/* related post */

Review Buku Anak: Buku Emosi dari Rabbit Hole



Judul Buku: Hmmm... Buku Emosi

Penulis: Devi Raissa

  Ilustrator: Guntur G

Penerbit: Rabbit Hole

Batasan usia: 1-5 tahun

Tahun Terbit: 2016

Tebal: 26 halaman boardbook






Akhirnya, tiba juga pesanan buku anak dari Rabbit Hole. Kali ini saya ingin membahas tentang buku Rabbit Hole koleksi Kristal yaitu, Buku Emosi. 






Sebagaimana promosi dari Instagram Rabbit Hole yang membuat saya begitu terpikat dengan buku emosi karena buku ini menjelaskan enam emosi dasar yang ada pada jiwa manusia. Saya sendiri baru mengetahui tentang emosi dan ekspresi dasar wajah manusia ada enam. Setelah saya cari tahu lagi di Quora *haha pecinta Quora* ada penelitian dari Ekman mengenai ekspresi wajah dari emosi. Jika ingin tahu lebih jauh dapat baca di sini





Wah, pikiran saya sudah melayang dengan ekspektasi tinggi nih. Seperti apakah bukunya? Ternyata, iya memang benar buku ini menceritakan "AKU" seorang anak perempuan dengan aktivitas sehari-harinya dalam ilustrasi penuh warna. Sudut pandang dalam buku ini adalah "AKU" pembaca sebagai tokoh utama. 


Jujur agak kaget juga buku Emosi setebal dan seberat ini. Padahal buku lainnya yang ada format sentuh rasa tidak setebal ini. Baiklah mari kita lihat isinya. Terlihat dari bagian yang saya foto ada benda yang dipakai sebagai alat sensori sentuh rasa terlalu besar sehingga membuat halaman tidak dapat menutup sempurna. Sebenarnya ide sensori ini bagus sekali, hanya saja pemilihan benda bertekstur yang terlalu tebal menjadi kekurangan dari buku ini. Meskipun demikian, saya apresiasi penulis atas usahanya yang berani. *Proook prook proook.



Tebal Buku Emosi


Pemilihan material dengan berbagai macam tekstur ini menjadi hal yang menarik. Selain memerlukan kreativitas tinggi, pemilihan ini mungkin menjadi bagian yang tersulit dalam proses pembuatan buku sebab harus menyesuaikan dengan emosi yang ada.





Bagian pertama halaman sentuh rasa emosi terkejut digambarkan dengan hati berdebar seperti dram. Material yang dipakai kain beludru merah berpola hati. Saya suka emosi kaget dengan material dan bentuknya sangat matching. Sayangnya, agak kecewa dengan penempelan material yang begitu terlihat ditempel. Bagaimana ya menjelaskannya, saya juga bingung, haha. Jadi gini, material yang ditempel di dalam buku itu rasanya terlalu tebal sehingga membuat halaman menjadi belendung (kata belendung sinonim dengan menggembung, membengkak berdasarkan KBBI di sini


Begitu kira-kira halaman sentuh rasanya masih sulit dibuat rata. Jadi, di halaman lain yang terdapat material yang diisi dalam halaman maka akan ditemukan pula halaman membelendung. Halaman emosi takut tidak terlalu belendung karena materialnya tipis, hanya bulu mata palsu seperti di bawah ini.


Saat saya ajak Kristal menyentuh bagian bulu mata, dia malah takut dan menolak menyentuh loh. Sepertinya material ini begitu menakutkan sampai-sampai anak saya yang usianya kurang dari dua tahun itu menolak menyentuh. Entah mungkin seiring bertambahnya usia dia akan mengerti dan mau menyentuh material yang dirasa menakutkan baginya. 


Halaman Bulu Mata Palsu


Nah, selanjutnya yang terisi tempelan awan dari kain wol sangat jelas terlihat pada foto ada batas bagian belendung karena isi wolnya. 

 



Lanjut lagi ke halaman sentuh lainnya yang ternyata juga ada sensori sentuh. Halaman emosi sedih ini ternyata ada air mata yang seperti ditempel stiker. Saya sendiri tidak menyadarinya karena air mata stiker ini begitu flawless, tidak terlihat karena warnanya putih dan hampir tidak teraba karena terlalu kecil. Hanya ada satu tetes air mata di masing-masing pipi kanan kiri. Coba, siapa yang akan sadar kalau ada tetes air mata itu?  


Halaman Air Mata


Halaman emosi senang menjadi penutup buku Emosi. Bagian sentuh rasa dengan material bunga palsu yang terbuat dari kain dan hiasan. Menurut saya, bunga-bunga ini masih kurang cocok menggambarkan emosi senang. Kenapa? Karena hanya mahkota bunganya saja *wkwk konsumen banyak maunya* baiknya dibuat taman bunga dengan ilustrasi batang bunga dan bagian sentuh rasa bunga palsu dari kain perca (halah, elo aja yang buat deh... *ngomong sama cermin). 





Oh iya, satu lagi bagian akhir ada juga isi cermin asli (kayaknya ya, soalnya bening banget, hahay). Halaman disampingnya dilengkapi pertanyaan bagaimana perasaanmu hari ini? Mungkin maksudnya supaya anak melihat ekspresinya sendiri di cermin gitu ya. Ya, cukup bagus idenya. Selain itu, ada juga dadu emosi berisi ilustrasi emosi yang dapat digunakan untuk bermain dengan anak. Namun, saya sendiri tidak memakainya karena Kristal malah memencet dadu itu bukan dikocok, wkwk.


Secara keseluruhan buku ini memiliki keistimewaan sebab dibuat sesuai dengan teori emosi dan ekspresi wajah dari Paul Ekman. Hal ini tentu menambah pengetahuan bagi orang tua anak juga. Penyusunan dan cerita yang ditampilkan sangat menarik dan sistematis sehingga memudahkan anak mengenal emosi, penyebab emosi dan ekspresi wajah yang sesuai. 


Saya hanya kecewa dengan tampilan halaman sentuh rasa yang berisi materialnnya terlihat membelendung. Sangat disayangkan, buku ini memiliki halaman belendung yang membuat tiap halaman tidak tertutup rapat ketika ditutup. Saya tidak tahu material karton yang dipakai, tetapi bagi saya satu halaman dari buku ini terasa sangat tebal, lebih tebal dari board book biasa. Sehingga jelas halaman tebal ini membuat buku Emosi begitu terasa berat bagi anak dua tahun. 




Saya berikan dua dari lima bintang untuk rating Buku Emosi Rabbit Hole. Jika dibuat tidak terlalu tebal dan berat halamannya mungkin bisa naik jadi tiga bintang, hehe. 


[Shiva Bertanya, Islam Menjawab]: Panggilan terhadap Pasangan Suami Istri




Assalamu'alaykum warahmatullahi..

Saya selaku muslimah yang sudah berkeluarga tetap perlu menambah ilmu agama. Ada banyak pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari yang memang tidak diajarkan di sekolah ya. Oleh sebab itu, saya akan buat postingan Shiva Bertanya, Islam Menjawab. Jadi, pada blogpost tema ini saya akan bertanya tentang satu isu yang akan dijawab oleh orang kompeten seperti ustadz atau ustadzah. Materi dalam postingan saya ambil dari diskusi grup kajian iman Islam. Jadi, insyaallah narasumber juga menjawab sesuai sumber yang shahih. 

Sebagai pembuka postingan yang akan dijadwalkan teratur setiap Senin maka pertanyaan kali ini adalah tentang panggilan papa mama terhadap pasangan suami istri. Memang rasanya kok kecil banget, biasa aja kali manggil gitu mah kan ya? Eh jangan salah justru inilah yang membuat Islam sempurna. Segala hal kecil pun ada hukumnya. Jadi, jangan anggap remeh perkara-perkara kecil. 



Shiva Bertanya: 

Setelah menikah biasanya ada panggilan kesayangan suami terhadap istri maupun sebaliknya. Ada yang manggilnya papa-mama, papi-mami dan juga ummi-abi. Nah, ustad saya pernah baca artikel kalau memanggil pasangan dengan sebutan ummi abi atau papa mama sebagaimana manggil orang tua sendiri itu dilarang yah? Jadi, bagaimana cara yang baik dan sesuai Islam dalam memanggil pasangan? 






Islam Menjawab:

Narasumber adalah Ustadz Farid Nu'man

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Sebagian ulama memakruhkan seorang suami memanggil istrinya seperti itu, sebab dianggap sebagai zhihar atau panggilan yang membuat terjadinya mahram.
Ada pun dibanyak negeri panggilan tersebut sudah biasa sebagai panggilan keakraban, kasih sayang, 
dan pemuliaan.

Pihak yang memakruhkan berdalil  dengan hadits:

عَنْ أَبِي تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيِّ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِامْرَأَتِهِ: يَا أُخَيَّةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُخْتُكَ هِيَ؟»، فَكَرِهَ ذَلِكَ وَنَهَى عَنْهُ

Dari Abu Tamimah Al Hujaimiy, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah dia saudarimu?” Rasulullah ﷺ membenci itu dan melarangnya.
(HR. Abu Daud No. 2210,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 15146)


Para ulama menilai lemah hadits ini karena mursal. Imam Al Mundziri berkata: “Hadits ini mursal.” (Mukhtashar, 3/136). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Mursal. (Fathul Bari, 9/387). 
Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth mengatakan: “Mursal, dan Abu Daud meriwayatkan apa yang ada di dalamnya terdapat keguncangan (idhthirab).” (Jaami’ Al Ushuul, No. 5819, cat kaki No. 1). 
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr juga mengatakan:”Mursal.” (Syarh Sunan Abi Daud, 253) Syaikh Al Albani mengatakan: “Dhaif.” (Dhaif Abi Daud, 2/240-241)

Pemakruhan tersebut menjadi teranulir karena lemahnya hadits ini. Tetapi, anggaplah hadits ini shahih, apakah maksud pemakruhannya?

Para ulama menjelaskan makruhnya hal itu jika dimaksudkan sebagai zhihar, sebagaimana ucapan “kamu seperti ibuku”, tapi jika tidak demikian, melainkan hanya untuk panggilan pemuliaan dan penghormatan (ikram), atau menunjukkan persaudaraan seaqidah dan seiman, maka itu tidak apa-apa. 

Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, dalam “Bab Seorang Laki-Laki Berkata Kepada Istrinya: Wahai Saudariku, maka Ini Tidak Apa-apa.”


Beliau meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِامْرَأَتِهِ: هَذِهِ أُخْتِي، وَذَلِكَ فِي اللَّه

Berkata Ibrahim kepada istrinya: “Ini adalah saudariku,” dan itu fillah (saudara karena Allah). (HR. Al Bukhari, 7/45,  9/22)
Riwayat ini tentu lebih shahih dibanding riwayat Imam Abu Daud sebelumnya.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:

إنما أراد البخارى بهذا التبويب ، والله أعلم ، رد قول من نهى عن أن يقول الرجل لامرأته : يا أختى

“Sesungguhnya penjudulan bab oleh Imam Al Bukhari seperti ini –wallahu a’lam- sebagai bantahan buat mereka yang melarang seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan: “Wahai Saudariku.”(Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409)


Beliau berkata lagi:

ومعنى كراهة ذلك، والله أعلم، خوف ما يدخل على من قال لامرأته: يا أختى، أو أنت أختى، أنه بمنزلة من قال: أنت علىَّ كظهر أمى أو كظهر أختى فى التحريم إذا قصد إلى ذلك، فأرشده النبى (صلى الله عليه وسلم) إلى اجتناب الألفاظ المشكلة التى يتطرق بها إلى تحريم المحلات، وليس يعارض هذا بقول إبراهيم فى زوجته: هذه أختى؛ لأنه إنما أرادa بها أخته فى الدين والإيمان، فمن قال لامرأته: يا أختى، وهو ينوى ما نواه إبراهيم من أخوة الدين، فلا يضره شيئًا عند جماعة العلماء.


Makna dari ketidaksukaan nabi atas hal itu –Wallahu a’lam- karena dikhawatirkan orang yang berkata kepada istrinya: “Ya Ukhtiy -Wahai Saudariku”, atau “ kamu adalah saudariku”, sama kedudukannya dengan orang yang mengatakan: “Bagiku kau seperti punggung ibuku”, atau “seperti punggung saudariku”maka ini jatuhnya menjadi mahram jika memang dia maksudkan seperti itu. Maka, Nabi ﷺ membimbingnya untuk menjauhi kata-kata yang kontroversi yang dapat membawa pada makna mahram.


Hadits ini (Abu Daud) tidak bertentangan dengan ucapan Nabi Ibrahim kepada istrinya: “Kau adalah saudariku.” Sebab maksud kalimat itu adalah sebagai saudara seagama dan seiman. Maka, barang siapa yang berkata kepada istrinya: “Wahai Saudariku” dan dia berniat sebagaimana Ibrahim, yaitu saudara seagama, maka ini sama sekali tidak apa-apa menurut jamaah para ulama. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409-410)


Imam Al Khathabi Rahimahullah menjelaskan bahwa dibencinya memanggil “wahai saudariku” kepada istri jika maksudnya sebagai zhihar, seperti ucapan kamu seperti ibuku, atau seperti wanita lain yang mahram bagi suami, ... lalu Beliau  berkata:

وعامة أهل العلم أو أكثرهم متفقون على هذا إلاّ أن ينوي بهذا الكلام الكرامة فلا يلزمه الظهار، وإنما اختلفوا فيه إذا لم يكن له نية، فقال كثير منهم لا يلزمه شيء.


Umumnya ulama atau kebanyakan mereka sepakat atas larangan itu, KECUALI jika kalimat itu diniatkan untuk karamah (pemuliaan-penghormatan) maka tidaklah itu berkonsekuensi seperti zhihar. 


Hanya saja para ulama berbeda pendapat jika pengucapan itu tidak ada niat pemuliaan, banyak di antara mereka mengatakan bahwa itu juga tidak ada konsekuensi apa-apa.”
(Imam Al Khathabi, Ma’alim As Sunan, 3/249-250)

Nah, dari penjelasan para ulama ini, jelas bagi kami bahwa pemakruhan memanggil istri dengan “bunda”, “ummi”, atau semisalnya, jika memang itu dimaksudkan sebagaimana zhihar. Ada pun jika panggilan tersebut sebagai bentuk penghormatan suami kepada istrinya, atau pendidikan bagi anak-anaknya, maka tidak apa-apa.

Hal ini sesuai kaidah fiqih:
الأمور بمقاصدها

Berbagai pekara/urusan/perbuatan dinilai sesuai maksud-maksudnya.

(Imam As Suyuthi’, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 8. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/65. Cet. 1,  1991M-1411H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Syaikh Abdullah bin Sa’id Al Hadhrami Al Hasyari, Idhah Al Qawaid Al Fiqhiyah Lithulab Al Madrasah, Hal. 11)

Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengoreksi para ulama yang memakruhkan, menurutnya pemakruhan itu tidak tepat.

Beliau berkata:

فإذا قال: أنت علي كأمي، أي: في المودة والاحترام والتبجيل فليس ظهاراً؛ لأنه ما حرمها، وإذا قال: أنت أمي، فحسب نيته، فإذا أراد التحريم فهو ظهار، وإذا أراد الكرامة فليس بظهار؛ فإذا قال: يا أمي تعالي، أصلحي الغداء فليس بظهار، لكن ذكر الفقهاء ـ رحمهم الله ـ أنه يكره للرجل أن ينادي زوجته باسم محارمه، فلا يقول: يا أختي، يا أمي، يا بنتي، وما أشبه ذلك، وقولهم ليس بصواب؛ لأن المعنى معلوم أنه أراد الكرامة، فهذا ليس فيه شيء، بل هذا من العبارات التي توجب المودة والمحبة والألفة.

Jika ada yang bekata: “Kau bagiku seperti ibuku” yaitu dalam hal kasih sayang, penghormatan, dan pujian, maka ini bukan zhihar, karena itu tidak diharamkan. Jika ada yang berkata: “Engkau adalah ibuku,” maka dihitung niatnya apa, jika maksudnya adalah sebagai mahram maka ini zhihar, tapi jika maksudnya pemuliaan maka ini bukan zhihar.


Jika dia berkata: “Wahai Ummi, mari sini makan.” Maka ini bukan zhihar, tetapi sebagian ahli fiqih –rahimahumullah- ada yang memakruhkan suami memanggil istrinya dengan panggilan mahramnya, maka janganlah berkata: “Wahai Ukhtiy, Wahai Ummi, wahai bintiy/anakku,” dan yang semisal itu.
Pendapat mereka tidak benar, sebab maknanya seperti telah diketahui maksudnya adalah pemuliaan, maka ini sama sekali tidak masalah. Bahkan, kalimat-kalimat ini dapat melahirkan kasih sayang, cinta, dan kedekatan. 


(Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syarh Al Mumti’, 13/236). Sekian.

Wallahu A’lam

*Kembali ke Shiva*

Alhamdulillah, Ustadz sudah menjawab bagaimana hukumnya memanggil suami atau istri dengan sebutan seperti orang tua. Jadi memang mayoritas pendapat ulama sesuai dengan adanya hadits shahih dari Imam Al Bukhari membolehkan panggilan kepada pasangan dengan menyebut papa-mama atau ummi-abi. Adapun maksud memanggil ini dikarenakan untuk menghormati dan memuliakan. Antara suami istri pun tidak ada niat atau maksud memanggil untuk menyamakan seperti orangtua (ibu atau bapak). 

Panggilan yang dengan maksud menyamakan pasangan dengan orangtua/ mahram inilah yang disebut zhihar. Nah, zhihar ini dalam Islam hukumnya jelas haram. Jadi, segala niatan yang bertujuan menyamakan pasangan dengan orangtua adalah dilarang. Terkecuali memanggil untuk menghormati dan memuliakan pasangan tujuannya maka dibolehkan. 

Bagaimana teman-teman pembaca cukup jelaskah? Atau masih ada yang bingung, silakan kita diskusi di kolom komentar ya.

Sekian untuk diskusi kali ini. Yang benar sesungghnya datang dari Allah. Semoga kita selalu diberikan petunjuk oleh Allah SWT. aamiin. 


Materi ini disarikan dari diskusi grup Kajian Iman dan Islam.

Dipersembahkan oleh:

====================

PRIMA: Aplikasi Tumbuh Kembang Anak [Review]



Pertumbuhan anak didefinisikan sebagai pertambahan berat badan dan panjang badan sesuai usia. Pertumbuhan anak sejak lahir sampai usia 59 bulan memiliki standar yang sudah diatur oleh WHO serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Hal ini penting diketahui oleh orang tua sebab pertunbuhan anak menjadi hal penting yang akan menentukan status kesehatannya. Nah, bagaimanakah cara orang tua mengetahui status gizi anaknya? Tulisan saya ini akan membahas tentang cara termudah dan terakurat mengetahui status gizi anak. Simak terus!


Berawal dari sebuah postingan di Facebook, saya baru mengetahui bahwa IDAI merilis aplikasi khusus kesehatan anak. Wah, saya termasuk yang telat sepertinya tapi lebih baiklah ya daripada tidak sama sekali. Aplikasi tersebut bernama Prima! Yap, Prima ini dapat diunduh di smartphone baik Android maupun iOS, lengkap kan?




Baiklah, saya pertama akan menjelaskan cara mendaftar. Terdapat pilihan instalasi untuk dokter anak dan orang tua. Cukup jelas ya, untuk orang tua silakan dilanjutkan peranan sebagai orang tua di Prima. Ini dibuat terpisah karena memang berbeda user dan penggunaan kedepannya. Isi data berupa email orang tua nanti akan dikirim tautan untuk aktivasi aplikasinya. Berikut tampilan awal profil orang tua.


Tampilan menu navigasi yang ada di aplikasi Prima diantaranya jadwal imunisasi, grafik pertumbuhan berat dan tinggi badan, tahap perkembangan anak, kuesioner kunjungan ke Dokter, materi edukasi orangtua dan menu skrining. 



Masuk ke menu jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun ditampilkan dalam tabel yang responsif. Nama anak yang menerima imunisasi juga bisa ditambahkan lebih dari satu anak. Jadi, bagi yang sudah kakak beradik data imunisasi bisa masuk bersama dalam aplikasi dan tersimpan aman. Jenis imunisasi yang ada pun tidak hanya imunisasi dasar tapi ada juga imunisasi tambahan yang tidak diwajibkan namun boleh diberikan seperti influenza, varisela dan tifoid. Semua jenis vaksin ini sudah ototmatis disertai keterangan usia pemberian. Jadi, ibu dan bapak tidak perlu bingung kapan waktu pemberian imunisasi yang tepat. 


Satu hal yang sepertinya kurang responsif dari aplikasi adalah ketika kita kembali ke menu navigasi maka tidak langsung ke daftar menu tetapi kembali ke awal "Generasi Prima". Interface saat kembali ini membuat pengguna agak repot harus sentuh ulang lagi agar bisa memilih menu lainnya. Sebaiknya dibuat lebih responsif dengan langsung kembali ke pilihan menu-menu yang ada. 


Selanjutnya, menu grafik pertumbuhan WHO dan CDC akan muncul kotak dialog untuk diisi. Data yang dimasukkan berupa jenis kelamin anak, tanggal lahir, panjang/tinggi badan (cm) serta berat badan (kg). Setelah diisi lengkap berikutnya akan muncul hasil grafik yang akan ditampilkan. Terdapat pilihan berat badan/ umur, tinggi badan/ umur, berat/ tinggi badan serta berat dan tinggi badan per umur juga lingkar kepala. Bingung kan saking banyaknya? Santai, memang pilihan lain kurang familiar tetapi aplikasi ini turut menambah pengetahuan bahwa bagi anak-anak tidak hanya berat badan saja yang dipakai sebagai parameter sehat atau tidaknya seorang anak. 






Gambar grafik di atas adalah contoh milik Kristal yang usianya 25 bulan dengan berat badan 10.5 kg. Jangan khawatir dengan garis-garis kurva pada grafik karena hasilnya dapat langsung diinterpretasikan oleh PRIMA. Jadi, ibu dan bapak tidak perlu belajar membaca grafik yang berisi standar deviasi nilai pertumbuhan anak antara +3 < < -3 itu susah, gak perlu diforsir ya. 



Gambar di atas adalah hasil dari grafik berat badan Kristal. Disimpulkan berat terhadap umur hasilnya normal. Alhamdulillah, tidak perlu cemas meskipun anak saya perawakannya itu kurus, wkwkw sama kayak emak sepertinya. Jika hasilnya kurang atau lebih pada kesimpulan akan disarankan untuk dikonsultasikan ke dokter. Jadi, orangtua yang modelnya parnoan kayak saya hehe sangatlah penting untuk memiliki aplikasi PRIMA di smartphone-nya.


Sayangnya, data dan grafik ini tidak bisa menyimpan semua data yang kita masukkan jadi nanti hasilnya tidak seperti kartu menuju sehat (KMS) itu yang terlihat perkembangan dari bulan ke bulan. Jadi, data yang dimasukkan hanya untuk sekali pakai saat informasi kesehatan anak dibutuhkan saja. Mungkin kedepannya bisa dibuat untuk menyimpan data berat dan tinggi badan juga ya, semoga. 


Selain pertumbuhan anak, melalui aplikasi ini orangtua juga dapat mengetahui dan menilai perkembangan anak apakah sudah sesuai dengan usia atau belum. Pada menu tahap perkembangan anak terdapat pilihan tahapan & tanda bahaya perkembangan serta stimulasi perkembangan. Jadi, orangtua juga dapat mengetahui dan melakukan stimulasi yang sesuai dengan tahap usia perkembangan anak. Cocok deh, all of parents need just in one touch.


Secara keseluruhan aplikasi PRIMA sangat memudahkan orangtua dalam memantau kesehatan anaknya. Baik dari segi pertumbuhan maupun perkembangan sesuai usia. Keberadaan aplikasi ini memudahkan orang awam pada umumnya dalam memahami pertumbuhan dan perkembangan anak. Aplikasi ini pastinya dibutuhkan oleh semua orangtua dengan anak usia nol sampai delapanbelas tahun. 


Aplikasi ini hanya bisa digunakan secara online ya, ibu dan bapak sekalian. Saya pernah mencoba saat online yang ada hanya proses terus tidak keluar hasilnya. Jadi, pastikan jaringan internetnya on saat menggunakan aplikasi ini. Saya berikan rate 4 bintang dari 5 untuk aplikasi PRIMA. Bagus tetapi masih ada yang harus diperbaiki di beberapa bagian. Selebihnya, aplikasi ini sangatlah bermanfaat buat para ibu dan bapak dengan anak yang harus selalu dipantau kesehatannya.

Terima kasih IDAI. I love PRIMA pokoknya! hehee....






Review Buku Anak: Rumah Istimewa

Judul Buku: Rumah Istimewa dan 7 Dongeng Seru Lainnya!

Penulis: Endang Firdaus, dkk.

Ilustrasi: Massagung, dkk.

Tahun terbit: 2014

Penerbit: Dar! Mizan

Tebal: 100 halaman paperback




Apa yang terpikir jika kita mendengar kata dongeng? Tentu jawabannya adalah cerita khusus anak-anak. Padahal makna dongeng menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cerita yang memang tidak benar-benar terjadi. 

Buku Rumah Istimewa ini merupakan kumpulan delapan dongeng khusus untuk anak. Judulnya saja buku anak ya, jadi saat membuka buku ini pasti akan menemukan berbagai macam ilustrasi yang sesuai dengan adegan tokoh dalam cerita tersebut. Seluruh halaman dalam buku juga dibuat dengan ilustrasi full color. Buku anak memang  sangat erat dengan ilustrasi yang penuh warna.



Keterangan batas usia pembaca kurang begitu jelas. Namun, terdapat keterangan dongeng balita pada sampul depan buku. Oleh sebab itu, saya berkesimpulan batasan usia pembaca adalah anak balita (usia bawah lima tahun). Menurut saya, hal yang kurang jelas ini dapat membuat konsumen bingung memilih. Dalam dunia buku anak berbeda usia satu atau dua tahun itu membuat isi buku pun berbeda.

Cerita tentang dua ekor tupai mencari rumah sebagai pembuka saya rasa mampu membuat buku ini cukup menarik. Ilustrasi yang dibawakan pun cukup jelas sehingga membuat anak penasaran memperhatikan gambarnya. Pengaturan letak tulisan juga tidak menganggu ilustrasi yang ada. Tidak heran cerita ini pantas menjadi judul utama buku dongeng balita Mizan. 




Cerita berikutnya adalah kisah sebuah batu yang disebut sebagai Batu Malas. Awalnya Kristal agak takut dengan model ilustrasi yang gelap dan kurang jelas. Akan tetapi, anak itu sekarang sangat menyukai kisah batu malas. Setiap mau tidur minta dibacakannya batu malas yang diucapkan dengan fasih. Entah apa yang membuat kisah batu malas begitu menarik bagi Kristal. Sejauh ini, saya acungi jempol kepada penulis dan ilustrator yang mampu menghidupkan cerita anak sampai anak pembacanya minta diulang terus-menerus. 






Dongeng ayam yang suka bertelur, Cica cecak yang nakal dan cerita lainnya dibawakan dengan apik dan menarik. Konflik yang sederhana bagi anak-anak membuat hikmah dari dongeng-dongeng ini dengan mudah disampaikan orang tua. Hal-hal baik dan hal yang buruk dijelaskan dengan bahasa yang ringan. Terlebih jika orang tua yang membacakan turut bergaya lepas seperti mengubah suara dan menampilkan mimik muka yang lucu sehingga anak merasa terhibur. 




Saya suka dengan ilustrasi dari cerita di buku ini. Ilustrasinya jelas, warna dan bentuknya pun cerah sehingga anak-anak mudah tertarik. Namun, pada cerita ulat, katak dan batu malas ilustrasi agak gelap sehingga kurang jelas dan kurang berwarna. Saran saya untuk cerita dongeng anak ilustrasi baiknya dibuat penuh warna dan jelas agar dapat menarik perhatian anak-anak. Selebihanya, buku ini sudah memberikan hiburan, wawasan dan hikmah untuk anak dengan baik. Saya berikan rate tiga dari lima bintang. 



Review Buku Anak: Princess Polly Potty

Judul Buku: Princess Polly Potty (Potty Training for Girls)

Penulis: Andrea Pinnington

Ilustrator: Melanie Williamson

Penerbit: Ladybird Books Ltd

Tahun terbit: 2009

Tebal: 16 halaman boardbook dengan tombol suara

Ukuran: 208 x 208 x 12mm berat 320 gram





Keinginan membeli buku Princess Polly Potty ini bermula dari Kristal yang sedang toilet training tidak mau duduk di pispot. Setiap kali didudukkan di pispot anak itu malah menangis dan menolak duduk. Akhirnya, setelah saya membaca sebuah artikel tentang tips toilet training yang menjelaskan penggunaan buku sebagai media dapat dilakukan. Baiklah, saya mulai mencari buku yang cocok untuk Kristal di amazon. Berhubung salah seorang teman sedang kuliah di Eropa, maka saya berencana menitip padanya.

Buku ini saya pilih setelah membaca berbagai review yang baik dari para orang tua di amazon. Bahasa yang mudah dijelaskan ke anak serta ilustrasi yang menarik dan jelas maknanya bagi anak. Secara fisik buku Princess Polly termasuk boardbook yang ringan dan disertai tombol suara bersorak yang membuat anak semakin tertarik dengan buku ini.





Princess Polly Potty tergolong kategori buku untuk belajar memandirikan anak mengenai perawatan diri sendiri. Buku ini dapat dipakai orang tua sebagai media belajar anak yang sedang toilet training. Penyusunan isi buku pun sangat sistematis terlihat di bagian awal, bagaimana mengenalkan anak tentang anggota keluarganya yang tidak menggunakan popok serta tokoh Polly yang masih memakai popok mewakili karakter anak-anak.

Tahapan belajar anak diawali dengan meniru dan dalam buku ini ayah, ibu, kakak serta adik menjadi contoh yang nyata. Hal ini menjadi kelebihan Princess Polly Potty dalam mengenalkan toilet training


Ilustrasi yang dibuat juga mirip dengan benda nyata yang ada. Pispot dan celana dalam digambarkan dengan beraneka warna, motif dan hiasan. Kristal sendiri sangat menyukai aneka model pispot dan celana yang terdapat dalam buku ini. Warna- warni pastel yang dipilih ilustrator sebagai latar buku terasa cocok dengan anak perempuan.

Gaya bahasa yang dipakai sangat interaktif. Anak-anak sebagai target pembaca dibawa ikut serta dalam memilih pispot dan celana yang kira-kira disukai Polly dan juga dapat memilih mana yang jadi kesukaaannya. Hanya saja karena buku ini berbahasa Inggris maka tugas orang tua jadi agak repot membacakannya dengan bahasa Indonesia pada anak. 

Menurut saya, ilustrasi yang dibuat sangat memudahkan anak mencontoh sehingga anak dapat mengerti dan belajar mengikuti cara Polly berlatih buang air. Polly memperlihatkan cara melepas dan memakai celana sendiri, Polly sedang duduk di pispot, Polly selesai buang air dan dibantu ibu membersihkan serta cuci tangan setelah selesai. Ilustrasinya pun dalam ukuran yang pas tidak terlalu besar atau kecil sehingga anak-anak mudah meniru. 



Ternyata buku ini pun memiliki dua seri, ada Princess Polly dan juga Pirate Pete versi untuk anak laki-laki dengan berbagai judul lain juga. Selain itu, pada sampul belakang terdapat keterangan batasan usia pembaca, penulis, ilustrator serta penerbit lengkap dengan ISBN. Oh ya, pada bagian belakang tombol suara dengan mudah ditemukan tempat mengganti baterai jika sudah habis.





Saya suka buku Princess Polly Potty demikian juga dengan Kristal. Jadi, saya akan berikan rate lima dari lima bintang untuk buku ini. Meskipun belum selesai toilet training Kristal tetapi buku ini sudah membantu Kristal belajar mengenai buang air kecil dan besar. 

Melodi Kyara


Melihat keramaian dihadapannya, anak perempuan itu hanya menunduk sambil menggenggam botol minumnya. Anak lain diantarkan oleh ibunya sedangkan dia, diantar sosok lelaki yang bersuara berat. Berat baginya meninggalkan lelaki itu sebab tidak ada lagi orang lain yang mencintainya seperti lelaki itu.

“Bagaimana jika nanti aku dijahili, diganggu?” ujarnya dengan nada merengek.

“Tidak ada yang menjahili kamu, kamu kan anak baiknya Ayah” ucap Ayahnya menenangkan.

“Ah, aku tidak mau sekolah, aku tidak mau pisah dengan Ayah” ujarnya setengah teriak membuat seorang wanita melangkah mendekat.

“Eh, tidak boleh begitu, Ayah kan juga harus kerja sayang. Sambil menunggu ayah pulang kamu bermain di sekolah”

“Ada apa pak? Kenapa Kyara?” sapa wanita itu sambil mendatangi lobi sekolah.

“Ini bu guru, Kyara merajuk tidak mau sekolah lagi”

“Iyah, aku tidak suka kalau sekolah tidak ada Ayah”

Ibu guru berjongkok memposisikan dirinya sejajar dengan Kyara. Ia tersenyum dan menatap kedua bola mata dihadapannya sambil meraih tangan kecil pemiliknya. Kehangatan tangan Ibu Guru seperti hangatnya sinar matahari pagi itu, segera saja Kyara merasakan ketenangan mengalir.

“Kyara, apakah kamu suka bermain alat musik?” tanya Ibu Guru

Kyara hanya menunduk, melihat itu Ayah membantu menjawab.

“Suka bu, biasanya Kyara dan Ayah bermain piano bersama di rumah ya” jawab Ayah sambil ikut berjongkok dan mengenggam bahu Kyara.

“Iya bu guru, Kyara bisa bermain piano tetapi di sini tidak ada piano” jawabnya sambil melihat sekeliling.

“Sekolah memang tidak punya piano, Kyara. Tetapi, Kyara bisa belajar alat musik lain seperti yang ibu Guru punya ini” ucap Ibu Guru sambil mengeluarkan alat musik sebesar genggaman tangan.

Berbentuk persegi panjang, berwarna perak menkilap bertuliskan Sirius. Perhatian Kyara teralihkan pada benda kecil itu tangannya refleks bergerak mendekat.

“Ini apa bu Guru?” mata Kyara tidak melepas pandangannya pada benda kecil itu.
“Ini namanya harmonika, mau tahu cara memainkannya?”

“Bagaimana bu Guru? Ayah juga belum tahu kan yah?” Kyara memastikan Ayahnya masih berada disebelahnya.

“Wah, Ayah belum tahu juga tuh! Bagaimana Bu Guru caranya?” Lelaki itu bertanya sambil turut memperhatikan harmonika kecil di telapak tangan Ibu Guru.

“Ibu Guru coba mainkan ya, Kyara perhatikan”

Nada-nada merdu menguap dari harmonika kecil itu. Sebuah lagu yang tidak asing di telinga Kyara. Seketika saja Kyara memeluk Ayahnya yang kaget dengan pelukan tiba-tiba itu. Lelaki itu juga mengenali nada yang mengalun dari harmonika Ibu Guru. Lagu itu memiliki kenangan tersendiri yang tersemat dalam bandul foto di kalung Kyara.

“Kyara sekarang sekolah dulu ya, nanti Ibu Guru bisa mengajarkan Kyara memainkan harmonika” bisik Ayah

“Iya, yah, Kyara mau belajar di sekolah. Ibu Guru ajari Kyara cara bermain harmonika” ucap Kyara tenang sambil melepas pelukannya.

“Nah, sekarang Ayah Kyara bisa bekerja sementara Kyara di sekolah ya”

“Iya Ibu Guru, Kyara mau bermain dan belajar musik di sekolah. Ayah pergi bekerja dulu, sepulang sekolah bisa bertemu Ayah lagi” Kyara mengungkapkan perasannya dengan senyuman termanis. Dalam pikirannya, di sekolah terlihat not-not balok beterbangan didekatny mengajaknya menari dan berlari. 


Not-not Harmonika

Dago, Satu Nama, Banyak Cerita





Huahahaa... judulnya gini amat. Tumben posting yang agak 'romantis'

Kenapa Romantis? *tsaaahhh pasang lagu anaknya Sule (*penantian berharga) jadi backsound.

Sebab satu nama ini membuat saya terkenang akan hal-hal indah.

Apakah gerangan nama itu?

Sebuah daerah di Kota Bandung

So Popular, more than myself wkwkw..

Yaitu,

Dago






Sebelumnya, flash back ke masa setelah menikah. Disebabkan beberapa hal saya dan suami Long Distance Marriage (LDM-an). Sampai pada akhirnya, saya memutuskan berhenti bekerja dan ikut menemani suami. Murni keputusan saya sendiri, tanpa ada intervensi suami yang mengajak ataupun merayu haha...

Jadilah kami mengontrak di area Dago, tepatnya di Jln. Ir. H. Juanda Gang Cintawangi seberangnya Bangbayang. Jujur ya, baru kali ini saya pergi jauh-jauh dari orang tua setelah sebelumnya saya emang enggak pernah kemana-mana selain JaBoDe (Jakarta, Bogor, Depok).


Lantas, bagaimana rasanya?


Duh, yaaaa Bandung indah tapi terlalu romantis buat saya ahaha... Maklum sejak lahir ditempa di kota Jakarta dengan segala kepadatannya jadi ya, Bandung tuh lebih menenangkan jiwa *asik.


Dago sebelum kedatangan saya memang sudah terkenal gitu. Jadi ya saya mah udah pasti kalah pamor. haahaa...


Tempat tinggal saya dapat dikatakan sangat strategis. Jika mau jalan ke pasar maka cukup ke Pasar Simpang Dago yang diseberangnya ada McDonalds. Kalau mau jalan-jalan kulineran cukup belok ke Dipatiukur sudah penuh dengan berbagai jajanan, duh enak deh pokoknya.


Bagi saya Dago membuat kenangan tersendiri di jiwa. Betapa tidak selama hamil di Bandung itu bahagia dan senang terus bawaannya. Memang suasana sejuk di sini sangat mendukung apapun jadi romantis karena berdua sama suami. Selain itu, jajanan favorit saya ada di Dago. Batagor Simpang Dago nama warungnya. Harga terjangkau dan enak. Selain batagor juga ada nasi bakar (yang gak cukup satu porsi) sebenernya waktu itu karena hamil kali ya wkwk...


Dago mengingatkan saya kenangan manis bersama suami.

Dago membuat saya saat itu merasakan bulan madu terus setiap hari hahaahaa...

Di Jalan Ganesa Dago juga saya suka banget makan donat yang dijual di warung aa-aa sebelum masuk kampus ITB.

Dago membuat saya bersyukur pernah merasakan tinggal di sana.

Dago memperkaya pengalaman saya yang masih jauh belum ada apa-apanya dibandingkan para traveler sedunia.

Tetapi Dago,

Kamu memiliki tempat khusus di memori saya

Tempat yang istimewa dan indah di jiwa

Mungkin kata Pidi Baiq, "Bandung bukan cuma masalah geografis bagiku, tetapi juga melibatkan perasaan." 

Sampai dijadikan pajangan di kolong terowongan Asia Afrika. 

Maka saya bikin quote juga walaupun enggak dipajang dimana-mana sih, wkwkw...

Di Bandung 
Pikiran kalut menjadi sejuk
Dan Dago 
Membuat lukisan memori indah di jiwa penduduknya



Shiva (yang pernah menjadi warga Dago)






Lika-liku Menyusui (1)

Sejak awal kehamilan saya sudah meniatkan sepenuh hati untuk memberika air susu ibu (ASI) ekslusif untuk buah hati saya. Berbagai hal terkait proses pasca melahirkan seperi inisiasi menyusu dini (IMD), ASI kolostrum dan ASI eksklusif sampai anak usia dua tahun sudah saya cari informasinya. Selain itu, saya juga menyiapkan mental bersama suami untuk saling mendukung selama proses memberikan ASI.



Bayangannya mah indah saja gitu ya. menyusui cara begini seperti di tutorial buku kuliah Maternity Nursing yang saya baca, wkwkw.. 





Di balik itu semua ternyata....



Ada usaha dan perjuangan yang besar dari seorang ibu demi menyusui anaknya.

Nah, disinilah saya akan membagi pengalaman saya selama menyusui Kristal dari sejak lahir hingga saat ini. Jadi, selama hamil saya dan suami tinggal di Bandung. Sebenarnya pun niat dan persiapan melahirkan di Bandung pun ada. Akan tetapi, berhubung kekhawatiran suami yang begitu mencintai istrinya *cieeh ini amatlah besar maka diputuskan saya akan melahirkan di Jakarta supaya ada keluarga yang menemani. 

Rabu, 21 Januari 2015 pukul 21.40 WIB Kristal lahir. Sejak lahir sampai sebulan setelahnya itu saya tidak menemui masalah dalam proses menyusui. Sebulan usia Kristal beratnya naik 300 gram saja, seharusnya dari sini saya curiga tapi karena masih dalam batas hijau grafik berat badan per umur, saya tenang. Selama menyusui saya tidak kesakitan (kalau salah posisi itu terasa nyeri) dan juga anak selalu tidur nyenyak karena kenyang. 

Barulah pada bulan kedua, berat badan Kristal hanya naik 200 gram dari sebulan sebelumnya yang 3600 gram. Setelah dilihat pada grafik sudah masuk kategori garis kuning. Duh, ada masalah apa ini? Saya bertanya-tanya sendiri sampai saya kepikiran mompa ASI supaya bisa mengukur jumlah ASI yang diminum Kristal coba. Suami yang saat itu masih kerja di Bandung juga have no idea kenapa naik BB cuma sedikit, soalnya tidak ada bengkak payudara dan lainnya. Akhirnya, saya berinisiatif menghubungi Fitri, teman saya yang juga sedang kuliah magister ilmu keperawatan anak siapa tahu ada diantara teman mahasiswanya terdapat seorang konsultan laktasi.


"Coba hubungi bu Fajar dosen kita aja Shiva, beliau konsultan laktasi internasional" balas Fitri dari pertanyaan saya yang mengenai adakah teman kuliahnya yang seorang konsultan laktasi. Saat itu juga eike masih belum ngerti hal-hal mengenai konsultan laktasi, hehee..


"Wah, boleh deh, kalau gitu aku minta kontaknya ya ibu Fajar" balas saya sambil deg-degan. Deg-degan karena cemas kalau-kalau tidak bisa memberi ASIx. 


Segeralah saya coba hubungi ibu dosen saya waktu kuliah ibu Fajar Tri Waluyati, M. Kep., Sp. An., IBCLC. Perasaan saya antara bersyukur tapi masih berdebar karena khawatir ada hal-hal yang tak terduga. Alhasil, setelah saya menghubungi beliau pun membalas dengan ramah. Duh, alhamdulillah semoga bisa diatasi masalah ASI ini. Akhirnya, ibu Fajar mengajak untuk bertemu di Kampus Fakultas Ilmu Keperawatan UI Depok, di ruangan dosen pada hari Senin. 

Suami saya ambil cuti kerja karena saya meminta untuk ditemani saat konsultasi ke ibu Fajar. Senin sore saya bertemu dengan ibu Fajar di kampus dimulai dengan cerita Kristal yang BBnya enggak naik  optimal dan masuk garis kuning.

"Pas menyusui sakit gak?" tanya bu Fajar

"Enggak bu, gak pernah sakit" jawab saya

"Berapa lama sekali menyusui sampai berhenti sendiri"

"Bisa setengah sampe satu jam bu dan selalu tidur setelah menyusu"

"Coba dicek lidahnya yuk, apakah ada tongue tie, bisa kelihatan lidahnya seperti love gitu karena ada yang menahan di bawah lidahnya"

dan ternyata.....


Tidak ada tongue tie atau nama latinnya ankyloglossia


Terus anak ini sebenarnya kenapaaa????





Akhirnya diagnosis yang diberikan untuk Kristal adalah dia tidak menyedot ASI bagian hindmilk (ASI akhir setelah menyusu lebih dari 5-10 menit) yang lebih banyak lemaknya. Jadi, solusi untuk menaikkan BBnya adalah dengan RELAKTASI. 


Relaktasi secara definisi sebenarnya adalah menyusui kembali setelah beberapa waktu berhenti (tidak menyusui sama sekali). Akan tetapi, dalam definisi kasus saya relaktasi bermakna memberikan lagi ASI yang telah diperah melalui feeding tube saat sedang menyusui. Jadi, pada selang dialirkan ASI perah hindmilk yang disisipkan ke dalam mulut. Selang disambungkan ke spuit sebagai tempat menampung dan mengukur jumlah ASI yang diberikan.


KEBAYANG GAK BU IBU?


Saya juga awalnya juga bingung, gak percaya kenapa begini...




Beginilah kira-kira gambarannya, tapi kalau saya tabung yang gantung di leher itu gak ada karena pakai spuit yang dipegang sendiri dengan tangan yang bebas.


Feeding tube yang berukuran khusus pediatrik (anak)


Spuit 50cc sebagai penampung ASI yang akan disalurkan

Dalam kasus saya, cara memperoleh hindmilk adalah dengan memisahkan hasil perahan pada lima menit pertama (yang hasilnya awal-awal hanya 10cc). Setelah itu melanjutkan memerah ASI lagi sampai sebanyak-banyaknya. Rasanya benar-benar tak terduga, saya yang tidak berencana memerah dan menyimpan ASI tiba-tiba harus mempersiapkan botol kaca, belajar lagi cara memerah dengan tangan karena memang belum punya pompa ASI dan juga menghitung tiap tetesan ASI serta memberikannya lagi. 

Jadilah setiap Kristal tertidur setelah menyusu saya segera bersiap memerah ASI. Tengah malam ketika terbangun saya kembali mengumpulkan ASI. Sebulan sudah saya relaktasi Kristal dan syukur pada Allah berat badannya naik cukup signifikan. Usia tiga bulan bobotnya 4.4 kg walaupun masih dalam garis kuning saya sudah bahagia. Hasil konsultasi berikutnya relaktasi tetap dilanjutkan. Saya pun coba meminjam pompa ASI manual dari kak Mia dan mencari pompa ASI elektrik di penyewaan online.

Rasa senang dan syukur itu ketika melihat ASI relaktasi yang diminum sehari lebih dari 30cc. Oiya, saya juga diresepkan obat galaktogog oleh ibu Fajar untuk merangsang hormon oksitosin dan tidak lupa pijat oksitosin juga. 


Apakah saya berhasil meningkatkan BB hanya dengan ASI saja?


Ternyata panjang juga ya kalau satu postingan mah, wkwkwk.. Baiklah nanti akan saya lanjutkan ceritanya di bagian kedua yaaa... hehehee....

Oiya, jika ada yang butuh konsultan laktasi bisa hubungi Ibu Fajar di kampus FIK UI Depok Gedung Rumpun Kesehatan. Di FIK ada klinik konsultasi khusus anak baik masalah ASI atau pun tumbuh kembang jadi siapa saja yang membutuhkan dapat langsung kontak ke kampus ya.