² Sebuah angka yang begitu fantastis untuk sebuah penyakit. Bahkan data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000 penduduk dan totalnya setiap tahun ada 40 ribu kasus kanker serviks.³


Berita baiknya, kanker yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal pada leher rahim atau serviks ini merupakan satu-satunya kanker ginekologi (organ reproduksi) wanita yang dapat dideteksi. Wah, hampir tak percaya kan? Sama, saya juga percaya gak percaya kalau ada pemeriksaan yang bisa digunakan untuk mengecek kesehatan serviks kita. Nama pemeriksaannya adalah PAP-SMEAR.


Sumber: thehealthsite.com

Pap smear merupakan salah satu cara yang paling mudah untuk mendeteksi kanker serviks. Pap smear ini dilakukan dengan menyapu selaput cairan pada serviks. Pemeriksaannya pun sebentar, hanya sekita 10 menit. Tingginya angka kematian akibat kanker serviks menurut World Health Organization (WHO) sebenarnya dapat diturunkan dengan melakukan pencegahan, diagnosis dini, serta program skrining dan perawatan yang efektif. Oleh sebab itu, WHO merekomendasikan program skrining kanker serviks diprioritaskan pada wanita usia 30-49 tahun sebab risiko kanker serviks meningkat setelah usia 30 tahun.⁴


Perbandingan seviks normal dan abnormal sumber: thehpvtest.com


Berbicara mengenai deteksi dini kanker serviks tentulah harus tahu juga apa penyebab dan faktor risikonya. Sebenarnya pertumbuhan sel pada serviks ini seharusnya normal tetapi ketika ada infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus) maka terjadilah mutasi (perubahan) desain sel serviks. Nah, perubahan ini menyebabkan sel tidak bisa mengatur pertumbuhan selnya, harusnya si sel berhenti tumbuh malah jadi terus menerus bertambah.


Lebih dari 90% kasus kanker serviks terjadi pada wanita yang sebelumnya sudah terinfeksi HPV. Beberapa jenis HPV memang enggak menimbulkan gejala yang nyata terasa dan infeksinya akan hilang sendiri tanpa pengobatan. Jenis HPV lain juga dapat menyebabkan kutil kelamin walau jenis ini memang enggak berhubungan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Terdapat sekitar 15 jenis HPV yang dianggap berisiko tinggi menyebabkan kanker serviks. Dua diantaranya yaitu HPV 16 dan HPV 18 merupakan yang paling dominan menyebabkan 7 dari 10 kanker serviks.⁵

Vaksinasi HPV sumber: WHO


Gejala awal yang dirasakan saat kanker serviks memang tidak terlalu terasa. Bahkan kadang tidak ada gejala yang dirasakan tahu-tahu sudah cukup parah. Oleh sebab itu, para wanita harus waspada ketika beberapa gejala ini muncul seperti:
  • Perdarahan yang tidak biasa dari vagina misal setelah berhubungan seks, di luar periode menstruasi dan perdarahan setelah menopause. 
  • Nyeri saat berhubungan seks
  • Keluarnya cairan berbau tidak sedap dari vagina 
Adapun gejala yang terasa ketika kanker mulai menyebar seperti: 
  • Perubahan pola BAB & BAK seperti sulit buang air besar dan tidak bisa mengontrol BAK
  • Buang air kecil (BAK) berdarah
  • Nyeri pada bagian bawah perut, pinggang serta punggung
  • Bengkak pada salah satu kaki

Sebelum kita sakit melakukan pencegahan adalah yang terbaik. Walaupun tidak ada cara yang sepenuhnya akan menghindarkan kita dari sakit tetapi kita dapat melakukan beberapa hal yang akan mengurangi risiko terkena sakit. Begitu pun dengan kanker serviks yang tergolong preventable cancer. Kita dapat melakukan beberapa hal ini untuk mengurangi risikonya:
  1. Tidak merokok
  2. Skrining/ deteksi dini dengan Pap Smear
  3. Pemeriksaan regular area panggul
  4. Vaksinasi HPV
  5. Berperilaku seksual sehat dengan setia pada pasangan

Setelah mengetahui ada vaksin HPV otomatis saya mulai aktif mencari tahu. Siapa sih yang gak pengen sehat, ya kan? Jika vaksinasi HPV dapat mengurangi risiko kanker serviks, why not? Nah, akhirnya saya nemu rumah sakit Mayapada (Mayapada Hospital). Mayapada Hospital Lebak Bulus & Mayapada Hospital Tangerang tergabung dalam Mayapada Healthcare Group yang ternyata sangat concern pada kebutuhan skrining kanker serviks. Oleh sebab itu, para wanita yang ingin melakukan deteksi kanker serviks dapat memilih Mayapada Hospital. 

Saya peduli kanker serviks karena itu saya ingin seluruh wanita di Indonesia ini juga peduli kanker serviks. Kita tentunya tidak ingin mengalami kisah seperti yang saya ceritakan di awal. Betapa beratnya komplikasi kanker serviks yang sudah terlanjur parah. Oleh sebab itu, ayo kita cegah dan kurangi risiko kanker serviks dengan vaksinasi dan pap smear berkala. 





Referensi:
  1. Panduan Penatalaksanaan Kanker Serviks, Kementerian Kesehatan RI diakses Desember 2017 dari http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKServiks.pdf 
  2. Data Riset Kesehatan Dasar 2013, Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI dan Data Penduduk Sasaran, Pusdatin Kementerian Kesehatan RI. Diakses Desember 2017 dari http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-kanker.pdf 
  3. Panduan Penatalaksanaan Kanker Serviks, Kementerian Kesehatan RI 
  4. WHO Programm on Cancer diakses Desember 2017 dari http://www.who.int/cancer/prevention/diagnosis-screening/cervical-cancer/en/ 
  5. Cervical Cancer diakses Desember 2017 dari https://www.nhs.uk/conditions/cervical-cancer/causes/ 
  6. Gambar dari: thehealthsite.com, thehpvtest.com, who.int














3 comments:

  1. Sudah lama punya niat utk papsmear, tapi blm jadi-jadi. *duh😧

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayoo.. mencegah lebih baik, mbak.. kumpulin nyalinya dulu hehee.. :D

      Delete
  2. Huhuhu jadi pengen cepet-cepet papsmear juga. Ga jadi jadi terusn padahal katanya kalau papsmear di puskesmas juga gratis ya

    ReplyDelete

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya