/* related post */

Tunggu aku di Jakartamu



Tunggu Aku di Jakarta from Kisah Klasik Untuk Masa Depan
by Sheila On 7

Masih saja kuteringat kata iringi kau pergi
Jadikan sore itu satu janji
Kau akan setia untukku, kembali untuk diriku
Mengingatku walau aku jauh

Akupun sempat janjikan, kukayuh semua mimpiku
Kulabuh tepat di kotamu...
Dan kaupun s'lalu janjikan kau 'kan menungguku datang
Bersatu kembali seperti dulu

Dan bila akupun rindu pada nyamannya kecupmu
Pada hangatnya tawamu
Kudendangkan dengan gitar lagu-lagu kesayangan
Sambil kuingat indah wajahmu

Oo' oo' ooo' 2x

Tunggulah aku di Jakartamu
Tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu
Tempat labuhan semua mimpiku

Akupun sempat janjikan, kukayuh semua mimpiku
Kulabuh tepat di kotamu...
Dan kaupun s'lalu janjikan kau 'kan menungguku datang
Bersatu kembali seperti dulu

Dan bila akupun rindu pada nyamannya kecupmu
Pada hangatnya tawamu
Kudendangkan dengan gitar lagu-lagu kesayangan
Sambil kuingat indah wajahmu

Oo' oo' ooo' 2x

Tunggulah aku di Jakartamu
Tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu
Tempat labuhan semua mimpiku


Ada apa dengan Jakarta sampai grup band Sheila On 7 menciptakan lagu khusus tentang Jakarta. Oh ternyata memang itulah Jakarta. Sebuah kota yang menjadi tempat mimpi-mimpi manusia berlabuh. Mimpi untuk mencari pekerjaan yang dicita-citakan. Mimpi menikah dengan jodohnya yang ada di sana, eh. Hahaa.. Jakarta pada akhirnya menjadi tempat bersejarah di hati setiap orang.

Jakarta merupakan kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Jika saya ditanya "kamu, orang mana?" maka saya menjawabnya dengan satu kata yaitu Jakarta. Keluarga besar dari Ibu dan Ayah saya memang sejak lama tinggal di Jakarta, lebih tepatnya kedua orang tua saya sudah dari lahir di Jakarta juga, hehee. Jadi, dapat dikatakan Jakarta adalah kampung kami, rumah kami dan memori kami.

Apa ya serunya tinggal di kota ini? Hahaha... pertanyaan yang sering saya tanya ke diri sendiri. Sejak kecil naik kendaraan umumnya bus kota (metromini, kopaja, PPD dan Mayasari) atau angkutan kota yang pendek atapnya jadi mesti masuk sambil bungkuk, wkwkw dan sampe sekarang semua hal itu masih ada. Awet amat yaah, kayak kita :p

Saya hanya bisa mendaftarkan beberapa hal yang seru di Jakarta dari pengalaman pribadi saya, silakan disimak.

Jakarta Metropolitan

Metropolitan ini istilah yang sudah terkenal banget sih emang ya. Tetapi, apakah orang-orang ini mengerti makna metropolitan itu sendiri? Saya juga baru tahu pas bikin tulisan ini kok, hehe. Saya kutip dari web resmi pemerintah DKI definisi kota Metropolitan adalah kota induk yang dikitari kota satelit atau daerah suburban di sekitarnya. Kota utama bertindak sebagai lokomotif ekonomi dan sosial dari kota satelit atau wilayah pinggiran sekitarnya. Interaksi penduduk kota utama dan kota satelit dicirikan oleh tingkat mobilitas yang tinggi. Mobilitas ini dapat berbentuk migrasi musiman atau dapat juga berbentuk nglaju (bekerja di kota induk lalu kembali ke kota pinggiran).

Oh, jadi itu ya maknanya, emang sih berasa banget hidup di sini (Jakarta -red) itu seakan diburu waktu. Tergesa untuk bekerja, padatnya lalu lintas dan penuhnya penumpang bus. Sebelum saya kuliah dan bekerja belum terbayang gimana rasanya nglaju dan akhirnya saya tahu rasanya setelah melihat jalanan ibukota di hari kerja. Well done, macet karena semua penduduk di area sekitarnya bekerja di Jakarta.

Petanye Jakarte


Memangnya ada apa sih sampe semua orang mau bekerja di sini? * pertanyaan yang dulu saya lontarkan saat kuliah. Begitu besarkah daya tarik kota ini? Apa sih yang dicari para pekerja ini? Kenapa mesti di Jakarta, oi oi... kenapaaa??? Mari lanjutkan bacanya dulu.

Jakarta Pusat Bisnis

Kalau mau mencari kantor pusat dari perusahaan baik milik negara maupun swasta cukup temukan mereka di Jakarta. Mulai dari bank, saham, teknologi informasi, sampe start-up (yang lagi hits) itu adanya di Jakarta. Rumah Sakit Pusat milik Kementerian Kesehatan yang terlengkap fasilitasnya se-Indonesia pun ada di Jakarta, yaitu RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.

Kalau lagi jalan-jalan akan mudah menemukan pusat bisnis. Tengok kiri kanan gedung bertingkat yang begitu tingginya (skyscraper) itulah distrik bisnis tempat orang-orang menghasilkan rupiah. Di Jakarta ada banyak dan akan semakin banyak sepertinya gedung bertingkat ini. Setelah sebelumnya ada di Sudirman (SCBD), Menteng, Kawasan Mega Kuningan dan juga area Kasablanka sekarang makin merambat di pinggir selatan seperti area T.B. Simatupang Jakarta Selatan.



Efek dari tingginya aktivitas ekonomi ini menyebabkan upah minimum provinsi DKI Jakarta lebih besar dibandingkan daerah lain. Berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 230 Tahun 2015 Tentang UMP DKI Jakarta 2016 ditetapkan UMP DKI Jakarta adalah 3.100.000 rupiah. Sebuah angka yang menggiurkan bagi para pencari kerja. Tetapi, hati-hati ya uang sebanyak itu kalau tidak dikelola dengan baik dan benar juga enggak ada rasa apa-apa, cuma sekedar numpang lewat di rekening, hihii.

Tempat Wisata

Wisata ke Jakarta itu banyak, dari gedung tua bersejarah, mall yang adem banget AC-nya, arena permainan keluarga sampai pulau-pulau berpasir putih di Kepulauan Seribu. Monumen Nasional alias Monas udah terkenal sejak lama karena jadi lambang kota Jakarta. Museum purbakala, museum uang, dan museum seni juga ada. Mall yang level standar sampai level internasional ada. Mau ke mal yang kelas menengah aja bisa atau sekali-kali siapin dompet lebih  dan kamu bisa menikmati restoran di area Pasific Place atau Grand Indonesia. Bosan dengan kota besar, bisa kok jalan ke seberang pulau. Di Kepulauan Seribu ada pulau-pulau yang hits jadi destinasi wisata pantai. Airnya bersih, pasirnya putih duh enak deh pokoknya, kayak bukan di Jakarta.








Wisata di Jakarta dapat saya katakan wisata yang adjustable. Mau pilih yang ekonomis ada, misalnya Kebon Binatang Ragunan. Wisata yang lebih menengah bisa ke area Pantai Ancol atau wisata mewah ya ke Pulau Seribu. Pilihan yang beragam ini merupakan akibat dari beragamnya status ekonomi rakyat Jakarta. Tidak lupa jika hendak berkeliling Jakarta dengan murah, kamu bisa menggunakan moda transportasi bus Transjakarta. Ini salah satu kemudahan transportasi umum di Jakarta. Halte yang sambung menyambung membuat kita dapat taransit dan berpindah haluan. Jadi, jangan ragu mencoba berwisata di kampung saya, Kampoeng Betawi.




Salam ayey














Diskusi RMA: Anak era gawai (gadget)

Di era dimana teknologi berkembang pesat maka produk teknologi itu pun jadi turut serta berpengaruh dalam perkembangan anak. Bagaimana pengaruh serta batasan penggunaan gadget untuk anak agar tidak berlebihan. Berikut pembahasannya dalam diskusi grup di rumah main anak.


RESUME MATERI KULIAH WHATSAPP RUMAH MAIN ANAK 5, 6, 7
Judul Materi: Ketika Anak Terpapar Gadget
Pemateri: Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
Peresume: Asrining Tyas Handayani


Sekitar satu tahun lalu, saya menonton sebuah video berjudul “A Magazine Is an iPad That Does Not Work”. Di video tersebut diperlihatkan seorang anak berusia 1 tahun yang diberikan sebuah majalah. Alih-alih membalik halaman-halaman majalah tersebut, si anak mencoba memperlakukan majalah seperti komputer tablet, yaitu mengutak-atiknya dengan jari. Videonya bisa ditonton di link ini  

Pada usia 0-2 tahun, perkembangan kognitif anak berada pada tahapan sensorimotor. Artinya, anak butuh input sensori untuk belajar. Perlu benda nyata yang bisa dipegang, diamati, dan diutak-atik. Apa yang terjadi di video yang saya ceritakan di atas, adalah kasus anak usia di bawah 2 tahun hanya tahu cara memegang komputer tablet, kemungkinan tidak pernah diberi waktu untuk bermain dengan buku yang nyata, dan akibatnya salah mempersepsi majalah sebagai tablet.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan orangtua untuk tidak memberi screen time (waktu untuk menonton TV, video di laptop, dan game di layar) untuk anak berusia di bawah 2 tahun. Aktivitas yang disarankan adalah aktivitas-aktivitas “dunia nyata” yang dapat merangsang perkembangan sensorimotor anak. Contoh kegiatannya banyak sekali, dan saya yakin ibu-ibu di grup ini juga sudah dapat bekal ilmunya (Untuk anak-anak berusia di atas 2 tahun, waktu yang ‘ideal’ pun hanya dua jam sehari. Jadi, screen time hanya menjadi salah satu variasi kegiatan, bukan sebagai kegiatan andalan untuk anak. Apalagi kalau digunakan untuk ‘menjinakkan’ anak yang tidak mau makan atau saat orangtua sedang sibuk.

Istilah gadget tidak hanya mengacu pada smartphone, melainkan semua perangkat teknologi yang ‘canggih’ termasuk laptop/komputer. Tidak bisa dipungkiri, ada manfaat gadget untuk pendidikan, di antaranya adalah:
  • menyediakan sarana belajar yang merangsang kreativitas dan keterampilan problem solving anak melalui games
  • menjadi sarana untuk menstimulasi perkembangan indra pendengaran dan pemahaman cerita, misalnya saat mendengar/menonton lagu dan cerita
  • menunjang anak untuk menjadi melek teknologi, dan sejumlah games merangsang kemampuan koordinasi mata-tangan (karena anak harus melihat gambar sambil menggerakkan jari).

Namun, semua yang berlebihan tentunya tidak baik. Apakah ada kenalan atau saudara ibu-ibu di sini yang anaknya tidak mau makan kalau tidak sambil menonton video? Atau yang anaknya bisa menonton video di tablet selama berjam-jam dan harus dipaksa untuk istirahat? Atau, yang gelisah dan mencari-cari bila sehari saja tidak bertemu smartphone/tablet? Sad to say, ini bukan kejadian langka di era teknologi digital seperti sekarang. Bahkan saat ini ada istilah "digital nanny", yaitu ketika orangtua meninggalkan anak sendiri dengan gadget seperti halnya anak ditinggal dengan pengasuh. Padahal, ahli teknologi seperti Steve Jobs (Apple) dan Evan Williams (Twitter) justru sangat membatasi akses gadget ke anak-anak mereka dan lebih banyak mengajak anak bereksplorasi lewat kegiatan "dunia nyata" dan membaca buku. 

Kerugian lainnya dari penggunaan gadget yang tidak tepat antara lain:

  1. Membiarkan anak bermain sendiri dengan gadget tanpa didampingi juga berarti tidak mendorong terciptanya interaksi antara anak dan orangtua.
  2. Bermain gadget persis sebelum tidur (misalnya, membiarkan anak dengan gadget supaya dia akhirnya mengantuk sendiri) juga tidak baik bagi tubuh, karena sebelum tidur tubuh perlu untuk bersiap-siap dan menurunkan tingkat aktivitas. Hal ini tidak hanya berlaku pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
  3. Membatasi kegiatan fisik yang merangsang perkembangan koordinasi motorik halus dan kasar. Gadget digunakan sambil duduk, dengan posisi leher biasanya kaku dan mata hanya terpaku pada layar. Orang dewasa saja tidak disarankan duduk terlalu lama di depan computer, apalagi anak-anak.

Dr. Ari Brown (New Tech City, WNYC), seorang ahli tumbuh kembang anak, menyarankan agar ada aturan di rumah terkait penggunaan gadget. Hal ini terutama dalam penggunaan smartphone dan computer tablet, yang saat ini lebih mudah diakses oleh anak. Dari berbagai sumber (linknya saya beri di bagian bawah tulisan ini), berikut sejumlah aturan tentang penggunaan gadget yang dapat diterapkan di rumah:
  1. Buat aturan yang tegas tentang waktu, tempat, dan durasi penggunaan gadget. Misalnya, tidak ada gadget saat makan, di kamar mandi (iya, anak-anak yang sudah sekolah ternyata bisa bawa hp ke kamar mandi dan chatting lama di dalamnya), sebelum PR selesai, di kamar tidur. Batasi waktu penggunaan gadget dalam sehari, misalnya maksimal 2 jam sehari, maksimal jam 5 sore.
  2. Beri pemahaman bahwa gadget yang dipegang anak adalah milik orangtua, bukan milik anak. Jadi orangtua berhak meminta gadget tersebut bila diperlukan atau bila anak menggunakannya tidak sesuai kesepakatan. Kadang ini yang jadi mispersepsi anak. Gadget dianggap setara dengan mainan-mainan lain yang dia punya, sehingga bisa dipakai kapan saja. Padahal, gadget yang ia pakai juga dipakai oleh orangtuanya, terutama handphone. Adik saya sendiri dulu sempat suka berlama-lama menggunakan smartphone ibu, tapi diingatkan, “Itu kan hp mama,” dan harus mengembalikannya bila diminta. Anak yang sudah lebih besar (4-6 tahun) juga bisa diberi tanggung jawab untuk melapor bilang baterai gadget sudah lemah dan perlu di-charge, bukan langsung main tinggal kalau gadgetnya habis baterai. 
  3. Pantau kegiatan anak di gadget. Cek aplikasi apa saja yang digunakan, video seperti apa yang ditonton anak (terutama di youtube dkk). Di grup ini fokusnya anak usia 0-6 tahun, namun untuk anak yang sudah SD atau lebih besar, orangtua juga perlu memantau anak di media sosial.
  4. Jadilah orangtua melek terknologi yang bisa mengatur filter konten internet yang dapat diakses anak. Mode “restricted access” bisa digunakan untuk mengantisipasi agar anak tidak “nyasar” membuka laman-laman internet yang aneh-aneh. Update informasi juga tentang cerita kartun anak-anak, apakah ada yang mengandung konten tidak ramah anak. Tidak semua film kartun baik untuk anak-anak, Bun.
  5. Untuk anak usia dini, penggunaan gadget harus didampingi dan diawasi orangtua. Jangan biarkan anak bersembunyi di kamar sambil membawa gadget. Repot? Begini loh Bun, iya sih anak nonton video Barney yang bagus  untuk pendidikannya, tapi orangtua juga perlu menjelaskan dan mengajak anak berdiskusi tentang apa yang dia tonton. Dengan begitu anak bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pesan yang ingin disampaikan oleh Barney. Seperti itulah penggunaan gadget sebagai media belajar, seperti halnya media lain yang butuh pendampingan orangtua. Jadi nanti anak bukan cuma ingat lagunya saja ;)
  6. Evaluasi penggunaan gadget orangtua. Jadilah role model untuk anak dalam penggunaan gadget, karena anak belajar banyak dengan meniru orangtua. Bila anak tidak diperbolehkan makan sambil memegang gadget, orangtua juga perlu menghindari memegang gadget sambil makan, kecuali bila ada telepon yang memang perlu diangkat.
  7. Anak-anak hari ini hidup di era yang berbeda dengan kita dulu. Dalam sejumlah hal seperti teknologi, perbedaannya begitu signifikan sehingga orangtua yang berasal dari generasi anak-anak pra-digital menghadapi culture shock dan merasa gaptek. Saya pribadi menganggap gadget tetap bermanfaat sebagai media belajar dan hiburan, asal ada rambu-rambu yang ditaati dalam penggunaannya. Seiring dengan perkembangan zaman, mari terus belajar juga supaya orangtua punya pengetahuan yang memadai tentang tantangan-tantangan yang dihadapi anak-anak kita saat ini. Semangat kita.

Referensi:

http://women.asiaone.com/women/parenting/how-make-sure-your-kids-arent-addicted-gadgets#sthash.IEcrAHmh.dpuf 
http://www.parentherald.com/articles/6210/20150430/10-gadget-rules-for-kids-at-home.htm
http://www.huffingtonpost.com/manoush-zomorodi/screen-time-rules_b_2207906.html
http://women.asiaone.com/women/parenting/how-make-sure-your-kids-arent-addicted-gadgets
http://www.nytimes.com/2014/09/11/fashion/steve-jobs-apple-was-a-low-tech-parent.html?_r=1
http://healthland.time.com/2011/10/20/no-screen-time-for-2-year-olds-do-ipad-apps-count/



Tanya - Jawab:

1⃣ Untuk waktu penerapan bergadget, lebih baik ditetapkan setiap hari dengan batas waktu maksimal 30 menit, atau misalnya hanya sabtu minggu tapi lebih dari 2 jam?
Ayu/ umar 5th 10bln/ RMA 5


*Jawab*
Bunda Ayu yang baik,
Walaupun anak hanya pegang gadget di hari sabtu dan minggu, bukan berarti durasinya dirapel untuk mengganti waktu weekdays yang tidak pegang gadget. Yang menjadi concern utama adalah bila anak "memelototi" layar gadget (yang terang itu) dalam waktu lama, terutama karena anak-anak biasanya menggunakan gadget untuk bermain atau menonton video. Kita pun kalau terus-terusan melihat layar dalam waktu lama akan mengalami pusing dan mata lelah.  30 menit untuk anak usia dini sudah cukup lama untuk memegang gadget. Kalau gadget hanya diberikan pada akhir pekan, tetap saja sekali duduk pegang gadget perlu dibatasi waktunya. Misalnya 30 menit, stop dulu, nanti lanjut lagi di waktu lain setelah kegiatan-kegiatan lain yang tidak kalah penting dilakukan. Jadi anak juga tidak merasa weekend-nya adalah hari kebebasan untuk memegang gadget selama apapun :) Saya kembalikan lagi ke aturan yang ada di rumah, berapa lama sampai harus stop dulu dan kapan bisa dilanjutkan lagi pegang gadgetnya. Semoga jawabannya membantu ya 


2⃣ Assalamualaikum
Anak saya usia 5 tahun dan 2 tahun. Biasanya tiap hari nonton tv kurang lebih 3 jam perhari dan kadang main tablet(anak yg usia 5 tahun) maksimal 30 menit tapi tidak tiap hari. Apakah waktu yg digunakan untk gadget tersebut masih termasuk normal atau tidak?
Usrotul hasanah/ Madura/ 5 tahun/ RMA5


*Jawab*
Wa'alaikumussalam bunda :)
3 jam sehari di depan TV itu sudah termasuk lama terutama untuk si bungsu yang baru 2 tahun. TV juga termasuk gadget kan ya ☺ Kalau 1 film kartun itu 30 menit, berarti dalam 3 jam anak menonton 6 episode kartun. Orang dewasa saja kalau hanya menonton acara yang penting seperti berita, dokumenter, atau ceramah agama, maksimal sehari hanya sekitar 3 jam juga. Jadi untuk anak-anak bahkan 2 jam sudah termasuk lama. Kalau anak menggunakan waktunya untuk bermain, 3 jam itu sudah lama sekali. Durasi penggunaan tabletnya masih OK Bun, tolong dijaga supaya konsisten menerapkan batas waktunya. Perlu diperhatikan juga anak bermain apa di tablet dan iseng-iseng saja tanya anak bagaimana cara bermain game di tablet itu supaya anak tetap bersuara. Mudah-mudahan jawabannya cukup jelas ya Bunda :)


3⃣ Pertanyaan saya simple sbnrnya. Saya pernah lihat postingan kalau gadget itu benar2 tidak ada gunanya sama sekali untuk anak dibawah 2 tahun. Namun skrg kan banyak aplikasi lagu2 anak gitu mba di gadget. Boleh gak siy sebenarnya mba untuk diberikan ke anak? Karna anak bisa juga belajar lagu dari aplikasi itu kan. Nah tapi melihat postingan tadi saya jadi ragu.
Makasi banyak ya Mba.
Paula/ Jakarta/ 21m/ RMA5


*Jawab*
Selamat pagi Bunda Paula yang baik :)
Saat materi ini disampaikan di RMA 1-3, secara umum memang anak di bawah usia 2 tahun sebetulnya tidak butuh gadget. Tapi ada kondisi-kondisi khusus, seperti ayah sedang tinggal terpisah dengan anak dan hanya bisa berkomunikasi dengan videocall, maka anak diberikan akses gadget hanya untuk berbicara dengan ayahnya. Tetapi tidak perlu untuk gaming. Ada juga app yang labelnya "game stimulasi anak", tapi untuk anak usia di bawah 2 tahun (di atas 2 tahun juga sih), stimulasi anak dengan benda nyata itu jauh lebih baik :) 
Kalau lagu-lagu anak, saya pun setel lagu dari CD player ke murid-murid, tapi anak diajak bergerak dan mengikuti lirik lagunya. Begitupun kalau mengunduh lagu-lagu anak ke tablet/handphone, apakah cuma audio atau ada gambar videonya? Kalau bentuknya video, apakah cuma ditonton oleh anak berkali-kali?  Sepengetahuan saya, mengajak anak usia 2 tahunan diajak nonton video lagu anak di handphone atau tablet itu bukan sesuatu yang benar-benar tidak boleh sama sekali dilakukan alias big no no. Tapi perhatikan seberapa sering anak boleh melihatnya, dan kegiatan apa yang dilakukan anak bersama orangtua untuk melanjutkan stimulus dari video itu. Kita sering lihat anak menangis lalu dialihkan dengan mengajak anak menonton video lagu anak. Atau orangtua sibuk melakukan hal lain jadi anak diberi tontonan lagu anak-anak di tablet supaya "anteng". Yang seperti ini tentunya penggunaan gadget yang tidak baik untuk anak ya Bun, apalagi kalau anak-anak di bawah 2 tahun dibiarkan sendiri seperti itu. Setelah menonton video, orangtua bisa tutup saja layarnya sehingga hanya lagunya yang terdengar, lalu ajak anak bergerak-gerak mengikuti lirik lagu. Atau menggambar tokoh yang ada di video lagu tadi. Masih ada kan cara untuk memanfaatkan lagu-lagu anak di gadget tanpa harus terus terpaku melihat gadget. Mudah-mudahan jawabannya membantu ya


4⃣ Bagaimana kalau yang kecanduan gadget adalah orang tua. Dlm hal ini sang ayah. Karena aktivitas kerjanya di biro wisata yg setiap waktu harus standby karna dihubungi konsumen.terutama saat kebersamaan dengan anak. Sehingga Seringkali malah anak yang mengingatkan. Sebagai seorang ibu tentunya jadi bingung bagaimana mendisiplinkan aturan pd anak karna dsisi lain dia melihat aturan dilanggar. Bagaimana solusinya bunda? 
Dian/ Purbalingga /4y /RMA7


*Jawab*
Bunda dian yang baik,
Saya klarifikasi dulu ya istilah "kecanduan gadget" ini :) "Kecanduan" itu kondisinya orang maunya "nempel" terus ke gadget dan gelisah kalau lepas dari gadget. Misalnya, sehari tidak main game jadi uring-uringan. Atau kalau gadget rusak tidak tertarik melakukan kegiatan lain karena yang seru hanya gadget. Kalau orang-orang yang pekerjaannya adalah customer service online, admin website, dsb yang memang di depan komputer, tidak bisa dikatakan kecanduan karena kegiatannya itu adalah tugas. Kalau suami bisa bebas tugas, saya yakin dengan senang hati akan pergi dari depan komputer :) Anak umur 4 tahun setahu saya sudah bisa mengerti tentang pekerjaan. Bisa saja bunda ajak anak untuk lihat, ayah sedang kerja apa, tugasnya apa, apa sih yang ayah lakukan di depan komputer. Jadi kegiatan ayah di depan komputer bukan sedang main game terus-terusan, berbeda dengan aturan gadget untuk anak. Mohon maaf, apa ayah harus standby seharian sampai malam setiap hari, atau ada staf lain yang bergantian bertugas? Akan lebih baik kalau ayah juga menyediakan setidaknya 30 menit waktu bebas untuk bersama anak, sehingga anak juga melihat sendiri bahwa ayahnya juga bisa beranjak dari depan layar komputer. Mudah-mudahan jawabannya membantu ya Bun :)


5⃣ Saya IRT dg anak 21 blan. Saya sadar kalau TV dan gadget tdk boleh buat anak saya mbak.  Tp kdg kalau lagi down nya saya hidupkan tv supaya saya bs masak, bs rehat. Bgmna cara menguatkan diri kita spy tdk menghidupkan tv atau gadget terutama jk pny anak d bawah 2 tahun mbak? Kdg kalau lgi sadar2 nya seharian itu tv off dan no gadget. Tp kalau lg capek atau sibuk ga bs nemenin anak main, tv bs hidup gadget hudup. Kira2 apa yg hrus saya lakukan spy komit mbak. Terima kasih.
Nurul faizah/ Cikarang/ Ghozi 21m/ RMA7


*Jawab*
Bunda Nurul yang baik,
Setiap keluarga punya kondisi khusus masing-masing yang kadang tidak bisa dipukul rata. Idealnya memang anak usia di bawah 2 tahun tidak ketemu gadget, tetapi dengan kondisi di rumah, misalnya kalau di rumah ada kakek-nenek yang menonton tv, tentu kondisinya jadi tidak ideal kan. Tapi bukan berarti orangtuanya lantas jadi dianggap "lalai" :) Jadi yang penting Bunda Nurul berusaha sesuai kemampuan di kondisi yang mungkin tidak ideal ini. Misalnya kalau tv nyala, channel mana yang masih aman dilihat anak. Pastinya bukan acara sinetron atau gosip kan ya  Dan batasi berapa menit, jadi masaknya juga dikira-kira berapa menit. Kalau siang setahu saya masih ada acara anak-anak. Atau pasang video yang sesuai usia anak. Tapi kalau tv nyala, gadget mati. Pilih salah satu saja. Dan tetap jangan lama-lama. Gadget tidak baij dijadikan senjata untuk membuat anak "anteng" karena nanti dia akan terbiasa "nagih" minta gadget. Kalau anak pegang gadget, anak bisa didudukkan di tempat yang terlihat oleh bunda yang sedang memasak. Jadi bukan bunda di dapur dan anak di kamar, misalnya. Jadi walaupun pegang gadget, anak masih bisa diajak ngobrol dan ditanya tentang apa yang dilihatnya di gadget. 
Tapi lebih baik lagi, tv dan gadget mati, bunda cari inspirasi kegiatan bebas untuk anak di RMA  Sebenarnya tidak cuma supaya bunda bisa punya waktu untuk masak, tapi juga kalau perlu melakukan kegiatan lain. Ada permainan-permainan yang bisa dilakukan anak sendiri dan bunda cukup mengamati dari tempat memasak. Misalnya bermain runah-rumahan, susun balok, tempel-tempel gambar, dsb. Mudah-mudahan jawabannya membantu ya.


6⃣ Pertanyaan saya, bagaimana memperbaiki anak usia balita yang sudah gadget addict? Gadget addict nya suka bermain hp, meski tidak main game hanya sekedar liat poto diri nya atau vidio dirinya sndri, bagaimana sikap sebagai orang tua untuk memperbaiki gadget addict ini dan menghilangkan gadget addict ini pada anak tersebut.
Yulfitri ardiana/ Tangerang/ Athar Dzulfiqar/ 3th8bln/ RMA7


*Jawab*
Bunda Yulfitri yang baik,
Pertanyaan berikut bisa digunakan untuk memperkirakan ketergantungan anak kepada gadget: 
1. Berapa lama waktu yang dihabiskan anak dengan hp? Apakah melihat foto dan video itu dilakukan terus-menerus dalam waktu lama? Karena kalau dari penjelasan Bunda, anak tidak bermain game atau menonton video anak-anak/Youtube. Biasanya dua hal ini yang membuat anak lengket dengan gadget. Apakah durasinya sangat lama sampai perlu dikategorikan "addict"?
2. Bagaimana respon anak kalau gadgetnya diambil? 
3. Bagaimana respon orangtua saat anak bereaksi seperti itu? Apakah orangtua mengalah atau tetap mengambil gadgetnya
4. Apakah anak bisa dialihkan kalau diajak melakukan kegiatan lain? Butuh waktu lama atau sebentar saja?

Mengingat usia anak yang sudah hampir 4 tahun, anak sudah bisa diberitahu aturan yang penting tentang gadget: gadget itu punya orangtua bukan punya anak. Anak hanya meminjam, dan kalau pinjam harus dikembalikan. Jadi anak tahu kalau orangtua meminta gadgetnya dikembalikan, dia tidak perlu marah karena memang bukan miliknya. Poin ini ada di materi juga.
Selain itu, untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, kita perlu menambah/meningkatkan kegiatan lain. Kalau menurut orangtua saat ini anak terlalu lama memegang hp, gantikan dengan kegiatan lain yang bebas gadget (ada banyak inspirasinya di RMA ). Misalnya, kalau anak mau lihat foto dan video dirinya, alternatif lainnya bisa dengan mencetak beberapa foto lalu bersama-sama membuat album foto. Album foto ini bisa dilihat berkali-kali dan kalau isinya ditambah terus, bahkan bisa jadi project khusus untuk anak. Sesekali melihat video dirinya sendiri tidak apa-apa ya Bun, apalagi anak juga kan lihat sendiri dia direkam dengan handphone oleh Bunda. Asal diberitahu di awal, nontonnya 1x atau 2x saja setelah itu hp dikembalikan ke bunda. Mudah-mudahan jawabannya membantu 




IG : @rumahmainanak
FB : Rumah Main Anak
Web : www.rumahmainanak.com