Diskusi RMA: Temper Tantrum


Judul materi: *Temper Tantrum*
Tanggal: Jumat, 18 agustus 2016
Pemateri: Chairunnisa Rizkiah, S. Psi
Peresume: @penaganda

Assalamu’alaikum ibu-ibu hebat. Materi kali ini menurut saya ngeri-ngeri sedap. Hihi…Mudah-mudahan kita bisa banyak berbagi pengalaman juga ya.
Temper tantrum, atau yang lebih sering disebut tantrum, merupakan luapan emosi seseorang saat mengalami kondisi yang tidak menyenangkan. Emosi negatif dari stres yang dihadapi itu diluapkan dalam bentuk perilaku seperti berteriak, menangis, ngotot/tidak mau menuruti perintah, hingga memukul atau merusak barang. Tantrum adalah cara anak mengungkapkan rasa frustrasinya, ketika anak menginginkan sesuatu namun tidak keinginannya tidak dituruti, atau ketika anak tidak bisa menyampaikan keinginan, isi pikiran, ataupun perasaannya secara lisan karena keterbatasan kemampuan bahasa anak di usia tersebut. Tantrum juga lebih rentan terjadi bila anak sedang lelah, sakit, atau mengantuk.



Tantrum biasanya terjadi di usia toddler (1 tahun – menjelang 3 tahun). Usia 2 tahun sering disebut juga dengan istilah “terrible two”, atau umur 2 tahun dimana perilaku anak sedang “parah” dengan mulai munculnya teriakan, tangisan sambil guling-guling di lantai, dan pukulan. Seiring dengan perkembangan bahasa, pada umumnya tantrum semakin berkurang sebab anak semakin mampu menyampaikan keinginannya dengan kata-kata dan bernegosiasi dengan orang lain. Tetapi patokan umur ini tidak menjadi jaminan bahwa tantrum akan secara ajaib tiba-tiba hilang sendiri setelah usia 3 tahun. 

Namun, cara orangtua menghadapi anak ketika tantrum dapat juga mempengaruhi kemampuan anak untuk mengatur emosinya di kemudian hari. Misalnya, walaupun sudah lewat usia 3 tahun, bila setiap kali tantrum keinginan anak dipenuhi, maka anak akan terbiasa untuk memaksa orang lain menuruti keinginannya dengan tantrum. Bahkan bila tidak dihentikan, sampai anak jauh lebih besar pun ia bisa terus menggunakan tantrum sebagai “senjata” untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemampuan untuk mengatur emosi ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan adalah keterampilan yang diperlukan anak untuk dapat melakukan banyak hal di kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, adalah peran orangtua dan pengasuh di sekitar anak untuk melatih keterampilan anak dalam menghadapi tantrum.

Berikut adalah poin-poin yang perlu diperhatikan dalam menghadapi tantrum anak:

  1. Stay cool, stay calm. Tetap tenang dalam menghadapi anak, terutama dalam berbicara. Seingat saya kita sudah pernah membahas hal ini juga di sesi tanya jawab materi perkembangan psikososial dan kemandirian anak. Mudah di teori tapi praktiknya butuh usaha besar ya, hehe…Pemandangan saat anak sedang tantrum memang bisa memicu emosi negatif juga pada orang dewasa. Siapa juga yang suka mendengar teriakan melengking anak, melihat anak menangis berguling-guling, atau bahkan memukul. Bila orangtua merespon dengan emosi marah juga (contoh: berteriak menyuruh anak diam, mencubit, mengancam), dengan emosi sedih dan memelas (misalnya berkata “aduuuh...jangan nangis dong…”, “Ga kasihan sama bunda?”, “Malu nih dilihatin orang”), atau terlihat bingung mau melakukan apa, tantrum bisa makin menjadi-jadi dan berlangsung lebih lama. Saat tantrum, anak sulit untuk berkonsentrasi mendengar perkataan orang lain. Orangtua juga sangat mungkin merasakan emosi negatif juga seperti marah, sedih, bingung, dan takut. Ada baiknya menunggu sebentar hingga tangisan anak agak reda, bisa dengan menunggui di dekat anak atau agak menjauh. Sampaikan kepada anak dengan suara yang tenang, “Bunda tunggu dulu sebentar sampai kamu tenang ya.” Ada pula anak-anak yang akan menjadi lebih tenang bila dipeluk, walaupun saat akan dipeluk mereka mencoba meronta. Orangtua bisa mencoba untuk memeluk sambil tetap mengajak anak bicara, “Yuk, tenang dulu ya, stop dulu nangisnya ya…”
  2. Tunjukkan otoritas. Mau tidak mau, anak perlu menyadari bahwa orangtua adalah tokoh yang mempunyai otoritas/wewenang. Ketika semua keinginan anak dituruti bila ia tantrum, anak jadi mendapatkan pemahaman bahwa ialah yang mengontrol orangtua. Dengan kata lain, anak merasa punya otoritas. Untuk sejumlah hal, anak memang dapat diberi otoritas, seperti memilih baju yang akan dipakai untuk jalan-jalan atau memilih mainan di rumah. Untuk tantrum, anak perlu memahami bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi.
  3. Konsisten. Konsistensi dalam menghadapi perilaku tantrum anak-anak membuat anak pelan-pelan menyadari bahwa ada aturan yang berlaku. Anak juga akan memahami bahwa tantrum tidak bisa dijadikan senjata karena tidak mempan pada orangtua. Pada situasi-situasi tertentu seperti saat anak capek atau sakit, tantrum bisa sedikit lebih ditoleransi mengingat kondisi anak yang memang sedang tidak fit.
  4. Ajak anak bicara. Setelah tantrum selesai, sediakan waktu untuk mengajak anak bicara tentang apa yang terjadi. Saat itu anak biasanya sudah lebih tenang dan dapat diajak untuk melihat balik ke perilakunya tadi. Tadi apa yang dia inginkan, kenapa anak menangis atau berteriak, bagaimana solusinya. Di saat seperti ini, orangtua bisa lebih mudah untuk mendorong anak untuk bicara bila menginginkan sesuatu, dan tidak perlu menangis atau memukul. Jadi, proses belajar anak tidak selesai hanya sampai tantrumnya selesai ya Bun. Justru setelah kondisi emosi anak kembali stabil lah waktu yang tepat untuk mengajaknya bicara. Orangtua bisa mengajak anak bicara dengan menggunakan alat bantu seperti buku cerita, mengajak anak menggambar kejadian tadi, atau sambil makan cemilan bersama.
  5. Antisipasi kemungkinan tantrum. Untuk hal ini, yang paling mengenal anak adalah orangtuanya sendiri. Dalam kondisi apa anak biasanya tantrum? Bila harus makan makanan yang tidak disukai? Bila disuruh berhenti bermain? Bila sedang di supermarket lalu tidak diperbolehkan mengambil barang yang ia inginkan? Dengan mengantisipasinya, anak akan lebih kooperatif dan tantrum berkurang. Misalnya, sebelum anak bermain di mall, beritahu berapa lama waktu bermainnya. Tunjuk di angka berapa jarum jam yang panjang nanti kalau waktu bermain anak habis. Penting, pastikan anak setuju. 5 menit sebelum waktu bermain habis, beri “ancang-ancang” kepada anak. Bila anak sering tiba-tiba menginginkan suatu benda saat berbelanja, sebelum pergi belanja ajak anak untuk bicara, hari itu apa saja yang akan dibeli, dan apa yang boleh dibeli oleh anak. Anak bisa diberi kesempatan untuk memilih satu atau dua makanan yang ia suka (dengan syarat dan ketentuan berlaku sesuai kebijakan orangtua, misalnya bukan permen atau bukan yang terlalu mahal). Anak diberitahu bahwa selain dari makanan yang sudah dipilihnya, orangtua bisa menolak karena tidak ada di daftar belanja. Bila anak sudah diberi kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan situasi yang tidak menyenangkan, ia juga jadi punya waktu untuk mengatur emosinya.

Semoga bermanfaat. Ayo diskusi dan berbagi pengalaman 

Referensi:
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009). Human Development. 11th ed. New York: McGraw-Hill
http://www.babycenter.com/0_tantrums_11569.bc
http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/tantrums.html
http://kidshealth.org/parent/emotions/behavior/discipline.html?tracking=P_RelatedArticle

 *_Tanya Jawab_* 
1⃣Assalamualaikum...
Bunda, mau tanya, anak sy terkadang tantrum, menangis keras sambil berteriak. Nah, yg saya mau tanyakan apakah wajar jika kejadian tangisan pd siang hari sampai terbawa dalam mimpi anak (mengigau)? Memang tangisannya tidak separah siang hari, tapi kata2nya mirip, misal siang hari menangis minta ikut pergi dg neneknya, nah ketika mimpi ia menangis sambil bilang "ikuut..ikuuut.." begitu.
_(Nina,Jakarta,24mRMA5)_

*Jawab* :
Wa'alaikumussalam wr wb Bunda Nina yang baik :)
Sebenarnya bukan cuma anak-anak, orang dewasa juga bisa membawa pikiran tentang kejadian yang dialami sampai ke dalam tidur sehingga bermimpi tentang hal tersebut. Ada anak-anak yang seharian bermain sepeda atau berenang, lalu malamnya mengigau dan bergerak-gerak seakan sedang balap sepeda atau lomba renang  Bila kita tidur nyenyak, otak kita beristirahat dan pada umumnya tidak bermimpi. Bila kita memimpikan kejadian berkesan yang pernah dialami, berarti ada bagian otak kita yang masih bekerja di alam bawah sadar, jadi bisa dikatakan tidurnya belum nyenyak. Bila anak mengigau dalam mimpi, orangtua bisa mengeloni anak sambil mengusap-usap badan dan kepalanya untuk membuat anak lebih rileks. Anak sendiri sebenarnya tidak sadar kalau sedang mengigau dan kalau tidurnya sudah nyenyak biasanya igauan itu berhenti sendiri. Semoga jawabannya membantu :)✅

2⃣Assalamualaikum.....
Anak saya usianya 21 bulan kalau minta sesuatu gak dituruti dia sering nangis sambil guling2. Biasanya sikap saya hanya diam/dan kadang saya tanya "adik mau apa". Benarkah langkah saya ini?
_(Usrotul hasanah,madura, 21m,RMA5)_

*Jawab* :
Bunda Usrotul Hasanah yang baik,
Bunda sudah memulai dengan baik karena bisa tetap tenang dan menjaga nada suara agar tidak naik mengikuti tangisan anak. Kalau boleh, izinkan saya berikan feedback sebagai berikut:
_a.)_ Bila anak sedang tantrum dengan menangis guling-guling, suara saja tidak cukup untuk membuatnya fokus kepada bunda. Tangisannya bisa bertahan lama karena ia masih merasa sedang adu kuat dengan orang dewasa. Buat anak melihat ke arah bunda dengan cara memegangi badannya, seperti kedua bahu, lengan, atau kedua pipi. Baru setelah itu bicara, adik mau apa? Tidak perlu pakai nangis. Kalau nangis bunda ga ngerti adik ngomong apa
_b.)_ Hanya bertanya "adik mau apa" sebenarnya baru langkah awal, karena kan anak tantrum karena ia mau apa tidak dituruti. Pertanyaan "adik mau apa?" sebenarnya dimaksudkan untuk melanjutkan pembicaraan dengan anak. Oo, adik mau permen? Iya, bunda ngerti. Tapi kali ini ga bisa bunda kasih permen, maaf ya. Kan tadi sudah makan permen 2. Adik cuma boleh makan permen 2 aja kan hari ini? Yuk kita makan yang lain aja (misalnya)
_c.)_ Kalaupun bunda bermaksud diam agar anak juga berhenti menangis, sampaikan kepada anak. Karena anak tidak mengerti kalau tidak dijelaskan. O nangisnya stop dulu sayang, ga ngerti nih maunya apa kalau sambil nangis. Bunda ga bicara dulu deh, tunggu adik stop nangisnya dulu
_d.)_ Perlu diingat juga bahwa umur anak baru 21 bulan. Ia masih belajar berbicara dan menyerap bahasa. Mereka paham apa yang orang dewasa katakan, tetapi masih kesulitan menyampaikan keinginannya secara verbal. Untuk anak yang masih sangat kecil seperti itu, saya prefer menenangkannya dengan dipeluk atau digendong sambil dielus-elus, walaupun di awal anak pasti berontak. Perhatian anak juga bisa dialihkan dengan melakukan kegiatan lain. Semoga jawabannya membantu ya. Tetap semangat, Bund :)✅

3⃣Apakah saat anak sedang tertidur pulas lalu kita pindahkan ke kasur/tempat lain, dia akan mengamuk sejadi-jadinya itu dikategorikan dengan tantrum? Mengapa dan bagaimana mensiasatinya?
Terima Kasih.
_(Nidia/ Anindya/ 2y9m/ RMA7)_

*Jawab*:
Bunda Ninda yang baik,
Sejauh pengetahuan saya ketika anak rewel (cranky) saat dipindahkan tempatnya tidurnya tidak termasuk tantrum. Hal ini lebih berhubungan dengan sensitivitas anak terhadap kondisi di sekitarnya dan fase tidur yang sedang dialami anak. Anak yang menurut kita sudah tidur, bisa jadi tidurnya belum nyenyak sehingga mudah terganggu oleh perubahan di sekitarnya, seperti suara berisik dan merasa diangkat. Sebagian anak merasa kaget dan panik bila tidurnya belum nyenyak tapi tiba-tiba digendong. Bila anak sudah memasuki fase tidur nyenyak, anak tidak akan mudah terbangun. Ada juga anak-anak yang memang mudah terbangun ketika tidur. Bila tidur anak sudah  nyenyak, napasnya teratur dan bola mata di balik kelopak matanya tidak bergerak-gerak. Bila bola mata masih bergerak-gerak cepat, anak masih berada pada fase tidur REM (rapid eye movement) yang merupakan fase tidur di mana terjadi mimpi. Bila ingin memindahkan tempat tidur anak, bunda bisa coba elus-elus dan keloni anak  terlebih dahulu sehingga anak tidur lebih tenang. Saat diangkat pun usahakan sambil menimang-nimang anak dengan pelan. Walaupun anak rewel ketika dipindahkan, biasanya ketika sudah dipindahkan ke tempat lain dan tetap dikeloni anak akan bisa tidur lagi karena reaksinya itu lebih karena anak kaget dan panik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perilaku "mengamuk sejadi-jadinya" itu karena kurang spesifik, tapi mudah-mudah jawabannya membantu ya :)✅

4⃣ Saya pernah baca artikel majalah bahwa anak tidak boleh dibiarkan dalam kondisi stres terlalu lama karena akan berpengaruh terhadap perkembangan otaknya. Saat tantrum bagaimana langkah selanjutnya ketika kita sudah berusaha menenangkan anak tapi belum juga berhasil untuk jangka waktu yang cukup lama, sejam misalnya?
_(Miranty/Tangerang/18m/RMA 7)_

*Jawab*
Bunda Miranty yang baik, terima kasih untuk sharing ilmunya :) Kondisi yang stressful dan stressor (hal-hal yang dapat menjadi pemicu stres) ada di mana-mana. Semua stimulasi dan pengalaman yang dialami anak berpengaruh pada perkembangan dan pembentukan kepribadiannya.
Pertanyaan bunda Miranty juga banyak ditanyakan oleh ibu-ibu di RMA 1-3 saat saya menyampaikan materi ini. Saya sendiri tidak pernah membiarkan anak menangis sampai lama. Kasihan, anak capek dan bisa makin frustrasi karena merasa diabaikan. Makanya seperti yang saya sampaikan di materi, menjauh sebentar, bukan diacuhkan sampai anak menangis berjam-jam. Hal ini dilakukan untuk memberi anak waktu menghadapi emosi marahnya, dan untuk orangtua berpikir lebih tenang. Beberapa menit saja, 5-10 menit, terutama kalau anaknya memang bukan anak yg bisa berhenti menangis sendiri dan mulai melakukan kegiatan lain sendiri. Apalagi kalau kejadiannya di rumah, sambil menunggu anak tenang orangtua bisa melakukan kegiatan lain yg menarik, seperti memainkan mainan anak, melipat2 kertas, menggambar, membentuk2 playdough, dan lain2 yg bisa mengalihkan perhatian anak. Dalam rentang 5-10 menit, kebanyakan anak sudah mulai mengalami suara mengecil karena capek. Orangtua bisa menawarkan anak utk minum atau membasuh muka supaya kondisi fisiknya lebih enak, terutama anak yg menangisnya sesegukan karena sulit mengatur napas saat menangis. Saat menangis juga anak mungkin perlu dibantu utk mengeluarkan ingus yg membuatnya sulit bernapas. Memang rasanya tidak nyaman mendengar anak terus-terusan menangis, tapi dgn orangtua tetap tenang, tetap mengawasi dan membantu anak walaupun tidak menyerah dengan tantrumnya anak, anak akan belajar bahwa cara yg ia gunakan tadi tidak mempan utk mendapatkan keinginannya.
Selain itu, membiarkan anak sebentar bukan berarti anak langsung ditinggal saat tantrum sehingga ia malah bingung dan merasa tidal dipedulikan, yang ujungnya malah memanjang-manjangkan tangisan sampai orangtua menyerah. Berikut adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam menghadapi tantrum:
_a.)_Saat anak tantrum dan orangtua memutuskan utk menjauhi anak sampai dia tenang, pastikan dulu orangtua sudah BICARA pada anak bahwa orangtua akan menjauh sebentar sampai anak tenang, dan kalau sudah tenang anak boleh coba lagi bicara apa yg dia mau tanpa menangis. Kalau anak menangis berteriak2 dan orangtua langsung bilang "ah kalau nangis terus mama pergi dulu deh" tanpa penjelasan apa2 lagi, anak juga bingung dan makin kesal. Saya sendiri biasanya menyampaikan dengan kalimat yang sederhana saja, "kalau kamu sudah bisa tenang, sudah bisa stop nangis, kita bisa bicara. Aku tunggu sebentar di sana ya sampai nangisnya bisa stop, soalnya kalau dekat-dekat sambil nangis kupingku sakit dan ga ngerti ngomongnya apa."
_b.)_Kalau ada perilaku anak saat tantrum yg memang tidak sesuai dgn norma dan aturan yg dipegang orangtua, langsung beritahu anak. Misalnya bila anak tidak boleh berteriak kepada orang yang lebih tua tapi ia berteriak-teriak dan memanggil orangtua dengan panggilan yang tidak santun seperti bodoh atau bego, orangtua perlu tegas dalam mengatakan bahwa hal itu tidak sopan, tidak baik, dan tidak disukai orangtua. Di sini, ada otoritas yang perlu ditunjukkan orangtua kepada anak.
_c.)_ Utk anak yg sudah besar, tantrum juga bisa diantisipasi dengan dibahas langsung bersama anak saat anak tenang. Jadi tidak harus hanya rusuh2 dan jadi capek saat anak tantrum. Ketika anak mengalami kejadian yang bisa memicu tantrum, orangtua dapat memberikan cue, misalnya "ingat, ga perlu marah-marah" dan "coba tarik napas dulu biar nangisnya stop".
Semoga jawabannya membantu ya :)✅

5⃣Assalamualaikum, saya mau tanya anak saya usia nya 3,5 tahun, anak saya kadang2 mood nya naik turun, kadang tiba2 sendu tiba2 keluar air mata kalau misal lg di sekolah sedang bermain sm guru nya trus dia cari saya di jendela dan saya tidak ada. Klo sudah begitu, seharian dan hari berikutnya jadi apa-apa suka pake nangis dan mood nya ngga bagus, meskipun memang nangis bisa berhenti dengan negosiasi, dan sikap sperti ini sewaktu2 saja terjadinya. Apakah ini wajar ya Mba? Bagaimana cara mengatasinya? Terima kasih.
_(Yulfitri Ardiana/Tangerang/Athar 3,5 y/RMA7)_

*Jawab*
Bunda Yulfitri Ardiana yang baik, Apa ini pengalaman pertama athar bersekolah? :) Apa athar memang masih diperbolehkan ditunggui oleh bundanya di sekolah? Dan yang paling penting, apa athar sudah mulai diajarkan bahwa bunda akan datang kalau athar sudah pulang sekolah saja? Semua perilaku anak memiliki alasan. Saya sendiri dengan informasi yang sedikit dari Bunda tidak bisa menyimpulkan apakah athar jadi bad mood dan rewel (cranky) semata-mata karena bundanya tidak kelihatan di sekolah, atau ada faktor lain yang mempengaruhi.Wajar atau tidak? Bila athar memang baru mulai sekolah dan belum dibiasakan tidak "diintip" bunda lagi dari luar kelas, perilakunya wajar. Sepertinya isu utamanya bukan tantrum ya bun, tapi perasaan cemas dan tidak aman karena berada di tempat baru. Karena cuma satu contoh perilaku yang diceritakan ke saya, saya tidak bisa menebak-nebak seintens apa kondisi yang Bunda sebutkan sebagai "kadang mood-nya naik-turun" ini.

Sebagai informasi, mood (suasana hati) bertahan lebih lama daripada emosi. Emosi adalah reaksi saat mendapatkan stimulus tertentu. Misalnya orang yang menang hadiah umroh, emosi yang dirasakan adalah senang. Sepanjang hari bahkan sampai besoknya, mood orang ini bisa dalam kondisi good mood, bawaannya pengen senyum terus. Sebaliknya misalnya anak tidak diajak jalan-jalan oleh keluarganya, emosi yang dirasakannya adalah marah dan sedih. Sepanjang hari sampai keluarganya pulang, anak ini bisa bad mood terus sehingga tidak mau tersenyum, cemberut, dan sedikit-sedikit menangis. Nah, kalau athar bawaannya bad mood terus sampai seharian, kira-kira apa penyebabnya? Penyebabnya itulah yang dibicarakan dengan athar, karena menangis itu merupakan efek dari pengalaman tidak menyenangkan yang dialami anak. Seperti yang saya jelaskan juga dalam materi perkembangan emosi, orangtua perlu mengakui emosi yang dirasakan anak dan membantu anak untuk mengenali emosi tersebut. Misalnya, "Kakak tadi nangis. Kakak sedih ya, tadi ga lihat bunda di jendela?" Mudah-mudahan jawabannya membantu ya :)✅

6⃣ Anak saya tantrumnya suka muncul saat bepergian, entah kenapa tiap saya pergi dgn bertemu byk kumpulan ibu2 dlm sebuah acara tantrumnya tiba2 sering muncul seperti takut melihat byk ibu2 yg asing atau tempat yg asing, selalu tdk ingin masuk sambil teriak nangis2 seperti ketakutan minta diluar saja, tp anehnya dia ga akan begitu kalau dgn bpk2 walau bpk2 yg asing yg baru dia temui pertama kali bisa langsung lengket bahkan minta gendong bisa langsung main2. Kalau sudah tantrum dua tdk bisa digendong, dipegang sama ditanyain saja nangisnya tambah keras, kalau didiemin akan terus berlangsung lama tak henti2 bisa sejam sangat menguras tenaga & kesabaran sekali, bagaimana menangani anak tantrum yg seperti itu ya bunda?karena sya sudah kehabisan ide, terima kasih sebelumnya 
(Ertiena/Bogor/2y6m/RMA6)
_informasi tambahan_
Anak saya Laki2 mba,dulu tinggal sama ortu sekarang dah tinggal bertiga aja. Iya dia kalau ada ibu2 yg blm dia kenal dia ga mau deket. Kalau banyak kayak takut memang mba, knp ya?kalau udah deket dia gpp spt dgn tante, budhe & neneknya. Sama nenek dri pihak suami saya jg kayak takut krn jarang sekali ketemu, tp lengket sekali dgn bapak2

*Jawab*
Bunda Ertiena yang baik,
Berdasarkan penjelasan Bunda, sejauh pemahaman saya perilaku ananda lebih berhubungan dengan kecemasan dan perasaan tidak nyaman saat berada di lingkungan baru, termasuk tempat baru dan orang-orang yang dianggapnya "mengancam" sehingga ingin dihindari. Jadi terlihat ya bun, di sini anak menangis untuk menunjukkan bahwa ia tidak nyaman masuk tempat asing dan bertemu ibu-ibu lain. Mengapa anak cuma menangis bila bertemu ibu-ibu dan dengan bapak-bapak langsung bisa akrab? Saya tidak bisa menebak-nebak tanpa tahu riwayat anak. Kalau anak merasa nyaman dengan orang tersebut, ia bisa kan merasa nyaman walaupun dengan perempuan? Contohnya nenek dan tantenya.
Kalau tangisan karena tantrum adalah tangisan frustrasi karena apa yang diinginkan tidak bisa tercapai, tangisan ananda sepemahaman saya berbeda penyebabnya. Jadi, akan lebih baik bila perasaan tidak nyaman pada anak dihilangkan terlebih dulu. Sehari sebelum bertemu ibu-ibu lain, anak dikabari terlebih dahulu besok akan ada teman bunda yang baik-baik agar ia tidak kaget. Anak juga bisa membawa mainan kesukaannya agar ada kegiatan di sana. Kalau anak menolak masuk, menurut saya tidak apa-apa ditemani bermain sebentar di luar agar anak lebih tenang. Apalagi kalau tempatnya memang ramai.
Yang terakhir ini usulan berdasarkan oengalaman pribadi: kalau ada di antaraibu-ibu itu yang bisa diminta untuk membawakan benda yang disukai anak, seperti mainan atau buku cerita, anak dapat "dipancing" untuk memulai interaksi sehingga tidak lagi takut dengan ibu-ibu itu. Semoga jawabannya membantu :)✅



Follow us :
FP Facebook : Rumah Main Anak
Instagram : @rumahmainanak
Web : www.rumahmainanak.com

No comments:

Post a Comment

Hi! Thanks for reading! Please give your comment here..

Mohon maaf link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya