Bosscha: Wisata Astronomi nan Edukatif


Pemandangan benda-benda langit selalu menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan. Milyaran bintang bertaburan bak kilauan intan digulamnya malam. Pada pencipta semesta yang Maha segalanya, aku berpuja tidaklah Kau ciptakan ini dengan sia-sia. 

Langit dan segala isinya selalu membuat saya terkagum-kagum sejak kecil sampai sekarang. Mulai dari bulan berikut fase-fasenya, milyaran bintang dengan aneka bentuk rasinya sampai hujan yang bertemu cahaya hingga melahirkan pelangi. Kecintaan saya pada benda-benda langit sayangnya belum menjodohkan saya kuliah di jurusan astronomi ITB. Tapi bagaimanapun juga saya tetap menyebut diri saya si penatap langit. 




Saya selalu pengen banget punya rumah yang ada roof top-nya lalu di sana pasang teropong bintang, mudah-mudahan tercapai nanti, doakan ya gaes!
haha... Bahkan dulu saking senangnya sama langit, pengen minta mahar nikah teropong bintang-lah, hahaa.. dan itu sempat saya ajukan dulu ke pak suami eh tapi kok ya nanti rempong pas akad, wkwk.

  

Jadi, ceritanya sejak baru nikahan saya udah mengajukan mau jalan-jalan ke Observatorium Bosscha di Lembang. Pokoknya udah direncanakan ke Bandung nanti jalan ke sana. Sampai saya pindah nemenin suami di Bandung juga enggak kesampaian ke Bosscha. Sudah ini semua hanya wacana, dari Lembang masih sepi belum ada wisata hits kekinian sampai udah rame polusi enggak juga berhasil mengunjungi Bosscha. Duh.


Setelah semua itu apakah saya tergoda pergi ke destinasi wisata lainnya di Lembang? Berbagai wisata kekinian yang instagramable itu ternyata tidak menyurutkan harapan saya untuk dapat mengunjungi Observatorium Bosscha. Hingga akhirnya kami (saya dan suami) benar-benar merencanakan pergi ke sana. 


Bulan itu bertepatan dengan acara wisuda adik ipar saya di ITB maka bersegeralah kami menyusun rencana liburan bersama. Suami sudah mengajukan cuti dan saya segera menyusun itinerary mulai dari berangkat sampai pulang. Nah, sempat agak bingung mencari hotel tempat menginap sebab kami juga mengajak anak yang masih 2.5 tahun. Otomatis saya harus memilih tempat yang homey dan strategis (tidak terlalu jauh dari kampus). 

 
Ternyata dengan Traveloka saya jadi bisa memilih hotel yang sesuai budget dan juga dekat dengan kampus. Harga yang tertera di Traveloka merupakan harga final sehingga nantinya saya tidak perlu repot lagi mengurus pembayaran lain-lain saat tiba di hotel. Pilihan kami jatuh pada House Sangkuriang di Jalan Sangkuriang, Dago. Hotel ini berjarak hampir 1 km dari lokasi wisuda di Sabuga ITB, deket banget deh pokoknya.


Travelling jadi bisa kemana aja dengan Traveloka
 

Kamar Tipe Sangkuriang credit: web house sangkuriang

Traveloka juga menyediakan pilihan pembayaran yang banyak banget. Ini yang juga bikin saya senang memakai Traveloka. Kalau sudah pesan hotel nantinya muncul jumlah biaya yang harus dibayarkan. Nah, kita bisa memilih mau bayar dengan transfer bank, kartu kredit atau membayar cash di minimarket terpilih. Gampang banget, kan? Kalau saya memilih mobile banking supaya gampang gak perlu jalan lagi mencari ATM, hehe.


Harga yang oke bikin jadi bisa kemana aja


Semenjak punya anak, saya belum terbayang bepergian ke luar kota, nginep di hotel dan jalan-jalan. Cupu banget saya, haha!! Coba aja bayangin berapa banyak bawaannya dan pasti repot banget kalau tiba-tiba udah pesan kamar hotel eh, malah belum tercatat di hotelnya. Ampun deh, bukannya senang malah pusing. Nah, kalau kita pesan kamar hotel di Traveloka terus ada kejadian begini santai aja karena Traveloka punya fitur StayGuarantee. 


Dengan StayGuarantee jadi bisa check-inapapun yang terjadi

StayGuarantee merupakan jaminan dari Traveloka yang memastikan kita dapat menginap di akomodasi yang telah dipilih. Jadi, masalah check-in seperti tidak terdaftar, pesanan yang sudah dibayar tidak tersedia atau dibatalkan secara sepihak oleh hotel akan diganti oleh Traveloka dengan kualitas yang setara (atau bahkan lebih baik). Sungguh inilah kenikmatan liburan yang hakiki bagi seorang emak macam saya. Jika saya mengalami masalah check-in cukup mengajukan permohonan klaim pada aplikasi Traveloka. Nantinya akan dibantu Traveloka menyelesaikan masalah pemesanan kamar. Wah, berkat Traveloka saya jadi bisa wisata ke Bosscha nih!! Asik!


Sesuai rencana kami akan mengunjungi Observatrium Bosscha hari Sabtu. Setelah sarapan di House Sangkuriang, kami segera bersiap menuju Bosscha sejak 07.30 guna menghindari macet. Kami berangkat menggunakan taksi online. Perjalanan menuju Bosscha memang cukup panjang dari jalan utama. Oleh sebab itu, agak sulit jika menggunakan angkot arah Lembang karena jalan masuknya jauh dan menanjak. 

Hmm.. nyebur gak yaa.. at House Sangkuriang swimming pool





Setibanya di Bosscha memang masih terlalu pagi sebab jadwal buka Observatorium adalah jam 9 pagi. Akhirnya, sambil menunggu buka, kami berfoto dulu di area Bosscha. Foto sampai puas dengan segala macam gaya, haha.. Oh iya, harga tiket masuk per orang sebesar Rp 15.000 untuk kunjungan siang dan Rp 20.000 untuk kunjungan malam. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di website resminya di sini


Memeluk Gedung Kubah


Girang, harapan menjadi kenyataan wkwk


Pintu Observatorium sudah dibuka. Pengunjung berhamburan memasuki pintu seukuran pintu rumah biasa di gedung berkubah tersebut. Kami dipandu seorang astronom. Pemandu wisata di Bosscha ini merupakan lulusan dari jurusan Astronomi ITB yang akan menjelaskan sejarah Observatrium Bosscha. Saya seketika terkesima melihat langsung teropong bintang Zeiss double refractor yang membelah observatrium berkubah itu. 


Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Jadi, saat rapat itulah Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. 

Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928. Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan. (Sumber: website Bosscha)


Pemandu


Teropong Zeiss Double Refractor yang membelah ruangan ini dapat disetel turun dan naik sesuai ketinggian bintang yang ingin dilihat. Jadi, ketika pemandu disimulasikan semua pengunjung otomatis ternganga melihat betapa kerennya pengaturan teropong tersebut. Nah, yang lebih memukau lagi adalah ketika pemandu menanyakan "bagaimana kira-kira membuka atap kubah ini?" Saya bertanya-tanya juga dalam hati mesin mana yang kiranya dapat membuka atap kubah. Ternyata membuka atap kubah dilakukan dengan memutar sebuah engkol di dinding yang dekat atap secara manual. 





Pemandu memutar engkol seketika juga atap kubah terbuka memberikan celah masuk cahaya matahari. Selain itu, atap kubah ini juga dapat digeser sebagaimana kebutuhan astronom untuk melihat posisi benda langit. Akhirnya, Bosscha yang sangat hits zaman film Petualangan Sherina bisa saya kunjungi langsung. 


Sebenarnya sih, saya merasa belum tunai banget ke Bosscha karena waktunya siang hari. Siang mah kan ada bintang matahari ngelihatnya gak usah pake teropong juga udah silau, wkwk. Saya maunya nanti ke Bosscha lagi pas ada acara meneropong gejala alam malam hari. Mudah-mudahan berjodoh yaa.. haha. Setelah selesai kegiatan di dalam kubah pengunjung selanjutnya menuju ruang multimedia untuk menerima informasi astronomi lainnya. Sayangnya, kami langsung balik menuju hotel karena khawatir mepet waktu untuk check-out


Di tengah gempuran aneka wisata kekinian di Lembang ternyata Observatorium Bosscha tidak lekang oleh waktu. Ini terlihat dari cukup banyaknya pengunjung yang datang bersamaan dengan kami. Memang wisata ke Bosscha ini sangat cocok bagi keluarga dan menjadi sarana belajar bagi anak-anak. Menurut saya, Observatorium Bosscha akan selalu memiliki fans tersendiri yakni mereka para astronom dan pecinta benda langit. 


Sayangnya, berdasarkan infromasi astronom, langit di area Lembang kini tak sebersih dulu. Polusi cahaya tidak lain dan tidak bukan menjadi penyebabnya. Ini merupakan efek dari menjamurnya penginapan, hotel dan tempat-tempat wisata di sana. Pertumbuhan wisata memang meningkatkan perekonomian tetapi terdapat pula alam yang dikorbankan di sana. Alangkah baiknya pembangunan tempat wisata tetap memperhatikan keseimbangan alam. Sehingga anak cucu kita nantinya tetap dapat meneropong bintang dan benda langit lainnya dari Observatorium Bosscha, Lembang.


Wisata ke Observatorium Bosscha dapat menjadi pilihan lain bagi kamu yang benar-benar penasaran seperti apa dan sebesar apa itu Teropong Double Refractor Zeiss. Jadi, jangan cuma melihat di film Petualangan Sherina ya. Lihat dan kunjungi langsung tempatnya.



Informasi:
Sebelum mengadakan kunjungan ke Bosscha sebaiknya cek jadwal kunjungan di web resminya dulu.















 

6 comments:

  1. pas nih lagi pengen ngajak anak2 ke boscha kalau mudik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, untuk lebih pastinya langsung cek web bosscha aja di jadwal kunjungan :D

      Delete
  2. Wahhh ku doain cita2 nya utk punya teropong dan rooftop segera terkabul ya. Aamin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiin... aakkk,, makaasih mbak Ruli :D *peluukk hahaa

      Delete
  3. wah memang di sana wisata edukasi buat anak2 ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak-anak usia sekolah excited banget pas kunjungan, kalau anakku mah bengong-bengong aja hahaa

      Delete

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya