Ketika Memaafkan Terasa Berat



"Memangnya kamu pikir memaafkan itu gampang?"
"Enggak, memaafkan enggak segampang minta maaf."


Dua kalimat yang sering terdengar dari lisan-lisan manusia yang merasa disakiti. 

Angkuh? Sempit pikir? Tapi apa benar orang yang tidak mau memberi maaf begitu angkuhnya mereka?


Maaf, sebuah kata yang penuh makna. Jika diberikan imbuhan me-kan maka memaafkan merupakan sebuah hal yang kadang masih terasa berat. Jika ditambahkan imbuhan di-kan maka dimaafkan adalah sebuah hal besar yang memerlukan dada lapang melakukannya. Sungguh memberi dan meminta maaf merupakan hal berat kecuali untuk orang-orang yang sungguh lapang dadanya.

Siapa yang tidak pernah terluka hatinya? Wah, pertanyaan yang kurang tepat jika ditanyakan kepada manusia sepertinya. Manusia dengan emosi dan karakteristik yang berbeda tentunya sangatlah berisiko terluka hati. Entah sebab ucapan atau perilaku selama berinteraksi.


Memaafkan mengapa terasa begitu berat? Ah, kamu tidak merasakan sakit hati yang saya rasakan. Sudah, tak perlu komentar kamu. Asal kamu tahu, sakitnya tuh disini! *tunjuk dada 

Eits, saya manusia yang juga pernah merasa sakit hati. Dalam batas wajar, ada hal-hal yang membuat saya sebel, kesel dan dongkol sama ucapan atau perilaku orang lain loh. Dan itu wajar. Namun, bagi yang pernah disakiti sebegitu dalamnya secara langsung ataupun tidak dan benar-benar sulit sekali memaafkan. Siapapun orang itu, mestilah sulit membuka pintu maaf.

Kita marah, besar banget. Tak termaafkan, sungguh. 

Saya pikir, memaafkan adalah yang yang harus kita selesaikan untuk bisa melanjutkan hidup. Kalau kita tetap menyimpan luka lama, membawa-bawanya terus maka kita hanya akan melukai diri sendiri. 



Sebenarnya sih, kita tidak akan menyakiti orang lain dengan menolak memaafkan (bahkan sebagian besar sudah tidak peduli lagi mungkin pada kesalahannya), tetapi kita hanya akan menyakiti diri sendiri.

Nah, supaya bisa move on dan melanjutkan hidup memaafkan sebenarnya merupakan hal yang perlu kita terima dan lakukan. Sebab kita akan berisiko terjebak pada masa lalu terus menerus, tidak mampu menjadi diri yang kita mau atau mencapai hal yang kita ingin capai.

Memaafkan tidak bermakna bahwa kita "baik-baik saja" dengan yang telah si pelaku lakukan atau memaklumkannya. Memaafkan tidak ada hubungannya dengan orang yang menyakiti kita karena ini tentang diri kita di masa depan.

Jadi, seperti yang dikatakan Mr. Borysenko benalah bahwa memaafkan itu menyelesaikan bisnis lama agar bisa bebas dari kontaminasi atau cemaran masa lalu. Melelahkan memang jika kita hanya berkutat dengan rasa sakit yang itu-itu lagi. Faedahnya tidak didapat hanya saja makan hati terus menerus. Bebaskan jiwa, pikiran dan raga dengan memberikan maaf sebab dirimulah yang membutuhkannya.





3 comments:

  1. Hihihi sesama member yang nyetor pas menit-menit akhir ^_^ salam kenal kakak Shiva.
    Pas baca sakitnya tuh disini, saya langsung nyanyi sakitnya tuh disini di dalam hatiku, sakit nya tuh disini pas kena hatiku.
    Iya kak benar banget, kalo kt tak mau memaafkan dia yang telah menyakiti, itu cuma hanya menyakiti diri kita saja. Si dia nya baik-baik saja dgn hdpnya, krn berpikir toh dia sdh meminta maaf..lalu apa lg?

    ReplyDelete
  2. iyaah... salam kenal juga :D
    huehehee, sakitnya tuh disitu ya, enggak dimana-mana.
    mantap, lanjutkan hidup!!

    ReplyDelete
  3. Yang harus dilakukan adalah berdamai dengan keadaan mba. Meskipun berat memang dan sakitnya nggak ilang2 huhuhu

    ReplyDelete

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya